cover
Contact Name
Abdullah Maulani
Contact Email
jmanuskripta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jmanuskripta@gmail.com
Editorial Address
Gedung VIII Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok 16424 Jawa Barat
Location
,
INDONESIA
MANUSKRIPTA
ISSN : 22525343     EISSN : 23557605     DOI : https://doi.org/10.33656/manuskripta
MANUSKRIPTA aims to provide information on Indonesian and Southeast Asian manuscript studies through publication of research-based articles. MANUSKRIPTA is concerned with the Indonesian and Southeast Asian manuscript studies, the numerous varieties of manuscript cultures, and manuscript materials from Southeast Asian society. It also considers activities related to the care and management of Southeast Asian manuscript collections, including cataloguing, conservation, and digitization.
Articles 155 Documents
Revitalisasi Kearifan Lokal Naskah-naskah Primbon Koleksi Masyarakat Indramayu Nurhata Nurhata
Manuskripta Vol 8 No 2 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The primbon manuscript has concrete implications for social life, both concerning individual needs and collective needs of society. Various problems faced by the community some time ago, referring to the primbon as a reference, because the truth has been tested, like a roadmap that will direct someone to a specific goal. The use of primbon is generally through "smart people" or dukun, who are considered to have more ability. In Indramayu, there are at least five types of primbon namely petungan (calculation), pranata mangsa, ngalamat, prayers and spells, and predictions ‘ramalan'. Now the primbon manuscript is increasingly alienated from the inheritor's society, even though it contains a variety of local wisdom and knowledge that may still be relevant to today's society. Therefore, an effort is needed to in still awareness of the urgency of the primbon of the community and reintroduce the contents of the primbon manuscripts, which can be done through a philological approach. === Naskah Primbon memiliki implikasi konkrit bagi kehidupan sosial, baik menyangkut kebutuhan perorangan maupun kebutuhan masyarakat secara kolektif. Berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat pada beberapa waktu lalu, merujuk pada primbon sebagai acuannya, karena kebenarannya telah teruji, ibarat petunjuk jalanyang akan mengarahkan seseorang pada tujuan tertentu. Penggunaan atas primbon pada umumnya melalui “orang pintar” atau dukun, yang dianggap memiliki kemampuan lebih. Di Indramayu, sedikitnya ada lima jenis primbon yaitu petungan (perhitungan), pranata mangsa, ngalamat, doa dan mantra, serta ramalan. Kini naskah primbon semakin terasing dari masyarakat pewarisnya, padahal di dalamnya memuat beragam kearifan lokal dan ilmu pengetahuan yang mungkin masih relevan bagi masyarakat dewasa ini. Oleh karena itu diperlukan usaha menanamkan kesadaran akan urgensi primbon bagi masyarakat serta memperkenalkan kembali kandungan isi dari naskah-naskah primbon, di antaranya dapat dilakukan melalui pendekatan filologi.
Praktik Literasi Agama pada Masyarakat Indonesia Tempo Dulu: Tinjauan Awal atas Naskah-naskah Cirebon Agus Iswanto
Manuskripta Vol 8 No 2 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The practice of literacy, especially on religious texts, has already exists in Indonesian society based on available written evidence. This paper examines religious manuscripts with the perspective of the study of religious literacy. Analyzed by contextual literacy approach, not an autonomous literacy approach, this paper discusses the practice of local literacy in a specific social context. Furthermore, the contribution of the Indonesia manuscripts to the study of local literacy (indigenous literacy) and religious literacy (faith literacy). Taking the case on several Islamic manuscripts in the Cirebon region which became one of the “granaries” of the Nusantara manuscripts in the West Java, this paper maps important issues in the study of local literacy and religious literacy reflected in these manuscripts, such as the identity negotiated and patron or literacy sponsor and the production of meaning in the literacy practice. This paper argues that the study of religious literacy practice reflected in the Indonesia manuscripts can contribute to the understanding of the production of the contextual meaning of religion that has been practiced by the community that underlies the production of these manuscripts. === Praktik literasi, terutama terhadap teks keagamaan, sudah ada dalam masyarakat Indonesia (Nusantara) berdasarkan bukti-bukti tertulis yang tersedia. Tulisan ini mengkaji naskah-naskah keagamaan dengan perspektif kajian literasi agama. Pokok bahasannya adalah praktik literasi lokal dalam konteks sosial yang spesifik dengan menggunakan pendekatan praktik literasi kontekstual dan ideologis, bukan dengan pendekatan literasi otonom. Lebih lanjut, kontribusi naskah-naskah Nusantara bagi kajian literasi lokal (indigenous literacy) dan literasi agama (faith literacy). Dengan mengambil kasus pada beberapa naskah keislaman di wilayah Cirebon yang menjadi salah satu “lumbung” bagi khazanah naskah Nusantara di wilayah Jawa Barat, tulisan ini memetakan isu-isu penting dalam kajian literasi lokal dan literasi agama yang terrefleksikan dalam naskah-naskah tersebut, seperti persoalan identitas yang dinegosiasikan dalam naskah dan patron atau sponsor literasi serta produksi makna dalam praktik literasi. Selain itu, kajian praktik literasi agama yang tercermin dalam naskah-naskah Nusantara dapat memberikan kontribusi bagi pemahaman tentang produksi makna agama yang kontekstual yang telah dipraktikkan oleh masyarakat yang melatari produksi naskah-naskah tersebut.
Kisah Raja “Kafir” Nusirwan dalam Naskah Ki Sarahmadu Brajamakutha: Kajian terhadap Repertoire Penyusunnya Binarung Mahatmajangga
Manuskripta Vol 8 No 2 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ki Sarahmadu Brajamakutha (KSB) is a manuscript collection of Widyapustaka, the library of Pakualaman Palace, Yogyakarta. This manuscript was written in Javanese script and language in macapat metre. KSB contains didactic stories on how to rule a kingdom, depicted in stories of prophets and kings mainly from the Middle East. Those stories are embeded in three texts: Tajusalatin, Hikayat Nawawi, and a text containing teachings of Paku Alam I and Paku Alam II. The “kafir king” story of Nusirwan appears in the manuscript as part of the Tajusalatin text. Despite being specifically mentioned as “kafir” or non-believer in the text, he is portrayed as a just king. The study of respon aesthetic of Wolfgang Iser is applied to the story of King Nusirwan as to how contemporary readers can understand the repertoire, making them easier to acquire the conventions on how the story was build, so that they can easily interpret the meaning as intended by the author. === Ki Surahmadu Brajamakutha (KSB) adalah manuskrip koleksi Widyapustaka, Perpustakaan Istana Pura Pakualaman, Yogyakarta. Manuskrip ini ditulis dengan aksara dan bahasa Jawa dalam tembang macapat. KSB berisi cerita didaktis tentang bagaimana aturan seorang raja, menggambarkan kisah nabi-nabi dan raja dari Timur Tengah. Cerita cerita tersebut terdapat di dalam tiga teks: Tajusalatin, Hikayat Nawawi, dan sebuah teks yang berisi ajaran-ajaran Paku Alam I dan Paku Alam II. Cerita “raja kafir” Nusirwan muncul di dalam sebuah manuskrip sebagai bagian teks Tajusalatin. Meskipun di dalam teks secara khusus disebutkan sebagai “kafir” atau tidak percaya, ia digambarkan sebagai raja yang adil. Studi tentang estetika respons Wolfgang Iser diterapkan pada kisah Raja Nusirwan tentang bagaimana pembaca kontemporer dapat memahami repertoar, membuat mereka lebih mudah untuk memperoleh konvensi tentang bagaimana cerita itu dibangun, sehingga mereka dapat dengan mudah menafsirkan makna sebagaimana dimaksud oleh penulis.
Kearifan Lokal Mitos Pertanian Dewi Sri dalam Naskah Jawa dan Aktualisasinya sebagai Perekat Kesatuan Bangsa Trisna Kumala Satya Dewi; Heru Supriyadi; Sholeh Dasuki
Manuskripta Vol 8 No 2 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The agricultural myth of "Dewi Sri" contained in Javanese manuscripts contains local wisdom related to agriculture, fertility, food (rice) and actualized in the ritual of village cleaning (bersih desa) ceremonies. The term of village cleaning is also commonly referred to as sadran (nyadran), ruwah rosul, sedekah bumi, and manganan. In the ritual of village cleaning ceremonies some Javanese people still actuaize it with performng art of the Wayang Purwa with the lakon of Sri Sadana or Sri Mulih (Mbok Sri Boyong). In addition, there are also some people who implement village cleaning with Tayub performing arts. The performing arts in the ritual of village cleaning are the actualization of the agricultural myth, namely "Dewi Sri" as a symbol of "Goddess of Rice", "Goddess of Fertility". The ritual of village cleaning as local wisdom can be used as a social adhesive in the community (Java). Besides that, in the village cleaning there are also various functions such as expressing gratitude to the Almighty God for salvation and abundance of sustenance, fostering togetherness (harmony), and tolerance between citizens. === Mitos pertanian Dewi Sri yang termuat dalam naskah-naskah Jawa mengandung kearifan lokal yang berkaitan dengan pertanian, kesuburan, pangan (padi) dan diaktualisasikan dalam upacara ritual bersih desa. Istilah bersih desa biasa juga disebut dengan sadran (nyadran), ruwah rosul, sedekah bumi, dan manganan. Dalam upacara ritual bersih desa sebagian masyarakat Jawa masih mempagelarkan dengan seni wayang purwa dengan lakon Sri Sadana atau Sri Mulih (Mbok Sri Boyong). Di samping itu, juga ada sebagian masyarakat yang melaksanakan bersih desa dengan seni pertunjukan Tayub. Seni pertunjukan dalam ritual bersih desa tersebut merupakan aktualisasi mitos pertanian, yaitu “Dewi Sri” sebagai simbol “Dewi Padi”, “Dewi Kesuburan”. Upacara ritual bersih desa sebagai kearifan lokal tersebut dapat digunakan sebagai perekat sosial dalam masyarakat (Jawa). Selain itu, dalam bersih desa juga termuat berbagai fungsi seperti ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa atas keselamatan dan limpahan rezeki, memupuk kebersamaan (guyub rukun), dan toleransi antarwarga.
Menafsirkan Ulang Riwayat Ken Angrok dan Ken Děděs dalam Kitab Pararaton Agus Aris Munandar
Manuskripta Vol 1 No 1 (2011): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v1i1.230

Abstract

The Pararaton is an anonymous work written in Middle Javanese. The book outlines the life of Ken Angrok as well as the kings of Singhasari and Majapahit. This article attempts to explain the background behind why the story of Ken Angrok receives a larger portion compared to the stories of other kings' lives. Through a textual examination of the Pararaton and an analysis of related archaeological evidence, it is revealed that the story of Ken Angrok in the text symbolizes the unification of two major religions practiced by the Ancient Javanese society: Shaiva Hinduism and Mahayana Buddhism. The symbolization of Shaiva Hinduism is evident in the description of Ken Angrok as the incarnation of three gods: Brahma, Shiva, and Vishnu, while the symbolization of Mahayana Buddhism is seen in the description of Ken Angrok's wife, Ken Děděs, as the only daughter of Mpu Purwa, a Mahayana Buddhist priest. As an implication of this unification of two major religions, several temples carrying the spirit of unification, known as Shiva-Buddha temples, were built during the Singhasari Kingdom era. The design of these temples was clearly unimaginable prior to the Singhasari era. === Kitab Pararaton merupakan karya anonim yang ditulis dalam bahasa Jawa tengahan. Kitab tersebut menguraikan kehidupan Ken Angrok serta raja-raja Singhasari dan Majapahit. Tulisan ini berusaha menjelaskan latar belakang mengapa cerita mengenai Ken Angrok itu mendapat porsi yang lebih besar dibandingkan dengan cerita mengenai kehidupan raja-raja yang lain. Melalui telaah tekstual terhadap Kitab Pararaton dan telaah terhadap bukti-bukti arkeologis terkait, terlihat bahwa cerita Ken Angrok dalam kitab tersebut merupakan simbol penyatuan dua agama besar yang dianut oleh masyarakat Jawa Kuno: Hindu Saiwa dan Budha Mahayana. Simbolisasi Agama Hindu-Saiwa itu terlihat dari uraian mengenai sosok Ken Angrok sebagai penjelmaan dari tiga dewa: Brahma, Siwa, dan Wisnu, sementara simbolisasi agama Budha Mahayana itu terlihat dari uraian mengenai sosok isteri Ken Angrok, yaitu Ken Děděs, sebagai putri tunggal Mpu Purwa, seorang pendeta Budha Mahayana. Sebagai implikasi dari penyatuan dua agama besar, beberapa candi yang mengandung semangat penyatuan tersebut, yang dikenal dengan candi Syiwa-Budha, dibangun pada masa Kerajaan Singhasari. Bentuk candi tersebut jelas tidak pernah terbayangkan ada sebelum masa Singhasari.
Sastra Sasak Selayang Pandang Dick van der Meij
Manuskripta Vol 1 No 1 (2011): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper briefly explains Sasak literature on the island of Lombok. The description begins by explaining the importance of Islam for the Sasak people and the two variants of Islam practiced by them, namely Waktu Telu and Waktu Lima. Meanwhile, in the discussion of Sasak literature, it is explained that literature on Lombok Island has been passed down from generation to generation through writing on lontar palm leaves. The writing on these lontar leaves uses a type of Javanese script which in Lombok is called jejawen script, and the language used is Javanese. The Javanese language used in Sasak lontar carries the dialect of eastern coastal Javanese, but contains many vocabulary words unique to Sasak and is further mixed with words from Arabic, Malay, Balinese, and others, so that Lombok-style Javanese deserves to be considered a distinct Javanese dialect. At the end of this paper, several examples of stories known in Sasak literature are presented, namely the stories of Puspakrama, Bandarsela, Jowarsah, Cilinaya, and Kertanah. === Dalam tulisan ini dijelaskan secara ringkas mengenai kesusastraan Sasak di Pulau Lombok. Uraian diawali dengan menjelaskan pentingnya Agama Islam bagi orang Sasak dan dua varian agama Islam yang dianut oleh orang Sasak, yaitu Waktu Telu dan Waktu Lima. Sementara itu, dalam pembicaraan mengenai kesusastraan Sasak dijelaskan bahwa kesusastraan di Pulau Lombok diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya lewat penulisan di daun lontar. Tulisan di daun lontar itu menggunakan sejenis aksara Jawa yang di Lombok disebut aksara jejawen dan bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang digunakan dalam lontar Sasak itu berbau logat Jawa pesisiran timur tetapi banyak kosa kata yang khas Sasak dan dicampur lagi dengan kata-kata dari bahasa Aran, Melayu, Bali dan lain sebagainya sehingga bahasa Jawa gaya Lombok selayaknya dianggap sebagai logat Jawa tersendiri. Di bagian akhir tulisan ini diberikan beberapa contoh cerita yang dikenal dalam kesusastraan Sasak, yaitu cerita Puspakrama, Bandarsela, Jowarsah, Cilinaya, dan Kertanah.
'Menjadi Jawa': Naskah Cina-Jawa Dwi Woro Retno Mastuti
Manuskripta Vol 1 No 1 (2011): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chinese-Javanese manuscripts, written in the Javanese language and script, are part of the treasury of Javanese manuscripts that have existed since the early 19th century. The content of these manuscripts narrates Chinese myths and legends, such as Sam Kok and Sik Jin Kwi. There are 118 Chinese-Javanese manuscripts scattered across various libraries on the island of Java and abroad. These manuscripts serve as evidence of the writing activities of the Chinese Peranakan community in Java. Furthermore, they evidence the efforts of ethnic Chinese residing in Java during that period to 'become Javanese'. The aksara swara (vowel characters) and aksara rekan (foreign sound characters) appearing in Chinese-Javanese manuscripts are also 'new formations' created to maintain Chinese identity. These scripts were used to spell the names of characters within the story texts. === Naskah-naskah Cina-Jawa, yang ditulis dalam bahasa/aksara Jawa merupakan bagian dari khasanah naskah Jawa yang telah hadir sejak awal abad ke-19. Isi naskah tersebut mengisahkan mitos/legenda Tiongkok, seperti Sam Kok dan Sik Jin Kwi. Jumlah naskah-naskah Cina-Jawa adalah 118 tersebar di berbagai perpustakaan di pulau Jawa dan mancanegara. Naskah ini merupakan bukti aktifitas masyarakat Cina Peranakan Jawa di bidang tradisi tulis. Selain itu juga bukti upaya 'menjadi Jawa' etnis Cina yang pada masa itu tinggal di Pulau Jawa. Aksara swara dan aksara rekan yang muncul dalam naskah Cina-Jawa juga merupakan 'bentukan baru' yang diciptakan untuk tetap memunculkan identitas kecinaan. Aksara tersebut digunakan untuk menulis nama-nama tokoh dalam teks cerita.
Naskah Klasik di Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara Idham Idham
Manuskripta Vol 1 No 1 (2011): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper is a follow-up investigation of classical manuscripts in Tidore Islands City, North Maluku Province. In the 2009, 48 classical manuscripts were inventoried and digitized in Ternate City and Tidore Islands City, North Maluku. In 2010, a total of 125 manuscripts were discovered, inventoried, and digitized again in Tidore Islands City. These classical manuscripts were generally written in the 17th–19th centuries. Meanwhile, manuscripts written in the 20th century are copies of existing classical manuscripts. These manuscripts are generally found within the community and are privately owned by residents. Because the existing classical manuscripts are aged, they are mostly incomplete, and many exist merely as loose sheets whose original order is no longer known. Apart from age, the decay of these manuscripts is caused by non-standard preservation practices. The writing media used include Dluwang paper, European paper (bearing watermarks and countermarks), Chinese paper, and lined paper written with local ink (mansi) and imported ink. In terms of content, the manuscripts generally contain Sufi order (Tariqa) teachings. Besides Tariqa, they also cover jurisprudence (fiqh), Arabic grammar (nahwu sharaf), recitation rules (tajwid), sermons, Sultan letters, history, talismans, and other topics. === Tulisan ini merupakan penelusuran lanjutan naskah klasik di Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara. Pada tahun sebelumnya (2009) telah diinventarisir dan digitalkan sebanyak 48 naskah klasik di Kota Ternate dan Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Pada tahun 2010, telah ditemukan, diinventarisir dan digitalkan kembali sebanyak 125 di Kota Tidore Kepulauan. Naskah-naskah klasik tersebut pada umumnya ditulis pada abad 17-19. Adapun naskah yang ditulis pada abad ke 20 merupakan salin ulang dari naskah klasik yang ada. Naskah-naskah tersebut pada umumnya ditemukan pada masyarakat dan milik warga. Karena naskah klasik yang ada sudah berumur, maka naskah tersebut pada umumnya sudah tidak utuh, bahkan banyak yang hanya berupa lembaran-lembaran yang sudah tidak diketahui susunannya. Selain karena usia, penyebab lapuknya naskah tersebut karena pemeliharaan yang tidak memenuhi standar. Adapun alas tulis yang digunakan berupa kertas Dluwang, Eropa (mempunyai watermark dan countermark), China, dan kertas bergaris dengan tinta lokal (mansi) dan tinta inport. Sedangkan dari segi isi, naskah-naskah tersebut pada umumnya berisi tentang ajaran Tarikat. Selain Tarikat, juga berisi masalah fikih, nahwu sharaf, tajwid, khutbah, surat Sultan, sejarah, jimat, dan lain-lain.
Mengungkap Naskah Kuna Koleksi Masyarakat Cirebon: Sebuah Catatan Filologis sebagai Trend Studi Islam di PTAI Mahrus el-Mawa
Manuskripta Vol 1 No 1 (2011): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Philological studies under the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia, through State Islamic Higher Education Institutions (PTAI), are currently becoming a trend. This can be seen from several initiatives undertaken, both practically and strategically. Among the PTAIs referred to in this paper is IAIN Syekh Nurjati Cirebon. The manuscripts discussed in this paper are related to the heritage of the Cirebon Palace/Sultanate, especially Kasepuhan and Kanoman, currently held by the community. These two palaces represent two of the four Palaces in Cirebon. Both play an important role in Islamic civilization in Indonesia. Among these roles is the presence of ancient religious manuscripts, parts of which have been saved by their heirs as community collections to this day. This paper reveals the access to and identity of the Palace's ancient manuscripts held within the community, particularly following a digitization effort conducted together with public Islamic higher education institutions in Cirebon. It is hoped that there will be a more strategic follow-up for the preservation and conservation of ancient manuscripts as evidence of Indonesian Islamic civilization by various parties. The following discussion is also equipped with a simple description of several of these manuscripts. === Studi filologi di Kementrian Agama RI, melalui Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), saat ini tengah menjadi trend. Hal itu bisa dilihat dari beberapa ikhtiar yang telah dilakukannya, baik secara praktis maupun strategis. Diantara PTAI yang dimaksud dalam tulisan ini adalah IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Naskah yang diungkap dalam paparan ini terkait dengan warisan Kraton/Kesultanan Cirebon, terutama Kasepuhan dan Kanoman yang berada di masyarakat. Kedua kraton ini merupakan dua dari empat Kraton di Cirebon. Keduanya mempunyai peran penting dalam peradaban Islam di Indonesia. Diantara perannya antara lain adanya naskah kuna (manuscript) keagamaan yang hingga kini, sebagiannya diselamatkan para pewarisnya sebagai koleksi masyarakat. Tulisan ini mengungkap akses dan identitas naskah kuna Kraton yang di masyarakat, khususnya setelah digitalisasi bersama-sama PTAIN di Cirebon. Harapannya, terdapat tindak lanjut yang lebih strategis untuk penyelamatan dan pelestarian naskah kuna sebagai bukti dari peradaban Islam Indonesia oleh berbagai pihak. Paparan berikut ini dilengkapi pula dengan deskripsi sederhana dari beberapa naskah tersebut.
Karakteristik Naskah Islam Indonesia: Contoh dari Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar Oman Fathurahman
Manuskripta Vol 1 No 1 (2011): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper discusses the characteristics of Islamic manuscripts in the collection of Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar, which are demonstrated, among other things, through various marginalia notes written by copiers, as well as cover notes added later by the owners of the manuscripts. The marginalia and cover notes can be positioned as an important source for reconstructing the social history of Zawiyah Tanoh Abee, which served as a scriptorium for religious manuscripts in Northern Sumatra. In addition, this paper presents the characteristics of several manuscripts in the Zawiyah Tanoh Abee collection that provide an overview of the religious affiliations, schools of thought, and tendencies of the Acehnese Muslim community connected to it. Studies on the manuscript collection of Zawiyah Tanoh Abee itself are actually still very limited compared to the total number of manuscripts available, even though as a historical heritage of 17th and 18th-century Acehnese Islam, the Zawiyah Tanoh Abee manuscripts clearly hold a significant position, both within the context of the development of Islam in Aceh and in the Archipelago as a whole. === Tulisan ini akan membahas tentang karakteristik naskah Islam koleksi Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar, yang antara lain ditunjukkan melalui berbagai catatan marginalia yang dibuat oleh penyalin naskah, maupun melalui catatan sampul yang dibuat belakangan oleh pemilik naskahnya. Marginalia dan catatan sampul tersebut dapat ditempatkan sebagai salah satu bentuk sumber penting dalam merekontruksi sejarah sosial Zawiyah Tanoh Abee, yang merupakan salah satu skriptorium naskah keagamaan di Sumatra bagian Utara ini. Selain itu, tulisan ini juga akan mengemukakan karakteristik sejumlah naskah koleksi Zawiyah Tanoh Abee yang dapat memberikan gambaran tentang afiliasi dan kecenderungan pemikiran atau mazhab keagamaan masyarakat Muslim Aceh yang terhubungkan dengannya. Kajian terhadap naskah-naskah koleksi Zawiyah Tanoh Abee sendiri sebetulnya masih sangat terbatas dibanding jumlah naskahnya, padahal sebagai warisan sejarah Islam Aceh abad ke-17 dan 18, naskah-naskah Zawiyah Tanoh Abee jelas sangat penting kedudukannya, baik dalam konteks perkembangan Islam di Aceh, maupun Nusantara secara keseluruhan, seperti akan saya kemukakan di bawah.