cover
Contact Name
Abdullah Maulani
Contact Email
jmanuskripta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jmanuskripta@gmail.com
Editorial Address
Gedung VIII Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok 16424 Jawa Barat
Location
,
INDONESIA
MANUSKRIPTA
ISSN : 22525343     EISSN : 23557605     DOI : https://doi.org/10.33656/manuskripta
MANUSKRIPTA aims to provide information on Indonesian and Southeast Asian manuscript studies through publication of research-based articles. MANUSKRIPTA is concerned with the Indonesian and Southeast Asian manuscript studies, the numerous varieties of manuscript cultures, and manuscript materials from Southeast Asian society. It also considers activities related to the care and management of Southeast Asian manuscript collections, including cataloguing, conservation, and digitization.
Articles 125 Documents
Praktik Hukum Modern Bugis Abad XVIII dalam Persidangan Tellumpoccoe Versi Kodeks NBG 125 Hadrawi, Muhlis; Macknight, Campbell; Wellen, Kathryn
Manuskripta Vol 13 No 2 (2023): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v13i2.164

Abstract

This article delineates a philological examination of the La Maddukkelleng trial case in the NBG 125 manuscript, focusing on the 1763 trial by the Bugis alliance of three kingdoms, Tellumpoccoe. Comparing this trial with the previous one in 1736 highlights the absence of La Maddukkelleng in 1763. The research involves the analysis of the NBG 125 text documenting the trial, including the conversations of three delegations from Bone, Wajo, and Soppeng. The trial process, spanning two months with seven rounds, along with detailed records of the proceedings, serves as the primary source. There were differing opinions between the Bone and Soppeng delegations, accusing La Maddukkelleng of disturbance, while Wajo defended him. Despite the absence of a decision, La Maddukkelleng's role in Wajo's history remains significant as it liberated them from Bone's colonization. This has sparked debates regarding the assessment of La Maddukkelleng's role, reflecting varying interpretations in Bugis history. He was recognized as the 105th National Hero in 1998, underscoring the complexity of perspectives on this historical figure. === Artikel ini menguraikan tinjauan filologi terhadap kasus persidangan La Maddukkelleng dalam naskah NBG 125, fokus pada persidangan tahun 1763 oleh aliansi tiga kerajaan Bugis, Tellumpoccoe. Membandingkan persidangan ini dengan pengadilan sebelumnya pada tahun 1736, menyoroti absennya La Maddukkelleng pada tahun 1763. Penelitian melibatkan analisis teks NBG 125 yang mencatat persidangan, termasuk percakapan tiga delegasi dari Bone, Wajo, dan Soppeng. Proses persidangan yang berlangsung selama dua bulan, dengan tujuh putaran, serta catatan rinci dari proses persidangan, digunakan sebagai sumber utama. Terdapat perbedaan pendapat antara delegasi Bone dan Soppeng yang menuduh La Maddukkelleng sebagai pengacau, sedangkan Wajo mempertahankannya. Meskipun absennya keputusan, peran La Maddukkelleng dalam sejarah Wajo tetap signifikan karena membebaskan mereka dari penjajahan Bone. Ini menyebabkan perdebatan tentang penilaian peran La Maddukkelleng, mencerminkan interpretasi yang berbeda dalam sejarah Bugis. Dia diakui sebagai Pahlawan Nasional ke-105 pada 1998, menggarisbawahi kompleksitas pandangan terhadap tokoh sejarah ini.
Kesultanan Aceh di Mata Turki Utsmani Abad XIX: Kajian Atas Naskah Diplomatik Abdurrahman Az-Zahir Azzahra, Humaira
Manuskripta Vol 13 No 2 (2023): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v13i2.165

Abstract

The relationship between the Aceh Sultanate and Ottoman in the 19th century was motivated by European colonialization. In a threatened state of sovereignty, the Aceh Sultanate mobilized international forces by sending envoys to its allies to establish diplomacy, one of which was to Ottoman. In 1873, Abdurrahman az-Zahir was sent to Ottoman Turkey as a representative of the Aceh Sultanate to ask for support. There is a letter written by him regarding Aceh's request to become a vassal state of Ottoman. This study examines the contents of Abdurrahman az-Zahir's letter as part of the diplomatic letters of the Aceh Sultanate to Ottoman in the 19th century. The letter is currently stored at the Turkish Archives with the code BOA, A. MKT.MHM. 457/55 and no manuscript copy was found. The aims of this study is to reveal the status of the Aceh Sultanate in its relationship with Ottoman in the 19th century. The result of the study shows that the relationship between the Aceh Sultanate and Ottoman in that century was a relationship between two equal countries. The Aceh Sultanate was not a vassal state of Ottoman. === Hubungan Kesultanan Aceh dengan Turki Utsmani pada abad 19 dilatarbelakangi oleh kolonialisasi yang digencarkan Eropa. Dalam kondisi kedaulatan yang terancam, Kesultanan Aceh menggalang kekuatan internasional dengan cara mengirim utusan ke negara-negara sahabat untuk menjalin diplomasi, salah satunya ke Turki Utsmani. Pada tahun 1873, Abdurrahman az-Zahir diutus ke Turki Utsmani sebagai perwakilan Kesultanan Aceh untuk meminta sokongan. Terdapat sepucuk surat yang ditulis olehnya berkenaan dengan permintaan Aceh untuk menjadi negara vasal Turki Utsmani. Penelitian ini mengkaji isi naskah surat Abdurrahman az-Zahir sebagai bagian dari surat diplomatik Kesultanan Aceh ke Turki Utsmani pada abad 19. Surat tersebut kinitersimpan di Badan Arsip Turki dengan kode BOA, A. MKT.MHM. 457/55 dan tidak ditemukan adanya salinan naskah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap relasi Kesultanan Aceh dengan Turki Utsmani pada abad 19. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara Kesultanan Aceh dengan Turki Utsmani pada abad tersebut merupakan hubungan persahabatan dua negara yang setara. Kesultanan Aceh bukan merupakan negara vasal (pengikut) dari Turki Utsmani.
Dari Guru-Laghu ke Pedhotan: Upaya Menafsirkan Perubahan Metrum Kakawin Menjadi Sekar Ageng Yudhistira, Naufal Anggito
Manuskripta Vol 13 No 2 (2023): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v13i2.166

Abstract

Sekar ageng or kawi miring is one of the type of Javanese chanted poetry that was arose in the Surakarta-Yogyakarta literature era. This type of poetry is a continuation of the kakawin tradition of Old Javanese literature. However, there is a dark gulf between the emergence of the sekar ageng and the end of the kakawin tradition in Java. This study seeks to reveal the relationship between kakawin and sekar ageng and the transformation of kakawin's poetry prosody into sekar ageng. This study adheres to structuralism which departs from the linguistic aspect. Because this study examines the metre of the poetry that should be chanted, in addition to the linguistic element, it is also associated with the musical element. From this research, it can be seen that sekar ageng was well known in the era of Mataram Islam and was a continuation of the kakawin tradition. The pedhotan element is closely related to the location of the kakawin long syllables. Kakawin syllables are crystallized in musical aspect and syllabic-melismatic syllables in sekar ageng. In terms of sasmitaning tembang, sekar ageng is influenced by the kakawin tradition as well as macapat. === Sekar ageng atau kawi miring adalah salah satu jenis puisi Jawa bertembang yang yang hidup di era kesusastraan Surakarta-Yogyakarta. Jenis puisi ini merupakan kelanjutan tradisi kakawin dari kesusastraan Jawa Kuna. Walau begitu, ada suatu jurang gelap antara kemunculan sekar ageng dan akhir tradisi kakawin di Jawa. Penelitian ini berusaha mengungkapkan hubunganantara kakawin dan sekar ageng serta transformasi prosodi puisi kakawin menjadi sekar ageng. Penelitian ini berpegang pada strukturalisme yang bertolak dari aspek kebahasaan. Oleh sebab penelitian ini mengkaji metrum puisi yang bertembang, maka selain unsur kebahasaan juga mengkaitkan dengan unsur musikalnya. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa sekar ageng sudah dikenal di era Mataram Islam dan merupakan kelanjutan tradisi kakawin. Unsur pedhotan terkait erat dengan letak suku kata panjang kakawin. Panjang-pendek suku kata kakawin terkristalisasi dalam unsur seni suara dan suku kata silabismelismatis yang ada dalam sekar ageng. Dari segi sasmitaning tembang, sekar ageng dipengaruhi tradisi kakawin juga macapat.
Peran Yayasan Surya Pringga Dermayu dalam Pelestarian Manuskrip Koleksi Masyarakat Indramayu Rosyiqoh, Humairotur; Hayati, Nurul; Lolytasari, Lolytasari
Manuskripta Vol 13 No 2 (2023): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v13i2.167

Abstract

Manuscripts, often overlooked by the government and society, hold crucial information, with the Yayasan Surya Pringga Dermayu standing out as a dedicated activist organization in Indramayu, striving to preserve this cultural heritage. This study investigates the organization's preservation efforts and how they navigate challenges. Two main strategies emerge; physical preservation involves conservation activities, cleaning, and storage, while content preservation employs transliteration, recopying, and digitization in collaboration with governmental and international entities. Obstacles include the lack of a set maintenance schedule, limited human resources, and insufficient funding. Mitigation efforts involve periodic maintenance, urging youth involvement, and collaboration with local governments. The Surya Pringga Dermayu foundation serves as a noteworthy example, emphasizing the need for broader societal and governmental recognition of manuscript preservation's importance. === Manuskrip menyimpan informasi penting yang sering kali dianggap kurang mendapat perhatian. Sanggar Aksara Jawa Surya Pringga Dermayu menonjol sebagai organisasi pelestari naskah di Indramayu yang berdedikasi melestarikan warisan budaya ini. Penelitian ini mengeksplorasi upaya pelestarian organisasi dan bagaimana mereka mengatasi tantangan. Terdapat dua strategi utama; pelestarian fisik melibatkan kegiatan konservasi, pembersihan, dan penyimpanan, sementara pelestarian konten melibatkan transliterasi, penyalinan, dan digitalisasi dengan kerjasama lembaga pemerintah dan internasional. Kendala melibatkan jadwal pemeliharaan yang tidak pasti, sumber daya manusia yang terbatas, dan pendanaan yang kurang memadai. Upaya mitigasi melibatkan pemeliharaan berkala, dorongan partisipasi pemuda, dan kerja sama dengan pemerintah setempat. Sanggar Aksara Jawa Surya Pringga Dermayu menjadi contoh nyata, menekankan perlunya pengakuan lebih luas dari masyarakat dan pemerintah akan pentingnya pelestarian manuskrip.
Surat Perjanjian dan Relasi Kuasa dalam Naskah Peti Kesultanan Ternate 113 A 1/22 Ghozali, Ahmad Sulthon; Christomy, Tommy
Manuskripta Vol 13 No 2 (2023): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v13i2.168

Abstract

This study analyzes the crate manuscript of 113 A 22/1, one of the collections from Sultan Ternate's archive which contains an agreement with the Dutch colonial government regarding the transfer of 150 Ternate soldiers as reinforcements in 1805. the text frames various ideas around power relations. The research was carried out using a qualitative approach with descriptive methods and data collection through literature study. After the philological stage was carried out to open the contents of the manuscript, the theory of critical discourse analysis (CDA) from Van Dijk and the theory of power from Foucauldian perspective were used in the analysis. The results of this study reveal the existence of the idea of power relations which are built at the micro level in the form of discursive devices (consensus, rhetorical devices, and lexicalization), the superstructure level around the structure of treaty letters, and the macro level around colonial-colonized ideas and the idea of governmentality that has been passing down to local authorities. === Penelitian ini menganalisis naskah peti 113 A 1/22, salah satu koleksi arsip Sultan Ternate yang berisi perjanjian dengan pemerintah kolonial Belanda terkait pemindahan 150 prajurit Ternate sebagai bala bantuan pada tahun 1805. Penelitian dilakukan dengan pendekatan secara kualitatif dengan metode deskriptif dan pengumpulan data melalui studi pustaka. Setelah dilakukan tahap filologi untuk membuka isi naskah, teori Critical Discourse Analysis (CDA) dari Van Dijk dan teori kuasa dari perspektif Foucault digunakan sebagai teori dan metode dalam analisis. Hasil penelitian ini mengungkapkan adanya gagasan relasi kuasa yang dibangun dalam level mikro berupa sarana diskursif (konsensus, sarana retorik, dan leksikalisasi), level superstruktur seputar struktur surat perjanjian, dan level makro seputar gagasan penjajah-terjajah dan gagasan mentalitas kepengaturan yang diturunkan ke penguasa lokal.
Penelusuran Jejak Sejarah Hubungan Sultan Sulu Badaruddin II dan T. H. Haynes melalui Eksplorasi Naskah Koleksi SOAS Universitas London Afifah, Nurul
Manuskripta Vol 15 No 1 (2025): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v15i1.14

Abstract

This article discusses the relationship between Sultan Sulu Badaruddin II and T. H. Haynes, a British pearl trader. The connection between the two parties will be examined through the manuscripts found in the SOAS Digital Collection. The focus is on manuscripts that contain the relationship between the Sultan and Haynes. In the research, seven manuscripts with the collection code PP MS 26/04/03 were identified. The research aims to elucidate the relationship between Sultan Badaruddin II and Haynes and reconstruct Haynes's business activities. To achieve this goal, the research employs philological research methods, involving stages such as manuscript selection, transliteration, and historical background exploration. The research results indicate a positive business relationship between Sultan Badaruddin and Haynes. The investigation revealed no signs of conflict between them, and their collaboration proceeded smoothly until the Sultan's demise, leading to the conclusion of Haynes's pearl business in Sulu. === Artikel ini membahas tentang hubungan Sultan Sulu Badaruddin II dengan T. H. Haynes, seorang pebisnis mutiara asal Inggris. Hubungan kedua pihak ini akan dikaji melalui naskah-naskah yang ditemukan dari koleksi SOAS Digital Collection. Naskah yang dikaji hanyalah naskah yang mengandung hubungan antara Sultan dengan Haynes. Dari penelusuran, ditemukan tujuah buah naskah yang semuanya memiliki kode koleksi PP MS 26/04/03. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan hubungan Sultan Badaruddin II dengan Haynes serta merekonstruksi perjalanan Haynes dalam kegiatan bisnisnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian dilakukan dengan menggunakan metode peneitian filologi, yaitu dengan beberapa tahap, yaitu tahap pemilihan naskah, transliterasi, selanjutnya penelusuran latar belakang sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk hubungan antara Sultan Badaruddin dengan Haynes merupakan hubungan bisnis yang baik. Setelah dilakukan penelusuran, juga tidak terlihat adanya persitegangan antara keduanya, dan kerjasama berjalan dengan baik sampai akhirnya Sultan wafat dan bisnis mutiara Haynes harus berakhir di Sulu.
Kekerasan Seksual dalam Naskah Sabhaparwa Merapi-Merbabu: Analisis Wacana Kritis terhadap Narasi Patriarkal Pradipta, Galang Adhi; Suparta, I Made
Manuskripta Vol 15 No 1 (2025): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v15i1.131

Abstract

Sexual violence is a persistent historical issue recorded in the Sabhaparwa manuscript (31 L 92) from the Merapi-Merbabu scriptorium. Using Fairclough’s critical discourse analysis, Foucault’s power relations, and Butler’s gender performativity, this study investigates Draupadi’s violation as a critique of state law (Rajadharma). Micro-analysis reveals a tiered construction of violence exposing the perpetrators' "fragile masculinity." Meso-analysis highlights a functional shift where the scriptorium reinterprets trauma as motivation for ascetic practice. Macro-analysis uncovers Dharmasunya (a legal void), where institutional failure is met with the supremacy of mandala morality. The study concludes that Sabhaparwa serves as a radical counter-discourse, asserting that state legitimacy collapses when it fails to protect women’s dignity. Ultimately, the text positions spiritual integrity as the final bastion of humanity against systemic political and patriarchal failure. === Kekerasan seksual merupakan isu persisten yang terekam dalam naskah kuno Sabhaparwa koleksi Merapi-Merbabu (31 L 92). Penelitian kualitatif ini menggunakan analisis wacana kritis Fairclough, teori relasi kuasa Foucault, dan performativitas gender Butler untuk membedah narasi pelecehan Dropadi. Tujuannya adalah menunjukkan bahwa teks tersebut mengkritik kegagalan hukum negara (Rajadharma), bukan menormalisasi patriarki. Secara mikro, analisis mengungkap konstruksi kekerasan yang justru menelanjangi "maskulinitas rapuh" para pelaku. Secara meso, terjadi pergeseran fungsi teks menjadi materi didaktis-asketis, di mana trauma diolah menjadi motivasi spiritual. Pada level makro, teks merepresentasikan kondisi Dharmasunya (kekosongan hukum) yang dijawab dengan supremasi moralitas mandala. Studi ini menyimpulkan bahwa Sabhaparwa adalah wacana tandingan radikal; legitimasi kekuasaan dianggap runtuh saat gagal melindungi martabat perempuan, menjadikan integritas spiritual sebagai benteng terakhir kemanusiaan dalam menghadapi kegagalan sistemik.
Hibah Naskah DREAMSEA dan Strategi Pelestarian Ingatan Kolektif Nusantara Shofiyanti, Lilis; Rahman, Hadi
Manuskripta Vol 15 No 2 (2025): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v15i2.173

Abstract

The preservation of Nusantara manuscripts is not merely a philological task but a cultural practice demanding activism, advocacy, and the active involvement of manuscript owners as guardians of collective memory. Ancient manuscripts serve as both historical artifacts and living sources of knowledge continuously negotiated within their owning communities. In 2024, DREAMSEA (Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia) donated eight years of digitization results to the National Library of Indonesia, marking the largest grant in the institution’s history. This momentum represents three key dimensions: first, knowledge activism rooted in ethical relationships with manuscript owners; second, institutional advocacy that strengthens the state’s role without diminishing the cultural authority of local communities; and third, transnational collaboration transformed into national legitimacy. The DREAMSEA grant demonstrates that ideal manuscript preservation is built upon an equal partnership between owners, local communities, and state institutions. Integrating community roles with state policy support is essensial to ensure manuscripts remain living, accessible knowledge sources for the future of Indonesian philology. === Pelestarian naskah Nusantara tidak semata kerja filologis, melainkan praktik kultural yang menuntut aktivisme, advokasi, dan keterlibatan pemilik manuskrip sebagai penjaga ingatan kolektif. Naskah kuno berfungsi sebagai artefak historis dan sumber pengetahuan hidup yang terus dinegosiasikan dalam komunitas pemiliknya. Pada 2024, DREAMSEA (Digital Repository of Endangered and Affected Manucripts in Southeast Asia) menghibahkan hasil digitalisasi naskah selama delapan tahun kepada Perpustakaan Nasional RI, menjadi hibah terbesar dalam sejarah lembaga tersebut. Momentum ini merepresentasikan tiga dpertama, aktivisme pengetahuan yang berangkat dari relasi etis dengan pemilik manuskrip; kedua, advokasi institusional yang memperkuat peran negara tanpa meniadakan otoritas kultural komunitas; dan ketiga, kolaborasi transnasional yang bertransformasi menjadi legitimasi nasional. Hibah DREAMSEA memperlihatkan bahwa pelestarian naskah idealnya dibangun atas kemitraan setara antara pemilik manuskrip, komunitas lokal, dan institusi negara. Integrasi peran masyarakat dan dukungan kebijakan negara sangat penting untuk memastikan naskah tetap hidup sebagai sumber pengetahuan yang bisa diakses bagi masa depan filologi Indonesia.
Penerapan Metode Diplomatik Jean Mabillon dalam Kelas untuk Menguji Keotentikan Naskah Museum dan Pasar Antik Permadi, Tedi
Manuskripta Vol 15 No 1 (2025): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v15i1.175

Abstract

This study addresses debates on manuscript authenticity in Indonesia, particularly materials preserved in museums and those circulating in public and antique markets, which often provoke controversy among non specialists. It examines the manuscript Kitab Suwasit Sasakala Prabu Siliwangi from the Prabu Siliwangi Museum in Sukabumi, also with several pseudo antique manuscripts from the antique trade. The study aims to apply Jean Mabillon’s diplomatic method to evaluate authenticity through analysis of material features and their contextual attributes, while contributing to Indonesian philological studies. Using a qualitative case study approach, the research employs classroom discussions, participatory observation, and digital manuscript documentation. Data were obtained through respondent participation in codicological analysis focusing on physical characteristics and material context. The findings demonstrate clear distinctions between authentic manuscripts and recently produced manuscripts made to appear old, which commonly display characteristics of modern reproduction. The study concludes that Mabillon’s diplomatic method effectively verifies authenticity claims. === Penelitian ini berangkat dari perdebatan mengenai keaslian naskah di Indonesia, baik yang tersimpan di museum maupun yang berada di masyarakat, yang kerap menimbulkan kontroversi akademik terutama di kalangan awam. Studi ini menelaah naskah Kitab Suwasit Sasakala Prabu Siliwangi koleksi Museum Prabu Siliwangi, Kota Sukabumi; serta sejumlah naskah bergaya kuno dari pasar barang antik. Tujuan penelitian adalah menerapkan metode diplomatik Jean Mabillon untuk menilai keotentikan naskah melalui analisis aspek material dan konteks material sebagai indikator orisinalitas, sekaligus berkontribusi pada pengembangan studi filologi Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, melibatkan diskusi kelas, observasi partisipatif, dan kajian dokumen naskah digital. Data diperoleh melalui keterlibatan responden dalam analisis kodikologis, khususnya pada karakteristik fisik dan konteks naskah. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan jelas antara naskah otentik dan naskah baru yang dibuat berkesan kuno, yang umumnya memperlihatkan ciri reproduksi modern. Metode Mabillon terbukti efektif dalam memverifikasi klaim keaslian naskah.
Lontar Sri Tanjung: Narasi, Simbol, dan Ingatan Indiarti, Wiwin
Manuskripta Vol 15 No 1 (2025): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v15i1.176

Abstract

Lontar Sri Tanjung is a classical Nusantara manuscript that weaves narrative, moral teachings, and symbolism, serving as a vital repository of cultural memory for the Banyuwangi region and Osing community. Its recognition as an Indonesian National Collective Memory (IKON) in 2024 affirms its significance in preserving intangible heritage. The text recounts the legendary origin of Banyuwangi through the symbol of fragrant water, embodying values of loyalty, sacrifice, and the honor restoration. Central to the story is an idealized female figure who reflects traditional moral ideals while anchoring local cultural identity. Viewed through the lens of collective memory studies, Lontar Sri Tanjung is not a static relic but a living cultural space that continually shapes and transmits shared meanings across generations. Contemporary critical readings open possibilities for reinterpretation, including discussions of gender and power. Today, the manuscript remains relevant for character education, cultural literacy, reinforcing local identity, and advancing cultural diplomacy. === Lontar Sri Tanjung merupakan naskah sastra klasik Nusantara yang memadukan narasi, nilai moral, dan simbolisme, sekaligus berfungsi sebagai memori budaya masyarakat Banyuwangi dan Osing. Penetapannya sebagai naskah Ingatan Kolektif Nasional (IKON) 2024 menegaskan perannya sebagai naskah penting dalam pelestarian warisan budaya. Kisah Sri Tanjung memuat legenda asal-usul Banyuwangi melalui simbol air harum, serta nilai kesetiaan, pengorbanan, dan pemulihan kehormatan. Narasi ini menghadirkan figur perempuan ideal dalam bingkai moral tradisional, sekaligus merefleksikan identitas kultural masyarakat setempat. Dalam kajian ingatan kolektif, Lontar Sri Tanjung bukan sekadar arsip masa lalu, melainkan ruang hidup yang membentuk dan mereproduksi ingatan lintas generasi. Pembacaan kritis memungkinkan penafsiran ulang dalam konteks kontemporer, termasuk isu gender dan relasi kuasa. Di masa kini, naskah ini relevan untuk pendidikan karakter, literasi budaya, penguatan identitas lokal, dan diplomasi budaya.

Page 12 of 13 | Total Record : 125