cover
Contact Name
Abdullah Maulani
Contact Email
jmanuskripta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jmanuskripta@gmail.com
Editorial Address
Gedung VIII Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok 16424 Jawa Barat
Location
,
INDONESIA
MANUSKRIPTA
ISSN : 22525343     EISSN : 23557605     DOI : https://doi.org/10.33656/manuskripta
MANUSKRIPTA aims to provide information on Indonesian and Southeast Asian manuscript studies through publication of research-based articles. MANUSKRIPTA is concerned with the Indonesian and Southeast Asian manuscript studies, the numerous varieties of manuscript cultures, and manuscript materials from Southeast Asian society. It also considers activities related to the care and management of Southeast Asian manuscript collections, including cataloguing, conservation, and digitization.
Articles 155 Documents
Ajaran Budi Pekerti dalam Iluminasi Naskah Babad Kartasura - Sukawati Venny Indria Ekowati; Sri Hertanti Wulan; Aran Handoko; Nur Hanifah Insani
Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v8i1.96

Abstract

This research aims to identify and anylize character building that include in the illuminationthe text of Babad Kartasura-Sokawati. The data collected through content anylisis and photography. Overall, illuminations picture that include in the text of Babad Kartasura-Sokawati contain character building of Javanese people. There are six character buildings that appear from the illumination, there are: 1) leadership value that appeared from the pictures of eagle, peacock, deer, kingdom’s flag, weapons, bridge fence, star, sun, mountain, river, forest, khandhil (oil lantern), leaf lined, lotus, and sunflower; 2) respect and honorable value that appeared from the pictures of eagle, peacock, kingdom’s flag, dhampar (the king’s seat), leaf lined, and sunflower; 3) value of the perfection of life thatappeared from the pictures of khandhil (oil lantern), sunflower, and vines; 4) devotion value that appeared from the pictures of the star and the moon; 5) value to achieve peacefully of the inner and outer that appeared from the pictures of water waves; and 6) noble character value that appeared from the pictures of songsong (gold umbrella), leaf lined, rose, and sunflower. === Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis ajaran budi pekerti di dalam iluminasi teks Babad Kartasura-Sokawati. Data dikumpulkan dengan analisis isi dan dokumentasi. Secara keseluruhan gambar iluminasi yang terdapat dalam teks Babad Kartasura-Sokawati memuat ajaran budi pekerti yang selaras dengan kehidupan masyarakat Jawa. Terdapat enam ajaran budi pekerti yang terdapat dalam gambar iluminasi, yaitu: 1) ajaran tentang kepemimpinan yang tersurat dari gambar burung garuda, burung merak, kijang, umbul-umbul, senjata, pagar jembatan, bintang, matahari, gunung, sungai, hutan, khandhil (lentera minyak), daun yang berjajar, bunga teratai, dan bunga matahari; 2) ajaran saling menghormati dan menghargai yang tersurat dari gambar burung garuda, burung merak, umbul-umbul, pagar jembatan, dhampar (kursi raja), daun yang berjajar, serta bunga mawar; 3) ajaran tentang kesempurnaan hidup yang tersurat dari gambar khandhil (lentera minyak), bunga matahari, dan tumbuhan sulur; 4) ajaran ketaqwaan yang terdapat dalam gambar bintang dan bulan sabit; 5) ajaran untuk meraih ketentraman lahir dan batin yang tampak pada gambar gelombang air; serta 6) ajaran berpekerti luhur yang tampak dari gambar songsong (payung emas), daun yang berjajar, bunga mawar, dan bunga matahari.
Kisah Putra Rama dan Rawana Abad XV Masehi Rekonstruksi Teks yang Terserak Mamat Ruhimat; Rahmat Sopian
Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v8i1.97

Abstract

This paper describes the research and reconstruction of Kisah Putra Rama and Rawana text in the XV Century. The research was conducted toward three manuscripts of Kisah Putra Rama and Rawana (PRR), which are collections of West Java State Museum “Sri Baduga” and Kabuyutan Ciburuy, Garut Regency. PRR is one of Old Sundanese literature which were written in the sixteenth century AD. The story tells the war between the son of Rama, King of Lengkawati and the son of Rawana, the king of Lengkapura which took place after Rawana passed away and Rama attained moksha. The PRR manuscripts of Kabuyutan Ciburuy are scattered in six kropaks which leaves (lempir) are mixed with leaves from other texts. The first groups, which are consisted of Kropak 17, Kropak 18, Kropak 22, the fourth leaf, and Kropak 26, is called Manuscript A. The second groups, which are consisted of Kropak 24, the third leaf of Kropak 26, and the fifth leaf of Kropak 29, is called Manuscript C. Moreover, the PRR text which has been initially published is called Manuscript B. === Makalah ini menguraikan penelitian dan rekonstruksi terhadap teks Kisah Putra Rama dan Rawana Abad XVI Masehi. Penelitian dilakukan terhadap tiga naskah Kisah Putra Rama dan Rawana (PRR) dari koleksi Museum Negeri Jawa Barat “Sri Baduga” dan koleksi Kabuyutan Ciburuy Kabupaten Garut. PRR merupakan salah satu karya sastra Sunda Kuno yang ditulis pada abad ke-16 Masehi. Isinya mengisahkan peperangan antara putra Rama Raja Lengkawati dengan putra Rawana Raja Lengkapura setelah Rawana gugur dan Rama moksa. Naskah koleksi Kabuyutan Ciburuy tercecer dalam enam kropak yang sebagian lempirannya bercampur dengan lempiran dari teks lain. Keenam naskah PRR yang tercecer dan berbeda bacaan kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama yang terdiri dari Kropak 17, Kropak 18, Kropak 22, lempir keempat dan kelima Kropak 26 disebut Naskah A. Kelompok kedua yaitu lempir kedua Kropak 24, lempir ketiga Kropak 26, dan lempir kelima Kropak 29 disebut Naskah C. Sedangkan teks PRR yang sudah diterbitkan lebih dahulu disebut Naskah B.
Memahami Kompleksitas Transformasi Agama- agama di Jawa melalui Teks Agus Iswanto,
Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v8i1.98

Abstract

Transformation of Religions as Reflected in Javanese Texts
Persahabatan Ulama Sunda Aditia Gunawan
Manuskripta Vol 8 No 1 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v8i1.99

Abstract

The book by Jajang A. Rohmana, titled Informan Sunda Masa Kolonial: Surat-surat Haji Hasan Mustapa untuk Snouck Hurgronje dalam Kurun 1894–1923 (Sundanese Informants in the Colonial Era: Letters of Haji Hasan Mustapa to Snouck Hurgronje, 1894–1923), marks a significant contribution to the historiography of Islam in West Java. This philological study examines a corpus of private letters written in Arabic sent by the renowned Sundanese poet, Haji Hasan Mustapa (1852–1930), to C. Snouck Hurgronje. Most studies on Islamic history in the Indonesian Archipelago have hitherto focused primarily on literary works, religious treatises, or the Arab-Haramayn scholarly networks, often leaving personal correspondence overlooked. In fact, private letters hold immense historical value, as they capture the author's inner psychological state, intellectual dynamics, and the broader socio-political context rich in historical data. Through a philological reconstruction of these historical fragments, Rohmana’s research not only enriches the study of Islamic history in the Sundanese lands (Tatar Sunda) but also opens a new paradigm in utilizing epistolary sources for writing the history of the Archipelago. === Buku karya Jajang A. Rohmana yang berjudul Informan Sunda Masa Kolonial: Surat-surat Haji Hasan Mustapa untuk Snouck Hurgronje dalam Kurun 1894–1923 menjadi kontribusi penting dalam historiografi Islam di Jawa Barat. Penelitian filologis ini mengkaji korpus surat-surat pribadi berbahasa Arab yang dikirimkan oleh pujangga Sunda, Haji Hasan Mustapa (1852–1930), kepada C. Snouck Hurgronje. Kebanyakan kajian sejarah Islam Nusantara selama ini berfokus pada karya literer, kitab keagamaan, atau jaringan keilmuan Arab-Haramayn, sehingga dokumen korespondensi pribadi kerap terabaikan. Padahal, surat-surat pribadi memiliki nilai historis yang sangat tinggi karena mampu merekam situasi batin, dinamika pemikiran, serta konteks sosial-politik zaman yang kaya akan data sejarah. Melalui rekonstruksi filologis terhadap serpihan sejarah ini, penelitian Rohmana tidak hanya memperkaya studi sejarah Islam di Tatar Sunda, tetapi juga membuka paradigma baru dalam pemanfaatan sumber-sumber epistolari untuk penulisan sejarah Nusantara.
Teks-teks Lakon Wayang Karya Ki Widiprayitna Eks-Koleksi J. L. Moens: Jembatan Masa Lalu terhadap Kajian Filologi Pertunjukan Bima Slamet Raharja
Manuskripta Vol 16 No 1 (2026): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v16i1.181

Abstract

This article examines the continuity and evolution of lakon wayang texts within the J.L. Moens collection, specifically those rewritten by Ki Widiprayitna. Moens’ initiative was pivotal in documenting Yogyakarta’s puppetry traditions, drawing from ancestral guidelines like Pancakaki and Grenteng. Widiprayitna’s adaptations mirror live performances, meticulously preserving structural elements such as janturan (narrative descriptions), pocapan (dialogue), and gendhing (musical cues). These texts, including the Pakem Ringgit Purwa, serve as vital records of the transition from oral performance to written media. The inclusion of character illustrations further enhances the dramatic technicality of these records. By applying philological transcription to Widiprayitna’s work, researchers can decode the essential symbols and modes that define these standardized plays. Ultimately, this study highlights Widiprayitna’s critical role in formalizing and preserving the rich heritage of Javanese shadow puppetry for future generations. === Artikel ini membahas eksistensi, kesinambungan, dan transformasi teks lakon wayang dalam koleksi J.L. Moens yang ditulis ulang oleh Ki Widiprayitna. Upaya Moens merupakan langkah krusial dalam mendokumentasikan pengetahuan pedalangan di Yogyakarta berdasarkan pakem-pakem leluhur seperti Pancakaki dan Grenteng. Tulisan yang dihimpun Widiprayitna disusun identik dengan struktur pertunjukan asli, mencakup elemen janturan, pocapan, hingga gendhing. Proses ini menandai peralihan medium dari pertunjukan lisan ke bentuk tertulis. Teks seperti Pakem Ringgit Purwa dalam koleksi ini menyimpan detail teknis serta rekaman sejarah pertunjukan masa lalu. Kehadiran ilustrasi tokoh wayang turut memperjelas aspek dramatik dan karakterisasi dalam cerita. Melalui transkripsi filologis terhadap karya Widiprayitna, kode, mode, dan simbol penting dapat terungkap. Secara keseluruhan, studi ini menyoroti peran vital Widiprayitna sebagai produser teks standar dalam melestarikan warisan budaya wayang kulit bagi generasi mendatang.
Ladrang Sri Katon Laras Pelog Pathet Barang: Artikulasi Politik Masa Pemerintahan Paku Buwana X Joko Daryanto; Bambang Sunarto; Bimo Kuncoro
Manuskripta Vol 16 No 1 (2026): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v16i1.188

Abstract

Paku Buwana X, who ruled Surakarta Hadiningrat from 1893 to 1939, placed Ladrang Srikaton Laras Pelog Pathet Barang as the Gendhing Pakurmatan Miyos Dalem, a piece of music played to honor the king's arrival at special events within the palace grounds. During Paku Buwana X's reign, Ladrang Srikaton Laras Pelog Pathet Barang was performed alongside the Dutch national anthem, Wilhelmus. The Serat Sri Karongron by Raden Ngabehi Purbadipura describes the simultaneous presentation of two musical works, each with its own musical basis. The presentation of Ladrang Srikaton Laras Pelog Pathet Barang alongside the Dutch national anthem served as Paku Buwana X's political articulation, affirming that the Surakarta king still possessed legitimate power. The presentation of two musical works with different musical bases is part of Paku Buwana X's effort to demonstrate his power. This paper uses a hermeneutic approach to interpret the texts in Serat Sri Karongron by Raden Ngabehi Purbadipura. === Paku Buwana X yang memerintah Negari Surakarta Hadiningrat pada 1893 – 1939 menempatkan Ladrang Srikaton laras pelog pathet barang sebagai Gêndhing Pakurmatan Miyos Dalêm yaitu gending yang dibunyikan untuk menghormati kedatangan raja pada acara-acara tertentu di lingkungan istana. Sajian Ladrang Srikaton laras pélog pathêt barang pada masa pemerintahan Paku Buwana X disajikan bersamaan dengan lagu kebangsaan Belanda Wilhelmus. Sêrat Sri Karongron karya Raden Ngabehi Purbadipura mendeskripsikan peristiwa penyajian dua karya musikal dengan basis musikal yang berbeda secara bersamaan. Penyajian Ladrang Srikaton laras pélog pathêt barang bersamaan dengan lagu kebangsaan Belanda merupakan artikulasi politik Paku Buwana X bahwa raja Surakarta masih memiliki legitimasi kekuasaan. Penyajian dua karya musik dengan basis musikal yang berbeda merupakan bagian dari upaya Paku Buwana X menunjukkan kekuasaannya. Tulisan ini menggunakan pendekatan hermeneutik untuk menginterpretasi teks-teks dalam Sêrat Sri Karongron karya Raden Ngabehi Purbadipura.
Bahasa Orang-Orang Mandala: Relasi Bahasa antara Lontar Sunda dengan Bahasa Orang Baduy Hady Prastya
Manuskripta Vol 16 No 1 (2026): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v16i1.192

Abstract

This paper examines the relationship between the language of ancient Sundanese texts and the language of the Baduy people, especially their oral tradition of carita pantun. Although the Baduy people have a distinctive cultural style and way of life, including language, based on field evidence, the interaction between the Baduy people and people outside the Baduy community occurs dynamically. The assumption that the Baduy people isolate themselves, which is often expressed by many researchers, is clearly an unproven accusation. Because of the relationship between the language of ancient Sundanese texts and the language of the Baduy people, the question arises whether the language in the texts referred to as ancient Sundanese is chronologically related to what is called modern Sundanese or whether this language is a language variety used by certain groups. === Tulisan ini mengulas mengenai pertautan antara bahasa dalam teks Sunda kuna dengan bahasa orang Baduy terutama tradisi lisan mereka carita pantun. Meski orang Baduy memiliki corak budaya dan pranata hidup yang khas, termasuk bahasa, dari bukti di lapangan interaksi orang Baduy dan orang di luar komunitas Baduy terjadi secara dinamis. Anggapan bahwa orang Baduy mengisolasi diri, yang sering diutarakan banyak peneliti, jelas merupakan tuduhan yang tidak terbukti. Oleh karena pertautan antara bahasa teks Sunda kuna dan bahasa orang Baduy, maka timbul pertanyaan apakah bahasa dalam teks yang disebut Sunda kuna berkaitan secara kronologis dengan yang disebut bahasa Sunda modern ataukah bahasa ini merupakan salah satu ragam bahasa yang digunakan oleh kalangan tertentu.
Formulasi Fitur Visual Manuskrip Arab Pegon Sunda untuk Pengembangan Sistem Handwritten Text Recognition (HTR) Berbasis Artificial Intelligence (AI) Indra Sopian; Muhammad Sigit Pramudya; Asep Achmad Hidayat; Dedi Supriadi; Zulmi Ramdani
Manuskripta Vol 16 No 1 (2026): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v16i1.194

Abstract

This study examines the Sundanese Arab Pegon manuscript Wawacan Abdul Muluk through a philological approach to formulate a conceptual visual feature taxonomy framework as a foundational step for developing Artificial Intelligence (AI)-based Handwritten Text Recognition (HTR). The philological approach is employed to identify the manuscript’s condition, structural content, linguistic characteristics, and script, which are then transformed into digital parameters. The study successfully formulates six categories of conceptual visual features: paleography, text layout, script form, grapheme variation, ornamentation, and physical degradation (such as faded ink and damaged binding) that create visual noise affecting text legibility. These characteristics are analyzed as a baseline to enable AI models to accurately recognize, process, and represent Sundanese manuscripts. This synergy between philology and computational approaches contributes to the digital humanities by providing a visual feature taxonomy for future HTR application development. === Penelitian ini mengkaji manuskrip Arab Pegon Sunda Wawacan Abdul Muluk melalui pendekatan filologi untuk merumuskan kerangka kerja (framework) taksonomi fitur visual konseptual sebagai dasar awal pengembangan model Handwritten Text Recognition (HTR) berbasis Artificial Intelligence (AI). Pendekatan filologi digunakan untuk mengidentifikasi kondisi naskah, struktur isi, karakteristik kebahasaan, dan aksara, yang kemudian ditransformasikan menjadi parameter digital. Hasil penelitian berhasil merumuskan enam kategori fitur visual konseptual: paleografi, tata letak teks, bentuk aksara, variasi grafem, ornamen, serta degradasi fisik naskah (seperti tinta pudar dan jilid rusak) yang menjadi noise visual bagi keterbacaan teks. Karakteristik ini dianalisis sebagai landasan agar model AI mampu mengenali, memproses, dan merepresentasikan manuskrip Sunda secara akurat. Sinergi antara filologi dan pendekatan komputasional ini berkontribusi pada bidang humaniora digital dalam menyediakan taksonomi fitur visual untuk pengembangan aplikasi HTR di masa depan.
Sarining Pamutus: Mantra Ruwat Jawa Kuno dalam Catatan Lontar Bali Pande Putu Abdi Jaya Prawira
Manuskripta Vol 16 No 1 (2026): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v16i1.202

Abstract

The Sarining Pamutus (SP) text is a Balinese palm-leaf manuscript containing Old Javanese prose mantras used for ruwat (purification). This philological study aims to describe the structure and content of the SP text and trace Old Javanese cultural elements in Balinese manuscripts. Three SP manuscripts were identified at Udayana University and the Bali Cultural Documentation Center. Overall, the 23 mantra subtexts feature key characteristics: affirming the chanter's spiritual authority, anthropogony linked to divine mythology (Kāma and Rati), microcosmic cosmology viewing the body as a universe, purification through rituals (panglukatan, pangentas, and palepasan), and symbols of ultimate stillness. These mantras emphasize uniting the spirit with supernatural power to transform evil into good. Further research is required to explore the practical use of these mantras in rituals and reconstruct the transmission of Old Javanese intellectual traditions in Bali. === Teks Sarining Pamutus (SP) merupakan naskah lontar Bali berisi kumpulan mantra Jawa Kuno berbentuk prosa panjang untuk tradisi ruwat (penyucian). Penelitian filologi ini bertujuan mendeskripsikan struktur dan isi teks SP serta melacak jejak budaya Jawa Kuno dalam naskah Bali. Tiga naskah SP diidentifikasi di Perpustakaan Lontar Universitas Udayana dan Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali. Secara umum, 23 subteks mantra di dalamnya memiliki karakteristik utama: penegasan otoritas spiritual penutur, antropogoni yang terhubung dengan mitologi dewa (Kāma dan Rati), kosmologi mikrokosmos yang memandang tubuh sebagai alam semesta, penyucian melalui ritual (panglukatan, pangentas, dan palepasan), serta simbol pencapaian keheningan tertinggi. Mantra-mantra ini menekankan penyatuan roh dengan kekuatan gaib untuk mengubah kejahatan menjadi kebaikan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi aspek praktis mantra dalam ritual serta merekonstruksi tradisi intelektual Jawa Kuno di Bali.
Musa Kang Kapisan Kaarangan Purwaning Dumadi: Kajian Teologi Penciptaan Alam dan Manusia Doni Wahidul Akbar; Titin Nurhayati Ma'mun
Manuskripta Vol 8 No 2 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The ancient manuscripts of Nusantara (Indonesian Archipelago) is the cultural heritage of the past in which high value, not only to the past also to the present. One of the scripts that have a significance the present for the people of the archipelago is the manuscripts Kitab Musa: Layang Musa Kang Kapisan Kaarangan Purwaning Dumadi. This study uses the philological and theological approaches. This manuscripts explains the value of Christian teachings that include the occurrence of the universe, the creation of man, the sins of mankind, man fell into sin, and God help the man rose from the sin that they do. The information actualized its spread through the Arabic Pegon alphabet and Javanese culture prevailing at that time namely the script used in the Qur'an. It shows that the manuscripts Kitab Musa: Layang Musa Kang Kapisan Kaarangan Purwaning Dumadi as document the spread of Christianity in the Islamic period are in Java. The findings of this study is about the chronology of the creation of the universe and the creation of humans as well as Christian Godhead theology guidelines. === Naskah kuna Nusantara merupakan warisan budaya masa lalu yang isinya bernilai tinggi, tidak hanya untuk masa lalu juga untuk masa kini. Salah satu naskah yang memiliki arti penting kekinian bagi masyarakat Nusantara adalah naskah Kitab Musa: Layang Musa Kang Kapisan Kaarangan Purwaning Dumadi. Penelitian ini menggunakan teori filologi dan metode teologi. Naskah ini menjelaskan pokok-pokok ajaran Kristiani yang meliputi terjadinya alam semesta, penciptaan manusia, dosa manusia, manusia jatuh dalam dosa, dan usaha Tuhan membantu manusia bangkit dari dosa yang mereka perbuat. Informasi itu diaktualisasikan penyebarannya melalui budaya Jawa dan aksara yang berlaku pada saat itu yaitu aksara Arab Pegon yang digunakan dalam Alqur’an. Hal itu menunjukkan bahwa naskah Kitab Musa: Layang Musa Kang Kapisan Kaarangan Purwaning Dumadi sebagai dokumen penyebaran ajaran Kristiani pada zaman Islam yang berada di Jawa. Temuan dari kajian ini adalah penjelasan tentang kronologi penciptaan alam semesta dan penciptaan manusia serta pedoman teologi ketuhanan agama Kristen.