cover
Contact Name
Abdullah Maulani
Contact Email
jmanuskripta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jmanuskripta@gmail.com
Editorial Address
Gedung VIII Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok 16424 Jawa Barat
Location
,
INDONESIA
MANUSKRIPTA
ISSN : 22525343     EISSN : 23557605     DOI : https://doi.org/10.33656/manuskripta
MANUSKRIPTA aims to provide information on Indonesian and Southeast Asian manuscript studies through publication of research-based articles. MANUSKRIPTA is concerned with the Indonesian and Southeast Asian manuscript studies, the numerous varieties of manuscript cultures, and manuscript materials from Southeast Asian society. It also considers activities related to the care and management of Southeast Asian manuscript collections, including cataloguing, conservation, and digitization.
Articles 115 Documents
Ma‘rifat al-Nikāḥ: Perspektif Baru Relasi Suami Istri Mursyid, Ali
Manuskripta Vol 5 No 1 (2015): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v5i1.28

Abstract

This article is the result of research on manuscripts Ma‘rifat al-Nikāḥ (MN) of Suaru Buluah Agam, West Sumatra, and Lumajang, East Java. MN offers the concept of marriage by Suësm. It is something different to the concept of marriage according to Islamic jurisprudence in general. In some literature, Islamic marriage law is still considered to be a gender bias. Therefore, MN offers an impartial perspective on gender equality. Marriage, according to this text, is not only the relationship between men and women, but also between body and spirit, between the Alquran and its meaning, and between the servant and the Lord. Thus, marriage is deëned as the union of two different and complementary; not just al-‘aqd li al-tamlīk (contract for ownership), but marriage is a relationship that is built on a readiness, and according to the relationship of husband and wife, willingness to be seen from the female side. During the 17th century until the late 18th century, this was considered a bold and progressive opinion. === Artikel merupakan hasil penelitian atas naskah Ma‘rifat al-Nikāḥ (MN) yang berasal dari Suaru Buluah Agam Sumatera Barat dan Lumajang Jawa Timur. MN menawarkan konsep pernikahan berdimensi tasawuf. Hal ini merupakan sesuatu yang berbeda dengan umumnya konsep pernikahan dalam wacana ëkih Islam. Dalam beberapa literatur, ëkih perkawinan masih dipandang bias jender. Oleh karena itu, MN menawarkan perspektif yang lebih berkeadilan jender. Pernikahan dalam teks ini tidak hanya antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga antara jasad dan ruh, antara Alquran dan maknanya, dan antara hamba dengan Tuhannya. Dengan demikian, pernikahan menurut teks ini dimaknai sebagai penyatuan dua hal dengan dimensi berbeda dan saling melengkapi; bukan sekadar al-‘aqd li al-tamlīk (akad untuk kepemilikan) tetapi sebuah relasi yang dibangun atas dasar kerelaan, dan dalam hubungan suami dan istri, kerelaan harus dilihat dari pihak perempuan. Pada abad ke-17 sampai akhir abad ke-18, hal ini merupakan pandangan yang berani dan progresif.
Pangalihan Purnama Tilĕm Eka Sungsang: Literatur Astronomi Siklus Bulan Purnama dan Bulan Baru dalam Tradisi Bali Muhammad Heno Wijayanto
Manuskripta Vol 14 No 2 (2024): Manuskripta: Special Issue Dreamsea Student Research 2023
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v14i2.29

Abstract

This research delves into two digitized Balinese palm leaf manuscripts, DS 0030 00027 and DS 0030 00049, from the collection of I Made Kajeng Waras Himawan Suweca. Both manuscripts discuss Pangalihan Purnama Tilĕm (PPT), a crucial aspect of the traditional Balinese calendar that determines the new moon and full moon cycles. The study explores the concepts of pancĕr, subang, jĕbĕng, serang, and nampih as used in the calendrical system. Significant differences between the two manuscripts are revealed, particularly regarding the determination of intercalary months and specific terminology. While DS 0030 00027 presents six nĕmu gĕlang with twelve intercalary months, DS 0030 00049 only has four nĕmu gĕlang with four intercalary months. This study underscores the importance of a deep understanding of the Balinese calendrical tradition as an integral part of Balinese culture and society. The findings provide valuable insights into the complexities of a system that has been at the heart of daily life for the Balinese people. === Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dua naskah dari koleksi I Made Kajeng Waras Himawan Suweca yang telah didigitalisasi oleh Dreamsea. Keduanya membahas Pangalihan Purnama Tilĕm (PPT), sebuah aspek penting dari kalender tradisional Bali yang menentukan periode bulan purnama dan bulan baru. Naskah-naskah DS 0030 00027 dan DS 0030 00049 dijelajahi untuk memahami konsep-konsep seperti pancĕr, subang, jĕbĕng, serang, dan nampih yang digunakan dalam sistem penanggalan. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan signifikan dalam kedua naskah terkait penentuan bulan yang digandakan dan terminologi khusus yang digunakan. DS 0030 00027 menampilkan enam nĕmu gĕlang dengan dua belas bulan yang digandakan, sementara DS 0030 00049 hanya memiliki empat nĕmu gĕlang dengan empat bulan yang digandakan. Studi ini menekankan pentingnya pemahaman mendalam terhadap tradisi penanggalan Bali sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya dan kehidupan masyarakatnya. Pengetahuan ini memberikan wawasan yang berharga tentang kompleksitas sistem penanggalan yang telah menjadi inti dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bali.
Maslak al-Sālikīn Ilā Ḥaḍrat Rabb al-‘Ālamīn: Potret Tafsir dalam Naskah Tasawuf di Kalimantan Selatan Periode Modern Mujahid, Ahmad
Manuskripta Vol 5 No 1 (2015): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v5i1.32

Abstract

This article is a response to the lack of research on the Quranic exegesis in the early development of Islam in the archipelago. is article examines the exegetical aspects in Maslak al-Sālikīn Ilā Ḥaḍrat Rabb al-‘Ālamīn, a Jawi manuscript from Negara, South Kalimantan. This text contains quotations from verses from the Quran translated into the Malay language, so the text is considered to have an important role in translating Islam to the local context. This kind of translation method is tarjamah tafsīrīyah, ie copying or transferring sentences from the original language into another language without having to depend on the structure and composition of the original language so the method is more concerned with the content of the message contained in the target language. On thisbasis, this text can be considered as one of the important references Quranic exegesis studies in the past. === Artikel ini merupakan jawaban atas kelangkaan kajian tafsir Alquran pada masa awal perkembangan Islam di Nusantara. Objek kajianartikel ini adalah aspek tafsir dalam teks Maslak al-Sālikīn Ilā Ḥaḍrat Rabb al-‘Ālamīn, sebuah teks dari daerah Negara, Kalimantan Selatan, yang beraksara Jawi, berbahasa Melayu. Teks ini berisi kutipan dari ayat-ayat Alquran yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu sehingga teks ini dianggap memiliki peran penting dalam hal penerjemahan Islam ke dalam konteks lokal. Metode penerjemahan semacam ini merupakan tarjamah tafsīrīyah, yaitu menyalin atau mengalihkan kalimat dari bahasa asal ke dalam bahasa yang lain tanpa bergantung dengan struktur dan susunan bahasa asal sehingga metode ini lebih mementingkan isi pesan yang terdapat di dalam bahasa sasaran. Atas dasar itulah teks ini dapat dipandang sebagai salah satu kajian tafsir yang penting di masa lalu.
Jawāb al-Mushkilāt: Respon Ulama Syattariyah terhadap Paham Wujūdīyah Putra, Apria
Manuskripta Vol 5 No 1 (2015): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v5i1.36

Abstract

Religious discourse that developed in the archipelago around the 17th century AD are colored by the thought of Suësm. One teachings that arises is wujūdīyah, an teachings of Suësm which states that God and nature are one. However, this teachings cause unrest in society and even seen as heretical because there are adherents no longer concerned with the sharī‘ah. The adherents prefer the inner more than the physical, and therefore considered to be inëdels, as was done by Nur al-Din al-Raniri in Aceh. This paper explores alternative answer to the problems in West Sumatra, derived from the Syattariyah Order through Jawāb al-Mushkilāt, a suësm manuscript of Surau Buluah Agam, written in 1891 AD by Sheikh Abdurrahman Bawan, pupil of Shaykh ‘Abd al-Rauf Singkel. Shaykh Abdurrahman take the middle path, not just approve the wujūdīyah teachings, nor radical with regard pagan adherents. He emphasized the aspect of sharī‘ah as an answer to the wujūdīyah teachings. === Wacana keagamaan yang berkembang di Nusantara sekitar abad ke-17 M banyak diwarnai oleh pemikiran tasawuf. Salah satu pahamyang muncul adalah wujūdīyah, sebuah paham tasawuf yang menyatakan bahwa Allah dan alam itu ialah satu. Akan tetapi, paham ini menimbulkan keresahan di masyarakat dan bahkan dipandang sesat karena ada penganutnya yang tidak lagi mementingkan syariat. Penganut ini lebih mengutamakan yang batin lebih daripada yang zahir, dan karenanya dianggap kaër, seperti dilakukan oleh Nuruddin al-Raniri di Aceh. Tulisan ini mengetengahkan alternatif jawaban atas permasalahan dari salah satu kelompok tarekat di Sumatera Barat, yakni Tarekat Syattariyah melalui Jawāb al-Mushkilāt (JM), sebuah naskah tasawuf dari Surau Buluah Agam, yang ditulis pada 1891 M. oleh Syekh Abdurrahman Bawan, murid Syekh ‘Abd al-Rauf Singkel. Syekh Abdurrahman mengambil jalan tengah, tidak menyetujui begitu saja paham wujūdīyah, dan tidak pula radikal dengan mengaërkan penganutnya. Ia menekankan aspek syariah sebagai jawaban atas paham wujūdīyah tersebut.
Masā’il al-Muhtadī li Ikhwān al-Mubtadī: Implikasi Pedagogis Model Pembelajaran Tarekat dalam Praktik Pendidikan Lubis, Maesaroh
Manuskripta Vol 5 No 1 (2015): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v5i1.37

Abstract

Masā’il al-Muhtadī li Ikhwān al-Mubtadī is a monumental work of the 16th century by Shaikh Daud bin Ismail bin Mustafa Rumî knownas Baba Dawud. This article discusses various important thoughts of Baba Dawud about neosufisme that obtained from his teacher, Abd. Rauf As-Sinkili. Baba Dawud want to introduce the image of tarekat can be justified because it is built on a solid foundation of sharī‘ah. When the controversial wujūdīyah is present, Masā’il al-Muhtadī has offered tarekat as a learning media to understanding Islam. Baba Dawud assumes that the perfection of life will be obtained after the mubtadī understand Islam through sharī‘ahand refine it through tarekat. This thought makes Masā’il al-Muhtadī has an important position in the context of Islamic education in the Malay world. Masā’il al-Muhtadī is a living manuscript that much copied and studied in Islamic educational institutions in Indonesia and Southeast Asia. === Masā’il al-Muhtadī li Ikhwān al-Mubtadī adalah teks monumental abad ke-16 karya Shaikh Daud bin Ismail bin Mustafa Rumî, dikenal dengan Baba Dawud. Artikel ini menguraikan pemikiran-pemikiran penting Baba Dawud tentang neosuësme yang didapatkan dari gurunya, Abd. Rauf As-Sinkili. Baba Dawud ingin memperkenalkan citra ajaran tarekat yang dapat dipertanggungjawabkan karena dibangun di atas pondasi kokoh syariat. Ditengah kehadiran paham wujūdīyah yang dianggap kontroversial, Masā’il al-Muhtadī menawarkan tarekat sebagai media pembelajaran alternatif dalam memahami Islam. Baba Dawud menganggap bahwa kesempurnaan hidup akan didapatkan setelah seorang mubtadī mengawali pemahaman keislamannya melalui tahap syariat dan memantapkannya dalam kegiatan tarekat. Pemahaman ini membuat Masā’il al-Muhtadī memiliki kedudukan penting dalam konteks pendidikan Islam di dunia Melayu. Masā’il al-Muhtadī merupakan living manuscript yang banyak disalin dan dikaji di lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia dan Asia Tenggara.
Naskah-Naskah Nusantara di EFEO Paris: Catatan Pendahuluan Gunawan, Aditia
Manuskripta Vol 5 No 1 (2015): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v5i1.39

Abstract

This article provides brief notation to the list of manuscripts collections available in École Français d’Extrême-Orient (EFEO) library. The library has 25 ancient nusantara manuscripts as collection. These manuscripts came from four different region of manuscript traditions, i.e.: Bali (17 manuscripts), Batak (3 manuscripts), Java (2 manuscripts), and Sasak (5 manuscripts). The text contained in the manuscripts are written in the letter and language of Batak, Javanese, Sasak, and Malay. Most of EFEO manuscript collection has no colophon describing year of the manuscript were written nor copied. But, most of the manuscripts were supposed to be written in the late 19th century until the 1950s. The origins of the manuscripts are not very clear. However, 7 out of 25 manuscripts were able to be traced. One script is derived from Jakarta as the donation from Pierre Yves Manguin on 21 May 1979 and six manuscript were derivedfrom Cakranagara (Lombok) as donation from Jacques Dumarçay on 8 September 1999. === Artikel ini memberikan catatan singkat atas daftar koleksi naskah yang ada di Perpustakaan Ecole Français d’Extrême-Orient (EFEO) Paris. Koleksi naskah kuno nusantara yang ada di tempat ini berjumlah 25 naskah. Naskah-naskah ini berasal dari empat wilayah tradisi naskah yang berbeda, yaitu Bali (15 naskah), Batak (3 naskah), Jawa (2 naskah), dan Sasak (5 naskah). Teks yang terdapat dalam naskah ini ditulis dalam aksara dan bahasa Batak, Jawa, Jawa Sasak, dan Melayu. Sebagaian besar naskah koleksi EFEO ini tidak memiliki kolofon yang mencantumkan angka tahun penulisan atau penyalinan. Akan tetapi, diperkirakan sebagian besar naskah ini ditulis dari akhir abad ke-19 sampai tahun 1950-an. Asal-usul naskah-naskah ini tidak terlalu jelas. Akan tetapi, dari 25 naskah ada tujuh naskah yang dapat ditelusuri asal-usulnya. Satu naskah berasal dari Jakarta merupakan sumbangan Pierre Yves Manguin pada tanggal 21 Mei 1979 dan enam naskah berasal dari Cakranagara (Lombok) sumbangan Jacques Dumarçay pada tanggal 8 September 1999.
Cerita Nabi Muhammad Berhempas dengan Abu Jahil Karya Buya Abdus Salam: Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Islam Lutfi, Khabibi Muhammad
Manuskripta Vol 5 No 2 (2015): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v5i2.40

Abstract

This article discusses the manuscript of Cerita Nabi Muhammad Berhempas dengan Abu Jahil (CNMBAJ) by Abdus Salam. This paperreveals the history of the Prophet Muhammad and their interaction with Abu Jahil in which many of the depicted characters, both good and evil. The manuscript is the private collection of Apria Putra from West Sumatera. This article has been contributed to the discourse of education in Indonesia through the making Islamic values existed in the CNMBAJ as the basis for character education. At the time, CNMBAJ teaches these values in the stories written as poetry. For the people of Minangkabau, the text is sung, remember, and used as a medium for studying Islamic history. This article is a philological research applying the method of single manuscript and edited using a critical edition. After the editing text has been obtained, the research continued with the analysis of the content using the philosophical and educational approaches. === Artikel ini mendiskusikan naskah Cerita Nabi Muhammad Berhempas dengan Abu Jahil (CNMBAJ) karya Abdus Salam. Naskah ini menceritakan sejarah Nabi Muhammad dan interaksinya dengan Abu Jahil yang di dalamnya banyak digambarkan karakter-karakter tokoh, baik yang jahat maupun yang baik. Naskah ini merupakan koleksi pribadi milik Apria Putra dari Sumatera Barat. Artikel ini memberikan kontribusi terhadap pendidikan di Indonesia dengan menjadikan nilai-nilai Islam dalam naskah CNMBAJ menjadi basis pendidikan karakter. Pada zamannya, CNMBAJ mengajarkan nilai-nilai tersebut dalam cerita yang ditulis dalam bentuk puisi. Bagi masyarakat Minangkabau, teks ini didendangkan, dihafalkan, dan digunakan sebagai media untuk mengingat sejarah keislaman. Artikel ini merupakan penelitian Filologi yang menerapkan metode naskah tunggal yang disunting secara kritis. Setelah dihasilkan suntingan teks, penelitian ini dilanjutkan dengan melakukan analisis konten dengan menggunakan pendekatan filosofis-edukatif.
Fatḥul ‘Ārifīn dan Tasawuf yang Terpinggirkan: Suluk Bait Duabelas Syekh Kemuning dan Perlawanan terhadap Islam Mainstream di Jember Awal Abad XX Ardiansyah, Muhammad
Manuskripta Vol 5 No 2 (2015): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v5i2.41

Abstract

Fatḥul ‘Ārifīn is the text describing ideas, doctrines, and spiritual experiences that must be conducted by anyone will get the highest truth and merging with the God. One of the terms existed in Fatḥul ‘Ārifīn is Bait Duabelas compiled by Syekh Kemuning. Bait Duabelas is “ilmu ilham” gained after Syekh Muhammad Nur was performing khalwah suluk mujahadah during 9 years, since 1910 until 1919. Bait Duabelas can be categorized as one of the Islamic literature from traditional Javanese. This manuscript was written by Pegon script. This study will give some contribution for composing the alternative historiography about Islam in Jember, East Java. The conclusion of this study is that the function and meaning of Baik Duabelas for the readers is the existence of ngalap barokah element and the high level of trust on the text impact. === Fatḥul ‘Ārifīn adalah teks yang menguraikan gagasan, ajaran, dan pengalaman kerohanian yang harus dijalankan oleh siapapun yangingin mencapai kebenaran tertinggi dan berusaha melebur dengan rahasia Sang Wujud. Salah satu bahasan yang terdapat di dalamnya adalah Bait Duabelas yang disusun oleh Syekh Kemuning. Bait Duabelas merupakan “ilmu ilham” yang diperoleh setelah Syekh Muhammad Nur melaksanakan khalwah suluk mujahadah selama 9 tahun, dari 1910 hingga tahun 1919. Bait Duabelas dapat dikategorikan sebagai sastra keislaman yang lahir dalam dunia Jawa tradisional. Naskah ini ditulis dengan huruf pegon. Studi ini dapat memberikan kontribusi bagi penulisan historiografi alternatif tentang Islam di Jember, Jawa Timur. Studi ini menyimpulkan bahwa fungsi dan makna Bait Duabelas bagi para pembacanya adalah adanya unsur ngalap barokah dan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap khasiat teks tersebut.
Naskah Shahadat Sekarat: Konstruksi Nalar Suístik atas Kematian dan Eskatologi Islam di Jawa Fikri, Ibnu
Manuskripta Vol 5 No 2 (2015): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v5i2.42

Abstract

This article discusses the manuscript of Shahadat Sekarat that was found in the Sukomulyo village at South Kaliwungu, Kendal, CentralJava. This article expresses on the mystery of death and Islamic eschatology based on Javanese culture. In addition to describing shahadat of death, Shahadat Sekarat also was writing on the human being concept, the tauhid concept in Sufism context, and some prayer indicated to Martabat Tujuh conception. The death and eschatology terms which are included in this manuscript are the part of Sufism theory that need special inpretation to understand it. Therefore, this article applies the philology and hermeneutics as methodology. This article concluded that Shahadat Sekarat is the doctrine towards the perfection for Islamic Sufism agents in Java. Thespiritual conception in Shahadat Sekarat has close of a relationship with the structured Javanese society during this manuscript was written. === Artikel ini membahas naskah Shahadat Sekarat yang ditemukan di Desa Sukomulyo, Kalingwungu Selatan, Kendal, Jawa Tengah. Tulisan ini mengungkap misteri kematian dan eskatologi Islam dalam bingkai khazanah Jawa. Selain menguraikan tentang shahadat kematian, naskah Shahadat Sekarat ini membahas konsep kejadian manusia, konsep tauhid yang dikemas dalam doktrin tasawuf, serta do’a-do’a yang mengarah pada konstruksi martabat tujuh. Topik kematian dan eskatologi yang terdapat dalam naskah ini merupakan bagian dari materi tasawuf yang membutuhkan interpretasi khusus untuk memahaminya. Berkaitan dengan itu, artikel ini menggunakan kajian filologis dan pendekatan hermeunetik sebagai metodologi. Artikel ini menyimpulkan bahwa Shahadat Sekarat merupakan ajaran untuk menuju kesempurnaan diri bagi pelaku ajaran Islam Sufistik di Tanah Jawa. Konsepsi spiritual yang tertuang dalam naskah Shahadat Sekarat ini memiliki kaitan erat dengan fenomena yang terstuktur dalam masyarakat Jawa pada saat naskah ini dibuat.
Mulḥaq fī Bayān Al-Fawā’id al-Nāfi’ah fī al-Jihād fī Sabīlillāh: Aktualisasi Jihad dan Purifikasi Azimat Sidik, Sidik
Manuskripta Vol 5 No 2 (2015): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v5i2.43

Abstract

The term of jihad is often associated to radical and terrorist acts. As a result, the meaning of jihad into a dwarf, limited, and further potential countra-productive conditions in the community. Thus, it is important to reread ang reinterprate the meaning of jihad. One source that can be lifted is the text of Mulḥaq fī Bayān Al-Fawā’id Al-Nāí’ah fī Al-Jihād fī Sabīlillāh, which is attachment of the work of Shaykh Abdussamad al-Palimbani entitled Nasīḥāt al-Muslimīn wa Tadhkirāt al-Mukminīn fī Faḍā’il al-Jihād fī Sabīlillāh, which is written in 18th century. According to the text of Mulḥaq, jihad is a religious doctrine that must be actualized appropriate social context. In the context of the socio-political under colonial shackles, jihad in the form of physical resistance is a religious obligation, and it is notradicalism. This paper, therefore, trays to elaborate on the meaning of jihad itself, and on the other hand on the use of amulets as a source of power which is purified by reading verses of the Qur’an, prayer and remembrance. === Terma jihad sering diasosiasikan pada tindakan radikal dan teror. Akibatnya, makna jihad menjadi kerdil, terbatas, dan lebih lanjut berpotensi menimbulkan kondisi yang kontra produktif di masyarakat. Dengan demikian, teks terkait jihad menjadi penting dibaca dan dimaknai kembali. Salah satu sumber yang dapat diangkat adalah teks Mulḥaq fī Bayān Al-Fawā’id Al-Nāí’ah fī Al-Jihād fī Sabīlillāh, yang merupakan lampiran dari karya Syekh Abdussamad al-Palimbani yang berjudul Nasīḥāt al-Muslimīn wa Tadhkirāt al-Mukminīnfī Faḍā’il al-Jihād fī Sabīlillāh, yang ditulis pada abad ke-18 M. Berdasarkan naskah Mulḥaq, jihad merupakan merupakan doktrin keagamaan yang harus diaktualisasikan sesuai konteks sosialnya. Dalam konteks sosial politik di bawah belenggu penjajah, jihad dalam bentuk perlawanan fisik adalah suatu keharusan, dan itu bukanlah radikalisme. Tulisan ini, dengan demikian, mengelaborasipemaknaan jihad itu sendiri, dan di sisi lain tentang penggunaan azimat sebagai sumber kekuatan yang dipuriëkasi dengan bacaan ayat Al-Qur’an, doa dan zikir.

Page 2 of 12 | Total Record : 115