cover
Contact Name
Abdullah Maulani
Contact Email
jmanuskripta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jmanuskripta@gmail.com
Editorial Address
Gedung VIII Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok 16424 Jawa Barat
Location
,
INDONESIA
MANUSKRIPTA
ISSN : 22525343     EISSN : 23557605     DOI : https://doi.org/10.33656/manuskripta
MANUSKRIPTA aims to provide information on Indonesian and Southeast Asian manuscript studies through publication of research-based articles. MANUSKRIPTA is concerned with the Indonesian and Southeast Asian manuscript studies, the numerous varieties of manuscript cultures, and manuscript materials from Southeast Asian society. It also considers activities related to the care and management of Southeast Asian manuscript collections, including cataloguing, conservation, and digitization.
Articles 115 Documents
Sejarah Cirebon: Ekperimen Pribumisasi Islam-Sufistik Syekh Nurjati Ali, Mukti
Manuskripta Vol 5 No 2 (2015): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v5i2.44

Abstract

This article examines the second volume of the manuscript Sejarah Cirebon, written by H. Mahmud Rais. According to the copied version that also collected by Bambang Irianto, this manuscript was copied on December 15, 1957 and was written with the Cirebonese-Javanese and Arabic language. In summary, this text describes the Islamic doctrines delivered by Syekh Nurjati that tend to be adaptive and accommodating towards the local culture of Cirebon. Using the approach of sufism, in order to uncover the local context of the text, this article sets that there were six very substantial teaching to be done by Muslims. First, regarding the aspect of the God. Second, follow those who inherited the prophets. ird, do the beneficial and stay away from the forbidden things. Fourth, the teachings of love. Fifth, be consistent with the truth. Sixth, the balance between ilmu and amal. === Artikel ini mengkaji jilid kedua dari naskah Sejarah Cirebon yang ditulis oleh H. Mahmud Rais. Dalam salinan yang juga dimiliki oleh Bambang Irianto, naskah ini disalin pada 15 Desember 1957 dan ditulis dengan aksara Pegon serta bahasa Jawa-Cirebon dan Arab. Secara ringkas, teks ini menjelaskan doktrin-doktrin keislaman yang disampaikan oleh Syekh Nurjati yang cenderung adaptif dan akomodatif terhadap kebudayaan lokal Cirebon. Doktrin-doktrin tersebut dianggap sebagai wejangan yang bernilai luhur dan bernilai sufistik. Dengan menggunakan pendekatan sufistik, dalam rangka mengungkap konteks lokal teks tersebut, artikel ini memaparkan bahwa terdapat enam ajaran yang sangat substansial yang harus dilakukan oleh umat Islam. Yaitu, pertama, mengenai aspek ketuhanan. Kedua, meneladani para pewaris Nabi. Ketiga, melakukan hal yang bermanfaat dan menjauhi hal yang dilarang. Keempat, ajaran saling mengasihi. Kelima, konsisten dalam kebenaran. Keenam, keseimbangan antara ilmu dan amal.
Naskah Kuno untuk Kawula Muda Fadlan, Muhammad Nida’
Manuskripta Vol 5 No 2 (2015): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v5i2.45

Abstract

Skriptorium: Perjalanan Mencari Harta Karun
Eksistensi Kakawin Arjuna Wiwāha dalam Agama dan Budaya Hindu di Bali Widiantana, I Kadek
Manuskripta Vol 14 No 2 (2024): Manuskripta: Special Issue Dreamsea Student Research 2023
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v14i2.46

Abstract

Kakawin Arjuna Wiwāha is one of the popular kakawin texts in Bali because it is seen as a functional text, especially as an accompaniment to the Panca Yadnya ceremony. The copying of Arjuna Wiwāha has been going on for a long time, so this manuscript is quite widely distributed in Bali. To facilitate Balinese people who cannot read Balinese script and have limited knowledge of Old Javanese, Kakawin Arjuna Wiwāha, which was previously in lontar form, was then published in several book publications equipped with meanings and interpretations in Balinese. This cannot be separated from the mabebasan tradition in Bali. In this tradition, kakawin in Old Javanese is interpreted by paneges in Balinese so that people who hear this kakawin also understand the content of the story being told. In further developments, this kakawin also entered the realm of technology. Kakawin Arjuna Wiwāha was found in the form of digital kakawin lontar in the form of a website, and content has also developed containing Kakawin Arjuna Wiwaha. === Kakawin Arjuna Wiwāha merupakan salah satu naskah kakawin populer di Bali karena dipandang sebagai naskah yang fungsional terutama sebagai pengiring upacara Panca Yadnya. Penyalinan lontar Kakawin Arjuna Wiwāha sudah berlangsung sejak lama, sehingga persebaran naskah ini cukup banyak ditemukan di Bali. Untuk memfasilitasi masyarakat Bali yang tidak bisa membaca aksara Bali dan dengan keterbatasan pengetahun Jawa Kuno, sehingga teks ini yang sebelumnya dalam bentuk lontar, kemudian diterbitkan dalam beberapa terbitan buku yang dilengkapi dengan arti, maupun interpretasi dalam bahasa Bali. Hal ini tidak lepas dari tradisi mabebasan yang ada di Bali. Dalam tradisi ini, kakawin berbahasa Jawa Kuna diartikan oleh paneges dalam bahasa Bali sehingga orang yang mendengar kakawin ini juga mengerti tentang isi cerita yang dibawakan. Perkembangan selanjutnya, kakawin ini juga masuk pada ranah teknologi. Kakawin Arjuna Wiwāha ditemukan dalam bentuk lontar kakawin digital dalam bentuk website, dan juga berkembang konten-konten yang berisikan Kakawin Arjuna Wiwaha.
Tafsīr al-Jalālayn Ber-“Jenggot”: Naskah Tulis Pewaris Praktik Lisan Penerjemahan Al-Qur’an ke Bahasa Jawa Luthfillah, Muhammad Dluha
Manuskripta Vol 14 No 2 (2024): Manuskripta: Special Issue Dreamsea Student Research 2023
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v14i2.48

Abstract

This article investigates a Tafsīr al-Jalālayn manuscript coded DS 0016 00002 from Kuningan, West Java, dated 1033 AH (1624 CE). If the date is accurate, it would be the oldest known interlinear translated Jalālayn manuscript. The article aims to verify the dating and analyze the nature of the interlinear translation. Given Kuningan's role as a gateway for Islam in West Java, this manuscript offers valuable insights into the region's Islamic intellectual history. Close examination of the manuscript's features, including symbols, marginal notes, word choices, and speech levels, suggests that the interlinear translation likely dates from the late 18th to early 19th century, rather than the 17th century as initially inscribed. The analysis reveals connections with texts from Central Java (Demak and Mataram) in terms of language and style, while the symbols demonstrate strong influence from Indian Islamic literature. === Artikel ini menyelidiki sebuah manuskrip Tafsīr al-Jalālayn dengan kode DS 0016 00002 dari Kuningan, Jawa Barat, yang bertanggal 1033 H (1624 M). Jika tanggal tersebut akurat, maka manuskrip ini akan menjadi manuskrip dengan terjemahan antarbaris Jalālayn tertua yang diketahui. Artikel ini bertujuan untuk memverifikasi tanggal tersebut dan menganalisis sifat terjemahan interlinearnya. Mengingat peran Kuningan sebagai pintu gerbang Islam di Jawa Barat, manuskrip ini memberikan wawasan berharga tentang sejarah intelektual Islam di wilayah tersebut. Pemeriksaan mendalam terhadap fitur-fitur manuskrip, termasuk simbol, catatan marginal, pilihan kata, dan tingkat bahasa, menunjukkan bahwa terjemahan interlinear kemungkinan berasal dari akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19, bukan abad ke-17 seperti yang tertera awalnya. Analisis mengungkapkan adanya hubungan dengan teks-teks dari Jawa Tengah (Demak dan Mataram) dalam hal bahasa dan gaya, sementara simbol-simbol tersebut menunjukkan pengaruh kuat dari literatur Islam India.
Keselarasan Syariat dengan Tasawuf: Menyoal Salat dalam Naskah Targhīb al-a’māl fī bayān kayfiyāt al-ṣalāt li ahli Allāh Khulqi, Aghnin
Manuskripta Vol 14 No 2 (2024): Manuskripta: Special Issue Dreamsea Student Research 2023
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v14i2.49

Abstract

This research investigates a 19th-century Indonesian manuscript, Targhīb al-a’mal fī bayān kayfiyat al-ṣalāh li ahli Allāh, preserved at Surau Simaung Sijunjung and has been digitised by Dreamsea. The manuscript reflects Neo-Sufism, a movement seeking to reconcile Shari'a (Islamic law) and Sufism (Islamic mysticism). Employing qualitative and philological methods, the research analyzes the manuscript's content. Findings reveal that the Targhīb al-A’mal promotes Neo-Sufism by emphasizing the spiritual significance of prayer beyond its legal obligations. The manuscript explores the mystical meanings and benefits (faidah) within various aspects of prayer, including reading, movements, timing, number of rak'ahs, and congregational prayer. By highlighting the Sufi dimensions of prayer, the manuscript aims to enrich the understanding and practice of Islamic worship, demonstrating a harmonious integration of Shari'a and Sufism. === Penelitian ini menyelidiki manuskrip Indonesia abad ke-19, Targhīb al-a’mal fī bayān kayfiyat al-ṣalāh li ahli Allāh, yang tersimpan di Surau Simaung Sijunjung dan telah didigitalisasi oleh Dreamsea. Manuskrip ini merefleksikan Neo-Sufisme, sebuah gerakan yang berusaha untuk mendamaikan Syariat (hukum Islam) dan Tasawuf (mistisisme Islam). Menggunakan metode kualitatif dan filologis, penelitian ini menganalisis isi manuskrip. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Targhīb al-A’mal mempromosikan Neo-Sufisme dengan menekankan makna spiritual shalat di luar kewajiban hukumnya. Manuskrip ini mengeksplorasi makna mistis dan manfaat (faidah) dalam berbagai aspek shalat, termasuk bacaan, gerakan, waktu, jumlah rakaat, dan shalat berjamaah. Dengan menyoroti dimensi tasawuf dalam shalat, manuskrip ini bertujuan untuk memperkaya pemahaman dan praktik ibadah Islam, menunjukkan integrasi harmonis antara Syariat dan Tasawuf.
Risālah yang Mukhtaṣar pada Menyatakan Ilmu Tauhid: Sebuah Kajian Intertekstualitas dengan Kitab Mukhtaṣar Prasetya, Bayu Aji
Manuskripta Vol 14 No 2 (2024): Manuskripta: Special Issue Dreamsea Student Research 2023
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v14i2.50

Abstract

This study aims to analyze the relationship between the Risālah yang Mukhtaṣar pada Menyatakan Ilmu Tauhid dengan Kitab Mukhtashar. Risālah yang Mukhtaṣar on Stating the Science of Islamic theology is a manuscript from the Palembang collection of Kemas Haji Andi Syarifuddin with manuscript number DS 0005 00001, while Kitab Mukhtashar has manuscript number ML 824. Both manuscripts discuss Islamic theology and sufism. In this study, the manuscripts were analysed using a standard or critical edition. This method is a text criticism to correct writing errors that occur in the text. Through Julia Kristeva's theory of intertextuality, this study concludes that there are principles of existence, parallel, modification and expansion of the Risālah yang Mukhtaṣar on Stating the Science of Tauhid with its hypogram text (Kitab Mukhtashar). The intertextuality relationship between the two texts can be seen from the structure of the text, the content of the text which includes the use of quotations from scholars, the word of God, the explanation of Islamic theology, and the style of writing. === Penelitian ini bertujuan menganalisis keterkaitan antara Risālah yang Mukhtaṣar pada Menyatakan Ilmu Tauhid dengan Kitab Mukhtashar. Risālah yang Mukhtaṣar pada Menyatakan Ilmu Tauhid  merupakan manuskrip Palembang koleksi Kemas Haji Andi Syarifuddin dengan nomor naskah DS 0005 00001, sementara Kitab Mukhtashar memiliki nomor naskah ML 824. Kedua manuskrip ini membahas mengenai tauhid dan tasawuf. Dalam kajian ini, naskah disunting menggunakan edisi standar atau kritis. Metode ini merupakan kritik teks untuk mengoreksi kesalahan tulis yang terjadi dalam teks. Melalui teori intertekstualitas Julia Kristeva, penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat prinsip eksistensi, pararel, modifikasi dan ekspansi dari Risālah yang Mukhtaṣar pada Menyatakan Ilmu Tauhid dengan teks hipogramnya (Kitab Mukhtashar). Hubungan intertekstualitas antara dua naskah ini terlihat dari struktur teks, isi teks yang meliputi penggunaan kutipan-kutipan ulama, firman Allah, penjelasan tentang tauhid, dan gaya penulisan.
Menghadapi Kematian Perspektif Muhammad Azhari bin Makruf dalam Naskah Latā’if Al-‘Ābidīn Muhammad, Zufardien
Manuskripta Vol 14 No 2 (2024): Manuskripta: Special Issue Dreamsea Student Research 2023
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v14i2.51

Abstract

The manuscript Laṭā’if al-‘ābidīn, authored by Muhammad Azhari bin Khatib Ma'ruf al-Falimbani in 1907, provides an in-depth exploration of preparations for death. This manuscript comprises a collection of hadith, commentaries, practices, invocations, and prayers related to the theme of mortality. This research not only describes the manuscript but also analyzes it within the context of Sufi influence. Furthermore, the study examines the manuscript's relevance to contemporary readers. Findings reveal that this manuscript significantly contributes to our understanding of death-themed manuscripts in the Nusantara. Beyond serving as a spiritual guide to foster a closer relationship with God, the manuscript also holds educational and social value. The timeless principles embedded within it can assist individuals in confronting death with greater preparedness. === Naskah Laṭā’if al-‘ābidīn karya Muhammad Azhari bin Khatib Ma'ruf al-Falimbani, yang ditulis pada tahun 1907, adalah sebuah manuskrip yang membahas secara mendalam tentang persiapan menghadapi kematian. Naskah ini berisi kumpulan hadis, komentar, amalan, zikir, dan doa yang berkaitan dengan tema kematian. Penelitian ini tidak hanya mendeskripsikan naskah, tetapi juga menganalisisnya dalam konteks pengaruh tasawuf. Selain itu, penelitian ini juga membahas relevansi naskah bagi masyarakat pembaca. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naskah ini memberikan sumbangan penting dalam pemahaman kita tentang manuskrip bertema kematian di Nusantara. Naskah ini tidak hanya berfungsi sebagai panduan spiritual untuk mendekatkan diri pada Tuhan, tetapi juga memiliki nilai edukatif dan sosial. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya relevan sepanjang zaman dan dapat membantu masyarakat dalam menghadapi kematian dengan lebih baik.
Karakteristik Naskah Kamus Semantik Bahasa Arab Karya Syekh Abdul Latif Syakur Wahidi, Ridhoul
Manuskripta Vol 14 No 1 (2024): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v14i1.53

Abstract

This article aims to describe the characteristics of the manuscript of the Arabic Semantic Dictionary by Sheikh Abdul Latif Syakur from the philological and historicity aspects of the author. The important points that will be discussed in this article are aspects of manuscripts and texts, systematics of manuscript preparation, manuscript reference sources, use of Arabic and Malay Arabic script, lexical meaning, use of Arabic grammar and development of meaning. The entire picture can be obtained by using qualitative methods that are library research. The approach used in this article is philological and historical. Aspects of philology as describing manuscripts, translation and criticism of texts. Historical aspect to reveal the author's background which presents the author's intellectual elements. From there you can get a complete picture of the characteristics of an ancient manuscript, namely the Arabic Semantic Dictionary written by Sheikh Abdul Latif Syakur. === Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik naskah Kamus Semantik Bahasa Arab Karya Syekh Abdul Latif Syakur dari aspek filologi dan historisitas pengarangya. Poin-poin penting yang akan dibahas dalam artikel ini adalah aspek naskah dan teks, sistematika penyusunan naskah, intertekstual naskah, penggunaan aksara Arab dan Arab melayu, makna leksikal, penggunaan gramatika Arab dan pengembangan makna. Seluruh gambaran tersebut diperoleh dengan menggunaka metode kualitatif bersifat library research. Pendekatan yang digunakan dalam artikel ini adalah filologi dan linguistik. Aspek filologi untuk mendeskripsikan manuskrip, alih bahasa dan kritik atas teks. Aspek linguistik mengungkap aspek kebahasaan manuskrip ini. Dari sanalah dapat diperoleh gambaran utuh mengenai karakteristik sebuah naskah kuno, yakni naskah Kamus Semantik Bahasa Arab yang ditulis oleh Syekh Abdul Latif Syakur.
Naskah-naskah Moloku Kie Raha: Suatu Tinjauan Umum Pudjiastuti, Titik
Manuskripta Vol 6 No 1 (2016): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v6i1.54

Abstract

Moloku Kie Raha is a term used for referring the four local authorities in Maluku that known as Kolano: Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. As a key region in the shipping lanes during the "Silk Road" era, the presence of immigrants (Javanese, Chinese, Arab, and European) in the 14-17 centuries who brought their cultures and languages and interacted with local culture had established the local written culture. The scribe of the the Ternate sultanate said that since the past the palace also served as the scriptorium, which is where the hikayat, treaty, political documents, genealogy, and folklore which are associated with the sultanate, was written. This article is the result of codicological research that examines the physical manuscript as a focus. This research has inventoried the existence of 67 manuscripts of 12 owners that have been successfully recorded and digitized. When reading the content, the manuscripts were written about Islamic doctrines, king's letter, sufism order, hikayat, genealogy, history, laws of inheritance, horoscope, and levo-levo (amulet) while they are written in the Arabic and Jawi scripts in Arabic and Malay languages. === Moloku Kie Raha adalah istilah untuk menyebut empat penguasa daerah di Maluku yang disebut kolano: Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Sebagai sebuah titik penting dalam jalur pelayaran pada zaman ‘jalur sutra’, kehadiran orang asing (Jawa, Cina, Arab, dan Eropa) pada abad ke-14-17 yang membawa budaya dan bahasanya serta berinteraksi dengan budaya lokal telah membentuk budaya tulis setempat. Juru tulis kesultanan Ternate menyebutkan, bahwa sejak masa lalu istana juga berfungsi sebagai skriptorium, yakni tempat hikayat, perjanjian, dokumen politik, silsilah dan cerita rakyat yang berhubungan dengan kesultanan ditulis. Artikel ini merupakan hasil penelitian yang bersifat kodikologis dengan obyek kajian pada fisik naskahnya. Penelitian ini berhasil menelusuri keberadaan 67 naskah kuno dari 12 orang pemilik naskah yang berhasil didata dan didigitalkan. Ditilik dari isinya, naskah-naskah itu berisi tentang ajaran Islam, surat raja, tarekat, hikayat, silsilah, sejarah, hukum waris, primbon, dan levo-levo (ajimat) sedangkan teksnya ditulis dengan aksara Arab dan Jawi dalam bahasa Arab dan Melayu.
Produksi Naskah dan Mistisisme Aksara dalam Bhīma Svarga Gunawan, Aditia
Manuskripta Vol 6 No 1 (2016): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v6i1.55

Abstract

As in other parts of Asia, the figure of Bhīma also been cult in Java. The popularity of this figure has been recorded in the spread of archaeological heritages such as inscriptions, statues, and reliefs, as well as textual legacies by Bhīma as the main character. The text that is discussed in this article, Bhīma Svarga, is one version of which 'might' contain the oldest text. This text was written in the 16th century and has never been satisfactorily studied. This text contains a dialogue between Bhaṭāra Guru and Bhīma who wants to save his father, Pāndu, from hell. All of Bhaṭāra Guru’s questions can be answered perfectly. The Bhīma’s answers is the core of the text, the doctrines of Śivaisme with many aspects of cosmological and philosophical. This article introduces the manuscript sources containing the text of Bhīma Svarga from the scriptorium of West Java that has been ignored in terms of Bhīma Svarga’s manuscript tradition in Bali. Additionally, this article also provides an overview of the production of manuscripts and meanings of the scripts at the time the text was written. === Seperti di belahan Asia yang lain, tokoh Bhīma pernah dikultuskan di Jawa. Popularitas tokoh ini terekam dalam sebaran peninggalan arkeologis seperti prasasti, arca, dan relief, maupun peninggalan teks-teks dengan Bhīma sebagai tokoh utama. Teks yang didiskusikan dalam artikel ini, Bhīma Svarga, merupakan salah satu versi yang ‘mungkin’ mengandung teks tertua. Teks ini ditulis pada abad ke-16 dan belum pernah diteliti secara memuaskan. Teks ini berisi dialog antara Bhaṭāra Guru dan Bhīma yang hendak menyelamatkan ayahnya, Pāndu, dari neraka. Semua pertanyaan dari Bhaṭāra Guru bisa dijawab dengan sempurna. Jawaban-jawaban Bhīma inilah yang menjadi inti dari teks, yaitu doktrin-doktrin Śivaisme serta aspek kosmologis dan filosofisnya yang kaya. Artikel ini memperkenalkan sumber-sumber naskah yang berisi teks Bhīma Svarga dari skriptorium Jawa Barat yang selama ini diabaikan dalam kaitannya dengan Bhīma Svarga dari tradisi pernaskahan Bali. Selain itu, artikel ini juga memberikan gambaran mengenai produksi naskah dan pemaknaan terhadap aksara pada masa teks tersebut ditulis.

Page 3 of 12 | Total Record : 115