Background: Patient satisfaction is a key indicator of healthcare quality, particularly in nursing care. Nurses and medical staff interact most frequently with patients. Inadequate responsiveness, ineffective communication, and limited emotional support remain common causes of dissatisfaction among inpatients. Caring behaviors, based on Watson and Swanson's Caring Theory, are considered fundamental to fostering a therapeutic relationship and improving patient perceptions of service quality. However, in the context of inpatient care at Brayat Minulya Hospital in Surakarta, the implementation of caring behaviors remains challenging, particularly in terms of responsiveness and therapeutic communication. Empirical studies that simultaneously compare the contribution of caring behaviors of nurses and medical staff to satisfaction with nursing services in local hospitals are limited. Purpose: To analyze the correlation between caring behaviors of medical personnel and nurses and satisfaction with nursing services in inpatients. Method: This non-experimental quantitative study, using a correlational design and a cross-sectional approach, was conducted in the inpatient ward of Brayat Minulya Hospital, Surakarta, during May–June 2025. A total of 160 inpatients who met the inclusion criteria (aged ≥18 years and receiving care for ≥2 x 24 hours) were recruited using a random sampling technique. Care behavior was measured using a care questionnaire adapted from Pardede based on Swanson's care dimensions, while nursing service satisfaction was assessed using a SERVQUAL-based questionnaire. Data were analyzed using the Spearman correlation test. Results: Nurses' caring behavior showed a positive and significant correlation with nursing service satisfaction (r = 0.440; p < 0.001) in the moderate category. Medical staff's caring behavior also had a positive and significant correlation with nursing service satisfaction (r = 0.198; p = 0.012), indicating a weak relationship. Nurses' caring behavior showed a more dominant relationship with patient satisfaction. Conclusion: Caring behaviors, both from nurses and medical staff, are significantly associated with satisfaction with nursing services in hospitalized patients. These behaviors play a more substantial role in shaping patient satisfaction. Strengthening caring practices through ongoing training and organizational support is essential to improving the quality of nursing services and patient-centered care in hospital settings. Suggestion: Further research is recommended to use longitudinal or experimental designs to test the causal relationship between caring behavior and nursing service satisfaction and include organizational variables as controlling factors. Keywords: Caring Behavior; Inpatient Care; Nursing Services; Patient Satisfaction. Pendahuluan: Kepuasan pasien merupakan indikator utama kualitas layanan kesehatan, khususnya dalam pelayanan keperawatan. Dalam hal ini perawat dan staf medis memiliki interaksi paling sering dengan pasien. Ketanggapan yang tidak memadai, komunikasi yang tidak efektif, dan dukungan emosional yang terbatas tetap menjadi penyebab umum ketidakpuasan di antara pasien rawat inap. Perilaku caring (peduli) yang didasarkan pada Teori Caring Watson dan Swanson, dianggap sebagai hal mendasar dalam membina hubungan terapeutik dan meningkatkan persepsi pasien terhadap kualitas layanan. Namun, dalam konteks pelayanan rawat inap di RS Brayat Minulya Surakarta, implementasi perilaku caring masih menghadapi tantangan, khususnya pada aspek responsivitas dan komunikasi terapeutik, serta kajian empiris yang secara simultan membandingkan kontribusi perilaku caring perawat dan staf medis terhadap kepuasan layanan keperawatan di rumah sakit lokal masih terbatas. Tujuan: Untuk menganalisis korelasi antara perilaku caring tenaga medis dan perawat dengan kepuasan pelayanan keperawatan pada pasien rawat inap. Metode: Studi kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional dan pendekatan cross-sectional yang dilakukan di ruang rawat inap RS Brayat Minulya Surakarta pada periode Mei–Juni 2025. Sebanyak 160 pasien rawat inap yang memenuhi kriteria inklusi (usia ≥18 tahun dan menjalani perawatan ≥2×24 jam) direkrut menggunakan teknik accidental sampling. Perilaku caring diukur menggunakan kuesioner kepedulian yang diadaptasi dari Pardede berdasarkan dimensi kepedulian Swanson, sedangkan kepuasan layanan keperawatan dinilai menggunakan kuesioner berbasis SERVQUAL. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Perilaku caring perawat menunjukkan korelasi positif dan signifikan dengan kepuasan layanan keperawatan (r = 0.440; p < 0.001) kategori sedang. Perilaku caring staf medis juga berkorelasi positif dan signifikan dengan kepuasan layanan keperawatan (r = 0.198; p = 0.012), yang menunjukkan hubungan lemah. Perilaku caring perawat menunjukkan hubungan yang lebih dominan terhadap kepuasan pasien. Simpulan: Perilaku caring, baik dari perawat maupun staf medis berhubungan secara signifikan dengan kepuasan layanan keperawatan pada pasien rawat inap. Perilaku ini memainkan peran yang lebih substansial dalam membentuk kepuasan pasien. Penguatan praktik caring melalui pelatihan berkelanjutan dan dukungan organisasional sangat penting untuk meningkatkan kualitas layanan keperawatan dan asuhan yang berpusat pada pasien di lingkungan rumah sakit. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain longitudinal atau eksperimental untuk menguji hubungan kausal antara perilaku caring dan kepuasan pelayanan keperawatan serta memasukkan variabel organisasi sebagai faktor pengendali. Kata Kunci: Kepuasan Pasien; Layanan Keperawatan; Perilaku Caring; Rawat Inap.