cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 487 Documents
Korelasi caring tenaga medis dan perawat dengan kepuasan pelayanan keperawatan pada pasien rawat inap Sukmawati, Betty; Sugiharto, Sugiharto; Rahayuningsih , Faizah Betty
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.2214

Abstract

Background: Patient satisfaction is a key indicator of healthcare quality, particularly in nursing care. Nurses and medical staff interact most frequently with patients. Inadequate responsiveness, ineffective communication, and limited emotional support remain common causes of dissatisfaction among inpatients. Caring behaviors, based on Watson and Swanson's Caring Theory, are considered fundamental to fostering a therapeutic relationship and improving patient perceptions of service quality. However, in the context of inpatient care at Brayat Minulya Hospital in Surakarta, the implementation of caring behaviors remains challenging, particularly in terms of responsiveness and therapeutic communication. Empirical studies that simultaneously compare the contribution of caring behaviors of nurses and medical staff to satisfaction with nursing services in local hospitals are limited. Purpose: To analyze the correlation between caring behaviors of medical personnel and nurses and satisfaction with nursing services in inpatients. Method: This non-experimental quantitative study, using a correlational design and a cross-sectional approach, was conducted in the inpatient ward of Brayat Minulya Hospital, Surakarta, during May–June 2025. A total of 160 inpatients who met the inclusion criteria (aged ≥18 years and receiving care for ≥2 x 24 hours) were recruited using a random sampling technique. Care behavior was measured using a care questionnaire adapted from Pardede based on Swanson's care dimensions, while nursing service satisfaction was assessed using a SERVQUAL-based questionnaire. Data were analyzed using the Spearman correlation test. Results: Nurses' caring behavior showed a positive and significant correlation with nursing service satisfaction (r = 0.440; p < 0.001) in the moderate category. Medical staff's caring behavior also had a positive and significant correlation with nursing service satisfaction (r = 0.198; p = 0.012), indicating a weak relationship. Nurses' caring behavior showed a more dominant relationship with patient satisfaction. Conclusion: Caring behaviors, both from nurses and medical staff, are significantly associated with satisfaction with nursing services in hospitalized patients. These behaviors play a more substantial role in shaping patient satisfaction. Strengthening caring practices through ongoing training and organizational support is essential to improving the quality of nursing services and patient-centered care in hospital settings. Suggestion: Further research is recommended to use longitudinal or experimental designs to test the causal relationship between caring behavior and nursing service satisfaction and include organizational variables as controlling factors.   Keywords: Caring Behavior; Inpatient Care; Nursing Services; Patient Satisfaction.   Pendahuluan: Kepuasan pasien merupakan indikator utama kualitas layanan kesehatan, khususnya dalam pelayanan keperawatan. Dalam hal ini perawat dan staf medis memiliki interaksi paling sering dengan pasien. Ketanggapan yang tidak memadai, komunikasi yang tidak efektif, dan dukungan emosional yang terbatas tetap menjadi penyebab umum ketidakpuasan di antara pasien rawat inap. Perilaku caring (peduli) yang didasarkan pada Teori Caring Watson dan Swanson, dianggap sebagai hal mendasar dalam membina hubungan terapeutik dan meningkatkan persepsi pasien terhadap kualitas layanan. Namun, dalam konteks pelayanan rawat inap di RS Brayat Minulya Surakarta, implementasi perilaku caring masih menghadapi tantangan, khususnya pada aspek responsivitas dan komunikasi terapeutik, serta kajian empiris yang secara simultan membandingkan kontribusi perilaku caring perawat dan staf medis terhadap kepuasan layanan keperawatan di rumah sakit lokal masih terbatas. Tujuan: Untuk menganalisis korelasi antara perilaku caring tenaga medis dan perawat dengan kepuasan pelayanan keperawatan pada pasien rawat inap. Metode: Studi kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional dan pendekatan cross-sectional yang dilakukan di ruang rawat inap RS Brayat Minulya Surakarta pada periode Mei–Juni 2025. Sebanyak 160 pasien rawat inap yang memenuhi kriteria inklusi (usia ≥18 tahun dan menjalani perawatan ≥2×24 jam) direkrut menggunakan teknik accidental sampling. Perilaku caring diukur menggunakan kuesioner kepedulian yang diadaptasi dari Pardede berdasarkan dimensi kepedulian Swanson, sedangkan kepuasan layanan keperawatan dinilai menggunakan kuesioner berbasis SERVQUAL. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Perilaku caring perawat menunjukkan korelasi positif dan signifikan dengan kepuasan layanan keperawatan (r = 0.440; p < 0.001) kategori sedang. Perilaku caring staf medis juga berkorelasi positif dan signifikan dengan kepuasan layanan keperawatan (r = 0.198; p = 0.012), yang menunjukkan hubungan lemah. Perilaku caring perawat menunjukkan hubungan yang lebih dominan terhadap kepuasan pasien. Simpulan: Perilaku caring, baik dari perawat maupun staf medis berhubungan secara signifikan dengan kepuasan layanan keperawatan pada pasien rawat inap. Perilaku ini memainkan peran yang lebih substansial dalam membentuk kepuasan pasien. Penguatan praktik caring melalui pelatihan berkelanjutan dan dukungan organisasional sangat penting untuk meningkatkan kualitas layanan keperawatan dan asuhan yang berpusat pada pasien di lingkungan rumah sakit. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain longitudinal atau eksperimental untuk menguji hubungan kausal antara perilaku caring dan kepuasan pelayanan keperawatan serta memasukkan variabel organisasi sebagai faktor pengendali.   Kata Kunci: Kepuasan Pasien; Layanan Keperawatan; Perilaku Caring; Rawat Inap.
Inovasi penggunaan jahe lokal Lampung untuk meringankan ketidaknyamanan pada ibu hamil selama trimester pertama Dewi, Nina Artika; Mufidah, Mufidah; Mansyur, Sitti Fatimah Azzahra
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.2217

Abstract

Background: Increased Human Chorionic Gonadotropin (HCG) levels during early pregnancy often cause nausea and vomiting, affecting 60-80% of primigravidas and 40-60% of multigravidas. These symptoms can reduce quality of life, malnutrition, and disrupt pregnancy management. While anti-nausea medications like vitamin B6 are commonly used, they may cause side effects such as headaches and drowsiness. Ginger, rich in gingerol and shogaol, offers a safe, natural antiemetic alternative. Purpose: To find out the benefits of using ginger to relieve discomfort in pregnant women during the first trimester. Method: This study used a quasi-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. A total of 60 first-trimester pregnant women were selected using consecutive sampling. Data were collected using the PUQE-24 questionnaire to assess the severity of nausea and vomiting. Univariate analysis was performed to calculate frequency distributions, while bivariate analysis utilized the paired sample t-test to examine changes in symptoms before and after the intervention Results: The results of the study showed significant changes in the intensity of nausea and vomiting after the intervention, with 75% of the respondents experiencing a reduction in symptoms to the mild category, and no respondents remaining in the severe category. Statistical tests indicated a significant reduction with a p-value of 0.000 (p < 0.05), confirming the effectiveness of ginger as a safe non-pharmacological therapy for nausea and vomiting during pregnancy. Conclusion: Ginger tea has been proven to be an effective and safe herbal therapy for alleviating nausea and vomiting during the first trimester of pregnancy. This natural alternative significantly reduces symptoms without side effects, offering a non-pharmacological treatment option that enhances the quality of life for pregnant women.   Keywords: Discomfort; First Trimester; Ginger; Pregnant Women.   Pendahuluan: Peningkatan kadar Human Chorionic Gonadotropin (HCG) selama kehamilan dini sering menyebabkan mual dan muntah, memengaruhi 60-80% primigravida dan 40-60% multigravida. Gejala-gejala ini dapat menurunkan kualitas hidup, menyebabkan kekurangan gizi, dan mengganggu pengelolaan kehamilan. Meskipun obat anti-mual seperti vitamin B6 umum digunakan, obat tersebut dapat menyebabkan efek samping seperti sakit kepala dan kantuk. Jahe sebagai tanaman obat yang kaya akan gingerol dan shogaol, menawarkan alternatif antiemetik alami yang aman. Tujuan: Untuk mengetahui manfaat penggunaan jahe untuk meringankan ketidaknyamanan pada ibu hamil selama trimester pertama. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan pendekatan pretest-posttest satu kelompok. Sebanyak 60 wanita hamil trimester pertama dipilih menggunakan pengambilan sampel berurutan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner PUQE-24 untuk menilai tingkat keparahan mual dan muntah. Analisis univariat dilakukan untuk menghitung distribusi frekuensi, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji t sampel berpasangan untuk memeriksa perubahan gejala sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Perubahan signifikan pada intensitas mual dan muntah setelah intervensi, dengan 75% partisipan mengalami penurunan gejala ke kategori ringan, dan tidak ada partisipan yang tetap berada dalam kategori berat. Uji statistik menunjukkan penurunan yang signifikan dengan nilai p 0.000 (p < 0>05), yang menegaskan efektivitas jahe sebagai terapi non-farmakologis yang aman untuk mual dan muntah selama kehamilan. Simpulan: Teh jahe telah terbukti sebagai terapi herbal yang efektif dan aman untuk meredakan mual dan muntah selama trimester pertama kehamilan. Alternatif alami ini secara signifikan mengurangi gejala tanpa efek samping, menawarkan pilihan pengobatan non-farmakologis yang meningkatkan kualitas hidup ibu hamil.   Kata Kunci: Ibu Hamil; Jahe; Ketidaknyamanan; Trimester Pertama.
Analisis faktor lama kerja dan kebiasaan merokok terhadap kapasitas vital paru pekerja industri mebel Mingkid, Jessica Gladys; Kalesaran, Angela Fitriani Clementine; Langi, Fima Lanra Fredrik Gerarld
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1871

Abstract

Background: The furniture industry is known to pose a high risk for respiratory health problems due to exposure to wood dust and behavioral factors such as smoking. Lung vital capacity may decline with increased exposure to respiratory irritants, and smoking can further impair pulmonary function. This condition is important to examine among furniture workers, who are frequently exposed to long-term occupational hazards. Purpose: To analyze the factors of length of work and smoking habits on the vital lung capacity of furniture industry workers. Method: A descriptive analytic design with a cross-sectional approach. A total of 62 furniture workers were included using total sampling. Lung vital capacity was measured using spirometry. Data on length of employment and smoking habits were collected through structured questionnaires. The chi-square test was used to analyze the relationships between variables. Results: Of the 62 workers, 52 workers (83.9%) had impaired lung vital capacity, while 10 workers (16.1%) had normal lung vital capacity. The analysis showed no significant relationship between length of employment and lung vital capacity (p > 0.05). However, a significant association was found between smoking habits and lung vital capacity (p < 0.05). Conclusion: Most furniture industry workers in Touliang Oki Village experienced impaired lung vital capacity. Length of employment was not associated with lung vital capacity, whereas smoking habits were significantly related to decreased lung vital capacity. Efforts such as controlling risk factors, promoting smoking cessation, and conducting regular pulmonary health monitoring are recommended to protect workers’ health.   Keywords: Furniture Industry Workers; Length of Employment; Lung Vital Capacity; Respiratory Function; Smoking Habits.   Pendahuluan: Industri mebel merupakan salah satu sektor kerja yang memiliki risiko tinggi terhadap gangguan kesehatan pernapasan akibat paparan debu kayu serta faktor perilaku seperti merokok. Kapasitas vital paru dapat menurun seiring meningkatnya paparan iritan pernapasan dan kebiasaan merokok yang memperburuk fungsi paru. Kondisi ini penting untuk dikaji pada pekerja industri mebel yang memiliki paparan kerja jangka panjang. Tujuan: Untuk menganalisis faktor lama kerja dan kebiasaan merokok terhadap kapasitas vital paru pekerja industri mebel. Metode: Penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 62 pekerja industri mebel yang dipilih secara total sampling. Pengukuran kapasitas vital paru dilakukan menggunakan spirometri. Variabel lama kerja dan kebiasaan merokok dikumpulkan melalui wawancara dengan kuesioner terstruktur. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji statistik chi-square. Hasil: Dari 62 pekerja, sebanyak 52 pekerja (83.9%) mengalami gangguan kapasitas vital paru dan 10 pekerja (16.1%) memiliki kapasitas vital paru normal. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan antara lama kerja dengan kapasitas vital paru (p > 0.05). Namun, terdapat hubungan signifikan antara kebiasaan merokok dengan kapasitas vital paru (p < 0.05). Simpulan: Kapasitas vital paru pekerja industri mebel sebagian besar berada dalam kategori terganggu. Lama kerja tidak berhubungan dengan kapasitas vital paru, sedangkan kebiasaan merokok terbukti berhubungan dengan penurunan kapasitas vital paru. Upaya pengendalian faktor risiko, edukasi berhenti merokok, dan pemantauan kesehatan paru secara berkala perlu dilakukan untuk melindungi kesehatan pekerja.   Kata Kunci: Kapasitas Vital Paru-paru; Kebiasaan Merokok; Lama Kerja; Pekerja Industri Mebel.
Virtual reality (VR) dalam pembelajaran perawatan luka terhadap self-efficacy dan kemampuan psikomotor mahasiswa keperawatan: A systematic literature review Gufron, Muhamad; Nani, Desiyani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1873

Abstract

Background: Advances in digital technology have transformed nursing education by providing innovative learning methods, particularly for practicum activities requiring clinical precision. Virtual Reality (VR) has emerged as an interactive simulation tool that offers a realistic clinical environment, enabling students to safely practice procedures without risking patient harm. Purpose: To evaluate the effectiveness of virtual reality in wound care practicum learning on improving nursing students' self-efficacy and psychomotor skills. Method: A systematic literature review (SLR) was conducted using the PRISMA framework. Relevant scientific articles published between 2014 and 2024 were retrieved from PubMed, ScienceDirect, and DOAJ databases. Of the 11,445 identified studies, seven articles met the inclusion criteria and were analyzed. Results: The review showed that VR-based learning consistently improved nursing students' self-efficacy, motivation, and psychomotor performance, particularly in wound care and dressing procedures. VR enabled repeated practice, real-time feedback, and a deeper understanding of clinical tasks compared to conventional teaching approaches. Conclusion: Virtual reality is an effective, safe, and innovative educational strategy that significantly improves the clinical competence of nursing students. Its integration into the nursing curriculum has strong potential as a modern teaching approach in the digital age.   Keywords: Nursing Students; Psychomotor Abilities; Self-Efficacy; Virtual Reality (VR); Wound Care Learning.   Pendahuluan: Kemajuan teknologi digital telah mentransformasi pendidikan keperawatan dengan menyediakan metode pembelajaran inovatif, terutama untuk aktivitas praktikum yang membutuhkan presisi klinis. Virtual reality (VR) telah muncul sebagai alat simulasi interaktif yang menawarkan lingkungan klinis yang realistis, memungkinkan mahasiswa mempraktikkan prosedur dengan aman tanpa risiko cedera pada pasien. Tujuan: Untuk mengevaluasi efektivitas virtual reality dalam pembelajaran praktikum perawatan luka terhadap peningkatan  self-efficacy dan keterampilan psikomotorik mahasiswa keperawatan. Metode: Systematic literature review (SLR) dilakukan menggunakan kerangka kerja PRISMA. Artikel ilmiah relevan yang diterbitkan antara tahun 2014-2024 diambil dari basis data PubMed, ScienceDirect, dan DOAJ. Dari 11,445 studi yang teridentifikasi, 7 artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis. Hasil: Tinjauan ini menunjukkan, bahwa pembelajaran berbasis VR secara konsisten meningkatkan self-efficacy, motivasi, dan kinerja psikomotorik mahasiswa keperawatan, terutama dalam prosedur perawatan luka dan pembalutan. VR memungkinkan praktik berulang, umpan balik waktu nyata, dan pemahaman yang lebih mendalam tentang tugas-tugas klinis dibandingkan dengan pendekatan pengajaran konvensional. Simpulan: Virtual reality merupakan strategi pendidikan yang efektif, aman, dan inovatif yang secara signifikan meningkatkan kompetensi klinis mahasiswa keperawatan. Integrasinya ke dalam kurikulum keperawatan memiliki potensi yang kuat sebagai pendekatan pengajaran modern di era digital.   Kata Kunci: Kemampuan Psikomotor; Mahasiswa Keperawatan; Pembelajaran Perawatan Luka; Self-Efficacy; Virtual Reality (VR).
Peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku petugas kesehatan melalui pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja Saipul, Saipul; Salmawati, Lusia; Guli, Musjaya M; Vidyanto, Vidyanto; Miswan, Miswan
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1882

Abstract

Background: Occupational Safety and Health (OSH) is an essential aspect in creating a safe and productive work environment, especially for healthcare workers who are at high risk of occupational accidents and diseases. One of the efforts to increase awareness and implementation of OSH is through training programs. Purpose: This study aimed to determine the effectiveness of Occupational Safety and Health (OSH) training on the knowledge, attitudes, and behaviors of healthcare workers at Sarjo Public Health Center, Pasangkayu Regency. Method: This quantitative study employed a quasi-experimental design using a one-group pretest–posttest approach. The sample consisted of 38 healthcare workers selected by purposive sampling. Data were collected using questionnaires before and after the training, and analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test. Results: The findings showed a significant improvement between pretest and posttest scores on knowledge (p=0.000), attitude (p=0.001), and behavior (p=0.000). Conclusion: The OSH training was effective in enhancing cognitive ability, fostering positive attitudes, and improving safe work practices among healthcare workers at Sarjo Public Health Center. These results are expected to serve as a foundation for continuous OSH training initiatives as a preventive effort toward workplace accidents and the promotion of safety culture in healthcare settings.   Keywords: Attitude; Behavior; Healthcare Workers; Knowledge; Occupational Safety and Health Training.   Pendahuluan: Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan produktif, khususnya bagi tenaga kesehatan yang memiliki risiko tinggi terhadap kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan penerapan K3 adalah melalui pelatihan. Tujuan: Untuk mengetahui peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku petugas kesehatan melalui pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain quasi experiment menggunakan rancangan one group pretest–posttest design. Sampel penelitian berjumlah 38 partisipan yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner sebelum dan sesudah pelatihan, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Adanya peningkatan yang signifikan antara sebelum dan sesudah pelatihan pada variabel pengetahuan (p=0,000), sikap (p=0,001), dan perilaku (p=0,000). Simpulan: Pelatihan K3 efektif dalam meningkatkan kemampuan kognitif, membentuk sikap positif, dan memperbaiki perilaku kerja aman petugas kesehatan.   Kata Kunci: Pelatihan K3; Pengetahuan; Perilaku; Petugas Kesehatan; Sikap.
Media sosial memengaruhi body image dan gangguan makan pada remaja Malonda, Nancy Swanida Henriette; Punuh, Maureen Irinne; Pondagitan, Alpinia Shinta; Tomastola, Yohanis; Anastasya, Solideo; Bidara, Christa; Taroreh, Putri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1892

Abstract

Background: Social media can negatively impact body image and increase the risk of eating disorders in adolescents, yet these platforms are widely used. Adolescents tend to worry about their appearance in response to social media content. Negative body image is a risk factor for eating disorders, which can impact adolescents' nutritional status, leading to undernutrition or overnutrition. Purpose: To determine the influence of social media on body image and eating disorders in adolescents. Method:  The study design used a descriptive analytical approach with a cross-sectional approach. The sample consisted of 211 eleventh-grade students from Senior High School in Tondano, Minahasa Regency, taken using a total sampling technique. Body image was measured using the MBSRQ-AS, eating disorders were measured using the EAT-26 questionnaire, and social media was measured using the ASMC Scale questionnaire. Results: The majority of respondents had a positive body image (85.8%), were not at risk for eating disorders (54%), and reported a high influence from social media (78.7%). Statistical analysis using the Spearman rank sum test showed a positive correlation between digital media and body image (p=0.000; 0.261) and eating disorders (p=0.045; 0.138). The influence of social media can lead to body image dissatisfaction and eating disorders. Therefore, interventions such as improving social media literacy are recommended to prevent negative impacts on adolescents' mindsets and attitudes. Conclusion: Social media exposure is significantly associated with body image disturbance and eating disorders in adolescents.   Keywords: Body Image; Eating Disorders; Social Media.   Pendahuluan: Media sosial memiliki dampak negatif terhadap body image dan gangguan makan remaja, namun remaja cenderung selalu menggunakan platform ini. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi strategi yang dapat mengurangi dampak buruk media sosial terhadap kesehatan mental remaja. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh media sosial terhadap body image dan gangguan makan pada remaja.    Metode: Rancangan penelitian menggunakan deskriptif korelatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 211 remaja kelas XI SMAN 1, SMAN 2, dan SMAN 3 di Tondano kabupaten Minahasa yang diambil dengan menggunakan teknik total sampling. Body image diukur menggunakan MBSRQ-AS, gangguan perilaku makan diukur menggunakan kuesioner EAT-26 dan pengaruh media sosial menggunakan kuesioner ASMC scale. Hasil: Mayoritas responden memiliki body image positif (85.8 %), tidak berisiko mengalami gangguan perilaku makan (54 %), dan memiliki pengaruh tinggi (78.7%) dari media sosial. Hasil analisis statistik menggunakan uji Spearman rank, diketahui bahwa terdapat korelasi positif antara media digital terhadap body image (p=0.000; 0.261) dan gangguan makan (p=0.045; 0.138). Pengaruh media sosial dapat menyebabkan ketidakpuasan akan body image dan gangguan perilaku makan, sehingga direkomendasikan untuk dilakukan intervensi berupa peningkatan literasi penggunaan media sosial agar tidak menimbulkan efek negatif terhadap pola pikir dan sikap remaja. Simpulan: Paparan media sosial secara signifikan berhubungan dengan gangguan body image dan gangguan makan pada remaja.               Kata Kunci: Body Image; Gangguan Makan; Media Sosial.
Pengetahuan tentang anemia dan perilaku pencegahan anemia remaja putri Andriyanti, Putri Dwi; Handayani, Dwi Sri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1900

Abstract

Background: Anemia is a health problem that persists in adolescent girls and impacts learning ability, physical fitness, and quality of life. Lack of knowledge about anemia can lead to poor preventive behaviors, such as inadequate nutritional intake and non-compliance with iron supplementation (IBT) consumption. Purpose: To determine the relationship between knowledge of adolescent girls and anemia prevention behavior Method: This quantitative research used a cross-sectional approach and held in October 2025 at State Senior High School 1 Gamping Sleman Yogyakarta. The sampling technique used stratified random sampling with a sample size of 64 respondents. The independent variable in this study was the level of knowledge, while the dependent variable was anemia prevention behavior. Data analysis used univariate in the form of frequency distribution and bivariate using the Kendall tau test. Results: Respondents had good knowledge about anemia (51.6%) and good prevention behavior (43.8%). The Kendall Tau test showed a p-value of 0.000 (<0.05), indicating a relationship between knowledge about anemia and anemia prevention behavior. Conclusion: There was a significant relationship between knowledge about anemia and anemia prevention behavior   Keywords: Anemia; Adolescent; Behavior; Knowledge; Prevention.   Pendahuluan: Anemia merupakan masalah kesehatan yang masih banyak terjadi pada remaja putri dan berdampak pada kemampuan belajar, kebugaran fisik, dan kualitas hidup. Pengetahuan yang kurang mengenai anemia dapat menyebabkan rendahnya perilaku pencegahan, seperti asupan gizi yang tidak adekuat dan ketidakpatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan perilaku pencegahan anemia remaja putri. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, dilaksanakan bulan Oktober 2025 di SMA Negeri 1 Gamping Sleman, Yogyakarta. Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 64 responden. Variabel independent dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan, sedangkan variabel dependen adalah perilaku pencegahan anemia. Analisis data yang digunakan univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariate menggunakan uji Kendall Tau. Hasil: Responden memiliki pengetahuan yang baik tentang anemia (51.6%) dan perilaku baik dalam pencegahan (43.8%). Uji Kendall Tau menunjukkan p-value = 0.000 (<0.05), artinya terdapat hubungan antara pengetahuan tentang anemia dengan perilaku pencegahan anemia. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang anemia dengan perilaku pencegahan anemia.   Kata Kunci : Anemia; Pengetahuan; Perilaku; Pencegahan; Remaja.
Efektivitas video edukasi terhadap perilaku personal hygiene santriwati Febrianty, Yayuk; Arwan, Arwan; Herman, Achmad; Fadjriah, Rasyika Nurul; Wahyuni, Rosa Dwi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1912

Abstract

Background: Personal hygiene is an essential component of the clean and healthy living behavior. program in islamic boarding schools. High-density living conditions, shared activities, and communal habits increase the risk of disease transmission among students. Educational videos serve as an effective medium for health promotion because they deliver messages visually and are easy to understand. Purpose: To determine the effectiveness of educational video media in improving personal hygiene behavior among female students at an Islamic boarding school. Method: A quasi-experimental study with a one-group pretest-posttest design was conducted to measure the impact of an educational video intervention based on the five stages of the transtheoretical model (precontemplation, contemplation, preparation, action, and maintenance). The intervention was delivered in five video sessions according to the stages of behavior change. This study was conducted at the Al-Istiqamah Modern Islamic Boarding School in Ngatabaru, Sigi Regency, from August to November 2025. Results: There were no negative ranks in pretest and posttest scores at all stages of behavior change, indicating that all participants experienced improved personal hygiene behavior after the intervention. A Wilcoxon test for all variables showed a p-value of 0.001 < α = 0.05, indicating a significant change after the educational video. Conclusion: Educational video media is effective in improving personal hygiene behavior among female students at all stages of behavior change.   Keywords: Clean and Healthy Living Behavior; Educational Videos; Female Islamic Students; Personal Hygiene.   Pendahuluan: Personal hygiene merupakan bagian penting dari penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di pesantren. Kepadatan hunian, aktivitas bersama, dan kebiasaan hidup komunal meningkatkan risiko penularan penyakit di kalangan santri. Media video edukasi dapat menjadi metode edukasi efektif karena mampu menyampaikan pesan kesehatan secara visual dan mudah dipahami. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas media video edukasi terhadap perubahan perilaku personal hygiene pada santriwati. Metode: Quasi eksperimental dengan desain one group pretest –posttest untuk mengukur dampak intervensi video edukasi berdasarkan lima tahap transtheoretical model (prakontemplasi, kontemplasi, persiapan, aksi, pemeliharaan). Intervensi diberikan dalam 5 sesi video sesuai tahapan perubahan perilaku. Penelitian ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqamah Ngatabaru, Kabupaten Sigi, pada bulan Agustus-November tahun 2025. Hasil: Peningkatan nilai pretest dan posttest pada seluruh tahap perubahan perilaku tidak ditemukan negative ranks, sehingga seluruh partisipan mengalami peningkatan perilaku personal hygiene setelah intervensi. Uji Wilcoxon pada seluruh variabel menunjukkan nilai p = 0.001 < α = 0.05 yang berarti terdapat perubahan signifikan setelah pemberian video edukasi. Simpulan: Media video edukasi efektif dalam meningkatkan perilaku personal hygiene santriwati pada seluruh tahap perubahan perilaku   Kata Kunci: Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS); Personal Hygiene; Santriwati; Video Edukasi.
Intervensi untuk mengatasi rasa haus pada pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis: A scoping review Sridiawati, Esy; Ibrahim, Kusman; Pratiwi, Sri Hartati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1920

Abstract

Background: Patients with chronic kidney disease (CKD) often experience thirst when restricting their fluid intake. To improve patient survival, interventions to manage thirst in hemodialysis patients are needed, with the hope of reducing fluid intake in HD patients. Thirst remains an unresolved issue in hemodialysis (HD) patients. Purpose: To map and synthesize the current evidence on interventions to manage thirst in chronic kidney disease (CKD) patients undergoing hemodialysis. Method: A scoping review was conducted using the PRISMA-ScR framework. Articles were identified through PubMed, Scopus, EBSCOhost, and Google Scholar using keywords related to "Interventions to manage thirst in chronic kidney disease (CKD) patients undergoing hemodialysis." Eligible studies were interventional, observational, published in English, and focused on interventions to manage thirst in chronic kidney disease (CKD) patients undergoing hemodialysis. Twenty-one studies met the inclusion criteria and were analyzed thematically using a descriptive and exploratory approach. Results: Based on the literature reviewed, various interventions, such as sucking on unsweetened ice cubes, mint-flavored popsicles, lemon-flavored popsicles, chewing gum, squirting cold boiled water into the mouth, visual fluid restriction education, and brochures, have been consistently and continuously shown to reduce thirst in CKD patients. Conclusion: Interventions such as sucking on ice cubes, mint-flavored popsicles, lemon-flavored popsicles, chewing gum, squirting cold boiled water into the mouth, visual fluid restriction education, and brochures have been consistently and continuously shown to reduce thirst in CKD patients.   Keywords: Chronic Kidney Disease Patients; Hemodialysis; Thirst.   Pendahuluan: Pasien dengan Penyakit Ginjal Kronis (PGK) sering mengalami rasa haus sementara itu mereka harus membatasi asupan cairan. Untuk meningkatkan keberlangsungan hidup pasien diperlukan intervensi penatalaksanaan rasa haus pada pasien hemodialisis dengan harapan asupan cairan pada pasien HD dapat dikurangi.  Rasa haus masih menjadi masalah yang belum terpecahkan pada pasien hemodalisis (HD). Tujuan: Untuk memetakan dan mensintesis bukti terkini tentang intervensi mengatasi rasa haus pada pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis. Metode: Scooping review dilakukan dengan menggunakan kerangka kerja PRISMA-ScR. Artikel diidentifikasi melalui PubMed, Scopus, EBSCOhost, dan Google scholar menggunakan kata kunci terkait Intervensi mengatasi rasa haus pada pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis. Studi yang memenuhi syarat bersifat intervensi, observasional, dipublikasikan dalam bahasa Inggris, dan berfokus pada intervensi mengatasi rasa haus pada pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis sebanyak 21 studi memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara tematis menggunakan pendekatan deskriptif eksploratif. Hasil: Berdasarkan litereratur yang telah di review, setelah dilakukan berbagai macam intervensi, seperti megulum es batu tawar, es loli rasa mint, es loli rasa lemon, mengunyah permen karet, semprotan air sprai ke mulut dengan air dingin matang, edukasi pembatasan cairan dengan media visual, dan aflet yang dilakukan secara berkala dan berkelanjutan terbukti dapat mengurangi rasa haus pada pasien PGK. Simpulan: Intervensi mengulum es batu, es loli rasa mint, es loli rasa lemon, mengunyah permen karet, semprotan air spray ke mulut dengan air dingin matang, edukasi pembatasan cairan dengan media visual dan leaflet yang dilakukan secara berkala dan berkelanjutan terbukti dapat mengurangi rasa haus pada pasien PGK.   Kata Kunci: Hemodialisis; Pasien Penyakit Ginjal Kronis; Rasa Haus.
Efektivitas injeksi asam hialuronat dibandingkan kortikosteroid intra-artikular untuk nyeri pada osteoartritis lutut derajat ringan hingga sedang: Suatu tinjauan sistematis Sirait, Daniel Ananda Pangihutan; Pulungan, Elitha Sundari; Patmonoputri, Aubrey Darlene
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1924

Abstract

Background: Knee osteoarthritis (OA) is a leading cause of long-term pain and functional limitation worldwide. However, the relative clinical benefits of intra-articular hyaluronic acid (HA) and corticosteroid (CS) injections in pain relief remain controversial. Purpose: To identify, critically assess, and integrate the effectiveness of hyaluronic acid injections compared with intra-articular corticosteroids for pain in mild to moderate knee osteoarthritis. Method: A structured literature search was conducted using PubMed, EBSCO, and Springer for publications from the last decade, following PRISMA guidelines. Of the 322 articles screened, five RCTs with a total of 514 participants met the inclusion criteria and were analyzed narratively. Results: Research findings varied across studies, but the general pattern was that HA tended to produce more sustained pain relief in the medium term (approximately 3–6 months) than CS. Two clinical trials demonstrated statistically significant superiority of HA over this period, while CS provided faster but shorter symptom relief. Conclusion: Both HA and CS provide therapeutic benefits, but their temporal response patterns differ. HA appears to be better suited for long-term symptom control, while CS is better suited for short-term pain relief during acute exacerbations. Further comparative studies are needed to confirm these long-term temporal differences.   Keywords: Corticosteroids; Hyaluronic Acid; Intra-Articular Injection; Knee Osteoarthritis; Pain.   Pendahuluan: Osteoartritis lutut (OA) merupakan penyebab utama nyeri jangka panjang dan keterbatasan fungsi di seluruh dunia. Namun, manfaat klinis yang relatif antara injeksi asam hialuronat (HA) dan kortikosteroid (CS) intra-artikular dalam mengurangi nyeri masih menjadi perdebatan. Tujuan: Untuk mengidentifikasi, menilai secara kritis, dan mengintegrasikan efektivitas injeksi asam hialuronat dibandingkan kortikosteroid intra-artikular untuk nyeri pada osteoartritis lutut derajat ringan hingga sedang. Metode: Pencarian literatur terstruktur dilakukan melalui PubMed, EBSCO, dan Springer untuk publikasi dalam satu dekade terakhir, mengikuti panduan PRISMA. Dari 322 artikel yang disaring, 5 RCT dengan total 514 peserta memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara naratif. Hasil: Temuan penelitian menunjukkan variasi antar studi, namun pola umum memperlihatkan bahwa HA cenderung menghasilkan perbaikan nyeri yang lebih bertahan dalam jangka menengah (sekitar 3–6 bulan) dibandingkan CS. Dua uji klinis menunjukkan keunggulan signifikan secara statistik pada HA dalam periode tersebut, sementara CS memberikan perbaikan gejala yang lebih cepat tetapi bersifat lebih singkat. Simpulan: Baik HA maupun CS memberikan manfaat terapeutik tetapi pola respons waktunya berbeda. HA tampak lebih cocok untuk kontrol gejala jangka lebih panjang, sedangkan CS lebih sesuai untuk meredakan nyeri jangka pendek pada periode eksaserbasi akut. Penelitian komparatif lanjutan masih diperlukan untuk memastikan perbedaan temporal jangka panjang ini.   Kata Kunci: Asam Hialuronat; Injeksi Intra-Artikular; Kortikosteroid; Nyeri; Osteoartritis Lutut.