cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 402 Documents
Analisis faktor sanitasi, maternal, dan kontrasepsi sebagai penentu risiko stunting pada bayi di bawah dua tahun Bagu, Fery Rahmat Angriawan; Solang, Margaretha; Kadir, Laksmyn
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.1844

Abstract

Background: Stunting remains a significant public health problem in Indonesia, particularly in children under two years of age. Various factors, such as sanitation, maternal health, and contraceptive use, are known to increase the risk of stunting. Purpose: To analyze sanitation, maternal health, and contraceptive use as determinants of risk in infants under two years of age. Method: This quantitative study used a cross-sectional design involving 174 respondents selected through stratified proportional random sampling. Data were collected using a questionnaire, with the dependent variables being sanitation, maternal health, and contraceptive use. The independent variable was stunting status, assessed based on standard anthropometric indicators. Statistical analysis used the Chi-Square test and Binary Logistic Regression. Results: There was a significant association between sanitation (p < 0.05), maternal health (p < 0.05), and contraceptive use (p < 0.05) and risk. Poor sanitation, high-risk maternal health, and not using contraceptives increased the likelihood of stunting in children under two years of age. Conclusion: Sanitation, maternal factors, and contraceptive use are significantly associated with the risk of stunting. Children exposed to poor sanitation, maternal risk factors, and those not using contraceptives are at higher risk of stunting.   Keywords: Contraception; Infants Under Two Years; Maternal; Sanitation; Stunting.   Pendahuluan: Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, khususnya pada anak di bawah usia dua tahun. Berbagai faktor, seperti sanitasi, kondisi maternal, dan penggunaan kontrasepsi diketahui berperan dalam meningkatkan risiko stunting. Tujuan: Untuk menganalisis faktor sanitasi, maternal, dan kontrasepsi sebagai penentu risiko stunting pada bayi di bawah dua tahun. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain potong lintang dengan melibatkan 174 responden yang dipilih melalui proportional stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dengan pembagian variabel dependen adalah sanitasi, faktor maternal, dan penggunaan kontrasepsi, sedangkan variabel independen adalah status stunting dinilai berdasarkan indikator antropometri standar. Analisis statistik menggunakan uji Chi-Square dan Regresi Logistik Biner. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara sanitasi (p < 0.05), faktor maternal (p < 0.05), dan penggunaan kontrasepsi (p < 0.05) dengan risiko stunting. Sanitasi yang buruk, kondisi maternal berisiko tinggi, dan tidak menggunakan kontrasepsi meningkatkan kemungkinan terjadinya stunting pada anak di bawah dua tahun. Simpulan: Sanitasi, faktor maternal, dan penggunaan kontrasepsi berhubungan signifikan dengan risiko stunting. Anak yang terpapar sanitasi buruk, kondisi maternal berisiko, serta tidak menggunakan kontrasepsi memiliki peluang lebih tinggi mengalami stunting.   Kata Kunci: Bayi di Bawah Dua Tahun; Kontrasepsi; Maternal; Sanitasi; Stunting.
Intervensi keperawatan berdasarkan teori Becoming a Mother dari Mercer: Sebuah kajian pustaka Yani, Erna Rahma; Rustina, Yeni; Agustini, Nur; Mudzakkir, Muhammad
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1854

Abstract

Background: The process of becoming a mother requires mothers to adapt during the transition that occurs immediately after childbirth. Nursing interventions based on Mercer's theory of becoming a mother have been developed in several countries, but their form and scope have not been comprehensively mapped. Purpose: To explore and map the scientific evidence for nursing interventions based on Mercer's theory of becoming a mother. Method: A scoping review was conducted based on Joanna Briggs Institute (JBI) guidelines. Articles were searched in PubMed, Scopus, Proquest, and ScienceDirect databases using a search strategy based on the Population-Concept-Context (PCC) framework. Keywords and synonyms relevant to nursing interventions, the process of becoming a mother, and the postpartum period were identified. A combination of free keywords and standard terms (Medical Subject Headings/MeSH) were used in the search using Boolean operators (AND and OR). Analysis included the population, intervention characteristics, implementation methods, and reported outcomes. Results: Five articles met the inclusion criteria for further analysis. Nursing interventions based on Mercer's theory were generally developed in the form of structured education, training, counseling, and technology-based multimodal approaches. Interventions delivered from the third trimester of pregnancy through the postpartum period have been shown to be effective in improving maternal role adaptation, self-efficacy, and mother-infant bonding. However, the duration of the interventions and study designs varied across the five articles. Conclusion: Nursing interventions based on Mercer's theory effectively support the parenting process by strengthening knowledge, parenting skills, and emotional adjustment. Further studies are needed for standardization and long-term evaluation. Suggestion: In order to improve the quality of nursing services, it is recommended that nurses develop a theory-based standardized nursing intervention model.   Keywords: Mothering; Mercer's Theory; Nursing Interventions.   Pendahuluan: Proses menjadi ibu memerlukan kemampuan adaptasi maternal pada masa transisi yang terjadi segera setelah melahirkan. Intervensi keperawatan berdasarkan teori Becoming a Mother dari Mercer telah dikembangkan di beberapa negara, namun bentuk dan cakupannya belum dipetakan secara komprehensif. Tujuan: Untuk mengeksplorasi dan memetakan bukti ilmiah dari intervensi keperawatan berdasarkan teori Becoming a Mother dari Mercer. Metode: Scoping review dilakukan dengan berpedoman pada Joanna Briggs Institute (JBI). Pencarian artikel dilakukan pada basis data PubMed, Scopus, Proquest, dan ScienceDirect dengan strategi pencarian berdasarkan kerangka Populasi-Concept-Context (PCC) dengan mengidentifikasi istilah utama dan sinonim yang relevan dengan intervensi keperawatan, proses menjadi ibu (becoming a mother), serta periode postpartum. Kombinasi kata kunci bebas dan istilah baku (Medical Subject Headings/MeSH) digunakan dalam pencarian dengan operator Boolean (AND dan OR). Analisis mencakup populasi, karakteristik intervensi, metode implementasi, dan luaran yang dilaporkan. Hasil: Didapatkan lima artikel memenuhi kriteria inklusi untuk dianalisis lebih lanjut. Intervensi keperawatan berdasarkan teori Mercer umumnya dikembangkan dalam bentuk edukasi terstruktur, pelatihan, konseling, dan pendekatan multimodal berbasis teknologi. Intervensi yang diberikan sejak trimester ketiga kehamilan hingga periode postpartum menunjukkan efektifitas dalam emningkatkan adaptasi peran maternal, efikasi diri, serta ikatan ibu dan bayi. Namun durasi intervensi dan desain penelitian menunjukkan variasi pada kelima artikel. Simpulan: Intervensi keperawatan berbasis teori Mercer efektif mendukung proses menjadi ibu melalui penguatan pada aspek pengetahuan, kemampuan pengasuhan, dan penyelarasan emosional. Studi lanjutan diperlukan untuk standardisasi dan evaluasi jangka panjang. Saran: Guna meningkatkan kualitas layanan keperawatan, disarankan perawat mengembangkan model intervensi keperawatan terstandar berbasis teori.   Kata Kunci: Becoming a Mother; Intervensi Keperawatan; Teori Mercer.
Efektivitas terapi relaksasi otot progresif dalam menurunkan tingkat kecemasan pada penderita diabetes mellitus Syah, Zaki Qothrunnada Hamdani; Yuniartika, Wachidah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1857

Abstract

Background: Diabetes Mellitus (DM) is a chronic disease that not only impacts physical health but can also cause psychological disorders such as anxiety. Prolonged anxiety can worsen blood glucose control. One non-pharmacological therapy that can be used to reduce anxiety is progressive muscle relaxation therapy. Purpose: To determine the effectiveness of progressive muscle relaxation therapy in reducing anxiety levels in people with diabetes mellitus. Method: This study used a quasi-experimental design with a single-group pre-test and post-test. The sampling technique used purposive sampling, with 30 participants with diabetes mellitus in Purbayan village. Inclusion criteria included fasting blood sugar levels >126 mg/dl and blood sugar levels >140 mg/dl. Anxiety levels were measured using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), with a validity test result of a Cronbach's Alpha value of 0.727. Data analysis used the Wilcoxon Signed Rank Test. Results: Before therapy (pre-test), the majority of participants (76.7%) were spread across various anxiety categories, ranging from mild anxiety (30.0%), moderate anxiety (20.0%), severe anxiety (23.3%), to very severe anxiety (3.3%), with only 23.3% in the normal category. After the intervention (post-test), there was a decrease in the normal category and an increase to 83.3%. The calculated Z-score was -4.786 (>Z) and the p-value was 0.001 (<0.05); therefore, H0 was rejected. Conclusion: Progressive muscle relaxation therapy can affect anxiety levels in diabetes patients. This can be seen from the percentage of pre-test and post-test scores and the significance value of 0.001 (p <0.05). Suggestion: Future research is recommended to use a control group design to compare the effectiveness of the intervention more objectively.   Keywords: Anxiety; Diabetes Mellitus (DM); Nursing Intervention; Progressive Muscle Relaxation.   Pendahuluan: Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit kronis yang tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga dapat menimbulkan gangguan psikologis seperti kecemasan. Kecemasan yang berkepanjangan dapat memperburuk kontrol glukosa darah. Salah satu terapi nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk menurunkan kecemasan adalah terapi relaksasi otot progresif. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas terapi relaksasi otot progresif dalam menurunkan tingkat kecemasan pada penderita diabetes mellitus. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi experiment dengan rancangan one group pre-test and post-test. Teknik sampling menggunakan purposive sampling, berjumlah 30 partisipan penderita Diabetes Mellitus di desa Purbayan. Kriteria inklusi meliputi kadar gula darah puasa >126 mg/dl dan gula darah >140 mg/dl. Tingkat kecemasan diukur menggunakan instrumen Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dengan hasil uji validitas nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0.727 dan analisis data menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Sebelum terapi (pre-test), sebagian besar partisipan (76.7%) tersebar diberbagai kategori kecemasan, mulai dari cemas ringan (30.0%), cemas sedang (20.0%), cemas berat (23.3%) hingga sangat berat (3.3%), dan hanya 23.3% yang berada dalam kategori normal. Setelah intervensi (post-test), terjadi penurunan menjadi kategori normal meningkat menjadi 83.3%. Didapatkan nilai Z hitung adalah -4.786 (> Z) dan p-value diperoleh 0.001 (< 0.05), maka H0 ditolak. Simpulan: Terapi relaksasi otot progresif dapat memengaruhi tingkat kecemasan penderita DM. Hal ini dapat dilihat dari persentase skor pretest dan posttest serta nilai signifikan 0.001 (p < 0.05). Saran: Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain dengan kelompok kontrol agar efektivitas intervensi dapat dibandingkan lebih objektif.   Kata Kunci: Diabetes Mellitus (DM); Intervensi Keperawatan; Kecemasan; Relaksasi Otot Progresif.
Intervensi non-farmakologi untuk mengurangi mual muntah pada pasien kanker: Sebuah tinjauan sistematis Pertiwi, Christina Airyunda; Gayatri, Dewi; Maria, Riri; Allenidekania , Allenidekania
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1863

Abstract

Background: Cancer patients frequently experience nausea and vomiting, which can be caused by the disease process, the effects of therapy, and psychological factors. This condition can affect patients' nutrition, comfort, and quality of life. Pharmacological interventions are often ineffective, so non-pharmacological interventions are used as alternatives to help manage symptoms. Purpose: To determine the effectiveness of non-pharmacological interventions in reducing nausea and vomiting in cancer patients. Method: This systematic review was conducted based on PRISMA guidelines. Literature was obtained from three databases: PubMed, Scopus, and Science Direct. Inclusion criteria were full-text articles, published in English, published within the last 10 years (2015-2025), and using a quantitative design (RCTs and quasi-experimental). Of the 263,189 articles found, 12 met the inclusion criteria and were analyzed. Results: Non-pharmacological interventions such as yoga, the Benson relaxation technique, acupressure, reflexology, peppermint and Citrus aurantium aromatherapy, and ginger herbal supplements, were effective in reducing the intensity and frequency of nausea and vomiting. The effectiveness of interventions varies based on the type of therapy, duration of treatment, and patient characteristics, while a combination of physical and psychological interventions has shown better outcomes. Conclusion: Overall, non-pharmacological interventions can be implemented in nursing practice to improve the quality of life of cancer patients.   Keywords: Cancer Patients; Nausea and Vomiting; Non-Pharmacological Interventions.   Pendahuluan: Pasien kanker sering mengalami mual dan muntah yang dapat disebabkan oleh proses penyakit, efek terapi, dan faktor psikologis. Kondisi ini dapat berdampak pada nutrisi pasien, kenyamanan, dan kualitas hidupnya. Intervensi farmakologi seringkali tidak sepenuhnya efektif, sehingga intervensi non-farmakologi mulai digunakan sebagai alternatif untuk membantu mengendalikan gejala. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas intervensi non-farmakologi dalam mengurangi mual muntah pada pasien kanker. Metode: Penelitian  tinjauan sistematik yang disusun berdasarkan panduan PRISMA. Literatur diperoleh dari tiga database, yaitu PubMed, Scopus, dan Science Direct dengan kriteria inklusi artikel full-text, berbahasa inggris, terbit 10 tahun terakhir (2015-2025), dan menggunakan desain kuantitatif (RCT dan Quasi-experiment). Dari total 263,189 artikel yang ditemukan, 12 artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis. Hasil: Intervensi non-farmakologi seperti yoga, teknik relaksasi Benson, akupresur, pijat refleksi, aromaterapi peppermint, dan Citrus aurantium serta suplemen herbal jahe efektif menurunkan intensitas dan frekuensi mual serta muntah. Efektivitas intervensi bervariasi berdasarkan jenis terapi, lama pelaksanaan, dan karakteristik pasien, sementara kombinasi intervensi fisik dan psikologis menunjukkan hasil yang lebih baik. Simpulan: Secara keseluruhan, intervensi non-farmakologi dapat diterapkan dalam praktik keperawatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker.   Kata Kunci: Intervensi Non-Farmakologi; Mual Muntah; Pasien Kanker.
Pengalaman pasien dengan tuberkulosis multi-drug resistant (TB- MDR) Hastuti, Sastri; Abdullah, Asnawi; Marthoenis, Marthoenis; Maidar, Maidar; Zakaria, Radhiah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1872

Abstract

Background: Multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) not only impacts physical health but also triggers psychological disorders due to the lengthy treatment process, social stigma, and limited mental health support services. This puts patients at high risk for anxiety, stress, and depression. Purpose: To explore the experiences of patients with multi-drug resistant tuberculosis (MDR-TB). Method: A qualitative design with a phenomenological approach. Data were obtained through in-depth interviews with seven MDR-TB patients, three family members, and two healthcare workers in Bireuen Regency, Aceh. Data analysis used Huberman's model, including reduction, presentation, and conclusion drawing with source triangulation. Results: The study identified five main themes: stressors, mental health conditions, coping strategies, family perspectives, and healthcare professionals' perceptions. Patients experienced anxiety, uncertainty about recovery, social stigma, economic constraints, and severe medication side effects. Family support, religious approaches, and adequate information proved crucial in helping patients cope with psychological distress. Conclusion: MDR-TB patients face significant mental burdens, while psychosocial support services in healthcare facilities remain limited. Strengthening education, family support, and integrating mental health services are needed to improve the quality of life and treatment adherence of MDR-TB patients.   Keywords: Coping Strategies; Family Support; Mental Health; Multidrug-Resistant Tuberculosis (MDR-TB); Social Stigma.   Pendahuluan: Tuberkulosis Multi-Drug Resistant (TB-MDR) tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memicu gangguan psikologis akibat proses pengobatan yang panjang, stigma sosial, serta keterbatasan layanan pendampingan mental. Kondisi ini menempatkan pasien pada risiko tinggi mengalami kecemasan, stres, dan depresi. Tujuan: Untuk mengeksplorasi pengalaman pasien dengan tuberkulosis multi-drug resistant (TB- MDR). Metode: Desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap tujuh pasien TB-MDR, tiga anggota keluarga, dan dua tenaga kesehatan di Kabupaten Bireuen, Aceh. Analisis data menggunakan model Huberman meliputi reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan dengan triangulasi sumber. Hasil: Ditemukan lima tema utama, yaitu faktor penyebab stres, kondisi kesehatan mental, strategi koping, pandangan keluarga, serta persepsi tenaga kesehatan. Pasien mengalami kecemasan, ketidakpastian kesembuhan, stigma sosial, keterbatasan ekonomi, serta efek samping obat yang berat. Dukungan keluarga, pendekatan religius, dan informasi yang memadai terbukti berperan penting dalam membantu pasien mengatasi tekanan psikologis. Simpulan: Pasien TB resisten multidrug (TB-MDR) menghadapi beban mental yang signifikan, sementara layanan dukungan psikososial di fasilitas kesehatan masih terbatas. Penguatan pendidikan, dukungan keluarga, dan integrasi layanan kesehatan mental diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kepatuhan pengobatan pasien TB-MDR.   Kata Kunci: Dukungan Keluarga; Kesehatan Mental; Multidrug-Resistant Tuberculosis (TB-MDR); Stigma Sosial; Strategi Koping.
Analisis skrining kesehatan dan faktor dominan yang memengaruhi tingkat kebugaran aparatur sipil negara (ASN) Jumiati, Jumiati; Erwandi, Dadan
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1902

Abstract

Background: Non-communicable diseases (NCDs) remain a major public health challenge and impact the productivity of civil servants, especially those with sedentary work patterns. Physical fitness is an important indicator in supporting employee performance and health. Purpose: To describe the fitness status of civil servants and analyze the relationship between health screening and fitness levels. Method: A cross-sectional design with a quantitative approach. A total of 507 civil servants participated in health screenings that included measurements of Body Mass Index (BMI), blood pressure, random blood sugar, cholesterol, uric acid, and a fitness test using the Rockport method. Univariate and bivariate analyses were performed using the Chi-Square test. Results: The study showed that 55.6% of civil servants were in the fit category. The majority of respondents had an abnormal BMI (81.9%) and high cholesterol levels (55.2%). Statistical tests showed that only age had a significant relationship with fitness (p < 0.05), with civil servants aged ≤45 years and older at risk of lower fitness levels compared to the middle productive age group. Meanwhile, gender, BMI, blood pressure, blood sugar, cholesterol, and uric acid levels did not show a significant relationship with fitness. Conclusion: Age is a dominant factor influencing civil servants fitness, necessitating promotional efforts and regular physical activity to maintain employee health and productivity. This also suggests the need to evaluate the accuracy of the screening tools and the appropriateness of the Rockport test implementation.   Keywords: Civil Servants; Fitness; Health Screening.   Pendahuluan: Penyakit tidak menular (PTM) masih menjadi tantangan utama kesehatan masyarakat dan berdampak pada produktivitas Aparatur Sipil Negara (ASN), terutama yang memiliki pola kerja sedentari. Kebugaran jasmani merupakan indikator penting dalam mendukung kinerja dan kesehatan pegawai Tujuan: Untuk mengetahui gambaran status kebugaran ASN serta menganalisis hubungan antara skrining kesehatan dengan tingkat kebugaran. Metode: Desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sebanyak 507 ASN mengikuti skrining kesehatan meliputi pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT), tekanan darah, gula darah sewaktu, kolesterol, asam urat, serta tes kebugaran menggunakan metode Rockport. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 55.6% ASN berada pada kategori bugar. Mayoritas responden memiliki IMT tidak normal (81.9%) dan kadar kolesterol tinggi (55.2%). Uji statistik menunjukkan bahwa hanya variabel usia yang memiliki hubungan bermakna dengan kebugaran (p < 0.05), di mana ASN berusia ≤45 tahun berisiko lebih rendah tingkat kebugarannya dibandingkan kelompok usia produktif tengah. Sementara itu, jenis kelamin, IMT, tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan kebugaran. Simpulan: Usia merupakan faktor dominan yang memengaruhi kebugaran ASN, sehingga diperlukan upaya promotif dan aktivitas fisik rutin untuk menjaga kesehatan dan produktivitas pegawai, serta mengisyaratkan perlunya evaluasi terhadap akurasi alat pemeriksaan dan kesesuaian pelaksanaan tes Rockport.   Kata Kunci: Aparatur Sipil Negara (ASN); Kebugaran; Skrining Kesehatan.
Efektivitas latihan buerger allen exercise dan senam kaki diabetes terhadap sirkulasi perifer dan gejala neuropati pada pasien diabetes melitus Santika, I Made; Peristiowati, Yuli; Wahyuningsih, Atik Setiawan; Prasetyo, Joko; Nurdina, Nurdina; Yulianti, Desak Made
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1935

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) is a chronic metabolic disease frequently accompanied by complications such as peripheral circulatory disorders and neuropathy, which contribute to decreased lower-extremity function. This condition is still often found in DM patients at Toto Kabila Regional Hospital, highlighting the need for effective non-pharmacological interventions. Purpose: To analyze the effectiveness of buerger allen exercise and diabetic foot exercise in improving peripheral circulation and neuropathic symptoms among patients with diabetes mellitus. Method: A quasi-experimental two-group pretest–posttest design involving 60 patients who were randomly assigned into two intervention groups. Both exercises were administered for four weeks. Data were collected using standardized operational procedures for each exercise along with instruments assessing peripheral circulation and neuropathic symptoms. The Wilcoxon test was used to analyze within-group effects, while the Mann–Whitney test was applied to compare differences between groups. Results: Both interventions significantly improved peripheral circulation and reduced neuropathic symptoms (p = 0.000). Between-group analysis showed that the Buerger Allen Exercise produced greater improvement in peripheral circulation, particularly in the left extremity (p = 0.019), and demonstrated a more substantial reduction in neuropathic symptoms compared to diabetic foot exercise (p = 0.000). Conclusion: Both Buerger Allen Exercise and diabetic foot exercise are effective in enhancing peripheral circulation and reducing neuropathic symptoms in patients with diabetes mellitus. However, Buerger Allen Exercise shows superior effectiveness and may be recommended as a primary non-pharmacological intervention to improve vascular and sensory function in diabetic patients.   Keywords: Buerger Allen Exercise; Diabetes Mellitus; Diabetic Foot Exercise; Diabetic Neuropathy; Peripheral Circulation.   Pendahuluan: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang sering disertai komplikasi berupa gangguan sirkulasi perifer dan neuropati, yang berdampak pada penurunan fungsi ekstremitas bawah. Kondisi ini masih banyak dijumpai pada pasien DM di RSUD Toto Kabila, sehingga diperlukan intervensi non-farmakologis yang efektif. Tujuan: Untuk menganalisis efektivitas Buerger Allen Exercise dan senam kaki diabetes terhadap sirkulasi perifer dan gejala neuropati pada pasien DM. Metode: Desain quasi-experimental two group pretest–posttest dengan total sampel 60 pasien yang dibagi menjadi dua kelompok intervensi. Latihan diberikan selama empat minggu, dan pengukuran dilakukan menggunakan SOP latihan serta instrumen penilaian sirkulasi perifer dan gejala neuropati. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon untuk mengetahui pengaruh intervensi dan uji Mann-Whitney untuk melihat perbedaan antar kelompok. Hasil: Peningkatan signifikan pada sirkulasi perifer dan perbaikan gejala neuropati pada kedua kelompok (p = 0.000). Perbandingan antar kelompok menunjukkan bahwa Buerger Allen Exercise memberikan peningkatan sirkulasi perifer yang lebih tinggi, khususnya pada ekstremitas kiri (p = 0.019), serta perbaikan gejala neuropati yang lebih besar dibandingkan senam kaki diabetes (p = 0.000). Simpulan: Buerger allen exercise dan senam kaki diabetes sama-sama efektif meningkatkan sirkulasi perifer dan memperbaiki gejala neuropati, namun buerger allen exercise menunjukkan efektivitas yang lebih unggul. Latihan ini dapat direkomendasikan sebagai intervensi non-farmakologis dalam upaya meningkatkan fungsi vaskular dan sensorik pada pasien diabetes melitus.   Kata Kunci: Buerger Allen Exercise; Diabetes Melitus; Neuropati Diabetik; Senam Kaki Diabetes; Sirkulasi Perifer.
Faktor risiko kejadian unplanned extubation pada pasien anak di pediatric intensive care unit: Sebuah tinjauan sistematis Sihotang, Jojor; Huda, Mega Hasanul; Nurhaeni, Nani; Wanda, Dessie; Nugroho, Alfin
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1939

Abstract

Background: Introduction: Unplanned extubation (UE) is a common adverse event in the Pediatric Intensive Care Unit (PICU) and can lead to clinical deterioration, increased morbidity, and decreased quality of care. Despite various preventative measures, UE remains a challenge in pediatric intensive care. Purpose: To synthesize current evidence on risk factors associated with unplanned extubation in pediatric patients to support the development of effective, evidence-based prevention strategies. Method: A systematic literature search was conducted in Scopus, ProQuest, and PubMed databases for observational studies published in the past 15 years following PRISMA guidelines. The methodological quality of included studies was assessed using the Newcastle–Ottawa Scale (NOS). Narrative synthesis was used to summarize and integrate the study findings. Results: Eleven observational studies met the inclusion criteria, with eight studies demonstrating a low risk of bias. The most consistent risk factors associated with UE were inadequate sedation and patient agitation. Other important risk factors include suboptimal endotracheal tube (ETT) fixation, high nurse-to-patient ratios, night shift care, and limited nursing experience. The relationship between patient age and UE risk has shown varying results across studies. Conclusion: The incidence of unplanned extubation in pediatric patients in the PICU is multifactorial and influenced by patient factors, clinical conditions, the care environment, and equipment and procedures. Modifiable factors, such as sedation management, standardization of ETT fixation, and optimization of nursing resources, are the most potential targets for intervention. UE significantly impacts the quality of care, particularly the quality of nursing care, due to variations in the preventive interventions implemented. Therefore, implementing a best-practice-based prevention bundle is crucial to reducing UE rates in the PICU.   Keywords: Pediatric Intensive Care Unit; Pediatric Patients; Risk Factors; Unplanned Extubation.   Pendahuluan: Unplanned extubation (UE) merupakan kejadian tidak diinginkan yang sering terjadi di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dan dapat menyebabkan penurunan kondisi klinis pasien, peningkatan morbiditas, serta penurunan mutu pelayanan. Meskipun berbagai upaya pencegahan telah dilakukan, kejadian UE masih menjadi tantangan dalam perawatan intensif anak.Tujuan: Untuk mensintesis bukti terkini mengenai faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian unplanned extubation pada pasien anak guna mendukung pengembangan strategi pencegahan yang efektif dan berbasis bukti.Metode: Pencarian literatur sistematis dilakukan pada basis data Scopus, ProQuest, dan PubMed terhadap studi observasional yang dipublikasikan dalam 15 tahun terakhir dengan mengikuti pedoman PRISMA. Kualitas metodologis studi yang diinklusi dinilai menggunakan Newcastle–Ottawa Scale (NOS). Sintesis naratif digunakan untuk merangkum dan mengintegrasikan temuan penelitian.Hasil: Sebanyak 11 studi observasional memenuhi kriteria inklusi, dengan 8 studi menunjukkan risiko bias yang rendah. Faktor risiko yang paling konsisten terkait dengan kejadian UE adalah sedasi yang tidak adekuat dan agitasi pasien. Faktor risiko penting lainnya meliputi fiksasi endotracheal tube (ETT) yang tidak optimal, rasio perawat–pasien yang tinggi, perawatan pada shift malam, serta pengalaman perawat yang terbatas. Hubungan antara usia pasien dan risiko UE menunjukkan hasil yang bervariasi antar penelitian.Simpulan: Kejadian unplanned extubation pada pasien anak di PICU bersifat multifaktorial dan dipengaruhi oleh faktor pasien, kondisi klinis, lingkungan perawatan, serta aspek alat dan prosedur. Faktor-faktor yang dapat dimodifikasi, seperti manajemen sedasi, standarisasi fiksasi ETT, dan optimalisasi sumber daya keperawatan, merupakan target intervensi yang paling potensial. Kejadian UE berdampak signifikan terhadap mutu pelayanan, khususnya mutu asuhan keperawatan, akibat variasi intervensi pencegahan yang diterapkan. Oleh karena itu, implementasi bundle pencegahan berbasis praktik terbaik sangat penting untuk menurunkan angka kejadian UE di PICU.   Kata Kunci: Faktor Risiko; Pasien Anak; Pediatric Intensive Care Unit; Unplanned Extubation.
Pengembangan biodegradable packing foam dari limbah tongkol jagung dan pelepah pisang sebagai alternatif kemasan berkelanjutan Novitasari, Zahra Rizki; Maulidya, Nalaina Izzaty; Humairo, Mika Vernicia
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1951

Abstract

Background: Indonesia's waste continues to grow and will reach 70 million tons by 2023. The e-commerce sector is a major contributor to plastic waste, with 96% of its packaging made from plastic, such as foam. Corncob and banana stem waste have the potential to be environmentally friendly alternatives for foam packaging due to their high cellulose content of 26.81% and 83.3%, respectively. Purpose: To develop biodegradable foam packaging made from corncob and banana stem waste as an environmentally friendly packaging alternative. Method: The study used a Research and Development (R&D) model using the 4D approach (define, design, develop, and disseminate). Results: Expert validation demonstrated product feasibility with an average score of 4.5 for durability, elasticity, and density, and a score of 5.0 for physical structure. Secondary packaging validation also demonstrated excellent results, with scores for attractiveness of 4.5; color contrast of 5.0; product protection of 5.0; and sturdiness of 4.5. These results indicate that biodegradable packing foam has the potential to replace conventional foam, offering characteristics that support product protection and are more environmentally friendly. In addition to its functional potential, this product also offers broad market opportunities through strategic partnerships. Conclusion: The use of biodegradable packing foam is expected to reduce plastic waste, support sustainable waste management efforts, and contribute to achieving SDG 12 on responsible consumption and production.   Keywords: Banana Stems; Biodegradable Packing Foam; Corn Cobs; Sustainable Packaging; Waste.   Background: Tumpukan sampah di Indonesia terus meningkat dan mencapai 70 juta ton pada 2023. Sektor e-commerce menjadi penyumbang besar sampah plastik, dengan 96% kemasannya berbahan plastik seperti foam. Limbah tongkol jagung dan pelepah pisang berpotensi menjadi alternatif packing foam ramah lingkungan karena kandungan selulosanya yang tinggi masing-masing 26,81% dan 83,3%. Tujuan: Untuk mengembangkan biodegradable packing foam berbahan dasar limbah tongkol jagung dan pelepah pisang sebagai alternatif kemasan yang ramah lingkungan. Metode: Penelitian dengan model Research and Development (R&D) menggunakan pendekatan 4D (define, design, develop, dan disseminate). Hasil: Validasi ahli menunjukkan kelayakan produk dengan rata-rata skor 4.5 pada aspek daya tahan, elastisitas, dan kepadatan serta skor 5.0 pada struktur fisik. Validasi kemasan sekunder juga menunjukkan hasil sangat baik dengan nilai daya tarik 4.5; kontras warna 5.0; kemampuan melindungi produk 5.0; dan kekokohan 4.5. Hasil ini menunjukkan bahwa biodegradable packing foam berpotensi menggantikan foam konvensional dengan karakteristik yang mendukung perlindungan barang dan lebih ramah lingkungan. Selain potensi fungsionalnya, produk ini juga memiliki peluang pasar yang luas melalui kemitraan strategis. Simpulan: Penerapan penggunaan biodegradable packing foam diharapkan dapat mengurangi sampah plastik, mendukung upaya pengelolaan sampah berkelanjutan, dan berkontribusi terhadap pencapaian SDGs poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.   Kata Kunci: Biodegradable Packing Foam; Kemasan Berkelanjutan; Limbah; Pelepah Pisang; Tongkol Jagung.
Pengaruh terapi mindfulness terhadap tingkat stres pada pasien hipertensi: A systematic review Safaruddin, Safaruddin; Christina, Tri Yahya; Sriwiyanti, Lilik; Handayani, Wiwik; Sakinah, Sri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1971

Abstract

 Background: Mindfulness therapy is a therapeutic approach that uses mindful practice to help individuals manage their thoughts, emotions, and bodily sensations in a healthy manner. Techniques such as compressions and mindful breathing have been shown to be effective in reducing stress levels, improving cognitive function, and supporting the management of chronic diseases such as hypertension. Purpose: To analyze the effect of mindfulness therapy on stress levels in patients with hypertension. Method: A systematic review and meta-analysis were designed to explore the relationship between mindfulness therapy, stress levels, and hypertension. Articles were selected based on PICO eligibility criteria and retrieved from three major databases: PubMed, Google Scholar, and ScienceDirect. Keywords used included "Mindfulness Therapy" AND "Stress Levels" AND "Hypertension" AND "Randomized Control Trial" AND "Healthcare." Inclusion criteria included full-text articles with a quasi-experimental study design published between 2010 and 2024. Article analysis was performed using PRISMA charts and Review Manager (RevMan) software version 5.3. Result: A meta-analysis of 10 articles from various countries, including India, Iran, the United Kingdom, the United States, and New Zealand, showed that mindfulness therapy has a positive effect on reducing stress levels in hypertensive patients. This therapy demonstrated an effect size of 0.23 times (Mean Difference = 0.23; 95% CI = -0.54-0.07; p <0.13). Furthermore, the relatively balanced distribution of effect estimates indicates no bias, as demonstrated by the balance between the left and right plots. Conclusion: Mindfulness therapy is increasingly recognized as an effective complementary therapy in the management of chronic diseases such as hypertension. Suggestion: Health workers are advised to integrate mindfulness therapy as a complementary approach in managing hypertension.   Keywords: Hypertension; Healthcare; Mindfulness Therapy; Stress Levels.   Pendahuluan: Terapi mindfulness merupakan suatu pendekatan terapeutik yang menggunakan latihan kesadaran penuh untuk membantu individu mengelola pikiran, emosi, dan sensasi tubuh secara sehat. Teknik seperti meditasi dan pernapasan sadar terbukti efektif dalam menurunkan tingkat stres, meningkatkan fungsi kognitif, serta mendukung pengelolaan penyakit kronis seperti hipertensi. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh terapi mindfulness terhadap tingkat stres pada pasien hipertensi. Metode: Systematic review dan meta-analysis yang dirancang untuk mengevaluasi hubungan antara terapi mindfulness, tingkat stres, dan hipertensi. Artikel diseleksi berdasarkan kriteria kelayakan PICO dan diperoleh dari tiga basis data utama, yaitu PubMed, Google Scholar, dan ScienceDirect. Kata kunci yang digunakan meliputi “Mindfulness Therapy” AND “Stress Levels” AND “Hypertension” AND “Randomized Control Trial” AND “Health Services.” Kriteria inklusi mencakup artikel full-text dengan desain penelitian quasi-experimental yang dipublikasikan pada periode 2010–2024. Analisis artikel dilakukan menggunakan diagram PRISMA dan perangkat lunak Review Manager (RevMan) versi 5.3. Hasil: Meta-analisis terhadap 10 artikel dari berbagai negara, antara lain Indonesia, India, Iran, Inggris, Amerika Serikat, dan Selandia Baru, menunjukkan bahwa terapi mindfulness memberikan pengaruh positif dalam menurunkan tingkat stres pada pasien hipertensi. Terapi ini menunjukkan ukuran efek sebesar 0.23 kali (Mean Difference=0.23; 95% CI=−0.54-0.07; p<0.13). Selain itu, sebaran estimasi efek yang relatif seimbang menunjukkan tidak adanya bias, yang ditunjukkan oleh keseimbangan antara plot kiri dan kanan pada analisis. Simpulan: Terapi mindfulness semakin diakui sebagai terapi pendamping yang efektif dalam penatalaksanaan penyakit kronis seperti hipertensi. Saran: Tenaga kesehatan disarankan untuk mengintegrasikan terapi mindfulness sebagai pendekatan komplementer dalam penatalaksanaan hipertensi.   Kata Kunci: Hipertensi; Layanan Kesehatan; Terapi Mindfulness; Tingkat Stres.