cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 402 Documents
Hubungan riwayat penyakit infeksi dengan stunting pada balita Kereh, Valenia Keren Natalniela; Sanggelorang, Yulianty; Musa, Ester Candrawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1718

Abstract

Background: Stunting is a problem related to child nutrition in Indonesia that remains unresolved. Stunting can be caused by multiple factors, one of which is infectious disease, a disease caused by pathogenic microorganisms. Common infectious diseases in children, such as acute respiratory infections, diarrhea, and worm infestations, can impact metabolic processes, disrupting nutrient absorption and growth. Purpose: To determine the relationship between a history of infectious diseases and stunting in toddlers. Method: This quantitative, analytical, observational study used a cross-sectional approach. It was conducted in the Pineleng Community Health Center working area from March to September 2025. A sample of 100 respondents was selected using a probability sampling technique with simple random sampling. The instruments used were the 2022 Indonesian Nutritional Status Survey questionnaire and height-for-age (H/A) measurements. Data were analyzed using the ch-square test and Fisher's exact test. Results: Regarding infectious disease history, the majority of toddlers (66 respondents) had no history of infectious diseases. Regarding stunting incidence, 12 toddlers (12.0%) experienced stunting, while 88 toddlers (88%) experienced normal growth. The chi-square test showed a p-value of 0.329, which is greater than the significance level of 0.05. This indicates that there is no relationship between a history of infectious diseases and stunting in toddlers. Conclusion: There is no relationship between a history of infectious diseases and stunting in toddlers (p-value = 0.329). Although this study still found toddlers with infectious diseases, there are indications that proper management of infectious diseases does not significantly impact stunting. Suggestion: Parents are expected to pay more attention to their toddlers' health by maintaining a balanced nutritional intake, ensuring a clean environment, and immediately taking their children to a health facility if they experience symptoms of an infectious disease.   Keywords: Infectious Diseases; Stunting; Toddlers.   Pendahuluan: Stunting merupakan masalah yang berkaitan dengan gizi anak di Indonesia yang masih belum teratasi sepenuhnya. Stunting dapat disebabkan oleh multifaktor, salah satunya adalah penyakit infeksi, yakni sebuah penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme pathogen. Penyakit infeksi yang sering diderita anak, seperti ISPA, diare, dan kecacingan dapat memberikan pengaruh terhadap proses metabolisme yang menyebabkan terganggunya penyerapan nutrisi dan pertumbuhan anak. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan riwayat penyakit infeksi dengan stunting pada balita. Metode: Penelitian kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Pineleng pada bulan Maret – September 2025. Sempel yang digunakan sebanyak 100 responden yang dipilih menggunakan teknik probability sampling dengan metode simple random sampling. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 dan pengukuran tinggi badan menurut umur (TB/U), kemudian analisis data menggunakan uji statistik ch-square dan fisher’s exact test. Hasil: Ditinjau dari riwayat penyakit infeksi, Sebagian besar balita tidak pernah memiliki riwayat penyakit infeksi sebanyak 66 responden (66%).  Pada status kejadian stunting, responden yang mengalami stunting sebanyak 12 balita (12.0%) dan sebagian besar normal sebanyak 88 balita (88%). Hasil uji chi-square menunjukan nilai p= 0.329 yang berarti lebih besar dari nilai signifikansi 0.05. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan riwayat penyakit infeksi dengan stunting pada balita. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara riwayat penyakit infeksi dengan stunting pada balita (p-value = 0.329). Meskipun dalam penelitian ini, masih ditemukan balita yang mengalami penyakit infeksi, namun terdapat indikasi bahwa penangan terhadap penyakit-penyakit infeksi dilakukan secara baik, sehingga tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian stunting. Saran: Diharapkan orang tua lebih memperhatikan kesehatan balita dengan menjaga asupan gizi yang seimbang, memastikan kebersihan lingkungan, dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala penyakit infeksi.   Kata Kunci: Balita; Penyakit Infeksi; Stunting.
Hubungan riwayat pemberian ASI eksklusif dengan stunting pada balita Muhaling, Jesica Christin; Sanggelorang, Yulianty; Punuh, Maureen Irinne
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1725

Abstract

Background: Indonesia is in the process of achieving the Sustainable Development Goals (SDGs) to eradicate hunger, achieve food security, and improve nutrition, while supporting sustainable development. These goals include addressing the problem of stunting, which is being pursued to reduce it. Stunting can impact a child's life into adulthood. If not addressed promptly and appropriately, it can lead to the risk of physical and cognitive developmental disabilities. Purpose: To analyze the relationship between a history of exclusive breastfeeding and stunting in toddlers. Method: This quantitative study used an analytical survey design using a cross-sectional approach. The study was conducted in the Pineleng Community Health Center working area from June to September 2025. The sample size was determined using the Slovin formula with a 10% margin of error, resulting in 100 respondents. Data on exclusive breastfeeding history were obtained through structured questionnaire interviews with parents of toddlers, while height data were obtained through direct measurements using a microtoise. Data analysis included univariate and bivariate analyses using the chi-square test. Results: The mean age of toddlers was 40.4 ± 9.9 months, with an age range of 24–59 months. Most toddlers were in the 24–36 month age group (42.0%), the majority were male (57.0%), not exclusively breastfed (70.0%), and stunting was found in 12.0%. A chi-square test showed no significant association between a history of exclusive breastfeeding and stunting, with a p-value of 0.101. Conclusion: There was no significant association between exclusive breastfeeding and stunting in toddlers aged 24–59 months. This suggests that stunting is caused by multiple factors, such as low household socioeconomic status, premature birth, low parental education, living in rural or slum areas, poor environmental sanitation, poor cultural practices, and others.   Keywords: Exclusive Breastfeeding; Stunting; Toddlers.   Pendahuluan: Indonesia sedang dalam proses mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) untuk memberantas kelaparan, mencapai ketahanan pangan, dan peningkatan gizi serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Tujuan yang termasuk didalamnya adalah untuk mengatasi masalah stunting yang diupayakan menurun. Stunting dapat memengaruhi kehidupan anak saat mencapai usia dewasa, jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, hal ini dapat menyebabkan risiko cacat perkembangan fisik dan kognitif. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan stunting pada balita. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain survei analitik menggunakan pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Pineleng pada bulan Juni–September 2025. Jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10%, sehingga diperoleh 100 responden. Data riwayat ASI eksklusif diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur kepada orangtua balita, sedangkan data tinggi badan diperoleh melalui pengukuran langsung menggunakan microtoise. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Menunjukkan rerata umur balita adalah 40.4 ± 9.9 bulan dengan rentang usia 24–59 bulan, sebagian besar balita berada pada kelompok usia 24–36 bulan sebesar 42.0%, mayoritas berjenis kelamin laki-laki sebanyak 57.0%, tidak mendapatkan ASI eksklusif sebanyak 70.0%, dan kejadian stunting ditemukan pada 12.0% balita. Uji chi-square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting dengan nilai p sebesar 0.101. Simpulan: Tidak terdapat hubungan signifikan antara pemberian ASI eksklusif dengan stunting pada balita umur 24-59 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa stunting disebabkan oleh multifaktor, seperti status sosial ekonomi rumah tangga yang rendah, kelahiran prematur, pendidikan orang tua yang rendah, tinggal di rumah tangga di pedesaan atau daerah kumuh, sanitasi lingkungan yang buruk, budaya yang buruk, dan lain-lain.   Kata Kunci: ASI Eksklusif; Balita; Stunting.
Analisis pengetahuan ibu hamil dan kepatuhan mengonsumsi tablet fe Andira, Septi Bunga; Sulastri, Sulastri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1736

Abstract

Background: Anemia is one of the most common pregnancy complications worldwide, including in Indonesia. This condition increases the risk of low birth weight, postpartum hemorrhage, and even maternal and neonatal death. The Indonesian government recommends anemia prevention through supplementation with at least 90 iron (Fe) tablets during pregnancy. However, despite widespread distribution of iron tablets, compliance among pregnant women remains low. Pregnant women's knowledge about anemia and the benefits of iron supplements is believed to influence compliance. Purpose: To analyze the relationship between pregnant women's knowledge about anemia and adherence to iron tablet consumption. Method: This quantitative study used a correlational analytic design and a cross-sectional approach. A total of 60 pregnant women were selected using purposive sampling based on inclusion criteria. The instruments used included a 26-item knowledge questionnaire and the MMAS-8 adherence scale. Data were analyzed univariately and bivariately using Spearman's rank correlation test. Results: Most respondents had a high level of knowledge (86.7%), but adherence was still low, with 50% categorized as poorly adherent. Statistical analysis showed a significant positive relationship between knowledge and adherence to iron tablet consumption (r = 0.414; p = 0.001). Conclusion: Pregnant women's adherence to iron tablet consumption is not only determined by their level of knowledge but is also influenced by external factors, such as the quality of counseling from health workers, frequency of ANC visits, family support, and access to accurate information. Although most respondents were in a healthy reproductive age group and had good knowledge, adherence remained low, confirming that health behavior is the result of a multidimensional interaction between cognitive, psychosocial, and environmental aspects. Suggestion: Future researchers could involve more locations, use more diverse methods such as direct observation or iron tablet distribution records, and incorporate psychosocial factors. From a policy perspective, multi-stakeholder collaboration between health workers, families, and communities is needed to narrow the gap between knowledge and behavior, thereby significantly reducing anemia rates among pregnant women.   Keywords: Adherence; Anemia; Iron Tablets; Knowledge; Pregnant Women.   Pendahuluan: Anemia merupakan salah satu komplikasi kehamilan paling umum terjadi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Kondisi ini meningkatkan risiko bayi berat badan lahir rendah, perdarahan pasca persalinan, bahkan kematian ibu dan bayi baru lahir. Pemerintah Indonesia menganjurkan pencegahan anemia melalui suplemen minimal 90 tablet zat besi (Fe) selama kehamilan. Namun, meskipun penyebaran tablet telah meluas, tingkat kepatuhan konsumsi pada ibu hamil masih rendah. Pengetahuan ibu hamil mengenai anemia dan manfaat suplemen zat besi diyakini berpengaruh terhadap perilaku kepatuhan tersebut. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan ibu hamil tentang anemia dengan kepatuhan dalam mengonsumsi tablet. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain analitik korelasional dan pemdekatan cross-sectional. Sebanyak 60 ibu hamil dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi. Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner pengetahuan sebanyak 26 item soal dan skala kepatuhan MMAS-8. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi (86,7%), namun Tingkat kepatuhan masih rendah dengan 50% dikategorikan kurang patuh. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara pengetahuan dengan kepatuhan konsumsi tablet Fe (r = 0,414; p = 0,001) Simpulan: Kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet Fe tidak hanya ditentukan oleh tingkat pengetahuan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti kualitas konseling tenaga kesehatan, frekuensi kunjungan ANC, dukungan keluarga, serta akses terhadap informasi yang akurat. Meskipun sebagian besar responden berada pada kelompok usia reproduktif sehat dan memiliki pengetahuan yang baik, kepatuhan tetap rendah, sehingga mempertegas bahwa perilaku kesehatan merupakan hasil interaksi multidimensional antara aspek kognitif, psikososial, dan lingkungan. Saran: Peneliti selanjutnya dapat melibatkan lebih banyak lokasi, menggunakan metode yang lebih bervariasi seperti observasi langsung atau catatan distribusi tablet Fe, serta memasukkan faktor psikososial. Dari sisi kebijakan, diperlukan kerja sama multipihak antara tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat agar kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku dapat diperkecil, sehingga angka anemia pada ibu hamil dapat ditekan secara signifikan.   Kata Kunci: Anemia; Ibu Hamil; Kepatuhan; Pengetahuan; Tablet Fe.
Efektivitas supportif grup edukasi norma seksual dalam mengatasi perilaku berisiko remaja penyebab infeksi menular seksual (IMS) Sari, Niken Yuniar; Herlina, Herlina; Guna, Stephanie Dwi; Rustam, Murfardi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1749

Abstract

Background: Risky sexual behavior is a major factor in the transmission of sexually transmitted infections (STIs), a global public health problem with significant health and social consequences. Purpose: To test the effectiveness of a supportive group intervention involving sexual norms education in reducing risky behaviors that contribute to the transmission of sexually transmitted infections (STIs). Method: This was a quasi-experimental study using a nonequivalent control group approach. The sample size was 32 participants. Supportive group education was provided to the intervention group, while the control group received education on sexual norms to address risky behavior. This study used a non-probability sampling method with consecutive sampling. Analysis used an unpaired t-test for the difference in two means. Results: Supportive group therapy demonstrated a significant impact on changes in adolescent sexual behavior in the intervention group compared to the control group. Prior to the intervention, most adolescents in the intervention group engaged in high-risk sexual behavior, but after therapy, this number decreased. Meanwhile, the change in the control group was much smaller, with the average score remaining nearly unchanged (from 14.34 to 13.78). Statistical tests showed a statistically significant difference between the two groups (p-value = 0.027), indicating that supportive group therapy was effective in reducing risky sexual behavior in adolescents. Conclusion: Supportive group therapy with sexual norms education was proven to be significantly effective in reducing risky sexual behavior in adolescents (p-value = 0.027).   Keywords: Adolescent Risk Behavior; Sexual Norms Education; Sexually Transmitted Infections (STIs); Supportive Groups.   Pendahuluan: Perilaku seksual berisiko merupakan faktor utama penularan infeksi menular seksual (IMS) yang menjadi masalah kesehatan masyarakat global dengan konsekuensi kesehatan dan sosial yang signifikan. Tujuan: Untuk menguji efektivitas intervensi supportif grup edukasi norma seksual dalam menurunkan perilaku berisiko yang berkontribusi terhadap penularan infeksi menular seksual (IMS). Metode: Penelitian quasi eksperimen dengan pendekatan nonequivalent control group. Penentuan sampel sebanyak 32 partisipan. Supportif grup edukasi diberikan pada kelompok intervensi, sedangkan kelompok kontrol diberikan edukasi tentang norma seksual dalam mengatasi perilaku berisiko. Penelitian ini menggunakan instrumen derajat perilaku seksual remaja dengan metode non probability sampling dengan teknik consecutive sampling. Analisis menggunakan t-test beda dua rata-rata tidak berpasangan. Hasil: Terapi suportif grup menunjukkan dampak signifikan terhadap perubahan derajat perilaku seksual remaja pada kelompok intervensi, dibandingkan dengan kelompok kontrol. Sebelum intervensi, sebagian besar remaja pada kelompok intervensi memiliki perilaku seksual berat, namun setelah terapi jumlah ini menurun. Sementara itu, perubahan pada kelompok kontrol jauh lebih kecil, dengan rata-rata skor yang hampir stagnan (dari 14.34 menjadi 13.78). Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik antara kedua kelompok (p-value = 0.027), mengindikasikan bahwa terapi suportif grup efektif dalam mengurangi derajat perilaku seksual berisiko pada remaja. Simpulan: Terapi supportif grup edukasi norma seksual terbukti efektif secara signifikan dalam menurunkan derajat perilaku seksual berisiko pada remaja (p-value=0.027).   Kata Kunci: Edukasi Norma Seksual; Infeksi Menular Seksual (IMS); Perilaku Berisiko Remaja; Supportif Grup.
Optimalisasi fungsi actuating kepala ruangan dalam supervisi dokumentasi asuhan keperawatan di rumah sakit Perdana, Riska Rusfita; Afriani, Tuti; Wirdani, Andi Wilda; Hariyati, Rr Tutik Sri; Harpendewisasmita, Harpendewisasmita; Kuntarti, Kuntarti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.1751

Abstract

Background: Electronic Medical Records (EMR) plays a crucial role in nursing care, serving as legal evidence, a means of interprofessional communication, and a benchmark for service quality. Ward heads, as first-line managers, hold a crucial responsibility in ensuring documentation is carried out according to standards. Purpose: To optimize the ward head's driving function in overseeing nursing care documentation in hospitals. Method: This study used a case study approach conducted in the Intermediate Ward of Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Hospital. Data were collected through observation, interviews with ward heads and nurses, and questionnaires distributed to 30 nurses. The analysis was based on Marquis & Huston's 2021 management function theory and Kurt Lewin's theory of change. Problems were analyzed using the fishbone method and Priority Setting Guidelines (PSG) assessment to determine priority interventions. Results: Nurses' compliance with EMR documentation standards improved after socialization. Furthermore, ward heads' understanding of the importance of reflection-based clinical supervision also improved. 28.9% of respondents stated that ward heads always supervise nursing care documentation, 27.7% stated that supervision is frequent, 20.5% stated that supervision is rare, and 22.9% stated that ward heads never supervise documentation. Conclusion: Interventions through educational and reflective supervision have proven effective in improving the quality of EMR-based nursing documentation. Suggestion: Ongoing training for ward heads and integration of supervision forms into the hospital's digital system are needed to ensure the sustainability of the intervention.   Keywords: Driving Function; Hospital; Nursing Care Documentation; Supervision; Ward Head.   Pendahuluan: Dokumentasi asuhan keperawatan elektronik/ Electronic Medical Record (EMR) memiliki peran krusial dalam pelayanan keperawatan, baik sebagai bukti legal, media komunikasi antarprofesi, maupun tolak ukur mutu layanan. Kepala ruangan sebagai manajer lini pertama memegang tanggung jawab penting dalam memastikan dokumentasi dilakukan sesuai standar. Tujuan: Untuk mengoptimalisasi fungsi actuating kepala ruangan dalam supervisi dokumentasi asuhan keperawatan di rumah sakit. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan case study yang dilaksanakan di ruang Intermediate Ward Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPDHK). Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara kepala ruangan, dan perawat, serta penyebaran kuesioner kepada 30 perawat pelaksana. Analisis dilakukan berdasarkan teori fungsi manajemen Marquis & Huston tahun 2021 dan teori perubahan Kurt Lewin. Masalah dianalisis menggunakan metode fishbone dan scoring Priority Setting Guideline (PSG) untuk menentukan intervensi prioritas. Hasil: Terdapat peningkatan kepatuhan perawat terhadap standar dokumentasi EMR setelah sosialisasi dilaksanakan. Selain itu, pemahaman kepala ruangan terhadap pentingnya supervisi klinis berbasis refleksi juga meningkat. Didapatkan 28.9% responden menyatakan bahwa kepala ruangan selalu melakukan supervisi dokumentasi asuhan keperawatan, 27.7% menyatakan bahwa supervisi dilakukan sering, 20.5% menyatakan bahwa supervisi hanya jarang dilakukan, dan 22.9% menyatakan bahwa kepala ruangan tidak pernah melakukan supervisi dokumentasi Simpulan: Intervensi melalui supervisi edukatif dan reflektif terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas dokumentasi keperawatan berbasis EMR. Saran: Diperlukan pelatihan berkelanjutan bagi kepala ruangan dan integrasi formulir supervisi ke dalam sistem digital rumah sakit untuk menjamin keberlanjutan intervensi.   Kata Kunci: Dokumentasi Asuhan Keperawatan; Fungsi Actuating; Kepala Ruangan; Rumah Sakit; Supervisi.
Risiko ergonomi pada penjahit di wilayah pesisir Panggeleng, Andi Mifta Farid; Maharja, Rizky
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1757

Abstract

Background: Tailors are one of the professions that are highly vulnerable to health problems, particularly musculoskeletal disorders (MSDs). MSDs among tailors are caused by several factors, such as repetitive work, static working postures, and non-ergonomic work environments. This issue highlights the urgency of conducting a more in-depth study on ergonomic risk factors among tailors. Purpose: To identify ergonomic risk factors among tailors in coastal areas. Method: This quantitative study employed a cross-sectional design and was conducted in East Banggae District. The study population consisted of all tailors working in the East Banggae area. Samples were selected using purposive sampling techniques. Data were collected through questionnaires, observations, measurements, and interviews. The statistical analysis used was the Chi-square test. Results: The variables of age (p-value = 0.042), working hours (p-value = 0.016), work fatigue (p-value = 0.016), physical workload (p-value = 0.000), mental workload (p-value = 0.000), and working posture (p-value = 0.000) were significantly associated with MSD complaints among tailors. Meanwhile, length of employment (p-value = 0.828) was not associated with MSD complaints. Conclusion: The majority of tailors experienced mild MSD complaints. Furthermore, MSD complaints among tailors in coastal areas were influenced by age, working hours, work fatigue, physical workload, mental workload, and working posture. In contrast, length of employment did not affect MSD complaints among tailors.   Keywords: Coastal Areas; Ergonomics; Musculoskeletal Disorders (MSDs) Complaints; Tailors.   Pendahuluan: Pekerja penjahit merupakan salah satu profesi yang sangat rentan mengalami masalah kesehatan seperti gangguan otot atau Musculuskeletal Disorders (MSDs). MSDs terjadi pada penjahit disebabkan oleh sejumlah faktor seperti pekerjaan berulang, posisi kerja statis dan lingkungan kerja yang tidak ergonomis. Masalah ini tentunya menjadi salah satu urgensi mengapa kajian lebih mendalam mengenai studi risiko ergonomi penjahit perlu dilakukan Tujuan: Untuk mengidentifikasi faktor risiko ergonomi pada penjahit di wilayah pesisir. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional yang akan dilaksanakan di Kecamatan Banggae Timur. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh penjahit yang tersebar di wilayah Banggae Timur. Adapun metode pemilihan sampel memakai teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, observasi, pengukuran, wawancara dan uji statistik yang digunakan adalah Chi-square. Hasil: Variabel usia (p-value= 0.042), lama kerja (p-value =0.016), kelelalahan kerja (p-value =0.016), beban kerja fisik (p-value = 0.000), beban kerja mental (p-value =0.000) dan postur tubuh (p-value =0.000) memiliki hubungan dengan keluhan MSDs penjahit, sedangkan variabel masa kerja (p-value =0.828) tidak berhubungan dengan keluhan MSDS. Simpulan: Mayoritas penjahit mengalami keluhan MSDs tingkat ringan. Selain itu, keluhan MSDs yang dialami oleh penjahit di wilayah pesisir ini dipengaruhi oleh usia, lama kerja, kelelahan kerja, beban kerja fisik, beban kerja mental, dan postur tubuh. Sementara itu, masa kerja tidak memengaruhi keluhan MSDs penjahit.   Kata Kunci: Ergonomi; Keluhan Musculuskeletal Disorders (MSDs); Penjahit; Wilayah Pesisir.
Pengetahuan dan sikap sebagai penentu kepatuhan perempuan dalam melakukan pemeriksaan payudara sendiri Adyvianto, Muhamad Ferry; Sulastri, Sulastri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1764

Abstract

Background: Breast cancer is one of the leading causes of mortality among women, yet it can be prevented through early detection such as breast self-examination (BSE). The low adherence of women of reproductive age in performing BSE indicates the need for targeted health education Purpose: To knowing knowledge and attitudes as determinants of women's compliance in carrying out breast self-examination. Method: A quantitative quasi-experimental design with a one-group pre-test post-test approach involving 67 women of reproductive age in Gonilan Village. The intervention was delivered through face-to-face counseling. The Wilcoxon test was used to assess the effect of the intervention, while the Chi-Square and Fisher Exact tests were used to examine variable relationships. Results: There was a significant increase in knowledge, attitude, and adherence scores after the intervention (p = 0.003). A significant association was also found between knowledge and adherence (p = 0.028) as well as between attitude and adherence (p = 0.043). Conclusion: Breast self-examination education is effective in improving early breast cancer detection behavior.   Keywords: Attitude; Breast Self-Examination; Compliance; Knowledge; Women.   Pendahuluan: Kanker payudara merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi pada wanita, namun dapat dicegah melalui deteksi dini seperti pemeriksaan payudara sendiri (Sadari). Rendahnya kepatuhan wanita usia subur dalam melakukan Sadari menunjukkan pentingnya edukasi kesehatan. Tujuan: Untuk mengetahui pengetahuan dan sikap sebagai penentu kepatuhan perempuan dalam melakukan pemeriksaan payudara sendiri. Metode: Kuantitatif dengan desain quasi-experiment tipe one group pre-test post-test pada 67 wanita usia subur di Desa Gonilan. Intervensi diberikan melalui penyuluhan tatap muka. Uji Wilcoxon digunakan untuk melihat pengaruh intervensi, sedangkan uji Chi-Square dan Fisher digunakan untuk melihat hubungan antar variabel. Hasil: Terdapat peningkatan skor pengetahuan, sikap, dan kepatuhan setelah edukasi dengan perbedaan signifikan (p = 0.003). Terdapat pula hubungan bermakna antara pengetahuan dengan kepatuhan (p = 0.028) serta antara sikap dengan kepatuhan (p = 0.043). Simpulan: Edukasi Sadari efektif meningkatkan perilaku deteksi dini kanker payudara.   Kata Kunci: Kepatuhan; Pemeriksaan Payudara Sendiri (Sadari); Pengetahuan; Perempuan; Sikap.
Analisis hubungan sumber informasi dengan pengetahuan komprehensif HIV pada wanita usia subur (WUS) Ningtiyas, Rosalinda Syafira Cahya; Deniati, Ema Novita; Supriyadi, Supriyadi; Ulfah, Nurnaningsih Herya
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1826

Abstract

Background: Comprehensive knowledge of HIV among women of reproductive age is one of the key factors in preventing HIV transmission. Comprehensive knowledge of HIV is thought to be influenced by sources of information. Purpose: To analyze the relationship between information sources and comprehensive knowledge among women of reproductive age. Method: This study is a quantitative observational analytical study with a cross-sectional design, using data from the 2012 and 2017 Indonesian Demographic and Health Surveys, with a sample of 34,222 respondents in the 2012 Indonesian Demographic and Health Surveys data and 39,545 respondents in the 2017 Indonesian Demographic and Health Surveys data. The analysis was conducted uniaviately to describe the frequency, bivariately using the chi-square test, and multivariately using multiple logistic regression analysis to control for confounding variables and obtain odds ratio (OR) values. Results: In 2012, women of reproductive age who obtained information from one source were 1.86 times more likely to have incomplete knowledge (p<0.001), and those with no source of information were 1.92 times more likely (p=0.017). In 2017, the same results were found with a 1.74 times higher chance (p<0.001) for one source of information and a 2.02 times higher chance (p=0.046) for those without any source of information. Conclusion: Incomplete knowledge among women of reproductive age was significantly associated with fewer sources of information received, with consistent results in 2012 and 2017.   Keywords: Comprehensive Knowledge; HIV; Information Sources; Women of reproductive age.   Pendahuluan: Pengetahuan komprehensif HIV pada wanita usia subur (WUS) menjadi salah kunci utama pencegahan penularan HIV. Pengetahuan komprehensif HIV diduga dipengaruhi oleh sumber informasi. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan sumber informasi dengan pengetahuan komprehensif HIV pada Wanita usia subur (WUS). Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif yang bersifat obervasional analitik dengan desain cross sectional menggunakan Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 dan 2017, dengan sampel sebanyak 34,222 responden pada data SDKI tahun 2012 dan 39,545 responden pada data SDKI tahun 2017. Analisis dilakukan secara univariat untuk memaparkan frekuensi, bivariat menggunakan uji Chi-square, dan multivariat menggunakan analisis regresi logistik berganda untuk mengontrol variabel perancu dan mendapatkan nilai odds ratio (OR). Hasil: Pada tahun 2012, WUS yang mendapatkan informasi dari satu sumber memiliki peluang 1.86 kali lebih tinggi untuk memiliki pengetahuan tidak komprehensif (p<0.001), dan yang tidak ada sumber informasi memiliki peluang 1.92 kali lebih tinggi (p=0.017). Pada tahun 2017, ditemukan hasil yang sama dengan peluang 1.74 kali lebih tinggi (p<0.001) pada satu sumber informasi dan 2.02 kali lebih tinggi  (p=0.046) pada yang tidak ada sumber informasi. Simpulan: Pengetahuan tidak komprehensif pada WUS secara signifikan berhubungan dengan semakin sedikitnya jumlah sumber informasi yang diterima, hasil tersebut konsisten pada tahun 2012 dan 2017.   Kata Kunci: Human Immunodeficiency Virus (HIV); Pengetahuan Komprehensif; Sumber Informasi; Wanita Usia Subur (WUS).
Gambaran derajat stres pada pasien tumor payudara Musani, Melda Ayu Amanda; Jaya, Muhammad Alim; Swarga, Tirta; Gani, Aziz Beru; Karsa, Nevi Sulvita
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1834

Abstract

 Background: The diagnosis and treatment of breast cancer pose significant psychological challenges, often leading to stress that can negatively impact patients' quality of life and recovery. Purpose: To determine the level of stress in breast cancer patients. Method: This study used a descriptive design with a cross-sectional approach and a sample of 70 respondents. Data collection used the Depression Anxiety Stress Scale-42 (DASS-42) stress measurement instrument. The collected data were processed and analyzed univariately using Microsoft Excel to display the frequency distribution and percentage of each stress category. Results: The majority of respondents (89%) experienced stress, with severe stress being the highest (36%), followed by moderate stress (24%). The largest proportion of respondents were in the 41–50 age group (23%), and the most common type of tumor was right breast cancer (31%). High levels of stress are related to the psychological impact of the diagnosis, changes in body image, and anxiety about treatment, which are often exacerbated by the multidimensional life burdens of middle adulthood. Conclusion: Breast tumor patients experience a high prevalence of stress, with severe stress being the most prevalent. Suggestion: Holistic patient management is needed, integrating psychosocial interventions and medical therapy to improve overall patient well-being.   Keywords: Breast Tumor;Right Breast Tumor; Stress Level.   Pendahuluan: Diagnosis dan pengobatan tumor payudara menimbulkan tantangan psikologis yang signifikan, seringkali menyebabkan stres yang dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup dan proses pemulihan pasien. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran derajat stres pada pasien tumor payudara. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional dan sampel yang digunakan sejumlah 70 responden. Pengumpulan data menggunakan instrumen pengukuran stres Depression Anxiety Stress Scale-42 (DASS-42). Data yang terkumpul diolah dan dianalisis secara univariat menggunakan microsoft excel untuk menampilkan distribusi frekuensi dan persentase setiap kategori stres. Hasil: Menunjukkan bahwa sebagian besar responden (89%) mengalami stres, dengan kategori stres berat sebagai yang tertinggi (36%), diikuti stres sedang (24%). Proporsi terbesar responden berada pada kelompok usia 41–50 tahun (23%), dan jenis tumor yang paling sering ditemukan adalah Tumor Mamma Dextra (31%). Tingginya tingkat stres berkaitan dengan dampak psikologis dari diagnosis, perubahan citra tubuh, serta kecemasan terhadap pengobatan yang sering diperburuk oleh beban kehidupan multidimensi pada masa dewasa madya. Simpulan: Pasien tumor payudara mengalami prevalensi stres yang tinggi dengan kategori stres berat sebagai yang paling dominan. Saran: Diperlukan manajemen pasien secara holistik dengan mengintegrasikan intervensi psikososial dan terapi medis untuk meningkatkan kesejahteraan pasien secara menyeluruh.   Kata Kunci: Derajat Stres; Tumor Mamma Dextra; Tumor Payudara.
Efektivitas edukasi berbasis self-efficacy terhadap peningkatan pengetahuan dan perawatan kaki diabetes mellitus tipe 2 Nada, Depira Elza; Astika, Tria; Rayasari, Fitrian
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1842

Abstract

Background: Type 2 diabetes mellitus (DM) is a chronic disease that can cause serious complications, one of which is diabetic foot ulcers. Lack of knowledge and practice of proper foot care increases the risk of ulcers leading to amputation. Therefore, an educational strategy is needed that not only provides information, but also increases the patient's confidence in performing foot care independently. Purpose: To determine the effect of self-efficacy-based education on improving the knowledge and practice of foot care of type 2 DM patients. Method: A quasi-experimental with a pre-test and post-test with control group approach. The sample of this study were all patients with diabetes mellitus in the Panongan health center working area with a total sample of 42 respondents, divided into the intervention group (self-efficacy-based education) and the control group (education with leaflets). The research instruments used diabetic foot care knowladge, footcare confidence scale, and foot care behavior scale. Data analysis using paired t-test and independent t-test. Results: A significant increase in knowledge (P=0.001), self-efficacy (P=0.000), and foot care behavior (P=0.001) in the intervention group compared to the control group. Conclusion Self-efficacy-based education is effective in improving knowledge and foot care of patients with type 2 diabetes.   Keywords: Diabetes Mellitus; Diabetic Foot; Health Education; Self Efficacy.   Pendahuluan: Diabetes Mellitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit kronis yang dapat menyebabkan komplikasi serius, salah satunya adalah ulkus kaki diabetik. Kurangnya pengetahuan dan praktik perawatan kaki yang tepat meningkatkan risiko terjadinya ulkus yang berujung pada amputasi. Oleh karena itu, diperlukan strategi edukasi yang tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri pasien dalam melakukan perawatan kaki secara mandiri. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh edukasi berbasis self-efficacy terhadap peningkatan pengetahuan dan praktik perawatan kaki pasien DM tipe 2. Metode: Quasi-experimental dengan pendekatan pre-test and post-test with control group. Sampel penelitian ini adalah seluruh pasien diabetes mellitus di wilayah kerja puskesmas Panongan dengan jumlah sampel 42 responden, dibagi dalam kelompok intervensi (edukasi berbasis self-efficacy) dan kelompok kontrol (edukasib dengan leflet). Instrumen penelitian menggunakan diabetic foot care knowladge, footcare confidence scale, dan foot care behavioor scale dan lembar observasi. analisis data menggunakan uji paired t-test dan independent t-test. Hasil: Peningkatan signifikan pada pengetahuan (p=0.001), self-efficacy (p=0.000), dan perilaku perawatan kaki (p=0.001) pada kelompok intervensi dibanding kontrol. Simpulan Edukasi berbasis self-efficacy efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan perawatan kaki pasien DM tipe 2.   Kata Kunci: Diabetes Mellitus; Edukasi Kesehatan; Kaki Diabetik; Self Efficacy.