cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 402 Documents
Penerapan media high impact imagery booklet untuk panduan pembuatan menu gizi seimbang bagi ibu balita Alma, Lucky Radita; Ulfa, Nurnaningsih Heryah; Rahmawati, Indana Tri; Syahrani, Rizky Aura; Rusalam, Grevilla Deva Salsabela; Maulida, Nalaina Izzaty; Nuraziizah, Nida’a Astie; Novitasari, Zahra Rizki; Amanda, Dian; Maulida, Marshanda Rachma; Wardani, Fransisca Puspita
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1980

Abstract

Background: Malnutrition in toddlers, particularly stunting, remains a serious health problem in Indonesia. Data from the 2018 Basic Health Research (Riskesdas) showed that 30.8% of toddlers experienced stunting, while 6.2% of babies were born with low birth weight. Causal factors stem not only from economic conditions but also from parents' lack of knowledge about balanced nutrition, appropriate parenting patterns, and the persistence of myths and misconceptions. To address this problem, effective educational media are needed, one of which is through a communicative, visual-based booklet. Purpose: To develop and test the application of a high-impact imagery booklet as a guide to creating balanced nutritional menus for mothers of toddlers. Method: This research and development (R&D) study used the ADDIE model, encompassing the stages of Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. The pre-experimental research design included a pre-test and post-test on 65 mothers of toddlers. Data analysis was conducted to assess the increase in participants' knowledge regarding child nutrition following the HII-Book intervention. Results: The resulting product, the HII-Book, contains a balanced nutrition guide, sample menus, and engaging illustrations. The trial showed an increase in knowledge among mothers of toddlers, with 57.9% of mothers in the good category before the intervention. After the intervention, the good category increased to 78%. Participants also responded positively to the HII-Book-based outreach activities, nutrition consultations, and cooking demonstrations. Conclusion: The HII-Book educational media has proven effective in increasing mothers of toddlers' knowledge and understanding of balanced nutrition. This program can serve as a reference for public health interventions to prevent stunting and support the implementation of healthier parenting patterns within the family environment.   Keywords: Balanced Nutrition Menu; High Impact Imagery Booklet (HII-Book); Mothers; Toddlers.   Pendahuluan: Kekurangan gizi pada anak balita, khususnya stunting, masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukkan 30.8% balita mengalami stunting, sementara 6.2% bayi lahir dengan berat badan rendah. Faktor penyebab tidak hanya berasal dari kondisi ekonomi, tetapi juga kurangnya pengetahuan orang tua mengenai gizi seimbang, pola asuh yang tepat, serta masih adanya mitos dan kepercayaan keliru. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan media edukasi yang efektif, salah satunya melalui booklet berbasis visual yang komunikatif. Tujuan: Untuk mengembangkan dan menguji penerapan media high impact imagery booklet untuk panduan pembuatan menu gizi seimbang bagi ibu balita. Metode: Penelitian Research and Development (R&D) dengan model ADDIE, meliputi tahap Analyze, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Desain penelitian pre-eksperimental dilakukan dengan pre-test dan post-test pada 65 ibu balita. Data analisis untuk menilai peningkatan pengetahuan peserta terkait gizi anak setelah intervensi dengan HII-Book. Hasil: Produk yang dihasilkan berupa HII-Book berisi panduan gizi seimbang, menu contoh, dan ilustrasi menarik. Uji coba menunjukkan peningkatan pengetahuan ibu balita, sebelum intervensi termasuk dalam kategori baik sebesar 57.9%. Setelah intervensi, kategori baik meningkat menjadi 78.%. Respon peserta juga positif terhadap kegiatan sosialisasi, konsultasi gizi, dan demo masak berbasis HII-Book. Simpulan: Media edukasi HII-Book terbukti efektif meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ibu balita tentang gizi seimbang. Program ini dapat menjadi acuan intervensi kesehatan masyarakat untuk pencegahan stunting serta mendukung penerapan pola asuh yang lebih sehat di lingkungan keluarga.   Kata Kunci: Balita; Ibu; High Impact Imagery Booklet (HII-Book); Menu Gizi Seimbang.  
Studi komparasi metode pemadaman kebakaran dalam upaya meningkatkan pengetahuan, perilaku, dan keterampilan masyarakat pada pekerja pemulung Ro’is, Rachmy Rosyida; Lenggono, Kumoro Asto; Badriyah, Lulu’ul; Pramudya, Dandy Arie; Sucita, Ni Made Dwi Astini; Bahari, Bima Sutan Putra; Rachmanissa, Tiara; Sari, Siti Sartika
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1981

Abstract

Background: Residential fires pose a serious threat to public safety and health, especially in densely populated areas, such as Pemulung Pulosari Village, Malang City. The increased risk of loss of life and property demands increased fire preparedness at the community level. Purpose: To compare the effectiveness of firefighting education and simulations using conventional and modern methods in improving community knowledge, behavior, and skills in fire-prone areas. Method: This study used a quasi-experimental approach with a pre-test and post-test design without a control group, involving 36 participants. The intervention was carried out in the form of interactive digital media-based education and live firefighting simulations using conventional (burlap sacks, sand, soil) and modern (fire extinguishers, hydrants, fire blankets) methods in accordance with Occupational Safety and Health (K3) principles. Data analysis was performed using the chi-square test. Results: The majority of residents still have insufficient knowledge of modern methods (52.8%), while knowledge of conventional methods is more balanced. Community behavior is evenly divided between appropriate and inappropriate. Simulation skills varied, with 38.8% of participants not participating in any simulations at all. Chi-square analysis revealed no significant relationship between knowledge and simulation skills, using either modern or conventional methods. Conclusion: These findings suggest that knowledge alone is not sufficient; practical skills require repeated practice and hands-on experience. This study emphasizes the importance of ongoing community-based education programs, emphasizing practice and active participation, to build effective and safe fire preparedness.   Keywords: Comparative Study; Behavior; Community Skills; Firefighters; Knowledge; Scavengers.   Pendahuluan: Kebakaran pemukiman merupakan ancaman serius bagi keselamatan dan kesehatan masyarakat, terutama di kawasan padat penduduk, seperti Kampung Pemulung Pulosari, Kota Malang. Meningkatnya risiko kerugian jiwa dan material menuntut peningkatan kesiapsiagaan kebakaran di tingkat komunitas. Tujuan: Untuk membandingkan efektivitas edukasi dan simulasi pemadaman kebakaran menggunakan metode konvensional dan modern dalam meningkatkan pengetahuan, perilaku, serta keterampilan masyarakat di wilayah rawan kebakaran. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuasi-eksperimen dengan desain pre-test dan post-test tanpa kelompok kontrol, melibatkan 36 peserta. Intervensi dilakukan dalam bentuk edukasi interaktif berbasis media digital dan simulasi langsung pemadaman api menggunakan metode konvensional (karung goni, pasir, tanah) dan modern (APAR, hydrant, fire blanket) sesuai prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square. Hasil: Mayoritas masyarakat masih memiliki pengetahuan buruk tentang metode modern (52.8%), sedangkan pengetahuan tentang metode konvensional lebih seimbang. Perilaku masyarakat terbagi rata antara baik dan kurang tepat. Keterampilan simulasi bervariasi, dengan 38.8% peserta tidak mengikuti simulasi sama sekali. Analisis Chi-Square mengungkapkan tidak terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dan keterampilan simulasi, baik metode modern maupun konvensional. Simpulan: Temuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan saja tidak cukup, keterampilan praktis memerlukan latihan berulang dan pengalaman langsung. Penelitian ini menekankan pentingnya program edukasi berbasis komunitas yang berkelanjutan, mengutamakan praktik dan partisipasi aktif, untuk membangun kesiapsiagaan kebakaran yang efektif dan aman.   Kata Kunci: Keterampilan Masyarakat; Pemadaman Kebakaran; Pengetahuan; Perilaku; Pekerja Pemulung; Studi Komparasi.
Digitalisasi sistem informasi database penilaian 25 kemampuan dasar kader posyandu Rabbani, Muhammad Fahmi; Rachmawati, Windi Chusniah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1982

Abstract

Background: Capacity building for Integrated Health Post cadres is crucial to support Primary Service Integration in Malang City. However, as of 2024, training and assessment of basic cadre skills have not been fully implemented. This is partly due to the lack of a platform for recording cadre assessments, which currently uses inefficient manual methods. Purpose: To develop the digitalization of the database information system for assessing 25 basic capabilities of integrated service post cadres. Method: Research and Development (R&D), including needs analysis, media design, validation, revision, and pilot testing. The sample for this study was 37 health promotion officers from 16 community health centers in Malang City. Results: Media validation by experts demonstrated very high feasibility (96.25%), while large-group testing demonstrated an average feasibility of 80.98%. This database enables real-time, accurate, and integrated data recording, facilitating monitoring, verification, and decision-making. Conclusion: The cadre assessment database is feasible and can significantly improve the efficiency and effectiveness of integrated health post cadre training, as well as support the achievement of Primary Service Integration targets in Malang City. Suggestion: Revalidation of the calculation formulas in the database is necessary to ensure data accuracy. Further research is recommended to assess the long-term effectiveness of this digital medium by comparing conditions before and after digitization.   Keywords: 25 Basic Skills; Assessment Database; Digitalization; Integrated Health Post Cadres; Information Systems.   Pendahuluan: Peningkatan kapasitas kader Posyandu menjadi penting untuk mendukung Integrasi Layanan Primer (ILP) di Kota Malang. Namun, hingga 2024, pelatihan dan penilaian kemampuan dasar kader belum sepenuhnya berjalan optimal. Hal ini terjadi salah satunya karena belum tersedianya media untuk melakukan pencatatan penilaian kader yang selama ini masih menggunakan metode manual yang tidak efisien. Tujuan: Untuk mengembangkan digitalisasi sistem informasi database penilaian 25 kemampuan dasar kader posyandu. Metode: Research and Development (R&D), yang mencakup analisis kebutuhan, desain media, validasi, revisi, hingga uji coba. Sampel dari penelitian ini adalah petugas promosi kesehatan dengan jumlah 37 responden dari 16 puskesmas di Kota Malang. Hasil: Validasi media oleh para ahli menunjukkan kelayakan yang sangat tinggi (96.25%), sedangkan uji kelompok besar menunjukkan rata-rata kelayakan sebesar 80.98%. Basis data ini memungkinkan pencatatan data secara real-time, akurat, terintegrasi, serta memudahkan fungsi pemantauan, verifikasi, dan pengambilan keputusan. Simpulan: Database penilaian kader layak digunakan dan dapat secara signifikan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelatihan kader Posyandu, serta mendukung pencapaian target Integrasi Layanan Primer (ILP) di Kota Malang. Saran: Perlu dilakukan validasi ulang terhadap formula perhitungan dalam database guna memastikan akurasi data. Penelitian lanjutan disarankan untuk menilai efektivitas media digital ini dalam jangka panjang dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah digitalisasi.   Kata Kunci: 25 Kemampuan Dasar; Database Penilaian; Digitalisasi; Kader Posyandu; Sistem Informasi.
Preferensi dan pola konsumsi sayur dan buah pada remaja Badriyah, Lulu’ul; Paramita, Farah; Lenggono, Kumoro Asto; Veronica, Shanica Yohana; Indrayati, Alifia Meida; Gustawan, Randy
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1983

Abstract

Background: Fruit and vegetable consumption is an important factor in a balanced nutritional pattern that supports adolescent health. However, consumption and preference for fruit and vegetables in Indonesia, especially among adolescents, are still low and do not meet the WHO recommendation of 400 grams per day. This study was conducted to determine fruit and vegetable preferences and consumption patterns among adolescents in East Java. Purpose: To determine fruit and vegetable preferences and consumption patterns among adolescents. Methods: This study used a cross-sectional study design with a sample of 132 high school students in four regencies/cities in East Java, selected using purposive sampling. The instruments used were questionnaires and food frequency questionnaires (FFQs). Data were analyzed descriptively using univariate analysis. Results: Adolescents preferred spinach the most (mean = 3.50 ± 0.59) and bitter melon the least (mean = 1.67 ± 0.78). The top favorite vegetables were spinach, carrots, broccoli, kale, and cucumber, with regional variations: carrots in Batu City and Malang Regency, and spinach in Pasuruan Regency and Malang City. Among fruits, mango ranked highest (mean = 3.82 ± 0.52) and passion fruit lowest (mean = 2.91 ± 0.89). Mango was the favorite fruit in three regions, followed by apples in Pasuruan Regency, while langsat and passion fruit were consistently less popular across all regions. Conclusion: The most popular vegetable among adolescents was spinach, while the least popular was bitter melon. The most popular fruit among adolescents was mango, while the least popular was passion fruit. Education regarding vegetables and fruits, as well as innovations in various processed products, are needed to increase preferences and diversity in fruit and vegetable consumption.   Keywords: Adolescents; Consumption Patterns; Fruit; Preferences; Vegetables.   Pendahuluan: Konsumsi sayur dan buah merupakan faktor penting dalam pola gizi seimbang yang mendukung kesehatan remaja. Namun, konsumsi dan preferensi terhadap sayur dan buah di Indonesia, khususnya di kalangan remaja, masih rendah dan belum memenuhi rekomendasi WHO sebesar 400 gram per hari. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui preferensi dan pola konsumsi sayur dan buah pada remaja di Jawa Timur. Tujuan: Untuk mengetahui preferensi dan pola konsumsi sayur dan buah pada remaja. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sampel 132 siswa SMA di 4 Kabupaten/Kota Jawa Timur yang diambil secara pusposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dan formulir food frequency questionnaire (FFQ). Data dianalisis secara deskripti menggunakan analisis univariat. Hasil: Remaja paling menyukai bayam (mean = 3.50 ± 0.59) dan paling tidak menyukai pare (mean = 1.67 ± 0.78). Sayuran favorit utama adalah bayam, wortel, brokoli, kangkung, dan timun, dengan variasi wilayah: wortel di Kota Batu dan Kabupaten Malang, serta bayam di Kabupaten Pasuruan dan Kota Malang. Pada buah, mangga menempati peringkat tertinggi (mean=3.82 ± 0.52) dan markisa terendah (mean=2.91 ± 0.89). Mangga menjadi buah favorit di tiga wilayah, sedangkan apel di Kabupaten Pasuruan, sementara duku dan markisa konsisten kurang disukai di seluruh wilayah. Simpulan: Sayuran yang paling disukai remaja adalah bayam dan tidak disukai adalah pare. Buah-buahan yang paling disukai remaja adalah mangga dan tidak disukai adalah markisa. Diperlukan edukasi terkait sayur dan buah serta inovasi berbagai olahan sayur dan buah untuk meningkatkan preferensi dan keberagaman konsumsi sayur dan buah.   Kata Kunci: Buah; Pola Konsumsi; Preferensi; Remaja; Sayur.
Analisis pengetahuan, sikap, dan perilaku bahaya makanan yang mengadung mikroplastik Lenggono, Kumoro Asto; Paramita, Farah; Badriyah, Lulu’ul
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Microplastics, plastic particles measuring less than 5 mm, are increasingly found in various types of food, particularly seafood, salt, drinking water, and processed products. The presence of microplastics in the food chain raises serious concerns for human health. Preliminary evidence suggests that exposure to microplastics through food poses a risk to human health. Purpose: To analyze knowledge, attitudes, and behavior regarding the dangers of foods containing microplastics. Method: This quantitative study used a survey approach among 126 children in grades 1-6 of SD 02 Mojorejo. A Google Forms questionnaire was used to assess children's knowledge, attitudes, and eating behavior regarding the dangers of foods containing microplastics. Data processing and analysis were performed using STATA. Results: There was no significant relationship between children's knowledge, attitudes, and eating behavior regarding the dangers of foods containing microplastics, with p-values ​​of 0.252 and 0.109 (>0.05). Conclusion: There was no significant relationship between children's knowledge, attitudes, and behavior regarding the dangers of foods containing microplastics.   Keywords: Attitudes; Behavioral Hazards; Food; Knowledge; Microplastics.   Pendahuluan: Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari 5 mm, semakin banyak ditemukan dalam berbagai jenis makanan, terutama makanan laut, garam, air minum, dan produk olahan. Keberadaan mikroplastik dalam rantai makanan menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kesehatan manusia. Bukti awal menunjukkan bahwa paparan kronis terhadap mikroplastik melalui makanan berisiko terhadap kesehatan manusia. Tujuan: Untuk menganalisis pengetahuan, sikap, dan perilaku bahaya makanan yang mengadung mikroplastik. Metode: Penelitian kauntitatif menggunakan pendekatan survei pada anak kelas 1- 6 SD 02 Mojorejo sejumlah 126 anak menggunakan aplikasi google formulir form kusioner yang meliputi kusioner pengetahuan, sikap dan perilaku makan anak tentang bahaya makanan yang mengandung mikroplastik. Pengolahan dan analisis data penelitian menggunakan aplikasi STATA. Hasil: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahun, dengan sikap dan perilaku makan anak tentang bahaya makanan mengandung mikroplastik pada anak dengan koefesien p-value 0.252 dan 0.109 (> 0.05). Simpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan sikap dan perilaku anak tentang bahaya makanan yang mengandung mikroplastik.   Kata Kunci: Makanan; Mikroplastik; Pengetahuan; Perilaku Bahaya; Sikap.
Pengembangan media poster 3d santri cerdas tangkal skabies (Sakti) terintegrasi nilai thaharah Izzanti, Sabrina Faza; Rachmawati, Windi Chusniah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1985

Abstract

Background: Scabies remains a contagious skin disease that frequently occurs in Islamic boarding school environments. Good personal hygiene can help maintain health and prevent the manifestation of diseases, including scabies. In Indonesia, scabies has a high prevalence rate, ranging from 5.6% to 12.95%. Purpose: This study aims to examine the effectiveness of 3D posters in increasing knowledge and motivation about scabies. Methods: The research employed a Research and Development (R&D) method with a pre-experimental approach using a one-group pretest-posttest design. A total of 98 junior high school students from Al-Muflihun Islamic Boarding School participated in this study, selected using a total sampling technique. The research instrument consisted of a closedended questionnaire with 20 items to measure knowledge and 10 items to measure motivation. Results: The 3D poster product received a media feasibility score of 93.3% and a content feasibility score of 96.8%, indicating it is highly suitable for use. The results of the study, following the intervention, revealed a significant effect of health education using 3D posters on students' knowledge and motivation regarding scabies, with a p-value = 0.000 (p < 0.05) based on the Wilcoxon test. Conclusion: The conclusion of this study there was an increase in students’ knowledge after the intervention, from the “moderate” category (57.3%) to the “good” category (94.1%). The students’ motivation in carrying out prevention tended to be in the “high” category (58.8%), with the average score increasing from 30.64 to 35.55. The use of the 3D Poster health promotion media in this study was able to improve the students’ knowledge and motivation.
Inovasi biofon sebagai upaya pemanfaatan limbah lindi tempat pembuangan akhir (TPA) dan molase menjadi rehabilitator tanah Humairo, Mika Vernicia; Nizar, Qonita Qotrunnada; Novitasari, Zahra Rizki; Safira, Revina
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1986

Abstract

Background: The problem of organic waste in landfills, particularly in Malang City, remains a serious challenge in maintaining environmental quality and public health. The volume of waste in Malang City reaches 778.38 tons per day, and it remains unprocessed. The decomposing organic waste produces leachate, which contains hazardous pollutants but also has the potential to be a source of nutrients. Purpose: To develop biophones as an effort to utilize landfill leachate and molasses as a soil rehabilitator. Method: A laboratory experiment was conducted by mixing leachate, molasses, and EM4, which were fermented for 21 days. The resulting fermentation was then tested for nutrient content in the laboratory. Results: The organic carbon (0.89%), nitrogen (0.02%), potassium (0.10%), and pH (5.1) content did not meet the minimum standards for liquid organic fertilizer (POC), but they had considerable potential as soil amendments. The content of microelements, such as manganese (24 ppm), showed a contribution to soil quality. Conclusion: Biofon has the potential to improve soil chemical properties, particularly pH. Further development is recommended, including the addition of carbon-, nitrogen-, and phosphorus-rich materials, as well as application testing on various soil types to ensure its effectiveness and safety.   Keywords: Biofon; Final Disposal Site; Leachate; Molasses; Soil Rehabilitation.   Pendahuluan: Permasalahan sampah organik di Tempat Pembuangan Sampah (TPS), khususnya di Kota Malang masih menjadi tantangan serius dalam menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Jumlah sampah di Kota Malang mencapai 778.38 ton per hari dan tidak terolah setiap harinya. Sampah organik yang membusuk menghasilkan cairan lindi (leachate) yang mengandung bahan pencemar berbahaya, namun juga memiliki potensi sebagai sumber unsur hara.  Tujuan: Untuk mengembangkan biofon sebagai upaya pemanfaatan limbah lindi tempat pembuangan akhir (TPA) dan molase menjadi rehabilitator tanah. Metode: Penelitian eksperimen laboratorium dengan mencampurkan lindi, molase, dan EM4, difermentasi selama 21 hari. Hasil fermentasi kemudian diuji kandungan unsur haranya di laboratorium.  Hasil: Kandungan C-organik (0.89%), nitrogen (0.02%), kalium (0.10%), dan pH (5.1) belum memenuhi standar minimal pupuk organik cair (POC), namun cukup potensial sebagai pembenah tanah. Kandungan unsur mikro seperti mangan (24 ppm) menunjukkan kontribusi terhadap kualitas tanah. Simpulan: Biofon berpotensi memperbaiki sifat kimia tanah, khususnya pH. Pengembangan lanjutan disarankan dengan penambahan bahan kaya karbon, nitrogen, dan fosfor, serta uji aplikatif pada berbagai jenis tanah untuk memastikan efektivitas dan keamanannya.   Kata Kunci: Biofon; Limbah Lindi; Molase; Rehabilitator Tanah; Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Manajemen risiko dengan metode hazard identification risk assessment and determining control aspect impact (HIRADC-AI) pada pekerja pengepul dan pemulung Ro’is, Rachmy Rosyida; Sulistyorini, Anita; Laksana, Dian Puspitaningtyas; Pramudya, Dandy Arie; Sucita, Ni Made DwiAstini; Bahari, Bima Sutan Putra; Rachmanissa, Tiara
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1987

Abstract

Background: Pulosari Scavenger Village is a densely populated settlement located along the railway tracks. Most residents work as scavengers and scrap metal collectors in a scrap metal warehouse. Therefore, Pulosari Scavenger Village poses potential hazards for workers and the community. Purpose: To identify hazards and control occupational health and safety risks. Method: This was a descriptive observational study using a cross-sectional design, documentation, interviews, and analysis using the Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control - Aspect Impact (HIRADC-AI) method, conducted directly at each work stage in Pulosari Scavenger Village. Results: The total number of hazards identified from eight work activities with potential hazards was 52, consisting of six high-risk, 36 medium-risk, and eight low-risk. The hierarchy of controls represents a potential hazard control strategy in Pulosari Scavenger Village, primarily through administrative controls and the use of personal protective equipment. Conclusion: The main sources of hazards include chemical exposure, poor ergonomic practices, unorganized working conditions, lack of personal protective equipment (PPE), and inadequate infrastructure. The most feasible risk control measures are administrative controls and consistent use of PPE, while elimination and substitution are not feasible due to the nature of the work.   Keywords: Collectors; Hazard Identification Risk Assessment And Determining Control Aspect Impact (HIRADC-AI); Risk Management; Scavengers.   Pendahuluan: Kampung pemulung merupakan salah satu pemukiman padat penduduk yang terletak di bantaran rel kereta api. Masyarakat kampung pemulung rata-rata memiliki pekerjaan sebagai pemulung dan pengepul barang bekas pada gudang besi tua. Sehingga, kampung pemulung memiliki potensi bahaya untuk pekerja dan masyarakat pada kampung tersebut. Tujuan: Untuk mengidentifikasi bahaya dan pengendalian risiko keselamatan dan kesehatan kerja. Metode: Penelitian observasional deskriptif dengan desain cross sectional, dokumentasi, wawancara serta analisis menggunakan metode Hazard Identification Risk Assessment and Determining Control - Aspect Impact (HIRADC-AI) yang dilakukan secara langsung pada setiap tahapan pekerjaan pada kampung pemulung Pulosari. Hasil:  Jumlah risiko bahaya dari 8 aktivitas pekerjaan dengan potensi bahaya sebanyak 52, yang terdiri 6 potensi risiko tinggi, 36 potensi risiko sedang, dan 8 potensi risiko rendah. Hierarki kontrol merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan potensi bahaya pada Kampung Pemulung Pulosari, terutama pada upaya pengendalian administratif dan penggunaan alat pelindung diri.  Simpulan: Sumber utama bahaya meliputi paparan bahan kimia, praktik ergonomi yang buruk, kondisi kerja yang tidak tertata, kurangnya penggunaan alat pelindung diri (APD), serta infrastruktur yang tidak memadai. Upaya pengendalian risiko yang paling memungkinkan dilakukan adalah pengendalian administratif dan penggunaan APD secara konsisten, sementara eliminasi dan substitusi tidak dapat diterapkan karena sifat pekerjaan tersebut.   Kata Kunci: Hazard Identification Risk Assessment And Determining Control Aspect Impact (HIRADC-AI); Manajemen Risiko; Pemulung; Pengepul.
Evaluasi pelaksanaan pemantauan early warning score di tatanan perawatan medikal bedah Christina, Tri Yahya; Putri, Rosalia Dian Arsyta; Safaruddin, Safaruddin; Sriwiyati, Lilik; Andika, I Putu Juni; Yulianti, Tunjung Sri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.1990

Abstract

Background: Deterioration in the condition of hospitalized patients is common and can have a more serious prognosis. Therefore, accurate and continuous monitoring of vital signs is crucial. The Early Warning Score (EWS) was developed as an effort to detect deterioration in patient condition early. Comprehensive and continuous EWS parameters, supported by clear implementation standards, are expected to save patients from deteriorating conditions. However, in medical-surgical care practices in Indonesia, the implementation of EWS monitoring still faces various obstacles that have the potential to delay early detection of patient deterioration, thus impacting patient safety. Therefore, an evaluation is needed. Purpose: To evaluate the implementation of Early Warning Score (EWS) monitoring in medical-surgical care settings. Method: This is a mixed-methods study with an exploratory sequential design. The sample consisted of 130 medical records and eight nurses who met the inclusion criteria. The medical record data obtained were analyzed using univariate analysis, while interview results were analyzed using content analysis. Results: The completeness of the EWS form remained at 44%, the accuracy of monitoring frequency was 12%, and the accuracy of the total score calculation was 3.8%. Several parameters contributing to the low level of form completeness include: blood sugar, which yielded a relatively low score (65%), followed by monitoring date (75%), level of consciousness (84%), monitoring frequency (86%), escalation scale (88%), initials (88%), blood pressure (89%), total score (89%), and suboptimal temperature (90%). These results align with the interview results, which yielded four themes: monitoring compliance, documentation compliance, appropriateness of temperature parameters, and non-specific EWS forms. Conclusion: Implementation of EWS monitoring in medical-surgical care settings still faces challenges that impact the effectiveness of the early warning system for patient deterioration. The study findings indicate a potential need for updating and/or developing the EWS system to meet hospital needs.   Keywords: Documentation; Early Warning System; Medical Surgical Nursing; Monitoring.   Pendahuluan: Penurunan kondisi pasien di rawat inap sering terjadi, bahkan memiliki proknosis yang lebih serius. Oleh sebab itu, pemantauan tanda-tanda vital yang akurat dan berkesinambungan sangat diperlukan. Early Warning Score (EWS) dikembangkan sebagai upaya untuk mendeteksi perburukan kondisi pasien sejak dini. Parameter EWS yang lengkap dan berkesinambungan yang didukung dengan standar implementasi yang jelas, diharapkan mampu menyelamatkan pasian dari kondisi yang lebih buruk. Namun, dalam praktik perawatan medikel bedah di Indonesia, pelaksanaan pemantauan EWS masih menghadapi berbagai kendala yang berpotensi menunda deteksi dini perburukan kondisi pasien yang berdampak pada keselamatan pasien. Oleh karena itu, evaluasi diperlukan. Tujuan: Untuk mengevaluasi pelaksanaan pemantauan Early Warning Score (EWS) dalam tatanan perawatan medikal bedah. Metode: Penelitian mixed-method dengan explanatory sequential design. 130 rekam medis dan 8 perawat yang sesuai kriteria inklusi diambil sebagai sampel. Data rekam medis yang diperoleh diolah secara univariat, sedangkan hasil wawancara diolah berdasar metode content analysis. Hasil: Kelengkapan pengisian formulir EWS masih mencapai 44%, ketepatan frekuensi monitoring 12%, dan ketepatan perhitungan total skor 3.8%. Beberapa parameter yang menyebabkan rendahnya tingkat kelengkapan pengisian formulir antara lain: parameter gula yang memberikan angka cukup rendah (65%), diikuti oleh tanggal pengjakian (75%), tingkat kesadaran (84%), frekuensi monitor (86%), skala eskalasi (88%), inisial (88%), tekanan darah (89%), total skor (89%), serta parameter suhu yang belum optimal (90%). Hasil ini sejalan dengan hasil wawancara yang menghasilkan 4 tema, yaitu kepatuhan pemantauan, kepatuhan dokumentasi, kesesuaian parameter suhu, dan formulir EWS yang tidak spesifik. Simpulan: Implementasi pemantauan EWS di tatanan praktik perawatan medikal bedah masih menghadapi tantangan yang memengaruhi efektivitas sistem peringatan dini perburukan pasien. Hasil penelitian menunjukkan adanya potensi kebutuhan pembaharuan dan atau pengembangan sistem EWS sesaui kebutuhan rumah sakit.   Kata Kunci: Dokumentasi; Early Warning Score; Medikal Bedah; Pemantauan; Perawatan.
Efektivitas kotoran ternak sebagai aktivator pupuk organik dalam mereduksi limbah blotong tebu Al-Irsyad, Muhammad; Kurniawan, Agung; Aini, Rosiana Fadilatul; Adji, Lanang Laksita; Lumitasari, Sherly Dia; Aini, Febrianty Quratul; Rahmadita, Fariza Eky Putri; Ramadhan, Alfaka
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.2004

Abstract

Background: Livestock farming in Malang Raya has been carried out in line with the increasing public awareness of the nutritional value of animal protein. Not infrequently, livestock commodities are sold to other cities, ensuring a consistent abundance of livestock farms in Malang. However, livestock farming generates various types of waste, leading to concerns and potential pollution in various sectors. Therefore, the utilization of livestock waste, such as manure and sugarcane bagasse, as organic fertilizer can have a positive impact on the environment. Purpose: To determine the effectiveness of livestock manure as an organic fertilizer activator in reducing sugarcane bagasse waste. Methods: A quantitative experimental research design using a posttest-only control group design through laboratory testing of fertilizer quality. Organic fertilizer production was carried out using the takakura composting method with aeration in fertilizer piles. Results: The mixture of sugarcane bagasse waste and manure as a bioactivator was effective in meeting the physical characteristics of organic fertilizer. Furthermore, the mixture of sugarcane bagasse waste and manure as a bioactivator met the nutrient quality of solid organic fertilizer in all parameters. The most effective composition of the mixture of sugarcane bagasse waste and manure activators in producing high-quality fertilizer was a mixture of 15% cow manure, 15% chicken manure, 60% sugarcane bagasse waste, and 10% finished compost. Conclusion: A mixture of sugarcane bagasse waste with cow and chicken manure as a bioactivator has proven to be effective as an organic fertilizer with the mixture composition being the most effective.