cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 402 Documents
Aspek gender dalam pola asupan gizi ibu hamil dan menyusui Angraeni, Fitri; Apriningsih, Apriningsih
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.2005

Abstract

Background: Pregnancy and breastfeeding are among the most critical phases in a woman’s life cycle, during which nutritional needs increase significantly to support maternal health, fetal growth, and child development. One cultural factor contributing to nutritional problems among pregnant and breastfeeding women is gender inequality within households and society. Purpose: To explore gender-related aspects in the dietary patterns of pregnant and breastfeeding women. Method: This qualitative study employed a phenomenological design through in-depth interviews with eight informants, consisting of pregnant and breastfeeding women. Data analysis was conducted thematically to identify research themes. Results: Three main themes emerged from the study, namely changes in dietary patterns during pregnancy and breastfeeding, the role of gender in household food decision-making, and the impact of eating patterns on maternal and infant health. Conclusion: Gender inequality within the household has the potential to hinder optimal nutrition fulfillment for pregnant and breastfeeding women. Nutritional interventions should involve husbands and extended family members to ensure comprehensive support for maternal health.   Keywords: Breastfeeding; Diet; Gender; Nutrition; Pregnant Women.   Pendahuluan: Kehamilan dan menyusui merupakan suatu fase paling kritis pada siklus kehidupan seorang perempuan, sehingga kebutuhan terkait dengan gizi meningkat secara signifikan untuk menunjang kesehatan ibu, pertumbuhan janin, dan anak. Faktor budaya yang berkontribusi terhadap masalah gizi pada ibu hamil dan mneyusui salah satunya adalah adanya ketidaksetaraan gender dalam rumah tangga dan masyarakat. Tujuan: Untuk mengetahui aspek gender dalam pola asupan gizi ibu hamil dan menyusui. Metode: Penelitian kualitatif dengan desain fenomenologi melalui wawancara mendalam terhadap 8 informan, yang terdiri atas ibu hamil dan ibu menyusui. Analisis data yang dilakukan yaitu secara tematik untuk mengidentifikasi tema-tema hasil penelitian. Hasil: Tiga tema temuan utama dalam penelitian ini, yaitu perubahan pola asupan gizi selama kehamilan dan menyusui, kaitan gender dalam penentuan makan rumah tangga, serta dampak pola makan terhadap kesehatan ibu dan bayi. Simpulan: Ketidaksetaraan gender dalam rumah tangga berpotensi menghambat pemenuhan gizi optimal bagi ibu hamil dan menyusui. Intervensi gizi perlu melibatkan suami dan keluarga besar untuk memastikan dukungan menyeluruh terhadap kesehatan ibu.   Kata Kunci: Gender; Gizi; Ibu Hamil; Menyusui; Pola Makan.
Peningkatan kesejahteraan mental remaja melalui terapi pemaknaan hidup berbasis religi Maharani, Ella Maurizka Safira; Daliman, Daliman
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.2015

Abstract

Background: Stressors during adolescent development can lead to less adaptive coping behaviors, which can impact mental well-being. One therapy to help address this issue is psychotherapy. Purpose: To determine improvements in adolescent mental well-being through faith-based meaning-of-life therapy. Method: This quantitative study used a pre-experimental, single-group pretest-posttest design. The sample size for this study was 60 participants from youth and high school groups. Participants were aged 15-19, had at least a high school education, and were free of chronic illness. Convenience sampling was used, and data collection used the Warwick-Edinburgh Mental Well-being Scale (WEMWBS) mental well-being questionnaire, which consists of 15 items with a score range of 1-5. Results: This study involved 60 adolescents, both before and after the intervention. The mean mental well-being score before the intervention was 35.13 and after the intervention was 61.07. The standard deviation was 2.703 before the intervention and 11.842 after the intervention. Participants' mental well-being scores were a minimum of 29 and a maximum of 42 before the intervention, while after the intervention, the minimum score was 34 and a maximum of 72. Conclusion: Religion-based logo therapy for the meaning of life successfully improved adolescents' mental well-being.   Keywords: Adolescents; Mental Well-being; Religion-Based Meaning of Life; Therapy.   Pendahuluan: Stressor pada masa tumbuh kembang remaja bisa mengakibatkan perilaku koping yang kurang adaptif yang bisa berdampak pada kesejahteraan mental. Salah satu terapi untuk membantu meningkatkan masalah tersebut adalah melalui psikoterapi. Tujuan: Untuk mengetahui peningkatan kesejahteraan mental remaja melalui terapi pemaknaan hidup berbasis religi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan pre-eksperimental one group pretest-posttest design. Sampel penelitian ini berjumlah 60 partisipan dari kelompok karang taruna dan sebuah sekolah menengah dengan kriteria berusia 15-19 tahun, pendidikan minimal sekolah menengah, dan tidak mempunyai penyakit kronis. Teknik sampling diambil dengan cara convenience sampling dan pengumpulan data menggunakan kuesioner kesejahteraan mental The Warwick-Edinburgh Mental Well-being Scale (WEMWBS), terdiri dari 15 item pertanyaan dengan jawaban rentang nilai 1-5. Hasil: Penelitian ini diikuti oleh 60 remaja, baik sebelum ataupun sesudah intervensi. Rata-rata nilai kesejahteraan mental sebelum intervensi 35.13 dan sesudah intervensi 61.07. Standar deviasi sebelum intervensi 2.703 dan sesudah intervensi 11.842. Skor kesejahteraan mental partisipan minimum 29 dan maksimum 42 sebelum intervensi, sedangkan setelah intervensi skor minimum 34 dan maksimum 72. Simpulan: Terapi pemaknaan hidup logo terapi berbasis religi berhasil meningkatkan kesejahteraan mental remaja.   Kata Kunci: Kesejahteraan Mental; Pemaknaan Hidup Berbasis Religi; Remaja; Terapi.
Pengaruh nostril breathing terhadap depresiasi tekanan darah pada orang dengan hipertensi usia produktif Zaki, Muhamad; Sofiani, Yani; Agung, Rizki Nugraha; Rayasari, Fitrian; Kurniasih, Dian Noviati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.2043

Abstract

Background: Uncontrolled hypertension over a long period of time can lead to heart attacks, strokes, chronic heart failure (CHF), and chronic renal failure (CRF). The prevalence of hypertension in Indonesia's productive-age population is 13.2%, 20.1%, 31.6%, 45.3%, and 55.2%, among those aged 25-34. One non-pharmacological treatment that can be used to lower blood pressure in hypertensive patients is Nostril Breathing. Purpose: To determine the effect of nostril breathing on blood pressure depression in people with hypertension of productive age. Method: This quantitative quasi-experimental study, with pre- and post-tests without a control group, used a cross-sectional approach. This study was conducted at Astra Insurance Jakarta in August 2025 for 5 days, measuring blood pressure before and after the intervention in 40 participants with hypertension. Data analysis used repeated measures ANOVA at a p-value of 0.002 (<0.05). Results: The average systolic blood pressure before the intervention on day 1 was 151.18 ± 7.26, while the average diastolic blood pressure on day 1 before the intervention on the first day was 85.28 ± 6.91. In the next measurement, the average systolic blood pressure after the intervention on day 5 was lower than the previous days, at 133.63 ± 6.13. Meanwhile, the average diastolic blood pressure after the intervention on day 5 was lower than the previous days, at 82.63 ± 4.08. Conclusion: There is an effect of nostril breathing on blood pressure in people with hypertension, marked by a decrease in blood pressure with a p-value = 0.000 (<0.05). Suggestion: For future researchers, to further examine risk factors that influence the degree of hypertension, such as age and obesity, develop nursing interventions through experimental research, for example, the effect of health education on sleep quality on reducing blood pressure, employee behavior such as lack of physical activity, obesity, smoking, coffee consumption, and personality type.   Keywords: Blood Pressure; Hypertension; Nostril Breathing.   Pendahuluan: Hipertensi yang tidak terkontrol dalam waktu yang lama akan menyebabkan serangan jantung, stroke, chronic heart failure (CHF), dan chronic renal failure (CRF). Prevalensi hipertensi penduduk usia produktif di Indonesia pada umur 18-24 tahun sebesar 13.2%, umur 25-34 tahun sebesar 20.1%, umur 35-44 tahun sebesar 31.6%, umur 45-54 tahun sebesar 45.3%, dan umur 55-64 tahun sebesar 55.2%. Salah satu penatalaksanaan non farmakologis yang dapat dilakukan untuk menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi adalah Nostril Breathing. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh nostril breathing terhadap depresiasi tekanan darah pada orang dengan hipertensi usia produktif. Metode: Penelitian kuantitatif quasy experiment dengan pre and post without control group menggunakan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di Asuransi Astra Jakarta pada bulan Agustus 2025 selama 5 hari dengan mengukur tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi kepada 40 partisipan dengan hipertensi. Analisis data yang digunakan adalah menggunakan repeated measure ANOVA pada ketetapan p-value 0.002 (< 0.05). Hasil: Rata-rata tekanan darah sistole sebelum intervensi pada hari ke-1 adalah 151.18 ± 7.26, sedangkan rata-rata tekanan darah diastole hari ke-1 sebelum intervensi pada hari pertama adalah sebesar 85.28 ± 6.91. Pada pengukuran berikutnya didapatkan hasil rata-rata tekanan darah sistole sesudah intervensi pada hari ke-5 lebih rendah dari hari-hari sebelumnya, sebesar 133.63 ± 6.13. Sementara itu, rata-rata tekanan darah diastole sesudah intervensi pada hari ke-5 lebih rendah dari hari-hari sebelumnya, sebesar 82.63 ± 4.08. Simpulan: Terdapat pengaruh nostril breating terhadap tekanan darah pada orang dengan hipertensi, ditandai adanya penurunan tekanan darah dengan p-value = 0.000 (<0.05). Saran: Bagi peneliti selanjutnya untuk meneteliti lebih lanjut faktor risiko yang memengaruhi derajat hipertensi, seperti usia dan obesitas kembangkan intervensi keperawatan melalui penelitian eksperimen, misalnya pengaruh penyuluhan kesehatan tentang kualitas tidur terhadap penurunan tekanan darah. perilaku pegawai seperti kurangnya aktivitas fisik, obesitas, merokok, konsumsi kopi, dan tipe kepribadian.   Kata Kunci: Hipertensi; Nostril breathing; Tekanan darah.
Analisis perbedaan HOMA-β, HOMA-IR, dan kadar HbA1c pada pasien diabetes melitus, prediabetes, dan non-diabetes Novitasari, Revi; Sucipto, Adi; Puspaningtyas, Desty Ervira; Styaningrum, Silvia Dewi; Sari, Puspita Mardika; Syarifudin, Much Maschun
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.2048

Abstract

Background: Diabetes Mellitus (DM) is a chronic metabolic disorder characterized by hyperglycemia due to insulin resistance and pancreatic β-cell dysfunction. Early identification of metabolic changes in prediabetic individuals is crucial to prevent progression to diabetes. Purpose: To analyze differences in HOMA-β, HOMA-IR, and HbA1c levels in patients with diabetes mellitus, prediabetes, and non-diabetics. Method: This study used a cross-sectional analytical design with 47 participants selected through total sampling. Data were collected through interviews and venous blood sampling for fasting blood glucose, fasting insulin, and HbA1c measurements. HOMA-β and HOMA-IR values ​​were calculated using the standard HOMA formula, and data were analyzed using the Kruskal-Wallis test with a significance level of p<0.05. Results: There were significant differences among the three groups for all parameters: HOMA-β (p = 0.001), HOMA-IR (p = 0.013), and HbA1c (p = 0.001). The DM group showed the lowest median HOMA-β (56), the highest HOMA-IR (4.2), and the highest HbA1c (8.2%). In contrast, the non-DM group had the highest HOMA-β (152.9), HOMA-IR (2.0), and the lowest HbA1c (5.2%). Conclusion: HOMA-β, HOMA-IR, and HbA1c significantly differentiated metabolic status between the DM, pre-DM, and non-DM groups. These findings indicate decreased pancreatic β-cell function, increased insulin resistance, and glycemic dysregulation that occur progressively from normoglycemia to diabetes. Therefore, these parameters have the potential to be used as indicators for early detection and diabetes risk stratification.   Keywords: Diabetes Mellitus; Homa-β; Homa-IR; HbA1c; Non-Diabetes; Prediabetes.   Pendahuluan: Diabetes Melitus (DM) merupakan gangguan metabolik kronik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat resistensi insulin dan disfungsi sel β pankreas. Identifikasi dini perubahan metabolik pada individu prediabetes sangat penting untuk mencegah progresivitas menjadi diabetes. Tujuan: Untuk menganalisis perbedaan HOMA-β, HOMA-IR, dan kadar HbA1c pada pasien diabetes melitus, prediabetes, dan non-diabetes. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik cross-sectional  dengan jumlah 47 partisipan yang dipilih melalui  total sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara dan pengambilan sampel darah vena untuk pemeriksaan glukosa darah puasa, insulin puasa, dan HbA1c. Nilai HOMA-β dan HOMA-IR dihitung menggunakan rumus standar HOMA, dan data dianalisis menggunkan uji Kruskal-Wallis dengan batas kemaknaan p<0.05. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan pada ketiga kelompok untuk semua parameter: HOMA-β (p = 0,001), HOMA-IR (p = 0.013), dan HbA1c (p = 0.001). Kelompok DM menunjukkan median HOMA-β terendah (56), HOMA-IR tertinggi (4.2), dan HbA1c tertinggi (8.2%). Sebaliknya, kelompok non-DM memiliki HOMA-β tertinggi (152.9), HOMA-IR (2.0), dan HbA1c (5.2%) terendah. Simpulan: HOMA-β, HOMA-IR, dan HbA1c mampu membedakan status metabolik antara kelompok DM, pre-DM, dan non-DM secara signifikan. Temuan ini menunjukkan penurunan fungsi sel β pankreas, peningkatan resistensi insulin, dan disregulasi glikemik terjadi secara progresif dari kondisi normoglikemia menuju diabetes, sehingga parameter tersebut berpotensi digunakan sebagai indikator deteksi dini dan stratifikasi risiko diabetes.   Kata Kunci: Diabetes Militus; Homa-B; Homa-IR; HbA1c; Non-Diabetes; Prediabetes.
Efektivitas terapi musik dan posisi sujud terhadap pengurangan serangan nyeri kepala pada wanita menopause hipertensi Yanti, Yulidar; Sriwenda, Djudju
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.2072

Abstract

Background: Menopause is characterized by a decrease in estrogen, which can lead to impaired vascular function. This decrease in estrogen inhibits vasodilation, narrowing blood vessels, which results in increased blood pressure. Hypertension can trigger a series of symptoms, including headaches caused by increased intracranial pressure, dizziness due to reduced tissue blood flow/perfusion, and ischemia caused by vasoconstriction. As a non-pharmacological solution, listening to music has been shown to help achieve a relaxed state. Furthermore, the prostration position has been proposed as an intervention because it utilizes the force of gravity; the lower the body position, the greater the potential for relaxation and blood pressure reduction. Purpose: To determine the effectiveness of music therapy and prostration positions in reducing the frequency of headache attacks in menopausal women with hypertension. Method: This study used a quasi-experimental design using a pre- and post-test approach with a control group design. Conducted in the Garuda Community Health Center work area in September-October 2023. Sampling used purposive sampling technique and required a sample size of 60 participants, with 30 participants for each group. Data analysis used the Wilcoxon test because the data distribution was not normal. Results: The mean reduction in pain frequency in the intervention group was 0.3 higher than the control group, the mean reduction in pain intensity in the intervention group was 0.8 higher than the control group, and the mean reduction in diastolic blood pressure in the intervention group was 3.6 higher than the control group. There was a significant difference in pain frequency scores before and after in the intervention group with a p-value <0.001 and in the control group with a p-value = 0.010. There was a significant difference in pain intensity scores before and after in both the intervention and control groups with a p-value <0.001. There was a significant difference in diastolic blood pressure scores before and after in the intervention group with a p-value = 0.001 and in the control group with a p-value = 0.010. There was a significant difference in pain frequency reduction scores between the two groups (p=0.011). There was a significant difference in pain intensity reduction scores between the two groups (p=0.004). There was no significant difference in diastolic pressure scores between the two groups (p=0.222). Conclusion: Music therapy and the prostration position were effective in reducing pain frequency, pain intensity, and diastolic pressure.   Keywords: Headache Reduction; Hypertension; Menopausal Women; Music Therapy; Prostration Position.   Pendahuluan: Menopause ditandai dengan berkurangnya hormon estrogen yang dapat menyebabkan gangguan fungsi vaskular. Penurunan hormon estrogen ini menghambat vasodilatasi, sehingga pembuluh darah menyempit, yang berakibat pada meningkatnya tekanan darah. Hipertensi dapat memicu serangkaian gejala, diantaranya sakit kepala yang disebabkan oleh meningkatnya tekanan intracranial, pusing yang diakibat kurangnya aliran darah ke jaringan/perfusi, dan iskemia yang disebabkan karena vasokonstriksi. Sebagai solusi non-farmakologis, mendengarkan musik terbukti membantu mencapai kondisi rileks. Selain itu, posisi sujud juga diusulkan sebagai intervensi karena memanfaatkan gaya gravitasi, semakin rendah posisi tubuh, semakin besar potensi relaksasi dan penurunan tekanan darah. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas terapi musik dan posisi sujud terhadap pengurangan frekuensi serangan nyeri kepala pada wanita menopause hipertensi. Metode: Penelitian dengan design quasy experiment menggunakan pendekatan pre and post-test with control group design. Dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Garuda pada bulan September-Oktober 2023. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dan besar sampel yang diperlukan adalah 60 partisipan, dengan pembagian 30 partisipan untuk masing-masing kelompok, Analisis data yang digunakan adalah uji Wilcoxon karena distribusi data tidak normal. Hasil: Rerata penurunan frekuensi nyeri pada kelompok intervensi lebih tinggi 0.3 dibandingkan kelompok kontrol, rerata penurunan intensitas nyeri pada kelompok intervensi lebih tinggi 0.8 dibandingkan kelompok kontrol, dan rerata penurunan diastole pada kelompok intervensi lebih tinggi 3.6 dibandingkan kelompok kontrol. Terdapat perbedaan yang signifikan skor frekuensi nyeri sebelum dan sesudah pada kelompok intervensi dengan nilai p< 0.001 dan pada kelompok kontrol dengan nilai p=0.010. Terdapat perbedaan yang signifikan skor intensitas nyeri sebelum dan sesudah baik pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol dengan dengan nilai p< 0.001.  Terdapat perbedaan yang signifikan skor diastole sebelum dan sesudah pada kelompok intervensi dengan nilai p=0.001 dan pada kelompok kontrol dengan nilai p=0.010. Terdapat perbedaan yang signifikan skor penurunan frekuensi nyeri pada kedua kelompok dengan nilai p=0.011. Terdapat perbedaan yang signifikan skor penurunan intensitas nyeri pada kedua kelompok dengan nilai p=0.004, Tidak terdapat perbedaan yang sifnifikan skor diastole pada kedua kelompok dengan nilai p=0.222. Simpulan: Terapi musik dan posisi sujud efektif terhadap pengurangan frekuensi nyeri, intensitas nyeri dan tekanan diastole.   Kata Kunci: Hipertensi; Pengurangan Serangan Nyeri Kepala; Posisi Sujud; Terapi Musik; Wanita Menopause.
Hubungan persepsi beban kerja, motivasi, dan iklim kerja dengan kinerja tenaga kesehatan Fauziah, Fauziah; Sastrawan, Sastrawan; Setiawan, Sabar
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.2078

Abstract

Background: Healthcare worker performance is a key factor in ensuring optimal quality healthcare services. Performance is influenced by various internal and external factors, including perceived workload, motivation, and work climate. Understanding the relationship between these three factors is necessary to support increased healthcare worker effectiveness in primary care facilities. Purpose: To determine the relationship between perceived workload, motivation, and work climate with healthcare worker performance. Method: This quantitative study employed a survey design. Data were collected through a questionnaire that had been tested for validity and reliability. Data were analyzed using Spearman Rank bivariate correlation and multiple regression with robust standard errors. The study sample was obtained purposively from healthcare workers at the Batukliang Utara District Community Health Center. Results: Bivariate analysis showed that work climate variables had a positive and significant correlation with performance, while perceived workload was not significant. Motivation had a strong and significant relationship with performance in both bivariate and multivariate tests. However, in multiple regression, work climate did not significantly affect performance. Conclusion: Motivation was the dominant factor influencing healthcare worker performance, followed by a supportive work climate. Perception of workload does not directly affect performance.   Keywords: Healthcare Workers; Motivation; Performance; Workload; Work Climate.   Pendahuluan: Kinerja tenaga kesehatan merupakan faktor kunci dalam memastikan mutu pelayanan kesehatan yang optimal. Kinerja dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal, di antaranya persepsi terhadap beban kerja, motivasi, dan iklim kerja. Pemahaman mengenai hubungan ketiga faktor tersebut diperlukan untuk mendukung peningkatan efektivitas tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan dasar. Tujuan:  Untuk mengetahui hubungan antara persepsi beban kerja, motivasi, dan iklim kerja dengan kinerja tenaga kesehatan. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain survei. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji korelasi bivariat Spearman Rank serta regresi berganda dengan robust standard errors. Sampel penelitian diperoleh secara purposif dari tenaga kesehatan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Batukliang Utara. Hasil: Analisis bivariat menunjukkan variabel iklim kerja memiliki korelasi positif dan signifikan dengan kinerja, sedangkan persepsi beban kerja tidak signifikan. Motivasi memiliki hubungan kuat dan signifikan terhadap kinerja baik pada uji bivariat maupun multivariat. Namun, pada regresi berganda, iklim kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja. Simpulan: Motivasi merupakan faktor dominan yang memengaruhi kinerja tenaga kesehatan, diikuti dengan peran iklim kerja yang mendukung. Persepsi beban kerja tidak berpengaruh langsung terhadap kinerja.   Kata Kunci: Beban Kerja; Iklim Kerja; Kinerja; Motivasi; Tenaga Kesehatan.
Dampak penggunaan smartphone pada remaja Sumiatin, Titik; Ningsih, Wahyu Tri; Yunariyah, Binti; Nugraheni, Wahyuningsih Triana; Agnes, Yeni Lufiana Novita
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.2093

Abstract

Background: Smartphone use among adolescents has become a problem widely perceived by parents. The increasing duration of smartphone use over the years has also become a serious issue, prompting complaints from various parties. The various impacts that are beginning to be felt due to smartphone use have prompted some parties to take preventative measures. Purpose: To determine the impact of smartphone use on adolescents. Method: The research design used a descriptive approach, with a population of all adolescents at State Senior High School 2 Tuban. The sample size was 224 respondents, and the sampling technique used was simple random sampling. The research instruments used were a knowledge questionnaire and the Adolescent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ) translated into Indonesian. Results: Of the 224 teenagers who used smartphones, more than half were addicted (61.6%). Impacts found on teenagers due to smartphone use included 78.6% experiencing poor mental health, 31.7% experiencing poor social relationships, the majority (92.9%) experiencing emotional instability, 30.8% engaging in risky behavior, and more than half (60.0%) having inactive physical activity. Conclusion: Smartphone use among adolescents negatively impacts mental health, social relationships, emotional well-being, risky behavior, and physical activity.   Keywords: Adolescents; Impact; Smartphone.   Pendahuluan: Penggunaan smartphone pada remaja saat ini telah menjadi masalah yang banyak dirasakan oleh orang tua.  Peningkatan durasi penggunaan smarthphone dari tahun ke tahun juga menjadi masalah serius yang dikeluhkan berbagai pihak. Banyaknya dampak yang mulai dirasakan akibat penggunaan smartphone, menyebabkan beberapa pihak telah mengambil tindakan pencegahan. Tujuan: Untuk mengetahui dampak penggunaan smartphone pada remaja. Metode: Desain penelitian menggunakan diskriptif dengan populasi seluruh remaja di SMAN 2 Tuban, besar sampel yang digunakan sebanyak 224 responden, teknik pengambilan sampel  simple random sampling. Instrumen penelitian mengadopsi dari kuesioner pengetahuan dan Adolescent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ) yang telah dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia. Hasil: Sebanyak 224 remaja yang menggunakan smartphone, lebih dari separuh termasuk dalam kecanduan (61.6%). Dampak yang ditemukan pada remaja akibat penggunaan smartphone, antara lain 78.6% memiliki kesehatan mental yang buruk, 31.7% memiliki hubungan sosial buruk, mayoritas (92.9%) memiliki emosional yang tidak stabil, 30.8% mempunyai perilaku berisiko, dan lebih dari separuh (60.0%) memiliki aktivitas fisik dalam kategori tidak aktif. Simpulan: penggunaan smartphone pada remaja memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental, hubungan sosial, emosional, perilaku berisiko, dan aktivitas fisik.   Kata Kunci: Dampak; Remaja; Smartphone.
Intervensi berbasis komunitas dalam peningkatan layanan, pertumbuhan, dan perkembangan batita dan balita: A scooping review Septiani, Devi Rani Yayang; Soekardy, Anastasya Angelia; Hayati, Salma Karimah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.2095

Abstract

Background: Early childhood, particularly the toddler and preschool periods (ages 1–5 years), is a crucial phase that determines the quality of a child's future growth, development, and health. At this stage, children are vulnerable to various nutritional, health, and developmental issues influenced by biological factors, parenting styles, and social and environmental conditions. Community-based midwifery nursing plays a strategic role in addressing these challenges through integrated, community-oriented services. Purpose: To comprehensively map and assess community-based intervention models for improving services, growth, and development for infants and young children. Method: This scoping review study employed the Arksey and O'Malley framework. A literature search was conducted through PubMed and Scopus databases for articles published between 2020 and 2025. Included articles were full-text articles in English and Indonesian. The selection process was conducted independently by reviewers based on inclusion and exclusion criteria. Data analysis was conducted using numerical descriptive analysis and narrative thematic synthesis. Results: The community midwifery service model encompasses integrated community-based services, empowerment of cadres and families, monitoring of child growth and development, health promotion activities, psychosocial support, and the use of digital technology. This model is collaborative and contextual, contributing to improving the quality of services and child health outcomes. Conclusion: A comprehensive community midwifery service model that is responsive to the sociocultural context has significant potential to support optimal health and development of infants and young children. These findings can inform policy development, strengthen community midwifery practices, and guide future research.   Keywords: Community-Based Interventions; Development; Growth; Services; Toddlers.   Pendahuluan: Masa kanak-kanak awal, khususnya periode toddler dan pra sekolah (usia 1–5 tahun) merupakan fase penting yang menentukan kualitas pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan anak di masa depan. Pada tahap ini, anak rentan terhadap berbagai masalah gizi, kesehatan, dan perkembangan yang dipengaruhi oleh faktor biologis, pola pengasuhan, serta kondisi sosial dan lingkungan. Keperawatan kebidanan berbasis komunitas memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan tersebut melalui pelayanan yang terintegrasi dan berorientasi pada masyarakat. Tujuan: Untuk memetakan dan mengkaji secara komprehensif model intervensi berbasis komunitas dalam peningkatan layanan, pertumbuhan, dan perkembangan batita dan balita. Metode: Penelitian scoping review mengacu pada kerangka kerja Arksey dan O’Malley. Pencarian literatur dilakukan melalui basis data PubMed dan Scopus terhadap artikel yang dipublikasikan pada tahun 2020–2025. Artikel yang disertakan merupakan artikel teks lengkap berbahasa Inggris dan Indonesia. Proses seleksi dilakukan secara independen oleh penelaah berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan secara deskriptif numerik dan sintesis tematik naratif. Hasil: Model pelayanan kebidanan komunitas mencakup layanan berbasis komunitas yang terintegrasi, pemberdayaan kader dan keluarga, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak, kegiatan promosi kesehatan, dukungan psikososial, serta pemanfaatan teknologi digital. Model ini bersifat kolaboratif dan kontekstual, serta berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pelayanan dan luaran kesehatan anak. Simpulan: Model pelayanan kebidanan komunitas yang komprehensif dan responsif terhadap konteks sosial budaya memiliki potensi besar dalam mendukung kesehatan dan perkembangan optimal bayi dan anak usia dini. Temuan ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan, penguatan praktik kebidanan komunitas, serta arah penelitian selanjutnya.   Kata Kunci: Balita; Batita; Intervensi Berbasis Komunitas; Layanan; Perkembangan; Pertumbuhan.
Model nekrosis fibroblast terinduksi iskemia sebagai fondasi krusial untuk memahami dan mengatasi cedera vaskular pada jaringan kulit: Sebuah kajian pustaka Hardaningtyas, Kishanty; Marsiati, Himmi; Sobarna, Nenden; Dewi, Dian Andriani Ratna
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.2136

Abstract

Background: Vascular injury in skin tissue represents a significant clinical challenge in aesthetic and regenerative medicine and is often manifested as ischemia-induced necrosis of human dermal fibroblasts (HDF). This condition is characterized by cell and tissue death resulting from impaired perfusion and may occur as a complication of dermal filler injections, trauma, or other pathological conditions. To accurately elucidate the underlying pathophysiological mechanisms and to evaluate regenerative therapeutic strategies, an in vitro model capable of replicating ischemia-induced necrosis is required. Purpose: To review the literature related to the ischemia-induced fibroblast necrosis model as a crucial foundation for understanding and addressing vascular injury in skin tissue. Method: Literature searches were conducted using PubMed, Scopus, Web of Science, and Google Scholar with relevant keywords. Results: Indicate that HDF necrosis is commonly induced by exposure to hydrogen peroxide (H₂O₂), cobalt chloride (CoCl₂), and hypoxic culture conditions to simulate oxidative stress and ischemia. Model validation is typically performed using cell viability assays (MTT), lactate dehydrogenase (LDH) release, and morphological analysis. Conclusion: Integrating hypoxia, nutrient deprivation, and oxidative stress in in vitro models offers a solid basis for studying ischemia-induced HDF necrosis and improving skin regenerative therapies, with standardized protocols boosting translational relevance.   Keywords: Fibroblast Necrosis Model; Ischemia; Skin Tissue; Vascular Injury.   Pendahuluan: Cedera vaskular pada jaringan kulit merupakan tantangan klinis penting dalam kedokteran estetik dan regeneratif, yang sering bermanifestasi sebagai nekrosis fibroblas dermal manusia (Human Dermal Fibroblasts/HDF) terinduksi iskemia. Kondisi ini ditandai oleh kematian sel dan jaringan akibat gangguan perfusi, dan dapat terjadi sebagai komplikasi injeksi dermal filler, trauma, maupun kondisi patologis lainnya. Untuk memahami mekanisme patofisiologis yang mendasari kondisi tersebut serta mengevaluasi potensi terapi regeneratif secara akurat, diperlukan model in vitro yang mampu mereplikasi kondisi nekrosis akibat iskemia. Tujuan: Untuk menelaah literatur terkait model nekrosis fibroblast terinduksi iskemia sebagai fondasi krusial untuk memahami dan mengatasi cedera vaskular pada jaringan kulit. Metode: Penelusuran literatur dilakukan menggunakan basis data PubMed, Scopus, Web of Science, dan Google Scholar dengan kata kunci yang relevan. Hasil: Induksi nekrosis HDF umumnya dilakukan melalui paparan hidrogen peroksida (H₂O₂), kobalt klorida (CoCl₂), serta kondisi lingkungan hipoksia untuk mensimulasikan stres oksidatif dan iskemia. Validasi model dilakukan menggunakan uji viabilitas sel (MTT), pelepasan laktat dehidrogenase (LDH), dan analisis morfologi sel. Simpulan: Integrasi hipoksia, deprivasi nutrisi, dan stres oksidatif dalam model in vitro memberikan dasar kuat untuk mempelajari nekrosis HDF terinduksi iskemia serta meningkatkan terapi regeneratif kulit, dengan protokol terstandarisasi yang memperkuat potensi translasi.   Kata Kunci: Cedera Vascular; Iskemia; Jaringan Kulit; Model Nekrosis Fibroblast.
Pengaruh ekstrak daun kelor (moringa oleifera) terhadap perbaikan kadar hemoglobin pada mahasiswa kebidanan dengan anemia Wahyuni, Ida Tri; Rofiah, Khofidhotur; Nirwana, Betanuari Sabda; Ningtyas, Yulfa Wahyu; Putri, Eka Diana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.2190

Abstract

Background: Adolescence is the second period of rapid growth and development after infancy and toddlerhood. Anemia is one of the nutritional problems in the world. Adolescent girls are at risk of iron deficiency anemia due to insufficient iron intake in the body. The efficacy of Moringa Oleifera leaf extract as a complementary therapy in increasing hematocrit levels and erythrocyte count Purpose: To determine the effect of moringa leaf extract (Moringa oleifera) on improving hemoglobin levels in students with anemia Method: A quasi-experimental study using a pre-posttest control with group design was conducted in October 2025 at the Midwifery Study Program, Kadiri University. The sampling technique used purposive sampling with a sample size of 50 participants divided into an intervention group and a control group. The independent variable in this study was moringa leaf extract, while the dependent variable was hemoglobin levels. Data analysis used univariate analysis in the form of frequency distribution and bivariate analysis using the independent t-test. Results: Giving 1 gram of moringa leaf extract (Moringa Oleifera) for 14 days was shown to significantly increase hemoglobin levels (p-value=0.013; p<0.05) in the group that received moringa leaf extract and iron tablets. Conclusion: Giving Moringa Oleifera leaf extract as a complementary therapy influenced the increase in hemoglobin levels in the intervention group.   Keywords: Adolescents; Anemia; Hemoglobin; Moringa Oleifera.   Pendahuluan: Masa remaja adalah periode kedua pertumbuhan dan perkembangan yang cepat setelah bayi dan balita. Anemia adalah salah satu masalah gizi di dunia. Remaja putri memiliki risiko anemia zat besi akibat kurangnya asupan zat besi dalam tubuh. Khasiat ekstrak daun kelor (Moringa Oleifera) sebagai terapi komplementer dalam meningkatkan kadar hematokrit dan jumlah eritrosit Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) terhadap perbaikan kadar hemoglobin pada mahasiswa yang mengalami anemia Metode: Penelitian quasy experimental dengan metode pre-posttest control with groulp delsign, dilaksanakan bulan Oktober 2025 di Program Studi Kebidanan Universitas Kadiri. Teknik pengambilan sampel menggunakan puposive sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 50 partisipan yang terbagi kedalam kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Variabel independent dalam penelitian ini adalah ekstrak daun kelor, sedangkan variabel depeden ialah kadar hemoglobin. Analisis data yang digunakan univariate dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariate menggunakan uji indepdendet t-test. Hasil: Pemberian ekstrak daun kelor (Moringa Oleifera) dosis 1 gram selama 14 hari terbukti meningkatkan kadar hemoglobin secara signifikan (p-value=0.013; p<0.05) pada kelompok yang menerima ekstrak daun kelor dan tablet Fe. Simpulan: Pemberian ekstrak daun kelor (Moringa Oleifera) sebagai terapi komplementer memengaruhi peningkatan kadar hemoglobin pada kelompok intervensi.   Kata Kunci: Anemia; Hemoglobin; Daun Kelor (Moringa Oleifera); Remaja.