cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 457 Documents
Kelayakan desain dan daya tarik media poster promosi cek kesehatan gratis pada pengemudi becak Brilianti, Alya Anugrahayu; Suswardany, Dwi Linna
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2686

Abstract

Background: Low participation in the free health checkup (CKG) program among pedicab drivers is a significant public health challenge. Preliminary data indicates a gap: 60% of drivers are aware of the program, but only 20% participate. This gap is caused by limited access to schedule information and low digital literacy. Health promotion through appropriate visual media is crucial to bridge this information barrier. Purpose: Develop and evaluate the design feasibility and appeal of posters promoting free health checkups for pedicab drivers. Method: Research and development (R&D) used a formative evaluation approach to produce effective promotional media. Data were collected from 30 pedicab drivers in the Surakarta City Hall area through a survey of driving and inhibiting factors (n=15) and a media evaluation questionnaire (n=30). The evaluation covered aspects of visual appeal, message clarity, and persuasiveness using a 4-point Likert scale. Results: Scores were very high across all categories, with an average above 3.70, including visual appeal (3.73), message clarity (3.83), and persuasiveness (3.73). The majority of respondents (46.7%) rated the image as the most appealing element. Integrating simple visual media with community-based distribution channels through base coordinators was the most effective strategy. Conclusion: The developed poster proved highly appropriate and engaging for elderly pedicab drivers. Conventional, non-digital visual media remains the most effective instrument for increasing health awareness and participation among populations with limited access to technology.   Keywords: Elderly; Free Health Checkup; Pedicab Drivers; Poster.   Pendahuluan: Rendahnya partisipasi dalam program cek kesehatan gratis (CKG) di kalangan pengemudi becak merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan. Data awal menunjukkan adanya kesenjangan, sebanyak 60% pengemudi mengetahui program tersebut, namun hanya 20% yang berpartisipasi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya akses informasi jadwal dan rendahnya literasi digital. Promosi kesehatan melalui media visual yang tepat sangat krusial untuk menjembatani hambatan informasi tersebut. Tujuan: Untuk mengembangkan dan mengevaluasi kelayakan desain dan daya tarik media poster promosi cek kesehatan gratis pada pengemudi becak. Metode: Research and development (R&D) dengan pendekatan evaluasi formatif untuk menghasilkan media promosi yang efektif. Data dikumpulkan dari 30 pengemudi becak di wilayah Balai Kota Surakarta melalui survei faktor pendorong dan penghambat dengan (n=15) dan kuesioner evaluasi media (n=30). Evaluasi mencakup aspek daya tarik visual, kejelasan pesan, dan daya persuasif menggunakan skala Likert 4 poin. Hasil: Skor yang sangat tinggi pada seluruh kategori dengan rata-rata di atas 3.70, meliputi daya tarik visual (3.73), kejelasan pesan (3.83), dan daya persuasif (3.73). Mayoritas responden (46.7%) menilai gambar sebagai elemen yang paling menarik. Integrasi media visual sederhana dengan jalur distribusi berbasis komunitas melalui koordinator pangkalan menjadi strategi yang paling efektif. Simpulan: Poster yang dikembangkan dinyatakan sangat layak dan menarik bagi pengemudi becak lansia. Media visual konvensional non-digital terbukti tetap menjadi instrumen paling efektif untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi kesehatan pada populasi dengan akses teknologi terbatas.   Kata Kunci: Cek Kesehatan Gratis; Lansia; Pengemudi Becak; Poster.
Desain dan penerimaan pengguna portal posyandu “juara” Surakarta berbasis google site Choironnisa, Pumaya Vintarnauri Tria; Suswardany, Dwi Linna; Utami, Riyani Wahyu
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2687

Abstract

Background: Integrated health service post recording and reporting is a crucial step in improving the efficiency and quality of public health services. Purpose: To analyze the design and user acceptance of the Surakarta “juara” integrated health service portal based on google site. Method: Research and Development with user acceptance evaluation using an online questionnaire with a Likert scale of 1–4. Results: The mean scores for perceived usefulness (3.53), perceived ease of use (3.32), and behavioral intention to use (3.43) were above the midpoint of the scale, indicating positive user acceptance. The majority of respondents found the portal useful in the reporting process and did not report major technical challenges, although a small number of respondents reported issues related to digital literacy, interface design, and the need for feature development. Conclusion: This study indicates that the portal is perceived as useful and relatively easy to use, and has potential for continued use. However, further development and user support are needed for more inclusive and optimal use. Suggestion: Further research is recommended to test the relationship between technology acceptance variables using the TAM or UTAUT model inferentially, as well as adding objective performance indicators, such as login frequency, completeness and timeliness of reporting, input completion time, and error rate.   Keywords: Digital Health System; Google Sites-Based; Integrated Health Service Post Portal; User Acceptance.   Pendahuluan: Digitalisasi pencatatan dan pelaporan posyandu merupakan upaya penting dalam meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan kesehatan masyarakat. Tujuan: Untuk menganalisis desain dan penerimaan pengguna portal posyandu “juara” Surakarta berbasis google site. Metode: Research and Development dengan evaluasi penerimaan pengguna melalui kuesioner daring menggunakan skala Likert 1–4. Hasil: Nilai rata-rata perceived usefulness (3.53), perceived ease of use (3.32), dan behavioral intention to use (3.43) berada di atas titik tengah skala, yang mengindikasikan penerimaan pengguna yang positif. Mayoritas responden menilai portal membantu proses pelaporan dan tidak melaporkan kendala teknis utama, meskipun sebagian kecil responden menyampaikan adanya isu terkait literasi digital, desain antarmuka, dan kebutuhan pengembangan fitur. Simpulan: Penelitian menunjukkan bahwa portal dipersepsikan bermanfaat dan relatif mudah digunakan, serta memiliki potensi untuk digunakan secara berkelanjutan, dengan tetap memerlukan pengembangan lanjutan dan dukungan pengguna agar pemanfaatannya lebih inklusif dan optimal. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan untuk menguji hubungan antarvariabel penerimaan teknologi menggunakan model TAM atau UTAUT secara inferensial, serta menambahkan indikator kinerja objektif, seperti frekuensi login, kelengkapan dan ketepatan waktu pelaporan, waktu penyelesaian input, dan tingkat kesalahan (error rate).   Kata Kunci: Berbasis Google Site; Penerimaan Pengguna; Portal Posyandu; Sistem Kesehatan Digital.  
Pengaruh terapi spiritual emotional freedom technique (SEFT) terhadap glukosa darah, asam urat, dan kolesterol pada orang dewasa Hadina, Hadina; Noya, Fransisca
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.609

Abstract

Background: Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) is a stress management technique, a non-pharmacological complementary medicine, and a form of mind-body therapy within complementary therapies. SEFT is a technique that combines the body's energy system (energy medicine) and spiritual healing through pressure on specific points on the body. Purpose: To determine the effects of Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) therapy on blood glucose, uric acid, and cholesterol levels in adults. Method: This was a quasi-experimental study with a pre-test and post-test control group design. Samples were collected using a purposive sampling technique. A total of 32 participants who met the inclusion criteria were divided into two groups: 16 participants in the intervention group and 16 participants in the control group. Analysis to determine the difference in median cholesterol levels before and after treatment in the intervention and control groups used the Wilcoxon test. Results: Statistical tests on blood glucose, uric acid, and cholesterol levels showed significant differences before and after the intervention with a p-value <0.05. Conclusion: There is an effect of SEFT therapy on blood glucose, uric acid, and cholesterol levels.   Keywords: Blood Sugar Levels; Cholesterol; Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT); Uric Acid.   Pendahuluan: Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) adalah teknik manajemen stres, pengobatan komplementer non-farmakologis, dan salah satu bentuk terapi pikiran-tubuh dari terapi komplementer. SEFT adalah teknik yang mengombinasikan sistem energi tubuh (energy medicine) dan penyembuhan spiritual dengan melakukan pengetukan pada titik-titik tertentu pada tubuh. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh terapi spiritual emotional freedom technique (SEFT) terhadap glukosa darah, asam urat, dan kolesterol pada orang dewasa. Metode: Penelitian quasi eksperimental dengan desain kelompok kontrol pretest-posttest. Sampel dikumpulkan dengan teknik purposive sampling. Sebanyak 32 partisipan yang memenuhi kriteria inklusi dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 16 partisipan di kelompok intervensi dan 16 partisipan di kelompok kontrol. Analisis untuk melihat perbedaan median kolesterol sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok intervensi dan kontrol menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Uji statistik pada kadar gula darah, asam urat, dan kolestrol menunjukkan perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah intervensi dengan p-value <0.05. Simpulan: Terdapat pengaruh penerapan terapi SEFT terhadap kadar glukosa darah, asam urat, dan kolesterol.   Kata Kunci: Asam Urat; Kadar Gula Darah; Kolesterol; Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT).
Efektivitas probiotik terhadap gejala depresi ditinjau dari durasi pengobatan: Sebuah tinjauan sistematis Harlinda, Rhevita Apsari; Pulungan, Elitha Sundari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2159

Abstract

Background: Depression is a major global health problem that significantly impacts quality of life and productivity. Changes or disruptions in the composition of the gut microbiota, known as dysbiosis, are believed to play a role in influencing depressive symptoms through the gut-brain axis. Probiotics have the potential to alleviate depression by modulating the gut microbiota and inflammatory signaling pathways, but the influence of intervention duration on their effectiveness remains unclear. Purpose: To assess the effectiveness of probiotics on depressive symptoms in terms of treatment duration. Method: A systematic review was conducted in PubMed, Scopus, Google Scholar, and ScienceDirect databases to identify randomized controlled trials (RCTs) published between 2015 and 2025. Eligible studies included adult subjects (≥18 years) with a diagnosis of major depressive disorder (MDD) or measurable depressive symptoms who received single-strain or multi-strain probiotics as monotherapy or adjunct therapy. Outcomes were assessed using validated depression scales, such as the Hamilton Depression Rating Scale (HAM-D), the Montgomery–Åsberg Depression Rating Scale (MADRS), and the Beck Depression Inventory (BDI). Twelve RCTs met inclusion criteria. Results: Probiotic administration demonstrated the greatest antidepressant effect in medium-term interventions (4–8 weeks). Short-term therapy (<4 weeks) produced only minimal improvement, while long-term use (>12 weeks) tended to reach a plateau, with biological benefits persisting but without further significant symptom reduction. Multi-strain therapy and adjunctive use demonstrated greater effectiveness. Conclusion: Probiotics are most effective when administered over a 4–8-week period and are a safe and promising adjunctive therapy for mild to moderate depression.   Keywords: Depressive Symptoms; Gut-Brain Axis; Probiotics; Treatment Duration.   Pendahuluan: Depresi merupakan masalah kesehatan global utama yang berdampak signifikan terhadap kualitas hidup dan produktivitas. Perubahan atau gangguan komposisi mikrobiota usus yang dikenal sebagai disbiosis, diyakini berperan dalam memengaruhi gejala depresi melalui sumbu usus–otak. Probiotik berpotensi meredakan depresi dengan memodulasi mikrobiota usus dan jalur sinyal inflamasi, namun pengaruh durasi intervensi terhadap efektivitasnya masih belum jelas. Tujuan: Untuk menilai efektivitas probiotik terhadap gejala depresi ditinjau dari durasi pengobatan. Metode: Penelitian tinjuan sistematis dilakukan pada basis data PubMed, Scopus, Google Scholar, dan ScienceDirect untuk mengidentifikasi uji klinis acak terkontrol (randomized controlled trials/RCT) yang dipublikasikan antara tahun 2015-2025. Studi yang memenuhi kriteria melibatkan subjek dewasa (≥18 tahun) dengan diagnosis gangguan depresi mayor (major depressive disorder/MDD) atau gejala depresi yang terukur, yang menerima probiotik strain tunggal atau multi-strain sebagai terapi tunggal maupun tambahan. Luaran dinilai menggunakan skala depresi tervalidasi, seperti Hamilton Depression Rating Scale (HAM-D), Montgomery–Åsberg Depression Rating Scale (MADRS), dan Beck Depression Inventory (BDI). Sebanyak 12 RCT memenuhi kriteria inklusi. Hasil: Pemberian probiotik menunjukkan efek antidepresan terbesar pada intervensi jangka menengah (4–8 minggu). Terapi jangka pendek (<4 minggu) hanya menghasilkan perbaikan minimal, sedangkan penggunaan jangka panjang (>12 minggu) cenderung mencapai plateau, dengan manfaat biologis yang tetap bertahan namun tanpa penurunan gejala yang bermakna lebih lanjut. Terapi multi-strain dan penggunaan sebagai terapi tambahan menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi. Simpulan: Probiotik paling efektif diberikan dalam rentang waktu 4–8 minggu dan merupakan terapi tambahan yang aman serta menjanjikan untuk depresi ringan hingga sedang.   Kata Kunci: Durasi Pengobatan; Gejala Depresi; Probiotik; Sumbu Usus–Otak.
Pengaruh metode drill terhadap kemampuan kosakata reseptif anak autism spectrum disorder Oktaria, Lathifah Winda; Gunawan, Gunawan; Sudarman, Sudarman
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2556

Abstract

Background: Children with autism spectrum disorder experience language development challenges, particularly in receptive vocabulary, which impact their ability to understand instructions and communicate. These limitations require structured and repeated interventions. Practice methods can strengthen receptive vocabulary comprehension and memory in children with autism spectrum disorder. Purpose: To determine the effect of practice methods on receptive vocabulary skills in children with autism spectrum disorder. Method: This study used a quantitative approach with a one-group pretest–posttest experimental design. The sampling technique used purposive sampling with a sample size of 12 participants. The research instrument used was the Receptive One-Word Picture Vocabulary Test (ROWPVT). The practice method intervention was administered in 10 30-minute sessions using flashcards. Data were analyzed using a paired t-test. Results: Receptive vocabulary skills before the intervention (pretest) were mostly in the moderate category (8 participants (66.7%) and low category (4 participants (33.3%)). After the intervention (posttest), there was an increase in receptive vocabulary skills. Six participants (50.0%) were in the high category, four participants (33.3%), and two participants (16.7%) were in the moderate category. The average receptive vocabulary skill score increased from 73.17±9.861 in the pretest to 84.08±9.510 in the posttest. A paired t-test analysis showed a significance value of p = 0.000 (p < 0.05), indicating that the training method significantly influenced children's receptive vocabulary skills. Conclusion: The training method significantly influenced receptive vocabulary skills in children with autism spectrum disorders. Suggestion: For future researchers, the results of this study can be used as a reference for developing more comprehensive and representative research, both in terms of research location and number of participants. Participants, and various data collection techniques. Data.   Keywords: Autism Spectrum Disorder; Receptive Vocabulary; Training Methods.   Pendahuluan: Anak dengan autism spectrum disorder mengalami hambatan perkembangan bahasa, khususnya pada aspek kosakata reseptif yang berpengaruh terhadap kemampuan memahami instruksi dan komunikasi. Keterbatasan tersebut memerlukan intervensi yang terstruktur dan berulang. Metode drill dapat memperkuat pemahaman dan memori kosakata reseptif anak dengan autism spectrum disorder. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh metode drill terhadap kemampuan kosakata reseptif anak autism spectrum disorder. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen one-group pretest–posttest design. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 12 partisipan. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Receptive One-Word Picture Vocabulary Test (ROWPVT). Intervensi metode drill diberikan sebanyak 10 sesi dengan durasi 30 menit per sesi menggunakan media flashcard. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik paired t-test. Hasil: Kemampuan kosakata reseptif sebelum intervensi (pretest), sebagian besar berada pada kategori sedang sebanyak 8 partisipan (66.7%) dan kategori rendah sebanyak 4 partisipan (33.3%). Setelah intervensi metode drill (posttest), terjadi peningkatan kemampuan kosakata reseptif, partisipan terbanyak berada pada kategori tinggi sebanyak 6 partisipan (50.0%), kategori sedang sebanyak 4 partisipan (33.3%), dan kategori sangat tinggi sebanyak 2 partisipan (16.7%). Nilai rata-rata kemampuan kosakata reseptif meningkat dari 73.17±9.861 pada pretest menjadi 84.08±9.510 pada posttest. Analisis uji paired t-test menunjukkan nilai signifikansi sebesar p = 0.000 (p < 0.05), sehingga penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh metode drill terhadap kemampuan kosakata reseptif anak. Simpulan: Metode drill berpengaruh signifikan terhadap kemampuan kosakata reseptif pada anak autism spectrum disorder. Saran: Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk mengembangkan penelitian yang lebih komprehensif dan representatif, baik dari segi lokasi penelitian, jumlah partisipan, maupun variasi teknik pengumpulan data.   Kata Kunci: Autism Spectrum Disorder; Kosakata Reseptif; Metode Drill.
Safety campaigns impact on offshore safety culture improvement in oil and gas industry: A systematic literature review Utommi, Sendy; Hapsari, Indri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2777

Abstract

Background: The oil and gas industry is a high-risk activity with a complex work environment. Accidents and incidents in the oil and gas industry impact all elements, not only humans but also the economy and environmental damage. Safety campaigns are a communication tool to improve safety information, knowledge, motivation, and performance. The impact of safety campaigns can positively influence the development of a safety culture in high-risk industries such as the oil and gas industry. Purpose: To review various studies related to safety campaigns in improving safety culture in the offshore oil and gas industry. Method: A systematic literature review was conducted through article searches in PubMed, Google Scholar, and ScienceDirect databases, followed by a review and synthesis process using PRISMA. An initial collection of 703 articles was found, of which 15 were included in this study. Results: Previous research has not specifically addressed the role of safety campaigns in improving safety culture at offshore facilities in the oil and gas industry. Previous research generally measures factors influencing safety culture, including management commitment, communication, safety priorities, personal risk assessment, involvement, personal priorities, and the need for safety. Conclusion: Safety culture is a key milestone in improving occupational safety. Misunderstandings about safety culture can hinder effective communication across organizational levels. Therefore, further research is needed on the role of safety campaigns in improving workplace safety culture, particularly on offshore platforms in the oil and gas industry.   Keywords: Offshore Safety Culture; Oil and Gas Industry; Impact of Safety Campaigns.   Pendahuluan: Industri minyak dan gas memiliki aktivitas berisiko tinggi dengan tempat kerja yang kompleks di dalamnya. Kecelakaan dan insiden di industri minyak dan gas akan berdampak pada semua elemen, tidak hanya pada manusia, tetapi juga ke ekonomi dan kerusakan lingkungan. Kampanye keselamatan merupakan bagian dari alat komunikasi untuk meningkatkan informasi keselamatan, pengetahuan keselamatan, motivasi, dan kinerja. Dampak dari kampanye keselamatan yang dilakukan dapat memberikan pengaruh yang positif dalam mengembangkan budaya keselamatan di industri yang berisiko tinggi seperi industri minyak dan gas. Tujuan: Untuk meninjau berbagai penelitian terkait dengan kampanye keselamatan dalam meningkatkan budaya keselamatan di offshore di oil and gas industry. Metode: Penelitian systematic literature review melalui pencarian artikel dari database Pubmed, Google scholar, dan ScienceDirect database kemudian proses review dan sintesis dilakukan menggunakan PRISMA. Artikel awal yang ditemukan adalah 703, kemudian 15 artikel disertakan dalam penelitian. Hasil: Menunjukkan bahwa penelitian terdahulu yang dilakukan belum secara spesifik membahas mengenai faktor kampanye keselamatan dalam meningkatkan budaya keselamatan di anjungan lepas pantai (offshore facility) di industri minyak dan gas. Penelitian terdahulu mengukur secara umum faktor yang memengaruhi budaya keselamatan baik dari segi komitmen manajemen, komunikasi, prioritas keselamatan, penilaian risiko pribadi keterlibatan dan prioritas pribadi serta kebutuhan akan keselamatan. Simpulan: Budaya keselamatan merupakan tonggak penting dalam meningkatkan keselamatan di tempat kerja. Kesalahpahaman terhadap tentang budaya keselamatan dapat menjadi penghambat komunikasi yang baik antara berbagai lini di organisasi. Oleh karena itu, masih diperlukannya penelitian lebih lanjut mengenai faktor kampanye keselamatan dalam meningkatkan budaya keselamatan di tempat kerja, khususnya di anjungan lepas pantai di industri minyak dan gas.   Kata Kunci: Offshore Safety Culture; Oil And Gas Industry; Safety Campaigns Impact.
Analisis senyawa ekstrak rebung sebagai agen nutraceutical dan implikasi terhadap pertumbuhan sel colorectal cancer Ka'arayeno, Arie Jefry; Cita, Errick Endra; Cahyaningrum, Ika
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.1763

Abstract

Background: Colorectal cancer (CRC) is one of the most common and deadly cancers worldwide, ranking third in global incidence and second in cancer-related mortality. Conventional therapies such as chemotherapy and radiotherapy often cause severe systemic side effects and drug resistance; therefore, safer strategies are needed for prevention and supportive therapy. Purpose: To identify bamboo shoot extract compounds as nutraceutical agents for colorectal cancer and its implications for colorectal cancer cell growth. Method: An exploratory laboratory study was conducted at Universitas Brawijaya (March-July 2025). Fresh bamboo shoots were extracted using 70% ethanol. Phytochemical screening, total phenolic and flavonoid quantification (Folin-Ciocalteu and AlCl₃ assays), and antioxidant testing (DPPH method) were performed. UHPLC quantified gallic acid, quercetin, and vitamin C. In silico molecular docking (AutoDock Vina 1.2.0) assessed interactions between bioactive compounds and COX-2 and β-catenin. Results: The extract contained flavonoids, phenolics, alkaloids, saponins, and phytosterols, with high phenolic (268.4 ± 5.2 mg GAE/100 g) and flavonoid (112.7 ± 3.9 mg QE/100 g) contents. Strong antioxidant activity was observed (IC₅₀ = 48.9 µg/mL), comparable to vitamin C. Molecular docking results showed strong interactions of quercetin and gallic acid with COX-2 (−8.1 kcal/mol) and β-catenin (−7.6 kcal/mol). Conclusion: The extract of Bambusa vulgaris bamboo shoots possesses a rich phytochemical composition, strong antioxidant activity, and in silico evidence of COX-2 and β-catenin inhibition, supporting its potential as a chemopreventive agent against colorectal cancer.   Keywords: Antioxidant; Bambusa Vulgaris; Colorectal Cancer; COX-2; Nutraceutical.   Pendahuluan: Kanker kolorektal (CRC) merupakan salah satu jenis kanker yang paling umum dan mematikan di dunia, menempati peringkat ketiga dalam insidensi global dan kedua dalam angka kematian terkait kanker. Terapi konvensional seperti kemoterapi dan radioterapi sering menimbulkan efek samping sistemik yang berat serta resistansi obat, sehingga diperlukan strategi yang lebih aman untuk pencegahan dan terapi pendukung. Tujuan: Untuk mengidentifikasi senyawa ekstrak rebung sebagai agen nutraceutical bagi kanker kolorektal dan implikasi terhadap pertumbuhan sel colorectal cancer. Metode: Penelitian laboratorium eksploratif, dilakukan di Universitas Brawijaya pada Maret-Juli 2025. Rebung segar diekstraksi menggunakan etanol 70%. Dilakukan uji skrining fitokimia, penetapan kadar fenolik dan flavonoid total (metode Folin-Ciocalteu dan AlCl₃), serta uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Analisis UHPLC digunakan untuk mengukur kadar asam galat, kuersetin, dan vitamin C. Uji molecular docking (AutoDock Vina 1.2.0) dilakukan untuk menilai interaksi antara senyawa bioaktif dengan protein target COX-2 dan β-catenin. Hasil: Ekstrak mengandung flavonoid, fenolik, alkaloid, saponin, dan fitosterol, dengan kadar fenolik (268.4 ± 5.2 mg GAE/100 g) dan flavonoid (112.7 ± 3.9 mg QE/100 g) yang tinggi. Aktivitas antioksidan kuat (IC₅₀ = 48.9 µg/mL) setara dengan vitamin C. Hasil molecular docking menunjukkan interaksi kuat kuersetin dan asam galat dengan COX-2 (−8.1 kcal/mol) dan β-catenin (−7.6 kcal/mol). Simpulan: Ekstrak rebung (Bambusa vulgaris) memiliki komposisi fitokimia yang kaya, aktivitas antioksidan yang kuat, serta bukti in silico penghambatan COX-2 dan β-catenin, yang mendukung potensinya sebagai agen kemopreventif terhadap kanker kolorektal.   Kata Kunci: Antioksidan; COX-2; Kanker Kolorektal; Nutrasetikal; Rebung (Bambusa Vulgaris).
Penerapan e-modul dalam kunjungan nifas sebagai upaya peningkatan pengetahuan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) pada ibu pospartum Melyana, Desti; Anggraini, Ryzky Diah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2168

Abstract

Background: Postpartum mothers' low knowledge of long-acting contraceptive methods can influence their decision to use contraception and increase the risk of unplanned pregnancy. Effective education during postpartum visits is an important strategy to improve postpartum mothers' understanding of long-acting contraceptive methods. Purpose: To analyze the effect of using e-modules during postpartum visits on improving postpartum mothers' knowledge of long-acting contraceptive methods Method: This quantitative research used a quasi-experimental design with a two-group pretest–posttest. The sample consisted of 30 multiparous postpartum mothers selected using purposive sampling and divided into two groups: 15 participants in the intervention group who received education using an e-module, and 15 participants in the control group who received leaflets. The research instruments were pretest and posttest questionnaires. Data analysis was performed using paired t-tests and independent t-tests. Results: The intervention group experienced an average increase in knowledge scores of 32.3 points (p<0.001), while the control group experienced a 17.1-point increase, but this was not statistically significant (p=0.072). An independent t-test showed a significant difference between the groups (p<0.005). Conclusion: The implementation of the e-module during postpartum visits significantly improved postpartum mothers' knowledge regarding long-term contraceptive methods.   Keyword: E-Module; Long-Term Contraceptive Methods; Postpartum Visit; Postpartum Mother Ordered.   Pendahuluan: Rendahnya pengetahuan ibu postpartum terhadap metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) dapat memengaruhi keputusan penggunaan kontrasepsi dan meningkatkan risiko kehamilan tidak direncanakan. Edukasi yang efektif selama kunjungan nifas menjadi strategi penting untuk meningkatkan pemahaman ibu postpartum mengenai metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP). Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh penggunaan e-modul dalam kunjungan nifas terhadap peningkatan pengetahuan ibu postpartum mengenai MKJP. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain quasi experiment tipe two group pretest–posttest. Sampel penelitian berjumlah 30 ibu postpartum multipara yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 15 partisipan kelompok intervensi yang diberikan edukasi menggunakan e-modul dan 15 partisipan kelompok kontrol yang diberikan leaflet. Instrumen penelitian berupa kuesioner pretest dan posttest. Analisis data dilakukan menggunakan uji paired t-test dan independent t-test. Hasil: Terdapat peningkatan rata-rata skor pengetahuan sebesar 32.3 poin pada kelompok intervensi dengan nilai p<0.001, sedangkan kelompok kontrol mengalami peningkatan sebesar 17.1 poin namun tidak signifikan secara statistik (p=0.072). Hasil uji independent t-test menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar kelompok dengan p<0.005 Simpulan: Penerapan e-modul dalam kunjungan nifas secara signifikan meningkatkan pengetahuan ibu postpartum mengenai MKJP.   Kata Kunci : E-Modul; Ibu Post Partum; Kunjungan Nifas; Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP).
Analisis peluang dan tantangan penanggulangan TB paru Berek, Pius Almindu Leki; Seu, Imelda; Anugrahini, Christina
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2234

Abstract

Background: Pulmonary tuberculosis (TB) remains a major public health problem in Indonesia, particularly in regions with complex geographic and social characteristics. Disparities in case detection, stigma against patients, and limited access to health services remain significant challenges. This situation demands a mapping of local evidence-based opportunities and challenges as a basis for strengthening TB control strategies, including through increased cross-sectoral collaboration. Purpose: To analyze the opportunities and challenges in pulmonary TB control as a basis for formulating strategic recommendations and developing a regional action plan. Method: This quantitative descriptive study was conducted in 2025 in Belu Regency, East Nusa Tenggara. The sampling technique used non-probability sampling with a sample size of 218 respondents. The independent variables in this study were the opportunities and challenges of the TB program, while the dependent variable was the effectiveness of TB control. Data analysis used univariate analysis in the form of frequency distributions. Results: A total of 218 respondents participated in this study. The majority of respondents considered government policies, the competence of health workers, the involvement of community leaders, and technological support as significant to very significant opportunities for TB control. Conversely, stigma against TB patients, budget constraints, low community participation, geographic barriers, and suboptimal cross-sector collaboration were identified as key challenges. Conclusion: Border regions have strong structural and social opportunities for accelerating TB elimination, but still face various multidimensional challenges. Efforts to strengthen community-based risk communication, optimize regional financing, and increase access to health services are crucial. Integration of cross-sector collaboration is key to supporting the success of a sustainable TB control program.   Keywords: Control; Challenges; Opportunities; Pulmonary Tuberculosis (TB).   Pendahuluan: Tuberkulosis (TB) paru masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia, terutama di wilayah dengan karakteristik geografis dan sosial yang kompleks. Kesenjangan dalam penemuan kasus, stigma terhadap penderita, serta keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan masih menjadi tantangan yang signifikan. Kondisi ini menuntut adanya pemetaan peluang dan tantangan berbasis bukti lokal sebagai dasar penguatan strategi penanggulangan TB, termasuk melalui peningkatan kolaborasi lintas sektor. Tujuan: Untuk menganalisis peluang dan tantangan penanggulangan TB paru sebagai dasar perumusan rekomendasi strategis dan penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD). Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif, dilaksanakan tahun 2025 di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Teknik pengambilan sampel menggunakan non-probability sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 218 responden. Variabel independent dalam penelitian ini adalah faktor peluang dan tantangan program TB, sedangkan variabel dependen adalah efektivitas penanggulangan TB. Analisis data yang digunakan univariat dalam bentuk distribusi frekuensi. Hasil: Sebanyak 218 responden berpartisipasi dalam penelitian ini, mayoritas responden menilai kebijakan pemerintah, kompetensi tenaga kesehatan, keterlibatan tokoh masyarakat, dan dukungan teknologi sebagai peluang besar hingga sangat besar dalam penanggulangan TB. Sebaliknya, stigma terhadap penderita TB, keterbatasan anggaran, rendahnya partisipasi masyarakat, hambatan geografis, serta kolaborasi lintas sektor yang belum optimal diidentifikasi sebagai tantangan utama. Simpulan: Wilayah perbatasan memiliki peluang struktural dan sosial yang kuat untuk percepatan eliminasi TB, namun masih dihadapkan pada berbagai tantangan multidimensional. Upaya penguatan komunikasi risiko berbasis komunitas, optimalisasi pembiayaan daerah, serta peningkatan akses terhadap layanan kesehatan. Integrasi kolaborasi lintas sektor menjadi kunci penting dalam mendukung keberhasilan program penanggulangan TB secara berkelanjutan.   Kata Kunci: Peluang; Penanggulangan; Tantangan; Tuberkulosis (TB) Paru.
Efektivitas high-quality CPR terhadap survival pasien henti jantung di IGD dan perawatan kritis: A systematic review Yulianti, Yeli; Robby, Asep
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2256

Abstract

Background: Cardiac arrest is a life-threatening emergency that requires immediate resuscitation. The quality of cardiopulmonary resuscitation (CPR) plays a crucial role in determining the success of return of spontaneous circulation (ROSC) and patient survival. Emergency and critical care nurses have a strategic role as first responders in initiating CPR; however, variations in CPR quality remain a challenge in clinical practice. Purpose:  To examine the effectiveness of high-quality CPR–based nursing interventions on outcomes of cardiac arrest patients in emergency and critical care settings. Method: Systematic review design following the PRISMA guidelines. Literature searches were conducted using PubMed, Scopus, CINAHL, ScienceDirect, and Google Scholar databases for articles published between 2019 and 2024. Eligible studies were systematically analyzed, and methodological quality was assessed using the Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal Tool. Results: Nursing interventions including high-quality CPR implementation, use of CPR feedback devices, continuous CPR training, and nurse-led resuscitation protocols significantly improved ROSC, enhanced chest compression quality, and increased survival rates among cardiac arrest patients. Conclusion: High-quality CPR–based nursing interventions are effective in improving clinical outcomes of cardiac arrest patients. Strengthening emergency and critical care nurses’ competencies through continuous training and evidence-based protocols is strongly recommended. Suggestion: Heathcare facilities can integrate high-quality CPR Standars into estabilished nursing protocols, particulary by utilizing feedback technology in emergency and criticals care units to ensure consistent compression quality.   Keywords: Cardiac Arrest; Critical Care Nursing; Emergency Department (ER); High-Quality Cardiopulmonary Resuscitation (CPR).   Pendahuluan: Henti jantung merupakan kondisi kegawatdaruratan yang membutuhkan tindakan resusitasi segera. Kualitas Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) berperan penting dalam menentukan keberhasilan Return of Spontaneous Circulation (ROSC) dan survival pasien. Perawat gawat darurat dan kritis memiliki peran strategis sebagai penolong pertama dalam pelaksanaan CPR, namun variasi kualitas tindakan masih menjadi tantangan dalam praktik klinik. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas high-quality CPR terhadap survival pasien henti jantung di IGD dan perawatan kritis. Metode: Systematic review yang disusun berdasarkan panduan PRISMA. Pencarian artikel dilakukan melalui database PubMed, Scopus, CINAHL, ScienceDirect, dan Google Scholar pada periode 2019–2024. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara sistematis dan dinilai kualitas metodologinya menggunakan Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal Tool. Hasil: Intervensi keperawatan berupa pelaksanaan high-quality CPR, penggunaan feedback device, pelatihan CPR berkelanjutan, serta penerapan nurse-led resuscitation protocol terbukti meningkatkan ROSC, kualitas kompresi dada, dan survival pasien henti jantung. Simpulan: Intervensi keperawatan berbasis high-quality CPR efektif meningkatkan outcome klinis pasien henti jantung. Oleh karena itu, penguatan kompetensi perawat melalui pelatihan dan penerapan protokol berbasis bukti sangat direkomendasikan. Saran: Fasilitas pelayanan kesehatan dapat mengintegrasikan standar high-quality CPR ke dalam protokol tetap keperawatan, khususnya dengan memanfaatkan teknologi feedback device di unit gawat darurat dan perawatan kritis guna menjamin kualitas kompresi yang konsisten   Kata Kunci: Henti Jantung; High-Quality Cardiopulmonary Resuscitation (CPR); Instalasi Gawat Darurat (IGD); Keperawatan Kritis.