cover
Contact Name
Ahmad Yani
Contact Email
jurnal.pgsdumkupang@gmail.com
Phone
+6285792375955
Journal Mail Official
jurnalflobamoratamengabdi@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP Universitas Muhammadiyah Kupang Gedung D Lantai 4 Jl. K.H. Ahmad Dahlan, No.17, Kayu Putih, Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur
Location
Kota kupang,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
JURNAL FLOBAMORATA MENGABDI
ISSN : -     EISSN : 29883911     DOI : https://dx.doi.org/10.51494/jfm
Fokus dan ruang lingkup jurnal ini adalah penerapan ilmu teknologi komunikasi, olahraga, budaya dan seni dalam pemberdayaan masyarakat, dan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 36 Documents
Pendokumentasian Tari Bidu Tais Mutin di Desa Weoe, Kabupaten Malaka Felitciani Dwi Junitha Sanga Tolan; Zaqinah Ahmad; Ummu Aiman; Rizqy Amelia Ramadhaniyah Ahmad; Dian Meilani; Arifin Arifin; Kenedi Kenedi; Ahmad Ishom Pratama Wahab
Jurnal Flobamorata Mengabdi Vol. 3 No. 2 (2025): JURNAL FLOBAMORATA MENGABDI
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51494/jfm.v3i2.3066

Abstract

Abstrak: Pelaksanaan Kegiatan Pengkajian Warisan Budaya Takbenda seni tari Bidu Tais Mutin di Desa Weoe dilakukan dengan maksud menulis dan mendokumentasikan keseluruhan proses pembuatan dari perspektif budaya sehingga dapat dijadikan sebagai materi pembelajaran bagi pelajar, masyarakat ataupun pemerhati budaya, dan juga sebagai salah satu bahan referensi penelitian mahasiswa. Sebagai upaya perlindungan, pelestarian, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan kebudayaan daerah, kegiatan ini penting dilaksanakan karena bagian dari proses untuk penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Adanya laporan kegiatan ini kiranya dapat menjadi bahan evaluasi bagi Bidang Kebudayaan untuk membuat perencanaan, merancang kebijakan guna mewujudkan kemajuan pemajuan kebudayaan daerah Nusa Tenggara Timur yang konstruktif. Tari Bidu Tais mutin mrupakan bentuk luapan kegembiraan masyarakat Desa Weoe dalam meredahkan amarah dari para penjajah Jepang. Penulisan pelaporan kegiatan pendokumentasian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnokoreologi. Metode penulisan secara kualitatif ini bertujuan untuk mendapatkan data sebanyak-banyaknya, kemudian dianalisis dan dideskripsikan, sehingga dapat memberikan gambaran dan pemaparan mengenai sejarah dan bentuk tari Bidu tais Mutin di desa upacara Weoe. Teknik pengumpalan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan studi pustaka. Analisis bentuk tari Bidu Tais mutinmenggunakan konsep Soedarsono tentang bentuk yang saling berkaitan seperti penari, gerak, pola lantai, busana, iringan, waktu dan tempat pertunjukan. Hasil menujukkan bahwa tari Bidu Tais Mutin merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur pada zaman penjajah Jepang dan sebagai suatu pengenang akan sejarah masyarakat Weoe pada waktu itu yang dapat dilihat dari gerak, nyanyian, busana penuh pemaknaan sebagai identitas dari masyarakat Weoe. Abstract: The implementation of the Intangible Cultural Heritage Study Activity for the Bidu Tais Mutin dance in Weoe Village was carried out with the aim of writing and documenting the entire process of creation from a cultural perspective so that it can be used as learning material for students, the community or cultural observers, and also as a reference material for student research. As an effort to protect, preserve, develop, utilize, and foster regional culture, this activity is important to carry out because it is part of the process of determining Indonesia's Intangible Cultural Heritage. The existence of this activity report can hopefully be used as evaluation material for the Cultural Sector to make plans and design policies to realize constructive progress in advancing the culture of the East Nusa Tenggara region. The Bidu Tais Mutin dance represents a joyful outpouring of joy by the people of Weoe Village to defuse the anger of the Japanese invaders. This report on the documentation of this activity uses qualitative research methods with an ethnochoreological approach. This qualitative writing method aims to obtain as much data as possible, then analyze and describe it, so that it can provide an overview and explanation of the history and form of the Bidu Tais Mutin dance in the Weoe ceremonial village. The data collection techniques used were observation, interviews, and literature review. The analysis of the Bidu Tais Mutin dance form uses Soedarsono's concept of interrelated forms such as dancers, movements, floor patterns, costumes, accompaniment, time, and performance venue. The results show that the Bidu Tais Mutin dance is a form of respect for the ancestors during the Japanese colonial era and as a reminder of the history of the Weoe people at that time which can be seen from the movements, songs, and clothing full of meaning as the identity of the Weoe people.
Penerapan Konsep Pembelajaran Mendalam Berbasis Budaya Lokal Melalui Workshop Guru Matematika Sebagai Upaya Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Agustin Fatmawati; Dwi Priyo Utomo; St. Muthmainnah Yusuf; Masdelima Azizah Sormin
Jurnal Flobamorata Mengabdi Vol. 4 No. 1 (2026): JURNAL FLOBAMORATA MENGABDI
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51494/jfm.v4i1.2979

Abstract

Abstrak: Kupang merupakan ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki budaya lokal yang perlu dilestarikan. Upaya ini dapat dilakukan melalui dunia pendidikan. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong kompetensi guru matematika dalam menerapkan pembelajaran matematika yang menggunakan pembelajaran mendalam serta berbasis budaya lokal sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk workshop selama dua hari dan melibatkan 10 orang guru matematika di Kota Kupang. Metode yang digunakan meliputi pemberian materi konseptual, diskusi, praktek perancangan pembelajaran serta refleksi. Instrumen pengumpulan data terdiri atas tes, angket respon dan wawancara semi terstruktur. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman guru mengenai penerapan pembelajaran mendalam berbasis budaya lokal dengan rata-rata skor pretest 71 dan rata-rata hasil posttest 82,3. Hasil angket menunjukkan respon guru berada pada kategori sangat baik dengan rata-rata skor 4,56. Hal ini mengindikasikan bahwa workshop dinilai relevan, bermanfaat, dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran matematika. Hasil wawancara mengungkapkan bahwa guru menjadi lebih percaya diri dalam merancang pembelajaran yang kontekstual, aktif dan berorientasi pada kemampuan berpikir kritis siswa melalui integrasi budaya lokal. Meskipun demikian, guru juga mengidentifikasi keterbatasan waktu dan perlunya pendampingan lanjutan sebagai tantangan dalam implementasi. Abstract: Kupang, the capital of East Nusa Tenggara Province, boasts a rich local culture that deserves preservation. This can be achieved through education. This activity aims to improve mathematics teachers' competency in implementing mathematics learning using in-depth learning and based on local culture as an effort to improve students' critical thinking skills. The activity was carried out as a two-day workshop and involved 10 mathematics teachers in Kupang City. The methods used included providing conceptual material, discussions, learning design practices, and reflection. Data collection instruments consisted of tests, response questionnaires, and semi-structured interviews. The results of the activity showed an increase in teachers' understanding of the application of in-depth learning based on local culture with an average pretest score of 71 and an average posttest result of 82.3. The questionnaire results showed that teachers' responses were in the very good category with an average score of 4.56. This indicates that the workshop was considered relevant, useful, and appropriate to the needs of mathematics learning. The interview results revealed that teachers became more confident in designing contextual, active, and critical thinking-oriented learning through the integration of local culture. However, teachers also identified time constraints and the need for further mentoring as challenges in implementation.
Meningkatkan Literasi AI di Kalangan Guru Melalui Workshop Pengenalan Prompt AI untuk Pembelajaran Inovatif di SMK Assalam Bantur, Malang Muhammad Abdul Azis; Abdullah Abdullah; Mahendra Yustika Citra
Jurnal Flobamorata Mengabdi Vol. 4 No. 1 (2026): JURNAL FLOBAMORATA MENGABDI
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51494/jfm.v4i1.3034

Abstract

Abstrak: Kemajuan kecerdasan buatan (AI) membuka peluang personalisasi materi, umpan balik waktu nyata, dan efisiensi manajemen kelas, namun pemanfaatannya oleh guru di Indonesia masih terbatas akibat rendahnya literasi AI serta isu etika, privasi data, dan kesenjangan akses. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi AI dan keterampilan praktis guru dalam mengintegrasikan AI untuk perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Mitra kegiatan adalah SMK Assalam Malang, sekolah menengah kejuruan yang berorientasi pada penguatan kompetensi digital. Metode pelaksanaan menggunakan lokakarya interaktif-partisipatif yang mencakup pengenalan konsep dasar AI, pemanfaatan chatbot dan asisten virtual, perancangan prompt untuk personalisasi materi ajar, serta pembahasan prinsip penggunaan AI yang etis. Tahapan kegiatan meliputi persiapan (pembentukan tim, penyusunan modul, koordinasi sarana), pelaksanaan (praktik langsung berbasis studi kasus mata pelajaran), dan evaluasi melalui kuesioner pra–pasca serta umpan balik peserta. Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman yang nyata: sebelum pelatihan hanya 30% guru memiliki pemahaman dasar AI, sedangkan setelah pelatihan 70% guru menyatakan memahami dan mampu menggunakan AI dalam konteks pembelajaran; 30% lainnya masih memerlukan pendampingan lanjutan. Secara kualitatif, guru melaporkan peningkatan kepercayaan diri, percepatan penyusunan materi dan instrumen evaluasi, serta efisiensi pekerjaan administratif (olah data dan pelaporan) yang lebih terstruktur dan berbasis data. Abstract: Advances in artificial intelligence (AI) offer opportunities for personalized learning materials, real-time feedback, and more efficient classroom management. However, AI adoption among teachers in Indonesia remains limited due to low AI literacy as well as ethical, data privacy, and digital access issues. This community service program aimed to improve teachers’ AI literacy and practical skills in integrating AI into lesson planning, instructional delivery, and learning assessment. The partner institution was SMK Assalam Malang, a vocational secondary school focused on strengthening digital competencies. The program employed an interactive, participatory workshop method covering basic AI concepts, the use of chatbots and virtual assistants, prompt design for personalizing teaching materials, and ethical principles for responsible AI use. Implementation stages included preparation (team formation, module development, and coordination of facilities), execution (hands-on practice using subject-specific case studies), and evaluation through pre–post questionnaires and participant feedback. The results indicated a clear improvement in teachers’ understanding: prior to the training, only 30% of teachers reported basic AI knowledge, whereas after the workshop 70% reported understanding and being able to use AI in instructional contexts; the remaining 30% still required further mentoring. Qualitative feedback also showed increased teacher confidence, faster development of teaching materials and assessment instruments, and improved efficiency in administrative tasks (data processing and reporting) with more structured, data-driven outputs.
Pelatihan Pengembangan Media Pembelajaran Digital Bagi Guru SD di Era Merdeka Belajar Julhidayat Muhsam; Nurlailah Nurlailah; Suryadin Hasyda; Fenny Tanalinal Khasna; Nuriyah Nuriyah; Kenedi Kenedi
Jurnal Flobamorata Mengabdi Vol. 4 No. 1 (2026): JURNAL FLOBAMORATA MENGABDI
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51494/jfm.v4i1.3332

Abstract

Abstrak: Kebijakan Merdeka Belajar mendorong transformasi proses pembelajaran yang tidak lagi terbatas pada ruang kelas konvensional. Namun demikian, sebagian besar guru sekolah dasar masih menghadapi keterbatasan kompetensi dalam mengembangkan media dan bahan ajar berbasis digital. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru SD dalam merancang dan mengembangkan media pembelajaran elektronik serta bahan ajar digital yang sesuai dengan kebutuhan kurikulum. Metode yang diterapkan meliputi pelatihan terstruktur, pendampingan teknis, dan evaluasi produk. Pelatihan dilaksanakan selama tiga hari dengan melibatkan 30 guru dari lima sekolah dasar. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan rata-rata skor kompetensi peserta dari 52,3 menjadi 81,7 (peningkatan 56,2%), serta 87% peserta berhasil menghasilkan produk media pembelajaran elektronik yang layak digunakan. Kegiatan ini membuktikan bahwa pelatihan berbasis praktik secara langsung efektif meningkatkan kapasitas guru dalam menyiapkan sumber belajar digital yang relevan dengan tuntutan pembelajaran abad ke-21. Abstract: The Merdeka Belajar policy promotes a transformation in learning processes that extend beyond conventional classrooms. However, the majority of elementary school teachers still face limitations in digital competence, particularly in developing technology-based instructional media and teaching materials. This Community Service activity aimed to improve the competence of elementary school teachers in designing and developing electronic learning media and digital teaching materials in accordance with curriculum requirements. The methods applied included structured training, technical mentoring, and product evaluation. The training was conducted over three days involving 30 teachers from five elementary schools. Evaluation results showed an average increase in participants' competency scores from 52.3 to 81.7 (a 56.2% improvement), and 87% of participants successfully produced electronic learning media products ready for classroom use. This activity demonstrates that practice-based training is effective in building teachers' capacity to prepare digital learning resources relevant to the demands of 21st-century education.
Pendampingan Belajar Konsep Literasi Numerasi Melalui Alat Peraga Papan Berhitung Bagi Siswa Kelas Rendah di SDI Kuanino 2 Kupang Zaqinah Ahmad; Dian Meilani; Felitciani Dwi Junitha Sanga Tolan; Rizqy Amelia Ramadhaniyah Ahmad; Ahmad Ishom Pratama Wahab; Maria Asti Fereira Manek
Jurnal Flobamorata Mengabdi Vol. 4 No. 1 (2026): JURNAL FLOBAMORATA MENGABDI
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51494/jfm.v4i1.3352

Abstract

Abstrak: Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Alat Peraga Papan Berhitung dalam memvisualisasikan konsep penjumlahan dan pengurangan bagi siswa kelas rendah di SD Kuanino 2 Kupang. Masalah utama yang melatarbelakangi kegiatan pengabdian ini adalah rendahnya pemahaman konsep berhitung dasar akibat pembelajaran matematika yang cenderung abstrak dan konvensional. Kegiatan pengabdian ini menggunakan pendekatan deskriptif yang melibatkan 30 siswa sebagai partisipan. Teknik pengumpulan data berupa wawancara terstruktur dan penyebaran instrumen angket, yang diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, serta expert judgment. Data kualitatif dianalisis menggunakan teknik analisis interaktif Miles dan Huberman, sedangkan data kuantitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif persentase. Hasil kegiatan pengabdian secara kualitatif menunjukkan bahwa penggunaan papan berhitung mampu mengubah atmosfer kelas menjadi lebih interaktif, berpusat pada siswa, serta efektif menjembatani fase operasional konkret anak. Sementara itu, analisis kuantitatif memperkuat temuan tersebut dengan perolehan rata-rata akumulasi respons positif siswa mencapai 96%. Indikator visualisasi estetika warna menempati persentase tertinggi (86,7% sangat setuju) dalam mencegah kebosanan belajar. Secara kognitif, media manipulatif ini terbukti mempercepat pemahaman logika operasi hitung dasar dan mereduksi kecemasan matematika anak. Dapat disimpulkan bahwa implementasi Alat Peraga Papan Berhitung sangat efektif meningkatkan minat, keterlibatan aktif, dan pemahaman konsep matematika siswa kelas rendah di SD Kuanino 2 Kupang. Abstract: This community service activity aims to describe the implementation of the Abacus Teaching Aid in visualizing the concepts of addition and subtraction for lower-grade students at SD Kuanino 2 Kupang. The main issue underlying this community service activity is the low level of understanding of basic arithmetic concepts due to mathematics instruction that tends to be abstract and conventional. This community service activity employs a descriptive approach involving 30 students as participants. Data collection techniques included structured interviews and the distribution of questionnaires, whose validity was tested through source triangulation, methodological triangulation, and expert judgment. Qualitative data were analyzed using Miles and Huberman’s interactive analysis technique, while quantitative data were analyzed using descriptive percentage statistics. The qualitative results of the community service activity indicate that the use of an abacus board can transform the classroom atmosphere into a more interactive, student-centered environment and effectively bridge children’s concrete operational stage. Meanwhile, the quantitative analysis reinforces these findings, with the average cumulative percentage of positive student responses reaching 96%. The aesthetic color visualization indicator had the highest percentage (86.7% strongly agreed) in preventing learning boredom. Cognitively, this manipulative medium was proven to accelerate the understanding of basic arithmetic operations and reduce children’s math anxiety. It can be concluded that the use of the Abacus Teaching Aid is highly effective in increasing the interest, active engagement, and understanding of mathematical concepts among lower-grade students at Kuanino 2 Elementary School in Kupang.
Penguatan Kesehatan Mental Guru dalam Pembelajaran Matematika yang Inklusif dan Bebas Kecemasan di Sekolah Dasar Ummu Fajariyah Akbari; Ummu Aiman; Uslan Uslan
Jurnal Flobamorata Mengabdi Vol. 4 No. 1 (2026): JURNAL FLOBAMORATA MENGABDI
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51494/jfm.v4i1.3361

Abstract

Abstrak: Pembelajaran matematika di sekolah dasar tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik siswa, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi emosional siswa selama proses belajar. Dalam praktik pembelajaran, guru masih sering menghadapi siswa yang mudah panik, takut terhadap matematika, sulit fokus, menolak mengerjakan tugas, atau menunjukkan perilaku emosional tertentu di kelas. Berdasarkan hasil observasi awal di SD GMIT 07 Oebufu, sebagian guru mengaku belum pernah memperoleh pelatihan terkait kesehatan mental siswa dan masih mengalami kesulitan dalam memberikan respons yang tepat terhadap kondisi emosional siswa selama pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian ini dilakukan untuk membangun kesadaran kesehatan mental guru sebagai upaya menciptakan pembelajaran matematika yang lebih aman, nyaman, dan bebas kecemasan. Kegiatan melibatkan 21 guru sekolah dasar dan dilaksanakan melalui penyuluhan, pelatihan, serta pendampingan dengan menghadirkan dosen pendidikan matematika dan psikolog perkembangan anak. Data diperoleh melalui angket pre-test dan post-test, observasi, serta diskusi reflektif selama kegiatan berlangsung. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran guru terhadap pentingnya kesehatan mental dalam pembelajaran yang dilihat dari peningkatan hasil pre test berada di skor 2,58 dan post test menjadi 3,6. Guru mulai memahami bahwa perilaku siswa tidak selalu merupakan bentuk kenakalan, tetapi dapat berkaitan dengan kondisi emosional dan kecemasan belajar siswa. Guru juga mulai memahami pentingnya memvalidasi emosi siswa, memberikan respons yang lebih tenang dan suportif, serta menghindari pelabelan negatif selama proses pembelajaran matematika berlangsung. Abstract: Mathematics learning in elementary school is not only related to students’ academic abilities but is also influenced by their emotional conditions during the learning process. In classroom practice, teachers still frequently encounter students who panic easily, fear mathematics, have difficulty focusing, refuse to complete assignments, or display certain emotional behaviors. Based on initial observations conducted at SD GMIT 07 Oebufu, several teachers admitted that they had never received training related to students’ mental health and still experienced difficulties in responding appropriately to students’ emotional conditions during learning activities. Therefore, this community service program was conducted to strengthen teachers’ mental health awareness as an effort to create mathematics learning environments that are safer, more comfortable, and free from anxiety. The program involved 21 elementary school teachers and was implemented through educational sessions, training, and mentoring activities involving mathematics education lecturers and a child developmental psychologist. Data were collected through pre-test and post-test questionnaires, observations, and reflective discussions throughout the program. The results showed an improvement in teachers’ awareness of the importance of mental health in learning. Teachers began to understand that students’ behaviors are not always forms of misbehavior but may be related to emotional conditions and learning anxiety. Teachers also became more aware of the importance of validating students’ emotions, providing calmer and more supportive responses, and avoiding negative labeling during mathematics learning activities. Top of Form Bottom of Form This activity demonstrates that strengthening teachers’ mental health awareness can become an important step in supporting mathematics learning that is more inclusive and emotionally safe, particularly in schools that do not yet have counseling services or psychological assistance programs

Page 4 of 4 | Total Record : 36