cover
Contact Name
Hamsu Kadriyan
Contact Email
lombokmedicaljournal@unram.ac.id
Phone
+62818366217
Journal Mail Official
lombokmedicaljournal@unram.ac.id
Editorial Address
Jalan Pendidikan No 37, Mataram, NTB
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Lombok Medical Journal
Published by Universitas Mataram
ISSN : -     EISSN : 28277686     DOI : -
Lombok Medical Journal (LMJ) is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, community or public health research, and medical education to integrate researches in all aspects of human health. This journal publishes original articles, reviews, and case reports. Brief communications containing short features of medicine, latest developments in diagnostic procedures, treatment, or other health issues that is important for the development of health care system are also acceptable. Focus and Scope of Lombok Medical Journal (LMJ): Basic Science, Clinical Research, Community or public health research, Medical Education
Articles 156 Documents
Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) : Sebuah Tinjauan Pustaka Arif Setyo Pambudi; Dyah Purnaning
Lombok Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2022): Lombok Medical Journal Volume 1 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/lmj.v1i2.1515

Abstract

Congenital Talipes Equino Varus (CTEV) atau clubfoot merupakan suatu kelainan malformasi kongenital pada kaki yang paling umum dengan keadaan kaki seperti menjinjit atau plantar fleksi disertai posisi kaki terbalik dan adduksi. Prevalensi CTEV di Indonesia memiliki prevalensi lebih tinggi dibanding kelaianan bawaan lainnya yaitu sebesar 21,9%. Etiologi dari CTEV masih belum diketahui secara pasti namun beberapa faktor seperti genetik dan lingkungan berkontribusi meningkatkan resiko terjadinya CTEV. Diagnosis CTEV dapat ditegakkan dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang seperti ultrasonografi, x-ray, dan MRI. Tatalaksana CTEV dapat dilakukan secara non-operatif dan operatif. Tindakan non operatif pada CTEV dapat dilakukan dengan metode Ponseti dan metode French sedangkan untuk tindakan operatif yang sering digunakan saat ini adalah posteromedial release (PMR). Prognosis CTEV pada umumnya baik dengan tingkat keberhasilan metode Ponseti dalam menangani CTEV mencapai lebih dari 90%.
Pancreatic Cancer: A Holistic Review and Update Guideline Puspita, Ni Made Sri Padma
Lombok Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2023): Lombok Medical Journal Volume 2 Nomor 2
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/lmj.v2i1.1541

Abstract

Kanker pankreas merupakan salah satu kanker yang mematikan di dunia dengan prevalensi yang semakin meningkat beberapa tahun terakhir. Kanker ini diakibatkan adanya mutasi gen sehingga bersifat agresif dan dapat mengalami metastasis jauh. Sel pankreas tumbuh dan membelah secara tak terkendali sehingga membentuk tumor. Sebagian besar pasien tidak menunjukkan gejala yang khas selama perkembangan penyakit sehingga sulit untuk dilakukan diagnosis dini pada kanker ini. Kegagalan diagnosis menyebabkan pengobatan yang terlambat sehingga meningkatkan risiko mortalitas akibat kanker ini. Pasien yang terdiagnosis kanker pankreas sering mengalami kekambuhan bahkan setelah dilakukan terapi. Kanker pankreas berasal dari jaringan endokrin maupun eksokrin. Sekitar 9 dari 10 kasus berasal dari jaringan eksokrin pada adenoma ductus pankreatikus. Beberapa faktor risiko yang berkaitan dengan kanker ini yaitu usia, jenis kelamin, genetik, pola hidup tidak sehat, serta kondisi sosial ekonomi. Patogenesis kanker ini berawal dari perubahan genetik yang progresif pada epitel pankreas lalu berkembang menjadi lesi precursor yang spesifik dan berakhir pada keganasan invasif. Pasien dapat mengalami gejala klinis seperti ikterus, perut kembung dan terasa tidak nyaman, nyeri abdomen, mual muntah, kelelahan dan penurunan berat badan. Diagnosis kanker pankreas ini dapat ditegakkan melalui pemeriksaan histologi dan laboratorium. Berdasarkan NCCN Guidelines for Patiens Pancreatic Cancer tahun 2021, penatalaksanaan yang dapat dilakukan yaitu menentukan staging cancer, pembedahan, terapi sistemik, dan terapi radiasi. Prognosis kanker ini juga buruk dengan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun hanya sekitar 20%.
Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Eksperesi MIF (Macrophage Migration Inhibitory Factor) pada Limfadenitis Tuberkulosis di Nusa Tenggara Barat Putu Diva Gayatri Jaya Putri; Fathul Djannah; Triana Dyah Cahyawati
Lombok Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2022): Lombok Medical Journal Volume 1 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/lmj.v1i2.1550

Abstract

Latar Belakang: Sekitar 20-25% kasus tuberkulosis terjadi di luar paru sehingga dapat dikategorikan sebagai extrapulmonary tuberculosis (EPTB). EPTB dapat disebabkan oleh penyebaran Mycobacterium tuberculosis (MTB) keluar dari paru-paru. Salah satu EPTB yang sering terjadi adalah limfadenitis tuberkulosis (LNTB). Macrophage Migration Inhibitory Factor (MIF) sebagai faktor proinflamasi sering dikaitkan dengan kejadian LNTB. Ekspresi MIF seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah jenis kelamin yang sering dikaitkan pada kasus LNTB dikarenakan perbandingan jumlah penderita laki laki dibanding wanita. Metode: Desain penelitian analitik konservatif dengan pendekatan cross sectional yang diperoleh dari rekam medis pasien LNTB di Nusa Tenggara Barat. Besar sampel penelitian ini berjumlah 100 yang dianalisis dengan uji kontingensi koefisien. Hasil: Berdasarkan analisis statistik uji kontingensi koefisien didapatkan nilai Asymp. Sig. sebesar 0,745 dan koefisien korelasi r sebesar 0,32. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin pada dengan ekspresi MIF pada penderita LNTB di Nusa Tenggara Barat.
Perforasi Kolon pada Kanker Kolon Suryantini, Ni Kadek Mega; Putri, Lendi Leskia; Lestary , Ayundha Rizky; Rahma , Elrica Nadia; Syahla , Talitha; Zuhan , Arif
Lombok Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2023): Lombok Medical Journal Volume 2 Nomor 2
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/lmj.v2i1.1577

Abstract

Perforasi kolon merupakan komplikasi yang terjadi pada pasien kanker kolon, tempat perforasi kolon paling sering terjadi yaitu kolon sigmoid. Prevalensi perforasi pada pasien kanker kolon dapat mencapai 3-10%. Faktor risiko perforasi kolon yaitu pasien lanjut usia, riwayat terkena kanker kolon, riwayat keluarga dengan kanker kolon, penyakit radang usus, gaya hidup yang buruk, obesitas, dan penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid. Faktor risiko dapat berkembang menjadi penyebab terjadinya kanker kolon yaitu pasien lanjut usia dan terdapat riwayat kanker kolon dan atau riwayat dengan kanker kolon keluarga (familial adenomatous polyposis). Terdapat dua hal yang menjadi dasar perforasi kanker kolon yaitu perforasi pada lokasi kanker karena terjadi nekrosis tumor dan perforasi yang disebabkan karena aliran dari kolon proksimal yang mengalami distensi akibat obstruksi dari tumor. Perforasi yang diakibatkan oleh kanker kolon dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu sebagai perforasi bebas dan perforasi tertutup. Penanganan secara umum pada kanker perforasi yaitu reseksi darurat yang diikuti oleh anastomosis ileokolika primer. Salah satu prosedur reseksi diskontinuitas yaitu dilakukan pembedahan dengan prosedur Hartmann, pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat daerah usus yang abnormal kemudian dilakukan kolostomi. Kata Kunci: perforasi kolon, etiologi, tatalaksana, kanker kolon Colonic perforation is a complication that occurs in colon cancer patients, where colonic perforation most often occurs is the sigmoid colon. The prevalence of perforation in colon cancer patients could reach 3-10%. The risk factors that can be developed into the cause of colon cancer are advanced age, history of colon cancer and a family history of colon cancer (familial adenomatous polyposis). There are two things that are the basis of colon cancer perforation, namely perforation at the cancer site due to tumor necrosis and perforation caused by the stream from the proximal colon which is distended due to obstruction of the tumor. Perforations caused by colon cancer can be divided into two types, namely as free perforations and closed perforations. The general treatment for perforated cancer is emergency resection followed by a primary ileocolic anastomosis. One of the discontinuity resection procedures is surgery performed with the Hartmann procedure, it is done to remove the abnormal area and then a colostomy. Keyword: Colon perforation, Etiology, Management, Colon cancer
Peranan Sitokin dan Kemokin dalam Proses Neuroinflamasi pada Stroke Iskemik Akut Anandito Prabuningrat; Ilsa Hunaifi
Lombok Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2022): Lombok Medical Journal Volume 1 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/lmj.v1i2.1580

Abstract

Stroke merupakan penyebab kecacatan utama di dunia dan Indonesia dengan prevalensi 87% stroke merupakan stroke iskemik. Iskemika serebri akan memicu terjadinya reaksi inflamasi pada otak yang melibatkan sel glia, endotel dan mediator inflamasi yaitu sitokin dan kemokin. Sitokin berperan dalam mempromosikan dan meregulasi respon imun tubuh. Sitokin dapat diklasifikasikan menjadi sitokin pro-inflamasi dan sitokin anti-inflamasi. Sitokin pro-inflamasi utama dalam proses neuroinflamasi di antara lain adalah IL-1 β, TNF-α, dan IL-6. Sedangkan sitokin anti-inflamasi yang diketahui memiliki peranan dalam proses neuroinflamasi adalah IL-4, IL-10, dan TGF-β. Kemokin memiliki peran utama untuk menstimulasi terjadinya migrasi dari sel-sel menuju tempat terjadinya inflamasi. Kemokin yang berperan sebagai kunci dari keseluruhan proses neuroinflamasi adalah CCL2, CCL5, dan CXCL1. Sitokin dan kemokin memiliki efek detrimental dengan memicu distrupsi sawar darah otak dan memicu migrasi sel yang dapat memperbaiki sel saraf yang rusak pada proses neuroinflamasi.
Hubungan Fase Pengobatan Tuberkulosis dengan Status Gizi Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Cakranegara Rifdah Amalia; Rina Lestari; Rifana Cholidah
Lombok Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2022): Lombok Medical Journal Volume 1 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/lmj.v1i2.1613

Abstract

Latar Belakang: Indonesia merupakan negara dengan kasus Tuberkulosis tertinggi nomor tiga di dunia. Infeksi TB dapat menyebabkan penurunan nafsu makan dan perubahan metabolisme tubuh akibat respon inflamasi dan sistem imun yang berdampak pada status gizi. Pasien Tuberkulosis memerlukan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang melibatkan 2 tahap, yakni tahap awal (intensif) selama 2 bulan dan tahap lanjutan selama 4 bulan dengan dosis obat yang berbeda. Pemberian OAT dapat meningkatkan mekanisme pertahan tubuh dengan mengurangi jumlah bakteri dalam tubuh serta menurunkan penggunaan energi tubuh dalam melawan infeksi sehingga dapat memperbaiki status gizi. Metode: Penelitian ini merupakan studi cross sectional. Besar sampel penelitian ini berjumlah 61. Teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling. Pengambilan data menggunakan data primer dan sekunder. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square dengan uji alternatif Kolmogrov-smirnov. Hasil: Sebanyak 61 pasien Tuberkulosis paru memenuhi kriteria inklusi dalam penelitian ini. Sebagian besar didominasi oleh usia produktif sebanyak 56 responden (91,8%), jenis kelamin laki-laki 40 responden (65,6%), pendidikan terakhir SMA 30 responden (49,2%), dasar diagnosis berdasarkan bakteriologis 61 responden (100%) dan durasi pengobatan pada bulan pertama 26 responden (42,6%). Hasil uji Kolmogrov-smirnov diperoleh fase pengobatan Tuberkulosis menunjukkan hubungan yang tidak signifikan dengan status gizi pasien Tuberkulosis paru (p= 0,960). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara fase pengobatan Tuberkulosis dengan status gizi pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Cakranegara.
Perbedaan Kadar High Density Lipoprotein antara Pasien Penyakit Jantung Koroner Perokok dan Pasien Non Perokok di RSUD Provinsi NTB Latifa Intan Rahma; Basuki Rahmat; Philip Habib
Lombok Medical Journal Vol. 1 No. 3 (2022): Lombok Medical Journal Volume 1 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/lmj.v1i3.1614

Abstract

Latar Belakang: Indonesia menduduki peringkat ketiga dengan jumlah perokok terbesar di dunia dan menduduki urutan pertama dengan jumlah perokok terbanyak di antara negara ASEAN. Merokok dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, salah satunya ialah penyakit jantung koroner (PJK). Pada provinsi Nusa Tenggara Barat, PJK menduduki peringkat kematian tertinggi kedua setelah stroke. Selain merokok, rendahnya kadar High Density Lipoprotein (HDL) pada pasien PJK dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar HDL antara pasien perokok dan pasien non perokok pada PJK di RSUD Provinsi NTB. Metode: Penelitian ini termasuk analitik komparatif dengan metode case control. Sampel diperoleh dari pasien PJK yang bersedia mengisi kuesioner serta dari data rekam medis di RSUD Provinsi NTB. Besar sampel penelitian ini berjumlah 46 dengan analisis uji mann whitney. Hasil: Diketahui terdapat adanya perbedaan kadar HDL antara pasien PJK perokok dan non perokok dengan usia p (0,005), jenis kelamin p (0,000), jumlah rokok yang dikonsumsi p (0,000), paparan asap rokok tiap harinya (0,004) dan kopi (0,007). Distribusi kadar HDL dominan rendah baik pada pasien PJK perokok ataupun non perokok (71,7%). Hasil uji statistik menggunakan mann whitney mendapatkan hasil Asymp. Sig (2- failed) sebesar 0,022 (<0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis dapat diterima. Dengan deimikian maka dapat dikatakan bahwa ditemukan adanya perbedaan kadar HDL antara pasien perokok dan pasien non perokok dengan PJK. Kesimpulan: Terdapat adanya perbedaan kadar HDL antara pasien perokok dan pasien non perokok dengan PJK. Kata kunci: merokok, kadar HDL, usia, jenis kelamin, kopi, PJK. Background: Indonesia ranks third eith the largest number of smokers in the world and ranks first with the highest number of smokers among ASEAN countries. Smoking can cause various diseases, one of which is coronary heart disease (CHD). In West Nusa Tenggara Province, CHD has the second highest mortality rate after stroke. In addition to smoking, low levels of High Density Lipoprotein (HDL) in CHD patients can be caused by various factors. Therefore, this study aims to determine the differences HDL levels between smokers and non-smokers in CHD at NTB Provincial Hospital. Method: This research is a comparative analytic research with case control. The sample obtained from CHD patients who were willing to fill out a questionnaire and from medical record data at the NTB Hospital. The sample size of this study was 46 with the Mann Whitney. Results: It is known that there are differences in HDL levels between patients with CHD smokers and non-smokers with age p (0.005), gender p (0.000), number of cigarettes consumed p (0.000), daily exposure to cigarette smoke (0.004) and coffee (0.007). The distribution of HDL levels was dominantly low in both smokers and non-smokers CHD patients (71.7%). The results of statistical tests using Mann Whitney get Asymp results. Sig (2- failed) of 0.022 (<0.05) so it can be concluded that the hypothesis can be accepted. Thus, it can be said that there are differences in HDL levels between smokers and non-smokers with CHD. Conclusion: There are differences in HDL levels between smokers and non-smokers with CHD. Keywords: smoking, HDL levels, age, gender, coffee, CHD.
Barotrauma Telinga Tengah pada Nelayan Penyelam Dwi Rahmat; Ni Komang Ayu Trisnayanti Yasa; Eka Arie Yuliyani
Lombok Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2022): Lombok Medical Journal Volume 1 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/lmj.v1i2.1619

Abstract

Latar Belakang: Indonesia sebagai negara kepulauan menjadikan sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan termasuk nelayan penyelam. Risiko tinggi yang dimiliki oleh nelayan penyelam harus menjadi perhatian khusus guna mencegah terjadinya barotrauma telinga. Metode: Penulisan ini menggunakan metode studi literatur yang relevan terkait kejadian barotrauma telinga tengah pada nelayan penyelam. Mesin pencari yang digunakan antara lain NCBI, ProQuest, dan Google Scholar. Secara keseluruhan digunakan sebanyak 21 artikel yang digunakan sebagai referensi dalam penyusunan artikel ini. Isi: Barotrauma telinga tengah merupakan salah satu gangguan pendengaran dengan angka kejadian tinggi yang terjadi saat penyelaman. Barotrauma telinga adalah kerusakan jaringan akibat kegagalan ekualisasi sehingga terjadi ketidakseimbangan antara tekanan udara pada telinga tengah dengan tekanan lingkungan. Terdapat beberapa tanda dan gejala dari barotrauma telinga, diantaranya telinga tersumbat atau terasa penuh, nyeri telinga (otalgia), vertigo, dan gangguan pendengaran. Manajemen barotrauma telinga tengah dilakukan secara konservatif dan tanpa intervensi medis, tetapi apabila didapatkan kasus yang lebih berat dapat dilakukan intervensi yang lebih invasif seperti miringotomi. Kesimpulan: Barotrauma telinga tengah meimiliki angka kejadian tinggi pada nelayan dan penyelam. Hal ini perlu mendapatkan perhatian khusus agar dapat dilakukan pencegahan. Manajemen barotrauma dapat dilakukan secara konservatif dan invasif sesuai dengan berat ringannya kasus.
Potensi Teripang (Sea cucumber) sebagai Terapi Komplementer Diabetes Mellitus Tipe 2 Rabsanjani; Nurhidayati
Lombok Medical Journal Vol. 1 No. 3 (2022): Lombok Medical Journal Volume 1 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/lmj.v1i3.1621

Abstract

Teripang merupakan hewan invertebrata yang termasuk dalam kelas Holothuroidea. Persebaran habitat teripang berada pada laut dalam di seluruh dunia. Hewan ini memiliki kandungan yang cukup bagus secara nutrisi maupun farmakologi. Secara nutrisi teripang memiliki beberapa kandungan seperti vitamin dan mineral. Teripang juga sering digunakan sebagai makanan dan obat tradisional pada beberapa wilayah. Pada bidang farmakologi, teripang memiliki senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai terapi. Salah satunya adalah anti-diabetes. Tinjauan ini di tujukan untuk menganalisis dan menyajikan kembali hasil dari publikasi sebelumnya serta berfokus pada aktivitas bioaktif yang terkandung dalam teripang.
Noise Induced Hearing Loss (NIHL) pada Nelayan Pengguna Kapal Penangkap Ikan Shania Hafitsa Mulya; Dwi Rahmat; Didit Yudhanto
Lombok Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2022): Lombok Medical Journal Volume 1 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/lmj.v1i2.1632

Abstract

Latar Belakang: Kemajuan teknologi transportasi saat ini telah memicu pemakaian mesin penggerak pada kapal nelayan yang menyebabkan suara bising di lingkungan kerja. Kebisingan dapat menyebabkan terjadinya noise induced hearing loss (NIHL). Paparan kebisingan yang terjadi secara terus-menerus menyebabkan kehilangan daya dengar yang menetap. Penting bagi nelayan untuk memahami terkait NIHL agar dapat melakukan pencegahan. Isi: NIHL merupakan gangguan pendengaran tipe sensorineural koklea yang terjadi akibat pajanan bising yang berlebih secara terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama. Frekuensi dan periode paparan bising yang lama akan meningkatkan risiko serta dapat memperburuk derajat gangguan pendengaran pada nelayan. Bagian yang mengalami gangguan akibat bising adalah koklea yang mana dalam prosesnya bisa terjadi mekanisme kerusakan mekanik dan peningkatan aktivitas metabolisme pada sel. Gejala klinis yang dapat ditimbulkan akibat pajanan bising adalah tinitus (telinga berdenging), penurunan pendengaran perlahan serta sulit mendengar dan memahami percakapan di tempat yang ramai atau cocktail party deafness. Penanganan gangguan pendengaran akibat bising dapat dilakukan secara preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Kesimpulan: NIHL merupakan gangguan pendengaran akibat bising. gangguan pendengaran ini menjadi salah satu risiko bagi nelayan yang menggunakan kapal selama bekerja sehingga perlu perhatian khusus. penanganan NIHL dapat dilakukan secara preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Page 3 of 16 | Total Record : 156