cover
Contact Name
Masiria Putri Harefa
Contact Email
penerbitviekawahanasemesta@gmail.com
Phone
+6285816612728
Journal Mail Official
penerbitviekawahanasemesta@gmail.com
Editorial Address
Gedung WTC Lantai V Jalan Jenderal Sudirman Kav. 29-31 Jakarta Selatan
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Views: Jurnal Teologi dan Biblika
ISSN : 30251923     EISSN : 30251923     DOI : https://doi.org/10.63248/
Core Subject : Religion,
Fokus dan Scope Views: Jurnal Teologi dan Biblika yang mempublikasi hasil penelitian di bidang Teologi dan Biblika dan meliputi: Isu-isu Teologi Sistematika (Dogmatis), Teologi Misi dan Penggembalaan, Teologi Praktika (Etika dan Lingkup pelayanan Gerejawi), Teologi Kontemporer, Teologi Historis, Teologi Biblika, Kajian Teks-teks Alkitab, Eksegesis Teks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Articles 44 Documents
Teologi Misi Dalam Injil Lukas: Penundaan Parousia Sebagai Lensa Tafsir? Deky Hidnas Yan Nggadas
Views : Jurnal Teologi dan Biblika Vol. 1 No. 1 (2023): VIEWS: Jurnal Teologi dan Biblika Edisi Agustus 2023
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/views.v1i1.1

Abstract

Abstract: This article is a critical interaction with the views of liberal theologians regarding the theology of non-Jewish missions in the Gospel of Luke. By using qualitative research methods, especially literature review, the researcher examines the views of every liberal theologian who has different views on the theology of mission in the Gospel of Luke. From the results of this study, we found an interesting parallel that Paul emphasized regarding the universal human condition under the dominion of sin in Romans 1:18-32. And of course, this was the image that both Wilson and Tsuchiya wanted to see but they failed to bring it up in their observations. The sinful nature described by Luke does not lead to any other conclusion except that the gentiles, like the Jews, need the Gospel of salvation. Abstrak: Artikel ini adalah sebuah interaksi kritis terhadap pandangan para teolog liberal mengenai teologi misi non Yahudi dalam Injil Lukas. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, khususnya kajian pustaka, peneliti mengkaji setiap pandangan teolog liberal yang memiliki pandangan berbeda tentang teologi misi dalam injil Lukas. Dari hasil penelitian ini didapati paralel menarik yang ditekankan Paulus mengenai kondisi universal manusia di bawah kekuasaan dosa dalam Roma 1:18-32. Dan tentu saja, ini adalah gambaran yang ingin dilihat baik oleh Wilson maupun Tsuchiya namun mereka gagal memunculkannya dalam pengamatan mereka. Natur keberdosaan yang digambarkan Lukas tersebut memang tidak memimpin kepada kesimpulan lain lagi kecuali bahwa gentiles, sama seperti orang-orang Yahudi, membutuhkan Injil keselamatan.
Signifikansi Komitmen Dan Motivasi Seorang Hamba Tuhan Dalam Melayani Yesri Esau Talan; Anita Yumbu Tomusu
Views : Jurnal Teologi dan Biblika Vol. 1 No. 1 (2023): VIEWS: Jurnal Teologi dan Biblika Edisi Agustus 2023
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/views.v1i1.2

Abstract

Abstract: A servant of God is a person who is called and determined by God to serve His people. Therefore, the attitude and motivation of a servant of God has a significant impact on his ministry. Willingness to serve, loyal to serve and not discriminate in service is the fruit of the commitment and motivation built within him. The method used in this research is qualitative. Literature studies such as books, articles and other sources are the main material in analyzing and describing this scientific work. The aim is to understand the significance of the commitment and motivation of a servant of God in serving. The results show that motivation and commitment are the main elements in the success of the ministry of a servant of God. Commitment and true motivation help a servant of God to carry out his duties properly. Abstrak: Seorang hamba Tuhan adalah orang yang dipanggil dan ditetukan oleh Allah untuk melayani umat-Nya. Oleh karena itu, sikap dan motivasi seorang hamba Tuhan berdampak signifikan dalam pelayanannya. Kerelaan untuk melayani, setia melayani dan tidak membeda-bedakan pelayanan merupakan buah dari komitmen dan motivasi yang dibangun dalam dirinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Kajian literatur seperti buku, artikel dan sumber-sumber lain menjadi bahan utama dalam menganalisis dan mendeskripsikan karya ilmiah ini. Tujuannya adalah untuk memahami sejauhmana signifikansi komitmen dan motivasi seorang hamba Tuhan dalam melayani. Hasilnya menunjukkan bahwa motivasi dan komitmen merupakan unsur utama dalam keberhasilan pelayanan seorang hamba Tuhan. Komitmen dan Motivasi yang benar menolong seorang hamba Tuhan untuk mengemban tugasnya dengan baik.
Tanggapan Teologis Terhadap Pemikiran De Silva Tentang Eksistensi Allah Roedy Silitonga
Views : Jurnal Teologi dan Biblika Vol. 1 No. 1 (2023): VIEWS: Jurnal Teologi dan Biblika Edisi Agustus 2023
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/views.v1i1.3

Abstract

Abstract: There are many attempts that a person makes to deny the existence of God. However, these efforts are often deadlocked when dealing with facts and events in the history of mankind. De Silva, one of those who struggle to deny the existence of a God who is believed by Christians, doubts the truth of the Bible with the argument of a skeptical phenomenon. The formulation of doubts shapes one's thinking to judge and make decisions about Christian beliefs. De Silva has not explained logically the existence of the Triune God and has shifted to comparative religion. This paper is a descriptive theological response based on the integrity of Bible teaching with a literature study approach and Christian thought. This paper is also an effort to defend the Christian faith and challenge atheist thinking. Abstrak: Ada banyak upaya yang dilakukan seseorang untuk menolak eksistensi Allah. Namun upaya tersebut seringkali menemui jalan buntu ketika berhadapan dengan fakta dan peristiwa yang ada di dalam sejarah umat manusia. De Silva, salah seorang di antara mereka yang berjuang menolak eksistensi Allah yang dipercaya orang Kristen, meragukan kebenaran Alkitab dengan argumentasi fenomena skeptis. Formulasi keraguan itu membentuk pemikiran seseorang untuk menilai dan mengambil keputusan terhadap keyakinan orang Kristen. De Silva belum menjelaskan secara logis atas eksistensi Allah Tritunggal dan bergeser ke perbandingan agama. Tulisan ini merupakan tanggapan teologis yang bersifat deskripsi berdasarkan pada keutuhan pengajaran Alkitab dengan pendekatan studi kepustakaan dan pemikiran Kristen. Tulisan ini juga merupakan upaya pembelaan iman Kristen dan menantang pemikiran ateis.
Yesus Menggenapi Nubuat Mesias Menurut Kitab Injil Matius Febrianti Parantean
Views : Jurnal Teologi dan Biblika Vol. 1 No. 1 (2023): VIEWS: Jurnal Teologi dan Biblika Edisi Agustus 2023
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/views.v1i1.4

Abstract

Abstract: Prophecies regarding the presence of the Messiah have long been stated in the Old Testament books through various statements of God given to the prophets. But many people wonder who the real Messiah is. Because before the presence of Jesus, the figure of a Messiah was still vague. Through the Gospel of Matthew revealed the fulfillment of the prophecy of the Messiah which was fulfilled in Jesus. In line with Matthew who wants to reveal that Jesus is the Messianic King, the author also agrees with Matthew's statement that Jesus is the Messiah. That everything that was in Jesus and everything that He did has declared that He was the Messiah. The purpose of this research is to reaffirm that Jesus is truly God and everything that is real in Him has long been prophesied in the Scriptures. So that through this research, the author tries to remind and strengthen the faith of every believer that Jesus is the only Messiah, who has long wanted His coming and only Jesus has fulfilled every Messianic prophecy in the Bible. The method used by the author in this research is descriptive qualitative, through the data collection used is library research, through various literatures such as books and journal articles that discuss about Jesus who fulfilled the prophecy of the Messiah. This study found the fact that only Jesus has fulfilled all the prophecies regarding the Messiah. Even though there are still many people who are not aware of the mission He is carrying out, Jesus as the Messiah continues to carry out the saving work during His lifetime on earth, which aims not for himself, but for sinners. Abstrak: Nubuat mengenai kehadiran Mesias telah lama dinyatakan di dalam kitab Perjanjian Lama melalui berbagai pernyataan Allah yang disampaikan kepada para nabi. Namun banyak orang menduga-duga siapa Mesias sesungguhnya. Sebab sebelum kehadiran Yesus, sosok seorang Mesias terlihat masih samar-samar. Melalui Injil Matius diungkapkan penggenapan nubuat Mesias yang tergenapi di dalam diri Yesus. Selaras dengan Matius yang hendak mengungkapkan bahwa Yesus adalah Raja Mesianis, penulis pun juga sependapat dengan penyataan Matius bahwa Yesus adalah Mesias. Bahwa setiap hal yang ada pada diri Yesus dan setiap hal yang dikerjakan-Nya telah menyatakan bahwa Dia adalah Mesias. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempertegas kembali bahwa Yesus benarlah Tuhan dan segala sesuatu yang nyata di dalam diri-Nya telah lama dinubuatkan dalam Kitab Suci. Sehingga melalui penelitian ini, penulis berusaha untuk mengingatkan dan menguatkan iman setiap orang percaya bahwa Yesus sebagai satu-satunya Mesias, yang selama ini telah lama diinginkan kedatangan-Nya dan hanya Yesus saja yang telah menggenapi setiap nubuatan Mesias dalam Alkitab. Adapun metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, melalui pengumpulan data yang digunakan ialah studi pustaka (library research), melalui berbagai literatur-literatur seperti buku-buku dan artikel-artikel jurnal yang membahas mengenai Yesus yang menggenapi nubuat Mesias. Dalam penelitian ini ditemukan fakta bahwa hanya Yesus sajalah yang telah menggenapi seluruh nubuat mengenai Mesias. Sekalipun masih banyak manusia tidak menyadari akan misi yang dikerjakan-Nya, namun Yesus sebagai sang Mesias tetap mengerjakan karya penyelamatan itu selama masa hidup-Nya di dunia, yang bertujuan bukan untuk dirinya sendiri, melainkan manusia berdosa.
Kajian Teologis Tentang Sentralitas Teologi “Allah” Dalam Injil Sinoptik Ojosua A.
Views : Jurnal Teologi dan Biblika Vol. 1 No. 1 (2023): VIEWS: Jurnal Teologi dan Biblika Edisi Agustus 2023
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/views.v1i1.5

Abstract

Abstract: This study is about the theological study of the centrality of God's theology in the Synoptic Gospels. In this study it attempts to find out to what extent the centrality of God in the Synoptic Gospels. And in this study researchers used qualitative methods, especially library methods. So that in the research found the results in the discussion and conclusions as follows. God is essentially the focal point of Jesus' preaching during his earthly life. The kingdom of God is present in the miraculous teachings and signs made by the Lord Jesus and more especially in the exorcism. The kingdom of God shows that God is the owner of the kingdom and that God's sovereignty overcomes all things. In addition, there are three of God's selves shown by the presence of the Kingdom of God. First, God is a sovereign over all things including man; second, the Kingdom of God demonstrates God's mercy to all of His creation; and thirdly, the presence of the Kingdom also indicates the glory of God and means that all praise and honor should be given only to God, who has dominion over all His creation. Abstrak: Penelitian ini mengenai kajian teologi tentang sentralitas teologi Allah dalam Injil Sinoptik. Dalam penelitian ini berupaya untuk mencari tahu sampai di mana sentralitas Allah di dalam kitab Injil Sinoptik. Dan dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode kualitatif, khususnya metode perpustakaan. Sehingga dalam penelitian didapati hasil dalam pembahasan dan kesimpulan sebagai berikut. Pada dasarnya Allah merupakan titik fokus dalam pemberitaan Yesus selama hidup di dunia ini. Kerajaan Allah itu hadir di dalam pengajaran dan tanda ajaib yang dibuat oleh Tuhan Yesus dan lebih khususnya pada pengusiran setan. Kerajaan Allah menunjukkan bahwa Allah yang menjadi pemilik atas kerajaan tersebut dan kedaulatan Allah mengatasi segala sesuatu. Selain itu ada tiga dari diri Allah yang ditunjukkan oleh kehadiran Kerajaan Allah tersebut. Pertama, Allah merupakan pribadi yang berdaulat atas segala sesuatu termasuk manusia; kedua, Kerajaan Allah menunjukkan kemurahan hati Allah kepada semua ciptaan-Nya; dan ketiga, kehadiran Kerajaan tersebut juga menunjukkan kemuliaan Allah dan artinya segala pujian dan hormat harus diberikan hanya kepada Allah, yang berkuasa atas segala ciptaan-Nya.
Misi Allah Dalam Perintahnya Pada Keluaran 19:21-25 Dan Implementasinya Pada Konteks Saat Ini Yusuf L. M.
Views : Jurnal Teologi dan Biblika Vol. 1 No. 2 (2023): VIEWS: Jurnal Teologi dan Biblika Edisi Desember 2023
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/views.v1i2.8

Abstract

Abstract: The basis of God's mission for the Gospel message often refers to the Great Commission of Jesus in the New Testament. The Old Testament context is very rarely used as a reference in laying the foundation of God's mission. Exodus 19:21-25, in Moses' dialogue with God on Mount Sinai in preparation for accepting the Sinai covenant becomes the basic context of God's Mission. The verb 'go', 'come down' in imperative form is used by God in the text to be the main emphasis and binding to become the basis of God's mission to the Israelites. This research uses qualitative methods with a library analysis approach such as interaction with primary sources such as Bible grammar books, commentary books, theological study books and articles published offline and online. The results of the analysis found that through the Sinai covenant, God showed how holy and glorious God is in His nature. The Israelites as God's mediators in redemptive history are required to respect and maintain the Sinai covenant. This is the basis for the people of Israel as God's chosen nation to live in a way that pleases the holy God. In the history of redemption, the Israelites were worthy and approved by God through the Sinai covenant to carry out His mission on this earth. This is the standard for today's church to carry out the task of preaching the Gospel, upholding the values ​​of sincerity, purity of heart, prioritizing maintaining God's holiness. Abstrak: Dasar misi Allah untuk pekabaran Injil sering mengacu kepada mandat Agung Yesus dalam perjanjian baru. Konteks Perjanjian Lama sangat jarang dijadikan rujukan dalam meletakkan dasar misi Allah. Keluaran 19:21-25, dalam dialog Musa dengan Allah di atas gunung Sinai dalam rangka persiapan menerima perjanjian Sinai menjadi konteks dasar Misi Allah. Kata kerja ‘pergilah’, ‘turunlah’ dalam bentuk imperative digunakan Allah dalam teks menjadi penekanan utama sekaligus mengikat untuk menjadi dasar misi Allah terhadap bangsa Israel. Riset ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis kepustakaan seperti interaksi terhadap sumber primer seperti buku tata Bahasa Alkitab, buku tafsir, buku kajian teologi serta artikel yang terpublikasi secara offline maupun online. Hasil analisis ditemukan bahwa melalui perjanjian Sinai, Allah memperlihatkan betapa kudusnya dan mulianya Allah dalam natur-Nya. Umat Israel sebagai mediator Allah dalam sejarah penebusan dituntut untuk menghormati dan menjaga perjanjian Sinai. Hal ini menjadi dasar bagi umat Israel sebagai bangsa pilihan Allah untuk hidup berkenan kepada Allah yang kudus. Dalam sejarah penebusan, bangsa Israel dilayakan dan diperkenan Allah melalui perjanjian Sinai untuk melaksanakan misi-Nya di bumi ini. Ini menjadi standar bagi gereja masa kini untuk menjalankan tugas pekabaran Injil, menjunjung tinggi nilai ketulusan, kemurnian hati, mengutamakan menjaga kekudusan Allah.
Teologi Pekabaran Injil Sentrifugal: Memaknai Matius 28:19-20 sebagai Teologi Misi Sentrifugal dan Implikasinya bagi Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Masa Kini Andri Vincent Sinaga
Views : Jurnal Teologi dan Biblika Vol. 1 No. 2 (2023): VIEWS: Jurnal Teologi dan Biblika Edisi Desember 2023
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/views.v1i2.9

Abstract

Abstract: The mission of preaching the Gospel is the spirit and identity of the Church, specifically the Simalungun Protestant Christian Church (GKPS). The establishment of GKPS cannot be separated from the preaching of the Gospel which has been present in the land of Simalungun, Pematang Raya since 120 years ago (02 September 1903-02 September 2023), by the missionary Rev. August Theis. GKPS exists because of the Gospel, therefore it is not an exaggeration to say that GKPS should show its identity as a Church that exists because of the fruit of the Gospel that developed in Simalungun. The purpose of this research is what and how the existence of GKPS is in the mission of preaching the Gospel, especially outgoing (Centrifugal), considering that it has been 120 years of the Gospel in the land of Simalungun. It is also hoped that this research will contribute ideas to GKPS in reviving the spirit of evangelization in the world. The methodology used is a qualitative method, with a library research approach and interviews with competent people regarding the title of this research. The results show that GKPS pays less attention to the message of the Centrifugal Gospel and experiences various crises in the message of the Gospel. Today's GKPS is still confined to inwardly preaching the Gospel. Thus, GKPS needs to implement the centrifugal message of the Gospel as recorded in the New Testament, specifically the Great Commission that Jesus commanded the disciples (Matt. 28:19-20). Abstrak: Misi Pekabaran Injil adalah roh dan identitas Gereja, secara khusus Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS). Berdirinya GKPS tidak terlepas dari pekabaran Injil yang sudah hadir di tanah Simalungun, Pematang Raya sejak 120 tahun lalu (02 September 1903-02 September 2023), oleh misionaris Pdt. August Theis. GKPS ada oleh karena Injil, oleh karena itu tidak berlebihan jika disebut bahwa seyogianya GKPS menunjukkan identitasnya sebagai Gereja yang ada oleh karena buah Injil yang berkembang di Simalungun. Tujuan penelitian ini adalah apa dan bagaimana eksistensi GKPS dalam misi pekabaran Injil, khususnya keluar (Sentrifugal), mengingat sudah 120 tahun Injil di tanah Simalungun. Penelitian ini juga diharapkan memberikan kontribusi pemikiran kepada GKPS dalam menghidupkan kembali semangat penginjilan di tengah-tengah dunia. Metodologi yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan pendekatan library research (kepustakaan) dan wawancara kepada orang-orang yang berkompeten terkait judul penelitian ini. Hasil menunjukkan bahwa GKPS kurang memberi perhatian kepada pekabaran Injil Sentrifugal dan mengalami berbagai krisis pekabaran Injil. GKPS masa kini, masih terkukung dalam Pekabaran Injil ke dalam. Dengan demikian, GKPS perlu menerapkan pekabaran Injil bersifat sentrifugal sebagaimana tercatat dalam Perjanjian Baru, secara khusus amanat Agung yang Yesus perintahkan kepada para murid-murid (Mat. 28:19-20).
Integritas Hamba Tuhan Menurut Perjanjian Lama dan Relevansinya bagi Kredibilitas/Jati diri Hamba Tuhan Masa Kini Sinaga, Andri Vincent
Views : Jurnal Teologi dan Biblika Vol. 2 No. 1 (2024): VIEWS: Jurnal Teologi dan Biblika Edisi April 2024
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/views.v2i1.10

Abstract

Servants of God with integrity are an urgent need and also everyone's desire. Integrity means there is conformity between what is said and done. In the Old Testament perspective, integrity must be possessed by all God's servants. However, in this day and age, it is difficult to find servants of God with integrity. The purpose of this research is to show that the integrity of God's servants has a big influence on the credibility or identity of God's servants (both ordained and non-ordained ministers). The methodology used is a qualitative method, with a library approach. The research results show that in the Old Testament, integrity is a reflection of a person's character. Character is formed from and as a result of a person's association with God, which results in that person possessing God's moral qualities. Integrity includes qualities in the form of inherent values such as: trustworthiness, commitment, responsibility, honesty, truth, loyalty and so on.
Kajian Filosofis-Teologis Tentang Kekerasan Dalam Ruang Publik Terdistorsi Lewat Era Post-Truth Marson; Henri Sirangki
Views : Jurnal Teologi dan Biblika Vol. 1 No. 2 (2023): VIEWS: Jurnal Teologi dan Biblika Edisi Desember 2023
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/views.v1i2.12

Abstract

Abstract: This research aims to restore a conservative view of various information which actually contains elements of violence, but this cannot be seen with the naked eye because it has been distorted. Because the development of digital technology has changed human behavior, the relationship between technology and humans is not superficial, but concerns humans' self-image. The research method used in this research is a qualitative method, with a philosophical-theological approach. A philosophical approach using the thoughts of F. Budi Hardiman in his book I Click So I Am, Humans in the Digital Revolution and the book Public Space, which of course has an inherent relationship with Hannah Arendt's thoughts, namely Reflections on Violence; and data sourced from the Bible which will become a theological reflection on untruth in the Post Truth Era. Philosophical views regarding untruth in the public sphere are matters whose truth needs to be re-examined. Because conscious beings will be able to validate various contexts and dynamics regarding the source of the information. Truth is not something that is demagogic, not marketing, and not even preaching, so truth is not a tool for all of that. We only care about truth if we seek truth for truth's sake, not for anything else. Truth, for example, if it is not true, if it only suits our interests. Abstrak: Riset ini bertujuan untuk memulihkan pandangan yang konservatif atas berbagai informasi yang di dalamnya sebetulnya mengandung unsur kekerasan, namun hal itu tidak dapat dilihat secara kasat mata karena sudah terdistorsi. Karena berkembangnya teknologi digital telah merubah perilaku manusia, hubungan antara teknologi dan manusia tidak superfisial, melainkan menyangkut gambaran diri manusia. Metode penelitian yang dipakai dalam riset ini adalah metode kualitatif, dengan pendekatan filosofis-teologis. Pendekatan filosofis dengan menggunakan pemikiran F. Budi Hardiman dalam bukunya Aku Klik Maka Aku Ada, Manusia Dalam Revolusi Digital dan buku Ruang Publik, yang tentu mempunyai hubungan inheren dengan pemikiran Hannah Arendt yaitu Refleksi Tentang Kekerasan; dan data yang bersumber dari Alkitab yang akan menjadi refleksi teologis tentang ketidakbenaran di Era Post Truth. Pandangan filosofis tentang ketidakbenaran dalam ruang publik merupakan hal yang sifatnya perlu diuji ulang kebenarannya. Karena mahkluk yang berkesadaran akan mampu memvalidasi berbagai konteks dan dinamika tentang sumber informasi itu. Kebenaran bukanlah sesuatu yang sifatnya demagogi, bukan pemasaran, dan bahkan juga bukan dakwah, maka kebenaran bukanlah alat-alat untuk itu semua. Kita baru peduli kebenaran jika kita mencari kebenaran demi kebenaran, bukan demi yang lain. Kebenaran, misalnya, bila tidak benar, jika hanya sesuai dengan kepentingan kita.
Makna Ungkapan Yesus “Aku Akan Datang Kembali” menurut Yohanes 14:3 Etika Niat Laia; Gunar Sahari
Views : Jurnal Teologi dan Biblika Vol. 1 No. 2 (2023): VIEWS: Jurnal Teologi dan Biblika Edisi Desember 2023
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/views.v1i2.13

Abstract

Abstract: This research examines the meaning of the expression Jesus I will come again according to John 14:3 and its application to the church today. This is a great hope for Christians who believe because the promise of His return is a reality that will definitely happen. In this research, researchers used qualitative methods or literature review. And several conclusions were obtained as follows: First, Jesus' expression "I will come again" in John 14:3 is a guarantee for the church today to continue to have firm faith in waiting for the second coming of Christ. For when He will come again, He will take His church to where He is. Second, Jesus' departure gives great hope to the church today, because He went not just to go but to prepare a place. The place in question is heaven where people live who always believe in Christ. Third, Jesus Christ will definitely come back, and His return will be to pick up the church or believers who are always steadfast in waiting for his return. Fourth, the second coming of Christ aims to bring the present church or believers where He is so that all those who are faithful and waiting for His coming will be where He is. Abstrak: Penelitian ini meneliti tentang makna ungkapan Yesus Aku akan datang kembali menurut Yohanes 14:3 dan aplikasinya bagi gereja masa kini. Hal ini merupakan suatu pengharapan besar bagi orang kristen yang percaya sebab janji kedatangan-Nya kembali merupakan suatu kenyataan yang pasti akan terjadi. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif atau kajian pustaka. Dan diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut: Pertama, ungkapan Yesus “Aku akan datang kembali” dalam Yohanes 14:3 merupakan suatu jaminan bagi gereja masa kini untuk terus memiliki iman yang teguh dalam menanti kedatangan Kristus yang kedua kali. Sebab ketika Ia akan datang kembali, maka Ia akan membawa gereja-Nya ke tempat Ia berada. Kedua, kepergian Yesus memberikan pengharapan besar kepada gereja masa kini, karena Ia pergi bukan hanya sekedar pergi saja melainkan untuk mempersiapkan tempat. Tempat yang dimaksud adalah surga tempat orang-orang yang senantiasa hidup percaya kepada Kristus. Ketiga, Yesus Kristus pasti akan datang kembali, dan kedatangan-Nya kembali untuk menjemput gereja atau orang-orang percaya yang senantiasa teguh dalam menantikan kedatangan kembali. Keempat, kedatangan Kristus yang kedua bertujuan untuk membawa gereja masa kini atau orang percaya di tempat Ia berada supaya semua orang yang setia dan menanti-nantikan kedatangan-Nya berada di tempat Ia berada.