cover
Contact Name
Masiria Putri Harefa
Contact Email
penerbitviekawahanasemesta@gmail.com
Phone
+6285816612728
Journal Mail Official
penerbitviekawahanasemesta@gmail.com
Editorial Address
Gedung WTC Lantai V Jalan Jenderal Sudirman Kav. 29-31 Jakarta Selatan
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Views: Jurnal Teologi dan Biblika
ISSN : 30251923     EISSN : 30251923     DOI : https://doi.org/10.63248/
Core Subject : Religion,
Fokus dan Scope Views: Jurnal Teologi dan Biblika yang mempublikasi hasil penelitian di bidang Teologi dan Biblika dan meliputi: Isu-isu Teologi Sistematika (Dogmatis), Teologi Misi dan Penggembalaan, Teologi Praktika (Etika dan Lingkup pelayanan Gerejawi), Teologi Kontemporer, Teologi Historis, Teologi Biblika, Kajian Teks-teks Alkitab, Eksegesis Teks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Articles 44 Documents
Studi Eksegetis tentang "Haustafel" dalam Kolose 3:18-21 Ramayani Nggadas
Views : Jurnal Teologi dan Biblika Vol. 1 No. 2 (2023): VIEWS: Jurnal Teologi dan Biblika Edisi Desember 2023
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/views.v1i2.14

Abstract

Abstract: This study is a biblical study or exegesis of the text in Colossians 3:18-21 that focuses on the expression of haustafel. Before presenting an interpretation of the above text, there are two specific issues of background to be discussed first, namely: the origin of the haustafel in Paul's letters and the purpose of Paul presenting the hautafel in the context of the Colossians. The study uses qualitative methods for the interaction of its sources. For the elaboration of the topic and its texts, the researchers use a biblical approach, the method of historical grammatical exegesis. By applying the method, the researcher discusses both the lateral aspects and the grammar of the original text of Colossians 3:18-21 to interpret the text in its original context. The results of this study confirm that (1) the Haustafel in the Colossians reflect that the rules concerning the relations between family members were a common thing at the time. (2) the haustafel of the Colosos, although showing some similarity with the hautafel in Greek and Jewish context, must be deemed to have originated from Paul himself in order to correct the teachings and influence of the dogmas circulating in the congregation of Coloses. (3) the Hautafel is Paul's affirmation that life in the Spirit does not exclude responsibility and differences in the role of each member of the family.  Abstrak: Penelitian ini merupakan kajian biblika atau eksegesis terhadap teks dalam Kolose 3:18-21 yang difokuskan pada ungkapan haustafel. Sebelum mengemukakan tafsiran terhadap teks di atas, ada dua isu spesifik yang bersifat latar belakang yang akan dibahas terlebih dahulu, yaitu: asal-usul haustafel dalam surat-surat Paulus dan tujuan Paulus mengemukakan haustafel dalam konteks surat Kolose. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk interaksi sumber-sumbernya. Untuk elaborasi topik serta teks acuannya, peneliti menggunakan pendekatan biblika yaitu metode eksegesis gramatika historis. Dengan menerapkan metode peneliti membahas tentang aspek kesejarahan maupun tata bahasa teks acuannya yaitu Kolose 3:18-21 guna menafsirkan teks ini dalam konteks originalnya. Ada pun hasil penelitian ini menegaskan bahwa (1) Haustafel dalam surat Kolose mencerminkan bahwa aturan-aturan mengenai relasi antar-anggota keluarga merupakan sesuatu yang umum pada waktu itu. (2) Haustafel dalam surat Kolose meskipun memperlihatkan beberapa kemiripan dengan haustafel dalam konteks Yunani Romawi dan Yahudi, namun mesti dianggap berasal dari Paulus sendiri dalam rangka mengoreksi ajaran serta pengaruh dari ajaran bidat yang beredar di jemaat Kolose. (3) Haustafel tersebut merupakan penegasan Paulus bahwa kehidupan di dalam Roh tidak meniadakan tanggung jawab serta perbedaan peran dari setiap anggota keluarga.
Makna Teologis Kepastian Keselamatan Dalam 1 Yohanes 5:11-13 Sumampouw, Alexander; Gulo, Refamati
Views : Jurnal Teologi dan Biblika Vol. 2 No. 2 (2024): VIEWS: Jurnal Teologi dan Biblika Edisi Agustus 2024
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/views.v2i2.15

Abstract

Abstract: The news of salvation in the Bible is one of the doctrines that is very important to be understood and understood well and believed by every person who believes. In fact, almost all religions teach about salvation, in fact all religions have claims about all the ways and rules on how someone can be saved. In Christianity itself the teaching about salvation is a very important and essential teaching. The Bible teaches how people can be saved through Jesus Christ, the purpose of being saved, how to convey the news of salvation to all other people which is the duty and calling of believers or the church. Even the most important thing is how believers have a firm belief that when someone makes the decision to believe in Jesus Christ as Lord and Savior, they have the certainty of eternal salvation.
Analisis Doa Yesus: Studi Patristik Menurut Ignatius Brianchaninov Refamati Gulo; Hendarto Kusuma
Views : Jurnal Teologi dan Biblika Vol. 1 No. 2 (2023): VIEWS: Jurnal Teologi dan Biblika Edisi Desember 2023
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/views.v1i2.17

Abstract

Abstract: Jesus' prayer is centered entirely on His Name and has the power to cast out demons. But it is important to understand that the Prayer of Jesus is not just a formula or a mantra, but a sacred dialogue between the individual and God. Some interpretations and practices of the Jesus Prayer may deviate from Church teaching, so it is important to distinguish true spiritual guidance. Jesus' prayer is not a long or repetitive prayer, but rather a sincere expression of one's desire for mercy, forgiveness, and union with Christ. Jesus' prayer is rooted in Bible verses and requires humility, repentance, and an increasingly intimate relationship with Christ. In practicing the Jesus Prayer, it is important to refer to the wisdom and guidance of the Holy Fathers and seek guidance from spiritual fathers and mothers. Jesus' prayer is relevant today and can be a source of comfort, strength, and spiritual growth for those seeking to embark on a journey of concentration and deep communion with the Lord Jesus Christ. The research method is a review of literature (library reseach) and literature study from the church tradition about the prayer of Jesus, especially based on the writings of St. Ignatius Brianchaninov namely On the Prayer of Jesus which is interacted with other related texts in the Bible and other Church Fathers. The results of the analysis show that the plea for God's mercy in the prayer of Jesus makes people realize that God is the only source of help in physical and mental pain and suffering. Abstrak: Doa Yesus adalah doa berpusat sepenuhnya pada Nama-Nya dan mempunyai kuasa untuk mengusir setan. Namun penting untuk dipahami bahwa Doa Yesus bukan sekedar rumusan atau mantra, melainkan dialog suci antara individu dan Tuhan. Beberapa penafsiran dan praktik tentang Doa Yesus mungkin menyimpang dari ajaran Gereja, sehingga penting untuk membedakan bimbingan rohani yang benar. Doa Yesus bukanlah doa yang panjang atau berulang-ulang, melainkan ungkapan tulus dari keinginan seseorang akan belas kasihan, pengampunan, dan persatuan dengan Kristus. Doa Yesus berakar pada ayat-ayat Alkitab dan membutuhkan kerendahan hati, pertobatan, dan hubungan yang semakin intim dengan Kristus. Dalam mengamalkan Doa Yesus, penting untuk mengacu pada kebijaksanaan dan bimbingan para Bapa Suci dan mencari bimbingan dari ayah dan ibu rohani. Doa Yesus relevan di zaman sekarang dan dapat menjadi sumber kenyamanan, kekuatan, dan pertumbuhan rohani bagi mereka yang berupaya memulai perjalanan konsentrasi dan persekutuan mendalam dengan Tuhan Yesus Kristus. Metode penelitian adalah kajian literature secara kepustakaan (library reseach) dan studi literatur dari tradisi gereja tentang doa Yesus, khususnya berdasarkan tulisan dari St. Ignatius Brianchaninov yaitu On the Prayer of Jesus yang di interaksikan dengan teks lain yang berkaitan didalam Alkitab dan Bapa-bapa Gereja lainnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa permohonan belas kasihan Allah dalam Doa puja Yesus menyadarkan manusia bahwa Allah satu-satunya sumber pertolongan dalam kesakitan dan penderitaan fisik maupun batin.
Makna Ungkapan “Dibenarkan di Hadapan Allah” Dalam Galatia 3:11-12 Delima Hia
Views : Jurnal Teologi dan Biblika Vol. 1 No. 2 (2023): VIEWS: Jurnal Teologi dan Biblika Edisi Desember 2023
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/views.v1i2.18

Abstract

Abstract: This research examines the meaning of the expression justified before God according to Galatians 3:11-12. There are several opinions that claim that being justified before God can be obtained by obeying the Torah law. However, it is clear that we are justified before God not by keeping the law but by faith. By using qualitative research methods, especially exegesis or literature review, several research results were obtained as follows. First, based on the text of Galatians 3:11-12, it can be concluded that the Apostle Paul emphasized to the South Galatian congregation that no one is justified before God because of the law. So, it is clear that the view of the Catholic church is not in line with what is conveyed by the word of God through the Apostle Paul in Galatians 3:11-12. Second, based on Galatians 3:11-12, the Apostle Paul emphasized that the righteous live by faith. Third, based on Galatians 3:11-12, the Apostle Paul emphasized that the law does not come from faith, but those who do it will live by it. Abstrak: penelitian ini mengkaji tentang makna ungkapan dibenarkan di hadapan Allah menurut Galatia 3:11-12. Ada beberapa pendapat yang mengklaim bahwa dibenarkan di hadapan Allah dapat diperoleh dengan taat kepada hukum Taurat. Akan tetapi, jelas dikatakan bahwa dibenarkan di hadapan Allah bukan karena melakukan hukum Taurat melainkan oleh karena iman. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, khususnya eksegesis atau kajian pustaka, maka diperoleh beberapa hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, berdasarkan teks Galatia 3:11-12, maka dapat disimpulkan bahwa Rasul Paulus menegaskan kepada jemaat Galatia Selatan bahwa sekali-kali tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena hukum Taurat. Jadi, jelas pandangan dari gereja Katolik tidak selaras dengan apa yang disampaikan oleh firman Tuhan melalui Rasul Paulus dalam Galatia 3:11-12. Kedua, berdasarkan Galatia 3:11-12, Rasul Paulus menegaskan bahwa orang benar hidup oleh karena iman. Ketiga, berdasarkan Galatia 3:11-12, Rasul Paulus menegaskan bahwa hukum tidak berasal dari iman, tetapi orang yang melakukannya akan hidup olehnya.
Paedobaptism dan Teologi Perjanjian Lyly Grace Mantiri
Views : Jurnal Teologi dan Biblika Vol. 1 No. 2 (2023): VIEWS: Jurnal Teologi dan Biblika Edisi Desember 2023
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/views.v1i2.20

Abstract

Abstract: In general, Christianity accepts the sacrament of baptism. However, there are differences of opinion regarding: the method, meaning, and the object of baptism. This article specifically discusses two views regarding the object (the recipient) of baptism, namely the views of credobaptism and paedobaptism. In obtaining data and arguments from its adherents, researcher used qualitative method, namely literature studies. After carefully observing and analyzing the data and arguments from both views, the researcher concludes that paedobaptism has a strong basis, especially if understood within the framework of covenant theology. Abstrak: Secara umum, Kekristenan menerima sakramen baptisan. Namun ada perbedaan pendapat tentang: cara, makna, dan objek baptisan. Tulisan ini membahas secara khusus tentang dua pandangan mengenai objek (penerima) baptisan, yaitu pandangan credobaptism dan paedobaptism. Dalam mendapatkan data dan argument dari para penganutnya, peneliti menggunakan metode kualitatif, yakni kajian literatur. Setelah mengamati dan menganalisis secara saksama data dan argumen dari kedua pandangan tersebut, peneliti berkesimpulan bahwa paedobaptism memiliki dasar yang solid, khususnya ketika dipahami dalam kerangka teologi perjanjian.
Analisis Gramatikal Historis: Memaknai Frasa “Injil Lain” Dalam Surat Galatia 1:6 Bram M, Prionaray; Sule, Marce
Views : Jurnal Teologi dan Biblika Vol. 2 No. 1 (2024): VIEWS: Jurnal Teologi dan Biblika Edisi April 2024
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/views.v2i1.25

Abstract

Abstract: In this research, we try to look further into the meaning of other gospels in the Apostle Paul's letter to the Galatians, and strengthen it in the current context. In the phrase another gospel in Galatians 1:6, it is certainly an understanding that needs to be known, in order to understand the existence of the deep and profound existence of the gospel and clearly what the meaning of the other gospel meant by the Apostle Paul is. In this research, researchers used qualitative research methods with literature review methods. Through the results of this research, we have reached two final conclusions about the meaning of the phrase another gospel. First, that the meaning of the other gospel that Paul meant was the teachings that Jews demanded from non-Jews who were members of the community of believers in Galatians. Cultural demands and the Torah are the main points of other gospel messages that are different from the teachings of the Apostle Paul. The second thing, is talking about false teachings that caused confusion in the community of believers in Galatia. Judging from the background of Paul sending the letter, it is clear that the condition of the congregation in Galatia was also attacked by false teachings which caused dissension within the Galatian congregation. Abstrak: Dalam penelitian ini, mencoba melihat secara jauh tentang makna injil lain dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia, serta implikasinya dengan konteks saat ini. Dalam frasa injil lain di Galatia 1:6, tentu menjadi suatu pemahaman yang perlu diketahui, untuk memahami eksistensi keberadaan injil yang sesungguhnya dan mendalami dengan jelas makna injil lain yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus, seperti apa. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan metode kajian pustaka. Melalui hasil penelitian ini, mendapatkan dua kesimpulan akhir tentang makna dari frasa injil lain, Yang pertama, bahwa maksud dari injil lain yang dimaksudkan oleh Paulus ialah pengajaran-pengajaran yang menjadi tuntutan orang Yahudi kepada non-Yahudi yang tergabung dalam komunitas orang percaya yang ada di Galatia. Tuntutan budaya dan Taurat yang menjadi titik utama berita injil lain yang berbeda dengan pengajaran Rasul Paulus. Hal yang kedua, ialah berbicara mengenai pengajarn-pengajaran yang palsu yang menimbulkan kebingungan dalam komuniatas orang percaya di Galatia. Dilihat dari latar belakang Paulus mengirim surat, bahwa jelas kondisi jemaat di Galatia, juga diserang oleh pengajaran-pengajaran palsu yang menimbulkan pertikaian dalam kalangan jemaat Galatia.
Dampak Pastoral Konseling Dengan Menggunakan Intervensi Psychodelsi terhadap Penurunan Kemarahan dan Peningkatan Pengampunan Kepada Mahasiswa STT Anugerah Misi Nias Barat Hia, Budieli
Views : Jurnal Teologi dan Biblika Vol. 2 No. 1 (2024): VIEWS: Jurnal Teologi dan Biblika Edisi April 2024
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/views.v2i1.26

Abstract

Abstract: This article is a research conducted on students at the Anugerah Misi College of Theology (STT) West Nias specifically who took the Pastoral Counseling II class. In this process, students are guided by the theory popularized by Rev. Jaharianson Saragih in his book Psychodelsi (Psycho, Deliverance, Spiritual) carries out direct practice as a counselor for others and also as a counselee or client. By using qualitative research through library research and field research through direct practice, researchers studied and found that many students studying theology still had bitter roots, namely anger towards their parents, specifically towards their father. Through direct practice using the life story method and typology or personality as well as tracing the family tree (genogram), clients discover the roots of the bitterness they experience stems from anger that has been stored for years. After this process, the client is guided to forgive the people who have hurt him. After going through a pastoral counseling process using psychological, deliverance and spiritual approaches, the client is finally free from anger and makes the decision to forgive and get relief. Keywords: Counseling Pastoral, Psichodelsy, anger, forgiveness. Abstrak: Artikel ini merupakan sebuah penelitian yang dilakukan terhadap mahasiswa-mahasiswi di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Anugerah Misi Nias Barat secara khusus yang mengikuti kelas Konseling Pastoral II. Pada proses ini mahasiswa dengan mempedomani teori yang dipopulerkan oleh Jaharianson Saragih dalam bukunya Psychodelsi (Psycho, Deliverance, Spiritual) melakukan praktik langsung menjadi konselor bagi sesamanya dan juga sekaligus menjadi konseli atau klien. Dengan menggunakan penelitian kualitatif melalui penelitian kepustakaan (library research) dan penelitian lapangan (field research)melalui praktek secara langsung, peneliti mengkaji dan menemukan bahwa banyak mahasiwa yang belajar teologi masih menyimpan akar pahit yaitu berupa kemarahan terhadap orang tua secara khusus terhadap ayahnya. Melalui praktek langsung dengan menggunakan metode life story dan tipologi atau kepridian serta penelusuran pohon keluarga (genogram), klien menemukan akar pahit yang dialami bersumber dari kemarahan yang tersimpan selama bertahun-tahun. Setelah proses itu, klien dituntun untuk mengampuni orang-orang yang telah menyakiti hatinya. Setelah melalui proses konseling pastoral dengan pendekatan psychologi, deliverance dan spiritual akhirnya klien terbebas dari kemarahan dan mengambil keputusan untuk mengampuni dan mendapatkan kelegaan.
Konsep Kejatuhan Manusia Dalam Dosa Menurut Pandangan St. Maximos The Confessor Zebua, Eka Kurniawan
Views : Jurnal Teologi dan Biblika Vol. 2 No. 1 (2024): VIEWS: Jurnal Teologi dan Biblika Edisi April 2024
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/views.v2i1.27

Abstract

Abstract: The purpose of this study is to explain how the concept of the fall of man in sin according to the view of St. Maximos The Confessor in the book Philokalia. The fall of man begins with human disobedience so that humans prefer not to do what God wants humans to do. The fall of man is a human action that ultimately leads to destruction. Destruction exists because of sin so that humans will experience separation from God. The fall of man in sin is a human negligence that tends to live in his pleasure, so that man is unable to control himself from things that lead to the fall. Therefore, with the fall of man into sin, man experienced glory and had to be willing to be separated from God's love. However, because God is love, He took the initiative to descend into the world in order to reunite mankind with God in glory. This research uses the literature study method with the discussion of the concept of the fall of man in sin according to the view of St. Maximos the Confessor. Therefore, with the research, the author concludes that the fall of man in sin makes man lose God's love so that man experiences suffering and is far from God. Keywords: Sin, Incarnation, Fall, St. Maximos.  Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana konsep kejatuhan manusia dalam dosa menurut pandangan St. Maximos The Confessor dalam buku philokalia. Kejatuhan manusia berawal dari ketidaktaatan manusia sehingga manusia lebih memilih untuk tidak melakukan apa yang Tuhan kehendaki untuk manusia kerjakan. Kejatuhan manusia merupakan tindakan manusia yang pada akhirnya menuju kepada kebinasaan. Kebinasaan ada karena dosa sehingga manusia akan mengalami keterpisahan dengan Allah. Kejatuhan manusia dalam dosa adalah suatu kelalaian manusia yang cenderung dirinya hidup dalam kesenangannya, sehingga manusia tidak mampu mengendalikan dirinya dari hal-hal yang membawa kepada kejatuhan. Oleh karena itu, dengan kejatuhan manusia ke dalam dosa maka manusia mengalami kemuliaan dan harus rela untuk terpisah dengan kasih Allah. Namun, karena Allah adalah kasih maka dengan inisiatif-Nya ia turun ke dalam dunia dengan tujuan, agar manusia dapat bersatu kembali dengan Allah dalam kemuliaan. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan bahasan konsep kejatuhan manusia dalam dosa menurut pandangan St. Maximos the Confessor. Oleh karena itu, dengan penelitian maka penulis menyimpulkan bahwa kejatuhan manusia dalam dosa membuat manusia kehilangan kasih Allah sehingga manusia mengalami penderitaan dan jauh dari Allah.
Antitesis Orang Jujur dan Orang Fasik Dalam Pembentukan Karakter Pemimpin: Studi Eksegesis Amsal 11:11 Pattinaja, Aska Aprilano; Suhun, Wakinus
Views : Jurnal Teologi dan Biblika Vol. 2 No. 1 (2024): VIEWS: Jurnal Teologi dan Biblika Edisi April 2024
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/views.v2i1.29

Abstract

Abstract: In general elections, all citizens cast their votes to choose leaders for a nation. The reality today is that there are leaders who are authoritarian, corrupt, nepotistic, use state facilities for personal interests, commit injustice, do not pay attention to the welfare of the people, and others, which are caused by the mistakes of the community in electing these leaders. People need to be educated so that they have an idea of how to choose quality leaders who have the right character and personality. Proverbs 11:11 explains the antithesis of "the righteous and the wicked," which correlates with the character building of leaders and has an impact on society. This research uses a qualitative method with sub interpretative design, especially wisdom literature hermeneutics, so that it becomes a reference for the community to choose the right leader. This research found several important factors to be considered, namely: First, an honest man is a righteous man, that is, he lives according to the values of biblical truth; Second, an honest man is a trustworthy person, because he speaks and acts rightly; Third, an honest man will have an impact on the development of the city. These qualifications of an honest man are a reference for the standard of leaders that the people should choose. Abstrak: Dalam pemilihan umum, seluruh warga masyarakat memberikan suaranya untuk memilih pemimpin bagi suatu bangsa. Realita yang terjadi hari ini bahwa ada pemimpin-pemimpin yang otoriter, korupsi, nepotisme, yang menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, melakukan ketidakadilan, tidak memperhatikan kesejahteraan rakyat, dan lainnya, yang diakibatkan oleh kesalahan masyarakat dalam memilih pemimpin tersebut. Masyarakat perlu mendapatkan edukasi agar mendapatkan gambaran tentang bagaimana memilih pemimpin berkualitas, memiliki karakter, dan kepribadian yang benar. Amsal 11:11 menjelaskan antitesis “Orang Jujur dan Orang Fasik” yang berkorelasi dengan pembentukan karakter pemimpin, dan berdampak bagi masyarakat. Penelitian ini enggunakan metode kualitatif dengan sub interpretative design khususnya hermeneutikastra hikmat, sehingga menjadi rujukan bagi masyarakat untuk memilih pemimpin yang tepat. Penelitian ini menemukan beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan, adalah: pertama, Orang Jujur adalah orang benar, yang berarti ia hidup berdasarkan nilai-nilai kebenaran alkitabiah; kedua, Orang Jujur adalah orang yang dapat dipercaya, karena ia berkata dan bertindak yang benar; ketiga, Orang Jujur akan berdampak bagi perkembangan kota. Kualifikasi Orang Jujur ini adalah rujukan bagi standar pemimpin yang harus dipilih oleh masyarakat.
Peranan Roh Kudus Dalam Kehidupan Orang Kristen Masa Kini Debora Clara Salamanang; Anwar Three Millenium Waruwu; Jemy Saleky Combi; Indraldo Undras
Views : Jurnal Teologi dan Biblika Vol. 2 No. 1 (2024): VIEWS: Jurnal Teologi dan Biblika Edisi April 2024
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/views.v2i1.30

Abstract

Abstract: In the context of spiritual life, the role of the Holy Spirit is paramount for Christians as a comforter, helper, truth giver, shaper of human character, and bestower of grace. The modern era presents complex challenges and temptations. Spiritual phenomena, such as the increased interest in spirituality and revival of faith, mark the relevance of this research. This study aims to fill the knowledge gap by delineating the definition of the Holy Spirit, exploring His works within the inner being of Christians, identifying the characteristics of His recipients, and understanding His role in contemporary times. A literature review method with a qualitative approach was employed, involving analysis and synthesis of literature to construct a holistic conceptual framework. The findings of the research demonstrate the significant role of the Holy Spirit in guiding, shaping, and empowering Christians, providing assurance of eternal life, and remaining relevant in addressing present-day challenges. By focusing on the role of the Holy Spirit, this research contributes to a profound understanding of these aspects in the context of modern Christian life.  Abstrak: Dalam konteks kehidupan spiritual, peran Roh Kudus sangat penting bagi orang Kristen sebagai penghibur, penolong, pemberi kebenaran, pembentuk sifat manusia, dan pemberi karunia. Era modern menghadirkan tantangan dan godaan yang kompleks. Fenomena rohaniah, seperti peningkatan minat terhadap spiritualitas dan kebangkitan iman, menandai relevansi penelitian ini. Penelitian ini bertujuan mengisi kesenjangan pengetahuan, merinci definisi Roh Kudus, mengeksplorasi karya-Nya dalam batin orang Kristen, mengidentifikasi ciri-ciri penerima-Nya, dan memahami interaksi peran-Nya pada masa kini. Metode studi pustaka dengan pendekatan kualitatif yang digunakan melibatkan analisis dan sintesis literatur untuk menyusun kerangka konseptual holistik. Hasil penelitian menunjukkan peran Roh Kudus sangat signifikan dalam membimbing, membentuk, dan memberdayakan orang Kristen, memberikan jaminan hidup kekal, serta relevan dalam menghadapi tantangan masa kini. Dengan fokus pada peran Roh Kudus, penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman mendalam tentang aspek-aspek tersebut dalam konteks kehidupan Kristen modern.