cover
Contact Name
Salomo Sihombing
Contact Email
salomosihombing93@gmail.com
Phone
+6285271824274
Journal Mail Official
lppmstttrinityparapat@gmail.com
Editorial Address
https://jurnal.stttrinity.id/index.php/stt/editorialteam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Teologi Trinity
ISSN : 30312329     EISSN : 30312329     DOI : https://doi.org/10.62494/JTT.2023.11.15
Teologi Biblis: Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru Teologi Penggembalaan/Pastoral Teologi Liturgi/Ibadah Sejarah Kekristenan Misi dan Penginjilan Filsafat Bidang-bidang ilmu teologi yang lain
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "vol. 3 no. 2 (2026): regular issue" : 6 Documents clear
Pemikiran Teologis Tentang Hari Tuhan dalam Kitab Yoel dan Korelasinya  dalam Kitab Wahyu: Pandangan di Era 5.0 Sulistiono; Teguh Bowo Sembodo; Sapto Sunariyanti
Jurnal Teologi Trinity Vol. 3 No. 2 (2026): Regular Issue
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Trinity Parapat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62494/jtt.v3i2.70

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran teologis tentang “Hari Tuhan” dalam Kitab Yoel, mengkaji korelasinya dengan Kitab Wahyu melalui pendekatan intertekstual dan teologi biblika, serta menjelaskan relevansinya bagi iman Kristen di tengah tantangan Era 5.0. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan (library research), kajian ini berfokus pada hermeneutika biblika terhadap teks primer Alkitab dan literatur teologis terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Hari Tuhan mengalami eskalasi progresif dari skala historis-nasional berupa penghukuman dan pemulihan kovenan dalam Yoel menjadi eskatologis-kosmik yang final dalam Wahyu. Di Era 5.0, pola ini menjadi kerangka etis dan spiritual untuk menanggapi kecemasan digital dan krisis makna. Kontribusi ilmiah penelitian ini terletak pada integrasi kesinambungan intertekstual yang membuktikan bahwa keadilan penghakiman Allah selalu bermuara pada pemulihan kualitatif seluruh ciptaan baru (kainos) secara utuh.
Pendekatan Teologis Terhadap Relasi Spiritualitas dan Psikopatologi Iman Halawa; Saut Maruli P Panggabean
Jurnal Teologi Trinity Vol. 3 No. 2 (2026): Regular Issue
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Trinity Parapat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62494/jtt.v3i2.76

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengkaji hubungan antara spiritualitas dan psikopatologi melalui perspektif teologi sistematika dan psikologi klinis. Kajian ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan pendekatan psikopatologi modern yang lebih berfokus pada dimensi biologis, kognitif, dan psikososial, sehingga sering kali mengabaikan aspek spiritual dan teologis dalam pengalaman penderitaan manusia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan reflektif-teologis dan analisis interdisipliner terhadap literatur teologi, psikologi, spiritualitas, dan kesehatan mental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas dapat berfungsi sebagai faktor protektif maupun faktor risiko dalam kesehatan mental, tergantung pada kualitas relasi individu dengan Tuhan. Penelitian ini juga menemukan bahwa konsep-konsep teologis seperti Imago Dei, kejatuhan, penebusan, penderitaan, dan pengudusan memberikan kerangka interpretatif penting dalam memahami gangguan psikologis melampaui aspek disfungsi emosional dan kognitif semata. Penelitian ini menawarkan model integratif teologis-klinis yang menempatkan spiritualitas bukan sekadar mekanisme coping psikologis, melainkan sebagai fondasi ontologis dan teologis dalam proses pemulihan manusia secara holistik.
Dinamika Pengharapan Mesianik dalam Second Temple Judaism sebagai Latar Belakang Penolakan terhadap Tuhan Yesus Shan Bhanuaji
Jurnal Teologi Trinity Vol. 3 No. 2 (2026): Regular Issue
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Trinity Parapat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62494/jtt.v3i2.77

Abstract

Abstract Penelitian ini mengkaji masalah penolakan terhadap identitas mesianik Yesus Kristus dalam kaitannya terhadap perkembangan pengharapan mesiani dalam Yudaisme Bait Allah Kedua. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis dinamika pengharapan tersebut serta kontribusinya terhadap terbentuknya penolakan terhadap Yesus. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan eksposisi teks terhadap kitab Hagai, Zakharia, Mazmur Salomo, dan 1 Henokh 37-71. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengharapan mesianik mengalami perkembangan dari kerangka teologis-restoratif dalam Perjanjian Lama menuju ekspektasi yang lebih politis dan eskatologis dalam literatur Yudaisme Bait Allah Kedua. Kitab Hagai dan Zakharia menampilkan pemahaman mesianik yang relatif implisit dan berorientasi teologis, sedangkan Mazmur Salomo dan 1 Henokh menggambarkan figur Mesias yang lebih eksplisit, personal, dan berkuasa, serta berkaitan dengan pembebasan politik dan penghakiman eskatologis. Temuan ini menunjukkan bahwa penolakan terhadap Yesus berkaitan dengan ketidaksesuaian antara pengharapan mesianik yang telah berkembang dengan cara penggenapan yang Ia hadirkan melalui penderitaan dan kematian.  
Kesempatan Misiologis Dalam Religiositas Primal Noriken Waruwu; Ronaldo V. Siregar; Jelita Lumbantobing; Jonidius Illu
Jurnal Teologi Trinity Vol. 3 No. 2 (2026): Regular Issue
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Trinity Parapat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62494/jtt.v3i2.89

Abstract

Tulisan ini mengkaji agama suku dalam perspektif teologis-antropologis melalui analisis religiositas primal di dalam Yesus Kristus. Religiositas primal mencerminkan kesadaran dasar manusia terhadap realitas ilahi melalui kepercayaan kepada kuasa supranatural, roh leluhur, ritus, dan nilai adat. Secara antropologis, hal ini menunjukkan manusia sebagai homo religiosus yang mencari makna dan relasi dengan yang transenden. Secara teologis, religiositas primal dipahami sebagai refleksi manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (imago Dei), meskipun pengenalannya terhadap Allah masih terbatas oleh dosa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa religiositas primal dapat dipahami sebagai manifestasi wahyu umum Allah dalam budaya dan kesadaran manusia. Namun, religiositas primal juga memiliki keterbatasan karena sering berpusat pada ketakutan terhadap kuasa supranatural dan praktik simbolik. Karena itu, Yesus Kristus menjadi kepenuhan dan koreksi atas religiositas primal melalui relasi yang didasarkan pada kasih karunia, kebenaran, dan kasih Allah.
Pendampingan Pastoral bagi Korban Pelecehan Seksual di Masa Lalu Nelty Tasik Minanga; Daniel Susanto
Jurnal Teologi Trinity Vol. 3 No. 2 (2026): Regular Issue
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Trinity Parapat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62494/jtt.v3i2.75

Abstract

Pelecehan seksual merupakan tindakan kejahatan yang memberikan dampak merugikan orang lain dan meninggalkan trauma mendalam bagi para korbannya. Tujuan Penelitian ini adalah menganalisis terkait penanganan problematika pelecehan seksual bagi para korban dalam proses penerimaan diri melalui pengalaman luka masa lalu serta memberikan pemahaman bahwa kasih sayang Tuhan tetap tidak berubah. Metodologi penelitian yang digunakan oleh penulis adalah penelitian kualitatif terhadap para korban yang memiliki luka batin di masa lalu dengan hasil narasi berdasarkan penemuan oleh peneliti. Pengumpulan data berupa primer dan sekunder dengan melibatkan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian menjelaskan bahwa dalam konteks pendampingan pastoral, terdapat fungsi dasar yang dikemukakan oleh oleh pakar konseling pastoral Howard Clinebell. 5 (lima) fungsi utama dari pelayanan pastoral dapat diterapkan dalam memberikan pendampingan terhadap para korban pelecehan seksual. Kelima fungsi pendampingan pastoral tersebut, antara lain : fungsi menyembuhkan, fungsi menopang, fungsi membimbing, fungsi mendamaikan, dan fungsi memelihara. Jadi, kesimpulan dari penelitian ini adalah pengampunan memiliki peran sentral bagi para korban pelecehan seksual agar mereka dapat dibebaskan dari beban penderitaan masa lalu, serta memperoleh pemulihan atas rasa sakit dan luka batin yang mereka alami
Sejarah Ringkas Theologia Abad XX Arthur Aritonang
Jurnal Teologi Trinity Vol. 3 No. 2 (2026): Regular Issue
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Trinity Parapat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62494/jtt.v3i2.84

Abstract

Dr. L. Oranje adalah penulis dari buku sejarah ringkas theologi abad XX saat itu merupakan dosen Filsafat dan Theologi Sistematika di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta/STFT Jakarta. Tujuan buku ini ditulis untuk menolong mahasiswa teologi untuk mendapatkan gambaran dari pergumulan iman Kristen yang sangat kompleks di abad XX. Buku ini juga menyoroti proses transisi abad ke XIX dan XX yang ditandai dengan perubahan kondisi dunia yang cepat berubah. Di abad ke XIX ditandai dengan perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga masyarakat menaruh harapan akan sebuah kemajuan dan kesejahteraan yang dirasakan oleh masyarakat di masa mendatang, namun kenyataanya harapan tersebut mulai memudar, ketika melutusnya perang dunia I dan II masyarakat mulai mempertanyakan apa yang menjadi harapan-harapan di masa lalu, kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi canggih berupa persenjataan militer yang mendukung perang justru menjadi mesin pembunuh bagi sesama manusia. Ternyata kemajuan zaman tidak selalu mendatangkan kebaikan bagi manusia. Selain daripada itu, masalah lainnya juga muncul diantaranya: pertama, pada masa abad XX, negara-negara Asia dan Afrika yang dijajah oleh Barat kemudian dengan berani melakukan perlawanan kepada pihak penjajah sehingga berhasil mendeklarasikan kemerdekaan di negaranya. kedua, lalu Hitler bersama dengan partai nazi berusaha untuk menundukan gereja dibawah kendalinya sekaligus menyebarkan ideologi anti-Yahudi. Ketiga, intervensi Amerika Serikat yang mendukung rezim yang jahat di negara-negara Amerika Latin yang melakukan ketidakadilan sosial bagi rakyat kecil dan masalah lainnya. Dari permasalahan tersebut, banyak teolog-teolog yang berupaya berteologi untuk meresponi masalah-masalah yang terjadi pada abad ke XX. Upaya dari berteologi tersebut mengasilkan pemikiran demikian: (1) Gereja yang dianggap sebagai alat penjajah asing, kemudian gereja merumuskan teologi baru, yaitu semangat iman kristen dan nasionalisme. Dengan demikian orang kristen yang ikut memperjuangkan kemerdekaan di negaranya. (2) gereja hanya tunduk kepada Yesus sebagai kepala Gereja, dan gereja menolak ideologi anti-Yahud (3) munculnya theologi pembebasan sebagai respons penindasan, dan ketidakadilan sosial ekonomi di Amerika Latin akibat intervensi Amerika Serikat sehingga menuntut perubahan sosial melalui cara radikal dengan tujuan yang baik terciptanya kondisi masyarakat yang adil dari itu perintah injil. Rupanya masalah di yang terjadi abad XX bukan hanya masalah sosial politik terjadi juga menyerang kewibawaan Alkitab pada masa-masa itu banyak theolog liberal yang mengurangi makna dari Alkitab akibat pengaruh dari proses rasionalisasi abad 18 dari pemikiran manusia abad pencerahan. Darisanalah, hadirnya produk teologi kristen yang ateisme dan kematian Allah. Teologi liberal menurut Wolfhart Pannenberg sangat merusak iman Kristen.

Page 1 of 1 | Total Record : 6