cover
Contact Name
Hoirul Anam
Contact Email
hoirulanama96@gmail.com
Phone
+6287848003826
Journal Mail Official
hoirulanama96@gmail.com
Editorial Address
Jl. Dusun Kamal, RT.65/RW.29, Kamal, Karangsari, Kec. Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55674
Location
Kab. kulon progo,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
ISSN : -     EISSN : 30891973     DOI : -
AL-IKTIAR, Journal of Islamic Studies is to publish original empirical research articles and theoretical reviews of Islamic Studies, covering a wide range of issues on Islamic studies in a number of fields including as below. 1. Islamic Education 2. Islamic Thought 3. Islamic Law 4. Islamic Theology 5. Islamic Politics 6. Islamic History and Civilization
Articles 141 Documents
Analisis Pemikiran Al-Ghazali Tentang Keadilan Distribusi Kekayaan Untuk Mengatasi Ketimpangan Ekonomi Di Era Modern Salma fauziah; Lina Marlina
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/zh9b2v58

Abstract

The issue of wealth distribution will be an important topic for serious discussion in the field of economics today. Although globalization and technological advances have driven economic growth, this has often not been accompanied by a fair and equitable distribution of prosperity in society. In Islamic thought, Imam al-Ghazali put forward the principle of economic justice that prioritizes harmony between personal and common interests. This study aims to examine al-Ghazali's views on wealth distribution and evaluate its potential in overcoming economic inequality in the modern era.. This study uses quantitative methods, namely methods sourced from journals, books, articles, and related data, by exploring al-Ghazali's thoughts from his classical works, as well as those discussing the application of wealth distribution within the framework of Islamic economics. The findings reveal that al-Ghazali emphasized the need to distribute wealth through sharia mechanisms such as zakat, infaq, and sadaqah, and prohibited economic practices that are harmful and detrimental to society, so that wealth is not concentrated in the hands of a minority group. These ideas are still very relevant as a foundation for designing economic policies that are fair and support social welfare. Thus, al-Ghazali's concept can serve as an alternative solution to modern economic inequality by strengthening ethical values and equalizing economic access for society. Abstrak Masalah distribusi kekayaan Akan menjadi topik yang penting untuk pembahasan serius di bidang ekonomi saat ini. Meskipun globalisasi dan kemajuan teknologi mendorong kemajuan  pertumbuhan ekonomi , hal tersebut sering kali tidak diiringi dengan pembagian kesejahteraan yang adil dan merata di masyarakat. Di dalam pemikiran Islam, Imam al-Ghazali mengemukakan prinsip keadilan ekonomi yang mengutamakan harmoni antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama. penelitian  ini bertujuan untuk menelaah bagaimana pandangan al-Ghazali tentang distribusi kekayaan serta mengevaluasi potensinya dalam mengatasi persoalan ketimpangan ekonomi di era modern . penelitian ini menggunakan metode kuantatif  yaitu metode yang bersumber dari jurnal,buku,artikel dan data terkait , dengan menggali pemikiran al-Ghazali dari karya-karyanya yang klasik ,serta yang membahas penerapan distribusi kekayaan dalam kerangka ekonomi Islam . Temuan kajian mengungkapkan bahwa al-Ghazali menegaskan perlunya pengaliran harta melalui mekanisme syariah seperti zakat, infak, sedekah, dan larangan terhadap praktik ekonomi yang membahayakan dan merugikan masyarakat, agar kekayaan tidak terpusat pada kelompok minoritas saja. pemikiran tersebut masih sangat berlaku sebagai fondasi untuk merancang kebijakan ekonomi yang adil dan mendukung kesejahteraan sosial. Dengan demikian, konsep al-Ghazali dapat berfungsi sebagai alternatif penyelesaian dalam menghadapi masalah  ketimpangan ekonomi modern, melalui penguatan nilai-nilai etis dan pemerataan akses ekonomi bagi masyarakat.
Peran Zakat Sebagai Salah Satu Upaya Pengentasan Kemiskinan Andi Muhammad Rifqy Ramadhan; Dhiyan azizah; Kurniati
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/bkk5mp89

Abstract

Zakat is one of the pillars of Islam with multidimensional dimensions, encompassing spiritual, social, and economic aspects. From an Islamic philosophical perspective, zakat is not only viewed as a ritual obligation to purify wealth and the soul, but also as an instrument for wealth distribution oriented towards social justice and poverty alleviation. Ontologically, zakat is understood as a manifestation of faith and social solidarity of Muslims that serves to maintain a balance between individual and collective interests. Through the obligation of zakat, Islam emphasizes that wealth is not merely personal property, but also contains the rights of others that must be fulfilled to achieve social harmony. Epistemologically, this study uses a normative philosophical approach with a literature study method. The main sources of the study include the Qur'an, hadith, the thoughts of classical scholars, and contemporary literature that examines zakat, Islamic philosophy, and social justice. This approach allows for an in-depth analysis of the philosophical foundations of zakat, both in terms of its value and its purpose in the structure of social life. From an axiological perspective, this study confirms that zakat has multiple benefits. Theoretically, this research enriches the academic literature on Islamic philosophy and Islamic economic law, particularly regarding the relevance of zakat to the issue of global poverty. Practically, zakat is a strategic solution for reducing social inequality when managed professionally, responsibly, and transparently by a competent institution. Therefore, from an Islamic philosophical perspective, zakat is highly urgent as a pillar of the welfare of the people and an instrument for sustainable poverty alleviation. Abstrak Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki dimensi multidimensional, mencakup aspek spiritual, sosial, dan ekonomi. Dalam perspektif falsafah Islam, zakat tidak hanya dipandang sebagai kewajiban ritual untuk menyucikan harta dan jiwa, tetapi juga sebagai instrumen distribusi kekayaan yang berorientasi pada keadilan sosial dan pengentasan kemiskinan. Secara ontologis, zakat dipahami sebagai manifestasi keimanan dan solidaritas sosial umat Islam yang berfungsi menjaga keseimbangan antara kepentingan individu dan kepentingan kolektif. Melalui kewajiban zakat, Islam menegaskan bahwa harta bukan sekadar milik pribadi, tetapi terdapat hak orang lain di dalamnya yang harus ditunaikan demi terwujudnya harmoni sosial. Secara epistemologis, penelitian ini menggunakan pendekatan normatif-filosofis dengan metode studi pustaka. Sumber utama kajian mencakup Al-Qur’an, hadis, pemikiran para ulama klasik, serta literatur kontemporer yang mengkaji zakat, filsafat Islam, dan keadilan sosial. Pendekatan ini memungkinkan analisis mendalam mengenai landasan filosofis zakat, baik dari aspek nilai maupun tujuannya dalam struktur kehidupan sosial. Dari sudut pandang aksiologi, kajian ini menegaskan bahwa zakat memiliki manfaat ganda. Secara teoritis, penelitian ini memperkaya khazanah akademik mengenai filsafat Islam dan hukum ekonomi Islam, khususnya terkait relevansi zakat terhadap isu kemiskinan global. Secara praktis, zakat merupakan solusi strategis dalam mengurangi ketimpangan sosial apabila dikelola secara profesional, amanah, dan transparan oleh lembaga yang kompeten. Dengan demikian, zakat dalam perspektif falsafah Islam memiliki urgensi tinggi sebagai pilar kesejahteraan umat sekaligus instrumen pengentasan kemiskinan yang berkelanjutan
Ketidaksetaraan Gender dalam Konsep Nusyuz pada Hukum Keluarga Islam Nurainun Maharani; Nabila Khairunnisa; Aviva Riani Puteri Irma; Kurniati
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 4 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/ad2x8192

Abstract

This article aims to re-examine the concept of nusyuz by placing it within a more egalitarian framework of marital relations through a critical reading of classical fiqh literature, modern fiqh discourse, and the practice of Islamic family law in Indonesia. This study employs a library research method by collecting data from classical fiqh manuals, exegetical works, academic journals, religious court decisions, and positive legal regulations. All materials were analyzed qualitatively using a comparative–interpretive approach to identify how gender bias is constructed within the discourse of nusyuz and how it influences legal reasoning. The findings indicate that classical literature frequently positions nusyuz as a violation attributed primarily to wives, whereas contemporary discourse increasingly asserts that such actions may be committed by either spouse, thereby challenging hierarchical understandings of the marital relationship. An examination of religious court rulings reveals that many judges still rely on textual frameworks that offer limited space for more egalitarian interpretations, although there is an emerging tendency toward approaches more responsive to dynamics of violence and relational inequality. This analysis recommends the development of interpretive models attentive to social context and to principles of reciprocal justice in order to enhance the gender sensitivity of family law practice and reduce inequities arising from rigid normative interpretations. Abstrak. Tulisan ini bertujuan menelusuri kembali konsep nusyuz dengan menempatkannya dalam kerangka relasi suami–istri yang lebih setara, melalui pembacaan kritis terhadap literatur fiqh klasik, fiqh modern, serta praktik hukum keluarga Islam di Indonesia. Penelitian menggunakan metode library research dengan menghimpun data dari kitab-kitab fiqh, karya tafsir, jurnal akademik, putusan pengadilan agama, serta regulasi hukum positif. Seluruh bahan dianalisis secara kualitatif melalui pendekatan komparatif-interpretatif untuk melihat bagaimana bias gender terbentuk dalam wacana nusyuz dan bagaimana ia memengaruhi pertimbangan hukum. Temuan menunjukkan bahwa konsep nusyuz dalam banyak literatur klasik lebih sering diposisikan sebagai pelanggaran yang ditujukan kepada istri, sementara wacana kontemporer mulai menegaskan bahwa tindakan serupa dapat dilakukan kedua belah pihak sehingga relasi rumah tangga tidak lagi dipahami secara hierarkis. Kajian terhadap putusan pengadilan agama mengungkap bahwa sebagian hakim masih mengandalkan kerangka tekstual yang kurang memberi ruang pada pendekatan yang lebih setara, meskipun ada kecenderungan baru yang lebih responsif terhadap dinamika kekerasan dan ketimpangan relasi. Analisis ini merekomendasikan perlunya model pembacaan yang memperhatikan konteks sosial dan prinsip keadilan hubungan timbal balik agar praktik hukum keluarga lebih sensitif terhadap ketidaksetaraan gender yang muncul dari interpretasi normatif yang kaku
Pendidikan Karakter Guru PAI Dan Orang Tua Dalam Membangun Ketahanan Moral Peserta Didik Pada Era Milenium Di Madrasah Ibtidaiyah Assu’ada Depok Cecep Supriyadi
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/0nxy4504

Abstract

The millennium era has brought new dynamics to the world of education, marked by the rapid development of digital technology, the rapid flow of information, and rapid socio-cultural changes. These conditions not only open opportunities for improving the quality of learning but also pose serious challenges to the development of character and moral resilience in students. At the Madrasah Ibtidaiyah (Islamic elementary school) level, these challenges are even more complex because students are in an early developmental phase and are highly vulnerable to environmental influences. This study aims to analyze in depth the role of character education carried out by Islamic Religious Education (PAI) teachers and parents in building moral resilience in students at Madrasah Ibtidaiyah Assu'ada Depok. Using a qualitative approach with descriptive methods, data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation with informants including PAI teachers, the madrasah principal, parents, and students. The results reveal that PAI teachers play a central role as educators, mentors, and role models in the internalization of moral values, noble character, and the instilling of discipline. Character values ​​are integrated through learning, religious activities, and school culture. Parents also make a significant contribution through parenting styles, role models at home, monitoring technology use, and fostering religious practices. The synergy between the two forms a crucial force in strengthening students' moral resilience against the negative influences of the millennium, such as moral degradation, bullying, and gadget addiction. Abstrak Era milenium menghadirkan dinamika baru dalam dunia pendidikan, ditandai oleh pesatnya perkembangan teknologi digital, derasnya arus informasi, serta perubahan sosial-budaya yang begitu cepat. Kondisi tersebut tidak hanya membuka peluang bagi peningkatan kualitas pembelajaran, tetapi juga menimbulkan tantangan serius terhadap pembentukan karakter dan ketahanan moral peserta didik. Di tingkat Madrasah Ibtidaiyah, tantangan ini menjadi lebih kompleks karena peserta didik berada pada fase perkembangan awal yang sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam peran pendidikan karakter yang dilakukan oleh Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan orang tua dalam membangun ketahanan moral peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah Assu’ada Depok. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan informan yang meliputi guru PAI, kepala madrasah, orang tua, dan siswa. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa guru PAI berperan sentral sebagai pendidik, pembimbing, dan teladan dalam internalisasi nilai moral, akhlak mulia, serta pembiasaan sikap disiplin. Nilai-nilai karakter diintegrasikan melalui pembelajaran, kegiatan keagamaan, dan budaya sekolah. Orang tua juga memiliki kontribusi signifikan melalui pola asuh, keteladanan di rumah, pengawasan penggunaan teknologi, serta pembiasaan ibadah. Sinergi keduanya membentuk kekuatan penting dalam meningkatkan ketahanan moral peserta didik dari berbagai pengaruh negatif era milenium seperti degradasi moral, perilaku perundungan, dan kecanduan gawai.
Strategi Pembelajaran Konstruktivisme Guru PAI dalam Meningkatkan Akhlakul Karimah di MI Miftahuddiniyah Bekasi Sukeni
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/4qrwcy76

Abstract

This study aims to analyze the constructivist learning strategies implemented by Islamic Religious Education (PAI) teachers to improve students' moral character at MI Miftahuddiniyah Bekasi. The research background stems from the need for modern education to develop learning models that focus not only on academic achievement but also on strengthening students' morals and character. The constructivist approach is considered relevant because it encourages students to build understanding through direct experience, reflection, social interaction, and active involvement in the learning process. This study used a qualitative approach with descriptive methods. Data were collected through observations of learning activities, in-depth interviews with PAI teachers, madrasah principals, and students, and documentation of the school's habituation program. Data analysis was conducted through the stages of data reduction, presentation, and drawing conclusions. The results show that PAI teachers implement constructivist strategies through various steps, such as problem-based learning, group discussions, moral case studies, role-playing, and the instilling of moral habits in daily activities. The integration of Islamic values ​​is carried out in an applicable and contextual manner, enabling students to understand religious teachings more meaningfully. This approach has been proven to have a positive impact on improving students' role models, moral awareness, discipline, and social attitudes. Research concludes that constructivist learning strategies significantly contribute to developing students with noble, critical, and integrity-based character. This model not only builds cognitive intelligence but also fosters sustainable spirituality and good morals. These findings serve as recommendations for Islamic educational institutions to implement a constructivist approach to strengthen character education in the modern era.  Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pembelajaran konstruktivisme yang diterapkan oleh Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam meningkatkan akhlakul karimah peserta didik di MI Miftahuddiniyah Bekasi. Latar belakang penelitian berangkat dari kebutuhan pendidikan modern untuk mengembangkan model pembelajaran yang tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga penguatan moral dan karakter siswa. Pendekatan konstruktivisme dipandang relevan karena mendorong siswa membangun pemahaman melalui pengalaman langsung, refleksi, interaksi sosial, serta keterlibatan aktif dalam proses belajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi kegiatan pembelajaran, wawancara mendalam dengan guru PAI, kepala madrasah, dan peserta didik, serta dokumentasi program pembiasaan di sekolah. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI menerapkan strategi konstruktivistik melalui berbagai langkah, seperti pembelajaran berbasis masalah, diskusi kelompok, studi kasus moral, role playing, serta pembiasaan akhlak dalam kegiatan sehari-hari. Integrasi nilai-nilai Islam dilakukan secara aplikatif dan kontekstual, sehingga siswa mampu memahami ajaran agama secara lebih bermakna. Pendekatan ini terbukti berdampak positif pada peningkatan keteladanan, kesadaran moral, kedisiplinan, dan sikap sosial siswa. Penelitian menyimpulkan bahwa strategi pembelajaran konstruktivisme memberikan kontribusi besar dalam membentuk peserta didik yang berkarakter mulia, kritis, dan berintegritas. Model ini tidak hanya membangun kecerdasan kognitif, tetapi juga menumbuhkan spiritualitas dan akhlakul karimah yang berkelanjutan. Temuan ini menjadi rekomendasi bagi lembaga pendidikan Islam untuk menerapkan pendekatan 
Peran Majelis Taklim Dalam Peningkatan Pengetahuan Agama Islam Dan Praktik Sosial Di Di Majelis Taklim Al-Misbah Kota Banjarbaru Annisa Yunani HS; Juli Amalia Nasucha; Muhammad Thoriqularif
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/5nc1pn98

Abstract

This study aims to analyze the role of the Al-Misbah Islamic Study Group (Majelis Taklim) in Banjarbaru City in improving Islamic religious knowledge and social practices among its congregation. The Majelis Taklim is a non-formal educational institution that functions not only as a place for religious learning but also as an agent for moral and social development in the community. The research method used is a descriptive qualitative approach, with data collection through observation, in-depth interviews with administrators and congregations, and documentation of Majelis Taklim activities. Data analysis was conducted interactively to explore the Majelis Taklim's understanding, practices, and contributions to the spiritual and social development of the community. The results show that the Majelis Taklim Al-Misbah plays a strategic role in two main aspects. First, increasing Islamic religious knowledge, which is realized through regular religious studies, thematic studies, lectures, and group discussions. These activities equip the congregation with a comprehensive understanding of faith, worship, morals, and muamalah, so that they are able to internalize Islamic values ​​in their daily lives. Second, strengthening social practices, which is carried out through social activities such as social service, orphan assistance, and participation in community programs. These activities shape Islamic character, foster social awareness, and strengthen the bonds of brotherhood among the congregation. Based on these findings, it can be concluded that the Al-Misbah Islamic Study Group in Banjarbaru City serves as a holistic institution that integrates religious learning, character building, and social practices. The Islamic study group not only enhances the congregation's religious knowledge and awareness but also contributes to building a harmonious community with noble morals and a concern for public welfare. The findings of this study can serve as a reference for developing models of community development in other non-formal religious institutions. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Majelis Taklim Al-Misbah Kota Banjarbaru dalam meningkatkan pengetahuan agama Islam dan praktik sosial jamaah. Majelis taklim merupakan lembaga pendidikan nonformal yang berfungsi tidak hanya sebagai tempat pembelajaran keagamaan, tetapi juga sebagai agen pembinaan moral dan sosial masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam dengan pengurus dan jamaah, serta dokumentasi kegiatan majelis taklim. Analisis data dilakukan secara interaktif untuk menggali pemahaman, praktik, dan kontribusi majelis taklim terhadap pengembangan spiritual dan sosial masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Majelis Taklim Al-Misbah memainkan peran strategis dalam dua aspek utama. Pertama, peningkatan pengetahuan agama Islam, yang diwujudkan melalui pengajian rutin, kajian tematik, ceramah, dan diskusi kelompok. Kegiatan ini membekali jamaah dengan pemahaman yang komprehensif mengenai akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah, sehingga mampu menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, penguatan praktik sosial, yang dilakukan melalui kegiatan sosial kemasyarakatan seperti bakti sosial, santunan anak yatim, dan partisipasi dalam program komunitas. Kegiatan ini membentuk karakter Islami, menumbuhkan kepedulian sosial, dan mempererat ukhuwah antarjamaah. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Majelis Taklim Al-Misbah Kota Banjarbaru berperan sebagai lembaga holistik yang mengintegrasikan pembelajaran agama, penguatan karakter, dan praktik sosial. Majelis taklim tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran religius jamaah, tetapi juga berkontribusi dalam membangun komunitas yang harmonis, berakhlak mulia, dan peduli terhadap kesejahteraan masyarakat. Temuan penelitian ini dapat menjadi referensi bagi pengembangan model pembinaan umat di lembaga keagamaan nonformal lainnya
Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Membina Interaksi Sosial Siswa Di SMKN 6 Kabupaten Tebo Provinsi Jambi Suriyanto
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/gktcmf63

Abstract

This study aims to describe and analyze the implementation of multicultural education in fostering student social interaction at State Vocational High School 6, Tebo Regency, Jambi Province. The background of this study is based on the reality of diverse social, cultural, and religious backgrounds of students, which demands an educational approach capable of fostering tolerance, mutual respect, and social justice within the school environment. Multicultural education is viewed as a strategic approach to fostering harmonious and inclusive student social interactions. This study employed a qualitative approach with a descriptive approach. Data collection was conducted through observation, in-depth interviews, and documentation. Research informants consisted of the principal, teachers, educational staff, and students who were selected purposively. Data analysis used the Miles and Huberman interactive analysis model, which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Data validity was ensured through source and technical triangulation. The results indicate that the implementation of multicultural education at State Vocational High School 6, Tebo Regency, has been integrated into the learning process, school culture, and student social interactions. Teachers play an active role in instilling the values ​​of tolerance, justice, and respect for diversity through dialogic and inclusive learning methods. The implementation of multicultural education has a positive impact on students' social interactions, characterized by increased mutual respect, openness in social interactions, polite communication, and the ability to work together in diverse environments. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis implementasi pendidikan multikultural dalam membina interaksi sosial siswa di SMK Negeri 6 Kabupaten Tebo Provinsi Jambi. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada realitas keberagaman latar belakang sosial, budaya, dan agama peserta didik yang menuntut adanya pendekatan pendidikan yang mampu menumbuhkan sikap toleransi, saling menghargai, dan keadilan sosial dalam lingkungan sekolah. Pendidikan multikultural dipandang sebagai pendekatan strategis dalam membangun interaksi sosial siswa yang harmonis dan inklusif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan siswa yang dipilih secara purposif. Analisis data menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijamin melalui teknik triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pendidikan multikultural di SMK Negeri 6 Kabupaten Tebo telah terintegrasi dalam proses pembelajaran, budaya sekolah, serta interaksi sosial siswa. Guru berperan aktif dalam menanamkan nilai-nilai toleransi, keadilan, dan penghargaan terhadap keberagaman melalui metode pembelajaran yang dialogis dan inklusif. Implementasi pendidikan multikultural tersebut berdampak positif terhadap interaksi sosial siswa, yang ditandai dengan meningkatnya sikap saling menghargai, keterbukaan dalam pergaulan, komunikasi yang santun, serta kemampuan bekerja sama dalam lingkungan yang beragam.
Metode Pendidikan Islam Bagi Anak Dalam Keluarga Single Mother Di Desa Timbuseng Kecamatan Pattallassang Kabupaten Gowa Rusmiati; Hasyim Asy’ari; Ardiyansyah
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/9q4jnf21

Abstract

This study aims to describe and analyze Islamic education methods for children in single-mother families in Timbuseng Village, Pattallassang District, Gowa Regency. The background of this research is based on the social reality of the increasing number of single-mother families, who are often perceived as having limitations in carrying out educational functions, particularly Islamic religious education for children. This study uses a qualitative approach with a descriptive research method. Data collection techniques were conducted through observation, in-depth interviews, and documentation with key informants, single mothers, and supporting informants such as children, community leaders, and local religious leaders. Data analysis used the Miles and Huberman interactive model, which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Data validity was tested through triangulation of sources and techniques. The results indicate that the Islamic education methods applied in single-mother families in Timbuseng Village include exemplary behavior (uswah hasanah), habituation (ta'wid), advice (mau'izhah), and proportional supervision and discipline. A mother's exemplary conduct in performing religious duties, maintaining morals, and instilling Islamic values ​​are key factors in shaping a child's religious character. Although single mothers face various challenges such as limited time, economic pressures, and social stigma, these do not prevent the effective implementation of Islamic education. This study concludes that the quality of Islamic education in single-mother families is determined more by the mother's consistency, sincerity, and commitment as the primary educator than by the completeness of the family structure. Thus, single-mother families have significant potential in shaping a generation of faithful, noble morals, and strong personalities. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis metode pendidikan Islam bagi anak dalam keluarga single mother di Desa Timbuseng, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada realitas sosial meningkatnya jumlah keluarga single mother yang kerap dipersepsikan memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsi pendidikan, khususnya pendidikan agama Islam bagi anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan informan utama para ibu single mother serta informan pendukung seperti anak, tokoh masyarakat, dan tokoh agama setempat. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pendidikan Islam yang diterapkan dalam keluarga single mother di Desa Timbuseng meliputi metode keteladanan (uswah hasanah), pembiasaan (ta‘wid), nasihat (mau‘izhah), serta pengawasan dan pendisiplinan yang proporsional. Keteladanan ibu dalam menjalankan ibadah, menjaga akhlak, dan menanamkan nilai-nilai keislaman menjadi faktor utama dalam membentuk karakter religius anak. Meskipun para ibu single mother menghadapi berbagai tantangan seperti keterbatasan waktu, tekanan ekonomi, dan stigma sosial, hal tersebut tidak menghalangi terlaksananya pendidikan Islam secara efektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kualitas pendidikan Islam dalam keluarga single mother lebih ditentukan oleh konsistensi, ketulusan, dan komitmen ibu sebagai pendidik utama dibandingkan dengan kelengkapan struktur keluarga. Dengan demikian, keluarga single mother memiliki potensi yang signifikan dalam membentuk generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan berkepribadian kuat.
Ruang Lingkup Studi Islam Interdisipliner: Pendekatan Sejarah dan Relevansinya di Era Milenial Achmad Taufiq; Abdus Salam; Mukhlasin; Muhammad Tis Asuh Shobirin; Muhammad Hori
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/3zbhws67

Abstract

Interdisciplinary Islamic studies is a scientific approach that has developed in response to the complexity of Islamic realities amidst modern social, cultural, and technological dynamics. Islam is understood not only as normative teachings derived from the Qur'an and Hadith, but also as a historical and social phenomenon that continues to evolve. This article aims to examine the scope of interdisciplinary Islamic studies, emphasizing the scientific approach, historical development, and its relevance in the millennial era. This research employs a qualitative approach with library research, through a review of various classical and contemporary literature relevant to Islamic studies and interdisciplinary approaches. The results demonstrate that an interdisciplinary approach, particularly one based on history, can provide a more contextual, critical, and comprehensive understanding of Islam by integrating Islamic sciences and the social and humanities. This historical approach helps uncover the dynamics of Islamic thought and practice, which are rich, dialogical, and adaptive to changing times. In the context of the millennial era, interdisciplinary Islamic studies have strategic relevance in interpreting contemporary Islamic phenomena such as digital da'wah, shifts in religious authority, and changes in the religiosity of the younger generation. Thus, interdisciplinary Islamic studies are expected to strengthen moderate, inclusive, and humanist attitudes, while ensuring Islam remains relevant and solution-oriented in facing the challenges of modern life without losing the fundamental values ​​of its teachings.  Abstrak Studi Islam interdisipliner merupakan pendekatan keilmuan yang berkembang sebagai respons atas kompleksitas realitas keislaman di tengah dinamika sosial, budaya, dan teknologi modern. Islam tidak hanya dipahami sebagai ajaran normatif yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis, tetapi juga sebagai fenomena historis dan sosial yang terus mengalami perkembangan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji ruang lingkup studi Islam interdisipliner dengan menitikberatkan pada pendekatan keilmuan, perkembangan historis, serta relevansinya di era milenial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), melalui penelaahan terhadap berbagai literatur klasik dan kontemporer yang relevan dengan kajian studi Islam dan pendekatan interdisipliner. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan interdisipliner, khususnya berbasis sejarah, mampu menghadirkan pemahaman Islam yang lebih kontekstual, kritis, dan komprehensif dengan mengintegrasikan ilmu-ilmu keislaman dan ilmu sosial-humaniora. Pendekatan sejarah membantu menyingkap dinamika pemikiran dan praktik keislaman yang kaya, dialogis, serta adaptif terhadap perubahan zaman. Dalam konteks era milenial, studi Islam interdisipliner memiliki relevansi strategis dalam membaca fenomena keislaman kontemporer seperti dakwah digital, pergeseran otoritas keagamaan, dan perubahan pola keberagamaan generasi muda. Dengan demikian, studi Islam interdisipliner diharapkan mampu memperkuat sikap moderat, inklusif, dan humanis, serta menjadikan Islam tetap relevan dan solutif dalam menghadapi tantangan kehidupan modern tanpa kehilangan nilai-nilai fundamental ajarannya
Santripreneur Dan Tantangan Global: Langkah Pesantren Menaklukkan Zaman Rahita Rahmadya Waluyo; Muhammad Iqbal; Puji Aulia Ananta; Dila Fairuz Salsabila
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/vccn3h55

Abstract

Islamic boarding schools (pesantren), as traditional Islamic educational institutions in Indonesia, are currently at a crucial crossroads between preserving tradition and the demands of global change. In the era of globalization and the Fourth Industrial Revolution, Islamic boarding schools face multidimensional challenges, including the rapid influx of foreign cultures, technological gaps, and the influx of transnational ideologies that have the potential to erode moderate Islamic values. These conditions require Islamic boarding schools to not only survive but also transform adaptively and strategically without losing their identity. To address these dynamics, Islamic boarding schools have begun developing curriculum adaptation strategies that are responsive to current developments. The integration of global expertise, such as digital literacy, foreign language proficiency, and strengthening soft skills, has become a crucial part of reforming the Islamic boarding school education system. The implementation of the Blended Learning model is a significant innovation that enables flexible learning processes, combining traditional methods with digital technology to foster 21st-century skills in students. Furthermore, character building remains a key foundation of Islamic boarding school education. The values ​​of Wasathiyah, or Islamic moderation, are intensively instilled to shape students who are tolerant, inclusive, and nationally minded. Santri are positioned not only as learners but also as agents of change capable of actively contributing to social life. The Santripreneurship program was developed as an effort to build economic independence among santri while strengthening ideological resilience. The analysis shows that through educational diplomacy and international collaboration, Islamic boarding schools have a significant opportunity to strengthen their role as Islamic educational institutions deeply rooted in tradition, yet adaptive and globally minded in responding to the challenges of the times. Abstrak Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional di Indonesia kini berada pada persimpangan penting antara pelestarian tradisi dan tuntutan perubahan global. Di era globalisasi dan Revolusi Industri 4.0, pesantren dihadapkan pada tantangan multidimensi yang meliputi derasnya arus budaya asing, kesenjangan penguasaan teknologi, serta masuknya ideologi transnasional yang berpotensi mengikis nilai-nilai keislaman moderat. Kondisi ini menuntut pesantren untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga bertransformasi secara adaptif dan strategis tanpa kehilangan jati dirinya. Dalam menghadapi dinamika tersebut, pesantren mulai mengembangkan strategi adaptasi kurikulum yang responsif terhadap perkembangan zaman. Integrasi keahlian global, seperti literasi digital, penguasaan bahasa asing, dan penguatan soft skills, menjadi bagian penting dari pembaruan sistem pendidikan pesantren. Penerapan model Blended Learning menjadi salah satu inovasi signifikan yang memungkinkan proses pembelajaran berjalan secara fleksibel, menggabungkan metode tradisional dengan teknologi digital guna menumbuhkan kecakapan abad ke-21 pada diri santri. Di sisi lain, penguatan karakter tetap menjadi fondasi utama pendidikan pesantren. Nilai Wasathiyah atau moderasi Islam ditanamkan secara intensif untuk membentuk santri yang toleran, inklusif, dan berwawasan kebangsaan. Santri tidak hanya diposisikan sebagai peserta didik, tetapi juga sebagai agent of change yang mampu berkontribusi aktif dalam kehidupan sosial. Program Santripreneurship turut dikembangkan sebagai upaya membangun kemandirian ekonomi santri sekaligus memperkuat ketahanan ideologi. Hasil analisis menunjukkan bahwa melalui diplomasi pendidikan dan kolaborasi internasional, pesantren memiliki peluang besar untuk meneguhkan perannya sebagai institusi pendidikan Islam yang berakar kuat pada tradisi, namun tetap adaptif dan berwawasan global dalam menjawab tantangan zaman.