cover
Contact Name
Hoirul Anam
Contact Email
hoirulanama96@gmail.com
Phone
+6287848003826
Journal Mail Official
hoirulanama96@gmail.com
Editorial Address
Jl. Dusun Kamal, RT.65/RW.29, Kamal, Karangsari, Kec. Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55674
Location
Kab. kulon progo,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
ISSN : -     EISSN : 30891973     DOI : -
AL-IKTIAR, Journal of Islamic Studies is to publish original empirical research articles and theoretical reviews of Islamic Studies, covering a wide range of issues on Islamic studies in a number of fields including as below. 1. Islamic Education 2. Islamic Thought 3. Islamic Law 4. Islamic Theology 5. Islamic Politics 6. Islamic History and Civilization
Articles 112 Documents
Interpretasi Ayat Mutasyabihat: Perbandingan pemikiran Hasan Hanafi dan Muhammad Sahrur Ahmad Yani Raharusun
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 3 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/g07gwf97

Abstract

This document presents a comparison of the thinking of Hasan Hanafi and Muhammad Shahrur in interpreting ambiguous verses in the Qur'an. Hasan Hanafi is known as a progressive thinker who seeks to connect Islamic texts with contemporary realities through a hermeneutical and phenomenological approach. He believes that ambiguous verses should not be understood solely literally but must be interpreted taking into account the current social, political, and cultural context. His hermeneutical approach enables the Qur'an to be a source of inspiration that is relevant, dynamic, and responsive to modern challenges. Furthermore, Hanafi emphasizes the phenomenological method for a deeper understanding of religious experience, so that interpretation of verses is not merely normative but also transformative for social life. Meanwhile, information regarding Muhammad Shahrur's views on ambiguous verses is not detailed in this document. Shahrur himself is known as a figure who widely used rational and modern linguistic approaches in interpreting the Qur'an, including the concept of al-hudūd (the boundaries of meaning). However, without an in-depth analysis, a comprehensive comparison between Shahrur's and Hanafi's frameworks is limited. Nevertheless, Hanafi's significant contributions to the development of Islamic hermeneutics, particularly through thematic interpretation and phenomenological approaches, have been well documented. To gain a complete picture of the differences and common ground between the two, further research is needed. An in-depth study of Shahrur's methodology and epistemological orientation will open up opportunities for a more comprehensive comparative analysis, thereby enriching contemporary exegetical discourse on mutasyabihat verses in the modern era. Abstrak Dokumen ini memaparkan perbandingan pemikiran antara Hasan Hanafi dan Muhammad Shahrur dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat (ambigu) dalam Al-Qur’an. Hasan Hanafi dikenal sebagai pemikir progresif yang berupaya menghubungkan teks-teks Islam dengan realitas kontemporer melalui pendekatan hermeneutika dan fenomenologi. Ia memandang bahwa ayat-ayat mutasyabihat tidak boleh dipahami secara literal semata, melainkan harus diinterpretasikan dengan mempertimbangkan konteks sosial, politik, dan budaya zaman sekarang. Pendekatan hermeneutikanya memungkinkan Al-Qur’an menjadi sumber inspirasi yang relevan, dinamis, dan responsif terhadap tantangan modern. Selain itu, Hanafi menekankan metode fenomenologis untuk memahami pengalaman keagamaan secara mendalam, sehingga penafsiran ayat tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga transformatif bagi kehidupan sosial. Sementara itu, informasi mengenai pandangan Muhammad Shahrur terhadap ayat-ayat mutasyabihat tidak dijabarkan secara rinci dalam dokumen ini. Shahrur sendiri dikenal sebagai tokoh yang banyak menggunakan pendekatan rasional dan linguistik modern dalam menafsirkan Al-Qur’an, termasuk konsep al-hudūd (batas-batas makna). Namun, tanpa uraian mendalam, perbandingan komprehensif antara kerangka pikir Shahrur dan Hanafi menjadi terbatas. Meski demikian, kontribusi signifikan Hanafi terhadap pengembangan hermeneutika Islam, khususnya melalui interpretasi tematik dan pendekatan fenomenologis, telah terdokumentasi dengan baik. Untuk memperoleh gambaran utuh mengenai perbedaan maupun titik temu antara keduanya, penelitian lanjutan diperlukan. Kajian mendalam atas metodologi dan orientasi epistemologis Shahrur akan membuka peluang analisis perbandingan yang lebih menyeluruh, sehingga dapat memperkaya wacana tafsir kontemporer terhadap ayat-ayat mutasyabihat di era modern.
Implementsi Model Project Based Learning Dalam Mata PelajaranPendidikan Agama Islam Di SMA Darut Taqwa Purwosari Pasuruan Sayyid Agil Syirot
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 3 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/0zkvpk37

Abstract

This study aims to describe the implementation of the Project-Based Learning (PjBL) model in Islamic Religious Education (PAI) learning at Darut Taqwa High School in Purwosari, Pasuruan. The PjBL model was chosen as an innovative approach capable of increasing active student engagement, strengthening understanding of Islamic values, and shaping noble character through contextual and applicable learning activities. This study used a qualitative approach with descriptive methods. Data collection techniques were conducted through observation, in-depth interviews, and documentation. The research informants consisted of PAI teachers, the principal, and students. The results showed that the implementation of the PjBL model began with planning learning projects aligned with core competencies and learning objectives, such as the creation of Islamic religious videos, social campaigns, and Islamic wall magazines. The activities were implemented collaboratively, with students working in small groups and actively involved in the design process, from project design to evaluation. The evaluation was comprehensive, encompassing cognitive, affective, and psychomotor aspects. The positive impact of PjBL implementation was seen in increased student learning motivation, critical thinking skills, creativity, and strengthening of Islamic character. Thus, the Project-Based Learning model has proven relevant and effective in Islamic Religious Education (PAI) teaching, as an effort to shape a generation that is knowledgeable, moral, and ready to face life's challenges based on Islamic values. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi model Project Based Learning (PjBL) dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA Darut Taqwa Purwosari Pasuruan. Model PjBL dipilih sebagai pendekatan inovatif yang mampu meningkatkan keterlibatan aktif siswa, memperkuat pemahaman terhadap nilai-nilai keislaman, serta membentuk karakter mulia melalui kegiatan pembelajaran yang kontekstual dan aplikatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari guru PAI, kepala sekolah, dan peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi model PjBL diawali dengan perencanaan proyek pembelajaran yang disesuaikan dengan kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran, seperti pembuatan video dakwah, kampanye sosial, dan majalah dinding Islami. Pelaksanaan kegiatan berlangsung secara kolaboratif, di mana siswa bekerja dalam kelompok kecil dan terlibat aktif dalam proses perancangan hingga evaluasi proyek. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dampak positif dari implementasi PjBL terlihat pada peningkatan motivasi belajar siswa, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan penguatan karakter Islami. Dengan demikian, model Project Based Learning terbukti relevan dan efektif diterapkan dalam pembelajaran PAI sebagai upaya membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan kehidupan dengan berlandaskan nilai-nilai Islam.  
Implementasi Kurikulum Merdeka Dalam Pelestarian Lingkungan Hidup Melalui Daur Ulang Perspektif Pendidikan Islam Di SMP Maarif NU Pandaan Pasuruan Hibatul Wafi
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 3 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/cx2wae38

Abstract

This study aims to describe the implementation of the Independent Curriculum (Curriculum Merdeka) in environmental conservation through recycling activities from an Islamic education perspective at Ma'arif NU Junior High School (SMP Ma'arif NU) Pandaan, Pasuruan. The background of this research is based on the importance of integrating Islamic values in environmental conservation efforts, particularly amidst the challenges of increasing environmental damage. This study used a qualitative approach with descriptive methods. Data were obtained through observation, in-depth interviews with the principal, teachers, and students, and documentation of recycling activities carried out at the school. Data analysis techniques used the Miles and Huberman interactive model, which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results show that the Independent Curriculum provides flexibility for teachers in designing project-based learning relevant to students' daily lives. Recycling activities are integrated into cross-subject learning, with an emphasis on Islamic values such as cleanliness (thaharah), responsibility, trustworthiness, and concern for others. The implementation process begins with project planning, collecting used materials, processing them, and producing useful products. These activities not only increase students' awareness of the importance of environmental protection but also foster entrepreneurial skills and self-confidence. The Islamic educational perspective provides a moral foundation that environmental protection is part of God's mandate, which must be maintained by humans as caliphs on earth. This study concludes that the implementation of the Independent Curriculum, based on Islamic education, can optimize the development of environmentally conscious character while creating contextual, creative learning that has a real impact on students and the community. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Kurikulum Merdeka dalam pelestarian lingkungan hidup melalui kegiatan daur ulang dengan perspektif pendidikan Islam di SMP Ma’arif NU Pandaan Pasuruan. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya integrasi nilai-nilai keislaman dalam upaya pelestarian lingkungan hidup, khususnya di tengah tantangan kerusakan lingkungan yang semakin meningkat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dengan kepala sekolah, guru, dan siswa, serta dokumentasi kegiatan daur ulang yang dilaksanakan di sekolah. Teknik analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas bagi guru dalam merancang pembelajaran berbasis proyek yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Kegiatan daur ulang diintegrasikan ke dalam pembelajaran lintas mata pelajaran, dengan penekanan pada nilai-nilai Islam seperti kebersihan (thaharah), tanggung jawab, amanah, dan kepedulian terhadap sesama. Proses implementasi dimulai dari perencanaan proyek, pengumpulan bahan bekas, pengolahan, hingga pembuatan produk bernilai guna. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga menumbuhkan keterampilan kewirausahaan dan rasa percaya diri. Perspektif pendidikan Islam memberikan landasan moral bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari amanah Allah yang harus dipelihara oleh manusia sebagai khalifah di bumi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka berbasis pendidikan Islam mampu mengoptimalkan pembentukan karakter peduli lingkungan sekaligus menciptakan pembelajaran yang kontekstual, kreatif, dan berdampak nyata bagi siswa maupun masyarakat.
Metodologi SRA dan Ring Structure dalam Konsep Keteraturan Al-Qur’an menurut Michel Cuypers dan Raymond Farrin Anas Miftah
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 4 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/cqbm9v45

Abstract

The study of the orderliness of the Qur'an has long been a debate in the treasury of scholarship, especially among orientalists who consider the Qur'anic text to lack structural coherence. This study analyzes the Semitic Rhetorical Analysis (SRA) approach developed by Michel Cuypers and the Ring Structure theory proposed by Raymond Farrin as alternative methodologies to reveal the orderliness and harmony of the Qur'an. This study uses a library method by examining the primary works of Cuypers and Farrin as well as secondary literature related to the rhetorical analysis and structure of the Qur'an. The results of the study show that SRA emphasizes the existence of parallel, concentric, and mirror symmetrical patterns in verses and suras that form cohesion of meaning, while the Ring Structure theory displays a circular pattern in which the beginning and end of the text function as frames that emphasize the central message. Analysis of certain suras shows that parallel, chiastic, and ring order are not mere coincidences, but part of a deliberate rhetorical design. These findings not only refute orientalist criticisms of the Quran's irregularity but also open up new opportunities for interdisciplinary studies, including theology, literature, and linguistics. Thus, the integration of SRA and Ring Structure significantly contributes to enriching our understanding of the Quran's coherence, systematics, and universal relevance in the contemporary era. Abstrak Kajian tentang keteraturan Al-Qur’an telah lama menjadi perdebatan dalam khazanah kesarjanaan, terutama di kalangan orientalis yang menilai teks Al-Qur’an tidak memiliki koherensi struktural. Penelitian ini menganalisis pendekatan Semitic Rhetorical Analysis (SRA) yang dikembangkan Michel Cuypers dan teori Ring Structure yang dikemukakan Raymond Farrin sebagai metodologi alternatif untuk mengungkap keteraturan dan keselarasan Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan menelaah karya-karya primer Cuypers dan Farrin serta literatur sekunder terkait analisis retorika dan struktur Al-Qur’an. Hasil kajian menunjukkan bahwa SRA menegaskan adanya pola simetris paralel, konsentris, dan cermin dalam ayat maupun surah yang membentuk kohesi makna, sedangkan teori Ring Structure menampilkan pola melingkar di mana bagian awal dan akhir teks berfungsi sebagai bingkai yang menegaskan pesan sentral. Analisis terhadap surah tertentu memperlihatkan bahwa keteraturan paralel, chiastic, dan cincin bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari desain retoris yang disengaja. Temuan ini tidak hanya membantah kritik orientalis tentang ketidakteraturan Al-Qur’an, tetapi juga membuka ruang baru bagi studi lintas disiplin, baik dalam teologi, sastra, maupun linguistik. Dengan demikian, integrasi SRA dan Ring Structure memberikan kontribusi signifikan dalam memperkaya pemahaman tentang koherensi, sistematika, dan relevansi universal Al-Qur’an di era kontemporer.
Implementasi Program Dana Bantuan Operasional Sekolah (Bos) Sekolah Menengah Pertama Di Kabupaten Padang Lawas Putra Aulia Ramadhan; Siti Hazzah Nur
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 4 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/bjm5gt48

Abstract

The high number of children who do not continue their education to junior high school (SMP) due to limited facilities, especially in remote areas, is a serious problem in Padang Lawas Regency. The School Operational Assistance (BOS) program, which is expected to support equitable distribution of educational services, is deemed suboptimal. This study aims to describe the implementation of the BOS program at the junior high school level in Padang Lawas Regency. The study used qualitative methods with a descriptive approach. Data were obtained through interviews, observations, literature studies, and secondary data. The analysis was based on policy implementation indicators according to Charles O. Jones (1996), which include organization, interpretation, and application. The research informants included officials from the Education and Culture Office, school principals, community leaders, and dropouts. The results indicate that the organization of the BOS program is suboptimal due to the lack of regional regulations, such as Regent Regulations, that adapt central policies to local conditions. In terms of interpretation, the use of BOS funds does not fully reflect social, economic, and geographic needs, for example, the purchase of technology in areas with unstable electricity, while basic infrastructure is neglected. In terms of implementation, despite the budget increase, the impact on education quality has not been significant. The allocation model based on student numbers results in small schools in remote areas receiving minimal funding, despite their greater needs. Abstrak Tingginya angka anak yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) akibat keterbatasan fasilitas, terutama di wilayah terpencil, menjadi permasalahan serius di Kabupaten Padang Lawas. Program Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diharapkan mampu mendukung pemerataan layanan pendidikan dinilai belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Program Dana BOS tingkat SMP di Kabupaten Padang Lawas. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, studi pustaka, dan data sekunder. Analisis didasarkan pada indikator implementasi kebijakan menurut Charles O. Jones (1996) yang meliputi pengorganisasian, interpretasi, serta penerapan/aplikasi. Informan penelitian terdiri dari pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, kepala sekolah, tokoh masyarakat, serta anak-anak putus sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengorganisasian Program BOS belum optimal karena ketiadaan regulasi daerah seperti Peraturan Bupati yang mampu menyesuaikan kebijakan pusat dengan kondisi lokal. Pada aspek interpretasi, penggunaan dana BOS belum sepenuhnya mencerminkan kebutuhan sosial, ekonomi, dan geografis, misalnya pembelian teknologi di daerah dengan listrik tidak stabil, sementara sarana dasar terabaikan. Dari sisi penerapan, meskipun anggaran meningkat, dampaknya terhadap mutu pendidikan belum signifikan. Pola alokasi berbasis jumlah siswa menyebabkan sekolah kecil di daerah terpencil menerima dana minim, padahal kebutuhan mereka lebih besar.
Mengurai Framing Isu dan Hyper-Asabiyya: Studi tentang Polarisasi dan Konflik di Wamena Imroatil Aziyzil Awwalin
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 4 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/90ext116

Abstract

Recurring social conflicts in Wamena, Papua such as the violent incident in February 2023 demonstrate how narratives spread on social media can trigger collective emotional mobilization that leads to violence. This study aims to understand the social construction of the conflict by combining two main theoretical approaches: Robert Benford and David A. Snow's framing theory and Akbar S. Ahmed's concept of hyper-asabiyya. Framing theory explains how social actors shape perceptions of issues through diagnostic, prognostic and motivational framing. Meanwhile, the concept of hyper-asabiyya describes how extreme collective solidarity can emerge as a response to threats to identity and the absence of the state. The research question raised in this study is how the framing of the child abduction issue in the context of Wamena triggered collective violence and how excessive ethnic solidarity (hyper-asabiyya) played a role in the dynamics of the conflict. Through a qualitative approach with narrative and symbolic analysis, it was found that narratives of child abduction shape perceptions of threats to the existence of local communities, which are then mobilized into acts of violence. Ethnic solidarity develops into a tool for collective violence when the state fails to provide fair protection. This study highlights the importance of understanding social conflict not only from a structural perspective but also from symbolic and emotional dimensions, and offers critical reflections on the role of the media, the state, and collective identity in contemporary conflicts in Papua. Abstrak Konflik sosial yang berulang di Wamena, Papua seperti insiden kekerasan pada Februari 2023 memperlihatkan bagaimana narasi yang tersebar di media sosial dapat memicu mobilisasi emosi kolektif yang berujung pada kekerasan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami konstruksi sosial konflik tersebut dengan memadukan dua pendekatan teoritis utama yaitu teori framing dari Robert Benford dan David A. Snow serta konsep hyper-asabiyya dari Akbar S. Ahmed. Teori framing menjelaskan bagaimana aktor sosial membentuk persepsi atas isu melalui diagnostic, prognostic dan motivational framing. Sementara konsep hyper-asabiyya menguraikan bagaimana solidaritas kolektif yang ekstrem dapat muncul sebagai respons terhadap ancaman identitas dan ketiadaan negara. Rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini ialah bagaimana framing isu penculikan anak dalam konteks Wamena memicu kekerasan kolektif dan bagaimana solidaritas etnis yang berlebihan (hyper-asabiyya) berperan dalam dinamika konflik tersebut? Melalui pendekatan kualitatif dengan analisis naratif dan simbolik ditemukan bahwa narasi penculikan anak membentuk persepsi ancaman terhadap eksistensi komunitas lokal yang kemudian dimobilisasi menjadi aksi kekerasan. Solidaritas etnis berkembang menjadi alat kekerasan kolektif ketika negara gagal menyediakan perlindungan yang adil. Studi ini menyoroti pentingnya memahami konflik sosial tidak hanya dari aspek struktural tetapi juga dari dimensi simbolik dan emosional serta menawarkan refleksi kritis atas peran media, negara dan identitas kolektif dalam konflik kontemporer di Papua.
Internalisasi Nilai-Nilai Toleransi Beragama Dalam Sosial Kemasyarakatan di Desa Belo Laut Kecamatan Mentok Kabupaten Bangka Barat Puti Anisa
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 4 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/5z1tz681

Abstract

This diversity is a national asset that can be synergized for the common good. Tolerance has become the foundation for a peaceful and civilized social order. In essence, the more tolerant a society is, the more likely it is to achieve success. Therefore, tolerance is a necessity, especially in a pluralistic society. This study uses qualitative research and uses a purposive sampling technique, namely a technique for collecting data sources with certain considerations, for example, certain people who are considered to know best about what we expect, making it easier for researchers to delve into the object or social situation being studied. The results of the study show that: Belo Laut Village instills the values ​​of tolerance in its community so that people understand the importance of living in harmony between religions, not demeaning each other, and not being selfish in religious life. The process of internalizing the values ​​of religious tolerance in social life in Belo Laut Village uses three stages: the value transformation stage, the value transaction stage, and the value transinternalization stage. Then, the internalization of the values ​​of religious tolerance in Belo Laut Village has a significant positive impact on social life. Internalizing the values ​​of religious tolerance has successfully created a harmonious environment, fostering mutual respect among religious communities. Some key positive impacts include: increasing faith and piety among members of each religion, achieving solid national stability, upholding and promoting development, and maintaining and strengthening a sense of brotherhood.   Abstrak Keragaman tersebut menjadi modal kekayaan bangsa yang dapat disinergikan demi kepentingan bersama. Toleransi sudah menjadi fondasi untuk tatanan masyarakat yang damai dan berkeadaban. Intinya, semakin masyarakat tersebut toleran, akan semakin mungkin untuk menggapai keberhasilan. Karena itu, toleransi menjadi sebuah keniscayaan, terutama dalam masyarakat plural. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dan menggunakan teknik purposive sampling yaitu teknik pengambilan sumber data dengan pertimbangan tertentu misalnya orang tertentu yang mana orang tersebut dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan sehingga memudahkan peneliti mendalami objek atau situasi sosial yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Desa Belo Laut menanamkan nilai-nilai toleransi di dalam masyarakatnya agar masyarakat mengetahui pentingnya hidup rukun antar agama, tidak saling merendahkan satu sama lainnya, dan tidak egois dalam kehidupan beragama. Proses internalisasi nilai-nilai toleransi beragama dalam sosial kemasyarakatan di Desa Belo Laut menggunakan tiga tahap yaitu tahap transformasi nilai, tahap transaksi nilai dan tahap transinternalisasi nilai. Kemudian, Internalisasi nilai-nilai toleransi beragama di Desa Belo Laut memberikan dampak positif yang signifikan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Internalisasi nilai-nilai toleransi beragama ini telah berhasil menciptakan lingkungan yang rukun, harmonis, dan saling menghargai antarumat beragama. Beberapa poin kunci dari dampak positif ini meliputi: peningkatan keimanan dan ketakwaan masing-masing agama, mewujudkan stabilitas nasional yang mantab, menjunjung dan menyukseskan pembangunan, serta memelihara dan mempererat rasa persaudaraan
Peran Guru dan Pengelolaan Pojok Baca Kelas dalam Meningkatkan Literasi PAI Peserta Didik di SD Muhammadiyah Mentok Rica Khoirany
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 4 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/ztr23w28

Abstract

Low literacy skills lead to low reading interest among elementary school students. This low reading interest results in low cognitive and intellectual abilities. Teachers are tasked and responsible for guiding and shaping students' literacy behavior, thereby achieving the goals of the School Literacy Movement. This study aims to analyze the role of teachers in improving Islamic Religious Education literacy in students at Muhammadiyah Mentok Elementary School and the management of classroom reading corners in improving Islamic Religious Education literacy in students at Muhammadiyah Mentok Elementary School. This study used a qualitative approach with a field study. The subjects were the principal and teachers of Muhammadiyah Mentok Elementary School. Data were collected through observation, interviews, and documentation, then analyzed using data reduction, data presentation, and conclusion drawing techniques. The results of the study indicate that: First, the role of teachers in improving Islamic Religious Education literacy in students at Muhammadiyah Mentok Elementary School has been well-functioning, as educators, instructors, inspirators, motivators, innovators, facilitators, demonstrators, class managers, mediators, and evaluators. Second, the management of the class reading corner in improving the Islamic Religious Education literacy of students at Muhammadiyah Mentok Elementary School has been appropriate, including planning, organizing, directing, and controlling. Abstrak Rendahnya kemampuan literasi menyebabkan rendahnya minat baca di kalangan peserta didik sekolah dasar. Rendahnya minat baca tersebut mengakibatkan rendahnya kemampuan kognitif dan intelektual peserta didik Guru bertugas dan bertanggung jawab untuk mengarahkan dan membentuk perilaku literasi peserta didik, sehingga tujuan dari Gerakan Literasi Sekolah itu sendiri dapat tercapai. Penelitian bertujuan untuk menganalisis peran guru dalam meningkatkan literasi PAI peserta didik di SD Muhammadiyah Mentok, dan menganalisis pengelolaan pojok baca kelas dalam meningkatkan literasi PAI peserta didik di SD Muhammadiyah Mentok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi lapangan (field reseacrh). Subjek penelitian adalah kepsek beserta guru SD Muhammadiyah Mentok. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, peran guru dalam meningkatkan literasi PAI peserta didik di SD Muhammadiyah Mentok telah berjalan dengan baik yaitu sebagai pendidik, pengajar, inspirator, motivator, inovator, fasilitator, demonstrator, pengelola kelas, mediator, dan evaluator. Kedua, pengelolaan pojok baca kelas dalam meningkatkan literasi PAI peserta didik di SD Muhammadiyah Mentok telah sesuai yang meliputi planning, organizing, directing, dan controlling.
Pergeseran Interpretasi Kisah Pernikahan Nabi dengan Zaynab Binti Jahsy dalam QS. Al-Ahzab (33): 37(Analisis Tafsit Klasik, Pertengahan, dan Modern-Kontemporer) Abd. Muqit
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 4 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/ayyt7719

Abstract

hift in exegesis of Al-Qur’an can be found in many issues, such as the Prophet’s marriage issue to Zaynab Binti Jahsy. Many views develop between muslim scholars and western scholars. This study will explain many variations exegesis of classical, medieval, and modern-contemporary scholars who elaborate on exegesis from classical era specially from Maqātil Bin Sulaimān and Yahyā Bin Sallām, medieval era from Al-Ṭabarī and Al-Wāhidī, and modern-contemporary era from Ibn ‘Āsyūr and Izzah Darwazah. Generally, the discussion in this study is about how Q.S. Al-Ahzāb (33): 37 talks the story of Prophet’s marriage to Zaynab Binti Jahsy from the mufassir’s perspective and specifically will discuss shifts in exegesis by answering two questions: a) how the shifts in exegesis of story of Prophet’s marriage to Zaynab Binti Jahsy and b) what are implications for the study of Qur’anic story. The questions have come to a conclusion that a shift in exegesis of Al-Ahzāb (33): 37 was real specially in sabab nuzūl, narration of the story, and exegesis from mufasir. Exegesis from classical era and medieval era has significant implications for the study of Qur’anic story in the mainstream view.   Abstrak Pergeseran penafsiran Al-Qur’an bisa dijumpai dalam banyak isu, salah satunya tentang pernikahan Nabi dengan Zaynab Binti Jahsy. Ada banyak pandangan yang berkembang, baik di kalangan kesarjanaan muslim ataupun kesarjanaan barat. Penelitian ini akan melihat ragam penafsiran yang berkembang dalam kesarjanaan tafsir era klasik, pertengahan, dan modern-kontemporer dengan mengelaborasi penafsiran-penafsiran era klasik yang mengangkat tokoh Maqātil Bin Sulaiman dan Yahyā Bin Sallām, era pertengahan Al-Ṭabarī dan Al-Wāhidi, dan era modern-kontemporer Ibn ‘Āsyūr dan Izzah Darwazah. Pembahasan dalam penelitian ini secara umum tentang bagaimana Q.S. Al-Ahzāb (33): 37 berbicara di tangan mufasirnya tentang kisah pernikahan Nabi dengan Zaynab Binti Jahsy dan secara spesifik mendiskusikan pergeseran penafsiran di dalamnya dengan menjawab dua pertanyaan: a) bagaimana pergeseran interpretasi kisah pernikahan Nabi dengan Zaynab Binti Jasys dan b) apa implikasinya terhadap kajian kisah dalam Al-Qur’an. Kedua pertanyaan ini mengantarkan kepada kesimpulan bahwa penafsiran terhadap Q.S. Al-Ahzāb (33): 37 mengalami pergeseran. Potret yang lebih spesifik dapat dilihat pada sabab nuzul, narasi kisah, dan penafsiran. Penafisiran era klasik dan pertengahan juga memberi implikasi yang signifikan terhadap kajian kisah Al-Qur’an dalam pandangan mainstream.
Komunikasi Penyiaran Islam dan Pembentukan Identitas Religius di Masyarakat Multikultural Fajrina Margareth Viruliana
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/24dfmw89

Abstract

This study discusses Islamic Broadcast Communication and the Formation of Religious Identity in a Multicultural Society. The aim is to understand how the process of Islamic broadcast communication plays a role in instilling Islamic values ​​and shaping the religious identity of a society living amidst cultural, ethnic, and religious diversity. In the context of a multicultural society, Islamic broadcast media functions not only as a means of da'wah (Islamic outreach) but also as a social instrument capable of strengthening tolerance, solidarity, and social cohesion. This study employed a descriptive qualitative approach, with data collection techniques including observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis employed the interactive model of Miles and Huberman, which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Triangulation of sources and methods was used to ensure data validity. The results indicate that Islamic broadcast communication plays a significant role in shaping a religious identity that is not merely symbolic but reflective an identity rooted in spiritual awareness, social ethics, and humanitarian responsibility. Through moderate, contextual, and inclusive broadcasting, Islamic values ​​are disseminated in a peaceful and rational manner, thereby fostering religious awareness and strengthening mutual respect amidst differences. Abstrak Penelitian ini membahas tentang Komunikasi Penyiaran Islam dan Pembentukan Identitas Religius di Masyarakat Multikultural. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana proses komunikasi penyiaran Islam berperan dalam menanamkan nilai-nilai keislaman dan membentuk identitas religius masyarakat yang hidup di tengah keberagaman budaya, etnis, dan agama. Dalam konteks masyarakat multikultural, media penyiaran Islam tidak hanya berfungsi sebagai sarana dakwah, tetapi juga sebagai instrumen sosial yang mampu memperkuat toleransi, solidaritas, dan kohesi sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, yang meliputi tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik triangulasi sumber dan metode digunakan untuk menjaga keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi penyiaran Islam berperan penting dalam membentuk identitas religius yang tidak hanya bersifat simbolik, tetapi reflektif yaitu identitas yang berakar pada kesadaran spiritual, etika sosial, dan tanggung jawab kemanusiaan. Melalui penyiaran yang moderat, kontekstual, dan inklusif, nilai-nilai Islam disebarluaskan dengan cara yang damai dan rasional, sehingga mampu menumbuhkan kesadaran religius serta memperkuat rasa saling menghargai di tengah perbedaan.

Page 9 of 12 | Total Record : 112