cover
Contact Name
Sudikno
Contact Email
onkidus@gmail.com
Phone
+6281316350502
Journal Mail Official
redaksipgm@yahoo.com
Editorial Address
Grand Centro Bintaro Blok B2, Jl. Raya Kodam Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan 12320 Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research)
ISSN : 01259717     EISSN : 23388358     DOI : https://doi.org/10.36457
Core Subject : Health, Social,
Focus and Scope Penelitian Gizi dan Makanan is a journal developed to disseminate and discuss the scientific literature and other research on the development of health in the field of food and nutrition. This journal is intended as a medium for communication among stake holders on health research such asresearchers, educators, students, practitioners of Health Office, Department of Health, Public Health Service center, as well as the general public who have an interest in the matter. The journal is trying to meet the growing need to study health. Vision: Becoming a notable national journal in the field of food and nutritions towards a reputable international journal. Mission: Providing scientific communication media in food and nutritions research in order to advance science andtechnology in related fields. Organizes scholarly journal publishing in health research with an attempt to achieve a high impact factorin the development of science and technology.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "JILID 8 (1985)" : 6 Documents clear
DAMPAK PEMBERIAN VITAMIN A DOSIS TINGGI PADA IBU MENYUSUI TERHADAP STATUS VITAMIN A ANAK Muhilal Muhilal; Dewi Permaesih; M. Saidin; Ance Murdiana; Kunkun K. Wiramihardja; Darwin Karyadi
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 8 (1985)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1932.

Abstract

Defisiensi vitamin A merupakan masalah gizi utama. Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu menyusui mungkin dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk menyampaikan vitamin A pada bayi/anak yang di susui. Kemungkinan adanya toksisitas kecil, karena vitamin A disampaikan melalui air susu ibu (ASI) sedikit demi sedikit. Sebelum menjadi program perlu diteliti kemanfaatan cara tersebut dengan melihat dampaknya pada status vitamin A bayi.Sejumlah ibu (pada permulaan penelitian sebanyak 160 orang) di lingkungan Cipedes Kotamadya Bandung, dibagi menjadi 2 kelompok secara acak. Kelompok sampel diberi vitamin A dosis tinggi (400 000 IU) sedangkan kelompok kontrol diberi plasebo. Status gizi ibu dan bayi dan kadar vitamin A ASI diteliti 3 bulan dan 6 bulan setelah intervensi. Pemeriksaan vitamin A darah pada bayi dilakukan 6 bulan setelah intervensi.Tidak ada perbedaan status gizi ibu yang bermakna antara kelompok sampel dan kelompok kontrol pada tiga kali pemeriksaan. Enam bulan setelah intervensi keadaan gizi bayi yang berumur 10-11 bulan pada kelompok sampel lebih baik "dari kelompok kontrol. Kadar vitamin A ASI kelompok sampel 3 bulan setelah intervensi naik secara bermakna,yaitu dari 23 ,2 mcg/dl menjadi 32,2 mcg/dl. "Enam bulan setelah , intervensi kadar vitamin A ASI kelompok sampel dan kelompok kontrol masing-masing 16,7 mcg/dl dan 13,5 mcg/dl. Kadar plasma vitamin A pada bayi kelompok sampel (24,2 mcg/dl) lebih tinggi secara bermakna dari kelompok kontrol ialah 18,4 mcg/dl.Pada penelitian ini diamati: (i) kadar vitamin A ASI mengalami kenaikan bermakna sampai 3 bulan setelah intervensi, (ii) status vitamin A bayi yang ibunya diberi vitamin A dosis tinggi lebih baik dari kelompok kontrol, (iii) adanya kemungkinan terjadinya kenaikan berat yang lebih baik pada bayi yang ibunya mendapat vitamin A dosis tinggi. Mengingat kemungkinan adanya efek negatif vitamin A dosis tinggi pada janin, pemberian vitamin A pada ibu menyusui seyogyanya dilakukan hanya pada masa nifas.
BEBERAPA FAKTOR YANG DAPAT MENURUNKAN KADAR YODIUM DALAM GARAM BERYODIUM Uken S. S.; Soetrisno Soetrisno; Almasjhuri Almasjhuri; Hermana Hermana
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 8 (1985)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1933.

Abstract

Dalam penelitian ini dipelajari faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi kadar yodium dalam garam beryodium, yaitu waktu dan kondisi penyimpanan, bahan pembungkus, dan jenis garam.Garam beryodium yang diteliti ialah produksi pabrik swasta dan buatan laboratorium. Garam disimpan selama 9 bulan di daerah pantai, dataran tinggi, dan pegunungan, menggunakan dua jenis bahan pembungkus yaitu mangkok plastik dan kantong plastik. Kadar yodium ditentukan menurut metode yang tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI.Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu penyimpanan, kondisi penyimpanan, dan jenis garam, berpengaruh nyata; sedangkan bahan pembungkus tidak berpengaruh terhadap penurunan kadar yodium. Selain itu ternyata bahwa, kadar yodium pada tingkat produksi berbeda antar pabrik, dan antar hari produksi, serta tidak memenuhi ketentuan perundangan yang berlaku. Penyimpanan selama 9 bulan mengakibatkan penurunan kadar yodium sebesar 21%, sehingga perlu dicantumkan tanggal produksi pada pembungkus garam beryodium untuk mencegah penyimpanan yang lebih lama lagi.
KADAR VITAMIN B1 DALAM BERAS GILING DAN LIMBAH PENGGILINGAN DARI TIGA DAERAH DI JAWA BARAT Komari Hermana
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 8 (1985)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1934.

Abstract

Dengan berkembangnya penggilingan padi menjadi beras, menjadi pertanyaan apakah beras masih merupakan sumber yang berarti dalam memenuhi kebutuhan vitamin B1 penduduk pedesaan. Studi lapangan mengenai penggilingan padi dan kadar vitamin B1 dalam beras dan limbah penggilingan telah dilakukan di tiga kabupaten di Jawa Barat.Kadar rata-rata vitamin B1 dalam beras giling dari ketiga daerah penelitian antara 0,07-0,08 mg%. Kadar vitamin B1 dalam beras tumbuk tidak berbeda dengan kadar dalam beras giling. Pada umumnya, beras yang dijual di pasar di daerah penelitian tidak selalu beras produksi setempat.Kadar vitamin B1 dalam sekam sama dengan dalam beras giling, sedangkan dalam bekatul sekitar 2-3 kali kadar dalam beras. Pemanfaatan limbah penggilingan tersebut terutama untuk makanan ternak, kecuali sekam dipakai pula untuk bahan pencampur pembuatan bata merah.Data kesehatan di tiga daerah penelitian tidak menunjukkan adanya kekurangan vitamin B1 sebagai masalah kesehatan masyarakat. Mengingat keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari penggilingan, cara ini dapat dianjurkan untuk mengolah padi menjadi beras.
PENGARUH LAMA DAN CARA PENYIMPANAN TERHADAP PERKEMBANGAN KANDUNGAN AFLATOKSIN PADA GAPLEK DI RUMAH TANGGA Sukati Saidin; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 8 (1985)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1935.

Abstract

Aflatoksin yang mencemari makanan dapat menyebabkan timbulnya kanker hati. Gaplek merupakan salah satu komoditi yang dapat tercemar aflatoksin. Ada beberapa daerah di Indonesia yang menggunakan gaplek sebagai makanan pokok. Karena gaplek pada umumnya disimpan sampai panen berikutnya maka ada peluang untuk tercemar aflatoksin. Karena itu perlu diteliti sampai berapa jauh pencemaran aflatoksin pada gaplek. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh lama dan cara penyimpanan terhadap cemaran aflatoksin pada gaplek.Gaplek yang sudah dikeringkan dengan cara yang lazim dilakukan di daerah dengan makanan pokok gaplek dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama disimpan di lantai semen terbuka, bagian kedua disimpan dalam bakul terbuka dan bagian ketiga di simpan dalam karung goni yangdiikat. Analisa kandungan aflatoksin dan kadar air gaplek dilakukan pada permulaan dan 4, 8, 12, 16 dan 20 minggu dalam penyimpanan.Perkembangan cemaran aflatoksin gaplek dalam penyimpanan ini mengungkapkan makin lama gaplek disimpan makin tinggi kadar aflatoksinnya. Rata-rata kadar air gaplek selama penyimpanan berkisar antara 13,1% sampai 14,0%. Gaplek yang disimpan di lantai menunjukkan kandungan aflatoksin tertinggi, diikuti oleh gaplek yang disimpan dalam bakul dan dalam karung.Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa sampai waktu panen berikutnya sekitar 10 bulan, kandungan aflatoksin gaplek yang disimpan di dalam karung diikat belum mencapai taraf yang menbahayakan kesehatan.
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBAKTERIAL PADA TEMPE TERHADAP BAKTERI PENYEBAB DIARE Erwin Affandi; Mien K. Mahmud
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 8 (1985)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1936.

Abstract

Tempe adalah bahan makanan yang sudah populer di Indonesia. Selain sumber zat gizi yang bernilai tinggi, tempe juga diduga mempunyai khasiat lain.Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari daya hambat zat antibakterial dalam tempe terhadap beberapa jenis bakteri termasuk bakteri penyebab diare.Pada prinsipnya dalam penelitian ini dipelajari pengaruh penambahan ekstrak tempe terhadap pertumbuhan bakteri. Jenis bakteri penguji diambil dua jenis gram-positif dan empat jenis gram-negatif. Tempe sebagai sumber zat antibakterial, berupa tempe yang dibuat dengan menggunakan Rhizopus oligosporus dalam bentuk biakan murni, usar dan laru; dua jenis yang terakhir ini dibeli dari pedagang tempe. Pengukuran pertumbuhan bakteri dilakukan dengan menggunakan Spectronic-20, Bausch dan Lomb.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tempe yang dibuat dengan biakan murni terdapat zat antibakterial yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri.Dihasilkannya zat antibakterial tersebut pada proses fermentasi, sangat dipengaruhi oleh kemurnian jenis kapang dan media tempat pertumbuhan kapang.
TEKNOLOGI FORTIFIKASI MSG DENGAN VITAMIN A Muhilal Muhilal; Ance Murdiana
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 8 (1985)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1937.

Abstract

Defisiensi vitamin A merupakan salah satu masalah gizi utama. Salah satu upaya penanggulangannya ialah dengan fortifikasi bahan makanan dengan vitamin A. Bahan makanan yang potensial untuk wahana fortifikasi menurut hasil Temu Karya Fortifikasi Vitamin A pada makanan ialah mono sodium glutamat (MSG). Sebelum fortifikasi diprogramkan secara nasional perlu diteliti beberapa aspek antara lain teknologi fortifikasi, efektivitas dan daya terima masyarakat. Untuk langkah awal penelitian ditujukan untuk mencari teknologi fortifikasi yang sesuai.Aspek yang diteliti dalam teknologi fortifikasi ini meliputi teknik pencampuran vitamin A dengan MSG, stabilitas vitamin A yang difortifikasikan ke dalam MSG dan cara deteksi vitamin A dalam MSG yang dapat digunakan dalam monitoring program fortifikasi.Teknik pencampuran yang paling baik ialah dengan dibuat premix untuk menyelimuti partikel vitamin A dengan bubuk MSG 100 mesh dengan memakai zat perekat lipida. Hasil dari teknik pencampuran ini warna kuning dari vitamin A diselimuti MSG yang berwarna putih. Premix kemudian dicampur dengan MSG dengan konsentrasi yang dikehendaki. Tipe vitamin A yang sesuai untuk dipakai dalam fortifikasi. MSG dilihat dari stabilitasnya ialah tipe 250 CWS. Retensi vitamin A dalam 1, 2, 3, dan 4 bulan masing-masing 99%, 89%, 81% dan 76%. Cara deteksi yang dapat digunakan untuk monitoring yang telah dikemukakan ialah 1 sendok MSG ditaruh di kertas saring lalu ditetesi larutan TCA dalam chloroform. Intensitas warna yang terbentuk dan lamanya warna hilang dapat dipakai untuk memperkirakan konsentrasi vitamin A dalam MSG.

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

1985 1985


Filter By Issues
All Issue Vol. 47 No. 2 (2024): PGM VOL 47 NO 2 TAHUN 2024 Vol. 47 No. 1 (2024): PGM VOL 47 NO 1 TAHUN 2024 Vol. 46 No. 2 (2023): PGM VOL 46 NO 2 TAHUN 2023 Vol. 46 No. 1 (2023): PGM VOL 46 NO 1 TAHUN 2023 Vol. 45 No. 2 (2022): PGM VOL 45 NO 2 TAHUN 2022 Vol. 45 No. 1 (2022): PGM VOL 45 NO 1 TAHUN 2022 Vol. 44 No. 2 (2021): PGM VOL 44 NO 2 TAHUN 2021 Vol. 44 No. 1 (2021): PGM VOL 44 NO 1 TAHUN 2021 Vol. 43 No. 2 (2020): PGM VOL 43 NO 2 TAHUN 2020 Vol. 43 No. 1 (2020): PGM VOL 43 NO 1 TAHUN 2020 Vol. 42 No. 2 (2019): PGM VOL 42 NO 2 TAHUN 2019 Vol. 42 No. 1 (2019): PGM VOL 42 NO 1 TAHUN 2019 Vol. 41 No. 2 (2018): PGM VOL 41 NO 2 TAHUN 2018 Vol. 41 No. 1 (2018): PGM VOL 41 NO 1 TAHUN 2018 Vol. 40 No. 2 (2017) Vol. 40 No. 1 (2017) Vol. 39 No. 2 (2016) Vol. 39 No. 1 (2016) Vol. 38 No. 2 (2015) Vol. 38 No. 1 (2015) Vol. 37 No. 2 (2014) Vol. 37 No. 1 (2014) Vol. 36 No. 2 (2013) Vol. 36 No. 1 (2013) Vol. 35 No. 2 (2012) Vol. 35 No. 1 (2012) Vol. 34 No. 2 (2011) Vol. 34 No. 1 (2011) Vol. 33 No. 2 (2010) Vol. 33 No. 1 (2010) Vol. 32 No. 2 (2009) Vol. 32 No. 1 (2009) Vol. 31 No. 2 (2008) Vol. 31 No. 1 (2008) Vol. 30 No. 2 (2007) Vol. 30 No. 1 (2007) Vol. 29 No. 2 (2006): PGM VOL 29 NO 2 Desember Tahun 2006 Vol. 29 No. 1 (2006) Vol. 28 No. 2 (2005) Vol. 28 No. 1 (2005) Vol. 27 No. 2 (2004) Vol. 27 No. 1 (2004) Vol. 26 No. 2 (2003) Vol. 26 No. 1 (2003) Vol. 25 No. 2 (2002) Vol. 25 No. 1 (2002) JILID 24 (2001) JILID 23 (2000) JILID 22 (1999) JILID 21 (1998) JILID 20 (1997) JILID 19 (1996) JILID 18 (1995) JILID 17 (1994) JILID 16 (1993) JILID 15 (1992) JILID 14 (1991) JILID 13 (1990) JILID 12 (1989) JILID 11 (1988) JILID 10 (1987) JILID 9 (1986) JILID 8 (1985) Vol. 6 (1984): JILID 6 (1984) JILID 7 (1984) Vol. 5 (1982): JILID 5 (1982) JILID 4 (1980) JILID 3 (1973) JILID 2 (1972) JILID 1 (1971) More Issue