Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

KADAR AFLATOXIN DALAM KACANG TANAH DAN HASIL OLAHANNYA Muhilal Muhilal; Darwin karyadi; Dradjat D. Prawiranegara
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 1 (1971)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2035.

Abstract

Kadar aflatoxin dalam katjang tanah dan hasil olahnja (The aflatoxin contents of peanut and peanut products). Gizi Indonesia, 2: 162, 1970. Samples of peanut and peanut products obtained in Bogor were analyzed for their contents of aflatoxin by the method of Pons and Goldblatt. The peanut products analyzed were peanut oil, peanut presscake, peanut butter and fermented peanut presscake. Most of the aflatoxin found was of Bl type which is the most toxic. The aflatoxin contents of peanut bought from retai­lers (40 to 4100 ppb) were roughly 25 times the safe level desig­nated by the American and Canadian Food and Drug Admi­nistration. It was noticel that the longer the time needed for peanuts to reach the consumer, the greater are the contents of aflatoxin. Kacang tanah merupakan bagian dari menu orang Indonesia. Ada berbagai bahan makanan yang memakai kacang tanah/hasil olahan kacang tanah sebagai bahan dasarnya, yang paling terkenal ialah oncom yang banyak terdapat di Jawa Barat. Mengingat kemungkinan bahaya yang bisa ditimbulkan aflatoxin, maka penelitian kadar aflatoxin pada kacang tanah dan hasil olahannya sangat penting terutama dari segi kesehatan masyarakat.
KETELITIAN HASIL PENENTUAN HEMOGLOBIN DENGAN CARA SIANMETHEMOGLOBIN, CARA SAHLI DAN SIANMETHEMOGLOBIN-TIDAK-LANGSUNG Muhilal Muhilal; Sukati Saidin
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 4 (1980)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1893.

Abstract

Ketelitian penentuan hemoglobin (Hb) dengan cara Sahli dan cara sianmethemoglobin-tidak-langsung telah dibandingkan dengan cara sianmethemoglobin (cara yang paling teliti yang dianjurkan WHO). Cara Sahli dan cara sianmethemoglobin-tidak-langsung menghasilkan nilai Hb yang masing-masing lebih rendah 10-13 persen dan 14-16 persen dari cara sianmethemoglobin. Hasil penentuan Hb dengan cara Sahli bila dikalikan faktor 1,10 maupun 1,13 menghasilkan nilai Hb yang penyebarannya tidak berbeda bermakna dengan cara sianmethomoglobin. Bila hasil penentuan Hb dengan cara sianmethemoglobin-tidak-langsung dikalikan faktor 1,16 menghasilkan nilai Hb yang penyebarannya berbeda bermakna dengan cara sianmethemoglobin. Bila sarana penentuan Hb dengan cara sianmethemoglobin tidak tersedia penentuan Hb dapat dilakukan dengan cara Sahli dan hasilnya dikalikan faktor 1,1.
PEMBUATAN MINYAK BERIODIUM PER ORAL DAN HASIL UJICOBANYA PADA DOMBA Endi Ridwan; T. Wardiatmo; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 11 (1988)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1987.

Abstract

Telah dilakukan ujicoba pembuatan minyak beriodium oral dengan bahan baku minyak jagung. Pembuatan dilakukan menurut metoda Wijs. Pengukuran kandungan iodium produk yang dihasilkan dilakukan dengan cara-cara gravimetri dan cara fotometri. Uji keefektifan minyak beriodium yang dihasilkan dilakukan pada domba. Kadar iod minyak yang dihasilkan rata-rata 3,7 g I/10 ml, dibanding 4,7 g/10 ml dalam lipidol. Pola ekskresi iodium dalam urin domba yang diberi minyak beriodium buatan sendiri mirip dengan pola ekskresi iodium dalam urin domba yang diberi lipidol. Jika disimpan tanpa tutup pada suhu biasa, dalam tiga hari warna minyak beriodium buatan sendiri telah berubah dari kuning kecoklatan menjadi coklat hitam dan makin hari makin hhitam. Juga ditemukan kesulitan cara memisahkan kelebihan pereaksi maupun iodium yang ditambahkan.
DAMPAK PEMBERIAN VITAMIN A DOSIS TINGGI PADA IBU MENYUSUI TERHADAP STATUS VITAMIN A ANAK Muhilal Muhilal; Dewi Permaesih; M. Saidin; Ance Murdiana; Kunkun K. Wiramihardja; Darwin Karyadi
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 8 (1985)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1932.

Abstract

Defisiensi vitamin A merupakan masalah gizi utama. Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu menyusui mungkin dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk menyampaikan vitamin A pada bayi/anak yang di susui. Kemungkinan adanya toksisitas kecil, karena vitamin A disampaikan melalui air susu ibu (ASI) sedikit demi sedikit. Sebelum menjadi program perlu diteliti kemanfaatan cara tersebut dengan melihat dampaknya pada status vitamin A bayi.Sejumlah ibu (pada permulaan penelitian sebanyak 160 orang) di lingkungan Cipedes Kotamadya Bandung, dibagi menjadi 2 kelompok secara acak. Kelompok sampel diberi vitamin A dosis tinggi (400 000 IU) sedangkan kelompok kontrol diberi plasebo. Status gizi ibu dan bayi dan kadar vitamin A ASI diteliti 3 bulan dan 6 bulan setelah intervensi. Pemeriksaan vitamin A darah pada bayi dilakukan 6 bulan setelah intervensi.Tidak ada perbedaan status gizi ibu yang bermakna antara kelompok sampel dan kelompok kontrol pada tiga kali pemeriksaan. Enam bulan setelah intervensi keadaan gizi bayi yang berumur 10-11 bulan pada kelompok sampel lebih baik "dari kelompok kontrol. Kadar vitamin A ASI kelompok sampel 3 bulan setelah intervensi naik secara bermakna,yaitu dari 23 ,2 mcg/dl menjadi 32,2 mcg/dl. "Enam bulan setelah , intervensi kadar vitamin A ASI kelompok sampel dan kelompok kontrol masing-masing 16,7 mcg/dl dan 13,5 mcg/dl. Kadar plasma vitamin A pada bayi kelompok sampel (24,2 mcg/dl) lebih tinggi secara bermakna dari kelompok kontrol ialah 18,4 mcg/dl.Pada penelitian ini diamati: (i) kadar vitamin A ASI mengalami kenaikan bermakna sampai 3 bulan setelah intervensi, (ii) status vitamin A bayi yang ibunya diberi vitamin A dosis tinggi lebih baik dari kelompok kontrol, (iii) adanya kemungkinan terjadinya kenaikan berat yang lebih baik pada bayi yang ibunya mendapat vitamin A dosis tinggi. Mengingat kemungkinan adanya efek negatif vitamin A dosis tinggi pada janin, pemberian vitamin A pada ibu menyusui seyogyanya dilakukan hanya pada masa nifas.
PENGARUH LAMA DAN CARA PENYIMPANAN TERHADAP PERKEMBANGAN KANDUNGAN AFLATOKSIN PADA GAPLEK DI RUMAH TANGGA Sukati Saidin; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 8 (1985)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1935.

Abstract

Aflatoksin yang mencemari makanan dapat menyebabkan timbulnya kanker hati. Gaplek merupakan salah satu komoditi yang dapat tercemar aflatoksin. Ada beberapa daerah di Indonesia yang menggunakan gaplek sebagai makanan pokok. Karena gaplek pada umumnya disimpan sampai panen berikutnya maka ada peluang untuk tercemar aflatoksin. Karena itu perlu diteliti sampai berapa jauh pencemaran aflatoksin pada gaplek. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh lama dan cara penyimpanan terhadap cemaran aflatoksin pada gaplek.Gaplek yang sudah dikeringkan dengan cara yang lazim dilakukan di daerah dengan makanan pokok gaplek dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama disimpan di lantai semen terbuka, bagian kedua disimpan dalam bakul terbuka dan bagian ketiga di simpan dalam karung goni yangdiikat. Analisa kandungan aflatoksin dan kadar air gaplek dilakukan pada permulaan dan 4, 8, 12, 16 dan 20 minggu dalam penyimpanan.Perkembangan cemaran aflatoksin gaplek dalam penyimpanan ini mengungkapkan makin lama gaplek disimpan makin tinggi kadar aflatoksinnya. Rata-rata kadar air gaplek selama penyimpanan berkisar antara 13,1% sampai 14,0%. Gaplek yang disimpan di lantai menunjukkan kandungan aflatoksin tertinggi, diikuti oleh gaplek yang disimpan dalam bakul dan dalam karung.Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa sampai waktu panen berikutnya sekitar 10 bulan, kandungan aflatoksin gaplek yang disimpan di dalam karung diikat belum mencapai taraf yang menbahayakan kesehatan.
TEKNOLOGI FORTIFIKASI MSG DENGAN VITAMIN A Muhilal Muhilal; Ance Murdiana
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 8 (1985)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1937.

Abstract

Defisiensi vitamin A merupakan salah satu masalah gizi utama. Salah satu upaya penanggulangannya ialah dengan fortifikasi bahan makanan dengan vitamin A. Bahan makanan yang potensial untuk wahana fortifikasi menurut hasil Temu Karya Fortifikasi Vitamin A pada makanan ialah mono sodium glutamat (MSG). Sebelum fortifikasi diprogramkan secara nasional perlu diteliti beberapa aspek antara lain teknologi fortifikasi, efektivitas dan daya terima masyarakat. Untuk langkah awal penelitian ditujukan untuk mencari teknologi fortifikasi yang sesuai.Aspek yang diteliti dalam teknologi fortifikasi ini meliputi teknik pencampuran vitamin A dengan MSG, stabilitas vitamin A yang difortifikasikan ke dalam MSG dan cara deteksi vitamin A dalam MSG yang dapat digunakan dalam monitoring program fortifikasi.Teknik pencampuran yang paling baik ialah dengan dibuat premix untuk menyelimuti partikel vitamin A dengan bubuk MSG 100 mesh dengan memakai zat perekat lipida. Hasil dari teknik pencampuran ini warna kuning dari vitamin A diselimuti MSG yang berwarna putih. Premix kemudian dicampur dengan MSG dengan konsentrasi yang dikehendaki. Tipe vitamin A yang sesuai untuk dipakai dalam fortifikasi. MSG dilihat dari stabilitasnya ialah tipe 250 CWS. Retensi vitamin A dalam 1, 2, 3, dan 4 bulan masing-masing 99%, 89%, 81% dan 76%. Cara deteksi yang dapat digunakan untuk monitoring yang telah dikemukakan ialah 1 sendok MSG ditaruh di kertas saring lalu ditetesi larutan TCA dalam chloroform. Intensitas warna yang terbentuk dan lamanya warna hilang dapat dipakai untuk memperkirakan konsentrasi vitamin A dalam MSG.
BAHAN PANGAN SEBAGAI ALTERNATIF DETEKSI IODIUM PADA GARAM BERIODIUM Yuniar Rosmalin; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2283.

Abstract

Telah dilakukan penelitian terhadap bahan pangan sebagai alternatif deteksi iodium pada garam beriodium. Bahan yang digunakan yaitu Singkong, Gadung, Rebung dan Biji Karet. Diperoleh 10 sampel Singkong, 4 jenis dari Kuningan (SRK, SGHK, SGK, SMK), 3 jenis dari Sukabumi (SBMS, SBHS, SSKS) dan 3 jenis dari Bogor (SCB, SPB dan SMB). Gadung diperoleh 6 sampel yaitu 2 sampel dari Kuningan (GPK & GKK), 2 sampel dari Sukabumi (GP1S dan GP2S) dan 2 sampel dari Bogor (GPB dan GKB). Rebung diperoleh 9 sampel yaitu 3 sampel dari Kuningan (RBK, RTK, RHK), 3 sampel dari Sukabumi (RBS, RTmS, RTS) dan 3 sampel dari Bogor (RTB, RAB dan RBB). Biji Karet diperoleh 8 sampel yaitu 3 sampel dari Bogor (GT1B, LCB 1320 B, WRB), 2 sampel dari Kuningan (LCB479K, PR300 K) dan 3 sampel dari Sukabumi (GT1S, PR303S, PR300S). Hasil pengujian garam iodium menggunakan singkong menunjukkan tidak terlihat adanya pengaruh kadar air, HCN dan amilosa singkong terhadap intensitas warna yang timbul pada tiap konsentrasi garam. Begitu pula hasil pengujian menggunakan gadung, rebung atau biji karet, menunjukkan tidak adanya pengaruh kadar air, HCN atau amilosa terhadap intensitas warna yang timbul pada tiap konsentrasi garam. Singkong, gadung, rebung dan biji karet dapat digunakan untuk memperoleh gambaran apakah suatu garam beriodium yang beredar memenuhi syarat iodisasi atau tldak. Mengingat adanya variasi warna yang timbul perlu diperhatikan intensitas warna yang timbul serta lamanya intensitas tersebut bertahan.
HUBUNGAN ANTARA STATUS BESI DAN STATUS VITAMIN A PADA IBU MENYUSUI Ance Murdiana Dahro; Clara M. Kusharto; Sukati Saidin; Dewi Permaesih; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2285.

Abstract

Kualitas ASI pada ibi hamil khususnya kandungan besi dan vitamin A dipengaruhi oleh status besi dan status vitamin A ibu. Ibu menyusui yang tinggal di pedesaan hingga saat ini masih mempunyai kebiasaan memberikan ASI pada anak balitanya walau sudah berumur 2 tahun. Sampai saat ini belum ada data status besi dan status vitamin A ibu menyusui, kecuali status besi dan status vitamin A ibu hamil. Data ibu hamil menunjukkan bahwa anemi gizi masih merupakan masalah dan status vitamin A ibu hamil pun sebagian masih rendah. Kedua masalah gizi tersebut merupakan masalah yang terpisah akan tetapi ada kemungkinan keduanya merupakan masalah yang berkaitan antara satu dengan lainnya. Penelitian status besi dan status vitamin A telah dilakukan pada 75 orang ibu menyusui dari pedesaan di Kabupaten Bogor. Sampel berumur antara 16 tahun sampai dengan 35 tahun dengan status gizi baik, yang mempunyai anak balita berumur sampai dengan 2 tahun. Dari hasil penelitian terungkap bahwa rata-rata kadar vitamin A ibu menyusui tersebut adalah 32.8±11 ug/dl, sedangkan kadar ferritin (besi) adalah 20.4±12.6 ng/ml. Uji regresi menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1 ug/dl vitamin A akan terjadi kenaikan ferritin sebesar 0.32 ng/ml (Fsign.=0.0149), Uji korelasi Pearson antara vitamin A dan ferritin adalah 0.2803 (p<0.05).
PREVALENSI KKP ANAK BALITA DI WILAYAH INDONESIA BAGIAN TIMUR Dewi Permaesih; Atmarita Atmarita; Ignatius Tarwotjo; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 15 (1992)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2252.

Abstract

Telah dianalisis data berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) anak Balita yang dikumpulkan pada waktu pelaksanaan Studi Prevalensi Defisiensi Vitamin A dan Zat-zat Gizi Lainnya di Wilayah Indonesia Timur pada tahun 1990/1991. Tujuan analisis ini terutama untuk mengetahui prevalensi Kurang Kalori Protein (KKP) di empat propinsi Wilayah Indonesia Bagian Timur (IBT) dan perbandingan antara prevalensi KKP menurut perhitungan berdasarkan median baku Harvard dengan Z-skor berdasarkan baku WHO-NCHS. Hasil analisis menunjukkan bahwa prevalensi gizi buruk dan sedang (KKP) di wilayah IBT masing-masing 17% menurut indeks BB/U berdasarkan median baku Harvard dan 44% menurut indeks BB/U berdasarkan -2 SB baku WHO-NCHS. Prevalensi KKP menurut TB/U berdasarkan Z-skor WHO-NCHS hampir sama dengan prevalensi menurut indeks BB/U berdasarkan median bahan baku Harvard. Untuk mendapatkan prevalensi KKP yang hampir sama antara kedua indikator tersebut, batas ambang penentuan status KKP (gizi baik dan gizi kurang) menurut indeks BB/U berdasarkan baku WHO-NCHS adalah antara -2.6 SB dan -2.8 SB, atau rata-rata -2.75 SB.
STATUS GIZI, KESEHATAN DAN IMMUNISASI ANAK BALITA PENGUNJUNG DAN BUKAN PENGUNJUNG POSYANDU DI DUA DESA WILAYAH KERJA PUSKESMAS SINDANG BARANG Effendi Rustan; Dewi Permaesih; Inti Krisnawati; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 15 (1992)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2253.

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai status gizi, kesehatan dan immunisasi anak Balita pengunjung dan bukan pengunjung posyandu di dua desa wilayak kerja Puskesmas Sindangbarang, yaitu desa Sindangbarang yang terlatak dekat dengan Puskesmas dan banyak fasilitas kesehatan lainnya, serta kemudahan transportasi, dan desa Bubulak yang letaknya jauh dari Puskesmas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan Posyandu di desa Singdangbarang (77.4%) lebih rendah daripada di desa Bubulak (80.1%). Hal ini mungkin karena adanya fasilitas kesehatan lainnya maupun kemudahan transportasi. Gambaran status gizi, kesehatan dan immunisasi anak Balita secara keseluruhan di kedua desa memperlihatkan keadaan yang hampir sama. Tetapi bila dilihat per kelompok berdasarkan frekuensi kehadiran anak Balita ke Posyandu di kedua desa, ternyata frekuensi kehadiran anak Balita hanya berpengaruh nyata terhadap status immunisasi. Anak yang lebihs ering ke Posyandu mempunyai status immunisasi yang lebih baik.