cover
Contact Name
Sudikno
Contact Email
onkidus@gmail.com
Phone
+6281316350502
Journal Mail Official
redaksipgm@yahoo.com
Editorial Address
Grand Centro Bintaro Blok B2, Jl. Raya Kodam Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan 12320 Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research)
ISSN : 01259717     EISSN : 23388358     DOI : https://doi.org/10.36457
Core Subject : Health, Social,
Focus and Scope Penelitian Gizi dan Makanan is a journal developed to disseminate and discuss the scientific literature and other research on the development of health in the field of food and nutrition. This journal is intended as a medium for communication among stake holders on health research such asresearchers, educators, students, practitioners of Health Office, Department of Health, Public Health Service center, as well as the general public who have an interest in the matter. The journal is trying to meet the growing need to study health. Vision: Becoming a notable national journal in the field of food and nutritions towards a reputable international journal. Mission: Providing scientific communication media in food and nutritions research in order to advance science andtechnology in related fields. Organizes scholarly journal publishing in health research with an attempt to achieve a high impact factorin the development of science and technology.
Articles 597 Documents
HUBUNGAN SARAPAN DAN SOSIAL BUDAYA DENGAN STATUS GIZI ANAK SD PULAU SEMAU KABUPATEN KUPANG (RELATIONSHIP BREAKFAST AND SOCIO-CULTURAL WITH NUTRITIONAL STATUS OF CHILDREN ELEMENTARY SCHOOL IN SEMAU ISLAND KUPANG REGENCY) Maria Helena Dua nita
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 2 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i2.5500.

Abstract

Nutritional problems in students are the low energy intake at breakfast. East Nusa Tenggara Province the highest prevalence of under weight of 7,8 pencent in children aged  5-12 years. The study purposes were analyzed the breakfast energy contribution and nutrition socio-cultural to the nutritional status of elementary school students in remote areas of Semau Island. This was observational analytic study used cross sectional design. The subjects were fifth grade of elementary school students in Semau Island Kupang Regency. Subject was taken used random clusters about 112 children. Data were analyzed with chi square test and ordinal regression multivariates. There is relationship of breakfast energy contribution and nutritional status (p = 0.043), there is not relationship of breakfast protein contribution and nutritional status (p=0.918), there is not relationship of eating habits to the nutritional status (p=0.405) there is not relationship of eating refrain and nutritional status (p=0.903), there is not relationship of appetite and nutritional status (p=0,614), there is not relationship of nutrition knowledge and nutritional status (p=0.417), there is not relationship of tribes to the nutritional status (p=0.522). Kupang for district health office, the need to conduct feeding breakfast to be a form of primary school students in Semau Island of Kupang Regency.  Masalah gizi pada anak sekolah adalah rendahnya asupan energi pada sarapan pagi. Sarapan pagi anak sekolah sangatlah penting kerena dapat meningkatkan  konsentrasi belajar dan stamina. Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah daerah dengan prevalensi kurus ( IMT/U) tertinggi (7,8 %) pada anak usia 5-12 tahun. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis sumbangan energi sarapan pagi dan sosial budaya gizi dengan status gizi anak SD di daerah terpencil di Pulau Semau. Penelitian ini adalah observasional analitik dengan rancangan potong lintang. Subjek penelitian adalah anak kelas 5 SD di Pulau Semau Kabupaten Kupang. Subjek di ambil dengan menggunakan proporsional random sampling sebanyak 112 anak. Data diperoleh melalui wawancara, pengisian kuesioner dan pengukuran antropometri. Data dianalisis dengan uji chi square dan multivariate regresi ordinal. Hasil menunjukkan ada hubungan sumbangan energi sarapan pagi dan status gizi (p=0,043). Tidak ada hubungan antara asupan protein (p=0,918), kebiasaan makan (p=0,405), pantangan makan (p=0,903), selera makan (p=0,614), pengetahuan gizi (p=0,417), dan suku (0,552) dengan status gizi.  Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang perlu mengadakan program pemberian makanan tambahan berupa sarapan pagi bagi anak sekolah dasar di Pulau Semau.
KECENDERUNGAN PERTUMBUHAN ANAK USIA 0-12 BULAN MENURUT KONDISI RUMAH, KEBERSIHAN LINGKUNGAN DAN PERILAKU PENGASUHAN Budi Setyawati; Anies Irawati; Rika Rachmalina
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 2 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i2.5640.

Abstract

The early life of a child is a very important period for their growth and development. Children growth is influenced by many factors, including environmental factors and parenting behaviours. This study aims to assess the growth trend based on weight for age (w/a) Z-score in children aged 0-12 months and differences based on house condition, environment hygiene, and nurturing behaviour.This is a longitudinal study, part of Child Growth Cohort Study organized by The National Institute of Health Research and Developmend of Republic Indonesia. Samples are children aged 0-23 months in September 2015  and domiciled in the Babakan Pasar dan Ciwaringin Village, Bogor. The growth data analized based on the w/a Z-score value. Presented the w/a Z-score each month to see the trend of growth in children. The differences in the children growth base on house condition, environment hygiene, and nurturing behaviour are assessed at 0, 3, 6, 9, and 12 months with T-independent test.  House condition consist of walls, roofs, and bathroom availability. Environmental include house and environment hygiene. Nurturing behaviourinclude breastfeeding, colostrum giving, and in house smoking.The average children are in normal nutritional status.The child's growth began to falter after 3 months of age and continue until 12 months. No significant differences in growth of children based on house condition, environmental hygiene and in house smoking. There is significant differences, that children who are exclusively breastfeed and given whole colostrum have better growth than otherwise.Awal kehidupan anak merupakan periode sangat penting bagi tumbuh kembangnya.Pertumbuhan anak dipengaruhi banyak faktor, termasuk faktor lingkungan dan perilaku pengasuhan. Studi ini bertujuan melihat kecenderungan pertumbuhan (status gizi) berdasarkan nilai Z-Score berat badan menurut umur (BB/U) pada anak usia 0-12 bulan dan melihat perbedaan pertumbuhan berdasarkan kondisi rumah, kebersihan lingkungan dan perilaku pengasuhan. Studi ini merupakan studi observasional, dengan rancangan longitudinal yang merupakan bagian dari Studi Kohor Tumbuh Kembang Anak yang diselenggarakan oleh Balitbangkes RI.Sampel adalah anak yang September 2015 berusia 0-23 bulan, berdomisili di Kelurahan Babakan Pasar dan Ciwaringin, Bogor.Untuk melihat kecenderungan pertumbuhan anak disajikan nilai Rerata Z-Score BB/U tiap bulan. Perbedaan pertumbuhan dinilai pada titik usia 0, 3, 6, 9, dan 12 bulan berdasar kondisi rumah, kebersihan lingkungan dan perilaku pengasuhan dilakukan menggunakan  uji T-Independen. Kondisi rumah meliputi variabel dinding, atap rumah dan ketersediaan kamar mandi.Kondisi lingkungan adalah kebersihan lingkungan didalam dan diluar rumah.Perilaku pengasuhan meliputi pemberian ASI, kolostrum dan kebiasaan merokok dalam rumah.Hasil menunjukkan Rerata anak berada di status gizi normal.pertumbuhan anak terganggu mulai usia 3 bulan dan terus berlanjut sampai 12 bulan. Tidak terdapat perbedaan signifikan pada pertumbuhan anak berdasar kondisi rumah, kebersihan didalam dan diluar rumah dan kebiasaan merokok dalam rumah.Terlihat ada perbedaan pertumbuhan pada anak yang bermakna, anak yang di berikan ASI saja dan anak yang diberikan keseluruhan kolustrum lebih baik pertumbuhannya dibandingkan sebaliknya 
GAMBARAN MEDIAN TINGGI BADAN DAN BERAT BADAN MENURUT KELOMPOK UMUR PADA PENDUDUK INDONESIA YANG SEHAT BERDASARKAN HASIL RISKESDAS 2013 sri muljati; Agus Triwinarto; Nurhandayani Utami; Hermina Hermina
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 2 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i2.5723.

Abstract

The availability of weight and height data based on age group of Indonesian population are needed to assess the appropriate nutrition intake in every gender and age group. However, threre are many problems during determining recommended dietary allowances (RDA) for Indonesians due to un intregated available aquired data in a survey. This analyced data aimed to present  aquired information for arranging RDA base on gender and age group. Weight and height data were axtracted from baseline health survey of Indonesia (Riskesdas) 2013. The weight and height data included in the analyses were individu should have good nutritional status, free from chronic diseases and came from wealth economic status. The median of weight and  of height were compare to recommended weight and height in RDA 2012 in same gender and same age group. Results show that median weight and height were looked lower than RDA one, the results can be considered on determining of the coming RDA for Indonesian. Tersedianya data berat badan dan tinggi badan menurut kelompok umur pada penduduk Indonesia bermanfaat untuk menilai asupan gizi yang tepat pada setiap kelompok umur dan jenis kelamin. Namun demikian dalam penetapan AKG (Angka Kecukupan Gizi) selama ini masih terkendala karena beberapa informasi yang diperlukan ketersediannya terbatas, seperti data berat badan, tinggi badan, serta asupan zat gizi belum dilakukan dalam suatu survei yang terintegrasi. Analisis ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang nilai median berat badan dan tinggi badan penduduk Indonesia menurut kelompok umur berdasarkan data Riskesdas 2013 dan membandingkan dengan median tinggi badan dan berat badan yang digunakan dalam AKG 2012. Data yang digunakan dalam analisis ini adalah data berat badan dan tinggi badan individu yang memiliki tingkat soaial ekonomi baik, status gizi normal dan tidak menderita penyakit kronis. Hasil analisis menunjukkan bahwa median berat badan dan tinggi badan pada jenis kelamin yang sama dan kelompok umur yang sama tampak lebih rendah dibandingkan dengan  median berat badan dan tinggi badan dari setiap kelompok umur dalam AKG  2012. Dengan diperolehnya angka median berat badan dan tinggi badan menurut kelompok umur dan jenis kelamin diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan  AKG  yang akan datang.
Back Matter 39(2) Back Matter
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 39 No. 2 (2016)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v39i2.8612.

Abstract

KAJIAN PENANGANAN ANAK GIZI BURUK DAN PROSPEKNYA (MANAGEMENT OF SEVERE MALNUTRITION AND IT’S PROSPECT: A REVIEW) Arnelia Arnelia
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 34 No. 1 (2011)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v34i1.3106.

Abstract

ABSTRAK Gizi buruk yaitu keadaan sangat kurus dengan indeks antropometri BB/TB <-3 SD masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang ditemukan pada anak balita. Data RISKESDAS tahun 2010 menunjukkan prevalensi gizi buruk pada anak balita di Indonesia adalah 6,0 persen, sedikit turun dibandingkan tahun 2007 yaitu 6,2 persen. Sesuai protokol WHO tahun 1999, penanganan gizi buruk harus dilakukan melalui rawat inap di RS. Ada beberapa hambatan dalam penerapan protokol ini di lapangan, mulai dari hambatan tenaga dan fasilitas kesehatan sampai pada kendala dari keluarga penderita. Akhir-akhir ini ada dua pendekatan baru penanganan anak gizi buruk, yaitu rawat inap untuk kasus gizi buruk yang disertai dengan komplikasi medis dan penanganan di masyarakat secara rawat jalan dengan kunjungan secara berkala ke tempat pelayanan kesehatan bagi penderita gizi buruk tanpa komplikasi medis. Penanganan anak balita gizi buruk secara rawat jalan telah dilakukan sejak tahun 1981 di Klinik Gizi sebagai suatu laboratorium penelitian di Puslitbang Gizi dan Makanan Bogor. Pengembangan cara penanganan dilakukan sesuai hasil penelitian yang telah dilakukan dan disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini dalam tatalaksana anak gizi buruk. Beberapa studi penanganan rawat jalan termasuk yang dilakukan di Indonesia menunjukkan angka kesembuhan hingga >75 persen. Pendekatan baru ini cukup menjanjikan untuk berhasil dan apabila dilakukan secara bersama sama dengan penanganan rawat inap diharapkan dapat meningkatkan cakupan pelayanan agar target 100 persen penanganan penderita gizi buruk di Indonesia sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) sektor gizi Departemen Kesehatan dapat dicapai.     ABSTRACT Severe malnutrition, defined as weight for height <-3 SD, still a public health problem in Indonesia suffered children under five of aged. Basic Health Research in 2010 found the prevalence of 6 percent among underfive years children in Indonesia, little bit lower than in 2007 that was 6.2 percent. According the protocol made from WHO in 1999, severely malnourished children should be treated in the hospital. There were some problems founds during implementation of this protocol, from the health staff and health facilities as well as from the subjects family. Recently there are two approaches of treatments for severely malnourished children, in-patients for the cases with complication and community-based therapeutic care (CTC) with regular visits to health facilities for those without complications. Out-patients treatments for malnourished children has been carried out since 1981 in Nutrition Clinic Bogor as a research laboratory of Center of Food and Nutrition Research Indonesia MOH. The program has been developed through several studies that has been conducted in the clinic combined with the latest science and technology for the treatments. Average recovery rates through outpatients treatment in several studies including in Indonesia >75 percent. This approach promises to be successful and together with in-patients care could increase the coverage in order to meet the total coverage of severely malnourished children according to Minimal Standard Services (SPM) of nutrition sector at the MOH Indonesia. [Penel Gizi Makan 2011, 34(1): 1-11]   Keywords: severe acute malnutrition, in-patient, out-patient, severe wasting
PERBANDINGAN PERHITUNGAN ENERGI BASAL DAN ENERGY EXPENDITURE PADA LANSIA (THE COMPARISON OF ESTIMATION OF BASAL METABOLIC RATE AND ENERGY EXPENDITURE OF ELDERLY PEOPLE) Yuniar Rosmalina
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 34 No. 1 (2011)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v34i1.3107.

Abstract

ABSTRAK Latarbelakang: Perhitungan energy basal merupakan langkah utama untuk estimasi kebutuhan energy pada individu. Untuk populasi ada beberapa rumus untuk mengestimasi energy basal yang didasarkan pada hasil pengukuran penelitian  dilapangan yang tersedia seperti hasil pengukuran berat badan. Makalah ini menyajikan data untuk membandingkan rumus perhitungan antara Schofield dan Oxford dengan menggunakan data berat badan dari Riskesdas 2007. Metode: Sebanyak 41087 Lansia terdiri dari 20671 Lansia laki-laki dan 20416 Lansia perempuan didikutkan dalam analisis data ini dengan status gizi normal (IMT 18,5 – 25,0 kg/m2). Data yang dianalisis meliputi umur, gender, berat badan, tinggi badan, dan tingkat aktifitas fisik. Dipilih 2 rumus untuk menghitung energy basal yaitu Schofield yang direkomendasikan FAO/ WHO/UNU dan rumus Oxford yang digunakan untuk mengestimasi energy basal di Indonesia. Hasil: Rata-rata energi basal Lansia laki-laki berdasarkan perhitungan Schofield adalah 1217 ± 76,9 Kkal dan 1283 ± 108,6 Kkal berdasarkan rumus Oxford , sedangkan energi basal Lansia perempuan menurut Schofield adalah 1090 ± 55,5 Kkal dan 1101 ± 74,3 Kkal menurut rumus Oxford. Rata-rata “energy expenditure” Lansia Laki-laki berdasarkan rumus Schofield 1887 ± 119 Kkal dan 1989 ± 168 Kkal menurut rumus Oxford, sedangkan “energy Expenditure” Lansia perempuan menurut rumus Schofield adalah 1581 ± 81 Kkal dan 1598 ± 108 Kkal menurut rumus Oxford. Kesimpulan: Rata-rata nergi basal dan “energy expenditure” berdasarkan rumus Oxford lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan rumus Schofield. ABSTRACT Backgrounds: The determination of basal energy rate (BMR) is the primary step for estimating the energy requirement of an individual. For the population there is some equation to estimate basal energy rate based on the measurement obtain in the foeld such as body weight. Thus the publication was to compare between Schofield and oxford equation using the weight data of Riskesdas 2007. Method: A total of 41087 elderly people (20671 men and 20416 women) were including in this analysis with normal nutritional status (BMI 18.5 – 25.0 kg/m2). Data analysis were age, gender, body weight, height, and physical activities. Two equation were chosen for estimating BMR, the schofield equation that is recommended by FAO/WHO/UNU and Oxford equation that used in estimating BMR in Indonesia. Results: The average of basal metabolic rate of male elderly according to Schofield equation was 1217 ± 76.9 Kcal and Oxford equation was 1283 ± 108.6 Kcal, while basal metabolic rate of women elderly was 1090 ± 55.5 Kcal and Oxford was 1101 ±74.3 Kcal. The average of energy expenditure of male elderly according to Schofield equation was 1887 ± 119 Kcal and Oxford equation was 1283 ± 108.6 Kcal, while energy expenditure of women elderly was 1581 ± 81 Kcal and Oxford was 1598 ± 108 Kcal. Conclusion: The average of basal metabolic rate and energy expenditure among elderly people based on Oxford equation were higher compare to Schofield equation. [Penel Gizi Makan 2011, 34(1): 12-20]   Keywords: comparison, basal metabolism, elderly
REDUKSI KANDUNGAN AFLATOKSIN B1 (AFB1) PADA PEMBUATAN KACANG TELUR MELALUI PEREBUSAN DALAM LARUTAN KAPUR (REDUCTION OF AFLATOXIN B1 (AFB1) CONTENT IN THE EGG PEANUT BY BOILLING IN LIME SOLUTION) Yuliana Tandi Rubak; Suryana Purawisastra
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 34 No. 1 (2011)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v34i1.3108.

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Efek berbahaya dari aflatoksin B1 bagi manusia adalah toksisitasnya sebagai senyawa karsinogenik. Toksin ini diproduksi oleh Aspergillus flavus, yang biasanya tumbuh pada serealia dan kacang-kacangan. Akibatnya serealia dan kacang-kacangan tersebut serta produknya bisa terkontaminasi oleh toksin ini. Kacang telur merupakan salah satu produk kacang tanah yang banyak dikonsumsi. Karena itu, kacang telur harus bebas toksin. Menurut informasi pustaka, salah satu cara untuk menghilangkan toksin ini adalah modifikasi proses pembuatan kacang telur. Artikel ini menyajikan hasil penelitian untuk menghilangkan aflatoksin kacang telur melalui perendaman bahan baku kacang tanah dalam larutan kapur 0,5 persen dan 1 persen selama 10 menit. Metodologi: Membuat dua jenis produk kacang telur, satu produk berbahan baku kacang yang telah dikontaminasi aflatoksin dan satu produk lagi berbahan baku kacang utuh tidak terkontaminasi aflatoksin. Produk pertama untuk menguji pengaruh perebusan dalam larutan kapur terhadap kandungan aflatoksin. Sedangan produk kedua untuk menguji pengaruh perebusan dalam larutan kapur terhadap cita rasa.Kedua produk dibuat melalui proses yang sama, bahan kacang mendapat perlakukan perendaman dalam larutan kapur konsentrasi 0,5 persen dan 1,5 persen selama 10 menit, kemudian dilanjutkkan dengan proses seperti umumnya membuat kacang telur. Kandungan aflatoksin dianalisis dengan metoda ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay). ABSTRACT Background: The harmful effect of aflatoxin B1 for human being because of its toxicity, as carcinogenic agent. The toxin is produced by the Aspergillus flavus which usually grows in grain and nuts. As the result that the grain, nuts and their product contaminated by the toxin.  Egg peanut is one of peanut products which are widely consumed by the peoples. Consequently the egg peanut should be not containing the toxin. The modification of process of making peanut is one way to eliminate the toxin. Objectives: To eliminate the aflatoksin B1 content in the product of egg peanut through the preparation of raw peanuts by boiling the peanut in the boiled lime solution. The concentration of the lime solution in this research was 0.5 percent, and 1.5 percent for 10 minutes. Methods: There were two kinds of peanut egg, one was made from the raw peanuts which were already contaminated by the aflatoxin, and another one from the raw peanuts was not contaminated. The first product was to observe the influenced of boiling in the lime solution of peanuts to the content of aflatoxin. The second product was to observe the influenced of boiling in the lime solution of peanuts to the sensory of peanut eggs. Aflatoxin analysis was carried out by ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay). Results: The result of research showed that the preparation of the raw peanuts by boiling in lime solution was able to reduce the content of aflatoxin in peanut eggs. The percentage of reduction was increased by increasing the concentration of lime solution. In this study, the reduction of aflatoxin for the peanuts which was boiled in the 0.5 percent of lime solution was 27.8 percent. The reduction was increased becoming 29.5 percent when the peanuts boiled in the 1.5 percent of lime solution. The roasting of the peanut increased 44 percent the reduction of aflatoxin content. Conclusion: The modification process of making the egg peanut by boiling in lime solution could reduce the aflatoxin content, whereas the sensory of peanuts was not affected. The reduction content of aflatoxin was depending on the concentration of lime solution. [Penel Gizi Makan 2011, 34(1): 21-28] Keywords: Aflatoxin B1, peanuts, eggs peanut, lime solution, ELISA
PERAN KONTEKSTUAL TERHADAP KEJADIAN BALITA PENDEK DI INDONESIA (THE CONTEXTUAL ROLE OF OCCURRENCE STUNTED ON CHILDREN UNDER FIVE IN INDONESIA) Sihadi Suhadi; Sri Poedji Hastoeti
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 34 No. 1 (2011)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v34i1.3109.

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Prevalensi anak balita pendek di Indonesia sebesar 36,8 persen. Anak yang balita pendek yang berat mempunyai IQ 11 point lebih rendah dibandingkan anak balita yang tidak pendek. Analisis ini mencari faktor penyebab anak balita pendek dari level individu, rumah tangga, dan provinsi terhadap terjadinya balita pendek. Tujuan: Diketahui faktor penyebab dari level individu, rumah tangga, dan provinsi terhadap kejadian balita pendek. Metodologi: Data yang digunakan bersumber data sekunder dari data Riskesdas 2010, data tersier dari BPS, IPKM, dan IPM. Jumlah sampel yang dianalisis sebesar 9 897 anak balita. Analisis statistik dengan menggunakan multilevel statistical model binary logistic regression.  Hasil:            Level provinsi mempunyai kontribusi 51,9 persen, individu 34,9 persen, dan rumah tangga 13,2 persen terhadap terjadinya anak balita pendek. Proporsi balita pendek 44,5 persen dapat diturunkan menjadi 42,5 persen bila konsumsi energi balita diperbaiki, menjadi 40,8 persen bila konsumsi energi rumah tangga diperbaiki, menjadi 43,2 persen bila ekonomi rumah tangga diperbaiki, menjadi 32,6 persen bila pola asuh diperbaiki, menjadi 35,8 persen bila ibu tidak pendek, menjadi 39,4 persen bila pendidikan ibu diperbaiki, dan menjadi 41,4 persen bila kemiskinan di tingkat provinsi diperbaiki. Simak Baca secara fonetik Kamus - Lihat kamus yang lebih detail Terjemahkan situs web mana pun NouvelObs-PrancisLa Información-SpanyolZamalek Fans-ArabSueddeutsche.de-JermanNews.de-JermanFocus Online-JermanNord-Cinema-PrancisTelegraph.co.uk-InggrisOneIndia-HindiMachu Picchu-SpanyolGuardian.co.uk-InggrisEl Confidencial-Spanyol Lakukan banyak hal dengan Google Terjemahan Cari resep sushi terbaik di dunia, tentunya dalam bahasa Jepang! Bebaskan kekuatan Penelusuran yang Diterjemahkan Google.Tetap berhubungan dengan sahabat pena Anda di Paris. Aktifkan terjemahan otomatis untuk email dan ngobrol di Gmail.Apa sih artinya? Pasang Google Toolbar supaya Anda tidak perlu kesulitan lagi dengan kosakata bahasa asing.Bangun bisnis global Anda. Iklankan ke berbagai bahasa menggunakan Google Peluang Pasar Global. Kesimpulan: Variabel yang terkait dengan terjadinya anak balita pendek, yaitu pada level individu adalah konsumsi energi anak balita. Pada level rumah tangga, terutama adalah pola asuh anak, tinggi badan ibu, sanitasi, dan status ekonomi rumah tangga. Pada level provinsi adalah kemiskinan. Saran: Perlu kerjasama lintas sektor untuk memperbaiki variabel-variabel yang terkait, agar proporsi balita pendek turun. ABSTRACT Backgrounds: The prevalence of stunted in Indonesia is 36.8 percent. Children who have severe stunted IQ 11 points lower than children who were not stunted. This analysis looking for factors that cause stunted from the contextual (from level of individual, household, and the Province) to the occurrence of stunted children under five. Objectives: To know the causes of the level of individuals, households, and the province on the occurrence of stunted children under five. Methods: Data used secondary data derived from data Basic Health Research (Riskesdas) 2010, the tertiary data from BPS, IPKM, and IPM. The number of samples analyzed 9 897 children under five. The statistical analysis data used multilevel statistical model binary logistic regression. Results: Provincial levels have contributed 51.9 percent, 34.9 percent individuals, and households of 13.2 percent to the occurrence of stunted children under five. The proportion of stunted children under five was reduced from 44.5 to 42.5 percent if children under five improved energy consumption, to 40.8 percent if the household energy consumption improved, to 43.2 percent if the household economy improved, to 32.6 percent when corrected parenting, becomes 35.8 percent if the mother is not stunted, to 39.4 pecent when the mother's education improved, and becomes 41.4 percent if the poverty at the provincial level improved. SimakBaca secara fonetikConslusions: Variables associated with the occurrence of stunted children under five, namely the individual level is the energy consumption of children under five. At the household level in particular is a pattern of child care, then maternal height, sanitation, and household economic status. At the provincial level is poverty. Recommendations: Need cooperation across sectors to improve the relevant variables, so that the proportion of stunted children under five reduced. [Penel Gizi Makan 2011, 34(1): 29-38]   Keywords: contextual, stunted, under five years old
HUBUNGAN BEBAN KERJA, PENGETAHUAN IBU, DAN POLA ASUH PSIKOSOSIAL DENGAN PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK USIA 2-5 TAHUN PADA KELUARGA MISKIN (THE RELATIONSHIP BETWEEN MOTHER’S WORKLOAD, KNOWLEDGE, AND PSYCHOSOCIAL STIMULATION WITH COGNITIVE DEVELOPMENT OF 2-5 Salimar Salimar; Dwi Hastuti; Melly Latifah
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 34 No. 1 (2011)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v34i1.3110.

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Kemiskinan merupakan masalah yang erat kaitannya dengan rendahnya kualitas sumber daya manusia. Meskipun anak tumbuh dan berkembang  di keluarga miskin, jika anak mendapatkan pola asuh yang baik pada usia balita, anak balita tersebut dapat tumbuh dan memiliki perkembangan yang baik (positive deviance). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara beban kerja ibu, pengetahuan, dan stimulasi psiko-sosial dengan perkembangan kognitif anak usia 2-5 tahun pada keluarga miskin di daerah pedesaan Kabupaten Bogor. Metode: Desain penelitian adalah crossectional dan penelitian dilakukan di Kabupaten Bogor. Jumlah sampel penelitian adalah 200 ibu dan anak balitanya, sampel dipilih secara acak. Beban kerja dan pengetahuan ibu dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, stimulasi psikososial dikumpulkan menggunakan instrumen HOME Inventory dan perkembangan kognitif menggunakan kuesioner. Analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasi dan regresi logistik. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 25 persen dari ibu memiliki beban kerja yang berat. Sebagian besar ibu-ibu rata-rata memiliki pengetahuan tentang pengembangan gizi, kesehatan dan anak (66,8%). Rata-rata pola asuh psikososial yang dilakukan keluarga untuk merangsang perkembangan anak mereka tergolong sedang (62,1%), dan rata-rata perkembangan kognitif anak 2-5 tahun baru 50 persen yang tercapai. Kesimpulan: analisis regresi logistik menunjukkan faktor-faktor yang positif mempengaruhi perkembangan kognitif anak adalah beban kerja ibu dan pola asuh psikososial dari keluarga. ABSTRACT Background: Poverty is a problem that closely related to the low quality of human resources. Even tough, children are raised in poor family, but they get a good stimulation in their childhood, they could have a good development (positive deviance). Objective: This research is aiming to find out the relationship among of mother’s workload, knowledge, and the psycho-social stimulation with cognitive development of 2-5 years old among poor families in Kabupaten Bogor rural area. Methods: The study design was crossectional and located at Kabupaten Bogor. The number of the research samples were 200 mothers and their children, wich chosen randomly. Mother’s workload and knowledge was collected using questionnaire, psychosocial stimulation was collected using home inventory instrument  and cognitive development using questionnaire. Statistical analyses used in the study are correlation and logistic regression. Results: The result of this research shows that 25 percent of mother has heavy workload. Most of mothers have average knowledge about nutrition, health and child development (66.8%).The family psycho-social stimulation to induce their children development mostly is in average (62.1%) and the low cognitive development of 2-5 years old become majority with 50 percent. Conclusions: Logistic regression analysis shows the factors that positively affect cognitive development of child are mother’s workload and psycho-social stimulation from the family. [Penel Gizi Makan 2011, 34(1): 39-49] Keywords: mother’s workload, psychosocial stimulation, cognitive development
DETERMINAN STUNTING PADA ANAK USIA 2-3 TAHUN DI TINGKAT PROVINSI (DETERMINANTS OF STUNTING IN CHILDREN 2-3 YEARS OF AGE AT PROVINCE LEVEL) Sri Mulyati; Agus Triwinarto; Basuki Budiman
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 34 No. 1 (2011)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v34i1.3111.

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Prevalensi pendek (stunting) pada balita masih 36,6 persen. Tingginya prevalensi stunting pada anak balita merupakan refleksi masalah gizi ibu selama kehamilan dan erat kaitannya dengan kemiskinan. Secara agregat, IPKM (Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat) merupakan indikator kemajuan pembangunan kesehatan dan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) termasuk salah satu dari 24 indikator dalam IPKM. Tujuan analisis: mempelajari determinan faktor yang menjadi pembeda terhadap tinggi rendahnya prevalensi stunting pada anak usia 2-3 tahun di tingkat provinsi. Metode: analisis ini merupakan studi populasi. Data yang dianalisis adalah data agregat dari variabel IPKM, KEK pada ibu hamil dan rumah tangga defisit energi dari data Riskesdas 2007. Sementara variabel IPM dan kemiskinan tahun 2007 dari data BPS. Dalam analisis ini, stunting pada anak usia 2-3 tahun merupakan variabel terikat, sedangkan variabel lainnya merupakan variabel bebas. Uji statistik yang digunakan adalah uji korelasi dan uji diskriminan. Hasil Analisis: Secara bivariat tidak ditemukan korelasi antara KEK pada bumil dengan stunting pada anak usia 2-3 tahun, namun ditemukan korelasi antara stunting dengan IPKM (r=-0,67; p=0,000), IPM (r=-0,52; p=0,002) dan kemiskinan (r=0,58;p=0,003). Hasil uji diskriminan menunjukkan bahwa IPKM adalah faktor pembeda antara prevalensi stunting rendah dan stunting tinggi pada anak usia 2-3 tahun di tingkat provinsi. Kontribusi varian IPKM terhadap perbedaan kedua kelompok stunting sebesar 34 persen. Fungsi diskriminan yang dihasilkan Z = -6.491 + 17.853 *IPKM dengan kemampuan prediksi sebesar 78,8 persen. Kesimpulan: IPKM merupakan faktor pembeda antara prevalensi stunting tinggi dan rendah pada anak usia 2-3 tahun di tingkat provinsi.     ABSTRACT Background: Stunting prevalence in children 2-3 years of age is still 36.6 percent, the high stunting in the age group shows that nutrition problem in mother during pregnancy is highly related to poverty. Aggregately, PubIic Health Development Index (IPKM) is an indicator of Health Development Improvement and Human Development Index (IPM) is one of 24 IPKM's indicators. Aim of Analysis: To study the determinants which differentiate the high of stunting prevalence in children 2-3 years of age in province level. Method: This analysis is a study of population data that are being analyzed is aggregate data from some variables (IPKM, KEK on pregnant mothers and household energy deficit) from Health Basic Survey (Riskesdas) 2007 data. Then IPM variable and poverty in 2007 from BPS’s data. On this analysis, stunting in children 2-3 years of age as variable is bonded, while others variables are free variables. Statistic test that used is correlation test and discriminant test. Result: Bivariately, there is no correlation between KEK in pregnant mothers and stunting in children 2-3 years of age, but there is correlation between stunting with IPKM. IPKM (r=-0.67; p=0.000), IPM (r=-0.52; p=0.002) and poverty (r=0.58; p=0.003). Discriminant result shows that IPKM is a differentiating factor between low- and high- stunting prevalence in children 2-3 years of age in province level. IPKM variance contribution on two different groups is 34 percent. Discriminant function that was resulted Z = -6.491 + 17.853 *IPKM, IPKM with prediction ability 78.8 percent. Conclusion: IPKM is a differentiate factor between high and low stunting prevalence in children 2-3 years of age in province level. [Penel Gizi Makan 2011, 34(1): 50-62]   Keywords: stunting, children 2-3 years of age, IPKM, IPM, poverty

Filter by Year

1971 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 47 No. 2 (2024): PGM VOL 47 NO 2 TAHUN 2024 Vol. 47 No. 1 (2024): PGM VOL 47 NO 1 TAHUN 2024 Vol. 46 No. 2 (2023): PGM VOL 46 NO 2 TAHUN 2023 Vol. 46 No. 1 (2023): PGM VOL 46 NO 1 TAHUN 2023 Vol. 45 No. 2 (2022): PGM VOL 45 NO 2 TAHUN 2022 Vol. 45 No. 1 (2022): PGM VOL 45 NO 1 TAHUN 2022 Vol. 44 No. 2 (2021): PGM VOL 44 NO 2 TAHUN 2021 Vol. 44 No. 1 (2021): PGM VOL 44 NO 1 TAHUN 2021 Vol. 43 No. 2 (2020): PGM VOL 43 NO 2 TAHUN 2020 Vol. 43 No. 1 (2020): PGM VOL 43 NO 1 TAHUN 2020 Vol. 42 No. 2 (2019): PGM VOL 42 NO 2 TAHUN 2019 Vol. 42 No. 1 (2019): PGM VOL 42 NO 1 TAHUN 2019 Vol. 41 No. 2 (2018): PGM VOL 41 NO 2 TAHUN 2018 Vol. 41 No. 1 (2018): PGM VOL 41 NO 1 TAHUN 2018 Vol. 40 No. 2 (2017) Vol. 40 No. 1 (2017) Vol. 39 No. 2 (2016) Vol. 39 No. 1 (2016) Vol. 38 No. 2 (2015) Vol. 38 No. 1 (2015) Vol. 37 No. 2 (2014) Vol. 37 No. 1 (2014) Vol. 36 No. 2 (2013) Vol. 36 No. 1 (2013) Vol. 35 No. 2 (2012) Vol. 35 No. 1 (2012) Vol. 34 No. 2 (2011) Vol. 34 No. 1 (2011) Vol. 33 No. 2 (2010) Vol. 33 No. 1 (2010) Vol. 32 No. 2 (2009) Vol. 32 No. 1 (2009) Vol. 31 No. 2 (2008) Vol. 31 No. 1 (2008) Vol. 30 No. 2 (2007) Vol. 30 No. 1 (2007) Vol. 29 No. 2 (2006): PGM VOL 29 NO 2 Desember Tahun 2006 Vol. 29 No. 1 (2006) Vol. 28 No. 2 (2005) Vol. 28 No. 1 (2005) Vol. 27 No. 2 (2004) Vol. 27 No. 1 (2004) Vol. 26 No. 2 (2003) Vol. 26 No. 1 (2003) Vol. 25 No. 2 (2002) Vol. 25 No. 1 (2002) JILID 24 (2001) JILID 23 (2000) JILID 22 (1999) JILID 21 (1998) JILID 20 (1997) JILID 19 (1996) JILID 18 (1995) JILID 17 (1994) JILID 16 (1993) JILID 15 (1992) JILID 14 (1991) JILID 13 (1990) JILID 12 (1989) JILID 11 (1988) JILID 10 (1987) JILID 9 (1986) JILID 8 (1985) Vol. 6 (1984): JILID 6 (1984) JILID 7 (1984) Vol. 5 (1982): JILID 5 (1982) JILID 4 (1980) JILID 3 (1973) JILID 2 (1972) JILID 1 (1971) More Issue