cover
Contact Name
Sudikno
Contact Email
onkidus@gmail.com
Phone
+6281316350502
Journal Mail Official
redaksipgm@yahoo.com
Editorial Address
Grand Centro Bintaro Blok B2, Jl. Raya Kodam Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan 12320 Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research)
ISSN : 01259717     EISSN : 23388358     DOI : https://doi.org/10.36457
Core Subject : Health, Social,
Focus and Scope Penelitian Gizi dan Makanan is a journal developed to disseminate and discuss the scientific literature and other research on the development of health in the field of food and nutrition. This journal is intended as a medium for communication among stake holders on health research such asresearchers, educators, students, practitioners of Health Office, Department of Health, Public Health Service center, as well as the general public who have an interest in the matter. The journal is trying to meet the growing need to study health. Vision: Becoming a notable national journal in the field of food and nutritions towards a reputable international journal. Mission: Providing scientific communication media in food and nutritions research in order to advance science andtechnology in related fields. Organizes scholarly journal publishing in health research with an attempt to achieve a high impact factorin the development of science and technology.
Articles 597 Documents
SUMBANGAN IKAN LAUT TERHADAP KECUKUPAN KONSUMSI PROTEIN PENDUDUK INDONESIA Noviati Fuada; Sri Muljati; Agus Triwinarto
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 41 No. 2 (2018): PGM VOL 41 NO 2 TAHUN 2018
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v41i2.1889

Abstract

ABSTRACT Indonesia has double burden of malnutrition, occurring in almost all life cycles, especially energy and protein intake. The highest source of protein consumed by the community comes from grains (The consumption is around 20 grams, whereas based on animal source commodity groups, fish has the highest average of around 7 grams per capita. (SUSENAS, 2013).However, the proportion of fish consumption in Indonesia, especially marine fish, is still low at 25.5%. Indonesia has the potential of large marine and fisheries. Production reaches 10.86 million tons. Growth rate of national fisheries production, reaching an average of 10.02% per year (2005 to 2010). There is not much information on how much the contribution of protein from sea food with the recommended consumption of protein. The analysis was carried out on the data of SKMI by referring to the Nutrition Adequacy Score that is impressive for the Indonesian population. Individual data were analyzed as much a 85.414. The results showed that not all residents consumed marine fisheries every day, from 14,5360 individuals interviewed as many as 73,629 who consumed 50% with an average consumption 77.6 ± 63.2 grams. The consumption of protein from marine fisheries in the Indonesian population averaged 15.37 ± 11.9 grams and contributed as much as 28 percent of the AKG to the consumption of population protein in a day. Keywords: consumption, energy, protein, fish ABSTRAK Indonesia menghadapi masalah gizi ganda, terdapat pada semua siklus kehidupan, yaitu balita, remaja, dewasa, ibu hamil, dan lansia. Keadaan ini erat kaitannya dengan masalah asupan zat gizi terutama energi dan protein. Hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2013 menunjukkan bahwa sumber protein tertinggi yang dikonsumsi masyarakat berasal dari padi-padian sekitar 20 gram sedangkan berdasarkan kelompok komoditi sumber hewani, ikan memiliki rerata tertinggi yaitu sekitar 7 gram per kapita. Mutu protein ikan setingkat dengan mutu protein daging, sedikit di bawah mutu protein telur, dan di atas mutu protein serealia dan kacang-kacangan. Namun proporsi penduduk Indonesia yang mengonsumsi ikan khususnya ikan laut masih rendah yaitu 25,5 persen. Indonesia memiliki potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang besar. Produksi mencapai 10,86 juta ton. Laju pertumbuhan produksi perikanan nasional mencapai rata-rata 10,02 persen per tahun (2005 – 2010). Belum banyak informasi berapa besar sumbangan protein dari ikan laut yang dikonsumsi penduduk terhadap kecukupan konsumsi protein yang dianjurkan. Analisis dilakukan terhadap data Survey Konsumsi Makanan Indonesia (SKMI) Badan Penelitian Pengembangan Kesehatan dengan mengacu pada angka kecukupan gizi yang dianjurkan bagi penduduk Indonesia. Data individu yang dianalisis sebanyak 85.414. Belum semua penduduk mengonsumsi ikan laut setiap hari, dari 145.360 individu yang diwawancara sebanyak 73.629 yang mengonsumsi ikan laut (50%) dengan rerata konsumsi ikan laut 77,6 ± 63,2 gram. Konsumsi protein dari ikan laut pada penduduk Indonesia rerata 15,37±11,9 gram dan memberikan kontribusi sebanyak 28 persen AKG terhadap konsumsi protein penduduk dalam sehari. [Penel Gizi Makan 2018, 41(2):77-88] Kata kunci: energi, ikan, konsumsi, protein
PEMODELAN OBESITAS DAN KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI JAWA BARAT: PENDEKATAN PARTIAL LEAST SQUARE STRUCTURAL EQUATION MODELING [PLS-SEM] Emi Nur Cholidah; Yayuk Farida Baliwati; Ali Khomsan
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 41 No. 2 (2018): PGM VOL 41 NO 2 TAHUN 2018
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v41i2.1890

Abstract

ABSTRACT Obesity is a condition of excessive fat accumulation in adipose tissue that occurs due to nutritional transitions in food consumption patterns by population that practices modern lifestyles, trend to higher consumption of energy-dense foods and low physical activity. Food consumption is the main cause of adult obesity 18+ years old. Based on UNICEF (1998) concept, food consumption is influenced by food security, including food access and food availability. The purpose of this study is to determine the obesity and food security modeling in West Java Province. This study used secondary data from Riskesdas 2013, SUSENAS 2013, and Daerah Dalam Angka2013-2014 from BPS. Unit analysis is 26 districts of West Java Province. The data were analyzed using Partial Least Square - Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The results showed that ten percent increase in food availability could directly reduce 9.2 percent in food access, reduce 8.9 percent in food consumption as a result of food access changes, and reduce 0.4 percent of obesity as a result of food access and food consumption changes. Ten percent increase in food access could directly increase in 3.0 percent of food consumption, and increase 3.6 percent obesity as a result of food consumption changes. Ten percent increase in food consumption could increase 6.0 percent of obesity prevalence. Keywords: obesity, food security, partial least square structural equation modeling (PLS-SEM) ABSTRAK Obesitas merupakan kondisi akumulasi lemak berlebih pada jaringan adiposa yang secara langsung disebabkan oleh transisi gizi, yaitu perubahan pola makan oleh populasi yang telah mengadopsi gaya hidup modern, yaitu kecenderungan pada peningkatan konsumsi makanan padat energi dan rendahnya aktivitas fisik. Penyebab utama obesitas orang dewasa 18+ tahun berasal dari konsumsi pangan. Berdasarkan konsep UNICEF (1998), konsumsi pangan dipengaruhi oleh ketahanan pangan, termasuk akses pangan dan ketersediaan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pemodelan obesitas dan ketahanan pangan Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan data sekunder, yaitu Riskesdas 2013, SUSENAS 2013, dan Daerah Dalam Angka 2013-2014 kabupaten/kota Provinsi Jawa Barat. Unit analisis adalah 26 kabupaten/kota Provinsi Jawa Barat. Analisis menggunakan pendekatan Partial Least Square - Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan 10 persen ketersediaan pangan dapat secara langsung menurunkan akses pangan sebesar 9,2 persen, menurunkan konsumsi pangan sebesar 8,9 persen sebagai akibat dari perubahan akses, serta menurunkan prevalensi obesitas sebesar 0,4 persen sebagai akibat perubahan akses dan konsumsi pangan. Peningkatan 10 persen akses pangan dapat secara langsung meningkatkan konsumsi pangan sebesar 3,0 persen, serta meningkatkan prevalensi obesitas sebesar 3,6 persen sebagai akibat dari perubahan konsumsi pangan. Peningkatan 10 persen konsumsi pangan dapat meningkatkan prevalensi obesitas sebesar 6,0 persen. [Penel Gizi Makan 2018, 41(2):89-100] Kata kunci: obesitas, ketahanan pangan, partial least squarestructural equation modeling (PLS-SEM)
PENGASUHAN ANAK BALITA GIZI SANGAT KURUS YANG MENGIKUTI PEMULIHAN GIZI DI PUSKESMAS Astuti Lamid; Nurfi Afriansyah; Laurentia Konadi
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 41 No. 2 (2018): PGM VOL 41 NO 2 TAHUN 2018
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v41i2.1891

Abstract

ABSTRACT Severe wasted among children under five is still a public health problem. Treatment of severe wasted at the health center follows the management recommended by the Ministry of Health and WHO. The improvement of nutrition and health status has not been maximized during treatment and it was suspected related to childcare. Therefore it will be studied how caring practice had been done at household. The purpose of this study was to examine caring practice level and their constraints as well. This research was a mix-method with cross-sectional design, located in four provinces. Then in each province, the two highest regencies of severe wasted were selected, and purposively from each district one health center was taken which had a lot of severe wasted cases. Sample were parents whose children suffered from severe wasted and informants were nutritionist of health center and integrated post cadre. Data collected were data of characteristics children and their families, feeding and care for sick children habit and caring parctice level of parents. Data was analyzed descriptively. Results levels of good caring practice were highest in West Java Province (60%), while the other three provinces were lower. The constraints faced were the low mothers education, father’s main job as laborers, the habit of giving prelacteal food and formula milk from birth, solid food given at the beginning children suffered from severe wasted and complaints of some infectious diseases. There needs to be an increase in caring practice level with parenting programs both expected to be at health center or at integrated post. Keywords: caring practice, childcare, parenting, severe wasted, treatment ABSTRAK Status gizi sangat kurus pada balita masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dengan prevalensi nasional sekitar 5,3 persen. Penanganannya di puskesmas mengikuti tatalaksana direkomendasikan Kementerian Kesehatan dan WHO. Saat ini peningkatan gizi dan kesehatan belum maksimal melalui pemulihan gizi sangat kurus, diduga masalahnya berkaitan dengan pengasuhan anak. Tujuan penelitian ini mengkaji pengasuhan anak dalam praktik pemberian makan, perawatan anak sakit di rumah tangga dan kendalanya. Penelitian ini merupakan penelitian mix-method dengan desain kros-seksional, berlokasi di empat provinsi dengan prevalensi gizi sangat kurus yang tinggi. Dari tiap provinsi dipilih dua kabupaten yang tinggi prevalensinya, kemudian secara purposive dari tiap kabupaten diambil satu puskesmas yang merupakan kantong gizi sangat kurus. Sampel adalah orang tua yang mempunyai balita gizi sangat kurus yang mengikuti pemulihan gizi di puskesmas. Informan adalah TPG Puskesmas dan kader posyandu. Data yang dikumpulkan adalah data karakteristik balita dan keluarga, kebiasaan pemberian makan dan perawatan anak, dan tingkat pengasuhan anak yang meliputi praktik pemberian makan, perawatan dan perkembangan anak. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil tingkat pengasuhan anak yang baik tertinggi di Provinsi Jabar (60%), sedangkan tiga provinsi lainnya lebih rendah dan yang terendah di Provinsi NTT (26%). Kendala yang dihadapi adalah pendidikan ibu yang kurang (banyak yang hanya sampai sekolah dasar), pendidikan ayah terbanyak sebagai buruh, kebiasaan ibu yang memberikan makanan prelakteal, susu formula sejak lahir, kebiasaan memberikan makanan padat ketika anak mengalami gizi sangat kurus dan keluhan timbulnya beberapa penyakit infeksi. Perlu adanya peningkatan pengasuhan anak melalui program parenting untuk ibu balita gizi sangat kurus yang bisa dilakukan di Puskesmas atau posyandu. [Penel Gizi Makan 2018, 41(2):101-112] Kata kunci: pengasuhan anak, parenting, gizi sangat kurus, pemulihan
POLA KONSUMSI DAN GAYA HIDUP KAITANNYA DENGAN KEJADIAN PENYAKIT KARDIOVASKULER DI INDONESIA Yurista Permanasari; Elisa Diana Julianti
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 41 No. 2 (2018): PGM VOL 41 NO 2 TAHUN 2018
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v41i2.1892

Abstract

ABSTRACT Cardiovascular disease is the number one cause of death in the world and in Indonesia. Many factors can trigger cardiovascular disease. One of the main causes of cardiovascular disease is an unhealthy lifestyle. This analysis aims to identify lifestyle (food consumption patterns, smoking, and physical activity) in relation to the prevalence of cardiovascular disease in each province in Indonesia. The research design in this analysis is an ecological study with a provincial analysis unit. The study sample in this analysis was a sample of households and adult individuals over the age of 15 that included in the Individual Food Consumption Survey (SKMI) 2014 and Basic Health Research (Riskesdas) 2013. Source of the data was the SKMI 2014 food consumption data and individual data of the Riskesdas 2013 to obtain 21.283 samples. After verification, editing, and cleaning, 20.183 samples were obtained. The prevalence of cardiovascular disease, namely heart and strok, was grouped into provinces with high prevalence (prevalence above national average) and low prevalence (prevalence below the national average). Data were analyzed to determine the frequency distribution of each variable and to determine the difference between lifestyle variables on the prevalence of the cardiovascular disease. The results of these analysis showed there was no association between smoking habits, physical activity and consumption of macro nutrients, fiber and sodium in cardiovascular disease in provinces with low or high prevalence. Recommendations for looking the relationship between smoking habits, physical activity, and consumption habits with non-communicable diseases preferably in cohort study. Keywords: cardiovascular, consumption patterns, lifestyle ABSTRAK Penyakit kardiovaskuler menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia dan di Indonesia. Banyak faktor yang dapat memicu terjadinya penyakit kardiovaskuler. Salah satu penyebab utama penyakit kardiovaskuler ialah gaya hidup yang tidak sehat (kebiasaan merokok, diet yang tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik). Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi gaya hidup (pola konsumsi, merokok, dan aktivitas fisik) kaitannya dengan prevalensi penyakit kardiovaskuler pada tingkat provinsi di Indonesia. Disain penelitian dalam analisis ini adalah studi ekologi dengan unit analisis propinsi. Sampel penelitian adalah sampel rumah tangga dan individu dewasa usia lebih dari 15 tahun yang termasuk ke dalam sampel Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) 2014 dan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. Data yang digunakan ialah data konsumsi SKMI 2014 dan data individu Riskesdas 2013 sehingga diperoleh sampel sebanyak 21.283. Setelah dilakukan verifikasi, editing, dan cleaning maka diperoleh 20.183 sampel. Prevalensi penyakit kardiovaskuler, yaitu jantung dan stroke, dikelompokkan menjadi kelompok provinsi dengan prevalensi tinggi (prevalensi di atas rerata nasional) dan prevalensi rendah (prevalensi di bawah rerata nasional). Data dianalisis untuk mengetahui distribusi frekuensi pada setiap variabel dan untuk mengetahui perbedaan antara variabel gaya hidup terhadap kejadian penyakit kardiovaskuler. Hasil analis lanjut menunjukkan tidak ada keterkaitan antara kebiasaan merokok, aktivitas fisik dan konsumsi zat gizi makro, serat dan natrium terhadap kejadian penyakit kardiovaskuler pada tingkat provinsi dengan prevalensi rendah maupun tinggi. Untuk dapat melihat keterkaitan antara kebiasaan merokok, aktivitas fisik, dan kebiasaan konsumsi dengan penyakit tidak menular, maka disarankan data yang diperlukan adalah data dari penelitian yang diikuti seperti kohor. [Penel Gizi Makan 2018, 41(2):113-123] Kata kunci: kardiovaskuler, pola konsumsi, gaya hidup
Back Matter Vol 41 No 2 Desember 2018 pgm managerxot2
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 41 No. 2 (2018): PGM VOL 41 NO 2 TAHUN 2018
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v41i2.1897

Abstract

Back Matter Vol 41 No 2 Desember 2018
MASALAH GIZI BALITA DAN HUBUNGANNYA DENGAN INDEKS PEMBANGUNAN KESEHATAN MASYARAKAT Nur Handayani Utami; Rofingatul Mubasyiroh
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 42 No. 1 (2019): PGM VOL 42 NO 1 TAHUN 2019
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v42i1.2416

Abstract

ABSTRACT The problem of undernutrition and overnutrition among underfive children is still a challenge in improving public health in Indonesia. Public Health Development Index (PHDI) has been developed based on the results of the Basic Health Research (Riskesdas) 2013. This analysis was carried out to determine the role of PHDI and its constituent components with the nutritional problems of children under five in Indonesia. The 2013 PHDI consists of 7 indexes, namely underfive children health, reproductive health, health services, health behavior, non-communicable diseases, communicable diseases, and environmental health. One-way ANOVA analysis was carried out to analyze the mean differences between the prevalence of undernutrition based on the category of PHDI values, while the analysis of overweight with the PHDI value category was analyzed by Kruskal-Wallis. Analysis of the association between the prevalence of undernutrition and overweight with the PHDI was done using linear regression. Mean analysis of the prevalence of undernutrition according to the PHDI group shows a tendency with the higher PHDI, the lower the prevalence of undernutrition. Linear regression analysis shows that there is a significant relationship between the indices in the PHDI and the prevalence of undernutrition, where the reproductive health index has the highest contribution to the decreament of the prevalence of child undernutrition. In contrary, the analysis of the prevalence of obesity according to the PHDI group shows no difference in the prevalence of obesity with the PHDI group. Linear regression analysis also shows a weak relationship between the PHDI indices and the prevalence of obesity. Keywords: malnutrition; public health development index; under five children ABSTRAK Masalah gizi kurang dan gizi lebih pada balita masih menjadi tantangan dalam perbaikan kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 telah dikembangkan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) yang dapat menjadi arah dalam menentukan prioritas pembangunan di bidang kesehatan. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui peran dari IPKM dan komponen-komponen penyusunnya dengan masalah gizi balita (gizi buruk-kurang, pendek dan gemuk) di Indonesia. IPKM 2013 terdiri dari 7 indeks, yaitu kesehatan balita, kesehatan reproduksi, pelayanan kesehatan, perilaku kesehatan, penyakit tidak menular, penyakit menular, serta kesehatan lingkungan. Analisis one way anova dilakukan untuk menganalisis perbedaan rerata antara prevalensi kurang gizi berdasarkan kategori nilai IPKM, sedangkan pada analisis kegemukan dengan kategori nilai IPKM dilakukan analisis Kruskal-Wallis. Analisis hubungan antara prevalensi gizi kurang dan gizi lebih dengan IPKM dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linear. Analisis rerata prevalensi kurang gizi menurut kelompok IPKM menunjukkan kecenderungan semakin tinggi IPKM suatu daerah semakin rendah prevalensi kurang gizi pada balita. Analisis regresi linear menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang siknifikan antara indeks-indeks dalam IPKM dengan prevalensi gizi kurang, dimana indeks kesehatan reproduksi memberikan kontribusi yang paling besar terhadap penurunan prevalensi gizi kurang balita. Sementara analisis prevalensi kegemukan menurut kelompok IPKM menunjukkan tidak adanya perbedaan prevalensi kegemukan dengan kelompok IPKM. Analisis regresi linear juga menunjukkan hubungan yang lemah antara indeks-indeks IPKM dengan prevalensi kegemukan pada balita. [Penel Gizi Makan 2019, 42(1):1-10] Kata kunci: masalah gizi; indeks pembangunan kesehatan masyarakat; bawah lima tahun
VALIDASI HFIAS (HOUSEHOLD FOOD INSECURITY ACCESS SCALE) DALAM MENGUKUR KETAHANAN PANGAN: KASUS PADA RUMAH TANGGA PERKOTAAN DAN PERDESAAN DI SULAWESI SELATAN Chica Riska Ashari; Ali Khomsan; Yayuk Farida Baliwati
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 42 No. 1 (2019): PGM VOL 42 NO 1 TAHUN 2019
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v42i1.2417

Abstract

ABSTRACT Many indicators are used to measure food security. The most commonly used measurements are food recall, anthropometric indicators or health data, which have also been used in several studies. However, all these indicators have weaknesses such as data collection and analysis that are impractical and relatively expensive to implement. For this reason, a method that is easier, simpler, and cheaper to implement is needed. This study aims to analyze the validation of measures of food security with the HFIAS method to Maxwell's method in urban and rural households in South Sulawesi. This study used a cross sectional design. Sampling using purposive sampling with a sample size of 170 households. The data analysis performed is the gamma correlation test. The results showed that the results of the gamma correlation between the level of household food security using the HFIAS method for the Maxwell method obtained p = 0.000 with a value of r = 0.408. The conclusion of the study is that the HFIAS method can be used as a method of measuring food security because it is easier and more practical. Keywords: methods, food insecurity, household, food security, validation ABSTRAK Banyak indikator yang digunakan untuk mengukur ketahanan pangan. Pengukuran yang paling sering digunakan yaitu recall pangan, indikator antropometri atau data kesehatan, yang juga telah digunakan dalam beberapa studi. Namun, semua indikator tersebut memiliki kelemahan seperti pengumpulan dan analisis data yang tidak praktis dan relatif mahal untuk diimplementasikan. Untuk itu, diperlukan metode yang lebih mudah, sederhana, dan lebih murah untuk diterapkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis validasi ukuran ketahanan pangan dengan metode HFIAS terhadap metode Maxwell pada rumah tangga perkotaan dan perdesaan di Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Penarikan sampel menggunakan purposive sampling dengan besar sampel 170 rumah tangga. Analisis data yang dilakukan adalah uji korelasi gamma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil korelasi gamma antara tingkat ketahanan pangan rumah tangga menggunakan metode HFIAS terhadap metode Maxwell diperoleh p=0.000 dengan nilai r=0.408. Kesimpulan dari penelitian bahwa metode HFIAS dapat digunakan sebagai metode pengukuran ketahanan pangan karena lebih mudah dan lebih praktis. [Penel Gizi Makan 2019, 42(1):11-20] Kata kunci: metode, rawan pangan, rumah tangga, tahan pangan, validasi
PENENTUAN DIAGNOSIS SINDROM METABOLIK BERDASARKAN PENILAIAN SKOR SINDROM METABOLIK DAN NCEP ATP-III PADA REMAJA [PENELITIAN DI BEBERAPA SMA DI KOTA BOGOR] Reviana Christijani
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 42 No. 1 (2019): PGM VOL 42 NO 1 TAHUN 2019
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v42i1.2418

Abstract

ABSTRACT Metabolic syndrome is a group of several symptoms of metabolic disorders, such as dyslipidemia, hyperglycemia, hypertension, dan central obesity. Metabolic syndrome does not only happens to adult, but also to the younger age which has further risk to type 2 diabetes melitus and cardiovascular diseases. Therefore, early detection and management to this syndrome for teenager is extremely important in order to prevent the comorbidities in the future. The aim of this study was to compare the sensitivity and specificity between NCEP-ATP III method and metabolic syndrome score as the examinations to determine the metabolic syndrome. This was a cross sectional study that was held on 2012. This study was held in some senior high schools in Bogor City. The samples of this study were 262 senior high school students with the range of age 15-19 years old and fulfill the inclusion criterias. The collected data were some needed characteristics of the respondents, such as gender, body mass index, abdominal circumference, waist circumference, fasting blood sugar, triglyceride, and blood pressure. This study found that the prevalence of the metabolic syndrome in teenager in Bogor City was higher (50,4%) with the NCEP ATP III method than the scoring methods (14,9%). The sensitivity and specificity test found that scoring method had lower sensitivity (<25%) and higher specificity (>96%) . This high specificity showed us that scoring system can be used to strengthen our presumption to metabolic syndrome, instead of diagnosing the metabolic syndrome itself. Keywords: metabolic syndrome, adolescent, diagnostic ABSTRAK Sindroma metabolik merupakan kumpulan gejala kelainan metabolik tubuh yang mencakup dislipidemia, hiperglikemia, hipertensi, dan obesitas sentral. Sindroma metabolik tidak hanya terjadi pada usia dewasa, tetapi juga usia muda yang berisiko terhadap penyakit diabetes melitus tipe 2 dan penyakit kardiovaskuler. Deteksi dan manajemen dini terhadap permasalahan sindroma metabolik pada remaja sangat penting dan belum banyak dilakukan penelitian. Penelitian ini bertujuan menganilisis perbandingan sensitivitas dan spesifitas pemeriksaan sindroma metabolik yang menggunakan metode penilaian NCEP–ATP III sebagai baku standar dengan metode penilaian dengan skor sindroma metabolik. Disain penelitian ini cross-sectional yang dilakukan pada tahun 2012. Sampel penelitian ini adalah 262 siswa SMA Kota Bogor yang berusia 15-19 tahun dan memenuhi kriteria inklusi yaitu remaja usia15-19 tahun,bersedia ikut dalam penelitian, tidak dalam pengobatan diabetes atau hipertensi serta diijinkan orangtua. Data yang dikumpulkan mencakup jenis kelamin, IMT, lingkar perut, lingkar pinggang, GDP, trigliserida, dan tekanan darah. Penelitian menghasilkan prevalensi sindroma metabolik pada remaja berdasarkan kriteria NCEP ATP-III sebesar 50,4 persen lebih besar dibandingkan prevalensi berdasarkan metode skoring yaitu 14,9 persen. Hasil uji sensitivitas dan spesifitas didapatkan sindroma metabolik sistem skoring memiliki sensitivitas lebih rendah (<25%) dan spesifitas lebih tinggi di atas (>96%). Spesifitas tinggi ini menunjukan sistem skoring dapat digunakan untuk memperkuat dugaan sindroma metabolik, bukan untuk mendiagnosis adanya sindroma metabolik. [Penel Gizi Makan 2019, 42(1):21-28] Kata kunci: sindroma metabolik, remaja, diagnosis
MANAJEMEN PELAYANAN GIZI DI WILAYAH DENGAN STATUS GIZI TINGGI DAN RENDAH DAN HUBUNGANNYA DENGAN KUALITAS TENAGA PELAKSANA GIZI Rosita Rosita; Iin Nurlinawati; Astuti Lamid
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 42 No. 1 (2019): PGM VOL 42 NO 1 TAHUN 2019
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v42i1.2419

Abstract

ABSTRACT Nutrition officer are nutrition service providers at the Primary Health Care (PHC) who carry out their duties in a management system to produce as targeted outcomes programs. This study aims to get an overview of the management of nutrition services and determine their relationship with the quality of nutrition officer in PHC in areas with high dan low nutritional status. The method used is cross sectional. The research sample was 67 nutrition officer in PHC (32 in West Bandung Regency and 35 in Depok City) and conducted in 2018. As the dependent variable was implementation of nutrition service management, while the independent variables consisted of internal factors (age, years of service, education, knowledge, motivation) and external factors (infrastructure, workload, funding, training, supervision, and leadership support). Data analysis uses Pearson, Spearman, T-test and Mann-Whitney. The results showed that internal factors that have a relationship with the management of nutrition services are motivation (p=0,000) while the external factors are infrastructure (p=0,004). Age has a relationship with planning with the direction of a negative relationship. This means that the more you age the planning process decreases. There was a significant difference in the planning processes by nutrition officer that had nutritional education backgrouds than non-nutritional education backgrounds (p<0,05). It is necessary to improve the quality of nutrition officer through guidance, fulfillment of facilities and infrastructure, monitoring and evaluation, and fulfillment of nutritionist through coordination between government institutions including a strong commitment from the leadership of the PHC. Keywords: management, nutrition services, nutrition officer ABSTRAK Tenaga pelaksana gizi (TPG) merupakan pelaksana pelayanan gizi di puskesmas yang melaksakan tugasnya dalam suatu sistem manajemen untuk menghasilkan capaian program sesuai target. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran penyelenggaraan manajemen pelayanan gizi dan menilai hubungannya dengan kualitas TPG puskesmas di wilayah dengan status gizi tinggi dan rendah. Metode yang digunakan adalah potong lintang. Sampel penelitian 67 orang TPG puskesmas (32 TPG Kabupaten Bandung Barat dan 35 TPG Kota Depok) yang dilakukan pada tahun 2018. Sebagai variabel terikat adalah manajemen pelayanan gizi, sedangkan variabel bebas meliputi faktor internal (umur, masa kerja, pendidikan, pengetahuan, motivasi) dan faktor eksternal (sarana, beban kerja, dana, pelatihan, supervisi, dan dukungan pimpinan). Analisa data menggunakan pearson, spearman, uji-t dan mann-whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal yang memiliki hubungan dengan penyelenggaraan manajemen pelayanan gizi adalah motivasi (p=0,000) sedangkan faktor eksternalnya adalah sarana (p=0,004). Umur memiliki hubungan dengan perencanaan dengan arah hubungan negatif. Artinya semakin bertambah umur maka proses perencanaan semakin berkurang. Terdapat perbedaan yang bermakna dalam proses perencanaan antara tenaga pelaksana gizi dengan latar belakang pendidikan gizi dan non gizi (p<0,05). Perlu peningkatan kualitas TPG melalui pembinaan, pemenuhan sarana dan prasarana, pemantauan dan evaluasi, serta pemenuhan tenaga gizi melalui koordinasi antar lembaga pemerintah termasuk komitmen yang kuat dari pimpinan puskesmas. [Penel Gizi Makan 2019, 42(1):29-40] Kata kunci: manajemen, pelayanan gizi, tenaga pelaksana gizi
HUBUNGAN ASUPAN LEMAK DENGAN STATUS GIZI ANAK USIA 6 BULAN-12 TAHUN DI INDONESIA Fitrah Ernawati; Pusparini Pusparini; Aya Yuriestia Arifin; Mutiara Prihatini
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 42 No. 1 (2019): PGM VOL 42 NO 1 TAHUN 2019
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v42i1.2420

Abstract

ABSTRACT Indonesia still faces a double burden of malnutrition where malnutrition problems still exist, and the prevalence of obesity continues to increase. The study was intended to evaluate the association between fat intake adequacy and nutritional status in children aged 6 months to 12 years with a middle to upper socioeconomic level. The study design was cross-sectional study using secondary data from the Basic Health Research in 2013 and Indonesian Food Consumption Survey in 2014. The results of the study concluded that more than 50 percent of children aged 6 months to 9 years and 38 percent of children aged 10-12 years old consumed fat more than 100 percent of Recommended Dietary Allowances (RDA). The study revealed a signidficant association between fat intake and body mass index for age Z-score (BAZ) (p <0.05) and fat intake with height for age Z-score (HAZ) (p <0.05). Fat intake of children live in urban was higher than at rural areas (p <0.05) and fat intake of boys was slightly higher than girls. The results of this study suggest the importance of providing nutrition education started from elementary school students on balanced nutrient intake and reduce fat intake, because obesity in early age contribute to obesity in adulthood. Keywords: children aged 6 month to12 years old, fat intake, nutritional status ABSTRAK Indonesia menghadapi masalah gizi ganda yaitu masalah gizi kurang masih ada, dan persentase masalah kegemukan terus meningkat. Tujuan dari analisis ini untuk melihat kecukupan asupan lemak anak usia 6 bulan sampai 12 tahun dengan tingkat sosial ekonomi menengah keatas dan hubungannya dengan status gizi. Desain penelitian adalah potong lintang, jenis data yang digunakan data sekunder dari Riskesdas 2013 dan Survey Konsumsi Makanan Indonesia (SKMI) 2014. Hasil penelitian disimpulkan bahwa lebih dari 50 persen anak usia 6 bulan-9 tahun dan 38 persen anak usia 10-12 tahun mengonsumsi lemak ≥ 100 persen AKG. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat asupan lemak dengan status gizi menurut indikator IMT/U (p<0,05) dan asupan lemak dengan status gizi TB/U (p<0,05). Asupan lemak anak yang tinggal di kota lebih tinggi dari pada di perdesaan (p<0,05) dan asupan lemak anak laki-laki lebih tinggi dari anak perempuan (p<0,05). Hasil penelitian ini memberikan bukti tentang pentingnya memberikan edukasi kepada siswa sekolah dasar tentang makanan gizi seimbang dan mengurangi asupan lemak, karena kegemukan pada usia dini akan terbawa hingga usia dewasa. [Penel Gizi Makan 2019, 42(1):41-47] Kata kunci: anak usia 6 bulan-12 tahun, asupan lemak, status gizi

Filter by Year

1971 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 47 No. 2 (2024): PGM VOL 47 NO 2 TAHUN 2024 Vol. 47 No. 1 (2024): PGM VOL 47 NO 1 TAHUN 2024 Vol. 46 No. 2 (2023): PGM VOL 46 NO 2 TAHUN 2023 Vol. 46 No. 1 (2023): PGM VOL 46 NO 1 TAHUN 2023 Vol. 45 No. 2 (2022): PGM VOL 45 NO 2 TAHUN 2022 Vol. 45 No. 1 (2022): PGM VOL 45 NO 1 TAHUN 2022 Vol. 44 No. 2 (2021): PGM VOL 44 NO 2 TAHUN 2021 Vol. 44 No. 1 (2021): PGM VOL 44 NO 1 TAHUN 2021 Vol. 43 No. 2 (2020): PGM VOL 43 NO 2 TAHUN 2020 Vol. 43 No. 1 (2020): PGM VOL 43 NO 1 TAHUN 2020 Vol. 42 No. 2 (2019): PGM VOL 42 NO 2 TAHUN 2019 Vol. 42 No. 1 (2019): PGM VOL 42 NO 1 TAHUN 2019 Vol. 41 No. 2 (2018): PGM VOL 41 NO 2 TAHUN 2018 Vol. 41 No. 1 (2018): PGM VOL 41 NO 1 TAHUN 2018 Vol. 40 No. 2 (2017) Vol. 40 No. 1 (2017) Vol. 39 No. 2 (2016) Vol. 39 No. 1 (2016) Vol. 38 No. 2 (2015) Vol. 38 No. 1 (2015) Vol. 37 No. 2 (2014) Vol. 37 No. 1 (2014) Vol. 36 No. 2 (2013) Vol. 36 No. 1 (2013) Vol. 35 No. 2 (2012) Vol. 35 No. 1 (2012) Vol. 34 No. 2 (2011) Vol. 34 No. 1 (2011) Vol. 33 No. 2 (2010) Vol. 33 No. 1 (2010) Vol. 32 No. 2 (2009) Vol. 32 No. 1 (2009) Vol. 31 No. 2 (2008) Vol. 31 No. 1 (2008) Vol. 30 No. 2 (2007) Vol. 30 No. 1 (2007) Vol. 29 No. 2 (2006): PGM VOL 29 NO 2 Desember Tahun 2006 Vol. 29 No. 1 (2006) Vol. 28 No. 2 (2005) Vol. 28 No. 1 (2005) Vol. 27 No. 2 (2004) Vol. 27 No. 1 (2004) Vol. 26 No. 2 (2003) Vol. 26 No. 1 (2003) Vol. 25 No. 2 (2002) Vol. 25 No. 1 (2002) JILID 24 (2001) JILID 23 (2000) JILID 22 (1999) JILID 21 (1998) JILID 20 (1997) JILID 19 (1996) JILID 18 (1995) JILID 17 (1994) JILID 16 (1993) JILID 15 (1992) JILID 14 (1991) JILID 13 (1990) JILID 12 (1989) JILID 11 (1988) JILID 10 (1987) JILID 9 (1986) JILID 8 (1985) Vol. 6 (1984): JILID 6 (1984) JILID 7 (1984) Vol. 5 (1982): JILID 5 (1982) JILID 4 (1980) JILID 3 (1973) JILID 2 (1972) JILID 1 (1971) More Issue