cover
Contact Name
Sudikno
Contact Email
onkidus@gmail.com
Phone
+6281316350502
Journal Mail Official
redaksipgm@yahoo.com
Editorial Address
Grand Centro Bintaro Blok B2, Jl. Raya Kodam Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan 12320 Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research)
ISSN : 01259717     EISSN : 23388358     DOI : https://doi.org/10.36457
Core Subject : Health, Social,
Focus and Scope Penelitian Gizi dan Makanan is a journal developed to disseminate and discuss the scientific literature and other research on the development of health in the field of food and nutrition. This journal is intended as a medium for communication among stake holders on health research such asresearchers, educators, students, practitioners of Health Office, Department of Health, Public Health Service center, as well as the general public who have an interest in the matter. The journal is trying to meet the growing need to study health. Vision: Becoming a notable national journal in the field of food and nutritions towards a reputable international journal. Mission: Providing scientific communication media in food and nutritions research in order to advance science andtechnology in related fields. Organizes scholarly journal publishing in health research with an attempt to achieve a high impact factorin the development of science and technology.
Articles 597 Documents
HUBUNGAN KECANDUAN GAME ONLINE DENGAN KEGEMUKAN PADA REMAJA DI WILAYAH JEMBER [THE RELATIONSHIPS OF ADDICTION TOONLINE GAMES WITH OVERWEIGHT ON ADOLESCENTS IN JEMBER DISTRICT] Atik Rohmawati Mulyaningsih; Tantut Susanto; Latifa Aini Susumaningrum
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 43 No. 1 (2020): PGM VOL 43 NO 1 TAHUN 2020
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v43i1.2545

Abstract

Playing online games is a favorite activity for adolescents to fill their free time. This habit affects the occurrence of addiction if done for a long time. In addition, the long duration of play leads to sedentary lifestyle behaviors, which contribute to overweight among adolescents. The purpose of this study was to identify the relationship between online gaming addiction and being overweight among adolescents in Jember district. The cross-sectional study design was conducted among 162 overweight students from 16 senior high schools in Jember with stratified random sampling. The development of the Indonesian online game addiction questionnaire is used to assess online game addiction, weight scales, and stature meters are used to measure body mass index (overweight). The Spearman Rank test was performed to answer the objective of this study. The results of this study indicate that body mass index in 162 adolescents is overweight (Median=1,44; Standard Deviation=0,26) which indicates obesity. Adolescents who were identified as having addiction in the study were (27,2%) and mild addictions were (72,8%). There was a significant relationship between online game addiction and overweight (r=0.212 ; p-value = 0.007). The sedentary lifestyle of online game addiction contributes to the occurrence of overweight among adolescents. Therefore, regular physical activity patterns need to be applied to reduce sedentary lifestyle and overweight problems among adolescents.ABSTRAKBermain game online menjadi kegiatan favorit bagi remaja untuk mengisi waktu luang. Kebiasaan ini berdampak pada terjadinya kecanduan jika dilakukan dalam waktu yang lama. Selain itu, durasi bermain yang cukup lama mengarah pada perilaku gaya hidup yang menetap, yang berkontribusi pada terjadinya kelebihan berat badan di kalangan remaja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan antara kecanduan game online dan kelebihan berat badan di kalangan remaja di Kabupaten Jember. Desain penelitian cross sectional dilakukan di antara 162 siswa yang kelebihan berat badan dari 16 SMA di Jember dengan stratified random sampling. Kuesioner The development of Indonesian online game addiction questionnaire digunakan untuk menilai kecanduan game online, timbangan berat badan dan stature meter digunakan untuk mengukur indeks massa tubuh (kegemukan). Analisis uji menggunakan uji spearman rank untuk menjawab tujuan penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa indeks massa tubuh pada 162 remaja adalah (M = 1,44; SD = 0,26) didapatkan median >1 untuk Z score antropometri yang mengindikasikan kegemukan. Remaja yang diidentifikasi mengalami kecanduan pada penelitian adalah (27,2%) dan kecanduan ringan adalah (72,8%). Terdapat hubungan yang signifikan antara kecanduan game online dan kegemukan (r = 0,212; p value = 0,007). Gaya hidup menetap dari kecanduan game online berkontribusi terhadap terjadinya kegemukan di kalangan remaja. Oleh karena itu, perlu diterapkan pola aktivitas fisik secara teratur untuk mengurangi gaya hidup yang menetap dan masalah kelebihan berat badan di kalangan remaja. [Penel Gizi Makan 2020, 43(1):11-20]
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH, LINGKAR PERUT, TEKANAN DARAH, DAN PROFIL LIPID DENGAN KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER: ANALISIS DATA STUDI FAKTOR RISIKO PENYAKIT TIDAK MENULAR DI KOTA BOGOR [THE RELATIONSHIP OF THE BODY MASS INDEX... IN BOGOR CITY] sudikno sudikno; Sulistyowati Tuminah
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 43 No. 1 (2020): PGM VOL 43 NO 1 TAHUN 2020
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v43i1.3053

Abstract

Coronary heart disease (CHD) is a non-communicable disease as the main cause of death worldwide. This study aimed to determine the relationship between body mass index (BMI), waist circumference (WC), blood pressure, and lipid profile with coronary heart disease in adults. This study used secondary data from the Non-communicable Disease Risk Factors Cohort Study 2011-2018. The study design was a cohort. The research samples were adults aged 25 years and over in 5 villages in the city of Bogor. The number of samples analyzed was 4415 people. The analysis showed that the incidence of coronary heart disease in the sixth year of observation was 4.5 percent. The results of the Cox regression analysis and receiver operating characteristic (ROC) curve showed that the systole blood pressure indicator showed as the best under curve area (AUC) among the BMI indicators, waist circumference, lipid profile, and diastolic blood pressure. Measurement of systolic blood pressure can be one of the strong predictors for screening coronary heart disease. Efforts to maintain blood pressure to remain normal as a preventive measure to prevent coronary heart diseaseABSTRAKPenyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama kematian di seluruh dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan indeks massa tubuh, lingkar perut, tekanan darah, dan profil lipid dengan penyakit jantung koroner pada orang dewasa. Penelitian ini menggunakan data sekunder Studi Kohor Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular 2011-2018. Desain penelitian adalah kohor. Sampel penelitian adalah orang dewasa berumur 25 tahun ke atas di lima kelurahan di Kota Bogor. Jumlah sampel yang dianalisis 4415 orang. Hasil analisis menunjukkan insiden penyakit jantung koroner pada pengamatan tahun keenam sebesar 4,5 persen. Dari hasil analisis Cox regresi dan kurva receiver operating characteristic (ROC) menunjukkan bahwa indikator tekanan darah sistole menunjukkan area under curve (AUC) yang paling baik di antara indikator IMT, lingkar perut, profil lipid, dan tekanan darah diastole. Pengukuran tekanan darah sistole bisa menjadi salah satu upaya dini screening untuk penyakit jantung koroner. Upaya untuk mempertahankan tekanan darah agar tetap normal sebagai usaha pencegahan untuk penyakit jantung koroner. [Penel Gizi Makan 2020, 43(1):21-28]
KONTRIBUSI ZAT GIZI MAKANAN JAJANAN TERHADAP ASUPAN ENERGI SEHARI DI INDONESIA (ANALISIS DATA SURVEY KONSUMSI MAKANAN INDIVIDU 2014) [FOOD AWAY FROM HOME (FAFH) CONTRIBUTION OF NUTRITION TO DAILY TOTAL ENERGY INTAKE IN INDONESIA] yunita diana sari; Rika Rachmawati
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 43 No. 1 (2020): PGM VOL 43 NO 1 TAHUN 2020
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v43i1.2891

Abstract

The culture of consuming food away from home (FAFH) is part of a daily habit for almost all age groups and social classes including school-age children and adolescents. The benefit of consuming FAFH including food diversification from an early age to increase the nutrition quality of food consumed. The negative aspects are obtained when it’s consumed excessively that could cause excessive energy intake. Frequent consumption of FAFH is associated with a low intake of fruits and vegetables and also a low intake of micronutrients. FAFH contained high fat and saturated fat, less calcium, fiber, and iron compared with home-prepared foods. The study aimed to determine the nutrients contribution (energy, carbohydrates, fats, and proteins) of FAFH compared to the total daily energy intake. The study using secondary data analysis of the individual Food Consumption Survey 2014. The definition of FAFH is all foods and beverages produce outside the house but consumed by households, foods, and beverages that produce and consume at school/workplace and places like eatery places and vendors, etc.). The results of the study showed 86.529 respondent was consuming FAFH with the highest distribution of 53.9 percent in the urban area, 51.5 percent female, 44.3 percent in the 26-50 years age group and 24.3 percent at the top level of the economy. The contribution of nutrients from FAFH to total daily energy intake is 34.4 percent (606.9 kcal), protein 4.7 percent (20.7 g), fat 11.6 percent (23.2 g) and carbohydrates 18.6 percent (81.1 g). The ingredient of FAFH that mostly consumed are Cerealia and processed and the tubers and processed food groups.ABSTRAKBudaya jajan menjadi bagian dari keseharian pada hampir semua kelompok usia dan kelas sosial, termasuk anak usia sekolah dan golongan remaja. Makanan jajanan bermanfaat terhadap penganekaragaman makanan sejak kecil dalam rangka peningkatan mutu gizi makanan yang dikonsumsi. Aspek negatif makanan jajanan yaitu apabila dikonsumsi berlebihan dapat menyebabkan terjadinya kelebihan asupan energi. Seringnya mengkonsumsi makanan diluar rumah berkaitan dengan rendahnya asupan buah dan sayuran dan rendahnya asupan mikronutrien Kontribusi dari makanan jajanan tinggi akan lemak dan lemak jenuh serta kurang akan kalsium, serat, dan zat besi dibandingkan dengan makanan dari rumah. Tujuan penelitian untuk mengetahui kontribusi zat gizi (energi, karbohidrat, lemak dan protein) makanan jajanan terhadap total energi. Analisis lanjut data Survey Konsumsi Makanan Individu 2014. Definisi makanan jajanan adalah makanan dan minuman yang diolah di luar rumah tetapi dikonsumsi di rumah tangga, makanan dan minuman yang diolah dan dikonsumsi di sekolah/tempat kerja serta makanan dan minuman yang diolah dan dikonsumsi selain tempat yang diatas (rumah makan, pedagang kaki lima, dll). Jumlah responden yang mengonsumsi makanan jajanan sebanyak 86.529 dengan sebaran tertinggi 53,9 persen diperkotaan, 51,5 persen pada perempuan, 44,3 persen pada kelompok umur 26-58 tahun dan 24,3 persen pada tingkat ekonomi teratas. Kontribusi makanan jajanan terhadap total asupan energi sehari sebesar 34,4 persen. (606,9 kkal), protein 4,7 persen (20,7 gr), lemak 11,6 persen (23,2 gr) dan karbohidrat 18,6 persen (81,1 gr). Kelompok bahan makanan jajanan yang sering dikonsumsi adalah serealia dan olahan serta kelompok umbi-umbian dan olahan. [Penel Gizi Makan 2020, 43(1):29-40]
HUBUNGAN POLA KONSUMSI SERAT DENGAN KONTROL GLIKEMIK PADA DIABETES TIPE 2 (T2D) DI KECAMATAN BOGOR TENGAH [RELATIONSHIP OF FIBER CONSUMPTION PATTERNS TO GLYCEMIC CONTROL IN TYPE 2 DIABETES (T2D) IN CENTRAL BOGOR SUB-DISTRICT] Andi Susilowati; basuki rachmat; Rahma Ayu Larasati
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 43 No. 1 (2020): PGM VOL 43 NO 1 TAHUN 2020
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v43i1.3083

Abstract

High fiber consumption is known to reduce the efficiency of carbohydrate absorption which can increased insulin sensitivity. The purpose of this study was to look at the relationship of fiber consumption with glycemic control among diabetic adults in Central Bogor District. Cross-sectional and Nested research methods in the PTM Risk Factor Cohort Study is used for this research. A sample of 89 people, with inclusion criteria population aged ≥ 25 years and have a history of T2D disease. Samples were grouped into two, T2D controlled (HbA1c <7%) and T2D uncontrolled (HbA1c ≥ 7%). Data collection was conducted using a questionnaire demographic characteristics and patterns of food consumption during the last 1week period. Chi square analysis to determine the relationship of fiber consumption with glycemic control. The results showed that daily consumption of vegetables and fruits of T2D respomden were controlled (152.9 g and 131.69 g) and uncontrolled (116.2 g and 102.40 g) were still below the WHO recommended requirements (250 and 150). There is a significant relationship between age and T2D control. Where respondents at the age of 50-64 years have a chance of 7.16 times experiencing uncontrolled T2D compared to those aged 30-49 years. There is no significant relationship between the pattern of fiber consumption with glycemic control in patients with T2D. Age (50-59 years) is associated with poor glycemic control (uncontrolled T2D). Suggestions need counseling about routine glycemic control in the elderly group (age ≥ 50 years), behavioral interventions to consume high-fiber foods, and the introduction of good fruit and vegetable variations in consumption for T2D sufferers.ABSTRAKKonsumsi serat tinggi diketahui dapat menurunkan efisiensi penyerapan karbohidrat yang dapat menyebabkan meningkatnya sensitivitas insulin. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan konsumsi serat dengan kontrol glikemik pada orang dewasa diabetes di Kecamatan Bogor Tengah. Metode penelitian cross-sectional dan nested pada Studi Kohor Faktor Risiko PTM. Sampel sebanyak 89 orang, dengan kriteria inklusi penduduk berusia ≥ 25 tahun dan memiliki riwayat penyakit T2D. Sampel dikelompokan menjadi dua, T2D terkontrol (HbA1c < 7%) dan T2D tidak terkontrol (HbA1c ≥ 7%). Pengumpulan data dilakukan wawancara menggunakan kuesioner karakteristik demografi dan pola konsumsi pangan selama periode satu minggu terakhir. Analisis chi square untuk mengetahui hubungan konsumsi serat dengan kontrol glikemik. Hasil penelitian menunjukkan konsumsi sayur dan buah harian responden T2D terkontrol (152,9 gr dan 131,69 gr) dan tidak terkontrol (116,2 gr dan 102,40 gr) masih di bawah syarat yang di ajurkan WHO (250 dan 150). Terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan kontrol T2D. Responden usia 50-64 tahun berpeluang 7,16 kali mengalami T2D tidak terkontrol dibandingkan yang berusia 30-49 tahun. Tidak ada hubungan yang signifikan antara konsumsi serat dengan kontrol glikemik pada penderita T2D. Usia (50-59 tahun) berhubungan dengan kontrol glikemik yang buruk (T2D tidak terkonrol). Perlu penyuluhan tentang kontrol glikemik rutin pada kelompok lansia (Usia ≥ 50 tahun), intervensi perilaku konsumsi makanan tinggi serat, dan pengenalan variasi buah dan sayur yang baik dikonsumsi bagi penderita T2D. [Penel Gizi Makan 2020, 43(1):41-50]
Front matter PGM Vol 43 No 2 Des 2020 pgm managerxot
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 43 No. 2 (2020): PGM VOL 43 NO 2 TAHUN 2020
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Front matter PGM Vol 43 No 2 Des 2020
PREVALENSI DAN FAKTOR RISIKO STUNTING PADA BALITA 24-59 BULAN DI INDONESIA: ANALISIS DATA RISET KESEHATAN DASAR 2018 [PREVALENCE AND STUNTING RISK FACTORS IN CHILDREN 24-59 MONTHS IN INDONESIA: ANALYSIS OF BASIC HEALTH RESEARCH DATA 2018] Aditianti Aditianti; Irlina Raswanti; Sudikno Sudikno; Doddy Izwardy; Sugeng Eko Irianto
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 43 No. 2 (2020): PGM VOL 43 NO 2 TAHUN 2020
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v43i2.3862

Abstract

ABSTRACT Stunting in children under five years old is still a health problem, mainly in developing countries. The objective of this study was to determine the risk factors associated with the nutritional status of children aged 24 - 59 months in Indonesia. This study used nationwide basic health research (Riskesdas) 2018 data. The study design was cross-sectional. Samples were children between the ages 24-59 months in Indonesia. The number of samples that have been analyzed was 10,128. The result of this study showed that the prevalence of stunting in children between the ages 24-59 months was 29.1 percent. Logistic regression analysis showed that the risk factors associated with stunting in children between the ages 24-59 months were the father's education (AOR 1,56; 95%CI 1,22-1,99), mother's education (AOR 1,44; 95%CI 0,89-1,23), mother’s body height (AOR 2,32; 95%CI 1,94-2,77), father's BMI (body mass index (AOR 1,15; 95%CI 0,98-1,36)), and location of birthplace(AOR 1,63; 95%CI 1,35-1,96). Need a promotion at posyandu and health facilities or through other social media about to prevent stunting. In addition, counseling on health and nutrition for prospective brides (CATIN) is also needed to be encouraged together with related agencies. ABSTRAK Masalah stunting pada anak balita masih menjadi masalah kesehatan terutama di negara berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan status gizi anak usia 24–59 bulan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data Riskesdas 2018. Desain penelitian adalah Cross-sectional. Sampel penelitian adalah anak berusia 24-59 bulan di Indonesia. Jumlah sampel yang dianalisis 10.128 balita. Hasil analisis menunjukkan prevalensi stunting pada anak usia 24-59 bulan adalah 29,1 persen. Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa faktor risiko yang berhubungan dengan stunting pada balita 24-59 bulan di Indonesia adalah pendidikan ayah (AOR 1,56; 95%CI 1,22-1,99), pendidikan ibu (AOR 1,44; 95%CI 0,89-1,23) tinggi badan ibu (AOR 2,32; 95%CI 1,94-2,77);, IMT ayah (AOR 1,15; 95%CI 0,98-1,36), dan tempat persalinan (AOR 1,63; 95%CI 1,35-1,96). Perlu adanya promosi di posyandu dan fasilitas kesehatan atau melalui media social lainnya tentang perlunya pencegahan stunting. Selain itu, diperlukan juga penyuluhan tentang kesehatan dan gizi bagi calon pengantin (CATIN) perlu digalakkan bersama dengan dinas terkait.
Back Matter PGM Vol 43 No 2 Des 2020 pgm managerxot2
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 43 No. 2 (2020): PGM VOL 43 NO 2 TAHUN 2020
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Back Matter PGM Vol 43 No 2 Des 2020
KONSUMSI BUAH-SAYUR PADA SISWA SMA NEGERI 81 JAKARTA [THE CONSUMPTION OF FRUITS AND VEGETABLES AMONG STUDENTS OF SMA NEGERI 81 JAKARTA] Aufa Hanifa; Kusharisupeni Djokosujono; Triyanti Triyanti; Salimar Salimar
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 43 No. 2 (2020): PGM VOL 43 NO 2 TAHUN 2020
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Lack of fruit and vegetable consumption may increase the risk of non-communicable diseases in later life. Consumption of fruits and vegetables in the Indonesian population is still low, especially among adolescents. The study aimed to determine the dominant factor associated with fruit and vegetable consumption among high school students in SMA Negeri 81 Jakarta. This study used a cross-sectional study design and was conducted from March until April 2020, wich consist 143 respondents. Data collection including consumption of fruits and vegetables, gender, preferences, knowledge of fruits and vegetables, parental influence, peer influence, availability of fruits and vegetables at home, consumption of fast food, consumption of SSBs, pocket money, exposure to mass media, and parental education levels were carried out online. Data were analyzed by bivariate analysis with the Chi-Square test and multivariate analysis with multiple logistic regression tests. The results found that 67,1 percent of respondents consumed less fruit and vegetables (<400 grams per day). Bivariate results showed a significant relationship between gender, preference, parental influence, fruit and vegetable availability at home, and mass media exposure with fruit and vegetable consumption. Logistic regression analysis showed that the availability of fruits and vegetables at home was a dominant factor associated with fruit and vegetable consumption (OR = 5,8; CI = 1,7 – 20,3). The availability of fruits and vegetables at home was the dominant factor in the consumption of fruits and vegetables among students of SMA Negeri 81 Jakarta. It is necessary to implement policies that promote and provide easy access to fruits and vegetables through school and home to increase fruit and vegetable intake in adolescents. ABSTRAK Kurang konsumsi buah dan sayur dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit tidak menular di kemudian hari. Konsumsi buah dan sayur penduduk Indonesia masih rendah, terutama pada kalangan remaja. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor dominan konsumsi buah dan sayur pada siswa SMA Negeri 81 Jakarta. Desain penelitian cross-sectional, dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2020 dengan responden sejumlah 143. Data yang dikumpulkan meliputi konsumsi buah dan sayur, jenis kelamin, preferensi, pengetahuan tentang buah dan sayur, pengaruh orang tua, pengaruh teman sebaya, ketersediaan buah dan sayur di rumah, konsumsi fast food, konsumsi SSBs, uang jajan, keterpaparan terhadap media massa, dan tingkat pendidikan orang tua dilakukan secara daring. Data dianalisis secara bivariat dengan uji Chi-Square, dan analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menemukan sebanyak 67,1 persen responden kurang mengonsumsi buah dan sayur (<400 gram/hari). Hasil bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, preferensi, pengaruh orang tua, ketersediaan buah dan sayur di rumah, dan keterpaparan terhadap media massa dengan konsumsi buah dan sayur. Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa ketersediaan buah dan sayur di rumah merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan konsumsi buah dan sayur (OR = 5,8; CI = 1,7 – 20,3). Ketersediaan buah dan sayur di rumah merupakan faktor dominan konsumsi buah dan sayur pada siswa SMA Negeri 81 Jakarta. Perlu kebijakan untuk mempromosikan dan memberikan kemudahan akses konsumsi buah dan sayur melalui sekolah dan rumah untuk meningkatkan asupan buah dan sayur pada remaja.
PRAKTIK PEMBERIAN MP-ASI TERHADAP RISIKO STUNTING PADA ANAK USIA 6-12 BULAN DI LOMBOK TENGAH [THE COMPLEMENTARY FEEDING PRACTICE AND RISK OF STUNTING AMONG CHILDREN AGED 6-12 MONTHS IN CENTRAL LOMBOK] Ni Komang Ayu Swanitri Wangiyana; Titi Pambudi Karuniawaty; Ristania Ellya John; Ratu Missa Qurani; Jeslyn Tengkawan; Ayu Anandhika Septisari; Zulfikar Ihyauddin
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 43 No. 2 (2020): PGM VOL 43 NO 2 TAHUN 2020
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v43i2.4118

Abstract

ABSTRACT Improper complementary feeding practice practice is one of the problems that often occurs in developing countries. This problem can lead to inadequate nutrient intake, especially protein intake which is associated with physical growth problems in children under five years, including stunting. This study was an observational analytic study with a cross-sectional design which aims to determine the association between complementary feeding practice and stunting incidence among children aged 6-12 months in Central Lombok. A total of 206 children with a mean age of 9,3 months was selected for this study by cluster sampling. Most of them were female. In this study, we analyzed 4 parameters of complementary feeding practice, namely age of indroduction of complementary foods, texture of complementary foods given, frequency of complementary feeding, and amount of complementary foods given. This study found that there was a significant association between frequency of complementary feeding (p = 0.047, 95% CI) and amount of complementary foods given (p = 0.020, 95% CI) with stunting incidence. Meanwhile, other parameters namely age of indroduction of complementary food and texture of complementary foods given did not have a significant association with stunting incidence. Keywords: complementary feeding practice, short stature, stunting ABSTRAK Praktik pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang tidak tepat merupakan salah satu masalah yang sering terjadi di negara berkembang. Hal tersebut dapat menyebabkan asupan zat gizi yang tidak adekuat, terutama dari protein yang berhubungan dengan masalah gangguan pertumbuhan fisik pada anak balita, termasuk stunting. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan rancangan cross-sectional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan praktik pemberian MPASI terhadap kejadian stunting pada anak usia 6-12 bulan di Lombok Tengah. Sebanyak 206 anak dengan rerata usia 9,3 bulan terpolih menjadi subjek penelitian ini menggunakan cluster sampling. Sebagian besar berjenis kelamin perempuan. Pada penelitian ini, kami menganalisa 4 parameter praktik pemberian MPASI, yaitu usia pertama mendapatkan MPASI, bentuk MPASI yang diberikan, frekuensi MPASI, dan jumlah MPASI yang diberikan. Penelitian ini menemukan adanya hubungan yang signifikan antara frekuensi MPASI (p=0,047, 95% CI) dan jumlah MPASI yang diberikan (p=0,020, 95% CI) dengan kejadian stunting pada anak. Sedangkan parameter lainnya seperti usia memulai MPASI dan tekstur MPASI, tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian stunting. Kata Kunci: perawakan pendek, praktik pemberian MPASI, stunting
PERBEDAAN STATUS GIZI DAN KESEHATAN PRALANSIA DAN LANSIA DI PUSKESMAS CIPAYUNG DEPOK [DIFFERENCES OF NUTRITIONAL AND HEALTH STATUS BETWEEN MIDDLE AGE AND ELDERLY IN CIPAYUNG HEALTH CENTRE DEPOK] Ahmad Safiq; Lulu'ul Badriyah; Sandra Fikawati
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 43 No. 2 (2020): PGM VOL 43 NO 2 TAHUN 2020
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v43i2.2801

Abstract

ABSTRACT Increasing the elderly population is an indicator of the success of human development, but also raises highly complex problems in terms of health, economic and social aspects. Degenerative diseases are not only sustained by the elderly, but now many have occurred at productive age or middle age. This study aimed to determine differences in nutritional and middle age health status and elderly in Cipayung, Depok. The research used a cross-sectional study design. The location was in Posbindu Cipayung Health Center Depok, West Java and conducted in November 2016 to January 2017. The number of samples were 399 people with age> 45 years with simple random sampling. This study was followed by middle age (63.5%) and elderly (36.5%). The prevalence of overweight (77.2%), central obesity (77.2%), when glucose levels (16.5%) in midlle age were significantly higher than in the elderly. Meanwhile, the prevalence of hypertension was significantly higher in the elderly (82.9%) compared to middle age (70.1%). While cholesterol levels, uric acid, and stress levels there was no significant difference between middle age with the elderly. The negative health aspects in middle age were overweight, central obesity, and blood sugar levels, while in the elderly was hypertension. ABSTRAK Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia merupakan indikator keberhasilan pembangunan manusia, tetapi juga menimbulkan berbagai permasalahan yang sangat kompleks baik dari aspek kesehatan, ekonomi maupun sosial. Penyakit degeneratif tidak hanya dialami oleh lansia, tetapi saat ini sudah banyak terjadi pada usia produktif atau pralansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan status gizi dan kesehatan pada pralansia dan lansia di Cipayung, Depok. Desain penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang. Lokasi penelitian di posbindu wilayah kerja Puskesmas Cipayung Depok, Jawa Barat dan dilakukan pada bulan November 2016 sampai Januari 2017. Jumlah sampel penelitian sebanyak 399 orang dengan usia > 45 tahun dengan simple random sampling. Penelitian ini diikuti oleh pralansia (63,5%) dan lansia (36,5%). Prevalensi overweight (77,2%), obesitas sentral (77,2%), kadar gula darah sewaktu (16,5%) pada pralansia lebih tinggi signifikan dibandingkan pada lansia. Sementara, prevalensi hipertensi lebih tinggi signifikan pada lansia (82,9%) dibandingkan pra-lansia (70,1%). Sementara kadar kolesterol, asam urat, dan tingkat stres tidak ada perbedaan signifikan antara pralansia dengan lansia. Dapat disimpulkan bahwa aspek kesehatan yang negatif pada pralansia adalah overweight, obesitas sentral, dan kadar gula darah, sementara pada lansia adalah hipertensi.

Filter by Year

1971 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 47 No. 2 (2024): PGM VOL 47 NO 2 TAHUN 2024 Vol. 47 No. 1 (2024): PGM VOL 47 NO 1 TAHUN 2024 Vol. 46 No. 2 (2023): PGM VOL 46 NO 2 TAHUN 2023 Vol. 46 No. 1 (2023): PGM VOL 46 NO 1 TAHUN 2023 Vol. 45 No. 2 (2022): PGM VOL 45 NO 2 TAHUN 2022 Vol. 45 No. 1 (2022): PGM VOL 45 NO 1 TAHUN 2022 Vol. 44 No. 2 (2021): PGM VOL 44 NO 2 TAHUN 2021 Vol. 44 No. 1 (2021): PGM VOL 44 NO 1 TAHUN 2021 Vol. 43 No. 2 (2020): PGM VOL 43 NO 2 TAHUN 2020 Vol. 43 No. 1 (2020): PGM VOL 43 NO 1 TAHUN 2020 Vol. 42 No. 2 (2019): PGM VOL 42 NO 2 TAHUN 2019 Vol. 42 No. 1 (2019): PGM VOL 42 NO 1 TAHUN 2019 Vol. 41 No. 2 (2018): PGM VOL 41 NO 2 TAHUN 2018 Vol. 41 No. 1 (2018): PGM VOL 41 NO 1 TAHUN 2018 Vol. 40 No. 2 (2017) Vol. 40 No. 1 (2017) Vol. 39 No. 2 (2016) Vol. 39 No. 1 (2016) Vol. 38 No. 2 (2015) Vol. 38 No. 1 (2015) Vol. 37 No. 2 (2014) Vol. 37 No. 1 (2014) Vol. 36 No. 2 (2013) Vol. 36 No. 1 (2013) Vol. 35 No. 2 (2012) Vol. 35 No. 1 (2012) Vol. 34 No. 2 (2011) Vol. 34 No. 1 (2011) Vol. 33 No. 2 (2010) Vol. 33 No. 1 (2010) Vol. 32 No. 2 (2009) Vol. 32 No. 1 (2009) Vol. 31 No. 2 (2008) Vol. 31 No. 1 (2008) Vol. 30 No. 2 (2007) Vol. 30 No. 1 (2007) Vol. 29 No. 2 (2006): PGM VOL 29 NO 2 Desember Tahun 2006 Vol. 29 No. 1 (2006) Vol. 28 No. 2 (2005) Vol. 28 No. 1 (2005) Vol. 27 No. 2 (2004) Vol. 27 No. 1 (2004) Vol. 26 No. 2 (2003) Vol. 26 No. 1 (2003) Vol. 25 No. 2 (2002) Vol. 25 No. 1 (2002) JILID 24 (2001) JILID 23 (2000) JILID 22 (1999) JILID 21 (1998) JILID 20 (1997) JILID 19 (1996) JILID 18 (1995) JILID 17 (1994) JILID 16 (1993) JILID 15 (1992) JILID 14 (1991) JILID 13 (1990) JILID 12 (1989) JILID 11 (1988) JILID 10 (1987) JILID 9 (1986) JILID 8 (1985) Vol. 6 (1984): JILID 6 (1984) JILID 7 (1984) Vol. 5 (1982): JILID 5 (1982) JILID 4 (1980) JILID 3 (1973) JILID 2 (1972) JILID 1 (1971) More Issue