cover
Contact Name
Siti Tatmainul Qulub
Contact Email
tatmainulqulub@uinsa.ac.id
Phone
+6285290373455
Journal Mail Official
prodifalak@gmail.com
Editorial Address
Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Ampel, Jl. Jend. A. Yani No. 117 Surabaya 60237. Telp. (031) 8417198. E-mail: prodifalak@gmail.com
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Azimuth: Journal of Islamic Astronomy
ISSN : 27758206     EISSN : 27747719     DOI : https://doi.org/10.15642/azimuth.2020.1.1
Azimuth Journal of Islamic Astronomy merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Falak Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya. Jurnal ini terbit dua kali dalam satu tahun pada bulan Januari dan Juli. Jurnal ini memuat artikel tentang ilmu falak dan ilmu-ilmu terkait.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2021): Januari" : 5 Documents clear
Tinjauan Fiqih Waktu Salat terhadap Fenomena Pelaksanaan Puasa Ramadhan Warga Nganjuk yang Mengikuti Waktu Imsakiyah Bojonegoro Sam'un; Rohman, Holilur
Azimuth: Journal of Islamic Astronomy Vol. 2 No. 1 (2021): Januari
Publisher : Program Studi Ilmu Falak UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/azimuth.v2i1.1009

Abstract

Puasa merupakan salah satu kewajiban yang wajib dijalankan bagi setiap orang  Puasa dimulai saat terbitnya fajar sampai terbenanmnya Matahari. Selaras dengan itu, secara umum perhitungan mulai dan berakhirnya puasa, mengikuti jadwal imsakiyah waktu setempat. Namun, hal yang berbeda di Sembung, Margopatut, Sawahan, Nganjuk yang dalam melaksanakan puasa mengikuti wilayah Bojonegoro.  Berangkat dari kasus tersebut di atas, maka penelitian ini dirancang dengan tujuan untuk mengetahui tinjaun fiqih waktu salat terhadap kasus tersebut Guna mencapai tujuan tersebut, maka penelitian ini dirnacang dalam penelitian kualititatif dengan metode pengumpulan data dengan penelaahan dokumen–dokumen yang terkait dengan obyek penelitian, serta analisis data dengan menggunakan analisis deskriptif induktif. Berdasarkan penelitin yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa Pelaksanaan Puasa Warga Dusun Sembung Desa Margopatut Kabupaten Nganjuk Yang Mengikuti Waktu Imsakiyah Bojonegoro diperoleh bahwa waktu buka puasa selama satu tahun kalender masehi yang terdiri dari 365 hari terdapat 53% waktu maghrib lebih dahulu Bojonegoro 1 menit dibandingkan dengan wilayah Nganjuk, sedangkan 47% memperoleh hasil yang sama.
Tipologi Menghadap Kiblat KH. Ahmad Rifa’i Luthfi, Muhammad; Izzuddin , Ahmad
Azimuth: Journal of Islamic Astronomy Vol. 2 No. 1 (2021): Januari
Publisher : Program Studi Ilmu Falak UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/azimuth.v2i1.1556

Abstract

Perkembangan sains dan teknologi memudahkan masyarakat dalam mencari arah kiblat. Namun, definisi arah menghadap kiblat yang bervariatif secara fiqih mengakibatkan pemahaman masyarakat tentang penentuan arah kiblat ramai dipermasalahkan. Konsep menghadap kiblat yang diterangkan oleh KH Ahmad Rifai dalam kitab Absyar mengharuskan orang yang melaksanakan sholat untuk menghadap ke ‘ain al-ka’bah. Artikel ini membahas tentang konsep arah kiblat menurut KH Ahmad Rifa’i dalam kitab Absyar. Artikel ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Artikel ini menemukan bahwa konsep arah kiblat Ahmad Rifa’i tidak sesuai secara astronomis, arah kiblat Jawa berada di antara barat dan barat laut, sehingga bagian tengahnya adalah arah kiblat, yaitu 22° 30’, yang tidak sesuai dengan perhitungan astronomis jika disesuaikan dengan koordinat tempat. The development of science and technology makes it easier for people to find the direction of Qibla. However, the definition of the direction facing Qibla which varies in fiqh has resulted in people's understanding of determining the direction of Qibla is widely questioned. The concept of facing the Qibla explained by KH Ahmad Rifai in the book of Absyar requires the person performing the prayer to face 'ain al-ka'bah. This article discusses the concept of Qibla direction according to KH Ahmad Rifa'i in the book of Absyar. This article uses a descriptive-qualitative method. This article finds that Ahmad Rifa'i's concept of Qibla direction is not astronomically appropriate, Java's Qibla direction is between west and northwest, so the middle part is Qibla direction, which is 22° 30', which does not match astronomical calculations when adjusted to the coordinates of the place.
Persepsi Santriwati Pondok Pesantren Al Jihad Surabaya terhadap Arah Kiblat Sholikah, Nurus; Muna, Putri Nailul; Arifin, Rochmalia Faizah; Solikin, Agus
Azimuth: Journal of Islamic Astronomy Vol. 2 No. 1 (2021): Januari
Publisher : Program Studi Ilmu Falak UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/azimuth.v2i1.2207

Abstract

Abstrak: Salat merupakan ibadah penting bagi seluruh umat Islam di dunia. Agar dihukumi sah, salat memiliki beberapa syarat sah yang harus dipenuhi, salah satunya adalah menghadap kiblat. Sebagai topik utama dalam penulisan ini, arah kiblat sering kali dibingungkan oleh masyarakat Islam di Indonesia, baik dalam pengimplementasiannya pada tempat salat maupun pemahaman tiap individu terkait arah kiblat itu sendiri. Jika dalam pandangan ulama fiqih 4 mazhab terdapat 2 bagian tentang arah kiblat, yakni bagi orang yang dapat melihat Ka’bah langsung dan sebaliknya, sehingga memunculkan istilah ‘ainul Ka’bah dan jihatul Ka’bah. Begitu pula dengan adanya fatwa terbaru yang dikeluarkan MUI terkait arah kiblat, yang menunjukkan bahwa kiblat umat Islam Indonesia adalah mengarah ke Barat Laut, bukan Barat saja. Santriwati Ponpes Al Jihad Surabaya yang yang peneliti kumpulkan menjadi responden tentu memiliki persepsi yang berbeda antar satu dengan lainyya dalam beribadah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan wawancara mendalam yang hasilnya nanti sebagai data primer dan diikuti studi kepustakaan sebagai data sekunder. Sehingga, diperoleh hasil bahwa adanya perbedaan pandangan tentang arah kiblat dapat disebabkan oleh perbedaan latar belakang seseorang dalam menuntut ilmu sebelumnya, yakni baik yang belum pernah mondok maupun sudah pernah mondok.Kata kunci: persepsi, santriwati, arah kiblat Abstract: Prayer is an important worship for all Muslims in the world. In order to be considered valid, a prayer has several legal requirements that must be met, one of which is facing the Qibla. As the main topic in this paper, the direction of the Qibla is often confused by the Islamic community in Indonesia, both in its implementation at prayer places and in each individual's understanding of the direction of the Qibla itself. If in the view of the scholars of fiqh, 4 schools there are 2 parts regarding the direction of the Qibla, namely for people who can see the Kaaba directly and vice versa, thus giving rise to the terms 'ainul Ka'bah and jihatul Ka'bah. Likewise, with the latest fatwa issued by the MUI regarding the direction of the Qibla, which shows that the Qibla of Indonesian Muslims is directed to the Northwest, not only to the West. The Santriwati Islamic Boarding School of Al Jihad Surabaya, which the researchers collected as respondents, of course, have different perceptions of one another in worship. This study uses a qualitative method with an in-depth interview approach, whose results will be used as primary data, followed by a literature study as secondary data. So, the result is that there are differences in views about the direction of the Qibla, which can be caused by differences in someone's background in studying before, namely, those who have never attended school or have attended school.Keywords: Perception, female students, Qibla direction.  
Penggunaan Teleskop Ekuatorial Dalam Pengamatan Matahari Adji, Bayu Krisna; Frifana, Sherly Olyfiya; Musyafa’, Muhammad Alwi; Wulandari, Siska; Burika, Yuda; Sopwan, Novi
Azimuth: Journal of Islamic Astronomy Vol. 2 No. 1 (2021): Januari
Publisher : Program Studi Ilmu Falak UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/azimuth.v2i1.2219

Abstract

Abstrak: Tidak semua pengamatan benda-benda langit dapat dilakukan dengan mata telanjang. Karena itu dibutuhkan alat bantu dalam mengamati benda langit di antaranya dengan menggunakan teleskop. Artikel ini membahas tentang penggunaan teleskop ekuatorial dalam pengamatan matahari. Tujuan penelitian agar dapat mengetahui bagaimana proses pengamatan matahari menggunakan teleskop ekuatorial, dimana teleskop ini berbasis altitude dan azimuth. Metode yang digunakan dalam penulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan sumber data yang diperoleh melalui teknik studi kepustakaan atau library research. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan teleskop ekuatorial sangat mudah, tetapi diperlukan ketelitian serta kehati-hatian dalam penggunaanya seperti penyesuaian lintang tempat, arah serta ketinggian dan kemiringan teleskop, serta filter matahari agar dapat melindungi mata. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan teleskop harus sesuai dengan tata cara dan prosedur, serta filter untuk perlindungan mata dalam pengamatan matahari.Kata kunci: Sejarah teleskop, teleskop ekuatorial, pengamatan, matahari.Abstract: Not all observations of celestial bodies can be made with the naked eye. Therefore, it is necessary to assist in observing celestial bodies, including using a telescope. This article discusses the use of equatorial telescopes in solar observations. The purpose of the research is to find out how the process of observing the sun using an equatorial telescope works, where this telescope is based on altitude and azimuth. The method used in this writing is qualitative, with data sources obtained through library research techniques. The results show that the use of an equatorial telescope is very easy. Still, it requires precision and caution in its use, such as adjusting the latitude of the place, the direction and height and tilt of the telescope, and the sun filter to protect the eyes. Based on this, it can be concluded that the use of telescopes must be in accordance with procedures and filters for eye protection in sun observation.Keywords: History of telescopes, equatorial telescopes, observations, sun.  
Studi Analisis Penentuan Arah Kiblat Di Masjid Jami’ Manyar Gresik Musaffa, Akhmad Fikril; Cahyono, Slamet Nur; Insani, Eliyah Mulyasa; Adji, Gilang Bagas Putra; Syaifuddin, Muhammad; Damanhuri, Adi
Azimuth: Journal of Islamic Astronomy Vol. 2 No. 1 (2021): Januari
Publisher : Program Studi Ilmu Falak UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/azimuth.v2i1.2224

Abstract

Kiblat merupakan tempat titik berpusat umat islam diseluruh dunia sebagai tempat beribadah kepada allah. Bengunan tersebut merupakan bagunan suci yang letaknya dikota makkah. Dalam penentan arah kiblat terdapat dua macam yaitu: (1) memanfaatkan baying-bayang kiblat, dan (2) memanfaatkan utara sejati. Sedangkan apabila penentuan kiblat menggunakan bayang-banyang diantaranya, (3) menghitung arah kiblat suatu tempat, (b) menghitung saat kapan matahari membuat bayang-bayang setiap benda tegak mengarah persis ke ka’bah, (c) mengamati bayang-bayang benda terhadap benda tegak, (d) menfoto atau mendataan bayang-bayang tersebut. dalam penelitian ini penulis meneliti arah kiblat masjid jami’ manyar.

Page 1 of 1 | Total Record : 5