cover
Contact Name
Qoriatul Mahfudloh
Contact Email
qori@alqolam.ac.id
Phone
082139444254
Journal Mail Official
pusaka@alqolam.ac.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) Universitas Al-Qolam Malang Jalan Raya Putat Lor, Kec. Gondanglegi, Kab. Malang, Jawa Timur 65174, Indonesia.
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
JURNAL PUSAKA: Media Kajian dan Pemikiran Islam
Published by Universitas Al-Qolam
ISSN : 23392215     EISSN : 25804642     DOI : https://doi.org/10.35897/ps.v14i2
Jurnal Pusaka adalah jurnal ilmiah berkala yang diterbitkan oleh LP3M IAI Al-Qolam Malang. Jurnal Pusaka memiliki ruang lingkup kajian keislaman secara umum, meliputi Pendidikan Islam, Ilmu Kalam, Fikih dan Ushul Fikih, Tasawuf, Filsafat Islam, Ekonomi Islam dan Studi Kemasyarakatan di dunia Islam. Bidang tersebut kami harapkan dikaji dalam ruang lingkup dan konteks keindonesiaan dan heteregonitas budayanya. Jurnal Pusaka hanya menerima artikel yang sifatnya kajian ilmiah atau ulasan buku.
Articles 158 Documents
KETIKA PESANTREN BERJUMPA DENGAN INTERNET: SEBUAH REFLEKSI DALAM PERSPEKTIF CULTURAL LAG Adib, Muhammad
JURNAL PUSAKA : Media Kajian dan Pemikiran Islam Vol. 1 No. 1 (2013): Edisi 1
Publisher : LPPI Universitas Al-Qolam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35897/ps.v1i1.1

Abstract

Tulisan ini menfokuskan diri pada tantangan dan respon pesantren dalam era informasi. Berawal dari asumsi pesantren sebagai subkultur yang menyaring berbagai unsur luar yang tampak lebih dominan dalam rangka menjamin keutuhan Islam. Karakter seperti inilah yang menjadi alasan kenapa pesantren bisa eksis dalam kurun waktu yang sangat panjang. bisa disimpulkan bahwa pesantren saat ini sedang mengalami “kesenjangan budaya” (cultural) di saat berinteraksi dengan internet. Hal ini terbukti dari kompleksitas respon pesantren terhadap internet dan adanya arus digitalisasi pesantren yang susah dibendung.Kata Kunci: Pesantren, Cultural Lag, Internet.
PESANTREN DAN PERUBAHAN SOSIAL Lukman Hakim, Ahmad Atho'
JURNAL PUSAKA : Media Kajian dan Pemikiran Islam Vol. 1 No. 1 (2013): Edisi 1
Publisher : LPPI Universitas Al-Qolam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35897/ps.v1i1.2

Abstract

Fokus tulisan ini adalah: (1) menjelaskan keterkaitan pesantren dengan perubahan sosial  dalam perspektif normatif dan historisnya. Penjelasan normatif diharapkan memperjelas nilai-nlai dasar yang menjadi grand theory yang dihayati pesantren dan menjadi basis ideologi gerakannya. Sedangkan penjelasan historis dimaksudkan memaparkan implementasi nilai-nilai dalam ranah sosial. (2) menjelaskan tantangan-tantangan obyektif kontemporer yang dihadapi pesantren  beserta tawaran paradigma pendidikan pesantren untuk menjadikan pendidikan pesantren relevan dengan jaman sekarang dan nanti (sholih fi zaman al-hal wa mustaqbal).Tulisan Ini adalah kajian pustaka dan menjadikan literatur-literatur klasik yang nota bene menjadi tradisi pesantren salaf itu sendiri menjadi sumber literatur primer. Pembahasan awal adalah menguraikan nilai-nilai dasar yang menjadi grand theory dari pendidikan salaf  yang diambil dari tradisi mereka. Kemudian, akan disajikan kenyataan sejarah sosial pesantren untuk memotret implementasi nilai-nilai dasar itu dalam kenyataan sosialnya.Dalam ranah normatif dan kesejarahannya pesantren telah membuktikan diri menjadi pilar utama dalam perubahan sosial yang sekarang mengalami tantangan yang harus disikapi dengan tepat sesuai dengan peran-peran sosialnya.Kata Kunci: Pesantren, perubahan sosial.
REORIENTASI PEMAHAMAN PENDIDIKAN ISLAM DI SEKOLAH Qomari, Nur
JURNAL PUSAKA : Media Kajian dan Pemikiran Islam Vol. 1 No. 1 (2013): Edisi 1
Publisher : LPPI Universitas Al-Qolam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35897/ps.v1i1.3

Abstract

Pengembangan Pendidikan Agama Islam di Indonesia dibedakan menjadi empat; pesantren, majlis ta’lim, madrasah, dan lembaga akademik (perguruan tinggi). Masing-masing kelembagaan tersebut tentunya memiliki karakteristik sesuai dengan porfermen masing-masing. Pesantren merupakan lembaga yang mengembangkan ilmu-ilmu keislaman paling tua di Indonesia, yang hingga kini masih eksis sesuai dengan model pembelajaran kyai pengasuh yang sekaligud penguasa tunggal masing-masing dan tetap dibuthkan oleh masyarakat dimana pesantren berada. Model pembelajarannya mengikuti karakter kyai-nya dan kyai-nya mengikuti kyai-nya begitu seterusnya. Majlis ta’lim merupakan lembaga yang sifatnya non formal, dengan tujuan utama mensosialisasikan pendidikan agama Islam di tengah-tengah masysrakat. Sementara Madrasah merupakan lembaga pendidikan agama Islam yang berusaha mengkompromikan sistem pendidikan pesantren dan sistem pendidikan Nasional dengan misi utama memadukan pengetahuan agama dan pendidika umum yang notabena diasusmsikan bersumber dari negara barat. Sedangkan perguran tinggi Islam merupakan lembaga akademik yang misi utamanya mencetak intlektual muslim.Pendidikan Agama Islam saat ini di sekolah sedang menghadapi tantangan yang cukup serius, sebagaimana upaya pemerintah menyelenggarakan pendidikan agama pada semua jenis, jalur dan jenjang pendidikan yang semuanya itu mendapatkan apresiasi posisitif dari berbagai fihak. Orientasi pendidikan Agama Islam di Sekolah adalah untuk mencetak hamba Allah di muka bumi ini menjadi khalifah fi al-ardl sekaligus untuk lebih memberikan penajaman potensi fitrah manusia secara maksimal menuju kedewasaan intelektual (intellectual ability), kematangan emosional (emotional ejurity).Kata Kunci: Reorientasi,  Pendidikan Agama Islam, tarbiyah.
HIBRIDISASI BUDAYA JAWA: SEBUAH RENUNGAN DALAM PERSPEKTIF CULTURAL STUDIES Mubtadin, Ahmad
JURNAL PUSAKA : Media Kajian dan Pemikiran Islam Vol. 1 No. 1 (2013): Edisi 1
Publisher : LPPI Universitas Al-Qolam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35897/ps.v1i1.4

Abstract

Globalisasi dapat diartikan pula proses homogenisasi nilai. Tata nilai dari berbagai sumber berkontestasi, saling mengisi hingga terjadi hibridasi budaya, tidak terkecuali budaya Jawa. Berangkat dari kegelisahan inilah tulisan ini bertolak. Kegelisahan akan terpinggirkannya budaya Jawa di era boerderless ini membawa pada satu pertanyaan apakah budaya Jawa ini bisa survive atau justru akan tergeser oleh tata nilai baru yang mencerabut budaya Jawa dari pemiliknya? Serta bagaimana strategi kebudayaan yang harus menjadi perhatian agar budaya Jawa dapat melakukan harmonisasi dengan tata nilai yang lain sehingga menghasilkan manusia Jawa Baru yang tidak kehilangan kejawaannya sekaligus tidak teralienasi sebagai anggota manusia kesejagatan. Tulisan menawarkan pendidikan enkulturasi, yakni pendidikan yang perlu mengorientasikan pembentukan manusia yang berbudaya. Dengan strategi ini manusia Jawa perlu diperkenalkan cara pandang sampai kesenian sehingga tidak ada satu komponen ilmu pengetahuanpun yang terlepas dari budaya Jawa. Dengan cara itu proses hibridasi yang menghasilkan manusia Jawa Baru akan terwujud.Keyword: globalisasi, budaya Jawa, enkulturasi
UPAYA REFORMASI PENDIDIKAN MELALUI IMPLEMENTASI SCHOOL BASED MANAGEMENT DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN Rahmah, Noer
JURNAL PUSAKA : Media Kajian dan Pemikiran Islam Vol. 1 No. 1 (2013): Edisi 1
Publisher : LPPI Universitas Al-Qolam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35897/ps.v1i1.5

Abstract

Seiring dengan perkembangan zaman yang terus berubah menuju ke arah kemajuan, dalam era persaingan yang semakin bebas, lembaga pendidikan dituntut untuk dapat memberikan kualitas pendidikan yang bermutu karena lembaga pendidikan yang kurang bermutu lama kelamaan akan ditinggalkan oleh masyarakat dan tersingkir dengan sendirinya. Bentuk dari upaya peningkatan mutu pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan  menetapkan kebijakan Manajemen berbasis sekolah (School Based Management) yang merupakan salah satu isu yang kuat didorong ke permukaan dalam konteks implementasi gagasan reformasi pendidikan yang direfleksikan dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan  Nasional, sebagai kebijakan afirmatif terhadap UU No. 22 tahun 1999 yang mengotonomisasikan sektor pendidikan pada daerah. Agar tidak terjadi sistem yang sentralistik di pemerintah daerah, maka pemerintah mendorong otonomi itu diimplementasikan pada tingkat sekolah, yang melibatkan kepala sekolah , guru ,orang tua siswa, siswa dan masyarakat dalam proses pengambilan berbagai keputusan untuk meningkatkan mutu pendidikan yang ada di sekolah.Kata Kunci: Reformasi Pendidikan, School Based Management, Mutu Pendidikan.
MEMBANGUN METODOLOGI PENELITIAN MATAN HADITS Said, Abdurrahman
JURNAL PUSAKA : Media Kajian dan Pemikiran Islam Vol. 1 No. 1 (2013): Edisi 1
Publisher : LPPI Universitas Al-Qolam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35897/ps.v1i1.6

Abstract

Hadith as a search data is a complicated job and need for a sufficient knowledge. As a data, the Hadith is an object of study already had an established methodology building, except the validity of the Matan. Not many references are trying to organize in a concrete methodology, except for some general criteria. As the data semantically, Matan has two side studies; lafdzì and ma'nawì. This two associated with two criterion validity of the data Hadith; Syadz and 'illat. Syàdz research can only be done, if there are two or more conflicting data of hadith. And in illat conditions, the formulation of criteria for the data appear as “false hadith”, all of which are related to the condition of Matan.Keywords: Hadith Study, criterion validity, Matan of Hadith
POLITIK HUKUM PERKAWINAN DAN PERKAWINAN BEDA AGAMA DI INDONESIA Wahyuni, Sri
JURNAL PUSAKA : Media Kajian dan Pemikiran Islam Vol. 1 No. 2 (2014): Edisi 2
Publisher : LPPI Universitas Al-Qolam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35897/ps.v1i2.7

Abstract

This article discusses about the politics of Indonesia marriage law, especially relates to the law of interreligious marriage. Interreligious marriage always becomes a polemic. There is an argument says that it’s forbidden but there is another which says that there is a vacuum of law in the interreligious marriage, because it’s not regulated clearly. Furthermore, by observing to the politic of the Marriage law legislation, the legislator tended to prohibit the interreligious marriage, especially the Muslim community who regarded that the interreligious marriage is incompatible to the Islamic law. Keywords: marriage law, interreligious marriage, marriage law legislation
MENINGKATKAN PEMBELAJARAN BERPIDATO DENGAN METODE PEMODELAN DI KELAS IX-A MTS MIFTAHUL ULUM KANIGORO KECAMATAN PAGELARAN KABUPATEN MALANG Husni, Muhammad
JURNAL PUSAKA : Media Kajian dan Pemikiran Islam Vol. 1 No. 2 (2014): Edisi 2
Publisher : LPPI Universitas Al-Qolam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35897/ps.v1i2.8

Abstract

One form of conversational skills are addressed. In this study, using the method of modeling speech learning. The goal of improving the process and learning outcomes addressed by the modeling method. This research method is class action research that shaped the implementation cycle, and each cycle carried out the plan, action, observation, and reflection. Data obtained from the action observation and interview, then analyzed to determine the advantages and disadvantages. Qualitatively, addressing the learning process increased, and quantitatively, addressing the learning outcomes also increased.Key words: learning speech, modeling methods, mts
MAKNA DALAM DEIKSIS: TINJAUAN SEMANTIK-PRAGMATIK DAN MA’ĀNI Madarik, Muhammad
JURNAL PUSAKA : Media Kajian dan Pemikiran Islam Vol. 1 No. 2 (2014): Edisi 2
Publisher : LPPI Universitas Al-Qolam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35897/ps.v1i2.9

Abstract

Urgensitas pemahaman terhadap makna dalam sebuah ujaran begitu sangat terasa, baik pada skala teks maupun konteks. Sebab, sejatinya amanat dalam proses komunikasi harus terterjamahkan secara utuh (كافة), baik pada sisi bentuk (مبنى) maupun dalam dimensi isi (معنى), sehingga tujuan dan pesan dalam tuturan penutur kepada mitra tutur dapat tersampaikan. Hanya saja, penelusuruan makna ini tidak cukup cuma diraba lewat kajian semiotik, dan sintaksis belaka, namun harus beranjak lebih lebar kepada studi semantik, dan pragmatik atau dalam konteks bahasa Arab bukan saja gramatika Arab, dan morfologi Arab, tetapi harus lebih bergeser kepada kajian ma’āni. Salah satu hal nyata dalam struktur bahasa yang memerlukan analisa konteks di luar bentuk kebahasaan adalah gejala deiksis. Memahami acuan dalam deiksis dengan pendekatan gramatikalisasi unsur-unsur (feature) dari konteks ujaran (contex of uttereance) atau peristiwa tutur (speech event) merupakan langkah yang wajib niscaya. Makanya, perolehan refren deiksis sangat bergantung terhadap kepiawaian dan tingkat sensitifitas seseorang menangkap konteks yang melingkupi ujaran yang diucapkan. Pada tataran inilah, kajian semantik-pragmatik atau ma’āni (dalam bahasa Arab) dalam konteks eksplorasi makna pada deiksis menjadi bagian yang tidak boleh dipandang sebelah mata.  Kata kunci: makna, semantik-pragmatik, ma’āni, deiksis.  
PERLINDUNGAN HAK WARIS ANAK ANGKAT PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DI INDONESIA Taqrib, Mochammad
JURNAL PUSAKA : Media Kajian dan Pemikiran Islam Vol. 1 No. 2 (2014): Edisi 2
Publisher : LPPI Universitas Al-Qolam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35897/ps.v1i2.10

Abstract

In this age, Islam faces huge, complicated problems that demand creative responses especially through ijtihad and its methodologies. One pace has been progressively taken by the ulama (muslim scholars) and the umaro (government) in Indonesia, namely vesting inheritance right for adopted children by the mean of wasiyah wajibah which is regulated in article 209 of Islamic Law Compilation (KHI). Such right has never been regulated before in Classical Islamic law. According to classical Islamic law, adopted children have no inheritance right because they don’t have any cognation or marital relationship with the foster parents. Considering the contribution the adopted children may have to their foster parents, the ulama and the umara in Indonesia performed ijtihad and vested inheritance rights for adopted children in KHI.However, in the course of history, the article 209 could not bring justice into reality. Why? Because adopted child (or children) could only receive less inheritance than other heirs. This case may cause injustice when the adopted child has big contribution to the foster parents.Keywords: Adopted children, foster parents, KHI, justice

Page 1 of 16 | Total Record : 158