cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Perspektif Sosiologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 43 Documents
DIMENSI BUDAYA DAN PENYEBARAN PENYAKIT HIV/AIDS DI PERKUMPULAN KASIH RAKYAT Lydia Melissa Bukit
Perspektif Sosiologi Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.162 KB)

Abstract

HIV/AIDS merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi. Jumlah orang yang terkena penyakit HIV/AIDS untuk daerah kabupaten Karo mengalami kenaikan. Hal tersebut sangat memprihatinkan melihat masyarakat Tanah Karo yang masih sangat menjunjung tinggi budaya dan norma kesopanan yang berlaku dalam masyarakat tetapi masyarakatnya banyak yang terkena penyakit HIV/AIDS. Metode penelitian yang digunakan adalah peneltian eksplorasi dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada budaya-budaya dan kebiasaan masyarakat Karo yang mempengaruhi perilaku seksual mereka. Budaya Rebu pada tingkatan tertentu mengakibatkan sikap pembiaran terhadap anggota keluarga sendiri yang nantinya mempengaruhi pada minimnya pencegahan penyakit HIV/AIDS. Budaya Patriarkat yang  memprioritaskan kepentingan laki-laki, sehingga mengakibatkan peran perempuan semakin dikucilkan dan tidak bisa memiliki ruang untuk berpendapat termasuk dalam masalah kesehatan seksual Kata Kunci: HIV/AIDS, Budaya Karo, Patriarkat.
PENGETAHUAN DAN PEMANFAATAN METODE PENGOBATAN TRADISIONAL PADA MASYARAKAT DESA SUKA NALU KECAMATAN BARUS JAHE Salmen Sembiring
Perspektif Sosiologi Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.082 KB)

Abstract

Pengetahuan mengenai sakit dan penyakit dalam masyarakat dipengaruhi oleh nilai-nilai tradisional dan pengaruh perkembangan ilmu medis modern. Sakit disebut dalam dua kategori yaitu bangger dan sakit, bangger yaitu dimana penderitanya dalam kondisi tubuh mengalami disfungsi namun masih sanggup melakukan aktivitas, sedangkan sakit diartikan sebagai kondisi manusia yang mengalami disfungsi bagian tubuh tertentu namun penderitanya tidak mampu melakukan aktivitasnya dalam arti lain penderitanya membutuhkan bantuan orang lain dalam penyembuhannya. Konsep sakit dan penyakit juga banyak diketahui dari perkembangan ilmu kedokteran. Penyakit dalam masyarakat Suka Nalu terbagi ke dalam dua kategori berdasarkan penyebabnya yaitu penyakit naturalistik dan personalistik. Penyakit naturalistik yakni penyakit yang terjadi secara alami seperti perubahan cuaca, gigitan serangga, kecelakaan dan faktor alami lainnya. Sedangkan penyakit personalistik yaitu penyakit yang disebabkan oleh agen tertentu seperti masuknya roh tertentu, kutukan ataupun karena perbuatan orang lain (aji). 
ETOS KERJA DAN GAYA HIDUP PADA MASYARAKAT SLUM AREA ( Studi Kasus Di Gang Ksatria Kelurahan Sei Mati Kecamatan Medan Maimoon ) Yulia Hardianty
Perspektif Sosiologi Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.809 KB)

Abstract

yang ada di Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Maimoon. Mengenai etos kerja dan gaya hidup masyarakat pinggiran sungai Deli. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Pemukiman kumuh adalah suatu kawasan di perkotaan yang penduduknya hidup dalam kondisi sosial ekonomi yang rendah dan penduduknya berasal dari pedesaan. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan di gang Ksatria, Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Maimoon ditemukan bahwa masyarakat gang Ksatria kelurahan Sei Mati kecamatan Medan Maimoon memiliki penilaian kerja dihayati sebagai bentuk rutinitas hidup. Masyarakat bekerja untuk mencari makan, ungkapan ini jelas tumbuh pada masyarakat yang subsisten dan tradisional, yang artinya masyarakat hanya bekerja untuk memenuhi   kebutuhan dasar mereka, tanpa harus bekerja lebih keras untuk mencapai tingkat produktivitas yang lebih dari itu dan cepat merasa puas. Ini diperjelas dari penelitian bahwa rata‑rata penghasilanmasyarakat gang Ksatria yaitu Rp 500.000 sampai Rp 1.500.000/bulan. Pekerjaan yang paling dominan adalah sebagai buruh bangunan. Jam kerjanya tidak menentu. Terkadang bekerja, terkadang tidak, tergantung borongan. Waktu luang banyak digunakan di warung kopi dan tempat billiard. Sedangkan perempuan (lajang) maupun Ibu – ibunya bekerja sebagai penjahit keset kaki, penjual burger, dan ada sebagai penjaga toko yang sekaligus tukang pijat. plus plus pada malam harinya.  Gaya hidup masyarakat gang Ksatria menunjukkan sesuatu yang lebih. Cara mereka berpakaian, mempunyai asesoris / perhiasan, mempunyai barang elektronik dan perlengkapan rumah yang harganya sebenarnya tidak bisa terjangkau dengan pendapatan yang kecil dan sebagian besar dari masyarakat gang Ksatria memiliki pekerjaan sampingan yang illegal dan tidak halal. Kata kunci : gaya hidup, etos kerja, dan slum area
DAMPAK PEMBANGUNAN INDUSTRI TERHADAP DIVERSIFIKASI MATA PENCAHARIAN, INTERAKSI SOSIAL DAN NILAI PENDIDIKAN PADA MASYARAKAT PERDESAAN Ismi Andari
Perspektif Sosiologi Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.205 KB)

Abstract

Pembangunan merupakan suatu proses yang menunjukan adanya suatu kegiatan mencapai kondisi yang lebih baik di bandingkan kondisi sebelumnya. Kawasan industri baru di kembangkan pada awal 1970-an. Awalnya Pemerintah mengembangkan kawasan industri melalui Badan Usaha Milik Negara keseluruh Indonesia sehingga Provinsi Sumatera Utara juga menjadi bagian pembangunan tersebut. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian survei dengan metode pendekatan kuantitatif. Lokasi penelitian terletak di kawasan industri Desa Tanjung Selamat Kecamatan Percut Sei Tuan. Yang menjadi unit analisis dalam penelitian sebanyak 80 responden yang di tentukan dengan rumus dengan radius 100-500 meter dari lokasi industri. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa antara variabel dampak pembangunan industri dengan variabel diversifikasi mata pencaharian, interaksi sosial, dan nilai pendidikan terdapat korelasi yang bersifat positif dan negatif. Pembangunan industri yang terus berkembang telah mampu memberikan peluang kerja,mata pencaharian ganda dan juga perubahan pola pikir bagi masyarakat. Kata Kunci : Pembangunan Industri, Diversifikasi, Interaksi Sosial dan Nilai Sosial
ADAPTASI MASYARAKAT DALAM MERESPON PERUBAHAN FUNGSI HUTAN (Studi Deskriptif tentang Kehadiran Hutan Tanaman Industri PT.Toba Pulp Lestari di Desa Tapian Nauli III, Kec. Sipahutar, Kab.Tapanuli Utara) Prabu Tamba
Perspektif Sosiologi Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.423 KB)

Abstract

Pada awalnya keberadaan Hutan Tanaman Industri PT. Toba Pulp Lestari di desa Tapian Nauli III yang  merupakan salah satu industrialisasi yang masuk ke daerah ini disambut baik oleh masyarakat. Dengan harapan dapat memberikan kemajuan, menyediakan lapangan bagi penduduk setempat. Dari hasil wawancara dengan para informan pada penelitian di lapangan dapat disimpulkan adapun adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat tersebut adalah, adaptasi masyarakat terhadap bidang pekerjaan, adaptasi masyarakat terhadap keterbatasan lahan, hubungan (interaksi sosial) sesama masyarakat dan, kondisi nilai sosial, norma sosial, dan adat-istiadat.
PEMETAAN KONFLIK NELAYAN TRADISIONAL DENGAN NELAYAN PUKAT TRAWL MENGGUNAKAN MODEL SIPABIO Rudyanto Rudyanto
Perspektif Sosiologi Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan konflik antara nelayan tradisional dengan nelayan pukat trawl dengan menggunakan model SIPABIO ( Sumber, Isu, Pihak, Sikap, Perilaku, Intervensi, Hasil Akhir). Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode penelitan untuk menggambarkan atau memetakan konflik antar nelayan di pesisir Tanjung Balai Asahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor utama penyebab konflik di antara nelayan tradisional dengan nelayan pukat trawl dikarenakan 1)berkurangnya hasil tangkapan nelayan tradisional, 2)pengrusakan lingkungan oleh nelayan trawl 3)kesenjangan antar nelayan sehingga  menimbulkan rasa iri, 4)adanya oknum yang memprovokasi nelayan tradisional, 5)kurangnya fungsi pengawasan dan tindakan dari lembaga pemerintah dan lembaga non pemerintah dalam mengatasi penyebab konflik.
EKSPRESI IDENTITAS ETNIS MELALUI ASOSIASI ETNIS (Studi Kasus Organisasi “HIKMA” di Kelurahan Bandar Selamat Kecamatan Medan Tembung) Ernita Yanthi Siregar
Perspektif Sosiologi Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemajemukan masyarakat yang tinggal di suatu wilayah akan mengakibatkan terjadinya interaksi-interaksi sosial antar individu-individu dengan latar belakang yang berbeda. Sehingga memungkinkan terjadinya perubahan ataupun pergeseran pada identitas etnis individu baik dari segi adat istiadat, nilai sosial ataupun tindakan atau kebiasaan dari kampung halaman. Sehingga diperlukan sebuah wadah sebagai penguatan dan pelestarian identitas etnis, sebab keberadaan suatu masyarakat di suatu daerah diakui dan semakin dikenal karena adanya organisasi sosial masyarakat, terutama masyarakat perantau. HIKMA merupakan salah satu organisasi masyarakat yang berbasis etnis dan dijadikan sebagai wadah untuk mengekspresikan identitas Etnis Mandailing. Maka tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui ekspresi identitas etnis melalui asosiasi etnis dan  strategi sosial budaya dan politik Masyarakat Mandailing dalam mempertahankan identitas etnis di Kelurahan Bandar Selamat Kecamatan Medan Tembung. Jenis penelitian ini adalah penelitian studi kasus dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini adalah Eksprei identitas etnis melalui asosiasi etnis dapat dilihat dari sosialisasi dan penggunaan Bahasa Mandailing baik di HIKMA ataupun di kelurahan tempat tinggal, penggunaan adat istiadat baik acara suka duka, suka cita dan juga kelahiran anak, serta penggunaan marga. Selain hal tersebut strategi sosial yaitu terdapat nilai-nilai sosial Masyarakat  Mandailing yaitu poda na lima. Sedangkan strategi politik  Etnis Mandailing yaitu ada 9 nilai utama yang menjadi pegangan dan sebagai pemberi arah orientasi pada kehidupan Masyarakat Mandailing yaitu Kekerabatan, Religi, Hagabeon (banyak keturunan), Hamajuon (kemajuan), Hasangapon (terpandang), Hamoraon (keteladanan perilaku, sopan santun), Uhum (hukum), Pengayoman (menghargai nilai-nilai kebenaran) dan kelola konflik (konflik sebagai aib). Kata Kunci: Identitas Etnis, Ekspresi, Asosiasi, HIKMA
KEBERADAAN PEMELUK DAN PENERAPAN NILAI-NILAI ALIRAN KEPERCAYAAN PEMENA DI DESA PERGENDANGEN, KABUPATEN KARO Terangta Tarigan
Perspektif Sosiologi Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

bentuk kepercayaan lokal. Kepercayaan lokal merupakan kepercayaan asli dari setiap daerah sebelum masuknya agama-agama resmi ke Indonesia. Demikian halnya dengan kepercayaan tradisional pada masyarakat Karo yang dinamakan Pemena. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan serta penerapan nilai-nilai aliran kepercayaan Pemena pada masyarakat Karo terkhusus pada masyarakat Desa Pergendangen. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan datanya dilakukan dengan cara observasi secara langsung, melakukan wawancara, dan didukung dengan berbagai literatur. Hasil data yang ditemukan dilapangan memperlihatkan bahwa pemeluk aliran Pemena masih tetap ada dan masih menjalankan beberapa nilai-nilai kepercayaannya, namun sudah sangat berbeda dengan yang dulu. Hal ini dikarenakan kuantitas pemeluknya yang berakibat pada kualitas religiusnya yang semakin menurun karena hanya dilakukan secara pribadi. Penelitian ini merupakan penelitian pertama untuk kepercayaan Pemena, sehingga masih membutuhkan untuk penelitian lebih lanjut terkait kepercayaan Pemena. (Kata kunci: kepercayaan tradisional, keberadaan, nilai)
KESERASIAN SOSIAL DALAM MASYARAKAT “BERBILANG KAUM” DI KOTA SIBOLGA SAFRILLAH safrillah
Perspektif Sosiologi Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.919 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk melihat sejauh mana implementasi konstruksi keragaman masyarakat Indonesia di Kota Sibolga yang dikenal sebagai “Negeri Berbilang Kaum”.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan, bahasa pesisir sebagai bahasa pemersatu diantara etnis yang berbeda, sehingga keberadaan bahasa pesisir tersebut dapat mendukung terciptanya masyarakat yang serasi dan rukun. Kondisi keserasian sosial ini juga terlihat dari adanya Adat Sumando sebagai adat pemersatu dalam setiap perkawinan yang dilakukan. Adat Sumando adalah pertambahan atau percampuran satu keluarga dengan keluarga lain yang seagama, yang diikat dengan tali pernikahan menurut hukum Islam dan disahkan dengan suatu acara adat Pesisir. Adat ini merupakan campuran dari hukum Islam, adat Minangkabau, dan adat Batak. Keberadaan Adat Sumando inilah yang membuat kota ini menjadi lebih unik, dimana ketika etnis Batak yang sudah masuk ke dalam Adat Sumando yang notabene beragama Islam, maka marga yang ada tetap dipakai. Hal inilah membuat masyarakat yang bermarga Batak tetapi beretnis Pesisir. Dari hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa ada beberapa faktor pendukung terciptanya keserasian sosial dalam masyarakat multi etnis di Kota Sibolga sebagai berikut: Pertama; faktor historis, dimana sejak berdirinya kota ini telah ramai di kunjungi oleh pendatang dari berbagai daerah dan beragam etnis yang terjalin dalam interaksi sosial yang harmonis sehingga menjadikan kota ini sebagai kota yang dinamis dan terbuka serta menjadi kota yang mapan dalam mengelola masyarakat yang harmonis dalam keberagaman (harmony in diversity). Kedua; faktor adaptasi, dimana kemampuan masyarakat yang tinggal di kota ini dalam menguasai bahasa Pesisir dalam berinteraksi sehari-hari, sehingga kemampuan adaptif inilah yang membuat masyarakat hidup serasi dan rukun. Ketiga; faktor demografi dan pola pemukiman, dimana dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi di kota ini mengakibatkan pola pemukiman membaur yang cenderung meniadakan garis pemisah (border line) atau mereduksi komunikasi yang terbatas, sehingga dapat meningkatkan interaksi dan kontak sosial yang semakin intens. Kata Kunci : Keserasian Sosial, Adat Sumando, Masyarakat Multi Etnis, Bahasa Pesisir
STRATEGI MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN PESANTREN BERBASIS PEMBERDAYAAN SANTRI Syahid Ismail
Perspektif Sosiologi Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.668 KB)

Abstract

Model pendidikan Barat yang diadopsi pemerintah menjadi pendidikan formal di Indonesia telah memberikan tantangan dan warna terhadap perkembangan pondok pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode pemberdayaan yang berbasis santri, faktor pendorong dan penghambatnya, serta bentuk program dan manfaatnya bagi kemandirian Pesantren Hidayatullah Medan dalam menghadapi tantangan yang ada. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa pesantren mengembangkan beberapa metode pemberdayaan berdasarkan kreativitasnya  yaitu: Dewan Santri, mewadahi potensi, pengabdian, kurikulum khas, dan kordinasi buttom up. Pemberdayaan dilakukan karena tuntutan pendidikan, ekonomi, dan dakwah. Program tersebut mengalami beberapa hambatan yaitu: SDM, sarana prasarana, dan dana. Namun juga sudah dirasakan manfaatnya untuk kemandirian pesantren, santri, dan masyarakat. Pernah menjuarai ketahanan pangan pesantren tahun 2009, kini mengalami penurunan karena pergeseran prioritas program lebih fokus untuk memanfaatkan dana pemerintah. Kata Kunci: Pondok Pesantren, Pemberdayaan, Pendidikan