cover
Contact Name
Abdul Qawwiy Nasrun
Contact Email
anabdulqawwiy@gmail.com
Phone
+6281241972604
Journal Mail Official
anabdulqawwiy@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jl. Laksda Adisucipto, Yogyakarta, 55821
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Moderasi
ISSN : 28092376     EISSN : 2809221X     DOI : 10.14421
Jurnal Moderasi: The Journal of Ushuluddin, Islamic Thought, and Muslim Societies merupakan jurnal akademik yang didedikasikan untuk menerbitkan artikel-artikel akademik berkualitas peneliti muda (mahasiswa S1, S2, dan S3). Jurnal ini dikeluarkan oleh Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Redaksi menerima tulisan di bidang ilmu-ilmu Ushuluddin, meliputi Akidah dan Filsafat Islam, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Ilmu Hadis, Sosiologi Agama, Antropologi Agama, Studi Agama-agama, dan Politik Islam dan Muslim Societies.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 68 Documents
Pendekatan Sains dalam Kajian Hadis menurut Syamsul Anwar: Interkoneksi Hadis Haji Wada dan Data Astronomi Carla Adiba
Jurnal Moderasi Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.%x

Abstract

Abstract This study analyzes the interconnectedness of the science approach in the study of hadith according to Syamsul Anwar with a focus on the reconstruction of the chronology of the Farewell Hajj. The method used is qualitative descriptive-analytical through the collection of hadith related to the Prophet's departure and verification with astronomical data of Zulkaidah-Zulhijah 10 H, then analyzing the results of Syamsul Anwar's thoughts through the framework of Karl Mannheim's sociology of knowledge. This research finds that Syamsul Anwar's principle of integration-interconnection, which dialogues the science of hadith with astronomy, is not a thought that emerged in a vacuum, but rather a product of thought constructed by his social position, his intellectual background, and his attachment to the generation and culture (Generationszusammenhang) of Muhammadiyah intellectuals.   Abstrak Penelitian ini menganalisis pendekatan interkoneksi sains dalam kajian hadis pandangan Syamsul Anwar, berfokus pada rekonstruksi kronologi Haji Wada’. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-analitis melalui pengumpulan hadis terkait keberangkatan Nabi dan verifikasi dengan data astronomi Zulkaidah–Zulhijah 10 H. Pembacaan terhadap pemikiran Syamsul Anwar melalui kerangka sosiologi pengetahuan Karl Mannheim. Penelitian ini mendapati prinsip integrasi-interkoneksi Syamsul Anwar, yang mendialogkan ilmu hadis dengan astronomi, bukanlah pemikiran yang muncul dalam ruang hampa, melainkan produk pemikiran yang dibangun oleh posisi sosialnya, latar belakang intelektualnya, dan keterikatannya pada generasi dan budaya (Generationszusammenhang) para intelektual Muhammadiyah.  
Dari Teks ke Layar: Pergeseran Media Penafsiran M. Quraish Shihab atas Makna Kafir dalam Tafsīr Al-Mishbāh dan Kajian Tafsir Digital di Youtube Dilla Azhara; Imas Lu'ul Jannah
Jurnal Moderasi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.%x

Abstract

This article aims to examine how the shift from text-based to digitally mediated oral exegesis shapes the construction and contextual emphasis of the term kafir in M. Quraish Shihab's interpretation. Employing a qualitative comparative method, the study analyzes Shihab's interpretation of kafir in Tafsīr Al-Mishbāh alongside his exegetical remarks delivered as a resource person in YouTube-based tafsir sessions, focusing on Q.S. Āli 'Imrān: 28, Al-Baqarah: 6–7, Al-Kahfi: 29, Ibrāhīm: 7, and Al-Kāfirūn: 1–6, read through Walter Ong's concept of secondary orality and Stig Hjarvard's theory of media mediatization. The findings reveal a clear contrast in interpretive style: Tafsīr Al-Mishbāh presents meaning systematically and argumentatively through dense scholarly apparatus, whereas the YouTube sessions favor repetition, localized illustrations, and a dialogical structure shaped by the presence of an interviewer and an anticipated audience, consistently stripped of the technical scholarly elaboration found in the text. By tracing a single mufassir's interpretation across textual and digital media, this study offers a closer view of how medium characteristics construct and emphasize religious meaning without altering its underlying theological substance.Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana pergeseran dari penafsiran berbasis teks menuju penafsiran lisan yang termediasi digital membentuk konstruksi dan penekanan kontekstual atas istilah kafir dalam penafsiran M. Quraish Shihab. Dengan menggunakan metode kualitatif komparatif, penelitian ini menganalisis penafsiran Shihab atas kafirdalam Tafsīr Al-Mishbāh serta pernyataan-pernyataan penafsirannya sebagai narasumber dalam kajian tafsir berbasis YouTube, dengan fokus pada Q.S. Āli 'Imrān: 28, Al-Baqarah: 6–7, Al-Kahfi: 29, Ibrāhīm: 7, dan Al-Kāfirūn: 1–6, dibaca melalui konsep oralitas sekunder Walter Ong dan teori mediatisasi agama Stig Hjarvard. Temuan penelitian menunjukkan kontras yang jelas dalam gaya penafsiran: Tafsīr Al-Mishbāh menyajikan makna secara sistematis dan argumentatif melalui aparatus keilmuan yang padat, sementara kajian di YouTube lebih menonjolkan repetisi, ilustrasi yang dilokalkan, dan struktur dialogis yang dibentuk oleh kehadiran pewawancara serta antisipasi terhadap audiens, yang secara konsisten melepaskan elaborasi keilmuan teknis yang terdapat dalam teks. Dengan menelusuri penafsiran seorang mufasir tunggal melintasi media tekstual dan digital, penelitian ini menawarkan gambaran yang lebih dekat tentang bagaimana karakteristik medium mengonstruksi dan menekankan makna keagamaan tanpa mengubah substansi teologisnya.
Moderasi Beragama di Ruang Digital: Analisis Kritis atas Akun Instagram @kemenag_ri dalam Lingkungan Siber Islam Reziq Mahfuz.Ma.Iballa; Muhammad Rikza Muktafa
Jurnal Moderasi Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2024.42.05

Abstract

This article examines how the Instagram account @kemenag_ri represents and disseminates religious moderation narratives within Indonesia's contemporary cyber-Islamic environment. The central issue is the gap between the religious moderation policy mandate formally established by the Ministry of Religious Affairs since 2019 and the communicative practices carried out through its official social media channels. Using a qualitative approach combining netnography and content analysis, this study analyzes 1,442 posts published by @kemenag_ri between January 1, 2023 and November 4, 2024, focusing on 57 posts tagged #ModerasiBeragama as the main unit of analysis. The analytical framework draws on Gary R. Bunt’s Cyber-Islamic Environment concept and the four official religious moderation indicators: national commitment, tolerance, anti-violence, and accommodation of local traditions. The study finds that religious moderation narratives have yet to occupy a dominant position in the account’s digital communication. The hashtag #ModerasiBeragama appeared in only 57 posts (around 4 percent of the total), far fewer than hashtags centered on the Minister's personal figure, which appeared in 116 posts. More than half of the tagged posts contained no substantive representation of the four indicators, suggesting that the hashtag functions more as a programmatic label than a content marker. Among indicators that did appear, tolerance dominated (26 posts), while anti-violence and national commitment each appeared in only 9 posts. Audience engagement further shows that comment sections were dominated by pragmatic institutional inquiries rather than substantive discussion of moderation values. These findings indicate that digital religious authority is not automatic, but earned through meaningful and relevant communication. Artikel ini mengkaji bagaimana akun Instagram @kemenag_ri merepresentasikan dan mendiseminasikan narasi moderasi beragama dalam lingkungan siber Islam Indonesia kontemporer. Isu yang menjadi titik tolak penelitian ini adalah kesenjangan antara mandat kebijakan moderasi beragama yang telah diresmikan Kementerian Agama sejak 2019 dengan praktik komunikasi digital yang dijalankan melalui kanal media sosial resminya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis netnografi dan analisis konten, penelitian ini menganalisis seluruh 1.442 unggahan akun @kemenag_ri sepanjang 1 Januari 2023 hingga 4 November 2024, dengan fokus pada 57 unggahan bertagar #ModerasiBeragama sebagai unit analisis utama. Kerangka analitis yang digunakan adalah konsep Cyber-Islamic Environment Gary R. Bunt dan empat indikator moderasi beragama resmi Kementerian Agama, yakni komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi lokal. Penelitian ini menemukan bahwa narasi moderasi beragama belum menempati posisi dominan dalam pola komunikasi digital akun @kemenag_ri. Tagar #ModerasiBeragama hanya muncul dalam 57 unggahan (sekitar 4 persen dari keseluruhan), jauh di bawah tagar berbasis figur Menteri Agama yang tercatat dalam 116 unggahan. Lebih dari separuh unggahan bertagar #ModerasiBeragama tidak memuat representasi substantif atas keempat indikator moderasi beragama, sehingga tagar tersebut lebih berfungsi sebagai penanda identitas program daripada penanda tema konten. Di antara indikator yang muncul, toleransi mendominasi representasi (26 unggahan), sementara anti-kekerasan dan komitmen kebangsaan masing-masing hanya hadir dalam 9 unggahan. Pola keterlibatan audiens pun menunjukkan bahwa kolom komentar pada postingan bertagar tersebut lebih diramaikan oleh pertanyaan seputar isu pragmatis kelembagaan daripada diskusi substantif tentang nilai-nilai moderasi beragama. Temuan ini memperlihatkan bahwa legitimasi otoritas keagamaan negara di ruang digital tidak terbentuk secara otomatis, melainkan bergantung pada kemampuan institusi membangun komunikasi yang relevan, reflektif, dan bermakna bagi audiens digitalnya.
Hermeneutika Hayāh: Fusi Horizon Makna Kehidupan dalam Tafsir Ibn Kathīr dan Prinsip Hak Hidup Universal Ahmad Najih Nabhan ‘Amar
Jurnal Moderasi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2026.62.02

Abstract

Abstract This study examines the conceptual tension between the understanding of qiṣāṣ in classical exegesis, which is often positioned as a legitimization of capital punishment for the sake of preserving life, and the modern human rights paradigm that places the right to life as a non-derogable principle. Using the philosophical hermeneutics of Hans-Georg Gadamer, this study  dialogues the horizon of Ibn Kathīr's interpretation with the context of penal code reform in Indonesia. The findings show that the meaning of ḥayāh in QS. al-Baqarah: 179 should not be narrowed down solely to physical survival. Through the process of fusion of horizons, the principle of ḥifẓ al-nafs in Ibn Kathīr's exegesis meets the spirit of contemporary national law, which places capital punishment as a last resort with a probationary period. Ibn Kathīr's emphasis on forgiveness and ḍiyyah (blood money) also finds actual relevance in the restorative justice approach. This study concludes that qiṣāṣ can be constructively reinterpreted as an instrument for social restoration and offender rehabilitation, without itself being detached from universal human values.   Abstrak Penelitian ini mengkaji ketegangan konsep antara pemahaman qiṣāṣ dalam tafsir klasik yang kerap diposisikan sebagai legitimasi hukuman mati demi menjaga keberlangsungan hidup, dan paradigma Hak Asasi Manusia (HAM) modern yang menempatkan hak hidup sebagai prinsip yang tidak dapat dikurangi. Dengan pendekatan hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer, kajian ini mendialogkan cakrawala penafsiran Ibnu Katsir dengan konteks pembaruan hukum pidana di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa makna ḥayāh dalam QS. Al-Baqarah: 179 tidak seharusnya dipersempit pada perekaman fisik semata. Melalui proses peleburan cakrawala , organisasi ḥifẓ al-nafs dalam tafsir Ibnu Katsir bertemu dengan semangat hukum nasional kontemporer yang menempatkan hukuman mati sebagai alternatif terakhir dengan masa percobaan. Penekanan Ibnu Katsir pada nilai pemaafan dan qiṣāṣ  juga menemukan relevansi aktual dalam pendekatan restorative justice . Penelitian ini menyimpulkan bahwa qiṣāṣ dapat memperbarui ulang secara konstruktif sebagai instrumen pemulihan sosial dan rehabilitasi pelaku, tanpa melepaskan diri dari nilai-nilai kemanusiaan universal
Worldly Love from the Perspective of the Al-Qur’an : A Thematic Analysis of the Terms Ḥubb Al-Dunyā, Al-‘Ājilah, Zīnah, and La‘ib Wa Lahwu Zahratul Farhah
Jurnal Moderasi Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2025.51.06

Abstract

This study aims to examine the concept of worldly love in the Al-Qur’an through an analysis of the terms ḥubb al-dunyā, al-‘ājilah, zīnah, and la‘ib wa lahwu, in order to formulate relevant ethical guidelines for Muslims in the modern era. The novelty of this study lies in its specific focus on certain terms that reflect love of the world, unlike previous studies that tended to discuss the world in general without specifying the concept of love of the world but rather focused more on the world itself. The method used is a literature review combining thematic (mauḍū’ī) and linguistic-analytical (bayānī) approaches. The results of the study classify these terms into explicit (manṭūq) and implicit (mafhūm) categories. From a bayānī perspective, the term ḥubb al-dunyā explicitly refers to the world as the object of excessive love, whereas al-‘ājilah functions as an attribute (waṣf) that emphasizes the world’s transient and fleeting nature. Implicitly, zīnah refers to objects of adornment and material luxury, while la‘ib wa lahwu describe the distracting nature of worldly life. In the contemporary context, the interpretation of love for the world in modern life has highly relevant implications for confronting the tide of materialism and maintaining a balance between material and spiritual achievements; the haste in pursuing worldly pleasures conflicts with preparation for the hereafter, while an optimistic attitude toward making the most of the world is essential Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep cinta dunia dalam Al-Al-Qur’an melalui analisis terhadap lafaz ḥubb al-dunyā, al-‘ājilah, zīnah, dan la‘ib wa lahwu, guna merumuskan panduan etis yang relevan bagi umat Islam di era modern.Kebaruan penelitian ini terletak pada spesifikasi kajian terhadap lafaz-lafaz tertentu yang mencerminkan cinta dunia, berbeda dari penelitian terdahulu yang cenderung membahas dunia secara umum tanpa mengspesifikkan konsep cinta dunia. Tetapi lebih banyak membahas tentang dunia. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan kombinasi pendekatan tematik (mauḍū’ī) dan linguistik-analitis (bayānī). Hasil penelitian mengklasifikasikan lafaz-lafaz tersebut ke dalam kategori eksplisit (manṭūq) dan implisit (mafhūm). Secara bayānī, lafaz ḥubb al-dunyā secara eksplisit menunjuk dunia sebagai objek kecintaan yang berlebihan, sedangkan al-‘ājilah berfungsi sebagai sifat (waṣf) yang menekankan karakter dunia yang fana dan cepat berlalu. Secara implisit, zīnah merujuk pada objek perhiasan dan kemewahan materi, sementara la‘ib wa lahwu menggambarkan sifat kehidupan duniawi yang melalaikan. Dalam konteks kekinian, Penafsiran cinta dunia dalam kehidupan modern memberikan implikasi yang sangat relevan untuk menghadapi arus materialisme dan menjaga keseimbangan antara pencapaian material dan spiritual, ketergesaan dalam mengejar kenikmatan duniawi bertentangan dengan persiapan akhirat dan bersikap optimisme dalam memanfaatkan dunia.
Diversitas Agama dan Implikasinya Terhadap Demokrasi: Studi Komparatif Aceh dan Yogyakarta Elicia Eprianda
Jurnal Moderasi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.%x

Abstract

This article examines the relationship between religious diversity and local democratic practice in Indonesia through a comparative study of Aceh and Yogyakarta. In a religious society, democracy is shaped by formal institutions but also by moral configurations and power relations at the local level. The study explains how variation in religious governance produces different forms of democracy while yielding similar democratic consequences. Using a comparative qualitative case-study approach, the article combines policy analysis, literature review, and secondary data on civil liberties and minority experiences. The theoretical framework of local political settlement explains how political actors, religious authorities, and civil society construct moral-political compromises that sustain the legitimacy of local power. The results show that although Aceh formalizes religion through sharia regulations while Yogyakarta relies on cultural mechanisms and informal social pressure, both regions produce a pattern of moralistic democracy marked by limited civil liberties and moral pressure on minority groups. These findings confirm that religious diversity does not automatically strengthen substantive democracy but is negotiated within boundaries set by local political settlements. The article contributes to the study of Indonesian democracy by showing the importance of reading democracy as a mosaic of local variations rather than a homogeneous national experience. Abstrak Artikel ini menganalisis hubungan antara diversitas agama dan praktik demokrasi lokal di Indonesia melalui studi komparatif Aceh dan Yogyakarta. Dalam masyarakat religius, demokrasi tidak hanya ditentukan oleh institusi formal, tetapi juga oleh konfigurasi moral dan relasi kekuasaan yang berkembang di tingkat lokal. Penelitian ini menjelaskan bagaimana variasi pengelolaan agama menghasilkan bentuk demokrasi yang berbeda namun memperlihatkan konsekuensi demokratis yang serupa. Dengan pendekatan kualitatif komparatif berbasis studi kasus, artikel ini menggabungkan analisis kebijakan, kajian literatur, serta data sekunder mengenai kebebasan sipil dan pengalaman kelompok minoritas. Kerangka teoritik kesepakatan politik lokal digunakan untuk memahami bagaimana aktor politik, otoritas keagamaan, dan masyarakat sipil membangun kompromi moral-politik guna mempertahankan legitimasi kekuasaan lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Aceh menempuh jalur formalisasi agama melalui regulasi syariah, sementara Yogyakarta mengandalkan mekanisme kultural dan tekanan sosial informal, kedua daerah menghasilkan pola demokrasi moralistik yang serupa, ditandai oleh terbatasnya kebebasan sipil dan munculnya tekanan moral terhadap kelompok minoritas. Temuan ini menegaskan bahwa diversitas agama tidak secara otomatis memperkuat demokrasi substantif, melainkan dinegosiasikan dalam batas-batas yang ditentukan oleh kesepakatan politik lokal. Artikel ini berkontribusi pada kajian demokrasi Indonesia dengan menunjukkan pentingnya membaca demokrasi sebagai mosaik variasi lokal, bukan sebagai pengalaman nasional yang homogen.
Implementasi Moderasi Beragama dalam Perspektif Wasathiyyah pada Masyarakat Multikultural di Sangatta Utara Muhammad Alfian; Ramdanil Mubarok; Muhammad Khoirun Nizam
Jurnal Moderasi Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2024.42.06

Abstract

This study aims to examine how religious moderation is understood and practiced from a wasathiyyah perspective within the multicultural community of RT 16, Jalan Teluk Rawa, North Sangatta, East Kutai Regency. The study employed a descriptive qualitative approach to explore community members’ understandings, practices, supporting factors, and challenges related to religious moderation. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation involving religious leaders, the head of RT 16, and community members as research informants. The findings reveal that religious moderation is generally understood as a balanced religious attitude characterized by tolerance, respect for differences, and rejection of extremism and radicalism. This understanding is reflected in everyday practices through interfaith mutual cooperation, community deliberation, joint social activities, and inclusive interactions among people of different religious backgrounds. The implementation of religious moderation is strengthened by the active role of religious leaders, a strong culture of mutual cooperation, government support, and inclusive religious activities. However, its sustainability is challenged by the spread of radical narratives through social media, limited digital literacy among some community members, and the influence of identity politics. Overall, the findings demonstrate that wasathiyyah principles provide an important normative foundation for strengthening social cohesion and sustaining peaceful interreligious relations within a multicultural community. The study contributes to the understanding of how wasathiyyah principles can be translated into everyday social practices to foster religious moderation and strengthen community resilience against divisive influences. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana moderasi beragama dipahami dan dipraktikkan dari perspektif wasathiyyah dalam komunitas multikultural RT 16, Jalan Teluk Rawa, Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengeksplorasi pemahaman, praktik, faktor pendukung, dan tantangan masyarakat dalam menerapkan moderasi beragama. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan melibatkan tokoh agama, ketua RT 16, dan anggota masyarakat sebagai informan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moderasi beragama pada umumnya dipahami sebagai sikap keberagamaan yang seimbang, ditandai dengan toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, serta penolakan terhadap ekstremisme dan radikalisme. Pemahaman tersebut diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari melalui kegiatan gotong royong lintas agama, musyawarah masyarakat, kegiatan sosial bersama, dan interaksi inklusif antarpemeluk agama yang berbeda. Penerapan moderasi beragama diperkuat oleh peran aktif tokoh agama, budaya gotong royong yang kuat, dukungan pemerintah, serta kegiatan keagamaan yang inklusif. Namun, keberlangsungannya menghadapi tantangan berupa penyebaran narasi radikal melalui media sosial, keterbatasan literasi digital pada sebagian anggota masyarakat, dan pengaruh politik identitas. Temuan penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip wasathiyyah memberikan landasan normatif yang penting dalam memperkuat kohesi sosial dan mempertahankan hubungan antarumat beragama yang damai dalam komunitas multikultural. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman mengenai bagaimana prinsip-prinsip wasathiyyah dapat diterjemahkan ke dalam praktik sosial sehari-hari untuk memperkuat moderasi beragama dan ketahanan masyarakat terhadap berbagai pengaruh yang dapat memecah belah.
Menggapai Peradaban Inklusif : Interpretasi atas Q.S. Al-Fatihah dalam Tafsir Al-Jawāhir Perspektif Karl Mannheim Naufal Mubarok; Ahmad Farihul Umam
Jurnal Moderasi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2026.62.05

Abstract

This study examines the construction of meaning in Q.S. al-Fatihah in al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm by Tantawi Jauhari and its relevance to the idea of an inclusive civilization. It aims to explain the scientific character of Tantawi Jauhari’s interpretation of Q.S. al-Fatihah and analyze its relationship with the social and intellectual context in which his interpretation emerged. This study employs a qualitative library research method with a descriptive-analytical approach and Karl Mannheim’s sociology of knowledge perspective. The findings show that Jauhari’s interpretation of Q.S. al-Fatihah goes beyond theological and normative meanings by connecting the Qur’anic text with natural phenomena, empirical knowledge, and human life. Its scientific character is evident in his interpretation of al-Raḥmān, al-Raḥīm, and Rabb al-‘ālamīn through reflections on macrocosmic and microcosmic phenomena. This interpretive framework is further directed toward the construction of a civilization that integrates religious and empirical knowledge, promotes intellectual openness, and reduces social and religious fragmentation. From Mannheim’s perspective, this orientation is closely related to the socio-intellectual context of colonial Egypt, the intellectual stagnation of Muslim societies, and the challenge posed by European scientific advancement. Therefore, al-Jawāhir represents an intellectual project that brings together faith, knowledge, and civilizational reform. Abstrak Penelitian ini mengkaji konstruksi makna Q.S. al-Fatihah dalam al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm karya Tantawi Jauhari serta relevansinya terhadap gagasan peradaban inklusif. Penelitian ini bertujuan menjelaskan karakter penafsiran ilmiah Jauhari dalam membaca Q.S. al-Fatihah sekaligus menganalisis keterkaitan konstruksi penafsirannya dengan kondisi sosial dan intelektual yang melingkupinya. Penelitian menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitis dan perspektif sosiologi pengetahuan Karl Mannheim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Tantawi Jauhari terhadap Q.S. al-Fatihah tidak berhenti pada pemaknaan teologis dan normatif, tetapi menghubungkan teks Al-Qur’an dengan fenomena alam, pengetahuan empiris, dan persoalan kehidupan manusia. Karakter saintifik tersebut tampak dalam upayanya memperluas makna al-Raḥmān, al-Raḥīm, dan Rabb al-‘ālamīn melalui refleksi terhadap fenomena makrokosmos dan mikrokosmos. Penafsiran tersebut kemudian diarahkan pada gagasan peradaban yang mengintegrasikan ilmu keagamaan dan ilmu empiris, mendorong keterbukaan intelektual, serta mengurangi fragmentasi sosial-keagamaan. Perspektif Mannheim menunjukkan bahwa orientasi tersebut berkaitan dengan konteks sosial-intelektual Mesir pada masa kolonial, stagnasi intelektual umat Islam, serta tantangan kemajuan sains Eropa. Dengan demikian, al-Jawāhir merepresentasikan proyek intelektual yang mempertemukan iman, ilmu, dan agenda pembaruan peradaban.