cover
Contact Name
Abdul Qawwiy Nasrun
Contact Email
anabdulqawwiy@gmail.com
Phone
+6281241972604
Journal Mail Official
anabdulqawwiy@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jl. Laksda Adisucipto, Yogyakarta, 55821
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Moderasi
ISSN : 28092376     EISSN : 2809221X     DOI : 10.14421
Jurnal Moderasi: The Journal of Ushuluddin, Islamic Thought, and Muslim Societies merupakan jurnal akademik yang didedikasikan untuk menerbitkan artikel-artikel akademik berkualitas peneliti muda (mahasiswa S1, S2, dan S3). Jurnal ini dikeluarkan oleh Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Redaksi menerima tulisan di bidang ilmu-ilmu Ushuluddin, meliputi Akidah dan Filsafat Islam, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Ilmu Hadis, Sosiologi Agama, Antropologi Agama, Studi Agama-agama, dan Politik Islam dan Muslim Societies.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 51 Documents
Dinamika Penafsiran Al-Qur’an di Indonesia: Pra Kemerdekaan Awal hingga Akhir Adinda Fatimah Rahmawati
Jurnal Moderasi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2025.52.02

Abstract

The interpretation of the Qur'an has a long and very important history, which is closely related to the social, political, and cultural contexts that surround it. During the colonial period in Indonesia, especially under Dutch rule, the interpretation of the Qur'an faced various challenges influenced by the repressive political environment and restrictions on religious freedom. The Qur'an not only functions as a guide to worship, but also as a very important tool in the resistance against colonial oppression and the preservation of Islamic identity. This article describes the interpretation of the Qur'an in Indonesia which is limited to the pre-independence period of Indonesia from beginning to end. This article uses a historical approach, namely describing the development and dynamics of Indonesian interpretation by looking at it from a historical perspective from the early to the late pre-independence period. Interpretation in Indonesia experienced quite dynamic development in the pre-independence era, marked by interpretations that emerged from oral teaching to the publication of various interpretation books. This is due to the influence of pressure from social and political conditions that changed in each period and region. This article also highlights the role of scholars and intellectuals who tried to understand and convey the teachings of the Qur'an that were relevant to the socio-political realities of their time, often using the Qur'an as a tool for nationalist struggle. In this context, the interpretation of the Qur'an at that time was not only a theological endeavor but also a political and ideological instrument in the struggle for independence and justice. Penafsiran Al-Qur’an memiliki sejarah panjang yang sangat penting, yang erat kaitannya dengan konteks sosial, politik, dan budaya yang melingkupinya. Pada masa penjajahan di Indonesia, khususnya di bawah pemerintahan Belanda, penafsiran Al-Qur’an menghadapi berbagai tantangan yang dipengaruhi oleh lingkungan politik yang represif dan pembatasan kebebasan beragama. Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai pedoman ibadah, tetapi juga sebagai alat yang sangat penting dalam perlawanan terhadap penindasan kolonial dan pelestarian identitas Islam. Tulisan ini menguraikan penafsiran Al-Qur’an di Indonesia yang dibatasi pada masa pra-kemerdekaan Indonesia dari awal hingga akhir. Artikel ini merupakan penelitian kualitatif dengan menjadikan penafsiran dari masa Pra-Kemerdekaan sebagai sumber utamanya, didukung dengan jurnal-jurnal dan buku sebagai sumber sekundernya.  Pendekatan sejarah digunakan pada penelitian ini yakni dengan menguraikan perkembangan  serta dinamika tafsir Indonesia dengan melihat dari sudut pandang sejarah pada masa pra-kemerdekaan awal hingga akhir. Penafsiran di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup dinamis pada era pra-kemerdekaan, ditandai dengan penafsiran yang muncul mulai dari pengajaran secara lisan sampai pada penerbitan berbagai kitab tafsir. Hal ini disebabkan adanya pengaruh dari tekanan keadaan sosial, politik yang berubah-ubah di setiap masa dan wilayahnya. Artikel ini juga menyoroti peran ulama dan intelektual yang berusaha memahami dan menyampaikan ajaran Al-Qur’an yang relevan dengan realitas sosial-politik pada zamannya, sering kali menggunakan Al-Qur’an sebagai alat perjuangan nasionalisme. Dalam konteks ini, penafsiran Al-Qur’an pada masa tersebut tidak hanya menjadi usaha teologis, tetapi juga instrumen politik dan ideologis dalam perjuangan untuk kemerdekaan dan keadilan
Freud's Psychoanalysis on the Religious Practice of Manhaj Salaf as a Psychic Mechanism in Facing Modernity in Indonesia Elicia Eprianda
Jurnal Moderasi Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2025.51.03

Abstract

This paper aims to examine how the religious practice of manhaj Salaf in Indonesia can be understood through the psychoanalytic framework of Sigmund Freud. In the last two decades, the growth of this movement reflects the search for moral certainty and identity in the midst of a crisis of meaning in modernity. The formulation of this research problem includes: (1) how the structure of id, ego, and superego works in the formation of Salafi piety and moral discipline; (2) what psychic defense mechanisms appear in their religious practices; and (3) how those psychic dynamics operate in response to the uncertainty and pressures of modernity. Using a qualitative approach based on literature review, this study hypothesizes that Salafi religious practices function as a psychic mechanism to reduce existential anxiety through the formation of collective superegos, sublimation, and social projection. The results of the analysis show that the internalization of strict religious norms provides a sense of psychological security and identity stability, but also has the potential to create excessive guilt and exclusivity towards other groups. In conclusion, Freud's psychoanalysis provides a strong perspective to understand the psychological function of Salafi religiosity in the context of Indonesian modernity and opens up space for further studies of the relationship between moral obedience, psychological health, and social dynamics. Abstrak Tulisan ini bertujuan menelaah bagaimana praktik keagamaan manhaj Salaf di Indonesia dapat dipahami melalui kerangka psikoanalisis Sigmund Freud. Dalam dua dekade terakhir, pertumbuhan gerakan ini mencerminkan pencarian kepastian moral dan identitas di tengah krisis makna dalam modernitas. Rumusan masalah penelitian ini mencakup: (1) bagaimana struktur id, ego, dan superego bekerja dalam pembentukan kesalehan dan disiplin moral Salafi; (2) mekanisme pertahanan psikis apa yang muncul dalam praktik keagamaan mereka; dan (3) bagaimana dinamika psikis tersebut beroperasi sebagai respons terhadap ketidakpastian dan tekanan modernitas. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis kajian pustaka, penelitian ini mengajukan hipotesis bahwa praktik keagamaan Salafi berfungsi sebagai mekanisme psikis untuk mereduksi kecemasan eksistensial melalui pembentukan superego kolektif, sublimasi, dan proyeksi sosial. Hasil analisis menunjukkan bahwa internalisasi norma religius yang ketat memberikan rasa aman psikologis dan stabilitas identitas, namun juga berpotensi menciptakan rasa bersalah berlebih dan eksklusivitas terhadap kelompok lain. Kesimpulannya, psikoanalisis Freud menyediakan perspektif yang kuat untuk memahami fungsi psikologis religiositas Salafi dalam konteks modernitas Indonesia serta membuka ruang bagi kajian lanjutan mengenai hubungan antara ketaatan moral, kesehatan psikologis, dan dinamika sosial.
The Two Faces of Deepfake: an Analysis of Contextual Thematic Exegesis Shafira, Zira
Jurnal Moderasi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2025.52.04

Abstract

The rapid development of digital technology has significantly reshaped the way information is produced, disseminated, and consumed. Among these advancements, deepfake an AI-generated technique that produces hyper-realistic yet fabricated digital content, emerges as one of the most influential and controversial innovations in contemporary media. Its presence raises not only socio-ethical concerns but also urgent theological and moral questions within Islamic discourse. This study seeks to explore the Qur’anic perspective on deepfake by examining how the Qur'an conceptually frames human creativity, representation, deception, and accountability. Employing a qualitative, descriptive-analytical approach, this library research adopts Abdul Mustaqim’s thematic-contextual interpretation method due to its strength in connecting classical Qur’anic concepts with modern realities in a flexible yet academically grounded manner. The findings reveal that the Qur'an acknowledges two contrasting dimensions of deepfake: its constructive/beneficial dimension, including its potential as a means of knowledge (Q.S. al-‘Alaq/96:4; Q.S. al-Qalam/68:1) and its capacity to support innovation and human welfare (Q.S. Yūsuf/12:70; al-Baqarah/2:164; al-‘Ankabūt/29:43; Āl ‘Imrān/3:190-191). Conversely, the Qur'an also warns against its destructive/harmful dimension, such as major deceit and false allegations (Q.S. Yūsuf/12:18; al-Nūr/24:11-12; al-Ḥajj/22:30), as well as manipulation and unethical distortion (Q.S. al-Muṭaffifīn/83:1-3; al-Baqarah/2:9). Abstrak Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat telah secara signifikan mengubah cara informasi diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi. Di antara kemajuan tersebut, deepfake adalah sebuah teknik berbasis kecerdasan buatan yang menghasilkan konten digital sangat realistis namun bersifat rekayasa yang muncul sebagai salah satu inovasi paling berpengaruh sekaligus kontroversial dalam media kontemporer. Kehadirannya tidak hanya memunculkan persoalan sosial-etis, tetapi juga pertanyaan teologis dan moral yang mendesak dalam wacana keislaman. Penelitian ini berupaya menelusuri perspektif al-Qur’an mengenai deepfake dengan mengkaji bagaimana al-Qur’an memandang kreativitas manusia, representasi, tipu daya, dan akuntabilitas. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis, penelitian kepustakaan ini menerapkan metode tafsir tematik-kontekstual Abdul Mustaqim karena memiliki metode kombinasi kontekstual dalam menghubungkan konsep-konsep klasik al-Qur’an dengan realitas modern secara fleksibel namun tetap akademis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa al-Qur’an mengakui dua dimensi yang saling berlawanan dari deepfake: dimensi konstruktif/beneficial yang mencakup potensinya sebagai sarana pengetahuan (Q.S. al-‘Alaq/96:4; Q.S. al-Qalam/68:1) dan kemampuannya mendukung inovasi serta kesejahteraan manusia (Q.S. Yūsuf/12:70; al-Baqarah/2:164; al-‘Ankabūt/29:43; Āl ‘Imrān/3:190-191). Sebaliknya, al-Qur’an juga memperingatkan dimensi destruktif/harmful, seperti penipuan besar dan tuduhan palsu (Q.S. Yūsuf/12:18; al-Nūr/24:11-12; al-Ḥajj/22:30), serta manipulasi dan distorsi yang tidak etis (Q.S. al-Muṭaffifīn/83:1-3; al-Baqarah/2:9).
Kohesi Sosial pada Komunitas Jamaah Sapta Dharma di Taman Siswa Yogyakarta Muhammad Ijlal Sasakki Junaidi
Jurnal Moderasi Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2025.51.02

Abstract

This study examines how Émile Durkheim’s concept of mechanical solidarity is manifested in the daily life of the Sapta Dharma community in Taman Siswa, Yogyakarta. Situated within Indonesia’s plural social landscape and the marginal position often experienced by non–state-recognized belief groups, the Sapta Dharma community represents a social collective that sustains its existence through strong internal cohesion. Using Durkheim’s framework, the analysis focuses on four key indicators of mechanical solidarity: shared spiritual values, commitment to tradition and ancestral heritage, a simple and egalitarian division of labor, and the application of repressive or corrective responses to norm deviations. The findings indicate that social cohesion within the Sapta Dharma community is not based on functional interdependence or specialized roles characteristic of organic solidarity. Instead, it is grounded in shared beliefs, collective spiritual experiences, and a strong collective consciousness centered on core teachings such as the Wahyu Panca Gaib. Solidarity is reinforced through routine ritual practices, reverence toward the founder, and a communal way of life oriented toward inner harmony and Javanese spiritual values. The absence of rigid hierarchy and the equitable distribution of communal responsibilities further strengthen feelings of mutual cooperation and belonging. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana teori kohesi sosial Émile Durkheim, khususnya konsep solidaritas mekanik, termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari komunitas Sapta Dharma di Taman Siswa, Yogyakarta. Dalam konteks keberagaman sosial Indonesia serta tantangan yang dihadapi kelompok penghayat kepercayaan di luar agama yang diakui negara, komunitas ini merepresentasikan kelompok sosial yang mampu mempertahankan eksistensinya melalui kohesi internal yang kuat. Analisis difokuskan pada empat indikator utama solidaritas mekanik, yaitu kesamaan nilai spiritual, keterikatan pada tradisi dan warisan leluhur, pembagian kerja yang sederhana dan egaliter, serta mekanisme penanganan penyimpangan terhadap norma komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kohesi sosial dalam komunitas Sapta Dharma tidak dibangun atas dasar kontrak fungsional atau spesialisasi peran sebagaimana dalam solidaritas organik, melainkan bertumpu pada kesamaan keyakinan, pengalaman spiritual kolektif, dan kesadaran kolektif yang kuat, terutama yang berpusat pada ajaran inti Sapta Dharma seperti Wahyu Panca Gaib. Ikatan antaranggota diperkuat melalui praktik ritual yang berkelanjutan, penghormatan terhadap pendiri, serta orientasi hidup yang menekankan harmoni batin dan spiritualitas Jawa. Ketiadaan hierarki formal dan pembagian tugas yang setara mendorong tumbuhnya semangat gotong royong dan rasa memiliki bersama. Penyimpangan norma tidak ditangani melalui sanksi formal, melainkan melalui pendekatan simbolik dan upaya pemulihan harmoni sosial. Temuan ini menegaskan bahwa solidaritas mekanik berfungsi sebagai mekanisme ketahanan sosial yang efektif dalam menghadapi tekanan eksternal seperti stigma dan diskriminasi, sekaligus memperkuat identitas kolektif komunitas penghayat kepercayaan di Indonesia.
Analisis Sinonimitas Makna Nūr, Ḍiyā’, dan Sirāj dalam Al-Qur'an: Kajian Linguistik Semantik Berdasarkan Tafsir Al-Kasysyāf FAHMI, ANWAR
Jurnal Moderasi Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2024.42.03

Abstract

This article is motivated by the use of the words nūr, ḍiyā', and sirāj which are often translated as "light". Although all three have similar basic meanings, each word is used in a different context, raising the question of whether these words are synonymous or have significant differences in meaning. The purpose of this research is to try to uncover the meaning and synonyms of each word by analyzing it through the Tafsir Al-Kasysyāf approach by al-Zamakhsyarī. This research uses a qualitative method with a library research approach. The analysis was carried out using a semantic approach, which focuses on the relationship of meaning between words and the context in which they are used in the verses of the Qur'an. The results of the analysis show that the three terms have a basic meaning as "light", but there are differences in their use. The word nūr refers more to light that is soft and reflective, such as the light of the moon or the light of Allah's guidance that is spiritual. While the word ḍiyā' describes a more intense light and has a hot element, such as sunlight that shines strongly and burns. Meanwhile, the word sirāj refers to a source of light that emits its own rays, such as the sun itself which is referred to as sirāj in the Qur'an. Artikel ini dilatarbelakangi dengan adanya penggunaan kata-kata nūr, ḍiyā’, dan sirāj yang sering diterjemahkan dengan istilah “cahaya”. Meskipun ketiganya mempunyai makna dasar serupa, namun setiap kata digunakan dalam konteks yang berbeda, sehingga menimbulkan pertanyaan apakah kata-kata ini memiliki sinonim atau justru memiliki perbedaan makna yang signifikan. Adapun tujuan dari penelitian ini berusaha mengungkap makna dan sinonim masing-masing kata tersebut dengan menganalisisnya melalui pendekatan Tafsir Al-Kasysyāf karya al-Zamakhsyarī. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research). Analisis dilakukan dengan menggunakan pendekatan semantik, yang berfokus pada relasi makna antar kata serta konteks penggunaannya dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiga istilah tersebut memiliki arti dasar sebagai “cahaya”, namun terdapat perbedaan dalam penggunaannya. Kata nūr lebih mengarah pada cahaya yang bersifat lembut dan pantulan, seperti cahaya bulan atau cahaya petunjuk Allah yang bersifat spiritual. Sedangkan kata ḍiyā’ menggambarkan cahaya yang lebih intens dan memiliki unsur panas, seperti cahaya matahari yang bersinar kuat dan membakar. Sementara itu, kata sirāj merujuk pada sumber cahaya yang memancarkan sinarnya sendiri, seperti matahari itu sendiri yang disebut sebagai sirāj dalam Al-Qur’an.
Intertekstualitas Konsep Kesetaraan dan Martabat Manusia Perspektif Al-Qur’an Dan Bible Suhada, Farhan; Hadi, Naufal Rahman
Jurnal Moderasi Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2025.51.01

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep martabat dan kesetaraan manusia dalam al-Qur’an dan Bible melalui pendekatan intertekstualitas Julia Kristeva. Kedua kitab suci tersebut, sebagai representasi wahyu dalam tradisi Abrahamik, menyimpan makna teologis dan etis yang beresonansi terkait posisi manusia dalam tatanan ciptaan. Dengan menggunakan metode deskriptif-analisis, penelitian ini menelusuri jejak tanda (trace), transformasi makna, dan resonansi semantik yang muncul dalam ayat-ayat al-Qur’an dan perikop Bible. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan simbolik – seperti konsep imago Dei dalam Bible dan bani Adam dalam al-Qur’an – keduanya membentuk jaringan makna yang menegaskan martabat manusia sebagai nilai fundamental yang bersumber dari Tuhan. Selain itu, transformasi makna dari citra Tuhan menuju takwa sebagai ukuran nilai manusia dalam al-Qur’an memperlihatkan konstruksi etis yang mendalam dan kontekstual. Secara sosial-politik, temuan ini mengimplikasikan pentingnya pembacaan teks suci yang progresif untuk mendorong nilai-nilai kesetaraan, antirasisme, dan perlindungan hak asasi. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan teologi lintas iman yang berbasis pada nilai kemanusiaan universal untuk merespons tantangan zaman yang ditandai oleh krisis identitas dan ketimpangan sosial.
Between Central and Peripheral: The Views of amina wadud and Faqihuddin Abdul Kodir on Islamic Feminism Muhammad Syāmil Basāyif
Jurnal Moderasi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2025.52.03

Abstract

This article discusses two feminist thinkers, amina wadud and Faqihuddin Abdul Kodir, who articulate similar ideas of Islamic feminism through different approaches. wadud represents thinkers who live in the ‘central’ environment of feminist discourse, while Faqih indicates how ‘peripheral’ currents creatively adopt and adapt such discourse. This article argues that differences in intellectual formation and socio-cultural background strongly shape how each engages the Qurʾān, which in turn affects their respective attitudes toward classical traditions, particularly tafsir and uṣūl al-fiqh. This article discusses how their hermeneutical frameworks interpret Qur’anic gender verses, where their similarities and differences lie in their approaches to tafsir, both in terms of methodology and exegetical outcomes, and especially how they resist, receive, and reconfigure the classical tradition. Ultimately, this study shows that wadud, situated within the ‘central’ domain of feminist theory and influenced by secular-liberal paradigms, tends toward a deconstructive posture that challenges classical traditions. In contrast, Faqih, who was educated in traditional academia and lives in a ‘peripheral’ context, while inspired and influenced by wadud, adapts feminist ideas in ways that are more appreciative of the classical intellectual heritage.Abstrak Artikel ini membahas dua pemikir feminis, Amina Wadud dan Faqihuddin Abdul Kodir, yang mengartikulasikan gagasan feminisme Islam yang serupa melalui pendekatan yang berbeda. Wadud merepresentasikan pemikir yang beroperasi dalam lingkungan ‘sentral’ diskursus feminis, sementara Faqih menunjukkan bagaimana arus ‘perifer’ secara kreatif mengadopsi dan mengadaptasi diskursus tersebut. Artikel ini berargumen bahwa perbedaan latar belakang intelektual dan konteks sosio-kultural secara signifikan membentuk cara masing-masing tokoh berinteraksi dengan Al-Qur’an, yang pada gilirannya memengaruhi sikap mereka terhadap tradisi klasik, khususnya tafsir dan uṣūl al-fiqh. Pembahasan difokuskan pada bagaimana kerangka hermeneutik keduanya menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an tentang gender, dengan menyoroti persamaan dan perbedaan dalam pendekatan tafsir, baik dari segi metodologi maupun hasil penafsiran, serta cara mereka merespons, menerima, dan merekonfigurasi tradisi klasik. Pada akhirnya, studi ini menunjukkan bahwa Wadud, yang berada dalam ranah sentral teori feminis dan dipengaruhi oleh paradigma sekuler-liberal, cenderung mengambil sikap dekonstruktif yang menantang tradisi klasik. Sebaliknya, Faqih, yang ditempa dalam tradisi akademik keislaman dan hidup dalam konteks perifer, meskipun terinspirasi dan dipengaruhi oleh Wadud, mengadaptasi gagasan feminis dengan cara yang lebih apresiatif terhadap warisan intelektual klasik.
Representasi Nilai-nilai Al-Qur’an di Akun Instagram @istiqomah.tahajud: Analisis Perspektif Teori Konsumerisme Jean Baudrillard Sahrul A. Poipesi; Desy Amelia Putri; Alin Zata Amni
Jurnal Moderasi Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2025.51.04

Abstract

Technological developments in media are utilized by many people to expand the meaning of the Qur'an and its interpretation. The meaning of the Qur'an is presented passively through visual media, providing understanding and explanation as well as having an impact on the occurrence of consumerism in humans with its presence. This study aims to reveal how social media, in this case Instagram, uses verses from the Qur'an as arguments to convey messages in visual form, as well as how this influences followers who consume it. To achieve this objective, this study uses a qualitative method with content analysis as a tool for analysis. The emphasis on consumerism in the Instagram account @istiqomah.tahajud was identified using Jean Baudrillard's approach to consumerism. The results of this study show that verses from the Qur'an, which should be understood in a theological context and through in-depth interpretation to gain a concrete understanding, are instead presented as part of a planned visual narrative that encourages people to continue consuming products that do not always display the full essence of a product, but only show its surface. Perkembangan teknologi dalam media dimanfaatkan oleh banyak orang untuk memperluas jangkauan makna dari al-Qur’an dan tafsir. makna al-Qur’an dihadirkan secara pasif melalui media visual memberikan pemahaman serta penjelasan sekaligus dampak bagi terjadinya konsumerisme pada manusia dengan kehadirannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana media sosial dalam hal ini Instagram menggunakan ayat-ayat al-Qur’an sebagai dalil untuk menyampaikan pesan dalam bentuk visual, serta bagaimana pengaruhnya bagi para pengikutnya yang mengkonsumsi hal itu. Untuk mencapai tujuan tesebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis konten sebagai alat untuk menganalisa. Penekanan terhadap aspek konsumerisme dalam akun Instagram @istiqomah.tahajud diidentifikasi dengan menggunakan pendekatan konsumerisme yang digagas Jean Baudrillard. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ayat-ayat al-Qur’an yang seharusnya bisa dipahami dalam konteks teologis dan tafsir yang mendalam untuk mendapatkan pemahaman secara konkrit justru dihadirkan sebagai bagian dari penguatan narasi yang bersifat ajakan secara visual yang direncanakan, sehingga mampu memantik seseorang agar terus mau mengkonsumsi produk yang sebenarnya tidak selalu menampilkan esensi secara utuh dari suatu produk dan hanya menampilkan bagian permukaannya saja.
Analisis Konvergensi Simbolik pada Akun Instagram @Sehand_Azhar : Penggambaran Realita Sosial Santri Pondok Modern Darussalam Gontor Arief, Shofyan; Dwi Lestari , Annisa
Jurnal Moderasi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2025.52.01

Abstract

In the digital age, the traditional boundaries of pesantren life are becoming increasingly blurred as self-representation activities on social media increase. This phenomenon is clearly seen on the Instagram account @sehand_azhar, which actively visualizes the dynamics of students at Pondok Modern Darussalam Gontor. This study aims to analyze how this account constructs the social reality of students through a qualitative approach. Symbolic Convergence Theory is used as an analytical tool to dissect visual and textual narratives, as well as interaction patterns in the comments section. The results show that the use of symbolic cues characteristic of Islamic boarding schools triggers a series of fantasy themes centered on nostalgia, discipline, and boarding school brotherhood. The accumulation of these themes merges into a rhetorical vision that presents santri as modern, adaptive figures who remain steadfast in upholding traditional values. These findings have implications for strengthening the collective identity of alumni in the digital space, while also changing public perceptions of the exclusivity of the modern pesantren world.   Di era digital, batasan tradisional kehidupan pesantren semakin kabur seiring meningkatnya aktivitas representasi diri di media sosial. Fenomena ini terlihat jelas pada akun Instagram @sehand_azhar yang aktif memvisualisasikan dinamika santri Pondok Modern Darussalam Gontor. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana akun tersebut mengonstruksi realitas sosial santri melalui pendekatan kualitatif. Teori Konvergensi Simbolis (Symbolic Convergence Theory) digunakan sebagai pisau analisis untuk membedah narasi visual, tekstual, dan pola interaksi di kolom komentar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan isyarat simbolis (symbolic cues) khas pesantren memicu serangkaian tema fantasi yang berpusat pada nostalgia, kedisiplinan, dan persaudaraan pondok. Akumulasi dari tema-tema ini melebur menjadi sebuah visi retoris (rhetorical vision) yang menampilkan citra santri sebagai sosok yang modern, adaptif, namun tetap teguh memegang nilai tradisi. Temuan ini berimplikasi pada penguatan identitas kolektif alumni di ruang digital, sekaligus mengubah persepsi publik terhadap eksklusivitas dunia pesantren modern.
Framing Al-Qur’an dalam Tren Marriage Is Scary di Media Online: Analisis Framing Model Robert Entman bintihafidz, afifah
Jurnal Moderasi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2025.52.05

Abstract

Marriage in a social and religious context is often considered sacred and capable of bringing happiness to couples. However, in today's digital age, a new narrative known as Marriage Is Scary has emerged on social media, voicing fears about marriage. The method used in this study is a descriptive qualitative method with a library research approach. The primary data for this study is limited to online media related to the Marriage Is Scary trend, namely Media Santri Nu and Tempo.co. Meanwhile, the secondary data for this study is sourced from related literature. In analyzing the data, this study uses Robert M. Entman's framing analysis approach. The results of this study show that the Marriage Is Scary trend tends to focus on the negative aspects of marriage without offering balanced solutions. Several key factors that trigger fear of marriage in this trend include trauma from bad experiences, economic instability, and changes in social values that prioritize individualism. However, in Islam, marriage is not merely a social relationship, but also a form of worship and sunnah of the Prophet, as emphasized in QS. Ar-Rūm: 21. Pernikahan dalam konteks sosial dan agama sering dianggap sebagai sesuatu yang suci yang dapat mendatangkan kebahagiaan bagi pasangan. Namun, di era digital saat ini, muncul narasi baru yang dikenal dengan istilah Marriage Is Scary di media sosial yang menyuarakan ketakutan terhadap pernikahan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data primer dari penelitian ini terbatas pada media online yang berkaitan dengan tren Marriage Is Scary, yaitu Media Santri Nu dan Tempo.co. Sedangkan data sekunder dari penelitian ini bersumber dari literatur-literatur yang terkait. Dalam menganalisis data, penelitian ini menggunakan pendekatan analisis framing Robert M. Entman. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tren Marriage is Scary cenderung memfokuskan pada aspek negatif pernikahan tanpa menawarkan solusi yang seimbang. Beberapa faktor utama yang memicu ketakutan terhadap pernikahan dalam tren ini meliputi trauma dari pengalaman buruk, ketidakstabilan ekonomi, serta perubahan nilai sosial yang lebih mengedepankan individualisme. Namun, dalam pandangan Islam, pernikahan bukan sekadar hubungan sosial, melainkan juga sebuah ibadah dan sunnah Rasulullah, seperti yang ditegaskan dalam QS. Ar-Rūm: 21