cover
Contact Name
Agus Iswanto
Contact Email
mltltambo@gmail.com
Phone
+628170406878
Journal Mail Official
mltltambo@gmail.com
Editorial Address
Gedung Sasana Widya Sarwono Lt. 7. Badan Riset dan Inovasi Nasional. Jl. Gatot Subroto No.10, RT.2/RW.2, Kuningan Bar., Kec. Mampang Prpt., Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12710
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Tambo: Journal of Manuscript and Oral Tradition
ISSN : -     EISSN : 30320518     DOI : https://doi.org/10.55981
Tambo: Journal of Manuscript and Oral Tradition is a peer reviewed journal which is published by Research Center for Manuscripts, Literature, and Oral Traditions, Research Organization for Archeology, Language, and Literature, National Research and Innovation Agency. This journal enabled as a medium for disseminating and exchanging ideas on Manuscripts, Literature, and Oral Traditions. The journal is published twice a year. Tambo was originally a word that was interpreted as a historical literary work that tells the history (origin) of a tribe, the origin of the country, and its customs. This historical academic work can also be called traditional historiography, writing a countries history based on the local communities beliefs from generation to generation.
Articles 20 Documents
RETAKAN NARASI HISTORIS REYOG PONOROGO: PERSILANGAN CERITA KERAJAAN BANTARANGIN DALAM PERTUNJUKAN REYOG PONOROGO Frengki Nur Fariya Pratama
Tambo: Journal of Manuscript and Oral Tradition Vol. 2 No. 2 (2024): TAMBO
Publisher : Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/tambo.2024.6571

Abstract

Narasi Kelana Sewandana dan Bantarangin menjadi salah satu narasi dari berbagai narasi yang disebut sebagai asal-usul Reyog Ponorogo. Beragam narasi yang tersebar tersebut mengalami retakan ketika dibandingkan dengan komparasi data yang lain. Pemasalahan ini menjadi fokus dalam artikel untuk menelusuri diskontinuitas (retakan) narasi historis Reyog Ponorogo. Pembahasan ini memakai paradigma arkeologi pengetahuan (archaeology of knowledge). Berdasarkan analisis yang dilakukan ditemukan bukti bahwa dahulu narasi pertunjukan Reyog Ponorogo memakai landasan cerita panji. Temuan data dalam kajian menjadi paparan konstruksi perubahan narasi pertunjukan Reyog Ponorogo yang terbatas pada objek pengkajian dalam artikel. Dengan begitu, diperlukan garis pemisah antara narasi pertunjukan atau narasi historis dalam melakukan pengkajian kesenian Reyog Ponorogo.
NARASI PERWUJUDAN IMAJINASI PEREMPUAN BATAVIA DALAM HIKAYAT NAKHODA MUDA OR. 1763 Upartini, Diyah Prilly; Sudibyo
Tambo: Journal of Manuscript and Oral Tradition Vol. 2 No. 2 (2024): TAMBO
Publisher : Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/tambo.2024.7168

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membicarakan struktur narasi Hikayat Nakhoda Muda (HNM) Or.1763. HNM Or.1763 merupakan salah satu manuskrip dari 10 naskah salinan HNM atau juga dikenal sebagai Hikayat Maharaja Bikrama Sakti. Teks HNM masuk ke dalam kategori teks sastra. HNM menceritakan tentang seorang tokoh perempuan yang melakukan perjalanan untuk memenuhi syarat-syarat yang diberikan oleh suaminya. Meskipun begitu, komentar-komentar yang dituliskan di bagian kolofon dan luar teks dari naskah-naskah salinan HNM dianggap penting untuk direlasikan dengan narasi karya sastra terkait karena mencerminkan relasi kondisi sosial di luar teks dengan yang teks karya sastra itu sendiri. Oleh karena itu, metode analisis yang dilakukan adalah metode analis naratif  untuk menganalisis struktur narasi teks. Hasil yang ditemukan adalah asumsi bahwa teks karya sastra—khususnya HNM—merupakan karya sastra yang target penikmatnya adalah pembaca/pendengar perempuan. Ukuran naskah yang kecil diasumsikan untuk kemudahan pengarang/pencerita untuk dibawa sebagai panduan storytelling atau untuk mudah dibawa-bawa sebagai bacaan ringan bagi patron penyalin untuk belajar bahasa Melayu.
"RITUAL KEHAMILAN, KELAHIRAN DAN AKIL BALIG DI DESA NYALINDUNG, KABUPATEN BANDUNG BARAT SEBAGAI FAKTOR EPIGENETIKA PERILAKU SUNDA" Sartika, Mira; Paramita, Isabela Andhika; Tismana, Hernandi
Tambo: Journal of Manuscript and Oral Tradition Vol. 2 No. 2 (2024): TAMBO
Publisher : Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/tambo.2024.7787

Abstract

Ritus peralihan selama kehamilan, kelahiran, dan masa remaja dapat berfungsi sebagai kerangka kerja untuk epigenetika perilaku. Tujuan penelitian ini adalah mendokumentasikan ritus peralihan sebagai tradisi lisan di Desa Nyalindung, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, serta menganalisis elemen-elemen yang terlibat berdasarkan perspektif epigenetika. Kami mendokumentasikan tiga ritus peralihan selama kehamilan, satu ritus peralihan saat kelahiran, dan dua ritus peralihan pada masa remaja. Dukungan orang tua dan sosial yang positif terhadap anak-anak di komunitas tersebut diamati sebagai faktor penting dalam epigenetika perilaku. Perubahan epigenetik dan perkembangan otak paling kritis terjadi selama masa kanak-kanak. Stimulasi eksternal yang cukup dan positif dalam bentuk ritus upacara dan doa selama masa ini dapat memengaruhi hasil kesehatan fisiologis dan psikologis individu di kemudian hari.
"TRADISI JAMASAN PUSAKA BENDE DAN NILAI PENDIDIKAN ISLAM DI BUMIJAWA, TEGAL: SEBUAH ANALISIS KULTURAL" Nahdiatus Syafa’ah; Donny Khoirul Azis
Tambo: Journal of Manuscript and Oral Tradition Vol. 2 No. 2 (2024): TAMBO
Publisher : Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/tambo.2024.8724

Abstract

Pendidikan Islam merupakan sebuah konsep pendidikan yang berlandaskan pada nilai-nilai dan ajaran agama Islam. Pendidikan Islam tidak hanya dilembaga formal saja, tetapi juga dapat diperoleh dilingkungan non-formal pada lingkup masyarakat yang dapat dimanfaatkan sebagai pembelajaran. Seperti halnya tradisi jamasan pusaka bende yang ada di Desa Bumijawa, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, pada tradisi tersebut adanya nilai-nilai pendidikan Islam di dalamnya. Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan tradisi jamasan pusaka bende di Desa Bumijawa, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal dan untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam tradisi tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, sedangkan teknik pengumpulan data dalam kajian ini yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam kajian ini meliputi reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga nilai pendidikan Islam pada tradisi jamasan pusaka bende meliputi: Nilai tauhid, berupa meng-esa-kan Allah yakni berdoa hanya pada Allah SWT semata, dan pembacaan sholawat Nabi. Nilai ibadah meliputi berdoa dan berzikir. Nilai akhlak, meliputi tolong menolong, bersyukur dan sedekah.
BRIEF TREATMENT OF ASTRONOMY: PHILOLOGICAL STUDY OF ALMANZUMA AL-DALIYYA MANUSCRIPT, WORKS OF KYAI FAQIH MASKUMAMBANG Arifin, Arifin
Tambo: Journal of Manuscript and Oral Tradition Vol. 2 No. 2 (2024): TAMBO
Publisher : Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/tambo.2024.8791

Abstract

Tulisan ini mendiskusikan manuskrip (naskah kuno) karya Kiai Faqih Maskumambang yang berjudul “al-Mandummat al-Daliyyah fii awail al-Qomariyah ala Tariqat al-Fuqaha’ al-Suniyyah al-latti Tanayya ala al-hadist al-Nabawiyyah koleksi British Library dari arsip Manuskrip Islam Pesantren. Kajian manuskrip al-Mandummat ini sangatlah penting dilakukan, sebab terdapat hubungan naskah ini dengan naskah lain, baik naskah karya ulama Nusantara ataupun karya ulama Haramyn. Kajian naskah ini dilakukan dengan analisis pendekatan filologi dengan mengkaji naskah tunggal, selain membutuhkan pendekatan interteks untuk mencari hubungannya keilmuan Kiai Faqih Maskumambang dengan Ulama’ Nusantara-Harmayn. Kajian ini menemukan bahwa tulisan Kiai Faqih Maskumambang seringkali merujuk pada ulama otoritatif seperti Nawawi al-Bantani, Syekh Ibrahim al-Bajuri dan ulama-ulama ahli Astronomi. Dalam pembahasan kitab, penulis juga menemukan bahwa hisab dan rukyat-hilal terkadang bisa menetukan hari yang sama dan terkdang juga berbeda.
Perjuangan Tuan Guru Bangkol dalam Suku Sasak: Analisis Representasi Tokoh dalam Naskah Babad Praya Koleksi Museum NTB Anisa, Mozeea Kiara; Mamlahatun Buduroh
Tambo: Journal of Manuscript and Oral Tradition Vol. 3 No. 1 (2025): Tambo
Publisher : Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/tambo.2025.8948

Abstract

Babad Praya is a classic Lombok manuscript that tells the struggle of the Sasak Praya tribe to escape the rule of Karangasem Bali. An important character in this story is Tuan Guru Bangkol. This study discusses Tuan Guru Bangkol as a representation of Sasak tribal warrior figures in Babad Praya. This study aims to describe the role of Tuan Guru in the social life of the Sasak people and focuses on the resistance of Tuan Guru Bangkol as the warlord of Praya II in 1891-1894. The main source of data for this research is the transliteration of the Babad Praya manuscript by Lalu Gde Suparman. Furthermore, in reviewing the text, descriptive qualitative research methods are used with the representation theory approach of Jacob Sumardjo and Stuart Hall. The results of this study show that Tuan Guru Bangkol played an important role in liberating the Sasak community of Lombok from the rule of Karangasem. Tuan Guru Bangkol is a representative of fighters who have a major role in the resistance of the Sasak people against Karangasem. He acted as a warlord as well as the leader of the Qadiriyah wa Naqsabandiyah tarikat.
Menukil Bagian Naskah Babad Awak Salira: Nasihat Antarsaudara dan Sistem Konvensi Pupuh Pucung Arisandi, Isep Bayu; Darsa, Undang Ahmad; Ikhwan
Tambo: Journal of Manuscript and Oral Tradition Vol. 3 No. 1 (2025): Tambo
Publisher : Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/tambo.2025.9262

Abstract

Manuscript Babad Awak Salira (BAS) is one of the manuscripts in Tatar Sunda that contains ethical values. One of the ethical values is contained in the pucung regarding the recommendation to maintain sibling harmony. Furthermore, the use of pupuh pucung convention in the BAS text shows an intertextual connection with the Javanese pocung form. Therefore, this paper focuses on two main issues: the system of literary conventions and the moral advice concerning sibling relationships. It seeks to answer two key questions: 1) What are the ethical values embedded in the pupuh pucung section of the BAS manuscript? And 2) To what extent does the pupuh pucung convention in BAS intersect with the Javanese pocung tradition? In line with these issues, the aim of this study is to uncover the ethical content of the pupuh pucung section in BAS and to analyze the intersection between the pupuh pucung and pocung literary conventions. This study employs a comparative descriptive-analytical method and incorporates philological approaches for the transliteration and translation of the text. The analysis reveals that the ethical content in the pupuh pucung section emphasizes the role of elder siblings within the family as stand-ins for parental figures. In terms of its literary convention, pupuh pucung in BAS tends to adopt the characteristics of the Javanese pocung form. However, the characters and values expressed remain consistent with Sundanese cultural traits. Moreover, the role of elder siblings is highlighted as one of nurturing and protecting their younger siblings, thereby fostering familial harmony.
Reinterpretasi Kaba Cindua Mato dalam Perspektif Kitab Salasilah Raja-raja di Minangkabau Kurnia, Sultan; Permana, Zera; Soares, Ghio V.D.; Nasri, Daratullaila
Tambo: Journal of Manuscript and Oral Tradition Vol. 3 No. 1 (2025): Tambo
Publisher : Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/tambo.2025.10346

Abstract

This study reinterprets Kaba Cindua Mato (KCM) by comparing the Hikayat Tuanku Nan Muda Pagaruyung (HTNMP) from the Leiden University Library with newly discovered data from the Kitab Salasilah Raja-Raja di Minangkabau (KSRRM). Using a narrative comparative approach, the analysis focuses on four main aspects: characters, genealogy, plot structure, and conflict. Based on this comparison, the study reveals that the core narrative in both texts remains similar, particularly regarding the conflict between the Pagaruyung Kingdom and the Sungai Ngiang Kingdom. However, there are fundamental differences in character names, genealogical backgrounds, and historical chronology, especially concerning the parents of Bundo Kandung and the father of Dang Tuanku. This reinterpretation further reinforces previous researcher’s assumptions that Kaba Cindua Mato (KCM) is not merely an oral folk tale, but also a kaba composed with a strong historical foundation rooted in the era of the Minangkabau kings from the late 15th to the early 16th century CE. The findings of this study cntribute to a deeper understanding of the meaning of Kaba Cindua Mato, while also enriching knowledge of Minangkabau history.
Legenda Etiologis Desa Simo, Kali Buthek, Kali Pepe, Desa Ngaru-ngaru dalam Babad Demak: Kajian Arkeptipal Dhananjaya Sajjana Adhiwijna
Tambo: Journal of Manuscript and Oral Tradition Vol. 3 No. 1 (2025): Tambo
Publisher : Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/tambo.2025.11228

Abstract

In Babad Demak I, written by Raden Tumenggung Suryadi in 1835 in Java (Rasa-bahning-slireng-rat) or 1906 AD, there exists an ancient etiological legend from Boyolali Regency. This legend, which dates back to the 15th century, explains the origins of several place names, including Simo Village, Buthek River, Pepe River, and Ngaru-ngaru Village. The story is closely linked to Sunan Kudus’s journey, undertaken at the command of Sultan Bintara of the Demak Sultanate, to punish and execute Ki Ageng Kebo Kenanga in Pengging Village. These toponyms Simo Village, Buthek River, Pepe River, and Ngaru-ngaru Village can be traced along a historical route stretching from the northern part of Boyolali Regency, passing through Karanggede, Klega, Simo, Banyudana, and Pengging. This study employs the theory of etiological legends, which explores the origins of names, whether of places or people. Methodologically, it adopts an archetypal approach that integrates literary and anthropological perspectives. The archetypal approach (arche) focuses on origins, primal causes, authenticity, patterns, and fundamental models. By synthesizing literary and anthropological methodologies, this research seeks to uncover the deeper cultural and historical significance of these legends within literary texts.
Tradisi “Ngayah” pada Masyarakat Bali: Nilai-nilai Keberagaman dan Keberlanjutan Budaya di Kecamatan Landono Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara Hasan, Hasni; Daus, Rahman; Sevita, Putu; Fauzi, Ahmad Rizky; Wahidin, La Ode
Tambo: Journal of Manuscript and Oral Tradition Vol. 3 No. 1 (2025): Tambo
Publisher : Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/tambo.2025.11326

Abstract

This paper aims to describe the values contained in the "ngayah" tradition in the Balinese Community in Landono District, South Konawe Regency, and to explain the strategies for its preservation and sustainability. The Ngayah tradition is a form of mutual cooperation and selfless devotion, has strong cultural roots in the traditions of the Balinese Community in Landono District. This paper uses a multidimensional approach to understand the social, cultural, and spiritual dimensions of the ngayah tradition. This tradition shows that the values contained in the ngayah tradition include tolerance in diversity, brotherhood, and spirituality. Ngayah functions as a medium to strengthen relationships between individuals, build solidarity across religions and cultures, and create a harmonious environment. The Ngayah tradition is an inspiration for other communities in maintaining diversity and preserving cultural traditions in the modern era. This paper is expected to provide insight and recommendations for the preservation of the sustainable Ngayah Tradition.

Page 2 of 2 | Total Record : 20