cover
Contact Name
nurullia febriati
Contact Email
nurullia.febriati@fp.unila.ac.id
Phone
+6281804904477
Journal Mail Official
tanto.utomo@fp.unila.ac.id
Editorial Address
Department of Agroindustrial Technology Faculty of Agriculture, Lampung University Jl. Prof. Soemantri Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan
Published by Universitas Lampung
ISSN : 28288513     EISSN : 28288513     DOI : http://dx.doi.org/10.23960/jab.v3i2.9401
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan merupakan terbitan berkala ilmiah yang menerbitkan hasil-hasil peneliatian ataupun review artikel yang berfokus pada bidang agroindustri dan teknologi hasil pertanian, baik itu dari segi teknologi proses, manajemen, ataupun lingkungan
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 2 (2024)" : 17 Documents clear
Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku dengan Metode Economic Order Quantity (EOQ) di Industri Kerupuk UD Citra Tradia Food Wahyuni, Shelly; Al Rasyid, Harun; Nawansih, Otik; Suroso, Erdi
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i2.9109

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan metode peramalan terbaik, kuantitas pembelian optimal, safety stock, reorder point, maximum inventory, dan total inventory cost bahan baku UD Citra Tradia Food untuk tahun 2024 menggunakan metode EOQ. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode analisis kuantitatif dengan analisis sebab akibat dan deret waktu untuk peramalan permintaan, serta model EOQ untuk persediaan bahan baku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode regresi linier sederhana efektif untuk peramalan permintaan ikan giling mutu I sebesar 3.166,67 kg, sementara metode single moving average cocok untuk ikan giling mutu II sebesar 13.929 kg, tepung tapioka sebesar 240.250 kg, dan minyak goreng sebesar 131.245 L. Kuantitas pembelian optimal untuk tahun 2024 adalah 259 kg ikan giling mutu I, 1.140 kg ikan giling mutu II, 32.869 kg tepung tapioka, dan 17.956 L minyak goreng. Safety stock ikan giling mutu I sebesar 42,38 kg, ikan giling mutu II sebesar 26,16 kg, tepung tapioka 535,85 kg, dan minyak goreng 609,36 L. Reorder point untuk ikan giling mutu I sebesar 52,80 kg, ikan giling mutu II sebesar 74,18 kg, tepung tapioka sebesar 2.192,10 kg, dan minyak goreng sebesar 1.053,45 L. Maximum inventory ikan giling mutu I sebesar 360,51 kg, ikan giling mutu II sebesar 1.469,49 kg, tepung tapioka sebesar 33.404,86 kg, dan minyak goreng sebesar 18.565,21 L. Total inventory cost yang dihasilkan adalah Rp718.967,87 untuk ikan giling mutu I, Rp718.967,87 ikan giling mutu II, Rp1.041.577,74 untuk tepung tapioka, dan Rp1.041.577,74 untuk minyak goreng.Kata kunci: Economic Order Quantity, Peramalan, Safety stock, Reorder point, Maximum inventory, Total inventory cost
Analisis Penerapan Good Manufacturing Practices di Usaha Kerupuk UD XYZ Sari, Nadyra; Nurainy, Fibra; Setiawan, Teguh; Al Rasyid, Harun
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i2.9270

Abstract

Pelaku usaha pengolahan pangan memiliki kewajiban untuk menjamin mutu dan keamanan produk pangan yang dihasilkannya melalui penerapan Good Manufacturing Practices (GMP). Good Manufacturing Practices (GMP) adalah pedoman yang menjelaskan cara memproduksi atau mengolahan pangan olahan agar aman, bermutu dan layak untuk dikonsumsi Observasi awal yang dilakukan oleh peneliti di UD XYZ menemukan adanya permasalahan pada higienitas pekerja, kebersihan alat dan lingkungan dan penyimpanan bahan yang digunakan sehingga diperlukan penelitian untuk mengetahui penerapan GMP di UD XYZ dan memberikan usulan perbaikan GMP yang dapat dilakukan pada UD XYZ untuk memperbaiki ketidaksesuaian serius dan kritis yang terjadi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan gap analysis untuk mengolah data hasil penilaian lembar checklist penerapan GMP yang telah dibuat sehingga menghasilkan hasil berupa 62,75% parameter yang pelaksanaannya di lapangan telah sesuai dan 31,37% parameter yang pelaksanaannya di lapangan tidak sesuai dengan persyaratan GMP yang terbagi menjadi ketidaksesuaian minor sebanyak 8 parameter, kategori serius sebanyak 34 parameter dan kategori kritis sebanyak 6 parameter. Analisis akar masalah dengan diagram fishbone yang menghasilkan faktor-faktor penyebab dijadikan acuan dalam pemberian rekomendasi perbaikan dan mendapatkan hasil sebanyak 53 rekomendasi perbaikan dan 6 prioritas rekomendasi perbaikan.
Karakteristik Biodegradable Film Berbasis Selulosa Bungkil Inti Sawit (BIS) dengan Variasi Konsentrasi Plasticizer Gliserol dan Filler Glukomanan Jessica, Dinda Dwi; -, Zulferiyenni; Nurainy, Fibra; Nawansih, Otik
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i2.9298

Abstract

Biodegradable film berbasis selulosa berpotensi sebagai bioplastik yang dapat terurai oleh mikroorganisme di dalam tanah. Bungkil inti sawit memiliki kandungan selulosa sebesar 23,36%.Penelitian ini bertujuan untukmengetahui pengaruh penambahan gliserol dan glukomanan terhadap karakteristik biodegradable film berbasis selulosa bungkil inti sawit, serta mengetahui pengaruh interaksi antara gliserol dan glukomanan terhadap karakteristik biodegradable film berbasis selulosa bungkil inti sawit. Penelitian inidisusundalamRancanganAcakKelompokLengkap(RAKL)dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi gliserol dengan kode (G) yang terdiri dari tiga konsentrasi (0%, 0,2% dan 0,4%) (v/v). Faktor kedua adalah konsentrasi glukomanan denngan kode (L) yang terdiri dari tiga konsentrasi (1%, 2% dan 3%) (b/v). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang berbeda terhadap karakteristik biodegradable film berbasis selulosa bungkil inti sawit.Karakteristik biodegradable film menghasilkan nilai kuat tarik dan laju transmisi uap air yang sudah memenuhi standar JIS 1975, dapat terdegradasi selama 3 minggu dan memiliki ketahanan suhu ruang selama 3 minggu. Namun nilai persen pemanjangan dan ketebalan belum memenuhi standar JIS 1975. A cellulose-based biodegradable film has the potential to be used as bioplastic that can decompose by microorganisms in the soil. Palm kernel expeller contains 23.36% cellulose. This research aims to determine the effect of adding glycerol and glucomannan on the characteristics of cellulose-based biodegradable film from palm kernel cake, as well as to understand the interaction effects between glycerol and glucomannan on these characteristics. The study was designed using a Completely Randomized Block Design (CRBD) with two factors and three replications. The first factor is the concentration of glycerol coded (G), which consists of three concentrations (0%, 0.2%, and 0.4%) (v/v). The second factor is the concentration of glucomannan coded (L), which consists of three concentrations (1%, 2%, and 3%) (b/v). The research results showed significant differences in the characteristics of the cellulose-based biodegradable film from palm kernel expeller. The characteristics of the biodegradable film produced tensile strength and water vapor transmission rate values that met the JIS 1975 standard, could degrade within 3 weeks, and maintained room temperature stability for 3 weeks. However, the elongation percentage and thickness values did not meet the JIS 1975 standard. CHARACTERISTICS OF BIODEGRADABLE FILM BASED ON PALM KERNEL CELLULOSE (BIS) WITH VARIED CONCENTRATIONS OF GLYCEROL PLASTICIZER AND GLUCOMANNAN FILLER
Keragaman Mutu Gula Semut Yang Beredar Di Wilayah Bandar Lampung Berdasarkan SNI 01-3743-1995 Prastiani, Intan; Nawansih, Otik; Setiawan, Teguh
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i2.9306

Abstract

Gula semut biasanya di produksi dengan skala kecil sehingga bahan baku, cara produksi dan pemasarannya masih terbatas dan belum bestandar sehingga dalam proses pengolahannya ada peluang penggunaan bahan baku yang kurang baik dan penggunaan bahan tambahan berlebihan sehingga dapat membahayakan kesehatan dan mempengaruhi mutu gula semut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman mutu gula semut yang beredar di wilayah Bandar Lampung ditinjau dari karakteristik sensori dan kimia. Penelitian ini dilakukan dalam 3 tahap, yaitu : (1) Penentuan lokasi sampling pasar dilakukan secara purposive sampling, (2) Pengambilan sampel gula semut di Bandar Lampung, (3) Pemeriksaan mutu gula semut yang meliputi karakteristik sensori (tekstur, warna, rasa dan aroma) dan kimia (kadar air, padatan tidak terlarut dan kadar abu). Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa gula semut yang beredar di Bandar Lampung yang memenuhi standar mutu gula palma SNI 01-3743-1995 yaitu parameter kadar air sebesar 90% , parameter kadar abu sebesar 70%, parameter padatan tidak larut air sebesar 10%, parameter rasa sebesar 80%, parameter aroma sebesar 40%, parameter warna sebesar 60%, parameter tekstur sebesar 60%. Sampel yang memenuhi semua syarat mutu gula palma SNI 01-3743-1995 hanya sebanyak 10%.
PENGARUH FORMULASI JAHE MERAH (Zingiber officinale var. Rubrum) BUBUK DAN KOPI GELONDONG ROBUSTA BUBUK TERHADAP KANDUNGAN KIMIA DAN TINGKAT KESUKAAN PANELIS Ghina, Salma; Murhadi, Murhadi
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i2.9401

Abstract

Kopi gelondong setelah disangrai memiliki aroma khas tanaman yang tidak enak. Jahe merah dapat menjadi alternatif untuk menutupi kekurangan dari aroma yang dihasilkan kopi gelondong jahe merah. Penelitian ini dilaksanakan untuk menemukan formulasi jahe merah bubuk dan kopi gelondong robusta bubuk yang disukai oleh panelis dan mengetahui mutunya berdasarkan kadar air, abu, kealkalian abu, sari kopi, dan pH. Formulasi dari kopi gelondong dan jahe merah bubuk sebesar 100%:0% (F0), 96%:4% (F1), 92%:8% (F2), 88%:12% (F3), 84%:16% (F4), 80%:20% (F5), 76%:24% (F6), dan 72%:28% (F7) dengan total berat tiap formulasi sebesar 250 gram. Kopi gelondong bubuk didapatkan dari proses pengeringan, penyangraian suhu 225oC selama 15 menit, dan penggilingan; jahe merah bubuk diperoleh dari proses pengirisan, pengeringan dengan oven suhu 50oC selama 14 jam, dan penggilingan; serta pencampuran kedua bahan sesuai formulasi. Formulasi yang paling disukai diamati dengan uji hedonik berdasarkan parameter warna, tekstur (kekentalan), aroma, dan rasa serta terbaik mutunya berdasarkan kandungan kimia. F5 adalah formulasi kopi gelondong bubuk dan jahe merah bubuk sebesar 80% : 20% yang paling disukai dan terbaik berdasar mutu kandungan kimia. Hasil uji hedonik nilai warna 3,68 (suka), kekentalan 3,76 (suka), aroma 3,62 (suka), dan rasa 3,24 (agak suka). Kandungan kimia formulasi F5 memiliki kadar air 3,84 % (b/b), kadar abu 6,98% (b/b), kealkalian abu 17,63 mL N NaOH/100g, sari kopi 30,08 % (b/b) dan nilai pH 5,87.Kata kunci: jahe merah, kadar air, kopi gelondong, sari kopi, uji hedonik
PENGARUH KONSENTRASI PATI SAGU (Metroxylon sago Rottb) DAN KITOSAN TERHADAP KARAKTERISTIK BIODEGRADABLE FILM BERBASIS SABUT KELAPA MUDA Wardatul Jannah, Irkhamna Annisa; Zulferiyenni, Zulferiyenni; Hidayati, Sri; Nawansih, Otik
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i2.9507

Abstract

Biodegradable film berbasis selulosa memiliki potensi dijadikan bioplastik yang mudah terdegradasi di alam yang dibuat dari berbagai bahan terbarukan (renewable sources). Sabut kelapa muda mengandung selulosa sebesar 43,4%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pati sagu dan kitosan terhadap karakteristik biodegradable fillm dari selulosa sabut kelapa muda, serta mengetahui interaksi konsentrasi pati sagu dan kitosan dengan karakteristik terbaik sesuai SNI 7818 : 2014. Penelitian ini disusun dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor dan dua ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi pati sagu dengan kode (P) yang terdiri dari empat konsentrasi (0%, 1,5%, 3% dan 4,5%) (b/v). Faktor kedua adalah konsentrasi kitosan denngan kode (K) yang terdiri dari tiga konsentrasi (0%, 1% dan 2%) (b/v). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang berbeda terhadap karakteristik biodegradable fillm berbasis selulosa sabut kelapa muda. Semua karakteristik, kecuali nilai persen pemanjangan dari biodegradable fillm yang dihasilkan yang sudah memenuhi standar SNI 7818 : 2014, dapat terdegradasi selama 3 minggu dan memiliki ketahanan suhu ruang selama 3 minggu
PENGARUH LAMA PENGERINGAN TERHADAP KARAKTERISTIK KIMIA DAN SENSORI SIMPLISIA TUMBUHAN CIPLUKAN (Physalis angulata L.) UNTUK MINUMAN FUNGSIONAL Nasihin, Khoiru; Nawansih, Otik; Yuliandri, Puspita; susilawati, Susilawati
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i2.9553

Abstract

Simplisia ciplukan diolah melalui proses pengeringan, lama pengeringan dapat mempengaruhi kualitas simplisia yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu pengeringan terhadap karakteristik kimia dan sensori simplisia ciplukan (Physalis angulata L.) Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 (enam) perlakuan lama pengeringan dan 3 (tiga) kali pengulangan. Rancangan yang dilakukan adalah (P0) = 0 jam, (P1) = 6 jam, (P2) = 12 jam, (P3) = 18 jam, (P4) = 24 jam, dan (P5) = 30 jam. Metode pengeringan yang digunakan adalah pengeringan tidak langsung yaitu dijemur di bawah sinar matahari dan ditutup dengan kain kasa hitam. Tumbuhan ciplukan dicuci dan ditiriskan, kemudian dilakukan pengecilan ukuran dengan dirajang dan ditimbang 500 g untuk setiap perlakuan kemudian dikeringkan. Simplisia yang dihasilkan kemudian dilakukan uji kadar udara, uji aktivitas antioksidan, dan uji sensori. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji BNT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama waktu pengeringan berpengaruh terhadap karakteristik kimia dan sensori simplisia ciplukan. Perlakuan lama pengeringan 30 jam merupakan perlakuan terbaik yang menghasilkan nilai produktifitas (NP) tertinggi yaitu 0,66, kadar udara sesuai dengan SNI produk teh yaitu sebesar 8,7%, aktivitas antioksidan 48,26%, skor warna 4,82 (coklat tua ), skor aroma 4,77 (sangat tidak langu), dan skor rasa 4,91 (sangat pahit).
PENGARUH PENGGUNAAN BERBAGAI JENIS HIDROKOLOID TERHADAP KARAKTERISTIK SENSORI SELAI LEMBARAN CAMPURAN PEPAYA (Carica Papaya) DAN SIRSAK (Annona Muricata) Ningtias, Nadila; Susilawati, Susilawati; Herdiana, Novita; Sartika, Dewi
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i2.9678

Abstract

Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh penggunaan beberapa jenis hidrokoloid yaitu karagenan, pektin, gelatin dan CMC terhadap karakteristik sensori selai campuran lembaran sirsak dan pepaya serta mengetahui jenis hidrokoloid yang digunakan sehingga menghasilkan selai campuran lembaran sirsak dan pepaya dengan sifat sensori terbaik. Penelitian ini disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 5 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini yaitu P1 (Tanpa penambahan hidrokoloid), P2 (Penambahan pektin 2%), P3 (Penambahan karagenan 2%), P4 (Penambahan gelatin 1,5%) dan P5 (Penambahan CMC 1%). Data dianalisis menggunakan uji Bartlett dan uji Tuckey, dilanjutkan dengan analisis ragam (ANARA), dan uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil) dengan taraf 5%. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan berbagai jenis hidrokoloid berpengaruh terhadap parameter tekstur dan penerimaan secara keseluruhan. Pektin dengan konsentrasi 2% merupakan hidrokoloid yang menghasilkan selai lembaran dengan karakteristik sensori terbaik dengan hasil skor kesukaan tekstur 3,313 (suka) dan skoring tekstur 3,425 (kompak dan plastis), aroma 3,133 (suka), warna 3,040 (suka), rasa 3,193 (suka ), penerimaan keseluruhan 3,733 (sangat suka), kadar udara 10,87%, vitamin C 0,9725 mg/g, kekerasan (kekerasan) 601,25 gf, kohesif (kekompakan) 0,815 dan springiness (kekenyalan) 2,85 mm.
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG DAUN KELOR (Moringa Oleifera L.) TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK, KIMIA DAN SENSORI SIOMAY IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Arni, Siti Murdila; Koesoemawardani, Dyah; Indraningtyas, Lathifa; Zuidar, Ahmad Sapta
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i2.9805

Abstract

Processed fishery products in the form of dumpling are high in carbohydrates and protein, because they are made from at least 30% minced meat mixed with flour and other ingredients.  However, dumpling is low in fiber and needs to be supplemented with high fiber ingredients, such as Moringa leaf flour.  The aim of this research is to determine the effect of adding Moringa leaf flour on the physical, chemical and sensory characteristics of tilapia dumpling, as well as to establish the proportion of Moringa leaf flour addition that produces the best tilapia dumpling in accordance with SNI 7756:2013.  The research was conducted using a Complete Randomized Block Design (RAKL) with one factor and four replications consisting of 6 levels, namely the concentration of Moringa leaf flour addition of 0% (P1), 1% (P2), 2% (P3), 3% (P4), 4% (P5) and 5% (P6).  The best treatment is determined using the star method.  The research findings indicated that the addition of Moringa leaf flour had influenced the physical, chemical, and sensory characteristics of tilapia fish dumpling.  The best treatment for tilapia dumpling was treatment P6 (5%) with a gel strength value of 122.37g, water content of 58.97%, texture of 3.24 (chewy), taste of 4.54 (very characteristic of Moringa), aroma of 4.75 ( very characteristic of Moringa) color of 4.87 (dark green), ash content of 2.24%, crude fiber content of 12.53%, fat content of 1.97%, protein content of 12.19% and antioxidant activity of 4087.90 ppm.
Pengaruh Perbandingan Konsentrasi Karagenan-Konjak Terhadap Karakteristik Fisikokimia dan Sensori Jelly Drink Sari Buah Pepaya (Carica papaya. (L). var. Calina) Pratiwi, Nova Andriani; Koesoemawardani, Dyah; Winanti, Diki; Nurainy, Fibra
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i2.9820

Abstract

AbstractPapaya fruit is susceptible to damage and has a shorter shelf life so product diversification efforts are needed to extend the shelf life of papaya fruit. Efforts to diversify papaya fruit by innovating it into a papaya juice jelly drink. Making jelly drinks requires two gelling agents, namely carrageenan and konjac. This research was carried out to find the effect and appropriate formulation of carrageenan and konjac on the sensory, physical and chemical properties of papaya juice jelly drink. Formulation of carrageenan and konjac at 55%:45% (P1), 60%:40% (P2), 65%:35% (P3), 70%:30% (P4), 75%:25% (P5) , 80%:20% (P6). The formulation of the 6 samples was then tested for viscosity, syneresis, water content, pH, suction power scoring test, hedonic test based on taste, color, aroma and overall acceptability parameters. P3 is the most preferred and best formulation of carrageenan and konjac 70%:30% based on the quality of the chemical content. Scoring test results suction power value 3.31 (like), hedonic test taste 3.70 (like), aroma 3.33 (like), color 3.68 (like), overall acceptance 3.98 (very like), viscosity 12.00 dPa.s, syneresis 0.77 %, water content 80.35%, pH 3.92, total plate count 24.5x 102 and beta-carotene of 0.057 mg/ 100g. Keywords: papaya, carrageenan, konjac, jelly drink, viscosity AbstrakBuah pepaya rentan terhadap kerusakan dan memiliki daya umur simpan yang lebih pendek sehingga diperlukan upaya diversifikasi produk untuk memperpanjang umur simpan buah pepaya. Upaya diversifikasi buah pepaya dengan menginovasikannya menjadi jelly drink sari buah pepaya. Pembuatan jelly drink diperlukan dua bahan gelling agent yaitu karagenan dan konjak. Penelitian ini dilaksanakan untuk menemukan pengaruh dan formulasi yang tepat antara karagenan dan konjak terhadap sifat sensori, fisik dan kimia jelly drink sari buah pepaya. Formulasi dari karagenan dan konjak sebesar 55%:45% (P1), 60%:40% (P2), 65%:35% (P3), 70%:30% (P4), 75%:25% (P5), 80%:20% (P6). Formulasi ke 6 sampel di uji viskositas, sineresis, kadar air, pH, uji skoring daya sedot, uji hedonik berdasarkan parameter rasa, warna, aroma, dan penerimaan keseluruhan. P3 adalah formulasi karagenan dan konjak sebesar 70%:30% yang paling disukai dan terbaik berdasarkan mutu kandungan kimia. Hasil uji skoring nilai daya sedot 3,31 (suka), uji hedonik rasa 3,70 (suka), aroma 3,33 (suka), warna 3,68 (suka), penerimaan keseluruhan 3,98 (sangat suka), viskositas 12,00 dPa.s, sineresis 0,77 %, kadar air 80,35%, pH 3,92, uji angka lempeng total 24,5x 102dan beta-karoten sebesar 0,057 mg/100g. Kata kunci: pepaya, karagenan, konjak, jelly drink, viskositas

Page 1 of 2 | Total Record : 17