cover
Contact Name
Masduki
Contact Email
lppi@ums.ac.id
Phone
+62856-4096-0975
Journal Mail Official
lppi@ums.ac.id
Editorial Address
Magister Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta Jln. A. Yani, Pabelan, Kartasura, Surakarta - 57162
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Jurisprudence
ISSN : 18295045     EISSN : 25495615     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Jurisprudence is an academic journal published twice a year by the Magister Law Program of Universitas Muhammadiyah Surakarta
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 13, No. 2, December 2023" : 8 Documents clear
Sexual Gratification As A Serious Threat In Modern Criminal Reasoning On Aspects Of Judges' Considerations In Court Judgment Muhamad Iqbal; Susanto; Bhanu Prakash Nunna
Jurnal Jurisprudence Vol. 13, No. 2, December 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jurisprudence.v13i2.1819

Abstract

ABSTRACT Objective: This research aims to examine and analyze the problem of sexual gratification as a serious threat in modern criminal reasoning. Methodology: In this research, the authors used a normative juridical method. This method was employed to examine many types of legal materials by referring to diverse norms found in legislation and encompassing several related legal principles, history, doctrine, and jurisprudence. Thus, this method applied a statutory approach. Finding: Over time, since all kinds of gifts within the scope of gratification have developed, the segmentation has become wider. This suggests that valuable facilities and objects are not only money and luxury facilities but also anything that can facilitate all kinds of individual biological needs, such as sexual. Sexual gratification, which originated from prohibited activities against the law with different scopes, such as prostitution, has now been targeted as a gift in the form of sexual facilities as an effort or reward for prohibited services provided by legal subjects in the Corruption Eradication Law. In relation to several things, in this aspect, the regulation in practice still has difficulty enforcing the law on the issue of gratification, considering the difficulty of providing evidence in the regulation. As such, an alternative step in this aspect is to find a legal breakthrough, one of which is using the judge's authority at the examination stage. As happened in Court Judgment Number 87/PID.SUS/TPK/2013/PN.BDG, the fact was discovered that one of the witnesses in court stated that the Defendant asked for sexual services every Thursday or Friday night, but this was not considered in legal considerations. In fact, her statement should have been used as evidence against the Defendant. For this reason, modern criminal reasoning in the form of adjustments to the development of sexual gratification crimes is an effort to protect the nation. In arrangements relating to gratuities, there is a context relating to "other facilities"; here, it is considered that the context of sexuality can be included in the realm of gratification. In the context of "means," it is often categorized as a form of tool to achieve a desired goal. Application of this study: It is expected that this research can support literacy in society in all segments in responding to developments in the context of gratification to carry out prevention and legal developments regarding society's need for protection from threats, especially regarding morality in society. Sexual gratification is considered to be a serious threat to the moral values that live in society, considering that sexual gratification is not only a loss to the state but also a threat to the norms of decency that live in society. Novelty/Originality: In contrast to previous research, this research focuses on aspects of sexual gratification and the impact of morality in the interests of modern criminal law in criminal acts of corruption, which have not been specifically researched until now. Keywords: Criminal Act; Corruption; Sexual Gratification ABSTRAK Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis permasalahan kepuasan seksual sebagai ancaman serius dalam penalaran pidana modern. Metodologi: Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode yuridis normatif. Metode ini digunakan untuk mengkaji berbagai jenis bahan hukum dengan mengacu pada beragam norma yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan mencakup beberapa asas hukum, sejarah, doktrin, dan yurisprudensi yang terkait. Dengan demikian, metode ini menerapkan pendekatan perundang-undangan. Temuan: Seiring berjalannya waktu, sejak berkembangnya segala jenis pemberian dalam lingkup gratifikasi, maka segmentasinya menjadi lebih luas. Hal ini menunjukkan bahwa fasilitas dan benda yang berharga bukan hanya sekedar uang dan fasilitas kemewahan tetapi juga segala sesuatu yang dapat memfasilitasi segala macam kebutuhan biologis individu, misalnya seksual. Gratifikasi seksual yang bermula dari kegiatan-kegiatan yang dilarang melawan hukum dengan cakupan yang berbeda-beda, misalnya prostitusi, kini di sasaran sebagai pemberian berupa fasilitas seksual sebagai upaya atau imbalan atas jasa-jasa terlarang yang diberikan oleh subjek hukum dalam UU Pemberantasan Tipikor. Terkait dengan beberapa hal, pada aspek ini, peraturan tersebut dalam praktiknya masih mengalami kesulitan dalam menegakkan hukum terhadap masalah gratifikasi, mengingat sulitnya pembuktian dalam peraturan tersebut. Oleh karena itu, langkah alternatif dalam aspek ini adalah dengan mencari terobosan hukum, salah satunya dengan menggunakan kewenangan hakim pada tahap pemeriksaan. Sebagaimana terjadi dalam Putusan Pengadilan Nomor 87/PID.SUS/TPK/2013/PN.BDG, ditemukan fakta bahwa salah satu saksi di persidangan menyatakan bahwa Terdakwa meminta layanan seksual setiap hari Kamis atau Jumat malam, namun hal tersebut tidak dipertimbangkan. dalam pertimbangan hukum. Padahal, keterangannya seharusnya dijadikan alat bukti yang memberatkan Terdakwa. Untuk itu penalaran pidana modern berupa penyesuaian terhadap perkembangan kejahatan gratifikasi seksual merupakan upaya perlindungan bangsa. Dalam pengaturan terkait gratifikasi, terdapat konteks yang berkaitan dengan “fasilitas lain”; di sini, konteks seksualitas dianggap bisa masuk dalam ranah gratifikasi. Dalam konteks “sarana”, sering kali dikategorikan sebagai suatu bentuk alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kegunaan: Diharapkan penelitian ini dapat mendukung literasi masyarakat pada semua segmen dalam menyikapi perkembangan dalam rangka gratifikasi untuk melakukan pencegahan dan pengembangan hukum mengenai kebutuhan masyarakat akan perlindungan dari ancaman khususnya mengenai moralitas dalam masyarakat. Gratifikasi seksual dinilai dapat menjadi ancaman serius terhadap nilai-nilai moral yang hidup dalam masyarakat, mengingat kepuasan seksual tidak hanya merugikan negara tetapi juga merupakan ancaman terhadap norma kesusilaan yang hidup dalam masyarakat. Kebaruan/Keaslian: Berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian ini berfokus pada aspek kepuasan seksual dan dampak moralitas untuk kepentingan hukum pidana modern dalam tindak pidana korupsi yang hingga saat ini belum diteliti secara khusus. Kata Kunci: Tindak Pidana; Korupsi; Kepuasan Seksual
Judges’ Considerations in the Case Judgment of Premarital Sex Crime with Underage Child Based on Mutual Love at the Bengkulu District Court Kurnia Dewi Anggraeny, Kurnia Dewi Anggraeny; Oktafia Nur Alimah; Gatot Sugiharto; Salsabila Nurussa’adah
Jurnal Jurisprudence Vol. 13, No. 2, December 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jurisprudence.v13i2.1889

Abstract

ABSTRACT Purpose: This research aims to analyze the form of liability that can be imposed on child perpetrators for criminal acts of premarital sex with an underage child based on mutual love. Furthermore, this research aims to analyze the juridical and non-juridical considerations and the verdict of the judge in sentencing the child perpetrators for a premarital sex crime with an underage child in Bengkulu Court Judgment No. 20/Pid.Sus-Anak/2021/PN Bgl and No. 35/Pid.Sus-Anak/2022/PN Bgl. Methodology: This research used normative legal research. The approach method employed in this research was a juridical approach, referring to the applicable laws and regulations. The analysis of legal materials in this research utilized a qualitative method, i.e., a step to describe the data obtained in sentence form. Results: The results demonstrated that a child who committed criminal acts of premarital sex with an underage child based on mutual love can still be held criminally liable. The form of liability imposed on child perpetrators is imprisonment, but the special minimum provisions of imprisonment do not apply. Judges' Considerations in the Bengkulu District Court Judgment No. 20/Pid.Sus-Anak/2021/PN Bgl and No. 35/Pid.Sus-Anak/2022/PN Bgl are for the fact that there were non-juridical causalities of criminal acts of premarital sex with an underage child or sexual intercourse due to the romantic relationships between the victim and the perpetrator whose intercourse was consensual and did not always involve force or violence. These non-juridical considerations were made by the judge as mitigating circumstances for child perpetrators. Benefits: This research can be used as reference material for the government and law enforcers, particularly judges, in deciding a case of premarital sex with an underage child committed by a child based on mutual love. Thus, law enforcement against child perpetrators of sexual abuse would become more impartial, and child victims would also receive attention and protection. Novelty/Originality: Regarding the analysis of the judge’s considerations in Judgment No. 20/Pid.Sus-Anak/2021/PN Bgl and No. 35/Pid.Sus-Anak/2022/PN Bgl on criminal liability for the child perpetrator of premarital sex with an underage child based on mutual love, the existing Law on Child Protection (UUPPA) has not comprehensively regulated the form of liability for child perpetrator of the premarital sex crime with underage children based on mutual love and non-juridical causality of the premarital sex crime with underage children. Keywords: obscenity, children, consensual, mutual love  Abstrak  Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk tanggung jawab yang dapat dikenakan pada pelaku anak-anak untuk tindakan kriminal seks pra-perkawinan dengan anak di bawah umur berdasarkan cinta bersama. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan-pertimbangan hukum dan non-judi dan putusan hakim dalam menghukum pelaku kejahatan seksual pra-perkawinan dengan anak di Pengadilan Bengkulu Keputusan No. 20/Pid.Sus-Anak/2021/PN Bgl dan No. 35/Ped. Metodologi: Penelitian ini menggunakan penelitian hukum normatif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan hukum, mengacu pada hukum dan peraturan yang berlaku. Analisis materi hukum dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu, langkah untuk menggambarkan data yang diperoleh dalam bentuk kalimat. Hasil: Hasilnya menunjukkan bahwa seorang anak yang melakukan tindakan kriminal seks pra-perkawinan dengan seorang anak di bawah umur berdasarkan cinta bersama masih dapat ditanggung kejahatan. Bentuk tanggung jawab yang dikenakan pada pelaku anak adalah penjara, tetapi ketentuan minimum khusus penjara tidak berlaku. Pertimbangan hakim dalam putusan Pengadilan Distrik Bengkulu No. 20/Pid.Sus-Anak/2021/PN Bgl dan No. 35/PID.Sust-Anak/2022/PNBgl adalah atas fakta bahwa ada kausal-kausal non-hukum dari tindakan kejahatan seks pra-perkawinan dengan anak di bawah umur atau hubungan seksual karena hubungan romantis antara korban dan pelakunya yang hubungan itu konsensual dan tidak selalu melibatkan kekuatan atau kekerasan. Pertimbangan-pertimbangan non-hukum ini dibuat oleh hakim sebagai keadaan meringankan bagi pelaku anak. Manfaat: Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi pemerintah dan penegak hukum, terutama hakim, dalam memutuskan kasus seks pra-perkawinan dengan anak yang masih kecil yang dilakukan oleh anak berdasarkan cinta bersama. Dengan demikian, penegakan hukum terhadap pelaku pelecehan seksual anak akan menjadi lebih adil, dan anak-anak korban juga akan menerima perhatian dan perlindungan. Novelty dan Originality: Berkaitan dengan analisis pertimbangan hakim dalam Keputusan No. 20/Pd.Sus-Anak/2021/PN Bgl dan No. 35/Pid.Sust-Anak/2022/PNBgl tentang tanggung jawab pidana bagi anak yang melakukan hubungan seksual pra-perkawinan dengan anak di bawah umur atas dasar cinta bersama, Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPPA) saat ini belum secara komprehensif mengatur bentuk tanggung jawab anak-anak yang melakukan kejahatan seks pra-Perkawinan terhadap anak di atas usia di atas umur berdasarkan cinta bersama dan kausalitas non-juridis dari hubungan seksual di bawah usia.  Kata kunci: obscenity, anak-anak, konsensual, cinta bersama
The Juridical Analysis Of Medical Malpractice Actions Carried Out By Ophthalmologist Andayani, Ari; Agus Kurniawan
Jurnal Jurisprudence Vol. 13, No. 2, December 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jurisprudence.v13i2.2398

Abstract

ABSTRACT / ABSTRAK Purpose of the Study: This research aimed to analyze legal considerations in malpractice cases carried out by ophthalmologists and analyze the differences between medical risk and medical malpractice Methodology: This research is normative legal research using the statute approach and case approach of medical malpractice cases. The research object discussed is the Supreme Court Judgment Number 277/PDT/2020/PT SBY and Supreme Court Judgment Number 338 K/Pdt/2020. The analysis technique implemented descriptive qualitative analysis. Results: The results of the research discovered that the judge's consideration in issuing nt in malpractice case by an ophthalmologist was inconsistent and defied the applicable laws and regulations, in which Articles 359 and 360 of the Criminal Code the judge should have imprisoned to the perpetrator. Apart from that, the judgment 277/PDT /2020/PT SBY is included in the medical malpractice action which is shown by the damages given to the patient and an apology from the doctor. Applications of this study: Research suggests the conformity of judgment with laws and punishment that should be given to doctors who committed medical malpractice from the proof and applicable laws and regulations. Novelty/Originality of this study: The study analyzed the judgments of medical malpractice cases through 6 court processes. Keywords: Medical Malpractice, Liability, Criminal Law   Abstrak / Abstrak  Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan hukum dalam kasus penyalahgunaan yang dilakukan oleh dokter mata dan untuk menganalisa perbedaan antara risiko medis dan penyimpangan medis Metodologi: Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif menggunakan pendekatan hukum dan pendekatan kasus kasus kasus penyalahgunaan medis. Objek penelitian yang dibahas adalah Keputusan Mahkamah Agung Nomor 277/PDT/2020/PT SBY dan Keputusan Pengadilan Tinggi Nomor 338 K/Pdt/2020. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menemukan bahwa pertimbangan hakim dalam mengeluarkan nt dalam kasus penyalahgunaan oleh seorang dokter mata tidak konsisten dan menantang hukum dan peraturan yang berlaku, di mana Pasal 359 dan 360 dari Kode Kriminal hakim harus menahan pelaku. Selain itu, putusan 277/PDT/2020/PT SBY termasuk dalam tindakan penyalahgunaan medis yang ditunjukkan dengan kerusakan yang dialami pasien dan maaf dari dokter. Aplikasi dari penelitian ini: Penelitian menunjukkan kesesuaian penilaian dengan hukum dan hukuman yang harus diberikan kepada dokter yang melakukan penyalahgunaan medis dari bukti dan hukum dan peraturan yang berlaku Novelty/Originality of this study: Studi ini menganalisis penilaian kasus penyalahgunaan medis melalui 6 proses pengadilan. Kata Kunci: Penyalahgunaan Medis, Tanggung Jawab, Hukum pidana
Law Enforcement on Terrorism: The Role of Judicial Decisions Badollahi, Muhammad Taufan; Ubay, Ubay; Amiruddin Amrullah
Jurnal Jurisprudence Vol. 13, No. 2, December 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jurisprudence.v13i2.2672

Abstract

ABSTRACT Purpose of the Study: The repressive law enforcement carried out as a response against the crime of terrorism has caused issues with law enforcement's effectiveness in Indonesia. It was discovered that the normative approach did not cut the chain of terrorism. On the contrary, it created new terrorists.  This paper aimed to construct the relationship between law enforcement, judicial decisions, and legal objectives. Methodology : This research used the dogmatic legal research method by statutory and library approaches. The data of this research were gathered from news and judicial decisions on terrorism cases. Results : Results suggest that law enforcement, especially normative-repressive judicial decisions, has resulted in new issues, namely society's rampant actions against the state, particularly towards the law enforcement apparatus. Applications of this Study : This condition will further imply with the rampant actions of state delegitimating in society. In line with that, this paper suggests that a new style of law enforcement should be applied in solving terrorism cases in this country.  The said approach is law enforcement who emphasizes the humanity of the suspect, heavily addressing the protection of the suspect's rights in the crime of terrorism. Novelty/Originality of this study: This is the pilot research discussing judicial decisions in courts concerning terrorist cases in Poso and its surroundings. Keywords: Law enforcement, judicial decisions, terrorism, social resistance, legal justice.   ABSTRAK  Tujuan Studi: Penegakan hukum represif yang dilakukan sebagai tanggapan terhadap kejahatan terorisme telah menimbulkan masalah dengan efektivitas penegak hukum di Indonesia. Ia menemukan bahwa pendekatan normatif tidak memotong rantai terorisme. Sebaliknya, ia menciptakan teroris baru.  Dokumen ini bertujuan untuk membangun hubungan antara penegakan hukum, keputusan pengadilan, dan tujuan hukum. Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum dogmatis dengan pendekatan undang-undang dan perpustakaan. Data dari penelitian ini dikumpulkan dari berita dan keputusan pengadilan tentang kasus terorisme. Hasil: Hasilnya menunjukkan bahwa penegakan hukum, terutama keputusan-keputusan pengadilan normatif-represif, telah menghasilkan masalah baru, yaitu tindakan ramping masyarakat terhadap negara, terutama terhadap aparat penegak hukum. Aplikasi dari Studi ini: Kondisi ini akan lebih menyiratkan dengan tindakan ramping delegitimating negara di masyarakat. Sesuai dengan itu, makalah ini menyarankan bahwa gaya penegakan hukum baru harus diterapkan dalam menyelesaikan kasus terorisme di negara ini.  Pendekatan yang disebutkan adalah penegakan hukum yang menekankan kemanusiaan tersangka, dengan serius menangani perlindungan hak tersangka dalam kejahatan terorisme. Kebaruan/Orisinalitas: Ini adalah penelitian pilot yang membahas keputusan pengadilan di pengadilan mengenai kasus terorisme di Poso dan sekitarnya. Kata kunci: penegakan hukum, keputusan pengadilan, terorisme, perlawanan sosial, keadilan hukum.
The Constitutionality of Appointment of Acting Regional Heads in Constitutional Court Judgment Siboy, Ahmad; Muhammad Nur
Jurnal Jurisprudence Vol. 13, No. 2, December 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jurisprudence.v13i2.2794

Abstract

ABSTRACT  Purpose of the study: This research aimed to describe the ratio decindi of the Constitutional Court's judgment in terms of judicial review regarding the appointment of acting regional heads and its implications on the meaning of sovereignty in its implementation. Methodology: This research is normative legal research because it is based on the Constitutional Court Judgment Number 67/PUU-XIX/2021. The approaches used are the statutory regulations approach, the judge's decisoon approach, the conceptual approach, the case approach, and the philosophical approach. Results: The Constitutional Court stated that the appointment of acting regional heads as a result of the postponement of the Pilkada was a legal policy chosen by the legislators (People's Representative Council and President) which qualified as a constitutional legal alternative considering that the delay of the Pilkada had no impact on reducing the right to vote and the right to be candidate. Applications of this study: This research can be used to develop courses in general election law and regional head elections, especially in understanding how the Constitutional Court considers a decision. Apart from that, this research can also be used as a consideration in efforts to change the law regarding regional elections or can also be used as additional evidence if another judicial review of the regulations regarding the postponement of regional elections. Novelty/ Orginalty of this study: There has been no previous research that specifically analyzes the Constitutional Court's judgment regarding the appointment of acting regional heads in terms of the legitimacy of the meaning of popular sovereignty and its implications for the practice of appointing acting regional heads. The legitimacy of the appointment of acting regional heads in the Constitutional Court’s judgment is an interpretation that has degrade the challenge of the meaning or position of regional heads, in which the status has experienced shifting in meaning from a political position to a career position. As a result, the people's right to determine their own regional heads is taken over by the central government. The shift from the people's right to choose to the right of the President and Ministers to appoint regional heads is a shift that leads to a shift in sovereignty, namely, from the sovereignty of the people to the sovereignty of the ruler. Keywords: Regional head, Ratio decidendi, Popular sovereignty.   ABSTRAK Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan ratio decindi putusan MK dalam hal uji materi tentang penunjukkan penjabat kepala daerah serta implikasinya terhadap makna kedaulatan rakyat dalam implementasi penunjukkan kepala daerah. Metodologi: Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian yuridis normatif karena berpijak pada putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XIX/2021. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan peraturan perundang-undangan, pendekatan putusan hakim, pendekatan konsep, pendakatan kasus dan pendekatan filosofis. Temuan: Mahkamah Konstitusi menyatakan bahwa penunjukkan penjabat kepala daerah sebagai akibat dari penundaan penyelenggaraan Pilkada merupakan politik hukum yang dipilih pembentuk undang-undang (DPR dan Presiden) yang terkualifikasi sebagai pilihan hukum yang konstitusional mengingat penundaan Pilkada tersebut tidak berdampak terhadap pengurangan hak untuk dipilih (right to vote) dan hak untuk memilih (right tobe candidate). Kegunaan: Penelitian ini dapat dimanfaatkan bagi pengembangan mata kuliah hukum pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah khususnya hal mengetahui bagaimana MK membuat pertimbangan dalam suatu putusan. Disamping itu, penelitian ini juga dapat dijadikan pertimbangan dalam upaya perubahan undang-undang tentang Pilkada atau dapat pula dijadikan sebagai tambahan dalil apabila akan dilakukan uji materi lagi terhadap aturan tentang penundaan Pilkada. Kebaruan/Orisinalitas: Belum terdapat penelitian terdahulu yang menganalisis secara khusus putusan Mahkamah Konstitusi tentang penunjukkan penjabat kepala daerah dari sisi legitimasi makna kedaulatan rakyat dan implikasinya dalam praktek penunjukkan penjabat kepala daerah. Legitimasi penunjukkan penjabat kepala daerah dalam putusan Mahkamah konstitusi merupakan tafsir yang telah mereduksi tantang makna atau kedudukan kepala daerah dimana kedudukan kepala daerah mengalami pergeseran makna dari jabatan politis menjadi jabatan karir. Akibatnya, hak rakyat untuk menentukan sendiri kepala daerahnya diambil alih oleh pemerintah pusat. Pergeseran hak untuk memilih dari rakyat secara langsung menjadi hak Presiden dan Menteri dalam hal penunjukkan kepala daerah merupakan pergeseran yang menyebabkan terjadinya peralihan kedaulatan. Yakni, dari kedaulatan rakyat menjadi kedaulatan penguasa. Keywords: Penjabat kepala daerah, ratio decidendi, Kedaulatan Rakyat.
The Relationship Of State Law And Customary Law:: Reinforcement And Protection Of Customary Law In Constitutional Court Judgment Asnawi Mubarok; Absori; Harun; Sheela Jayabalan
Jurnal Jurisprudence Vol. 13, No. 2, December 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jurisprudence.v13i2.2914

Abstract

ABSTRACT Purpose of the study: This research analyzes the relationship between state law and customary law and Constitutional Court judgment in strengthening the rights of indigenous peoples and legal protection of the rights of indigenous peoples. Methodology: This article used normative legal research. Normative legal research is a scientific research procedure based on the logic of jurisprudence (doctrine) to seek truth from a normative perspective, which is conducted in the literature study in the form of relevant legal regulations and norms, especially in the Constitutional Court Judgment Number 35/PUU-X/2012, as well as other relevant sources. Results: This study reveals that recognition of the nature of the norms created by Indonesian indigenous peoples in the constitution is a facultative norm rather than imperative. Therefore, the state's obligation to recognize and respect indigenous peoples does not have strong binding force, so it is difficult to use apparent guidelines, procedures and mechanisms. This situation provokes conflicts, including between the government and society, society and entrepreneurs, and within society. The protection and reinforcement of indigenous communities still requires improvements and stronger law enforcement. Applications of this study: The research provides a comprehensive understanding analysis given that the interaction of state law with customary law or non-state laws both have influences and intersect with each other. However, conflicts between laws that apply to an area often let local laws to be defeated through the authorization process. The state has the right to issue and ratify all policies. State law should not eliminate the existence of customary law, but it is expected that shared likeliness can be sought so that it is consistent in its implementation. Novelty/ Originality of this study: This research gives a conceptual proposal of protecting indigenous peoples' land rights through: First, strengthening recognition. Indigenous communities whose customary land is in need for development should be recognized, not in the form of funds, but through the construction of public facilities or other forms of benefit to local communities. Second, establishing an independent institution under the President that resolves problems, conflicts, recognition, protection and promotion of the rights of indigenous peoples. Third, regulatory integration between ministries. Fourth, reinforcing the role of regional government and Regional Legislative Council. This conceptual proposal emphasizes the significance of respecting and protecting the rights of indigenous peoples before law, political recognition, autonomy and policies to ensure that the rights of indigenous peoples are respected and upheld. Keywords: Indigenous People, Legal Protection, Constitutional Court   ABSTRAK   Tujuan: Penelitian ini menganalisis tentang relasi hukum negara dengan hukum adat dan Putusan MK dalam penguatan hak masyarakat adat serta perlindungan hukum terhadap hak masyarakat adat Metodologi: Artikel ini menggunakan penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif adalah suatu prosedur penelitian ilmiah berdasarkan logika yurisprudensi (doktrin) untuk mencari kebenaran dari sisi normatif, yang dilakukan dalam kajian bahan pustaka berupa peraturan dan norma hukum yang terkait terutama dalam putusan Mahkamah Konstitusi nomor 35/ PUU-X/2012, juga sumber lain yang terkait. Temuan: Kajian ini mengungkapkan bahwa pengakuan terhadap hakikat norma-norma yang diciptakan oleh masyarakat adat Indonesia dalam konstitusi adalah sebuah norma opsional dan bukan norma wajib. Oleh karena itu, kewajiban negara untuk mengakui dan menghormati masyarakat adat tidak mempunyai kekuatan mengikat yang kuat, sehingga tidak mudah untuk dijadikan pedoman, prosedur dan mekanisme yang lebih konkrit. Keadaan ini memunculkan banyak konflik, antara lain antara pemerintah dengan masyarakat, masyarakat dengan pengusaha, serta masyarakat dengan masyarakat. Perlindungan dan pemberdayaan masyarakat adat masih memerlukan perbaikan dan penegakan hukum yang lebih kuat. Kegunaan: Penelitian memberikan analisis pemahaman yang lebih komprehensif melihat bahwa interaksi hukum negara dengan hukum adat atau hukum yang bukan berasal dari negara sama-sama memiliki pengaruh dan saling bersinggungan, meskipun demikian konflik antar hukum yang berlaku atas suatu wilayah sering kali menyebabkan hukum lokal dikalahkan melalui proses otorisasi negara yang berhak mengeluarkan dan mengesahkan segala kebijakan. Hukum negara hendaknya tidak menyingkirkan keberadaan hukum adat, namun diharapkan dapat dicari titik-titik persamaan yang ada sehingga sejalan dalam pelaksanaannya. Kebaruan/Orisinalitas: Penelitian ini memberikan tawaran konsepsional perlindungan hak atas tanah masyarakat adat dapat melalui: Pertama, memperkuat recognitie. masyarakat adat yang tanah ulayatnya diperlukan untuk pembangunan harus diberikan pengakuan, bukan dalam bentuk uang, tetapi melalui pembangunan fasilitas umum atau bentuk lain yang bermanfaat bagi masyarakat setempat. Kedua, Membentuk lembaga independen di bawah Presiden yang menangani permasalahan, konflik, pengakuan, perlindungan dan pemajuan hak-hak masyarakat adat. Ketiga, Integrasi Regulasi antar Kementerian. Keempat, Penguatan Peran Pemerintah Daerah dan DPRD. Seluruh tawaran konsepsionel ini menekankan pentingnya menghormati dan melindungi hak-hak masyarakat adat dalam konteks hukum, pengakuan politik, otonomi, dan kebijakan untuk memastikan hak-hak masyarakat adat dihormati dan ditegakkan. Kata Kunci: Masyarakat Adat, Perlindungan Hukum, Mahkamah Konstitusi
Ensuring Certainty through Legal Reasoning: What Can Indonesia Learn from the United Kingdom and the Unites States? Herliana, Herliana
Jurnal Jurisprudence Vol. 13, No. 2, December 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jurisprudence.v13i2.3057

Abstract

Purpose of the study : This study analyzes the principle and methodologies of legal reasoning by judges in the United Kingdom and the United States. Legal reasoning ensures legal certainty by promoting consistency, predictability, transparency, and adherence to legal principles and precedents. Legal reasoning provides a structured and principled approach to judicial decision making. The Indonesian legal system which predominantly follows a civil law tradition, stands to gain valuable insights from these common law models. Learning from common law models of legal reasoning can be used to overcome the existing problems with Indonesian judgment which considered to be lacking legal certainty. Methodology: This study is primarily normative legal research design to analyze and contrast legal reasoning practices in the United Kingdom and the United States. Results : This paper finds that elements of common law legal reasoning that can be implemented in Indonesia are the requirement for judge to provide ratio decidendi and obiter dicta in the court decision. The lesson Indonesia can learn from legal reasoning done by judges in the UK and the US are that Indonesian judges should not put the parties’ argument in their decision. Rather, the judges only need to focus on their own reason to be written in the judgment. In addition, Indonesian judges should not be too formalistic as this can result in a strict law enforcement without considering broader policy considerations or context. This paper posits that Indonesia's path to legal certainty lies in the consistency of legal reasoning in court judgment.  The experiences of the United Kingdom and the United States, when thoughtfully adapted, promise a brighter future for Indonesian judiciary in which legal certainty thrives and justice prevails. Applications of this study : This analysis can provide insight into how the UK and the US that follow a common law system approach, provide takeaways or lessons that Indonesia can apply in order to ensure the principle of legal uncertainty. Novelty/ Originality of this study: This research offers a novel point of view on how the problem of lack of legal certainty in Indonesian judiciary can be overcome by implementing elements in the common law system. The author did not find any studies which use the United Kingdom and the United States approaches to legal reasoning as case studies to be learned from when Indonesia is about to ensure legal certainty. Therefore, this research provide a novelty in the field of Jurisprudence. ABSTRAK Tujuan: Tujuan penlitian ini adalah menganalisis asas dan metodologi penalaran hukum yang dilakukan oleh hakim di Inggris dan Amerika Serikat. Penalaran hukum merupakan unsur yang penting dalam  kepastian hukum karena dengan penalaran putusan hakim dapat memberikan konsistensi dan prediktabilitas, transparansi dan kepatuhan terhadap asas hukum dan yurisprudensi. Penalaran hukum memberikan panduan structural dalam putusan hakim. Sistem hukum Indonesia yang mengikuti civil law system dapat mengambil manfaat dari common law system yang berlau di Inggris dan Amerika Serikat. Dengan mempelajari system di dua negara tersebut, penalaran hukum dapat digunakan untuk mengatasi masalah kurnagnya kepastian hukum di Indonesia.     Metodologi: Penelitian ini adalah penelitian hukum normative yang didesain untuk menganalisis dan membandingkan praktek penalaran hukum di Inggris dan Amerika Serikat. Temuan:   Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa elemen dari penalaran hukum di system common law yang dapat diterapkan di Indonesia adalah keharusan bagi hakim untuk mencantumkan ratio decidendi dan obitur dicta. Pelajaran yang dapat diambil oleh Indonesia dari penalaran hukum di Inggris dan Amerika Serikat adalah bahwa putusan hakim tidak perlu memuat argumen para pihak secara keseluruhan karena hakim seharusnya fokus pada penalaran hukum, memberikan argumentasinya sendiri. Selain itu, dalam memutus perkara, hakim tidak bersikap terlalu formalistik karena hal itu akan mengesampingkan konteks perkara dan pertimbangan lain. Hal ini akan memberikan kepastian hukum. Penelitian ini menunjukkan bahwa apabila Indonesia ingin mewujudkan kepastian hukum salah satunya dapat dicapai melalui penalaran hukum. Pengalama Inggris dan Amerika Serikat bila diterapkan dapat memberikan masa depan yang lebih baik bagi penegakan hukum di Indonesia dimana kepastian dan keadilan hukum dijunjung tinggi. Kata kunci: Kepastian hukum, Penalaran hukum, system common law, system civil law
Unveiling the Controversy: Legal Analysis of Juvenile Narcotics Use for Medical Purposes Alhakim, Abdurrakhman; Febriyani, Emiliya; Situmeang, Ampuan; Tan, David
Jurnal Jurisprudence Vol. 13, No. 2, December 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jurisprudence.v13i2.3143

Abstract

ABSTRACT Purpose of the study: This research aimed to fill gap by detailing the arguments around legal responsibility of juvenile narcotics use that are not intended for recreational purposes, but rather for medical purposes. This seeks to contribute to the growing literature on restorative justice in Indonesia, particularly for the development of the juvenile justice system. Methodology: This study examined the phenomenon of narcotics uses in the self-medication context, particularly among youth, utilizing the normative legal research method and bolstered by a case study (Judicial Decision). It also utilized the statutory approach, which involved an in-depth analysis of applicable legal provisions regarding juvenile crimes and narcotics. Results: While conceptual analysis found that there are many connections between the emerging trend of self-diagnosis and self-medication with narcotics use among children, yet the normative support to deal with this phenomenon through restorative justice remains poor. The impact of the lack of normative support is shown in the judicial decision, in which restorative justice through the application of diversion was applied incautiously, blurring children’s well-being;  disturbed by medical issue at first and later worsened by marijuana addiction. Applications of this study: The study can be an instrumental reference in guiding legal reforms, shaping healthcare policies for juvenile narcotic use, and providing information on educational and awareness programs that distinguish between medical and non-medical use of narcotics by minors. Novelty/Originality of this study: The originality of this study lies in its specific accent on the intersection of juvenile law, narcotics use, and medical treatment, which is a relatively underexplored area in legal research in Indonesia. It is also found in its analysis of a decision of a juvenile court regarding the use and possession of narcotics. Keywords: Legal Responsibility, Medical Purposes, Narcotics Crime, Restorative Justice, Case Study   ABSTRAK Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan dengan menjelaskan argumen seputar tanggung jawab hukum penggunaan narkotika oleh anak di bawah umur yang tidak dimaksudkan untuk tujuan rekreasi, melainkan untuk tujuan medis. Penelitian ini juga dilakukan untuk berkontribusi terhadap berkembangnya literatur mengenai keadilan restoratif di Indonesia, khususnya untuk pengembangan sistem peradilan anak. Metodologi: Studi ini mengkaji fenomena penggunaan narkotika dalam konteks swamedikasi, terutama di kalangan anak-anak, dengan menggunakan metode penelitian hukum normatif yang didukung oleh studi kasus (Putusan Pengadilan). Studi ini juga menggunakan pendekatan undang-undang, yang melibatkan analisis mendalam terhadap ketentuan hukum yang ada mengenai tindak pidana remaja dan narkotika. Temuan: Analisis konseptual menunjukkan bahwa meskipun terdapat banyak keterkaitan antara tren berkembangnya swadiagnosis dan swamedikasi dengan penggunaan narkotika di kalangan anak-anak, dukungan normatif untuk mengatasi fenomena ini melalui keadilan restoratif masih kurang. Dampak dari kurangnya dukungan normatif ini terlihat dalam putusan pengadilan di mana keadilan restoratif melalui penerapan diversi diterapkan dengan tergesa-gesa, tanpa fokus pada kesejahteraan anak, yang awalnya terganggu oleh masalah medisnya dan kemudian memburuk akibat kecanduan ganja. Kegunaan: Studi ini dapat menjadi referensi penting dalam reformasi hukum, membentuk kebijakan kesehatan yang berkaitan dengan penggunaan narkotika pada anak, dan menginformasikan program pendidikan dan kesadaran yang membedakan antara penggunaan narkotika untuk tujuan medis dan non-medis oleh anak di bawah umur. Kebaruan/Orisinalitas: Orisinalitas penelitian ini terletak pada fokus spesifiknya pada titik temu antara hukum peradilan anak, penggunaan narkotika, dan perawatan medis, yang merupakan area yang kurang dieksplorasi dalam penelitian IndonesiaIndonesia. Orisinalitas juga terletak pada analisisnya terhadap putusan pengadilan anak mengenai penggunaan dan kepemilikan narkotika. Kata Kunci: Tanggung Jawab Hukum, Tujuan Medis, Kejahatan Narkotika, Keadilan Restoratif, Studi Kasus

Page 1 of 1 | Total Record : 8