cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Analisa Laju Erosi pada Elbow Pipa Karena Partikel Pasir Dalam Aliran Fluida Gas Menggunakan Simulasi CFD Linggar Rhodam Krisnanda; Agoes Santoso; Taufik Fajar Nugroho
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.276 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.48218

Abstract

Dalam industri minyak dan gas bumi sering terjadi permasalahan berupa erosi yang terjadi pada internal pipa. Erosi didefinisikan sebagai suatu kerugian hilangnya sebagian material pipa karena bergeseknya dinding material dengan partikel pasir yang terbawa dalam alian multi fase. Aliran multi fase merupakan sebuah sistem aliran yang terdiri lebih dari satu fase, dalam hal ini fase gas dan fase padat. Menurut penelitian, sumur minyak dan gas bumi dewasa ini semakin banyak kandungan partikel pasir yang terbawa oleh fluida gas atau minyak seiring dengan menurunnya produksi minyak dan gasnya yang selaras dengan bertambahnya umur asset. Erosi terbesar terjadi pada bagian elbow dikarenakan partikel pasir dapat tertumbuk secara langsung ke dinding material dengan kecepatan tertentu yang disebabkan adanya belokan secara tiba-tiba mengikuti desain elbow. Prediksi hasil analisa yang akurat dapat digunakan sebagai acuan untuk meminimalisir kegagalan pada pipa. Dalam analisa ini menggunakan pemodelan CFD (computational fluid dynamic) pada aplikasi ANSYS untuk menganalisa laju erosi pada pipa dengan melakukan variasi ukuran partikel pasir, flowrate partikel pasir, kecepatan aliran dan jenis elbow. Didapatkan hasil berupa laju erosi pada elbow pipa yang dibandingkan dengan perhitungan menurut DNV RP O501. Hasil validasi dari perhitungan menurut DNV RP O501 dengan hasil simulasi Ansys Fluent menunjukkan perbedaan nilai antara 4,8% - 5,9% hal tersebut menunjukkan bahwa hasil percobaan sangat akurat. Dari hasil simulasi menunjukkan bahwa nilai laju erosi berbanding lurus dengan banyaknya flowrate partikel pasir, besar diameter partikel dan kecepatan aliran. Pada elbow pipa 900 nilai laju erosi lebih besar dibandingkan dengan elbow pipa 450. Nilai remaining life berbanding terbalik dengan nilai laju erosi yang terjadi pada elbow pipa.
Studi Modifikasi Pembangkit Listrik Siklus Ganda Cogeneration Menggunakan Software Cycle Tempo Sri Wahyuni Widiyaningtias; Atok Setiyawan
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.809 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.48507

Abstract

Salah satu industri yang menerapkan sistem kogenerasi adalah PT. Ajinomoto Indonesia (PT AI) yang berlokasi di kabupaten Mojokerto. Pembangkit kogenerasi yang terdapat di PT AI yaitu pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU)  yang memproduksi listrik sebesar 12 MW dan dilengkapi 3 coal boiler untuk memenuhi kebutuhan uap dalam proses industri sebesar 100 Ton/h. Pembangkit kogenerasi yang terdapat di PT AI belum pernah dilakukan modifikasi untuk mendapatkan efisiensi pembangkit yang lebih tinggi. Oleh sebab itu maka perlu dilakukan perhitungan ulang efisiensi pembangkit kogenerasi serta melakukan modifikasi pembangkit kogenerasi di PT AI menggunakan Software Cycle tempo. Hal ini dikarenakan perhitungan dan modifikasi menggunakan Software Cycle tempo dinilai lebih mudah dan efektif. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahapan. Pada tahapan awal dilakukan identifikasi masalah dengan melakukan studi lapangan di PT AI. Dari masalah yang didapat kemudian dilakukan simulasi pemodelan pembangkit dalam kondisi existing. Setelah itu, dilakukan simulasi tiga pemodelan pembangkit dalam kondisi yang telah dimodifikasi yaitu pada pemodelan pertama modifikasi dilakukan dengan menghilangkan komponen coal boiler, pemodelan kedua modifikasi dilakukan dengan menambahkan Preheater dan pemodelan ketiga modifikasi dilakukan dengan mengganti komponen superheater 1 menjadi reheater. Dari masing-masing pemodelan didapatkan hasil berupa nett power, dan masukan kalor. Hasil dari pemodelan dalam kondisi existing dan sesudah dimodifikasi ini kemudian diolah untuk mendapatkan nilai efisiensi pembangkit dari masing-masing pemodelan yang selanjutnya dibandingkan dan dilakukan analisa. Berdasarkan simulasi Software Cycle tempo yang dilakukan pada laju aliran massa uap yang sama untuk proses industri, didapatkan hasil efisiensi pembangkit kogenerasi PT AI pada kondisi existing, modifikasi penghilangan coal boiler, penambahan Preheater, dan penggantian superheater 1 menjadi reheater berturut-turut sebesar 69,34%; 87,44%; 69,36 dan 70,18%.
Modifikasi Desain Sistem Ventilasi Kamar Mesin KMP. Tanjung Sole Hario Pramudito; Alam Bahermasyah; Ede Mehta Wardhana
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.344 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.49592

Abstract

KMP. Tanjung Sole merupakan salahsatu kapal (sister ships) yang dibangun untuk melayani rute pelayaran di wilayah Timur Indonesia. Tidak seperti sister ship-nya, pada saat KMP. Tanjung Sole beroperasi terjadi kenaikan temperatur udara kamar mesin yang melebihi ambang batas persyaratan yaitu di atas 45 0C. Perbedaan KMP. Tanjung Sole dengan sister ship-nya hanyalah pada tata letak permesinan di dalam kamar mesin dan desain ducting dari sistem ventilasi kamar mesin. Untuk mencari solusi permasalahan dari KMP. Tanjung Sole tersebut maka dilakukan evaluasi dan simulasi beberapa alternatif desain serta tata letak ducting sistem ventilasi kamar mesin kapal tersebut. Simulasi dilakukan dengan pendekatan CFD (Computational Fluid Dynamic) guna menganalisa sebaran temperatur dan aliran udara ventilasi di dalam kamar mesin, baik sebelum dilakukan perubahan desain ventilasi maupun sesudahnya. Ada tiga alternatif desain sistem ventilasi yang ditawarkan dan dikaji. Dari hasil simulasi yang dilakukan untuk sistem ventilasi terpasang di KMP. Tanjung Sole diperoleh data distribusi temperatur rata-rata udara di dalam kamar mesin adalah sebesar 54,3 °C – mendekati kondisi riil di kapal. Setelah dilakukan perbaikan desain ducting sistem ventilasi maka dengan menggunakan desain alternatif atau variasi 1 temperatur udara di kamar mesin turun menjadi 47,6 °C. Adapun pada variasi 2 dan variasi 3 temperatur udara kamar mesin KMP. Tanjung Sole turun menjadi  43,5 °C yang mana ini berarti sudah memenuhi persyaratan. Perbedaan dari variasi 3 dengan variasi 2 hanya pada adanya ducting penghubung dan damper antara sistem ventilasi sisi kanan dengan sisi kiri kamar mesin yang mana masing-masing disuplai oleh satu fan. Hasil kajian menunjukkan alternatif sistem ventilasi yang paling baik digunakan untuk mengatasi permasalahan temperatur udara kamar mesin KMP. Tanjung Sole adalah model variasi ke-3.
Model Lokasi Menara BTS ditinjau dari Faktor – faktor penentu lokasi Menara BTS di Surabaya Dynastya Dynastya; Haryo Sulistyarso
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.775 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2430

Abstract

Perkembangan tower Base Transceiver Station (BTS) di Kota Surabaya berlangsung sangat pesat. Keberadaan tower BTS yang mulai menjamur di kawasan permukiman mengakibatkan protes dari masyarakat yang takut akan dampak negatif tower BTS. Perkembangan jumlah penggunaan telepon genggam di kota Surabaya dapat diasumsikan bahwa kebutuhan jaringan komunikasi nirkabel bertambah. Untuk mengatur hal tersebut diperlukan adanya suatu pengendalian tower BTS di Kota Surabaya untuk meminimalisasi gangguan terhadap estetika kota. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan hubungan faktor penentu lokasi menara BTS terhadap lokasi menara BTS di Surabaya dengan menggunakan kajian teoritis dari berbagai pustaka.  Faktor-faktor yang mempengaruhi persebaran lokasi tower BTS tersebut kemudian diiterasi menurut pendapat pakar dengan menggunakan analisa delphi. Yang kemudian digunakan untuk menyusun hubungannya dengan lokasi tower BTS dengan analisa regresi logistik. Hasil dari penelitian ini adalah faktor-faktor yang menjadi penentu lokasi tower BTS, yang menurut konsensus pakar adalah faktor faktor kepadatan penduduk, biaya sewa lahan, ketinggian menara, jenis lokasi menara, faktor pola ruang, faktor keamanan, dan faktor coverage service area. Hasil konsensus tersebut kemudian dianalisis dengan analisa regresi logistik sehingga menghasilkan model regresi yang menunjukkan peluang faktor yang berpengaruh dan seberapa besar pengaruhnya terhadap lokasi menara BTS.
Arahan Pengendalian Konversi Hutan Mangrove Menjadi Lahan Budidaya Di Kawasan Segara Anakan Rizky Amalia Yulianti; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.296 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.793

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengatasi permasalahan sedimentasi dan pendangkalan di laguna Segara Anakan dari sudut pandang penggunaan lahan melalui arahan pengendalian konversi hutan mangrove menjadi lahan budidaya di kawasan Segara Anakan. Adapun metode yang digunakan adalah dengan analisis program linier untuk mendapatkan solusi optimal masing-masing penggunaan lahan budidaya. Berdasarkan solusi optimal tersebut didapatkan bahwa lahan sawah, kebun/tegalan, ladang/huma, tambak/kolam/empang, permukiman, dan fasilitas umum tidak boleh dikembangkan lagi sehingga pengembangan dan/atau perubahan lahan menjadi lahan-lahan budidaya tersebut tidak diijinkan. Sedangkan lahan budidaya yang masih dapat dikembangkan di kawasan Segara Anakan adalah lahan untuk penggembalaan ternak namun pengelolaannya diarahkan sesuai dengan teknik konservasi tanah dan air agar tidak meningkatkan kontribusi terhadap erosi dan sedimentasi.
Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Nilai Emisi Co2 Di Kawasan Industri Surabaya Indri Hastuti; Haryo Sulistyarso
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.218 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.901

Abstract

Aktivitas industri di Surabaya berkontribusi terhadap penurunan kualitas udara kota Surabaya melalui emisi pembakaran bahan bakar fosil. Sektor industri di kota Surabaya merupakan penyumbang nilai emisi CO2 tertinggi di antara sektor rumah tangga dan sektor transportasi. Besar kontribusi nilai emisi CO2 sektor industri pada tahun 2011 mencapai 51,74%.  Industri Margomulyo dan SIER merupakan industri dengan luas terbesar di antara kawasan industri kota Surabaya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka penting untuk dilakukan penelitian terkait substansi di atas. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan konsep penyediaan ruang terbuka hijau berdasarkan nilai emisi CO2  di kawasan Industri Surabaya. Penelitian ini melalui beberapa proses input, yaitu mengidentifikasi karakteristik ruang terbuka hijau industri, analisis nilai emisi CO2, analisis tingkat emisi CO2, dan analisis kebutuhan RTH.. Hasil nilai emisi CO2 industri berdasarkan komoditas dan golongan industri kemudian dikelompokan ke dalam 3 tingkatan, yaitu emisi rendah, sedang, dan tinggi. Kemampuan serapan eksisting RTH dan besar sisa emisi di masing-masing kawasan dianalisis agar dapat diketahui besar luasan RTH maksimum yang yang akan diakomodasi ke dalam konsep penyediaan ruang terbuka hijau berdasarkan nilai emisi CO2 di kawasan industri Surabaya. Hasil yang diperoleh adalah total nilai emisi CO2 kawasan SIER sebesar  21.225,6  ton CO2/tahun,  sedangkan  kawasan  Margomulyo  mengeluarkan 17.047,2  ton  CO2/tahun. Berdasarkan eksisting ruang terbuka hijau, kemampuan serapan RTH di SIER dan Margomulyo sebesar 7,8% dan 3,5%. Konsep penyediaan RTH di kedua kawasan adalah pengoptimalan proporsi RTH sebesar 18,31% untuk kawasan industri SIER dan 8,38% untuk kawasan industri Margomulyo. Selain itu, konsep penyediaan RTH melalui pemaksimalan lahan kosong mampu mengurangi total nilai emisi menjadi 18.322,16 ton CO2/tahun dan 8.074,42 ton CO2/tahun.
Arahan Intensitas Pemanfaatan Ruang Perdagangan Jasa Berdasarkan Peluang Telecommuting Ariyaningsih Ariyaningsih; Haryo Sulistyarso
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.214 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.902

Abstract

Pergerakan bekerja dari kawasan perumahan menuju pusat kota yang umumnya didominasi kegiatan perdagangan jasa, menyebabkan arus kendaraan meningkat pada jam-jam puncak. Sementara perkembangan dunia teknologi dan informasi memberikan peluang bagi para pekerja di bidang jasa untuk mengurangi pergerakannya dengan menerapkan telecommuting, di mana para pekerja menggantikan pergerakannya dengan bekerja dari rumah atau tempat lain dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi. Analisis yang digunakan adalah analisis crosstab dan chi-square untuk menguji variabel-variabel yang mempengaruhi preferensi pekerja dalam melakukan telecommuting. Sedangkan untuk mendapatkan peluang telecommuting mengunakan metode peramalan telecommuting yang ditemukan oleh Mokhtarian (1996) [2]. Hasil dari peluang tersebut nantinya akan direpresentasikan dalam jumlah penurunan pergerakan bekerja yang secara langsung mengurangi volume kendaraan di Mayjen Sungkono. Penelitian ini menghasilkan peluang telecommuting sebesar 9,9% - 42,95% dari total pergerakan pekerja. Dari simulasi telecommuting tersebut didapatkan peningkatan DS dari 0,96 menjadi 0,87. Namun ini belum memenuhi kriteria jalan arteri sekunder. Maka dibuatlah dua skenario. Skenario pertama dengan DS 0,7 menghasilkan trip ceiling 529,1 smp/hari. Skenario kedua dengan DS 0,79 menghasilkan trip ceiling 1437,92 smp/jam. Untuk arahan pemanfaatan ruang dapat digunakan penerapan corridor system building untuk masing-masing luas lantai. Jika luas eksisting melebihi dari trip ceiling, maka arahan diberlakukan untuk bangunan baru atau alih fungsi lahan.
Optimasi Penggunaan Lahan di Kecamatan Driyorejo Berdasarkan Ketersediaan Sumberdaya Air Christianingsih, Putu Gde Ariastita Christianingsih Christianingsih; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.611 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.908

Abstract

Kecamatan Driyorejo difungsikan sebagai daerah penampung limpahan kegiatan dari Kota Surabaya. Perkembangan ini tidak diikuti oleh dukungan sumberdaya air yang memadai. Muncul gejala krisis air diantaranya banyaknya lahan pertanian yang dibiarkan tidak produktif, dropping sumberdaya air ke Desa Bambe serta penerapan sistem bergilir distribusi PDAM ke Kota Baru Driyorejo. Untuk itu dilakukan penelitian optimasi penggunaan lahan yang didasarkan atas ketersediaan sumberdaya air di Kecamatan Driyorejo. Penelitian ini menggunakan pendekatan positivistic dengan jenis penelitian deskriptif. Tahapan analisis dibagi menjadi tiga yakni menentukan kondisi neraca keseimbangan sumberdaya air dengan menggunakan perhitungan matematis, merumuskan kriteria melalui tinjauan literatur dan dicrosscek dengan analisis Delphi serta proses optimasi penggunaan lahan dengan menggunakan software Quantum Windows 2. Hasil optimasi penggunaan lahan terbagi atas dua alternatif. Alternatif pertama merupakan alternatif yang sesuai untuk dikembangkan yakni dengan nilai IPA 0,64 (tidak kritis) dan alokasi luasan lahan masing-masing sebagai perumahan 3.300,02 ha, pertanian 82,24 ha, industri 436,28 ha, perdagangan dan jasa 1.250,71 ha serta fasilitas umum dan sosial 59,73 ha.
Pengembangan Pusat-Pusat Pelayanan Berbasis Komoditas Unggulan Sub Sektor Perkebunan Di Wilayah Kabupaten Bengkalis Cihe Aprilia Bintang; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.803 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.916

Abstract

Adanya indikasi kebocoran wilayah (Regional Leakages) di Kabupaten Bengkalis terlihat dari besarnya bahan mentah dari komoditas lokal yang di ekspor keluar wilayah tanpa diolah terlebih dahulu pada pusat-pusat pelayanan yang ada di Kabupaten Bengkalis. Untuk itu, perlu adanya optimasi pusat-pusat pelayanan berdasarkan potensi keunggulan komoditas unggulan yang ada di Kabupaten Bengkalis untuk meminimalisisr kebocoran wilayah yang terjadi.         Adapun metode penelitian yang digunakan adalah melalui pendekatan input-output untuk menghasilkan komoditas unggulan yang memiliki keterkaitan antar komoditas sehingga dapat mendorong perekonomian dan menghasilkan nilai tambah. Selain itu, metode yang digunakan dengan pendekatan analisa kualitatif untuk mengetahu aliran nilai tambah komoditas unggulan, faktor yang menyebabkan kebocoran wilayah dan arahan pengembanagn pusat-pusat pelayanan.             Hasil penelitian ini menunjukan bahwa salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Bengkalis adalah kelapa sawit. Berdasarkan aliran komoditas kelapa sawit melalui petani, distributor dan pabrik pengolahan menunjukkan bahwa beberapa pusat pelayanan belum berfungsi optimal seperti Pusat pelayanan Buruk bakul dan Bengkalis. Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan pusat-pusat pelayanan di Kabupaten Bengkalis untuk meminimalisir kebocoran wilayah
Model Perkembangan Perumahan di Wilayah Peri Urban Kota Surabaya (Studi Kasus : Kabupaten Sidoarjo) I Dewa Made Frendika Septanaya; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.95 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.921

Abstract

Saat ini perkembangan wilayah peri urban di berbagai kawasan metropolitan menunjukkan adanya pertambahan luas permukiman dalam jumlah banyak (real estate) atau yang biasa di kategorikan sebagai proses formatif yang bersifat invasif. Kecenderungan beberapa wilayah peri urban yang menunjukkan pesatnya pertumbuhan perumahan ternyata tidak sepenuhnya terjadi di Kabupaten Sidoarjo. Fenomena  penurunan pengadaan perumahan yang terjadi pada periode  2006 – 2010 menyebabkan ketidakseimbangan antara rendahnya pengadaan (supply) rumah dengan kebutuhan (demand) atas perumahan yang semakin meningkat. Hasil akhir penelitian ini  menunjukkan bahwa faktor geografis (spasial) dalam pemodelan GWR yang menyebabkan penuruan jumlah pengadaan perumahan di masing-masing kecamatan berbeda-beda, namun secara holistik disebabkan oleh pengaruh harga lahan, keterbatasan ketersediaan lahan kosong untuk peruntukan perumahan dan jarak dari lumpur Lapindo Kecamatan Porong. Sedangkan faktor aspasial yang mempengaruhi adalah stabilitas kondisi ekonomi, besarnya biaya taktis (transaction cost) dan biaya dampak pembangunan (development impact fees), kendala perizinan serta aturan atau regulasi untuk pembebasan lahan yang tidak mengikat.