cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Analisis Potensi Perubahan Pemanfaatan Lahan Berdasarkan Model Spasial Harga Lahan di Kecamatan Tembelang Kabupaten Jombang Muhammad Ermando; Nurman Sasono; Cahyono Susetyo
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.7 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24413

Abstract

Pembangunan interchange gerbang TOL Jombang di Kecamatan Tembelang menyebabkan harga lahan meningkat dan muncul indikasi perubahan pemanfaatan lahan. Untuk itu, pemerintah perlu mengantisipasi perubahan pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya sebagaimana yang terdapat pada rencana tata ruang. Penentuan potensi perubahan pemanfaatan lahan dilakukan berdasarkan pada model spasial harga lahan yang secara keseluruhan meliputi tiga teknik analisis.(1) Teknik analisis Delphi bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penentu harga lahan, (2) analisis regresi spasial digunakan untuk melakukan pemodelan spasial harga lahan, dan (3) analisis Query Builder menghasilkan peta potensi perubahan pemanfaatanlahan di Kecamatan Tembelang. Tiap tahapan penelitian menghasilkan luaran yang saling berkaitan. Terdapat 15 faktor penentu harga lahan yang telah konsensus dari teknik analisis Delphi dalam dua tahap iterasi. Adapun model spasial harga lahan dihasilkan dari model matematis memiliki konstanta 796.763,84565. Faktor yang berpengaruh positif dalam model tersebut yaitu jalur angkutan umum, daerah rawan banjir, fasilitas perdagangan dan jasa, jalan lingkungan, dan rencana jaringan jalan. Faktor yang berpengaruh negatif yakni fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, fasilitas peribadatan, fasilitas perkantoran, jalan kolektor, kawasan permukiman, rencana kawasan industri, rencana kawasan permukiman, sungai, dan interchange gerbang TOL. Model spasial menunjukkan mayoritasharga lahan tinggi terdapat di sekitar interchange gerbang TOL dan semakin rendah di wilayah perbatasan Kecamatan Tembelang. Luas lahan di Kecamatan Tembelang menurut potensi perubahan pemanfaatannya dari lahan tidak terbangun ke lahan terbangun yang dibagi menjadi kategori tinggi, sedang, dan rendah secara berturut-turut yaitu 571,29 Ha (17%), 788,68 Ha (23%), dan 2.088,44 Ha (61%).
Strategi Penerapan Kota Kompak Berdasarkan Pola Urban Compactness di Kota Bekasi Arini Natasya Aisyah; Putu Gede Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.302 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24448

Abstract

Kota Bekasi sebagai Kota besar yang terletak di konstalasi metropolitan Jabodetabek belum diterapkan konsep pembangunan kota kompak secara komprehensif.  Penelitian ini bertujuan untuk Merumuskan Strategi Penerapan Kota Kompak Berdasarkan Pola Urban Compactness di Kota Bekasi. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda dalam menentukan faktor faktor kekompakan Kota Bekasi, dari faktor faktor tersebut ditentukan tingkat kekompakannya menggunakan metode klasifikasi sturgess, kemudian tingkat kekompakan tersebut dipolakan untuk mengetahui pola spasial kekompakan sehingga dapat dirumuskan strategi penerapan kota kompak berdasarkan pola spasial dari tingkatan faktor faktor yang telah diperoleh. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah terdapat klasifikasi lima kluster kekompakan di Kota Bekasi yaitu; Kluster I merupakan kluster yang struktur kota nya telah mencerminkan kompak,  Kluster II merupakan kluster yang telah memiliki struktur kompak dengan konsep Mixed Use Zoning dikarenakan adanya jalur KKOP, Kluster III merupakan kluster yang mempunyai pondasi untuk membentuk struktur kompak namun belum ada perencanaan yang matang menuju struktur kompak, Kluster IV merupakan kluster yang mempunyai ciri kekompakan namun belum meiliki pondasi kota kompak, dan Kluster V merupakan Kluster dengan kecenderungan sprawl dimana kepadatan permukiman termasuk rendah dan penggunaan lahan yang belum terkonsentrasi secara efisien dengan konsep yang mendekati kompak.
Analisis Perubahan Penggunaan Lahan di Kota Pekalongan Tahun 2003, 2009, dan 2016 Ali Wijaya; Cahyono Susetyo
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (788.207 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24454

Abstract

Kota Pekalongan merupakan salah satu kota di pesisir utara Pulau Jawa yang rentan terhadap banjir rob. Banjir rob tersebut sebagai faktor pemicu perubahan penggunaan lahan dan telah berdampak besar pada penggunaan lahan yang ada terutama pada lahan produktif. Untuk itu diperlukan suatu analisis terkait penggunaan lahan sesuai dengan dinamika di wilayah tersebut. Tujuan penelitian ini dapat dicapai dengan dua tahapan penelitian. Tahap pertama yaitu mengklasifikasi penggunaan lahan dari citra Quickbird di Kota Pekalongan. Tahap kedua yaitu menganalisis perubahan penggunaan lahan di Kota Pekalongan menggunakan analisis overlay secara multi temporal periode tahun 2003, 2009, dan 2016. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan lahan pada wilayah penelitian hingga tahun 2016 didominasi oleh lahan permukiman , rawa, dan lahan pertanian. Kenaikan muka air laut berdampak paling besar terhadap penggunaan lahan pertanian yang mengalami pengurangan luas sebesar 370.26 Ha dan penambahan luas rawa sebesar 292.68 Ha pada periode tahun 2003 hingga 2016.
Karakteristik Jalur Pedestrian di Kawasan Blok M Jakarta Azzahra Adnina Namira Ginting; Ardy Maulidy Navastara
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.07 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24485

Abstract

Konsep Transit Oriented Development (TOD) pada dasarnya adalah untuk mengintegrasikan jaringan jalan dengan bangunan sekitarnya dikaitkan dengan manusia sebagai penggunanya sehingga tercipta lingkungan yang walkable, aman dan nyaman. TOD didefinisikan sebagai sebuah kawasan dengan tingkat kepadatan tinggi dengan tata guna lahan campuran (mixe-used).  Jakarta sebagai ibukota sekaligus kota terbesar di Indonesia masuk dalam kategori yang tidak walkable atau tidak ramah untuk kegiatan berjalan kaki.Dalam penelitian ini lokasi transit yang diambil yaitu Kawasan Blok M karena sebagai pusat kegiatan sekunder dengan fungsi pengembangan stasiun terpadu dan titik perpindahan beberapa moda transportasi menggunakan konsep Transit Oriented Development (TOD). Blok M sebagai salah satu kawasan yang mendukung pengembangan tahan 1 (tahap awal) sistem MRT di Jakarta yang akan membelah dan menghubungkan Jakarta dari selatan ke utara Dipilihnya Blok M dikarenakan memiliki potensi dari sisi letak dan aksesibilitas yang ada, serta dengan adanya terminal yang ada dapat digabungkan dengan fungsinya, maka akan menjadi interchange antara beberapa jenis transportasi yang ada seperti transjakarta.Untuk mencapai tujuan penelitian, dilakukan analisis untuk mengetahui karakteristik jalur pedestrian. Kemudian dilakukan analisis space syntax untuk mengetahui tingkat konektivitas di kawasan Blok M. Dari hasil analisis, dapat diketahui bahwa pengaruh jalur pedestrian terhadap pejalan kaki di Kawasan Blok M Jakarta adalah jarak dan waktu tempuh serta kenyamaan pejalan kaki menggunakan jalur pedestrian
Analisis Perubahan Temperatur Permukaan Wilayah Surabaya Timur Tahun 2001-2016 Menggunakan Citra LANDSAT Anoraga Jatayu; Cahyono Susetyo
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.015 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24504

Abstract

Urban Heat Island (UHI) adalah suatu fenomena dimana suhu udara pada wilayah yang padat bangunan atau kawasan perkotaan lebih tinggi daripada suhu udara di wilayah dengan ruang terbuka yang lebih banyak atau wilayah pedesaan. Salah satu cara untuk mengamati terjadinya fenomena UHI adalah dengan mengamati dinamika suhu permukaan yang terdapat pada suatu wilayah dalam beberapa periode. Penelitian ini menggunakan analisis remote sensing untuk dapat mengkonversikan nilai-nilai digital number pada citra satelit LANDSAT masing-masing periode menjadi nilai land surface temperature/suhu permukaan suatu wilayah serta analisis overlay untuk mengetahui dinamika perubahan suhu permukaan dari beberapa periode waktu yang telah ditentukan. Berddasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat peningkatan yang cukup signifikan yaitu selama periode tahun 2001-2016 telah terjadi peningkatan sebesar 6,612°C atau sekitar 25,41% dari nilai suhu permukaan rata-rata pada tahun 2001. Daerah yang memiliki intensitas peningkatan suhu permukaan tertinggi merupakan bagian timur dan selatan wilayah Surabaya Timur.
Penentuan Variabel Berpengaruh Terhadap Pengembangan Kampung Cerdas dalam Mewujudkan Konsep Smart City Dewi Anggraeni Paramasatya; Dian Rahmawati
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.285 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24534

Abstract

Kota Surabaya merupakan salah satu kota metropolis di Provinsi Jawa Timur dengan pengembangan kota menuju smart city. Salah satu hal yang mendominasi pengembangan sebuah kota ialah permukiman, dimana Kota Surabaya memiliki luasan lahan permukiman mencapai 16.051,51 Ha atau 49% dari luas wilayah Kota Surabaya berdasarkan RTRW Kota Surabaya Tahun 2014-2034. Dewasa ini, disparitas bermukim sering kali dijumpai akibat salah persepsi mengenai permukiman informal. Dimana kampung bukan merupakan permukiman liar maupun permukiman kumuh, melainkan bentuk permukiman swadaya yang dibangun oleh para penghuninya tanpa mengikuti ketentuan-ketentuan pembangunan bangunan formal dari pemerintah berdasarkan Bappeko (2012). Kampung perkotaan menjadi ciri khas yang dimiliki Kota Surabaya untuk dipertahankan dengan memanfaatkan kondisi pengembangan kota yang cukup pesat menuju smart city. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan variabel berpengaruh dalam pengembangan kampung cerdas di Kota Surabaya dalam mewujudkan konsep smart city. Penelitian ini mengunakan teori perumahan dan permukiman, serta kota cerdas yang diadaptasi sesuai kebutuhan penelitian yaitu terhadap permukiman. Adapun alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini ialah Analisis Deskriptif Kualitatif untuk mengeksplorasi potensi terhadap kampung dalam menerapkan konsep cerdas dan Analisis Faktor Konfirmatori (CFA) yang digunakan untuk menentukan variabel berpengaruh terhadap kecerdasan kampung. Dari hasil penelitian ini terdapat variabel berpengaruh sesuai sub konsep dimensi smart city, yang mana variabel berpengaruh menyesuaikan karakter kampung perkotaan dan masyarakat didalamya. Adapun variabel berpengaruh pada lokasi penelitian yakni: terkait keberadaan industri dan entrepreneurship, adanya kontribusi ekonomi terhadap kawasan sekitar, kondisi sadar teknologi dan penggunaan internet, tersedianya sarana dan prasarana lingkungan, adanya koordinasi masyarakat mengenai lingkungan, tingkat pendidikan, keberagaman kegiatan, open mind, terkait kondisi kriminilitas, adanya fasilitas bangunan umum, kesehatan, serta pendidikan, kondisi masyarakat, jumlah pelayanan pemerintah dan akses dalam menggunakan, serta tanggapan masyarakat terhadap pelayanan tersebut.
Identifikasi Pemanfaatan Danau Ranu Grati oleh Stakeholders dengan Participatory Mapping Elok Wuri Safitri; Hertiari Idajati
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (659.086 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24570

Abstract

Danau Ranu Grati merupakan salah satu danau alami di Provinsi Jawa Timur yang berada di Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan. Danau Ranu Grati selain menjadi destinasi wisata wilayah sekitarnya juga digunakan berbagai kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat lokal. Adanya konflik pemanfaatan perairan Danau Ranu Grati yang mengakibatkan kerugian pada kedua kegiatan utama. Upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir konflik yaitu melalui pengendalian kegiatan pemanfaatan melalui arahan pemanfaatan dan alokasi lahan. Guna mencapai hal tersebut diperlukan identifikasi kegiatan pemanfaatan eksisting melalui participatory mapping yang dilakukan kepada enam responden. Hasil participatory mapping menunjukkan bahwa terdapat kegiatan pemanfaatan meliputi penebaran benih, pembersihan gulma, pemberian probiotik, wisata dan rekreasi air, upacara adat Distrikan, latihan rutin komunitas dayung, budidaya KJA dan keramba tancap, pertanian lahan endapan, sebaran perangkap ikan, pemancingan serta kegiatan ekplorasi kawasan wisata oleh pengunjung. Luas total pemanfaatan mencapai 83,49 hektar atau 42, 8% luas perairan danau.
L aju Timbulan dan Komposisi Sampah Rumah Tangga di Kecamatan Sukolilo Surabaya Devy Safitri Ayu Hapsari; Welly Herumurti
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.436 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24623

Abstract

Kecamatan Sukolilo memiliki jumlah penduduk lebih dari seratus ribu jiwa dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Peningkatan jumlah penduduk juga diikuti dengan peningkatan laju timbulan sampah. Tujuan penelitian ini adalah menentukan timbulan dan komposisi sampah. Pengukuran laju timbulan sampah dilakukan dengan metode load count dan metode stratified random sampling sesuai SNI 19-3964-1994 dengan sampel sebanyak 150 KK. Pengukuran komposisi sampah dilakukan dengan metode yang terdapat di SNI 19-3964-1994. Hasil penelitian berupa laju timbulan sampah rumah tangga sebesar 0,38 kg/orang.hari. Komposisi sampah didominasi oleh sampah yang dapat dikomposkan, plastik, dan kertas. Densitas sampah didapatkan sebesar 146,02 kg/m3.
Estimasi Deplesi Lingkungan Subsektor Kehutanan di Jawa Timur Laksmita Dwi Hersaputri; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.973 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24639

Abstract

Perekonomian Jawa Timur yang salah satunya ditopang oleh subsektor kehutanan, belum terjamin akan seterusnya berlanjut sampai jangka panjang, karena aktivitas ekonomi tidak selalu berbanding lurus dengan kondisi lingkungan hidup. Subsektor kehutanan memiliki nilai jasa lingkungan yang tinggi dalam meminimalkan perubahan iklim dan pemanasan global bagi kesejahteraan manusia. Namun hutan di Jawa Timur mengalami degradasi lingkungan setiap tahunnya akibat kegiatan ekonomi yang turut memanfaatkan kekayaan alam hutan, yang salah satunya berupa deforestasi atau aktivitas penebangan. Sehingga, diperlukan adanya perhitungan deplesi lingkungan guna mengetahui kontribusi subsektor kehutanan yang sebenarnya, yaitu mempertimbangkan aspek lingkungan. Deplesi merupakan penyusutan karena penggunaan sumber daya alam yang dieksploitasi sehingga semakin lama semakin menipis. Hasil dari estimasi deplesi dapat digunakan sebagai input data dalam perhitungan PDRB Hijau dan pertimbangan kebijakan mengenai pemanfaatan sumber daya hutan. Metode pengumpulan data dilakukan cara survei instansional yaitu memperoleh data-data dari instansi terkait yang dibutuhkan dan sesuai dengan variabel penelitian. Data tersebut kemudian dianalisis dengan perhitungan matematis menggunakan rumus deplesi. Dari analisis yang telah dilakukan, didapatkan hasil akhir berupa nilai deplesi lingkungan di Jawa Timur yaitu sebesar Rp 1,46 Triliun. Dimana nilai deplesi di setiap kabupaten di Jawa Timur pada tahun 2011-2015 yang terbesar terdapat di Kabupaten Pacitan yaitu sebesar Rp 454 Miliar, sementara deplesi terendah terdapat di Kabupaten Pamekasan yaitu sebesar Rp 58 Juta.
Pemodelan Implementasi Produksi Bersih pada Industri Pengasapan Ikan Pari Skala UMKM di Sentra Ikan Bulak, Kota Surabaya Jennie Yuwono; Cahyono Susetyo
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.575 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24645

Abstract

Kegiatan pengasapan ikan ditengarai menjadi penyebab menurunnya kualitas perairan Kenjeran, Kota Surabaya. Untuk mencegah kerusakan yang lebih parah, solusi yang dapat dilakukan adalah dengan mengatur pembuangan sisa pembersihan ikan. Saat ini kegiatan pengasapan ikan yang terkonsentrasi di Sentra Ikan Bulak (SIB), Kecamatan Bulak, sudah menerapkan produksi bersih secara sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar potensi nilai penjualan yang dihasilkan oleh industri pengasapan ikan pari di SIB yang telah menerapkan produksi bersih melalui pemodelan dengan system dynamics. Sampel diambil sebanyak 17 unit usaha pengasapan ikan pari yang beroperasi di Sentra Ikan Bulak. Validasi dilakukan dengan cara uji RMSE. Dari hasil simulasi dengan sistem dapat diketahui bahwa: (1) proses pengasapan meningkatkan nilai penjualan ikan pari sebesar 27% dibandingkan ikan pari yang dijual tanpa mengalami proses pengasapan; (2) nilai dari penjualan limbah yang memiliki nilai ekonomis (limbah kulit pari dan arang batok) berkontribusi sebesar 39,96% terhadap nilai penjualan total produk industri pengasapan ikan pari; (3) nilai penjualan limbah mampu meningkatkan nilai penjualan ikan pari asap sebesar 58%.