cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Analisis Bencana Longsor Lahan di Kabupaten Tuban Melalui Pengolahan Citra Satelit Multilevel Untuk Pembuatan Peta Potensi Longsor Citra Prastika; Bangun Muljo Sukojo
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (839.319 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.23705

Abstract

Longsor merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat dari terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng tersebut. Efek tanah longsor terhadap manusia dan bangunan dapat dikurangi dengan cara menghindari daerah rawan, menyiarkan larangan, atau dengan menerapkan standar keselamatan saat berada di daerah tersebut. Oleh karena itu, tujuan dalam tugas akhir ini yaitu untuk mengetahui potensi/risiko longsor yang berperan dalam mitigasi bencana longsor di Kabupaten Tuban.Daerah rawan bencana longsor dapat diidentifikasi dengan menggunakan data penginderaan jauh dan sistem informasi geografis. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan peta daerah rawan bencana longsor dengan menggunakan beberapa parameter penyebab tanah longsor diantaranya curah hujan, jenis tanah, kemiringan lereng, dan tutupan lahan. Parameter tersebut akan diolah dan dianalisa serta akan diperkuat dengan menggunakan data penginderaan jauh yakni citra satelit resolusi menengah Landsat 8, citra satelit resolusi tinggi SPOT dan citra satelit resolusi sangat tinggi Quickbird.Hasil yang didapatkan berupa peta kerawanan longsor yang terbagi dalam 5 kelas kerawanan yakni kerawanan sangat rendah, kerawanan rendah, kerawanan sedang, kerawanan tinggi, dan kerawanan sangat tinggi yang menempatkan Kabupaten Tuban didominasi oleh tingkat kerawanan sedang dengan luas 99.519,9 ha, sedangkan untuk tingkat kerawanan sangat tinggi hanya seluas 268,537 ha.
Pemetaan Daerah Risiko Banjir Lahar Berbasis SIG Untuk Menunjang Kegiatan Mitigasi Bencana (Studi Kasus: Gunung Semeru, Kab. Lumajang) Zahra Rahma Larasati; Teguh Hariyanto; Akbar Kurniawan
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.23899

Abstract

Banjir lahar merupakan sekumpulan lahar yang dikeluarkan oleh gunung berapi dan sampai ke permukaan yang lebih rendah dengan bantuan atau dorongan dari air hujan. Dampak dari banjir lahar memiliki risiko yang tinggi karena material yang di bawanya dapat mengakibatkan kerusakan dan berpotensi  menimbulkan kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat. Pemetaan daerah risiko bencana banjir lahar dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat bermanfaat untuk menunjang kegiatan mitigasi bencana. Peta risiko banjir lahar di hasilkan dari overlay peta bahaya banjir lahar, peta kerawana banjir lahar, peta kerentanan banjir lahar, dan peta kapasitas banjir lahar yang memiliki masing-masing parameter yang kemudian dilakukan perhitungan metode skoring dan diklasifikasikan berdasarkan nilai skoringnya.Dari hasil pengolahan, peta risiko banjir lahar dapat di klasifikasikan menjadai 3 kelas, yaitu risiko tinggi, risiko sedang, dan risiko rendah. Risiko tinggi teradi pada bulan November banyak terjadi di wilayah Kecamatan Pasirian terutama di wilayah sekitar sungai dan sedikit di wilayah sungai Kecamatan Pronojiwo, dengan luas total daerah risiko adalah 28,983 atau dengan presentase 4,24% dari luas total wilayah penelitian, dan daerah yang memiliki risiko tinggi pada bulan Januari banyak terjadi di wilayah Kecamatan Pasirian terutama di wilayah sekitar sungai dengan luas total daerah risiko adalah 9,570 atau dengan presentase 1,40% dari luas wilayah total penelitian.
Peningkatan Pelayanan Penyediaan Air Minum Kota Blitar Ichwan Rahmawan Widodo; Hari Wiko Indarjanto
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (794.343 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.23991

Abstract

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Blitar melayani sekitar 38.160 jiwa dari total jumlah penduduk Kota Blitar 145.111 jiwa. Cakupan pelayanan PDAM sebesar 26% (2016), Dalam penelitian ini dilakukan analisis pada jaringan primer dan sekunder eksisting untuk mendapatkan kondisi sistem sebagai dasar peningkatan pelayanan. Peningkatan pelayanan dilakukan dengan analisis real demand survei yang bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi masyarakat agar berlangganan kembali. Analisis sistem menggunakan EPANET, yang mensimulasi jaringan sehingga didapatkan output berupa headloss, kecepatan aliran, dan sisa tekan.Empat puluh satu pipa memiliki kecepatan aliran kurang dari 0,3 m/s berpotensi terjadi endapan suspended solid (Fe dan Mn) yang menyebabkan penyempitan pipa. Penyempitan ini akan meningkatkan headloss sistem sehingga dapat menurunkan tekanan air (terjadi pada blok 1, 2, 19, 20, 23 dan 24) yang menyebabkan air tidak dapat mengalir ke pelanggan. Pemasangan pipa paralel pada pipa yang memiliki headloss lebih dari 20 m ternyata dapat menurunkan headloss dan meningkatkan tekanan air. Peningkatan pelayanan, sumur bor masih dapat menampung debit peningkatan tahap 1 sebesar 130l/s dan tahap 2 sebesar 150l/s. Sistem perpipaan masih mampu digunakan untuk pengembangan tersebut.Pelanggan mengharapkan pihak PDAM Kota Blitar agar melakukan perbaikan terutama terkait dengan tingkat kejernihan air, bau dan rasa air. PDAM perlu mengolah air sumur bor karena Fe dan Mn yang tinggi.
Arahan Penyediaan RTH Publik untuk Menyerap Emisi Gas CO2 Kendaraan Bermotor di Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Studi Kasus: Kawasan Perdagangan dan Jasa Mayestik – Barito) Nadira Dwiputri Lase; Haryo Sulistyarso
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.336 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24008

Abstract

Kawasan perdagangan dan jasa Mayestik – Barito di Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan merupakan kawasan yang ramai akan pengunjung. Belum terintegrasinya transportasi umum di Jakarta memicu penggunaan kendaraan motor pribadi yang tinggi sehingga emisi gas, salah satunya gas CO2, yang dikeluarkan juga tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan arahan RTH publik lahan horizontal untuk mereduksi gas CO2 kendaraan bermotor di kawasan perdagangan dan jasa Mayestik – Barito. Untuk mencapai tujuan tersebut terdapat beberapa proses, yaitu perhitungan kendaraan bermotor, perhitungan emisi gas CO2 menggunakan software Mobilev 3.0, melakukan perhitungan matematis kebutuhan RTH tambahan untuk menyerap emisi, dan menyediakan arahan. Teknink analisis untuk menentukan arahannya secara deskriptif dengan menambahkan dan mengoptimalkan lahan potensial dan mempertahankan RTH eksisting. Hasil yang diperoleh adalah emisi yang dikeluarkan di kawasan studi sebesar 4,729 ton/tahun, dimana untuk menyerap keseluruhan emisi membutuhkan 2.8 Ha. Akan tetapi, untuk mendekati angka 2.8 Ha dapat menambahkan lahan potensial RTH di Jl. Barito seluas 1 Ha dan jalur hijau di Jl. Kyai Maja seluas 1.6 Ha, sehingga emisi yang belum tereduksi sangat minim. Sedangkan pengoptimalan lahan RTH dapat dilakukan dengan cara pemilihan vegetasi pereduksi gas CO2.
Evaluasi Penurunan Tanah Wilayah Kota Surabaya berdasarkan Data Pengamatan GPS Juli 2011, Oktober 2016, Desember 2016, dan Februari 2017 Rega Hangasta Gienputra; Akbar Kurniawan
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (813.609 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24014

Abstract

Sebagai kota Metropolitan ke dua terbesar Indonesia, Surabaya mengalami perkembangan yang pesat di banyak sektor. Hal ini yang membuat semakin bertambahnya jumlah penduduk Surabaya di setiap tahunnya.Karena letaknya yang terdapat dikawasan padat penduduk salah satu faktor yang harus diawasi adalah penurunan tanah /land subsidence. Penurunan tanah terjadi secara perlahan sehingga analisa perlu dilakukan secara berkala (fungsi waktu). Pemantauan land subsidence dapat dilakukan dengan beberapa metode, salah satunya menggunakan Global Navigation Satellite System (GNSS) khususnya Global Positioning System (GPS, satelit milik Amerika Serikat). Selain penggunaan GPS Geodetik dan Stasiun International GNSS Service (IGS) sebagai titik ikat, penelitian ini digunakan perangkat lunak GAMIT/GLOBK.Berdasarkan Analisa dari hasil pengolahan data GPS yang diamati dari Juli 2011, Oktober 2016, Desember 2016, dan Februari 2017, didapatkan nilai penurunan terendah adalah -0,001 m pada titik Sbrt dan penaikan tertinggi adalah 0,074 m pada titik Pusat. Namun, apabila dilihat secara keseluruhan, titik pada penelitian 2017 ini cenderung untuk mengalami penurunan tanah. Hasil uji t-test menunjukkan bahwa terdapat empat titik yang mengalami penurunan tanah secara signifikan dan terdapat tiga titik yang mengalami penurunan tanah bersifat tidak signifikan.
Estimasi Kecepatan Gelombang Geser (Vs) Berdasarkan Inversi Mikrotremor Spectrum Horizontal to Vertikal Spectral Ratio (HVSR) Studi Kasus : Tanah Longsor Desa Olak-Alen, Blitar Imam Gazali; M. Singgih Purwanto; Dwa Desa Warnana
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.958 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24065

Abstract

Bencana gerakan tanah merupakan bencana yang sering terjadi di kabupaten Blitar. Salah satu daerah yang sering terkena dampak peristiwa tersebut adalah desa Olak-Alen, yang ditandai dengan adanya longsor. Hal ini dikarenakan pada daerah tersebut terletak pada kondisi geologi yang tersusun tuff dan pasiran yang mempunyai potensi lebih besar terhadap efek intensitas gerakan tanah. Pada penelitian ini parameter fisis yang digunakan untuk mikrozonasi yaitu kurva HVSR dan sebaran Vs hasil inversi kurva HVSR. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan nilai frekuensi natural antara 1.7-3.7 Hz, Puncak HVSR antara 2-9 dan Indeks Kerentanan antara 1.5-44.7. daerah yang diduga sebagai bidang gelincir memiliki nilai kecepatan geser 200-300 m/s yang diklasifikasikan sebagai tanah tipe D berdasarkan SNI 1726-2012 dan tipe C menurut Eurocode 8. Sedangkan bedrock pada penelitian ini memiliki nilai kecepatan geser 750-1200 m/s yang tersebar pada kedalaman 50-60 meter.
Identifikasi Permukiman Kumuh Berdasarkan Tingkat RT di Kelurahan Keputih, Kota Surabaya Elpidia Agatha Crysta; Yanto Budisusanto
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.18 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24173

Abstract

Kota Surabaya sebagai pusat seluruh kegiatan Provinsi Jawa Timur merupakan kota metropolitan terbaik dan terbesar kedua di Indonesia. Namun, pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dan tingginya arus urbanisasi yang menjadi salah satu faktor utama penyebab kepadatan penduduk yang tinggi di Surabaya.  Akan tetapi, karena tekanan ekonomi dan kepadatan tempat tinggal memaksa kaum urban untuk menempati daerah-daerah pinggiran hingga membentuk lingkungan permukiman kumuh. Kelurahan Keputih sebagai studi wilayah tentunya juga tidak lepas dari permasalahan ini. Oleh karena itu, dilakukan identifikasi permukiman kumuh yang kemudian diklasifikasikan berdasarkan empat tingkat kekumuhan yakni, bukan permukiman kumuh, permukiman kumuh ringan, permukiman kumuh sedang dan permukiman kumuh berat. Dari hasil penentuan  lokasi permukiman kumuh, kemudian dilakukan analisis terhadap setiap kualitas permukiman penyebab kekumuhan dengan menggunakan adanya parameter. Metode skoring digunakan penelitian ini dalam melakukan identifikasi permukiman permukiman kumuh dengan menggunakan tujuh parameter kekumuhan. Hasil penelitian menunjukkan di Kelurahan Keputih hanya menghasilkan dua klasifikasi tingkat kekumuhan, 14 RT dengan luas total permukiman 39,839 Ha termasuk dalam bukan permukiman kumuh dan 10 RT dengan luas total wilayah permukiman 21,137 Ha diklasifikasikan sebagai permukiman kumuh ringan. Sedangkan, dari hasil analisis parameter, terdapat dua parameter memiliki lokasi penyebab kekumuhan terbanyak yaitu: Kondisi Proteksi Kebakaran dan Kondisi Penyediaan Air Minum, hal ini disebabkan masih belum tersedianya sarana dan prasarana yang menunjang parameter tersebut. Hasil akhir dari penelitian ini adalah peta klasifikasi permukiman kumuh di Kelurahan Keputih.
Analisis Pengaruh Faktor Meteorologi dan Unsur Ruang terhadap Nilai Reduksi Sulfur Dioksida Udara Ambien di Kota Surabaya Mohammad Ma'ruf Al Anshari; Irwan Bagyo Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.58 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24231

Abstract

Polusi udara merupakan dampak nyata atas perkembangan yang terjadi pada sektor transportasi dan industri utamanya di perkotaan. Salah satu parameter pencemaran udara yaitu gas sulfur dioksida, dimana gas ini berbahaya bagi manusia dan lingkungan karena dapat menyebabkan penyakit pernafasan juga merusak struktur daun dan dapat memicu terjadinya hujan asam. Salah satu upaya untuk mengurangi nilai konsentrasi sulfur dioksida di perkotaan, yaitu dengan menggunakan tanaman perkotaan atau Ruang Terbuka Hijau (RTH). Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh dari faktor meteorologi serta faktor unsur ruang, utamanya faktor RTH terhadap nilai reduksi SO2 yang terjadi selama 24 jam. Penelitian ini dilakukan di daerah sekitar SPKU Wonorejo, Surabaya, dimana lokasi tersebut dapat mewakili wilayah permukiman dan ruang terbuka hijau menurut peta kotamadya Kota Surabaya. Analisis data membutuhkan data spasial berupa citra satelit dari wilayah penelitian yang akan digunakan untuk membangun model box, serta data non spasial berupa data meteorologi selama waktu tertentu yang tercatat di SPKU Wonorejo. Hasil penelitian terlihat bahwa (1) ada pengaruh negatif antara faktor meteorologi dengan nilai konsentrasi SO2, dan (2) faktor yang paling berpengaruh signifikan terhadap nilai reduksi SO2 adalah kelembaban udara dengan taraf nyata atau P-value dibawah 0,05. Selain itu, (3) hasil korelasi juga menghasilkan persamaan berupa Y = 3,12v + 3,82T + 0,17H + 1737,38r + 1758,77j + 1731,64b + 1783,48r – 1628,53, dimana persamaan tersebut dapat digunakan untuk menurunkan nilai KSO2 serta memberikan hasil akurat (R2>0,6) dengan syarat diimplikasikan pada faktor-faktor meteorologi dan unsur ruang yang berada pada range tertentu.
Analisis Besaran Emisi Gas CO2 Kendaraan Bermotor Pada Kawasan Industri SIER Surabaya Diaz Kusumawardani; Ardy Maulidy Navastara
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.769 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24392

Abstract

Kegiatan pada kawasan industri SIER menimbulkan bangkitan kendaraan yang tinggi sehingga menyebabkan padatnya kendaraan bermotor. Rendahnya tingkat pelayanan jalan turut memicu kemacetan di koridor SIER yang kemudian turut menyumbang tingginya emisi gas CO2. Kondisi ini menyebabkan peningkatan suhu dan penurunan kualitas udara di kota Surabaya. Dari data diatas diperlukan untuk mengidentifikasi tingkat emisi gas CO2 yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor pada kawasan industri SIER. Sasaran meliputi: mengidentifikasi karakteristik lalu lintas kendaraan di kawasan industri SIER dan mengindentifikasi nilai emisi gas CO2 yang dihasilkan oleh kendaraan-kendaraan yang melewati kawasan industri SIER. Pengumpulan data menggunakan data primer dan sekunder. Data primer berupa data jumlah kendaraan yang didapatkan melalui survey traffic counting dan data sekunder berupa data klasifikasi dan fungsi jaringan jalan yang akan digunakan sebagai input software Mobilev; Road Traffic Exhaust Emission Calculation Model). Analisis data terdiri dari dua tahap yaitu pertama perhitungan kendaraan menggunakan survey traffic counting dan kedua menghitung emisi dengan menggunakan software Mobilev; Road Traffic Exhaust Emission Calculation Model) sehingga dapat diketahui besaran jumlah emisi gas CO2 yang dikeluarkan. Berdasarkan hasil perhitungan emisi gas CO2 menggunakan software Mobilev menghasilkan jumlah emisi total dari seluruh jalan pada kawasan industri SIER adalah sebesar 3.996,92 ton/tahun. Kemampuan daya serap vegetasi terhadap emisi gas CO2 sebesar 1657,14 ton/tahun sehingga sisa emisi yang masih belum terserap adalah sebesar 2.299,78 ton/tahun.
Analisis Daerah Risiko Bencana Kebakaran di Kota Surabaya dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis Dinimiar Fitrah Saraswati; Agung Budi Cahyono
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.619 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24410

Abstract

Keterbatasan sumberdaya pemadaman menjadi salah satu kendala yang paling sering dihadapi di lapangan, sehingga kegiatan pengendalian perlu difokuskan ke wilayah-wilayah dengan risiko kebakaran yang lebih besar.Analisa dilakukan menggunakan metode skoring. Analisis spasial berupa jangkauan dan overlay pada 7 parameter yang digunakan, kemudian dilakukan skoring dan pembobotan untuk menentukan wilayah yang memiliki tingkat risiko kebakaran berskala rendah, sedang, dan tinggi. Analisis daerah risiko bencana kebakaran dilakukan berdasarkan kriteria-kriteria yang telah ditentukan mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 20/PRT/M/2009.Dari hasil penelitian diketahui bahwa daerah dengan risiko tinggi terjadinya bencana kebakaran terdapat di 11 kecamatan pada tahun 2014, 2 kecamatan di tahun 2015, dan 5 kecamatan di tahun 2016. Lebih dari 83% kejadian kebakaran terjadi di kawasan lahan terbangun yang termasuk dalam tingkat risiko tinggi bencana kebakaran.