cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Studi Kawasan Permukiman Kumuh Pedesaan (Dutaku) Berbasis GIS di Desa Polewali dan Desa Taccorong Kecamatan Gantarang Kabupaten Bulukumba Fitrah Angriani; Irsyadi Siradjuddin; Andi Idham AP
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.62489

Abstract

Permukiman kumuh sering dipandang sebagai kawasan yang identik dengan apatis, padat penduduk, tidak memadai, miskin, bobrok, berbahaya, tidak aman, kotor, tidak layak, tidak sehat, dan stigma negatif lainnya. Konsep penanganan dan penataan kawasan kumuh di pedesaan. Desa Polewali dan Desa Taccorong merepresentasikan keidentikan kumuh pedesaan. Kajian ini merupakan studi kawasan permukiman untuk menentukan level kumuh perdesaan berbasis sistem informasi geografis (GIS). Lokasi penelitian di Desa Polewali dan Desa Taccorong Kecamatan Gantarang Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni hingga bulan Oktober 2020. Pengumpulan data dengan metode observasi lapangan, survey dan telaah pustaka. Untuk mengetahui tingkat kekumuhan dilakukan analisis pembobotan menurut variabel dan indikator terukur sebagaimana rumus penilaian dari Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Kementrian PUPR. Tingkat kekumuhan permukiman kawasan kumuh berdasarkan hasil pembobotan dengan pendekatan GIS bahwa di Desa Polewali dan Desa Taccorong merupakan kumuh ringan. Nilai rata-rata pembobotan kekumuhannya adalah 2,24 dan 2,32. Penilaian pembobotan dari aspek fisik bangunan, kondisi sarana dan prasarana, kondisi kependudukan, lokasi dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Konsep penanganan terhadap tingkat kekumuhan kawasan permukiman di Desa Polewali dan Desa Taccorong yaitu 1. Membangun vertical housing/rumah susun, 2. Peningkatan kualitas jalan dengan menggunakan permeable paving dan beton, 3. Pembuatan drainase lingkungan disepanjang jalan agar tidak terjadi genangan disepanjang jalan, 4. Peningkatan pelayanan air bersih lebih ditingkatkan agar masyarakat lebih mudah mendapatkan air, 5. Penyediaan tempat sampah disetiap rumah harus diterapkan dengan baik, 6. Melakukan penataan ulang, dan 7. Melakukan penanaman pohon di sepanjang jalan.
Model Optimasi Pengembangan Agroindustri Komoditas Apel di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang Mayang Puspita Salim; Cahyono Susetyo
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.62608

Abstract

Kecamatan Poncokusumo memiliki potensi komoditas unggulan apel yang baik untuk dikembangkan. Tetapi masih terdapat permasalahan pemanfaatan apel yang harus dihadapi. Sejauh ini program kawasan agropolitan di Kecamatan Poncokusumo masih berorientasi pada usahatani (on-farm) dibandingkan aspek pasca produksinya (off-farm). Pasalnya, peningkatan kesejahteraan keluarga tani tidak bisa hanya mengandalkan pendapatan dari hasil usahatani (on-farm). Melihat kondisi tersebut kesempatan kerja di pedesaan harus mulai mengarah pada kegiatan pasca produksi (off-farm) yakni usaha pengolahan melalui agroindustri pengolahan komoditas apel dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya yang ada agar dapat meraih keuntungan yang maksimal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menyusun model optimasi pengembangan agroindustri komoditas apel di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan 2 metode analisis. Pertama, analisis delphi untuk menentukan variabel yang berpengaruh terhadap model optimasi pengembangan agroindustri. Kedua analisis linear programming untuk merumuskan model optimasi pengembangan agroindustri. Dari hasil analisis yang telah dilakukan didapatkan 6 variabel yang berpengaruh terhadap model optimasi pengembangan agroindustri yaitu kuantitas bahan baku, kebutuhan bahan baku, pendanan, harga produk, jumlah hasil produksi, dan keuntungan produk serta didapatkan 2 skenario model optimasi. Sehingga agar agroindustri berkembang secara optimal berdasarkan hasil dari model optimasinya perlu memanfaatkan bahan baku sebesar 51.263.000 Kg dengan modal yang dibutuhkan sebesar Rp.31.567.251.405 dan keuntungan maksimal yang diperoleh sebesar Rp131.034.161.079 pertahunnya berdasarkan skenario 1. Sedangkan berdasarkan skenario 2 perlu memanfaatkan bahan baku sebesar 48.845.529 Kg dengan modal yang dibutuhkan sebesar Rp.13.802.400.000 dan keuntungan maksimal yang diperoleh sebesar Rp117.443.167.162 pertahunnya.
Identifikasi Kerentanan Rusunawa Surabaya terhadap COVID-19 Rosyidah Adilah; Prananda Navitas
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.63394

Abstract

Surabaya adalah salah satu kota dengan jumlah kasus COVID-19 tertinggi di Indonesia. Dalam mencegah transmisi virus Corona, WHO mengeluarkan panduan protokol kesehatan. Untuk menerapkan protokol tersebut, setiap lingkungan memiliki kapasitas yang berbeda-beda. Lingkungan tempat tinggal sebagai lingkungan interaksi sehari-hari menjadi salah satu tempat penyebaran virus paling tinggi. Terlebih ketika pemanfaatan ruang di lingkungan tersebut ditinggali dan dimanfaatkan secara bersama-sama seperti di rusunawa. Terdapat 22 rusunawa yang tersebar di seluruh penjuru kota Surabaya. Ada rusunawa yang terletak di pusat kota dengan lahan mixed-use, dekat dengan fasilitas umum, dan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Ada pula rusunawa yang terletak di daerah sub-urban, jauh dengan fasilitas umum, dan tingkat kepadatan penduduk rendah. Perbedaan karakteristik ini mempengaruhi tingkat kerentanan rusunawa terhadap COVID-19. Oleh karena itu, tipologi kerentanan rusunawa perlu diidentifikasi. Identifikasi dilakukan dengan meninjau karakteristik kerentanan fisik, ekonomi, dan sosial dari rusunawa menggunakan analisis klaster. Data yang digunakan yaitu data sekunder berupa karakteristik sosial dan ekonomi penghuni rusunawa, serta kondisi fisik lingkungan rusunawa. Karakteristik sosial berupa tingkat kepadatan penduduk. Karakteristik fisik berupa aksesibilitas rusunawa terhadap fasilitas umum, karakteristik ekonomi berupa lokasi rusunawa dalam zona pemanfaatan ruang dan penggunaan lahan. Analisis yang dilakukan menghasilkan 2 tipologi kerentanan rusunawa yang ada di Surabaya, yaitu tipologi kerentanan tinggi dan tipologi kerentanan rendah. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk merumuskan strategi pencegahan transmisi virus Corona di lingkungan rusunawa sesuai dengan tingkat kerentanannya.
Evaluasi Penanggulangan Banjir di Kecamatan Bangil Akibat Luapan Sungai Kedunglarangan Ahmad Wisam Abdillah; Mahendra Andiek Maulana; Bambang Sarwono
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.63799

Abstract

Banjir merupakan permasalahan yang sering terjadi pada musim penghujan. Kecamatan Bangil, Pasuruan, tidak terlepas dari masalah banjir. Banjir berasal dari luapan Sungai Kedunglarangan. Awal tahun 2020, beberapa desa di Kecamatan Bangil terendam banjir dengan tinggi genangan berkisar antara 30-50 cm. Banjir mengganggu aktivitas masyarakat terdampak karena kegiatan-kegiatan masyarakat seperti bekerja dan anak-anak sekolah terbatasi. Banjir juga menggenangi area persawahan yang siap panen sehingga merugikan para petani. Metode yang dapat diterapkan untuk menanggulangi banjir tersebut adalah normalisasi dan perencanaan tanggul sungai. Kapasitas alir penampang melintang sungai dianalisa dengan dua cara, yaitu secara manual dan menggunakan program HEC-RAS. Untuk menganalisa stabilitas lereng sungai digunakan aplikasi Geo5. Dari hasil perhitungan debit banjir maksimum rencana dengan periode ulang 25 tahun diperoleh debit banjir sebesar 246,929 m3/detik. Penampang melintang sungai direncanakan menggunakan double trapesium serta penambahan perencanaan tanggul di atas tanah dasar (untuk STA 0+000 hingga STA 0+450, sedangkan STA 0+500 hingga akhir tidak direncanakan tanggul). Dimensi penampang melintang sungai setelah normalisasi yaitu lebar sungai 85 m (dengan tanggul), 76 m (non tanggul), lebar dasar sungai 12 m, lebar terasering 11 m, kedalaman muka air sungai diukur dasar sungai sebesar 6,289 m, kemiringan lereng 1:1,5 untuk lereng trapesium atas dan bawah. Dimensi tanggul memiliki lebar atas 1,00 m, lebar dasar tanggul 4,5 m, dan ketinggian tanggul 1,50 m. Pada permukaan lereng sungai memiliki stabilitas tanah yang baik. Namun saat garis kelongsoran diperbesar pada lereng berpotensi longsor. Untuk mengantisipasi kelongsoran tersebut ada beberapa alternative yaitu dengan perencanaan geotextile wovwn, pemasangan batu bronjong, perencanaan angkur, kombinasi alternative. Penanggulangan banjir ini diharapkan dapat memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat, terlebih lagi mampu menyelamatkan mata pencaharian masyarakat sekitar yang sebelumnya terdampak banjir tahunan karena meluapnya Sungai Kedunglarangan.
Konsep Ruang pada Kawasan Heritage Pecinan Kota Bandung (Studi Kasus: Kawasan Heritage Pecinan Kota Bandung) Fadli Muhammad Faruq; Tucunan Pradinie Tucunan
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.65336

Abstract

Kawasan Heritage Pecinan Kota Bandung merupakan salah satu kawasan heritage yang dapat ditemukan di Kota Bandung, kawasan ini memiliki proses sejarah panjang dari awal pembentukan hingga kawasan yang dapat dijumpai pada hari ini. Pada proses simbol – simbol kawasan heritage yang masih dapat ditemukan seperti unsur fisik berupa kelenteng, beberapa bangunan masyarakat, hingga unsur nirfisik berupa kebudayaan dan kepercayaan masyarkat lokal. Pada tahun 2017, kawasan ini dijadikan destinasi wisata baru di Kota Bandung, RDTR Kota Bandung 2015–2035 juga menyebutkan bahwa zonasi pecinan akan dikembangkan menjadi pusat ekonomi kreatif, pengembangan zonasi akan direalisasikan melalui RTBL yang hingga saat ini belum juga terbentuk. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan pemaknaan ruang pada kawasan heritage pecinan berdasarkan perbandingan dengan kawasan pecinan di Kota Semarang juga kepercayaan tradisional pecinan yang biasa disebut kepercayaan Feng Shui. Penelitian ini menggunakan pendekatan naturalistik dan etnografi yang dikumpulkan dengan melakukan catatan harian, wawancara terstruktur dengan narasumber, juga pengamatan langsung secara intensif pada kawasan penelitian. Narasumber dipilih berdasarkan faktor demografi, psikografi, dan geografi yang dapat merepresentasikan konsep ruang dengan landasan yang diberikan. Dari penelitian ini didapatkan konsep ruang yang dapat dijadikan acuan bagi para pengembang baik pihak swasta maupun pemerintahan dalam mengembangkan kawasan heritage pecinan berdasarkan dengan konsep ruang yang terbentuk oleh masyarakat itu sendiri. Ruang yang memiliki pemaknaan secara khusus bagi masyarakat pecinan mulai dari konsep kebertahanan, hingga konsep berkegiatan ekonomi diharap mampu membuat kawasan ini dikembangkan dengan pedoman yang optimal dan terstruktur.
Kajian Dampak Pencemar Logam pada Udara Ambien terhadap Kejadian Penyakit ISPA Pneumonia dan Non-Pneumonia di Sekitar Waru, Sidoarjo, Jawa Timur Febry Adhelia Azzahra; Arie Dipareza Syafei
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.64069

Abstract

Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) khusunya pneumonia merupakan salah satu penyakit yang dianggap serius di Indonesia. Pada tahun 2019 wilayah Sidoarjo mengalami peningkatan kasus pneumonia sebesar 128,35%. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa terdapat 15 unsur logam pada partikel halus (PM 2.5) dan kasar (PM 2.5-10) yaitu Na, Mg, Al, Si, S, K, Ca, Ti, Cr, Mn, Fe, Cu, Zn, Pb, dan Cl di Kawasan Industri Waru, Sidoarjo. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji korelasi antara unsur logam pada udara ambien dengan kejadian penyakit ISPA. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif dengan menggunakan uji korelasi, uji multikolinearitas, dan analisis regresi linear berganda. Berdasarkan hasil uji korelasi, ada 4 logam yang berkorelasi dengan penyakit pneumonia, yaitu: Al, Si, Ca, Ti, dan Fe dan tidak ada logam yang berkorelasi terhadap ISPA non-pneumonia. Setelah dilakukan analisis regresi linear berganda ditemukan bahwa kandungan Si pada udara sebesar 1 mikrogram/m3 akan menurunkan risiko terjadinya kasus Pneumonia sebesar 0.2%. Sementara itu arah dan kecepatan angin tidak berpengaruh secara signifikan dalam terjadinya penyakit ISPA.
Identifikasi Kondisi Eksisting Permukiman Kumuh Berdasarkan Konsep Liveable Settlement pada Desa Kedungrejo Della Kusumaning Putri; Hertiari Idajati
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.65001

Abstract

Desa Kedungrejo khususnya Dusun Kalimati yang berada di kawasan pesisir Kecamatan Muncar telah ditetapkan sebagai kawasan permukiman kumuh prioritas pertama Kabupaten Banyuwangi menurut Surat Keputusan Bupati tahun 2018 dan RP2KPKP tahun 2020. Namun, seiring banyaknya program permukiman kumuh yang telah digalakkan, status permukiman kumuh Desa Kedungrejo berganti menjadi permukiman tidak kumuh yang dikeluarkan melalui Surat Keputusan Bupati tahun 2021. Perubahan kualifikasi tersebut menjadi dasar bagi peneliti untuk mengidentifikasi apakah kondisi eksisting permukiman pesisir Dusun Kalimati Desa Kedungrejo sudah sesuai dengan konsep liveable settlement yang menjadi visi RP2KPKP Kabupaten Banyuwangi. Teknik analisis yang digunakan dalam proses identifikasi adalah statistik deskriptif dengan output berupa persentase kondisi eksisting masing-masing sub variabel liveable settlement. Metode pengumpulan data yang digunakan yakni metode pengumpulan data primer melalui penyebaran kuesioner dan observasi. Proses identifikasi dilakukan dengan membagi sub variabel liveable settlement dalam 2 kategori, yakni sub variabel bersifat personal dan sub variabel bersifat publik. Hasil penelitian menujukkan bahwa dari 12 sub variabel personal, 2 diantarnya memiliki persentase kategori rendah terbanyak yaitu sistem pengolahan air limbah dan pendapatan per bulan masyarakat. Sedangkan dari 23 sub variabel publik, 9 diantaranya memiliki persentase kategori rendah terbanyak antara lain lebar jalan lingkungan, jenis drainase, ketersediaan proteksi kebakaran, jumlah RTH/taman publik, luas RTH/taman publik, radius jangkauan pelayanan SMP, ketersediaan angkutan umum, kegiatan sistem keamanan lingkungan, dan keaktifan organisasi nelayan.
Modifikasi Perencanaan Rumah Susun Pasar Rebo dengan Base Isolation Tipe Friction Pendulum System pada Daerah Rawan Gempa Muhamad Fauzan Akbari; Hidajat Sugihardjo; Ahmad Basshofi Habieb
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.65249

Abstract

Tingginya aktivitas seismik dan potensi gempa menuntut perencanaan struktur gedung dengan kinerja yang baik saat gempa terjadi. Tipe penahan gempa konvensional seperti sistem rangka pemikul momen dan shearwall pada struktur bangunan dapat menyebabkan kerusakan elemen struktural maupun non-struktural yang signifikan akibat adanya plastifikasi dan tingginya percepatan lantai. Oleh karena itu diperlukan suatu sistem penahan gempa yang lebih efektif dalam mencegah dampak kerusakan tersebut. Inovasi yang dikembangkan untuk mengurangi dampak tersebut adalah base isolation. Konsep dasar base isolation yaitu memisahkan pergerakan struktur dari pergerakan horizontal tanah dengan memasang elemen fleksibel didasar bangunan sehingga gaya gempa yang masuk pada struktur tereduksi. Dalam tugas akhir ini akan dilakukan modifikasi perencanaan gedung Rumah Susun Pasar Rebo dengan menggunakan base isolation tipe friction pendulum system (FPS). Perencanaan tersebut mengacu beberapa peraturan yaitu SNI 2847:2019, SNI 1726:2019, SNI 1727:2020, PPIUG 1983 dan peraturan lainnya. Dari analisis perhitungan didapatkan: tebal pelat lantai terbesar 13cm, dimensi balok anak 25x40cm, dimensi balok induk terbesar 45x70cm, dimensi kolom terbesar 60x80cm, dan pondasi direncanakan dengan spun pile 40x40 dan D60 dengan kedalaman masing-masing 14 dan 11m. Friction pendulum yang digunakan pada gedung ini ada dua tipe yaitu SIP-D-HF-325 (5000) dan SIP-D-HF-326 (5000) yang merupakan produk dari Maurer. Selain itu dari analisis didapatkan struktur base isolation memiliki periode 3,17 kali lebih besar dari periode struktur fixed based. Struktur base isolation memiliki gaya geser dasar yang lebih kecil dari struktur fixed based dengan sistem SRPMM (R=5), SRPMB (R=3), SRPMB (R=2) dengan selisih masing-masing sebesar 6,23% , 43,4%, dan 62,49%. Akan tetapi struktur base isolation memiliki gaya geser yang lebih besar dari struktur SRPMK dengan selisih sebesar 50,03%. Struktur dengan base isolation memiliki perpindahan atap yang lebih besar dari struktur fixed based. Penggunaan base isolation pada struktur mereduksi drift rasio dengan selisih rata-rata 68,2% diarah X dan 47,35% diarah Y.
Studi Perancangan Bangunan Tahan Gempa dan Tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat Cavell Aulia Demitha Putri; Faimun Faimun
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.65280

Abstract

Tsunami adalah bencana alam berupa gelombang air dengan periode panjang, yang salah satu penyebabnya ialah gempa bumi tektonik. Sebagai negara yang berada di antara pertemuan tiga lempeng tektonik; Indo – Australia, Eurasia, dan Pasifik, hal tersebut menyebabkan kawasan Indonesia rentan terjadi gempa bumi tektonik hingga tsunami. Tsunami destruktif dapat memberikan berbagai dampak terhadap apapun yang dilaluinya; baik infrastruktur maupun jiwa penduduk. Sehingga, dibutuhkan suatu bangunan yang mampu menahan gempa bumi hingga tsunami bagi penduduk Indonesia untuk meminimalisir dampak yang tersebut. Bangunan vertikal yang didesain harus memenuhi standar dan kriteria bangunan tahan tsunami. Dalam SNI 1727 – 2020 dan FEMA P – 646, dijelaskan bahwa level kinerja minimal suatu bangunan yang layak digunakan sebagai bangunan tahan tsunami ialah pada level Immediate Occupancy. Maka, dalam perencanaan penulisan ini akan digunakan metode Performance Based Design (PBD) yang ditunjang dengan analisa non – linier berupa Pushover Analysis, guna mengetahui level kinerja suatu bangunan. Desain bangunan vertikal tahan gempa dan tsunami pada penulisan ini direncanakan di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Konstruksi yang digunakan ialah baja bersistem bracing eksentris atau Eccentrically Braced Frames (EBF), dengan sistem sambungan berupa Reduced Beam Section (RBS). Dari hasil analisis dan perhitungan, didapatkan tebal pelat lantai yang digunakan adalah 10 cm serta 9 cm. Untuk profil yang digunakan, yaitu dimensi bracing WF 400 x 400 x 25 x 30, dimensi balok induk WF 800 x 300 x 14 x 26 dan WF 800 x 300 x 14 x 22, dimensi balok link WF 700 x 300 x 15 x 28, dimensi balok anak WF 350 x 250 x 9 x 14, dimensi kolom WF 500 x 500 x 70 80, WF 400 x 400 x 30 x 50 dan WF 400 x 400 x 25 x 30. Spun pile berdiameter 80 cm digunakan sebagai pondasi yang dipancang pada kedalaman 18 m serta 20 m.
Perencanaan Revitalisasi Instalasi Pengolahan Air Lindi (IPL) TPA Gunung Panggung, Kabupaten Tuban Laili Zahratul Rizqia; Agus Slamet
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.65273

Abstract

Air lindi yang dihasilkan dari timbulan sampah mengandung berbagai pencemar berbahaya. Lindi yang dihasilkan TPA Gunung Panggung Tuban tidak semuanya masuk ke dalam unit instalasi peengolahan lindi (IPL) eksisting. Hal ini menyebabkan tergenangnya lindi yang tidak terolah di sekitar unit IPL yang menyebabkan pencemaran lingkungan. Metode perencanaan debit lindi dihitung menggunakan metode Thronwaite, hasil perhitungan didapatkan debit lindi sebesar 28,3 m3/hari. Kualitas lindi yang belum terolah yaitu nilai TSS (129,4mg/L), BOD5 (346,7 mg/L), COD (3021 mg/L), sedangkan lindi yang masuk ke IPL didapatkan nilai TSS (125,3 mg/L), BOD5 (1321 mg/L), COD (8204 mg/L). Hasil perencanaan unit instalsi pengolahan lindi terdiri dari bangunan koagulasi, flokulasi, pengendap, Anaerobik Filter, Constructed Wetland. Nilai kualitas efluen IPL rencana parameter BOD, COD, TSS, Total N masing-masing adalah 8 mg/L, 55,2 mg/L, 2 mg/L, 13 mg/L dengan efisiensi penyisihan sebesar 98,8%, 98.9%, 97,9%, 89,5%. Biaya investasi yang dibutuhkan untuk konstruksi unit instalasi pengolahan lindi sebesar Rp 232.516.044.