cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Remediasi Air Tercemar Logam Berat Kromium Menggunakan Biochar dari Sekam Padi Faris, Salman; Titah, Harmin Sulistiyaning
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i1.120211

Abstract

Dalam tugas akhir ini meneliti kemampuan adsorpsi logam berat kromium (Cr) menggunakan adsorben biochar dari bahan dasar sekam padi. Variasi yang digunaka pada penelitian ini adalah suhu pirolisis saat aktivasi biochar yang berbeda (350℃ dan 500℃) dan penambahan berat biochar ke dalam media tercemar yang berbeda (0 gr, 8 gr, dan 16 gr). Sebelum proses adsorpsi, dilakukan uji SEM pada biochar. Media air tercemar akan dibubuhi dengan biochar dengan berbagai variasi diatas lalu diaduk menggunakan magnetic stirrer dengan kecepatan 180 rpm, lalu diambil sampel pada waktu kontak 0, 30, 60 menit. Pengukuran logam berat Cr dalam sampel dilakukan dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Hasil penelitian ini didapatkan penurunan konsentrasi logam berat Cr hingga 66%. Penambahan berat biochar paling efektif pada penelitian ini yaitu pada penambahan 16 gr biochar (aktivasi suhu 500℃) dengan efektivitas 59% dan 8 gr biochar (aktivasi suhu 350℃) dengan efektivitas 66%. Suhu pirolisis optimal terdapat pada suhu 500℃ karena kadar fixed carbon yang lebih tinggi. Dimana kadar fixed carbon biochar dari sekam padi pada suhu 500℃ adalah 38,74%, dan pada suhu 350℃ kadar fixed carbon ialah 35,28%. Kesimpulan biochar mempunyai potensi sebagai absorben untuk menyisihkan logam berat Cr pada media air tercemar.
Pra Desain Pabrik Surfaktan Methyl Ester Sulfonate (MES) dari Waste Cooking Oil (WCO) Aditama, Narendra Yudha; Ryvalda, Dhea Septyanonie
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i1.120601

Abstract

Pra Desain Pabrik Surfaktan Methyl Ester Sulfonate (MES) dari Waste Cooking Oil (WCO) akan penunjang berupa berupa karbon aktif, Metanol 99%, NaOH, NaHSO3, dan CaO. Metode produksi yang digunakan adalah kombinasi adsorpsi, transesterifikasi, dan sulfonasi. Mula-mula bahan baku WCO akan dilakukan pre-treatment filtrasi untuk menghilangkan impurities hasil penggorengan atau hasil olahan lainnya. Hasil dari filtrasi akan diadsorpsi dengan adsorben karbon aktif. Pengotor-pengotor akan teradsorpsi berupa zat warna yang pekat dan kandungan asam lemak bebas (FFA). WCO yang sudah bersih kemudian masuk reaktor transesterifikasi untuk mereaksikan trigliserida yang ada pada WCO dengan metanol. Trigliserida yang bereaksi dengan metanol akan menghasilkan metil ester, senyawa penyusun biodiesel. Metil ester keluaran reaktor transesterifikasi kemudian akan direaksikan dengan NaHSO3 untuk menghasilkan metil ester sulfonat (MES) pada reaktor sulfonasi. Sulfonasi menghasilkan prpduk samping disalt yang akan dimurnikan dengan metanol. Pemurnian dilakukan dengan kondisi hangat. Kemudian pH dari MES akan dinetralkan dengan NaOH. Pabrik ini memerlukan capital expenditure sebesar Rp 275,654,621,356 dan operating expenditure sebesar Rp 352,337,033,963. Melalui analisa ekonomi didapat NPV pabrik senilai Rp 266,123,279,080, IRR sebesar 33.43%, POT 10 tahun, dan BEP 35.31%. Berdasarkan analisa tersebut dapat disimpulkan bahwa pabrik MES ini layak untuk didirikan.
Pra Desain Pabrik Biodiesel dari Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) Darojat, Muhamad Irfaid; Rheinanda, Rheinanda; Mahfud, Mahfud
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i1.120713

Abstract

Pabrik pembuatan biodiesel dari Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) dibuat melalui proses esterifikasi dan transesterifikasi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi biodiesel yang meningkat setiap tahunnya. Pabrik biodiesel dari PFAD ini direncanakan dibangun dengan kapasitas 150.000 ton/tahun sepanjang 330 hari per tahun. Pabrik ini diharapkan akan menghasilkan biodiesel untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan pabrik biodiesel adalah Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) yang merupakan produk samping dari pemurnian CPO. Pabrik ini direncanakan akan dibangun di Provinsi Riau, hal ini telah dipertimbangkan melalui beberapa aspek diantarnya adalah ketersediaan Bahan Baku. Esterifikasi dan transesterifikasi akan dilakukan pada suhu 60oC dan pada tekanan 1 atm menggunakan reaktor alir tangki berpengaduk dengan tingkat konversi reaksi 98% untuk esterifikasi dan 99% untuk transesterifikasi. Dari studi evaluasi ekonomi pabrik ini, disimpulkan bahwa didapatkan penaksiran modal (CAPEX) sebesar Rp. 1.446.760.931.219, biaya operasional (OPEX) sebesar Rp. 30.153.852.200. Berdasarkan analisa ekonomi terhadap pabrik ini menunjukkan laju pengembalian modal (IRR) didapatkan sebesar 16,1% dengan waktu pengembalian modal (POT) selama 9,3 tahun. NPV yang didapatkan juga bernilai positif yaitu Rp. 555.177.716.694. Berdasarkan analisis yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pabrik biodiesel dengan kapasitas 150.000 ton/tahun adalah layak secara teknis dan ekonomis untuk didirikan.
Pra-Desain Pabrik Gamma Valerolactone (GVL) dari Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit Pamungkas, Berlian Widi Bela; Akbar, Faisal; Rachmaniah, Orchidea; Meka, Wahyu
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i1.121337

Abstract

Limbah TKKS dapat diolah menjadi berbagai macam produk, salah satunya adalah Gamma-Valerolakton (GVL). GVL adalah senyawa yang dihasilkan dari biomassa yang dianggap sebagai salah satu bahan kimia yang paling bernilai tambah. GVL adalah bahan baku ramah lingkungan yang dapat digunakan dalam sintesis organik untuk menyiapkan serangkaian bahan kimia penting seperti ε-kaprolaktam, ester valerik, dan lain-lain. GVL memiliki banyak kegunaan. Dalam industri kimia, GVL digunakan sebagai bio-based green solvents. Dalam bidang energi, GVL digunakan sebagai bahan aditif bahan bakar. Konversi energi dari glukosa menjadi GVL adalah 97% dan energi pembakarannya mirip dengan etanol (29,7 MJ/kg). Nilai ∆Hc,liq GVL adalah -2,65 MJ/mol, yang dapat langsung digunakan sebagai bahan bakar cair atau aditif bahan bakar berkualitas tinggi (nilai etanol dan metil tert-butil eter adalah -1,37 MJ/mol dan -3,37 MJ/mol, masing-masing). Berdasarkan DataIntelo, pasar global GVL diperkirakan akan tumbuh pada CAGR sebesar 5,02% dari tahun 2022 hingga 2030. Pertumbuhan di pasar ini dapat dikaitkan dengan meningkatnya permintaan GVL dari berbagai industri pengguna akhir seperti sebagai zat aditif untuk makanan, pelarut, intermediet monomer, dan lain-lain. Untuk memproduksi GVL dari limbah TKKS, diperlukan 4 tahap utama, yaitu tahap pre-treatment, bahan baku, pembentukan asam levulinat dari selulosa dan hemiselulosa, serta pembuatan GVL dari asam levulinat. Proses utama yang digunakan dalam sintesis GVL dari asam levulinat adalah hidrogenasi katalitik dengan katalis Cu/ZrO2. Pabrik dengan kapasitas 3372 Ton/tahun direncanakan didirikan di Kota Dumai, tepatnya di Kawasan Industri Dumai. Pabrik ini mulai dibangun pada tahun 2023 dan beroperasi pada tahun 2025. Total biaya bahan baku sebesar Rp709.518.494.203,00 per tahun. Rencana hasil penjualan GVL dari limbah TKKS sebesar Rp3.690.454.345.328,00 per tahun. Untuk Internal Rate of Return sebesar 32,3% dengan Pay Out Time selama 4,24 tahun. Break Even Point dari pabrik ini sebesar 43,69%. Pabrik direncanakan beroperasi dengan proses Continuous 24 jam selama 330 hari per tahun.
Evaluasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) RSUD dr. Soedono Madiun Larasati, Tyas Ratri; Marsono, Bowo Djoko
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i1.121368

Abstract

Rumah sakit sebagai salah satu sarana pelayanan kesehatan utama dalam pelaksanaan kegiatannya menghasilkan limbah. RSUD dr. Soedono Madiun memiliki IPAL berteknologi Hospital Wastewater Treatment Plant (HWWTP) yang dibangun pada tahun 2004. IPAL ini memiliki daya tampung sebesar 200 m3/hari. Rata-rata volume air limbah yang dihasilkan dari kegiatan di RSUD dr. Soedono Madiun sebesar 100 – 147 m3/hari. Hasil evaluasi ini menunjukkan RSUD dr. Soedono Madiun efluen kualitas air limbah memenuhi baku mutu kecuali pada parameter PO4. Nilai parameter PO4 pada efluen sebesar 7,86 mg/L sedangkan baku mutu yaitu Peraturan Gubernur Jawa Timur no 72 tahun 2013 nilai maksimum sebesar 2 mg/L. Debit air limbah untuk saat ini masih memenuhi kapasitas IPAL tetapi untuk proyeksi kedepannya pada saat BOR (Bed Occupancy Ratio) eksisting dan BOR (Bed Occupancy Ratio) maksimum debit air limbah sudah melebihi kapasitas dari IPAL. Desain bangunan IPAL RSUD dr. Soedono Madiun beberapa unit belum memenuhi kriteria desain seperti unit grease trap, bak kontrol, bak ekualisasi dan FBBR. Untuk pengelolaan manajemen dan sumber daya manusia sudah cukup baik. Rekomendasi yang bisa diberikan adalah melakukan redesain pada beberapa bangunan unit IPAL, menggunakan detergen yang ramah lingkungan dan pembersihan serta pemantauan dengan lebih teratur pada bangunan IPAL.
Pra Desain Pabrik Garam Farmasi dari Garam Olahan dengan Kapasitas Produksi 1500 Ton/Tahun Fadila, Achyani Putri; Aini, Afifah Nur; Nurkhamidah, Siti; Taufany, Fadlilatul
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i1.121421

Abstract

Salah satu garam industri yang masih diimpor oleh Indonesia adalah garam farmasi. Garam farmasi merupakan garam yang memiliki tingkat kemurnian NaCl yang sangat tinggi mencapai 99,5% dan biasa digunakan dalam industri farmasi sebagai cairan infus, pembersih darah, obat kapsul, pelarut vaksin, sirup, oralit, dan minuman kesehatan. Proses pembuatan garam farmasi dari garam olahan dibagi menjadi 3 unit proses, yaitu unit pemurnian bahan baku, unit penguapan dan pengkristalan, dan unit pengeringan dan pengendalian produk. Dari hasil proses didapatkan garam farmasi dengan kemurnian mencapai 99,9%. Pabrik garam farmasi ini memiliki kapasitas produksi sebesar 1500 ton/tahun dengan waktu operasi 330 hari kerja pada usia pabrik selama 10 tahun. Lokasi pendirian pabrik direncanakan di Kecamatan Manyar, Gresik. Berdasarkan analisa ekonomi, laju pengembalian modal (IRR) yang didapatkan sebesar 13,84% dengan waktu pengembalian modal (POT) selama 6 tahun, dan NPV positif sebesar Rp1.928.382.237,2 yang menunjukkan bahwa pabrik ini layak untuk didirikan.
Pra Desain Pabrik Magnesium Hidroksida (Mg(OH)2) dari Bittern Rohmania, Inti; Rohmah, Nur Azizatur; Altway, Ali; Susianto, Susianto
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i1.121433

Abstract

29ºBe. Bittern memiliki beberapa kandungan ion mineral diantaranya Na+, Mg2+ dan Cl-. Lokasi terpilih dalam pendirian pabrik ini direncanakan di Kabupaten Sampang, Jawa Timur pada tahun 2027 dengan kapasitas produksi sebesar 1.850 ton/tahun. Proses yang digunakan dalam pembuatan Mg(OH)2 dari bittern yaitu presipitasi magnesium menggunakan NaOH dengan pertimbangan yield yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan penggunaan senyawa basa lainnya. Secara umum, proses ini dibagi menjadi tiga unit proses, yaitu proses pre-treatment bahan baku, proses presipitasi magnesium, proses drying dan milling. Tahap pre-treatment bittern dilakukan secara dua tahap, yaitu filtrasi charcoal dan pengurangan ion Ca2+. Filtrasi charcoal bertujuan untuk menghilangkan zat chroma dan zat pengotor yang terikut dalam bittern, serta pengikatan kadar kalsium dalam bittern menggunakan H2SO4. Tahap presipitasi magnesium bertujuan untuk mengikat ion-ion Mg2+ dalam bittern dan bereaksi dengan ion (OH-) dari NaOH sehingga menghasilkan Mg(OH)2. Dimana Mg(OH)2 memiliki nilai kelarutan senyawa yang paling rendah diantara senyawa lain yang terbentuk, sehingga terjadi adanya pengendapan dan dapat dengan mudah dilakukan pemisahan dan pencucian pada proses selanjutnya. Tahap drying dan milling, terjadi proses pengeringan cake Mg(OH)2 untuk menghilangkan kadar air yang tersisa dengan bantuan panas secara berlawanan serta terjadi proses size reduction untuk menghasilkan ukuran yang seragam (100 mesh). Untuk mendirikan pabrik Mg(OH)2 dengan kapasitas 1.850 ton/tahun dibutuhkan modal investasi sebesar Rp. 214.287.272.351 yang diperoleh dari modal sendiri sebesar 30% dan pinjaman jangka pendek dengan bunga 8% per tahun sebesar 70%. Dari analisa ekonomi, didapatkan penaksiran modal (CAPEX) sebesar Rp. 186.813.411.607 dan biaya operasional (OPEX) sebesar Rp. 54.947.721.488. Hasil penjualan produk per tahun sebesar Rp. 92.500.000.000 dengan IRR 15,94%, POT selama 6,05 tahun, NPV sebesar Rp. 135.472.885.944 dan WACC sebesar 7,24%. Berdasarkan analisa kelayakan di atas dapat disimpulkan bahwa pabrik ini layak untuk didirikan karena nilai WACC < IRR.
Pra Desain Pabrik Surfaktan SLS Dengan Bahan Baku Lignin Gianfranco, Enrique; Raja, Risfanali; Altway, Ali
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i1.121440

Abstract

Pabrik Surfaktan Sodium Lignosulfonate (SLS) dengan Bahan Baku Lignin di Kabupaten Kampar, Riau, Indonesia, telah direncanakan dengan kapasitas produksi 2.500 ton per tahun. Pabrik ini bertujuan untuk memproduksi SLS, sebuah senyawa kimia yang banyak digunakan sebagai bahan pendispersi dalam berbagai aplikasi industri. Saat ini, mayoritas Sodium Lignosulfonate yang digunakan di Indonesia masih diimpor dari negara lain. Proses produksi SLS dimulai dengan tahap pre-treatment, di mana feed yang terdiri dari lignin dan impurities lainnya diolah melalui proses evaporasi dan pengasaman dengan H2SO4 20% untuk memperoleh isolat lignin. Selanjutnya, isolat lignin direaksikan dengan agen pensulfonasi NaHSO3 dalam reaktor sulfonator untuk menghasilkan Sodium Lignosulfonate (SLS) dengan tingkat konversi sebesar 89% mol. Setelah proses pemisahan pada sentrifus, SLS yang lebih murni akan mengalami proses metanasi dan evaporasi untuk mendapatkan produk SLS yang pekat. Proses pengeringan menggunakan fluidized bed dryer menghasilkan SLS berbentuk bubuk, yang kemudian dihaluskan dan diskrining sesuai spesifikasi produk. Produk yang sesuai spesifikasi disimpan dalam tangki penyimpanan, sedangkan yang tidak sesuai dikembalikan ke dalam proses produksi. Pabrik ini direncanakan untuk beroperasi pada tahun 2027 dengan pertimbangan indicator Supporting infrastructure, economical, dan environmental. Diperlukan total investasi sebesar Rp95.013.326.653,9 untuk mendirikan pabrik ini, dengan estimasi total biaya produksi sebesar Rp64.166.737.917,9 dan estimasi penjualan sebesar Rp63.125.250.000,0 per tahun. Pabrik ini diharapkan dapat beroperasi selama 25 tahun dengan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 25,20%, waktu pengembalian modal (POT) selama 7 tahun, dan Break Even Point (BEP) sebesar 40%.
Pra Desain Pabrik Metanol dari CO2 Sebagai Produk Samping Produksi LNG Wardiantara, Ameylia Annisa; Rahardyanto, Muhammad Zaky; Juwari, Juwari; Renanto, Renanto
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i1.121507

Abstract

Pada industri LNG gas buangan hasil produksi biasanya berupa Acid Gas, dimana gas ini mengandung CO2 dan H2S sebagai bahan yang harus di treatment. Pemanfaatan gas CO2 dapat dijadikan sebagai bahan baku produksi metanol, dimana metanol merupakan suatu senyawa yang saat ini memiliki peran penting pada ekonomi global sebagai bahan baku yang banyak dibutuhkan di industri kimia. Pada tahun 2020, permintaan metanol global mencatatkan pertumbuhan yang positif yaitu mencapai 102,162 juta. Adapun di Indonesia, melalui Peraturan Menteri ESDM No. 12 tahun 2015 yang menetapkan intensifikasi pemanfaatan Bahan Bakar Nabati sebagai bahan bakar lain juga turut membuka peluang besar untuk industri metanol dalam pemenuhan bahan bakunya. Pabrik ini direncanakan beroperasi dengan kapasitas produksi sebesar 500.000 ton/tahun Methanol Grade AA dan berlokasi di Bontang, Kalimantan Timur. Pabrik metanol direncanakan didirikan diatas lahan seluas 50,21 ha dan mulai beroperasi pada tahun 2027 dengan umur pabrik selama 20 tahun. Adapun proses produksi metanol ini terbagi menjadi empat tahapan utama yaitu proses penghilangan gas pengotor H2S dengan desulfurisasi menggunakan katalis ZnO, proses produksi hidrogen dengan elektrolisis PEM, proses sintesis metanol dengan jenis reaktor proses Lurgi, dan proses permunian produk metanol dengan separator dan kolom distilasi. Bahan baku utama yang diperlukan dari proses produksi metanol ini antara lain acid gas, air dan steam. Modal yang digunakan dalam pendirian pabrik diasumsikan berasal dari modal sendiri sebesar 60% dan modal yang didapat dari pinjaman bank sebesar 40% dengan masa konstruksi selama 2 tahun. Untuk memenuhi kapasitas produksi tahunan metanol dalam pabrik ini, diperlukan nilai OPEX (operating expenditures) sebesar Rp. 5.650.803.181.118, dengan nilai CAPEX (capital expenditures) sebesar Rp. 18.486.187.975.646. Berdasarkan analisis ekonomi yang dilakukan, didapatkan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 21,47% dengan bunga bank sebesar 8%, waktu pengembalian modal atau Pay Out Time (POT) yang dibutuhkan dalam pendirian pabrik ini adalah selama 5 tahun, nilai BEP sebesar 40,21%, dan nilai NPV sebesar Rp. 345.786.206.517.809. Sehingga berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa Pabrik Metanol dari CO2 sebagai Produk Samping Produksi LNG layak untuk didirikan.
Pra Desain Pabrik Urea dengan Proses ACES-21 untuk Ketahanan Pangan di Indonesia Timur Afzarurrohmansyah, Ahmad; Adjie, Restu Caksono; Wibawa, Gede; Tetrisyanda, Rizky
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i1.121646

Abstract

Pertumbuhan penduduk akan mengakibatkan kebutuhan terhadap pangan meningkat dan juga saat ini pemerintah sedang mengupayakan program swasembada pangan. Peningkatan kebutuhan akan pangan berarti peningkatan akan kebutuhan pupuk yang harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas produksi pada pabrik pupuk. Para petani di Provinsi Papua Barat masih kesulitan untuk mendapatkan pupuk subsidi. Salah satu solusi atas permasalahan tersebut adalah dengan pembangunan pabrik pupuk di Provinsi Papua Barat, pabrik direncanakan akan mulai beroperasi pada tahun 2026, dengan mengacu pada pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Lokasi pabrik yang direncanakan adalah di Kawasan Industri Teluk Bintuni dengan kapasitas 1.150.000 Ton/Tahun. Bahan baku utama dalam proses pembuatan pupuk urea adalah ammonia cair yang memiliki komposisi sebesar 99,8% NH3 dan 0.2% H2O serta gas CO2 sebesar 99%. Hal ini tentunya sudah mempertimbangkan kebutuhan bahan baku gas alam yang sudah tersedia dikawasan tersebut dan aksesibilitas untuk menjangkau Kawasan Industri Teluk Bintuni. Proses produksi pupuk urea dari ammonia dan CO2 pada pabrik yang akan didirikan menggunakan proses ACES 21, karena merupakan teknologi yang paling mutakhir dengan efisiensi yang cukup baik. Adapun untuk proses yang tersedia terdiri dari 5 seksi utama yaitu Persiapan Bahan Baku, Seksi Sintesa, Seksi Purifikasi, Seksi Konsentrasi, dan Seksi Prilling, serta 3 seksi penunjang yaitu Seksi Recovery, Seksi Condensate Treatment, dan Unit Distribusi Urea. Pabrik direncanakan akan dibangun diatas lahan seluas 15 ha yang nantinya akan terintegrasi dengan Ammonia Plant dan mulai berproduksi pada tahum 2026 dengan umur pabrik 15 tahun. Setelah dilakukan studi kelayakan, CAPEX yang diperkirakan sebesar RP 9.338.838.173.381 atau USD 592.942.106 dan OPEX sebesar 8.639.328.826.333 atau USD 548.528.814 dengan hasil perhitungan Analisa ekonomi untuk Internal Rate of Return sebesar 20,24%, Net Present Value sebesar Rp 11.446.531.189.895 atau USD 726.763.885, Pay Out Time selama 4,2 tahun, dan Break Even Point (BEP) sebesar 22,01%. Sehingga, dapat dikatakan bahwa pabrik urea layak didirikan.