cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains dan Seni ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 28 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 5 (2022)" : 28 Documents clear
Konsep Multifungsi dan Multikultur pada Perancangan Kembali Alun-Alun Kota Gresik melalui Participatory Design Graciani Cahyadresta Dewanda; Rabbani Kharismawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 5 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i5.95801

Abstract

Alun-Alun Gresik semula merupakan tanah lapang yang biasa digunakan berbagai kegiatan oleh warga sekitar. Namun pada 2017, Alun-Alun Gresik diubah menjadi sebuah Islamic Center. Banyak pro dan kontra di masyarakat hingga muncul banyak penolakan pula. Penolakan ini didasari oleh posisi Alun-Alun Gresik sebagai cagar budaya dan kondisi sekitar Alun-Alun tidak hanya dari budaya Islam saja. Hal ini ditandai dengan adanya Gereja Pantekosta dan Klenteng Kim Hin Kiong di dekat Alun-Alun. Dimana fenomena ini secara tidak sengaja mengalami fenomena placelessness yang disampaikan oleh Edward Relph (1976) dalam Seamon, David dan Sowers, Jacob (2008). Placelessness menjelaskan terjadinya penghapusan tempat-tempat khusus dan pembuatan lanskap standar yang dihasilkan dari ketidakpekaan terhadap pentingnya suatu tempat. Keberadaan Alun-Alun Gresik yang sebagai Islamic Center, perlahan dapat menghapus tempat-tempat khusus, seperti Gereja Pantekosta dan Klenteng Kim Hin Kiong yang juga kental akan tradisi budayanya. Berdasarkan permasalahan ini, kondisi Kota Lama Gresik yang multikultur menjadi dasar untuk mengembalikan Alun-Alun Gresik dengan menghormati kultur-kultur lainnya. Dengan memperhatikan komunitas sekitar, harapannya Alun-Alun Gresik dapat memberikan meaning of place bagi komunitas sekitar dan mengembalikan signifikansi Kota Lama Gresik. Menggunakan pendekatan participatory design, proyek ini berusaha melibatkan kontribusi partisipan dalam melihat isu ini dan bersama-sama memberikan aspirasi terkait rancangan Alun-Alun Gresik yang lebih multikultur secara kolaboratif. Pelaksanaan jaring pendapat dan pekerjaan kolaboratif ini dilakukan dengan media workshop/interview dan juga pemanfaatan teknologi untuk respon batasan jarak yang ada di era pandemi COVID-19. Konsep multifungsi diaplikasikan sebagai konsekuensi dari aktivitas yang ingin diwadahi dalam rancangan dan sebagaimana keberadaan ruang publik di tengah kota. Konsep ini diaplikasikan pada aktivitas dan ruangnya, aplikasi tangga dan ramp, serta street furniture. Selain itu, rancangan ini juga banyak memberikan familiaritas bagi masyarakat sekitar melalui penggunaan elemen yang identik dengan kultur sebagai penggambaran konsep multikultur. Kemudian konsep ini diaplikasikan pada penggunaan shelter, warna, street furniture dan vegetasi.
Desain Skyfarming: Area Produksi Pertanian Futuristik pada Lahan Produktif yang Terindustrialisasi Devi Novita Sari; Fenty Ratna Indarti
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 5 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i5.97953

Abstract

Sektor industri kini menjadi sektor andalan negara untuk mendongkrak kegiatan perekonomian yang berpengaruh besar terhadap tingkat kemakmuran rakyatnya. Industrialisasi merupakan fenomena yang umum terjadi dalam prosesnya, pembukaan lahan baru untuk pembangunan infrastruktur industri kini mulai marak dijalankan. Parahnya, konversi lahan mulai merambah pada alih fungsi lahan produktif, hal ini akan menimbulkan permasalahan baru yakni penurunan kuantitas hasil pangan yang rentan mempengaruhi ketahanan pangan. Selain itu dampak lain dari kehadiran industri di area pertanian adalah adanya polutan yang dilepaskan ke lingkungan sekitarnya sehingga berdampak buruk bagi kesehatan warga sekaligus menurunkan kualitas tanaman pangan. Dengan menggunakan scenario based design dan pendekatan dystopia, penulis merancang sebuah gagasan baru mengenai bentuk pertanian di masa mendatang menanggapi isu industrialisasi. Berbasis Shared Socioeconomic Pathway (SSP) dengan titik acuan waktu pada tahun 2100, rancangan menjadikan skenario tersebut menjadi threats yang harus dihadapi oleh pertanian dan berperan dalam proses developing concept. Rancangan skyfarming merujuk pada prinsip-prinsip fisika, kinerja benda sekitar seperti xylem dan floem, preseden-preseden baik terbangun maupun belum terbangun, sekaligus teknologi yang mungkin diwujudkan di masa mendatang. Rancangan ini menjadi salah satu contoh bagaimana arsitektur mampu melahirkan bentuk baru dari pertanian melalui respon skenario distopia di masa depan.
Analisis Skala Ruang Dalam Perencanaan Arsitektur Exhibition Plants Prisqilia Aurista Juwita; Angger Sukma Mahendra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 5 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i5.92748

Abstract

Kota Utopia adalah konsep kota ideal yang didambakan oleh banyak orang di perkotaan. Namun perencanaan sebuah Kota Utopia seringkali gagal, hal ini disebabkan oleh faktor-faktor yang tidak mendukung kehidupan yang layak dan bebas di perkotaan. Salah satu faktor kegagalan konsep Kota Utopia adalah karena tidak menerapkan human scale planning. Human scale planning sendiri merupakan sebuah konsep dalam arsitektur dalam mewujudkan bangunan yang ramah dan dapat diterima oleh manusia. Skala manusia adalah sebuah teori yang berkaitan dengan indera manusia secara visual dan jarak pandang manusia terhadap suatu obyek. Berkaitan dengan jarak pandang manusia, hal ini dapat diintegrasikan dalam bidang arsitektur dan dikaitkan dengan skala ruang. Skala manusia dapat menjadi tolak ukur rancangan arsitektur dalam menghadirkan sebuah ruang dan suasana. Dalam proses perancangana arsitktur pada ranah kota, harus dilakukan analisis dengan metode comparative study-case untuk melihat strength, weakness, opportunity, threat dari konteks yang diangkat. Dengan melihat SWOT dapat menentukan respon yang harus dilakukan. Dari analisis yang telah dilakukan pada konteks, respon yang harus dilakukan adalah melakukan perancangan arsitektur ranah kota dengan menggunakan konsep skala ruang dalam menciptakan perspektif ruang, dan membangkitkan suasana yang dapat dirasakan pengguna. Pendekatan dilakukan dengan cara menganalisis titik-titik tertentu pada kawasan Tunjungan dengan indikator skala manusia terhadap tipologi sebuah Pasar Tanaman Hias. Kriteria rancang dan konsep desain juga akan berjalan beriringan dengan tujuan yang sama yaitu penerpan skala manusia dalam desain arsitektural.
‘Slow Space Architecture' : Peran Pengalaman Spasial Fasilitas Transit Antarmoda pada Pengguna Muhammad Daffa Almadani; Kirami Bararatin
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 5 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i5.98746

Abstract

Pengguna transportasi umum di Jakarta mayoritas muncul dari kalangan pekerja kantoran, mahasiswa, dan pelajar yang membutuhkan akses dan mobilitas yang cepat untuk berpindah lokasi. Seringkali dalam menjalankan rutinitas sehari-hari, para pengguna ini merasakan dampak psikologis berupa kejenuhan. Hal ini tentunya menjadi concern untuk menghadirkan rancangan fasilitas transit yang tidak generik terutama pada penyediaan aspek spasial dalam rancangan yang perlu untuk menjadi fokus dalam mengatasi kejenuhan melalui penanaman pengalaman ruang sebagai media untuk me-refresh atau me-recharge penggunafasilitas transit. Dengan memanfaatkan beberapa hal yang menjadi aspek untuk diselesaikan dalam rancangan, maka kemudian aspek-aspek ini ditranslasikan menjadi force dengan menggunakan tahapan desain force-based framework, baik aspek yang berkaitan dengan ranah arsitektural maupun non arsitektural, serta menentukan pendekatan desain dan teori pendukung yang sesuai untuk mewujudkan media pengalaman spasial terhadap pengguna yang diinginkan. Kemudian dari tahapan desain, pendekatan, dan teori akan menghasilkan prinsip desain yang kuat dan diperjelas melalui program aktivitas dan ruang, serta kriteria dan konsep desain sebagai sarana untuk memvisualisasi intensi dalam rancangan arsitektural.
Penggunaan Metode Segmentasi dan Narasi dalam Redesain Gertak di Pesisir Sungai Kapuas Antonio Vicky Mukti; Vincentius Totok Noerwasito
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 5 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i5.97824

Abstract

Gertak adalah bentuk arsitektur yang lahir dari jati diri Kota Pontianak. Gertak kembali menghidupkan budaya masyarakat yang sudah mulai tergerus jaman. Namun faktanya Gertak yang sekarang tidak dapat mengakomodasi perubahan dan pertambahan pengguna serta aktivitas sosial ekonomi yang berlangsung. Sehingga diperlukan rancangan redesain yang kontekstual. Redesain yang dilakukan dalam rancangan ini mengacu pada metode segmentasi dan narasi. Adaptasi sebagai konsep dasar redesain didasari aspek- aspek kontekstual. Segmentasi yang dilakukan adalah dengan pemetaan zonasi aktivitas. Kemudian untuk narasi yang dilakukan adalah dengan penambahan layer dan skenario. Setiap layer dikelompokkan ke dalam 3 zonasi ruang yakni ruang Inti A, B dan Transisi. Agar identitas Gertak tidak hilang, karakteristik bentuk, sifat dan program yang lama tetap dipertahankan. Sirkulasi dan pergerakan pengunjung juga menyesuaikan pola dan aktivitas dibawahnya. Kemudian melalui metode segmentasi dan narasi diharapkan dapat mewujudkan bentuk arsitektur yang lebih kontekstual.
Isu Psikologi Sosial pada Konsep Ruang Publik Kontemplatif Rafif Syafa Yaristyan; Kirami Bararatin
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 5 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i5.101528

Abstract

Jakarta adalah kota yang sangat unik. Kondisi sosio-kultural yang terjadi di kota ini, penuh dengan peristiwa rumit dan bahkan bermasalah. Kumplulan permasalahan ini sangat mempengaruhi masyarakat kota. Mereka terjebak di kota tanpa solusi, tidak memiliki cara untuk melarikan diri. Masyarakat kekurangan waktu, energi, dan ruang untuk berhenti sejenak dan memahami hal-hal yang terjadi di sekitar mereka. Padahal itu semua perlu diaktualisasikan, direnungkan, dan direnungkan. Hal inilah yang disebut sebagai ‘Common Struggle of People of Jakarta’. Dalam ilmu psikologi social, kondisi demikian disebut ‘the Tragedy of the Common’, yang pertama dicetuskan oleh Garret Hardin. Perspektif ini membantu mentranslasikan respon formal arsitektural kepada permasalahan yang ada. Menggunakan pendekatan Concept-based Design, dengan dasar Teori Arsitektur Contextualism dan Teori Process of Discovery terkait kontemplasi. Sehingga menghasilkan rancangan yang dapat merespon isu yang ada, dengan menjadi ruang publik yang berperan sebagai suaka dari kondisi kota. Memungkinkan aktivitas dan eksplorasi mencapai Process of Discovery yang menghasilkan kontemplasi bagi pengguna. Rancangan mengimplementasikan kontemplasi, antusiasme, dan kebebasan ekspresi kolektif masyarakat ke dalam bentuk arsitektural berbentuk ruang publik terbuka.
Analogi Morfologi Bambu Pada Perancangan Menara Apartemen Muhammad Iffrin Delifiano; I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 5 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i5.101614

Abstract

Dengan semakin bertambahnya populasi manusia, maka kebutuhan akan tempat tinggal akan semakin meningkat juga, karena tempat tinggal merupakan salah satu aspek penting pada manusia. Masalah ini juga akan berdampak dengan ketersediaan lahan untuk alam. Untuk menyelesaikan permasalahan ini rancangan ini akan melihat alam sebagai solusinya. Manusia seringkali mencari solusi dalam sebuah masalah namun seringkali lupa bahwa jawaban dari masalah-masalah tersebut secara tidak langsung terdapat pada bentuk, tekstur, atau proses alami yang selalu terjadi pada alam. Hal ini dapat dimanfaatkan pada bidang ilmu arsitektur sebagai dasar dalam merespon isu yang diangkat pada sebuah rancangan. Dalam istilah arsitektur, desain biomorfik berkaitan dengan bentuk dan pola yang terinspirasi oleh alam. Morfologi pada unsur alam dapat menjadi salah satu aspek yang dapat ditiru pada rancangan bangunan. Perancangan hunian tower apartemen ini akan didasari oleh analogi dari morfologi tanamana bambu yang berumpun sehingga hunian tower ini memiliki 8 unit tower yang terpisah namun tetap terhubung oleh jembatan penghubung. Masing-masinig tower berbentuk miring mengikuti kemiringan bambu dan memiliki struktur core yang dapat dimanfaatkan sebagai saluran distribusi utilitas yang terinspirasi dari rongga bambu dan proses alaminya.
Rancangan Museum Bawah Tanah Sebagai Pengalaman Fantasi Manusia Fachrizal Sabilineo Fanaya; Angger Sukma Mahendra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 5 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i5.100154

Abstract

Manusia pastinya memiliki daya imajinasi atau fantasi yang dimiliki sejak kecil. Manusia melakukan hal ini setiap saat membayangkan sesuatu dan memikirkan sesuatu yang abstrak dan tidak menentu sesuai kondisinya saat itu. Ada faktor diluar pikiran manusia yang menstimulasi akan hadirnya suatu memori fantasi yang sedang dipikirkan sesorang, namun tidak semua usia bisa menangkap fantasi mereka secara cepat dan tepat. Disinilah keterkaitan antara arsitektur dan fantasi manusia hadir untuk membangun sebuah karakter dari sebuah ruang dan mengajak para pengguna untuk dapat merasakan dan membayangkan lebih dalam dengan bantuan ruang arsitektural. Ruang arsitektural hadir menjadi sebuah gagasan untuk menstimulasi daya fantasi manusia dengan atmosfer tertentu pada ruang dan sensori pada indera manusia. Muncul lah ide gagasan museum bawah tanah sebagai objek rancangan. Gagasan museum bawah tanah dinilai tepat untuk menanggapi isu, konteks, dan kriteria. Peran arsitektur akan hadir lebih dalam untuk dirasakan dan membantu manusia dalam mengati hal yang ada didalamnya, dengan prinsip dasar museum yang dapat menjadi ruang kolaborasi antara arsitektur dan fantasi manusia. Dengan gagasan museum bawah tanah maka semakin memperkuat peran arsitektur untuk menstimulasi daya fantasi dan imajinasi manusia untuk menikmati atau mendalami apa yang ada di dalamnya.
Intervensi Konsep Transparansi sebagai Stimulan Ruang Interaksi Sosial Remaja Khansa Amalia Tsabita; Iwan Adi Indrawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 5 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i5.99162

Abstract

Transparansi dalam ranah Arsitektur biasa dipahami dengan permukaan tembus pandang yang dapat membatasi dua ruang dengan keadaan berbeda. Penelitian ini menekankan pada eksplorasi transparansi pada ruang interaksi sosial remaja yang mewadahi kegiatan dengan aktivitas yang beragam. Menggunakan pendekatan arsitektur dan perilaku serta metode person-centered mapping, penelitian merupakan bagian dari rancangan ruang publik sebagai respon dari karakteristik atau pola perilaku manusia yang difokuskan pada remaja. Memetakan pergerakan dan perilaku manusia, manusia menjadi aspek penting yang memengaruhi keseluruhan rancangan. Sehingga dengan intervensi konsep transparansi, rancangan diharapkan dapat menjadi wadah berupa ruang interaksi sosial remaja yang berkualitas.
Pendekatan Resiliensi Terhadap Bencana dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Atas Air Balikpapan Fadhlurrahman Nur Ramadhani; Sarah Cahyadini
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 5 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i5.99570

Abstract

Fenomena bencana yang terjadi di sekitar kita tidak akan pernah lepas dari kehidupan manusia. Pertumbuhan penduduk yang tak terkendali juga menjadi salah satu penyebab munculnya bencana seperti banjir, longsor, dan kebakaran. Kawasan Kampung Atas Air Margasari merupakan sebuah kampung di pesisir barat kota Balikpapan, berseberangan langsung dengan kilang minyak Pertamina. Letaknya yang berada di kawasan perairan, tidak menghindarkan kampung ini dari potensi terjadinya bahaya kebakaran. Bahkan tercatat pernah terjadi kebakaran besar di kawasan ini yang menghanguskan sebagian besar rumah. Oleh karena itu perlu dikaji bagaimana memanfaatkan potensi kawasan perairan untuk bisa menanggulangi terjadinya potensi bahaya kebakaran melalui pendekatan resiliensi terhadap bencana. Penerapan metode urban acupunture juga akan membantu untuk menyelesaikan permasalahan dengan melihat dimana potensi terbaik dari kampung ini yang bisa dikembangkan sehingga dampak yang akan diberikan dapat dirasakan oleh skala yang lebih luas lagi. Dari metode tadi akan dihasilkan sebuah titik yang nantinya akan diolah dari segi optimalisasi bentuk dan fungsi ruang pada kampung ini. Sehingga dari hal tesebut menghasilkan sebuah rancangan yang mengolah ruang luar agar nantinya dapat meningkatkan resiliensi di kawasan ini tanpa menghilangkan kekhasannya sebagai kawasan kampung di atas air.

Page 1 of 3 | Total Record : 28