Articles
279 Documents
Search results for
, issue
"Vol 5, No 2 (2016)"
:
279 Documents
clear
Pembinaan Pemain Muda Melalui Akademi Sepak Bola
Rengga Ryandah Zudha P;
Tjahja Tribinuka
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (549.449 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.15450
Permainan sepak bola digemari oleh hampir seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Indonesia berupaya menjaga eksistensinya di dunia sepak bola. Segala macam kompetisi pun diikuti agar persepak bolaan Indonesia bisa diakui di kancah internasional. Namun minimnya kualitas sumber daya manusia menghambat tim nasional (Timnas) Indonesia untuk banyak menghasilkan prestasi di kancah internasional. Dari fakta-fakta tersebut sebuah akademisepak bola menjadi alternaltif dalam mencetak pemain-pemain yang memiliki bakat serta memiliki prilaku yang baik . Ide yang konsep yang di tawarkan yaitu sebuah akademi pemain sepak bola muda dengan konsep rancangan yang bisa merangsang motivasi, jiwa kompetisi serta kebersamaan. Akademi ini diharapkan mampu berkontribusi terhadap persepak bolaan nasional dan menjadi harapan kita semua
Penentuan Nilai Insentif dan Disinsentif Pada Pajak Bumi dan Bangunan Sebagai Instrumen Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian di Sidoarjo
Ichsanul Karim;
Putu Gde Ariastita
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (623.435 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.21068
Alih fungsi lahan pertanian di Kabupaten Sidoarjo dari tahun 2009-2015, yang semula 23,539 Ha, menjadi 19,544 Ha, artinya pada rentan waktu 5 tahun lahan di Kabupaten Sidoarjo telah mengalami penyusutan sekitar 4,995 Ha. Pajak Bumi dan Bangunan dapat berpotensi menekan laju alih fungsi lahan pertanian karena berpeluang mempengaruhi petani untuk mempertahankan lahannya dan berpotensi menghambat pihak lain untuk mengalih fungsikan lahan pertanian melalui skema insentif dan disinsentif. Namun di Sidoarjo belum ada insentif dan disinsentif Pajak Bumi dan Bangunan. Oleh karena itu tujuan penelitian adalah menentukan nilai insentif dan disinsentif pada Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan yang dapat menjadi instrumen untuk mengendalikan alih fungsi lahan pertanian di Kabupaten Sidoarjo. Sasaran yang disusun dalam penelitian ini adalah menentukan tipologi LP2B di Kabupaten Sidoarjo dengan teknik overlay menggunakan software ArcGIS. Berdasarkan hasil tipologi tersebut maka akan dirumuskan nilai insentif dan disinsentif dari Pajak Bumi dan Bangunan untuk dapat mempertahankan lahan pertanian berdasarkan tipologi di Kabupaten Sidoarjo menggunakan teknik analisa Probit Logit. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan analisis probit , nilai insentif yang dapat mempertahankan lahan pertanian pada tipologi 1 adalah dengan nilai pajak sebesar 0% dengan presentase 93% pemilik lahan akan mempertahankan lahannya sedangkan disinsentifnya dengan nilai pajak sebesar 10%. Nilai insentif untuk tipologi 2 yaitu dengan nilai pajak sebesar 0% dengan presentase 90% pemilik lahan mempertahankan lahannya sedangkan disinsentifnya dengan kenaikan pajak menjadi 8,75%. Nilai insentif untuk tipologi 3 yaitu sebesar 0% dengan presentase pemilik lahan mempertahankan lahannya sebesar 90.70% dan untuk disinsentifnya dengan kenaikan pajak menjadi 10%. Nilai insentif untuk tipologi 4 yaitu sebesar 0% dengan prosentase pemilik lahan mempertahankan lahannya adalah 90% dan disinsentif nya sebesar 10% sehingga dapat mempertahankan lahan pertanian di Kabupaten Sidoarjo.
Ruang Rehumanisasi: Proses Pembauran Manusia Melalui Perjalanan Ruang
Gracia Etna Criestensia;
Hari Purnomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (336.86 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.17399
Dalam hidup ini setiap manusia memiliki kodrat yang sama, baik kaya miskin, tua muda, sehat sakit, terpelajar atau tidak, dan lain sebagainya. Manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam lingkungan sosialnya dan secara naluriah setiap manusia memiliki keinginan untuk turut ambil bagian dalam lingkungan tersebut. Tetapi seiring berjalannya waktu manusia mulai terpisah-pisah, mereka mulai menciptakan gap-gap yang tidak kasat mata yang sebenarnya itu hanya hasil pemikiran mereka tanpa tahu fakta atau kebenarannya dan parahnya terkadang pemikiran yang salah tersebut dibawa secara turun temurun dan berubah menjadi stigma. Banyak kelompok-kelompok masyarakat atau komunitas yang akhirnya dirugikan karena mendapat stigma negatif dari masyarakat sekitarnya, secara tidak sadar hak mereka tidak diperhatikan dan kewajiban mereka diabaikan. Banyak dari kelompok masyarakat ini yang mulai terisolir dan tidak diterima oleh orang-orang disekitarnya, salah satunya adalah mantan penderita kusta. Tempat atau penampungan yang disediakan bagi mereka malah sebagian besar membuat mereka semakin terisolir dan menguatkan stigma negatif tersebut, sehingga tidak hanya orangnya saja tetapi tempat hidup mereka juga mendapat dampak dari stigma negatif tersebut. Padahal untuk menghapus stigma ini diperlukan adanya pengenalan yang benar, dan pengenalan didapat dari bergaul serta menjalani aktifitas bersama. Pemilihan tema ruang rehumanisasi diambil dari arti rehumanisasi itu sendiri, yaitu proses memanusiakan manusia kembali, karena sebenarnya yang dibutuhkan oleh orang-orang terpinggirkan, dalam kasus ini mantan penderita kusta bukan hanya penyembuhan secara fisik tetapi yang lebih utama adalah penyembuhan secara mental guna membangkitkan kepercayaan diri mereka kembali untuk berbaur dalam masyarakat luas.
Penerapan Konsep Ambiguitas dalam Merekayasa Persepsi Manusia melalui Arsitektur
Dyah Arieni Larasati;
Defry Agatha Ardianta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (260.718 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.17430
Persepsi merupakan cara manusia melihat suatu hal yang dipengaruhi oleh konteks dan situasi sosial sehingga masing-masing orang dapat melihat suatu hal yang sama dengan cara yang berbeda dimana persepsi akan muncul sesuai pengalaman sensoris tiap individunya melalui penstimulasian panca inderanya. Persepsi menjadi penting karena membantu individunya untuk mengerti dan memahami apa yang dilakukannya sehingga menjadi bermakna. Dengan penerapan konsep ambiguitas pada arsitektur seperti pengolahan ruang dimana fungsi maupun sirkulasinya dibuat memiliki tidak hanya satu fungsi, penghadiran warna dan cahaya membuat suasana ruang menjadi ambigu karena pengguna tidak mengetahui kondisi sebenarnya akan tetapi di sisi lain dapat membuat pengguna menyadari kondisi sebenarnya secara tidak langsung dimana penerapannya disesuaikan dengan aktifitas yang diwadahi, serta pemilihan material yang mendukung pengaplikasian konsep ambiguitas pada pengolahan elemen lainnya sehingga elemen arsitektural tersebut tidak hanya dilihat memiliki satu fungsi/arti saja dan dapat mempengaruhi mood dari manusianya dimana juga akan berpengaruh dalam merekayasa persepsi manusianya.
Pusat Edukasi Pengolahan Sampah Surabaya
Amas Brilian;
Purwanita Setijanti
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (511.502 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.17461
Arsitektur selalu berkaitan erat dengan permukiman dan lingkungan, salah satunya adalah masalah sampah. Dengan adanya sampah ini maka permasalahan yang timbul di kawasan permukiman pasti bermacam-macam, diantaranya timbul suasanya tidak nyaman di sekitar kawasan permukiman. Namun selama ini permasalah yang ada belum terentasakan secara strategis sehingga dampak-dampak negatif selalu timbul bersama lingkungan dan masyarakat.Untuk solusi yang ditawarkan dalam menghadapi kasus ini adalah sebuah rancangan untuk mewadahi terkait dengan pengelolaan sampah dalam beraktifitas. Wadah untuk masyarakat dalam mempelajari nilai penting dari sampah baik secara negatif maupun positif. Bahkan, masyarakat tidak hanya menyaksikan namun juga berkontribusi mendaur ulang sampah-sampah buangan kawasan permukiman. Rancangan harus merespon isu serta bisa memberikan kontribusi dalam lingkup masyarakat permukiman
Perancangan Apartemen dengan Konteks Open Building di Area Urban Sprawl
Wenda Pristi Listyandini;
Ima Defiana
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1039.017 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.17570
Sebagian orang beranggapan bahwa hidup di kota akan menjadikan mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik, hal tersebut yang mendorong peningkatan jumlah penduduk di kota semakin tinggi hingga berdampak pada kawasan pinggiran kota disekitarnya, fenomena ini disebut dengan istilah urban sprawl. Salah satu dampak nyata dari fenomena tersebut adalah kelangkaan kawasan rumah tinggal hingga dalam jangka waktu yang panjang akan mengakibatkan munculnya kawasan hunian ilegal. Sehingga salah satu penyelesaian yang dapat dilakukan adalah pengadaan kawasan hunian masal vertikal yang produktif seperti apartemen. Dalam kasus ini kalangan yang disasar adalah kalangan menengah yang produktif, sehingga memiliki kebiasaan yang berbeda dan dapat dilihat dari kehidupan sosial yang baik termasuk dalam memperlakukan rumah tinggalnya. Dalam sistem open building, terdapat suatu proses keterlibatan penghuni dalam proses berarsitektur. Maka dirasa akan sesuai untuk diterapkan pada apartemen dengan memerhatikan aspek behaviour setting penghuni termasuk penghadiran wujud bangunan yang menjadikan apartemen ini berbeda dengan apartemen lainnya. Bangunan akan bersifat akrab, adaptif, dan berkembang mengikuti kebutuhan penghuni dengan menerima keterbukaan dalam perubahan dan perkembangan tersebut.
Society Housing - Hunian Berlatar Sosial
Herlina Eka Wulandari;
Moch. Salatoen Pudjiono
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (742.517 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.17574
Manusia sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi untuk dapat melanjutkan hidupnya dan salah satunya adalah kebutuhan akan rasa aman yang akan terganggu apabila terdapat ancaman yang membuatnya tidak nyaman. Selain itu, manusia juga perlu berinteraksi dengan manusia lainnya pada suatu lingkungan tertentu misalnya pada ruang bertinggalnya yang pada proses interaksi tersebut sering terjadi permasalahan-permasalahan yang mengganggu ketentraman hidup sehingga menimbulkan rasa takut pada diri manusia tersebut. Untuk dapat hidup dengan nyaman maka manusia perlu mengatasi ancaman-ancaman yang memicu rasa takut itu. Cara yang dilakukan manusia untuk mengatasi rasa takutnya secara spasial adalah dengan memberi jarak pada sumber ancaman dan mengadakan batas agar tidak terjadi interaksi antara dirinya dan sumber tersebut. Penulisan ini akan membahas tentang keberadaan “gated community” di Surabaya dengan tujuan memberikan gambaran bagaimana reaksi terhadap ketakutan yang dirasakan masyarakat kota dimanifestasikan ke dalam ruang sehingga perasaan takut tersebut dapat teratasi. Pengamatan dan analisa penulis terhadap komunitas-komunitas tersebut dititikberatkan pada pengelolaan ruang dan karakter dari elemen yang pembentuk ruang tersebut.
Bandung eSport Arena Membangun Ekosistem eSport di Indonesia
Muhammad Abdillah Wiguna;
Wawan Ardiyan Suryawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (729.969 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.17625
Diluar negeri game bukanlah lagi sebuah wahana untuk menghabiskan waktu luang melainkan menjadi sebuah profesi dengan pendapatan yang cukup meyakinkan. Profesi tersebut dengan adalah menjadi atlit professional dalam kasus ini yang ahli dalam bermain video game atau yang sudah banyak dikenal orang dengan sebutan eAthlete. Jika sudah diberi judul atlit maka hal yang mereka lakukan dikategorikan dalam sebuah olahraga yang mana diberi nama eSport. Di Indonesia sendiri e-sport sudah cukup berkembang, terbukti dengan adanya beberapa turnamen berskala nasional yang dilaksanakan di berbagai tempat dan diakuinya Indonesia eSport Association (IeSPA) sebagai organisasi e-sport Indonesia oleh Kemenpora turut menjadi titik terang perkembangan olahraga ini di negeri kita. Meskipun event e-sport terlihat tidak sulit untuk dilakukan karena hanya dibutuhkan seperangkat komputer dengan spesifikasi yang mumpuni namun sebenarnya untuk melaksanakannya membutuhkan tempat dengan susunan ruang-ruang tertentu. Agar atlit yang akan bertanding bisa berkonsentrasi dalam permainannya. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah tempat yang memang di desain khusus untuk melaksanakan sebuah event eSport. Objek rancangan ini selain bertujuan untuk menyokong kebutuhan lokasi untuk e-Sport juga dapat menjadi tempat untuk diadakannya event berskala internasional. Karena jika kita melihat arena e-Sport di negara lain selalu penuh didatangi oleh penonton dari negara mereka sendiri juga dari negara lain. Melalui objek rancangan ini, saya mencoba menggambarkan bahwa bermain game itu walaupun tetap kompetitif secara pertarungan, namun tetap bisa membuat orang yang melihat atau memainkannya merasa senang, karena tujuan dari dibuatnya game itu sendiri adalah agar pengguna nya bisa merasakan kebahagiaan.
Konsep Ruang Publik Warga sebagai Fasilitas Taman Geologi Lumpur Sidoarjo
Ray Dhanitra Ahmad;
Angger Sukma Mahendra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (768.575 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.17641
Rencana pemerintah untuk mengubah kawasan bencana Lumpur Sidoarjo menjadi sebuah taman geologi memerlukan beberapa pemenuhan syarat yang diajukan oleh organisasi dunia. Beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah taman geologi adalah mengakomodir kegiatan edukasi, pelestarian budaya lokal, mendukung ekonomi sekitar, dan membangun sarana rekreasi. Taman geologi juga diwajibkan untuk memperbaiki lingkungan baik lingkungan hidup maupun lingkungan warga. Untuk lingkungan warga di sekitar kawasan kondisinya tidak seramai sebelum munculnya bencana, ini dikarenakan sebagain besar pemukiman dan pusat keramaian sudah tenggelam oleh lumpur. Hal ini bisa menjadi pertimbangan untuk menciptakan sebuah ruang yang bertujuan untuk mengembalikan aktivitas masyarakat. Selain itu ruang publik juga menjadi salah satu komponen penting dari fasilitas terbangun yang dimiliki oleh taman geologi. Perancang menerapkan konsep pembentukan lansekap yang dikembangkan oleh Tadao Ando mengenai hubungan pengguna dengan alam sekitar. Dengan konsep tersebut diharapkan suasana dari taman geologi dirasakan oleh pengunjung selagi melakukan kegiatan tertentu pada ruang publik.
Ekowisata Mangrove Dusun Pucukan
Dhita Dwidinita;
Endrotomo Endrotomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (329.025 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.17645
Pada era globalisasi, masih saja terdapat desa / daerah tertinggal di Indonesia. Daerah tertinggal itu sendiri sebagian besar berada pada wilayah-wilayah terluar Indonesia. Salah satu penyebab yaitu jauhnya daerah dari pusat kota dan sulitnya akses menuju lokasi. Dusun Pucukan Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur termasuk ke dalam kategori daerah tertinggal disebabkan oleh kehidupan warganya kurang layak. Keadaan dusun ini membutuhkan suatu perubahan agar kualitas hidup dan lingkungan warga menjadi lebih baik. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, dusun Pucukan memiliki potensi mangrove yang belum tereksplorasi. Oleh karena itu, muncullah ide perancangan kawasan ekowisata mangrove di dusun Pucukan. Sebuah kawasan ekowisata diharapkan akan membantu meningkatkan kualitas ekonomi penduduk setempat, sehingga dusun Pucukan menjadi dusun yang mandiri. Kawasan ekowisata mangrove terdiri dari fasilitas riset dan pendidikan; wisata; dan industri yang berbasis masyarakat. Rancangan menggunakan pendekatan, green building, ecotourism society dan architecture promenade. Pendekatan green building dan ecotourism society dipilih agar desain yang tercipta tidak merusak alam dan kondisi lingkungan disekitar lokasi serta memberikan dampak positif pada penduduk setempat, sedangkan architecture promenade dipilih untuk menciptakan sekuen yang diinginkan pada rancangan.