Articles
100 Documents
Search results for
, issue
"Vol 9, No 2 (2020)"
:
100 Documents
clear
Pilihan Warna, Bentuk, dan Pengaruh Skala Antropometri pada Perancangan Taman Kanak-Kanak
Aisyah Arimurti Afandi;
Arina Hayati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.56555
Prasarana pendukung aktivitas kegiatan belajar anak usia dini yang kurang layak merupakan salah satu permasalahan yang berkaitan dengan aspek teknis edukatif pada fasilitas pendidikan. Dengan menggunakan pendekatan arsitektur perilaku yang mempelajari karakteristik, baik secara fisik maupun psikologis, sebagai dasar perancangan, diusulkan sebuah wadah arsitektural berupa Taman Kanak-Kanak sebagai wadah aktivitas yang mampu beradaptasi dan membantu mengoptimalkan proses perkembangan anak usia dini. Proses perancangan menerapkan force based framework yang menempatkan pengguna dan aktivitas sebagai force utama untuk menjadi dasar penentuan konsep arsitektural dalam proses perancangan Taman Kanak-Kanak. Proses perancangan sangat erat kaitannya dengan skala, bentuk, dan pemilhan warna yang dirancang sesuai dengan sudut pandang dan kebutuhan anak usia dini. Dalam penerapannya ke dalam desain, untuk menentukan skala ruang didasarkan pada proporsi fisik anak-anak, penentuan bentuk bangunan yang didasarkan pada konteks, dan teori warna digunakan menjadi acuan dalam pemilihan warna pada elemen pembentuk ruang agar sesuai dengan fungsi masing-masing ruang.
Perancangan Integrasi Pasar dan Interchange Sebagai Kontrol Kawasan Manggarai
Adam Bimoaji Ega Rahadianto;
Arina Hayati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.56558
Manggarai merupakan sebuah kawasan vital di daerah Jakarta Selatan yang penuh dengan aktivitas. Di lain sisi, kawasan ini tetap diselimuti dengan kompleksitas permasalahan yang terjadi di dalamnya. Disintegrasi struktur urban pada sarana tranportasi mengakibatkan kawasan ini tidak maksimal dalam menggerakkan aktivitas kota. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya kekacauan dan ketidakteraturan pada wilayah tersebut. Terdapat friksi sosial yang terjadi antar masyarakat Manggarai dengan adanya fenomena tawuran yang bisa terjadi kapan saja. Hal ini menimbulkan keresahan dan juga kerugian bagi masyarakat yang terdampak. Manggarai juga kini kehilangan sebuah wadah berkumpul bagi warganya, yaitu Pasaraya yang sekarang seakan “mati”. Permasalahan tersebut masih terasa di Manggarai hingga saat ini. Permasalahan di atas direspon dengan mengajukan sebuah rancangan arsitektural dengan Concept Based Framework untuk langsung menentukan solusi dan fungsi dalam rancangan. Untuk mengontrol kondisi yang ada, pendekatan behavior setting diimplentasikan dalam rancangan. Metode transprogramming dan superimpose digunakan untuk menyusun program dalam elemen rancang. Serta, kontekstualisme menjadi metode untuk mengeluarkan ekspresi elemen kawasan Manggarai ke dalam rancangan. Dengan harapan berfungsi sebagai katalis, perancangan difokuskan untuk meningkatkan integrasi, konektivitas, dan permeabilitas kawasan Manggarai yang akan menciptakan vitalisasi kawasan itu sendiri. Pengintegrasian dari berbagai sisi, baik secara sosial, ruang, dan konteks urban dalam penciptaan wadah komunal, akan berperan dalam menciptakan interaksi antar elemen dan juga kontrol pada kawasan Manggarai. Yang pada akhirnya, akan tercipta kondisi yang teratur diantara ketidakteraturan Manggarai.
Konsep Ruang Hijau pada Permukiman Vertikal Surabaya dengan Pendekatan Terhadap Kesehatan Mental Penghuni
Alfin Ragil Budi Perkasa;
Bambang Soemardiono
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.57264
Pertumbuhan pada kota merupakan faktor besar yang mempengaruhi keterbatasan lahan dalam sebuah kota. Salah satu area yang mengalami pertumbuhan penduduk adalah Surabaya Barat. Surabaya Barat merupakan kawasan Central Business District yang ada di kota Surabaya. Kawasan Surabaya Barat mengalami peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya. Melihat kondisi tersebut, dengan keadaan lahan yang terbatas, membuat kemungkinan perancangan bangunan akan dirancang secara vertikal. Dengan kondisi vertikal, tentunya akan ada perubahan lingkungan yang terjadi bagi para penghuninya. Sebuah keadaan dimana mengalami pola aktivitas yang akan dilakukan dalam sebuah bangunan vertikal. Rancangan akan mengolah sebuah bangunan vertikal yang mampu memaksimalkan kualitas hidup penghuninya dalam mengatasi masalah-masalah kesehatan mental yang ada. yang digunakan dalam meningkatkan kualitas kesehatan mental penghuninya adalah sebuah konsep ruang hijau.
Pusat Rehabilitasi Korban Kekerasan Seksual dengan Konsep Healing Environment
Eva Mei Wulandari;
Rabbani Kharismawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.57200
Kekerasan seksual merupakan salah satu fenomena yang marak terdengar di telinga masyarakat Indonesia. Tindakan kekerasan seksual kebanyakan terjadi kepada perempuan, kejadian kekerasan seksual kepada perempuan mengakibatkan gangguan pada kondisi psikologisnya atau yang sering disebut dengan Post Traumatic Stress Disorder atau PTSD. Hal tersebut harus mendapatkan penanganan secara khusus, salah satunya yaitu dengan rehabilitasi khusus untuk korban kekerasan seksual. Agar penanganan dilakukan secara maksimal maka dibutuhkannya lokasi khusus untuk tempat rehabilitasinya agar mempercepat proses penyembuhan, yaitu respon dari lingkungannya. Healing environment menjadi salah satu konsep respon lingkungan dalam perancangan pusat rehabilitasi korban kekerasan seksual. Dalam proses penyembuhan korban kekerasan seksual, perancang berusaha menghadirkan pengalaman antar ruang interior dan eksterior dengan metode Evidence Based Design sebagai salah satu proses mendesain yang dapat mendukung konsep healing environment, yang berfokus pada penghadiran ruang-ruang yang terhubung visual akses dengan lingkungan alam. Dengan penghadiran hal tersebut akan timbul sebuah interaksi, pola perilaku atau aktivitas pengguna yang dapat menunjang proses penyembuhan korban, agar korban dapat bersersosialisi kembali dengan masyarakat sekitar dan sembuh dari yang dialaminya.
Pengaruh Levelling Terhadap Edukasi Public Manner Melalui Seni dan Budaya Remaja Kota Surabaya
Altheannisa Agatha Soraya;
Irvansyah Irvansyah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.56987
Remaja merupakan salah satu tahapan manusia yang merupakan masa produktif dalam perkembangan manusia dimana seseorang akan lebih sering melakukan berbagai kegiatan sekaligus mencari jati dirinya dengan melakukan interaksi pada lingkungan sekitarnya. Hal ini menjadikan public manner secara tidak langsung sebagai suatu prasyarat yang diperlukan bagi manusia sebagai makhluk sosial untuk berinteraksi dan bersosialisasi sehingga dapat diterima oleh lingkungannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu dengan memahami force apa saja yang mampu mempengaruhi remaja untuk bersikap sopan dan santun. Namun pada masa ini remaja mulai lalai untuk menerapkan public manner yang baik dan benar. Akibatnya remaja cenderung memilih untuk berkumpul dengan lingkungan sosial yang dinilai memiliki kesamaan pendapat dan prinsip dengan mereka sehingga mereka memilih untuk berada di batas nyaman. Pendekatan environmental possibilism selanjutnya digunakan untuk menimbulkan berbagai peluang dalam sebuah kejadian melalui arsitektur perilaku.
Aplikasi Participatory Design pada Rancangan Permukiman Sepanjang Rel Stasiun Sidotopo
Ahmad Dzkri Hamdan;
Happy Ratna Sumartinah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.57161
Kota yang baik merupakan kota yang bisa mewadahi seluruh aktivitas masyarakatnya. Segala fasilitas penunjang bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat dan kesejahteraan masyarakat kota terus meningkat. Meski demikian, kondisi kota yang menjanjikan membuat banyak masyarakat desa memilih pindah dari tempat tinggalnya di desa ke kota-kota besar, salah satunya Surabaya. Arus perpindahan masyarakat desa ke kota inilah yang dikenal sebagai arus urbanisasi. Sejalan dengan semakin banyaknya penduduk dan semakin mengecilnya lahan untuk dibangun hunian, banyak dari masyarakat urban yang berpenghasilan rendah terpaksa menempati ruang-ruang ilegal mulai dari sepanjang tepian sungai, lahan-lahan milik pemerintah, hingga sepanjang tepi rel kereta api yang membahayakan penghuni. Kondisi permukiman ilegal (squatter) di sepanjang rel kereta salah satunya ialah permukiman sepanjang rel kereta stasiun Sidotopo. Kebanyakan permukiman penduduk menempati lahan yang dimiliki oleh PT. Kereta Api Indonesia. Pada kenyataannya, permukiman yang mayoritas dihuni oleh migran etnis Madura ini tidak sesuai dengan peraturan RTRW Kota Surabaya 2010-2030 dan RDTRK UP Tanjung Perak 2008-2018 tentang infrastruktur. Tujuan dari perancangan yang dibuat adalah untuk bisa merancang kembali permukiman yang berada di sekitar rel kereta api stasiun Sidotopo agar tidak menyalahi aturan dan keamanan bagi penduduk sekitar. Permukiman yang dirancang kembali merupakan permukiman yang terjangkau oleh penduduk sekitar stasiun Sidotopo yang kebanyakan dihuni oleh masyarakat berekonomi menengah ke bawah. Dengan menggunakan pendekatan Participatory Design, permukiman yang dibangun kembali diharapkan bisa mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang bermukim di sepanjang jalur kereta.
Panti Asuhan Untuk Anak Terlantar Dengan Pendekatan Therapeutic Architecture
Reina Hacika Irene Lantaka;
Ima Defiana
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.57167
Berdasarkan data direktur Rehabilitasi sosial anak pada kementrian sosial, hingga Agustus 2017 anak terlantar di Indonesia mencapai angka 16.290 anak. Anak anak tersebut memiliki berbagai latar berbagai \ penelantaran seperti diusir dari rumah,kematian orang tua, ditinggalkan orang tua, orang tua bercerai, bencana alam dan kondisi sosial ekonomi. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan terjadinya masalah kesehatan pada mental anak yang menjadi korban penelantaran tersebut. Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang di sediakan pemerintah maupun swasta sebagai wadah untuk mengasuh anak anak yang kurang beruntung tersebut pun kurang menyadari masalah mental yang terjadi. Berdasarkan fenomena yang terjadi di atas diperlukannya suatu wadah arsitektural sebagai respon dari permasalahan yang ada, berupa Panti Asuhan dengan pendekatan therapeutic architecture dengan menggunaan metode perancangan evidence based design yang dapat menstimulasi pengguna lewat sense yang ada hingga berdampak pada psikologi hingga perilaku pengguna. Konsep utama dalam perancangan ini adalah bagaimana menstimulasi user dengan kesadaran positif dalam diri mereka, memperanyak interaksi antar user namun tetap dapat mejaga privasinya, serta meningkatkan interaksi user dengan lingkungan terbangun disekitarnya. Konsep ini diterapkan dalam elemen arstektur seperti massa bangunan, bentuk, ruang dalam, ruang luar dan material di dalam rancangan.
Perancangan Mixed-Use Building dalam Kawasan Central Business District
Aisyah Dwika Adinda Purnomo;
Dewi Septanti
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.57100
Fenomena gaya hidup masyarakat kota yang konsumtif bukan merupakan hal yang baru. Fenomena tersebut muncul bersamaan dengan gaya hidup seseorang yang selalu ingin terlihat lebih diantara yang lainnya dan fenomena tersebut muncul akibat pengaruh lingkungan tempat tinggal. Gaya hidup masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan sangat berbeda dengan gaya hidup masyarakat desa. Gaya hidup masyarakat kota lebih kompleks karena menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya dan menyesuaikan dengan taraf hidup. Konsep Behavior Setting merupakan konsep yang tepat untuk memfasilitasi gaya hidup masyarakat kota dan mengatasi kebutuhan untuk memiliki tempat tinggal. Mixed use building dirancang untuk dapat memfasilitasi masyarakat umum dan dapat memfasilitasi pemilik hunian. Rancangan akan mengolah sebuah bangunan vertikal yang mampu memaksimalkan kualitas hidup penghuninya dalam mengatasi gaya hidup yang sedang terjadi. Hal utama yang diperhatikan yaitu penyediaan fasilitas dan ruang terbuka sebagai wadah untuk berkumpul.
Permeability Design pada Arsitektur Pasar Joko Sambang
Safirah Azzahrah;
Asri Dinapradipta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.57031
Relokasi merupakan salah satu strategi pemerintah dalam melakukan pengelolaan dan penataan kembali terhadap Pedagang Kaki Lima (PKL). Namun dibalik proses relokasi tersebut, menimbulkan permasalahan terhadap perkembangan perekonomian kerakyatan di Mojokerto. Mulai dari kurangnya akses pasar terhadap produk yang ditawarkan, kurangnya interaksi yang dihadirkan dalam pasar tersebut, terbatasnya visibilitas pengunjung dari luar menuju ke pasar. Ketiga hal tersebut (akses, interaksi dan visibilitas) merupakan aspek penting dalam sebuah pasar. Dalam hal ini diperlukan fasilitas pasar yang dapat menjadi wadah dan sarana pedagang bagi pelaku ekonomi mikro sekaligus fungsi wisata sehingga dapat manarik minat pengunjung sekaligus meningkatkan kehidupan sosial di dalam pasar. Pendekatan permeabilitas digunakan dalam desain pasar ini, dengan tujuan untuk mengetahui rentang dimana seseorang dapat merasakan atau bergerak sesuai dengan sifat lingkungan dimana mereka berada. Adapun konsep desain ini adalah dengan mengembangkan elemen permeabilitas secara ruang, penggunaan material, dan bentuk yang saling terintegrasi untuk meningkatkan jumlah pengunjung sehingga menjadi alat konektivitas untuk meningkatkan kualitas hidup pengguna bangunan dengan mengembalikan kembali suasana perekonomian karakyatan yang harmonis.
Desain Penjara Koruptor dengan Penerapan Hukuman Sosiologis
Anom Satvika Danta;
Wawan Ardiyan Suryawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.57255
Perilaku koruptif di Indonesia yang tinggi menjadikan tindak korupsi suatu perilaku buruk yang menjadi kebiasaan bagi beberapa masyarakatnya. Tindak pidana yang ringan dan terkesan kurang memberi efek jera, dinilai menjadi suatu alasan tingkat presepsi korupsi di Indonesia yang masih tinggi yakni pada urutan 89 di dunia. Kebebasan kuroptor dalam mengatur kehidupannya di dalam penjara juga sangat mudah. Hukuman yang tidak sepadan dengan kenyamanan kondisi tahanan dalam penjara yang membuat koruptor seakan memiliki kuasa dalam tahanan dan memberikan contoh yang tidak baik kepada masyarakat sekitar. Penggunaan framework Donna Duerk sebagai alur berfikir dengan pendekatan prilaku menjadi salah satu cara memberi sebuah efek jera bagi koruptor melalui desain yang akan diterapkan. Isu permasalahan awal coba di reduksi dengan menggunakan pendekatan perilaku, pendekatan perilaku ini lebih berfokus kepada segi sosiologi yang menargetkan kontak pelaku dengan masyarakatnya. Dari pendekatan sosiologi dan beberapa riset yang telah dilakukan, ditemukan bahwa mempermalukan narapidana dan membuat dia mengabdi kepada masyarakat merupakan hal tepat sebagai pengganti sistem penjara lama yang lebih menekankan kepada hukuman fisik. Hukuman mempermalukan narapidana ini dapat dicapai dengan mengajarkan nilai nilai moral yang berada didalam kehidupan bermasyarakat, juga memberikan sedikit privasi bagi narapidana.