cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains dan Seni ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 2,279 Documents
"Koruptorium Pintar" Lembaga Pemasyarakatan sebagai Media Edukasi Korupsi Ahmad Fraidee Pamungkas
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.295 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12067

Abstract

Kasus korupsi di Indonesia semakin marak terjadi, berbagai upaya telah dilakukan untuk mencoba mencegah terjadinya kasus korupsi. Kasus korupsi seolah menjadi hal yang biasa saja di mata para pelakunya, bahkan para tersangka kasus dugaan korupsi mendapatkan tempat yang masih cukup nyaman untuk bedebah seperti mereka. Lantas apakah seorang arsitek hanya akan tinggal diam melihat kasus ini? Arsitektur berkembang setiap saat dan perkembangannya bisa mencakup segala aspek kehidupan. Untuk menangani kasus ini maka sudah diperlukan sebuah percobaan dalam arsitektur untuk meresponnya. Sebuah percobaan melalui penjara bagi para terpidana korupsi coba dirancang untuk bisa memberi gambaran akan korupsi dan dampaknya bagi bangsa dan negara. Objek rancangan ini selain bertujuan untuk para tahanan kasus korupsi sekaligus juga dapat menjadi media pembelajaran dan pendidikan bagi masyarakat. Karena sejatinya koruptor merupakan sebuah kegagalan dari sistem pendidikan yang berlaku di suatu negara. Melalui objek rancangan ini, coba diterapkan konsep-konsep yang membuat masyarakat sekitar tertarik untuk mengunjungi pusat pendidikan ini. Objek rancangan ini juga bertujuan sebagai sebuah tempat wisata alternative bagi masyarakat setempat.
Modifikasi Elemen Lantai dengan Transformasi Morphing Ibnu Surya Ramadhan; Endy yudho Prasetyo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.879 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12190

Abstract

Lantai merupakan salah satu dari elemen pembangun arsitektur dimana, lantai digunakan sebagai tempat manusia berpijak dan melakukan aktivitasnya. Pada umunya, lantai pada bangunan hanya digunakan untuk meletakkan ruang-ruang dan apapun yang dibutuhkan untuk mendukung aktivitas seperti furnitur, pembatas ruang, dan lain-lain. Dalam objek rancang ini, dengan metoda rancang digital atau yang biasa disebut parametrik, lantai ditransformasikan dengan cara morphing yang berbasis ergonomi posisi tubuh manusia. Lantai akan memiliki undulasi tertentu dan itu dapat, secara tidak langsung, memberikan batas tanpa batas. Dan juga, lantai yang memiliki undulasi ( morphed floor ), dapat meminimalisir furnitur yang digunakan sehingga user dapat beraktivitas dimana saja dan dengan posisi tubuh apa saja atau fleksibilitas dapat dicapai. Transformasi ini diaplikasikan pada bangunan perpustakaan dengan ketinggian 7 lantai. Dengan begitu, peran lantai dalam sebuah objek rancang tidaklah sama melainkan bertambah dan menjadi lebih advanced.
Penerapan Konsep Tumpang Tindih Pada Rancangan Pasar Ikan Mayangan A.A. Handria Yudha Permana
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.056 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12191

Abstract

Pasar Ikan Mayangan saat ini merupakan sebuah tempat yang digunakan untuk melakukan kegiatan perdagangan jual beli hasil laut di Probolinggo. Namun kondisi saat ini desain dari Pasar Ikan Mayangan yang dikelilingi potensi-potensi alam disekitarnya tidak mampu memanfaatkan potensi-potensi tersebut menjadi bagian dari pasar, dimana potensi-potensi tersebut dapat memberikan nilai tambah dari pasar itu sendiri. Akibatnya mobilitas yang terjadi disana sangat cepat atau dengan kata lain aktifitas yang dilakukan hanya sesaat. Dengan potensi dan masalah ini, maka muncul gagasan perancangan kembali kawasan Pasar Ikan Mayangan yang menjadikan potensi dan lingkungan sekitar sebagai bagian dari desain yang nantinya dapat meningkatkan suasana industri perikanan di kecamatan Mayangan dengan menggunakan konsep tumpang tindih yang mencerminkan sesuatu yang saling berbeda namun saling menguatkan dan memberikan hal baru dalam prosesnya. Dengan konsep tumpang tindih ini bangunan Pasar Ikan Mayangan mampu membuat pengunjung atau pengguna lain nyaman berlama-lama berada di lingkungan pasar dan menciptakan sebuah interaksi. Setelah adanya interaksi itu maka akan tercipta sebuah ruang publik yang akan memberikan makna baru bagi pasar ikan disana sebagai sebuah kehidupan di daerah pesisir, menjadi penggerak roda ekonomi dan menjadi sebuah area wisata baru untuk menikmati kebaharian Indonesia.
Optimasi Pemanfaatan Ruang Luar pada Kawasan Anjungan Berdasarkan Identitas Lokal Bontang Kuala Desy Rahmadaniyati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.165 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12225

Abstract

Anjungan merupakan ruang publik di pesisir Bontang Kuala yang berperan sebagai ruang budaya multifungsi. Namun, lokasi strategis dan area yang luas membuat Anjungan lebih dominan berfungsi sebagai pusat kuliner. Peningkatan jumlah pengunjung yang signifikan mengakibatkan penurunan kualitas fisik dan pergeseran fungsi kawasan. Untuk mempertahankan peran Anjungan sebagai 'Panggung Budaya' yang fungsional, dilakukan penyesuaian antara perkembangan  minat  wisatawan masa kini dengan nilai, identitas, atau tradisi lokal di Bontang Kuala. Rancangan Pengembangan Kawasan Anjungan dibuat dengan memaksimalkan ruang luar, yang terlihat pada dominasi area atas atap sebagai tempat beraktivitas. Banyaknya ruang terbuka di Kawasan Anjungan memungkinkan untuk dapat dimanfaatkan sebagai tempat kegiatan kebudayaan masyarakat Bontang Kuala. Penataan dan pemanfaatan ruang luar didasarkan pada karakteristik identitas lokal dan menyesuaikan pola perkembangan yang ada. Salah satu nilai lokal yang diterapkan berupa prinsip penataan ruang pada bangunan lokal (rumah panggung).  Sedangkan, semua fasilitasnya dibuat semi terbuka untuk meminimalisir batas antara ruang dalam dan ruang luar.  
“Religi” sebagai Pendekatan Desain untuk Fasilitas Wisata di Kota Gresik Charisma Amanda
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.36 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12262

Abstract

Abstrak—Rancangan fasilitas Wisata Religi Kota Gresik nerupakan salah satu penyelesaian dari sebuah isu di kota Gresik yang dikenal sebagai Kota Santri dan Kota Industri. Seiring berjalannya waktu dan semakin banyaknya Industri di kota Gresik menyebabkan budaya santri di kota Gresik semakin terkikis. Sehingga kota Gresik hanya dijadikan sebagai sebuah tempat penyimpanan artefak Islam semata dan lebih terkenal dengan predikat Kota Industri. Permasalahan inilah yang harus diselesaikan agar kota Gresik menjadi kota Industri yang sehat, sekaligus menjadi kota dengan budaya santri yang masih melekat dan menjadi kebangaan kota Gresik. Untuk menjawab isu permasalahan di atas perancang mendesain sebuah fasilitas Wisata Religi Kota Gresik yang dapat mewakili keragaman budaya dan ciri khas kota Gresik. Dalam proses merancang, istilah “religi” digunakan sebagai pendekatan desain yang meliputi pendekatan hubungan manusia dengan Tuhan-Nya, hubungan masusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam Semesta. Hasil rancangan dicapai dengan menyediakan sebuah fasilitas Wisata Religi yang dapat menyeimbangkan dan menyatukan 3 wisata religi di kota Gresik.
Ekspresi Ceria pada Fasilitas Penunjang Perkembangan Anak Aisyah Aisyah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.192 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12309

Abstract

Sekolah yang ada saat ini cenderung memandang anak-anak sebagai individu yang harus mampu menguasai materi yang diajarkan, padahal dalam aktivitas belajar dan bermain, suasana yang menyenangkan juga perlu dihadirkan agar aktivitas tersebut dapat berjalan secara maksimal. Objek rancang Fasilitas Penunjang perkembangan Anak (Gambar. 1) yang berfungsi sebagai tempat anak-anak mengeksplorasi dirinya, menghadirkan kesan ceria melalui berbagai aspek, diantaranya aspek bentuk bangunan, selubung bangunan, warna, sirkulasi, serta struktur bangunan. Pendekatan desain melalui peninjauan terhadap karakter anak dilakukan dengan meninjau karakter anak itu sendiri secara umum, diantaranya suka bergerak, mudah bosan dan emosi yang kuat terhadap warna. Dalam menghadirkan suasana ceria pada objek rancang, perlu memperhatikan kriteria-kriteria lain yang juga musti dipenuhi, diantaranya keamanan, kenyamanan, terarah, serta eksploratif. Namun diantara kriteria tersegbut, kriteria keamanan merupakan kriteria yang paling berlawanan dengan kriteria ceria, sehingga faktor keamanan perlu diperhitungkan proporsi kehadirannya agar tidak mengurangi aspek kriteria ceria yang muncul. Dengan munculnya ekspresi ceria pada objek rancang, diharapkan anak dapat melakukan aktivitas belajar secara nyaman, serta proses perkembangannya pun berjalan optimal.
Eksistensi Lokalitas dalam Perancangan Hotel Resor Tanjung Aan Bambang Priyambodo; Purwanita Setijanti
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.96 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12335

Abstract

Terkait  rencana pengembangan kawasan wisata terpadu mandalika yang direncanakan akan dibangun berbagai fasilitas super mewah yang jika dilihat berdasarkan aktivitas, pelaku aktivitas, potensi dan beberapa masalah yang terdapat di lokasi ini, semua fasilitas mewah itu akan terlihat berlebihan dan kurang tepat sasaran. Untuk itu peran arsitektur dibutuhkan untuk mewujudkan objek yang dapat mewadahi seluruh kegiatan yang terjadi dan menyelesaikan beberapa masalah yang ada. Dengan mengangkat aspek lokalitas sebagai pendekatan dalam mendesain dimana unsur lokalitas merupakan salah satu potensi yang menonjol dari berbagai potensi yang ada. Diharapan fasilitas yang dibangun sesuai dengan kebutuhan pengunjung maupun masyarakat setempat
TAMAN HIBURAN TEMATIK VERTIKAL METROPOLITAN (TAMAN STAR WARS) Vania Yodia; Erwin Sudarma
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (815.524 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12424

Abstract

Proyek Taman Hiburan Tematik Vertikal Metropolitan dibuat dengan tujuan untuk menghadirkan sarana rekreasi yang variatif di dalam kota Surabaya. Sarana rekreasi seharusnya mampu mengikuti kedinamisan perkembangan masyarakat sehingga ia hadir sebagai fasilitas yang menyenangkan untuk dinikmati. Oleh karena itu, perlu dilakukan inovasi untuk menyiasati masa usang dari sebuah taman hiburan tematik. Fleksibilitas tema yang diaplikasikan pada taman hiburan tematik diharapkan mampu menciptakan atmosfer yang selalu segar dan baru. Selain itu, tingginya nilai guna lahan di Surabaya menjadi landasan untuk mengembangkan potensi semaksimal mungkin pada area yang sangat terbatas di kota besar yang padat. Penyusunan organisasi ruang secara vertikal pada sebuah taman hiburan nantinya akan lebih efisien dan inovatif dibandingkan dengan taman hiburan konvensional yang cenderung menghabiskan banyak lahan.
Pendekatan Naratif dalam Perancangan Taman Penitipan Anak Aisyah Iman Maulidina
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.021 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12449

Abstract

Pendekatan dalam perancangan arsitektur adalah suatu metode untuk menganalisis dan merancang suatu objek rancangan arsitektur secara efektif. Pendekatan dapat digunakan untuk mengatur program ruang, visualisasi ruang, serta tatanan ruang. Terdapat banyak pendekatan arsitektur yang dapat  digunakan, pemilihannya tergantung kepada objek rancangan serta metode yang digunakan oleh perancang yang sekiranya dirasa dapat membantu proses rancangnya. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam  perancangan arsitektur adalah pendekatan naratif. Pendekatan naratif adalah pendekatan yang digunakan untuk membuat pengguna bangunan merasa terlibat langsung dengan suasana ruang pada bangunan. Aspek pembentuk narasi sendiri terdiri dari plot dan perasaan pengguna, dua hal tersebut yang ditonjolkan dalam objek rancangan ini. Untuk memahami suasana apa yang ingin disampaikan kepada pengguna maka perlu pemahaman terlebih dahulu bagaimana plot dari cerita narasi serta pengaplikasiannya dalam arsitektur. Objek rancang yang menjadi hasil akhir rancangan adalah taman penitipan anak yang membuat penggunanya dapat merasakan suasana arsitektural sesuai plot dalam narasi.
Kampung Surabaya sebagai Elemen Kunci Perancangan Ruang Identitas Kota Astri Isnaini Dewi; Andy Mappa Jaya
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (758.536 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12482

Abstract

Bertumbuhnya kota Surabaya menuju kota metropolitan mendorong adanya penutupan ruang-ruang, dengan fungsi dan guna yang berbeda dengan kondisi awalnya. Kota Surabaya, telah mengalami penumpukan layer ruang hingga identitasnya semakin pudar. Dalam pencarian identitas, dilakukan penelusuran perkembangan Surabaya, ditemukan sebuah elemen yang menjadi kunci perkembangannya. Kampung Surabaya, adalah sebuah fragmen kota yang secara kasat mata memberikan makna ruang yang mencerminkan identitas melalui berbagai entitas yang berbeda-beda. Dalam sebuah perbedaan entitas tersebut, pendekatan simbiosis dalam konteks urban dengan metode timeless way of building oleh Christopher Alexander digunakan untuk dapat menyatukan variabel lama-baru pada kampung, sehingga mampu menarik intisari yang utama. Untuk kemudian diolah sebagai elemen rancangan utama dalam berarsitektur, mengambil intisari program, bentukan arsitektur, hingga sekuen. Begitu banyaknya fragmen yang perlu disatukan, memerlukan sebuah penyelesaian secara makro. Sebuah ruang dengan galeri, pasar, dan restoran yang mampu memberikan gambaran sejarah dan interaksi sosial secara raya yang semestinya.