Articles
2,279 Documents
Fleksibilitas pada Stadium Musik Konser Pop -Rock
Nurul Atiqah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (390.618 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12509
Dalam perkembangan globalisasi di Indonesia, membawa beberapa perubahan pada masyarakat Indonesia. Hal ini juga mempengaruhi pada perkembangan musik di Indonesia, seperti banyaknya penyelenggaraan konser musik, pagelaran seni dan lain sebagianya. Banyak konser – konser yang dilaksanakan dengan aliran musik k-pop, pop, jazz, rock. Yang menjadi permasalahan adalah tidak adanya tempat yang memadai untuk penyelenggaraan konser tersebut dengan kualitas gedung yang memang difungsikan sebagai gedung konser musik dengan kataegori tersebut diatas. Selain tidak adanya gedung konser musik, juga didasari oleh pengalaman menonton konser secara langsung, dimana dengan menonton konser secara langsung memberikan sebuah kenangan tersendiri bagi yang melihatnya. Hal ini menjadi dasar munculnya isu yaitu Arsitektur dan Audiovisual - Kurangnya Wadah untuk Kebutuhan Pertunjukan Musik yang Didukung Dengan Kualitas yang Memadai. Dan objek rancang stadium musik merupakan jawaban dari isu yang diungkapkan. Proses rancang menggunakan metoda perancangan dari William M. Pena. Rancangan stadium musik akan dibuat tertutup sehingga penyelenggaraan konser dapa terlaksana dan tidak terganggu cuaca. Panggung yang dapat disesuakan dengan kondisi yang diinginkan dari penampil, dan dilengkapi dengan akustik yang mendukung untuk penyelenggaraan konser dan selain balkon untuk penonton juga disediakan untuk penonton yang berdiri. Untuk mengakomodasi kebutuhan dari pihak – pihak yang berkaitan, maka diusung konsep fleksibilitas pada stadium musik agar dapat terakomodasi kebutuhannya.
Pasar Apung Kenjeran
Anindhita Nurmala Putri
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (471.095 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12519
Dalam merancang arsitektur seorang arsitek dapat menggunakan tema sebagai alat untuk mencapai kondisi yang diinginkan. Tema dalam arsitektur adalah ide yang harus dieksplor dan dimasukkan ke dalam desain untuk menciptakan karakteristik atau makna pada bangunan yang dirancang. Selanjutnya, tahap eksplorasi tema dapat diterapkan ke dalam desain konsep perancangan yang mana akan menentukan berbagai elemen rancangan seperti bentuk, ruang luar, material, dan sebagainya. Objek rancang adalah pasar apung yang terdiri atas 4 macam zona. Tema akrab digunakan karena dianggap mampu mewakili esensi objek sebagai bangunan publik. Pendekatan essences dan mimesis digunakan untuk menerapkan tema akrab ke dalam objek rancang. Karakteristik akrab yang digunakan adalah dekat dan intim. Hasil rancangan berupa penerapan karakteristik akrab ke dalam bentuk massa, sirkulasi antar massa, sirkulasi ruang, dan komposisi massa.
Desa Wisata Sebagai Desa Relokasi Dengan Prinsip Simbiosis
Die Tia Begin;
Angger Sukma Mahendra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (263.936 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12524
Peristiwa meletusnya gunung berapi seringkali diikuti dengan kerusakan yang terjadi pada daerah sekeliling gunung api tersebut. Salah satunya adalah pemukiman dan perkebunan warga yang ada di sekitar gunung. Kerusakan ini sering kali sangat parah sehingga wilayah ini tidak dapat lagi dihuni, oleh karena itu dibutuhkan sebuah pemukiman relokasi untuk warga. Seperti yang terjadi pada pemukiman di sekitar Gunung Sinabung. Maka ditetapkan lah sebuah area relokasi di Siosar. Dimana setelah dilihat, ternyata wilayah ini memiliki potensi untuk dijadikan sebagai desa wisata. Perancangan desa relokasi yang juga merupakan desa wisata tentu saja memerlukan beberapa penyesuaian, karena pasti ada hal-hal yang bertentangan dan harus saling bersanding dalam objek rancang. Dengan demikian perancang merasa bahwa prinsip rancang Simbiosis oleh Kisho Kurokawa tepat digunakan dalam objek rancang. Dengan prinsip rancang ini diharapkan didapatnya rancangan yang baik dan dapat memberikan kenyamanan baik baik penduduk maupun bagi wisatawan yang berkunjung ke desa ini.
Disorientasi Visual Dalam Revitalisasi Bioskop Kelud
Charlie Lady Beauty Afriesta;
Sri Nastiti Ekasiwi
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (332.006 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12538
Dalam merevitalisasi sebuah bangunan, banyak hal yang harus diperhatikan, salah satunya adanya aspek visual bangunan. Visual suatu bangunan harus diperhatikan, sebab aspek tersebut merupakan aspek yang berhubungan dengan indra penglihatan manusia. Dalam prosesnya, banyak cara untuk membentuk visualisasi bangunan yang akan direvitalisasi, salah satunya dengan cara disorientasi. Tujuannya adalah mempertahankan aspek yang memiliki nilai yang sesuai dengan bangunan tersebut. Hal ini pun terjadi dalam proses revitalisasi Bioskop Kelud Malang, bahwa aspek visual mampu menjadi tanda bagi lingkungan sekitar. Hal ini dapat berdampak pada kesan dan pandangan yang dirasakan oleh pengamat.
Gaya Art Deco Pada Revitalisasi Stasiun Selatan Bandung
Priska Paramita Pradipta;
Muhammad Faqih
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (331.228 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12572
Stasiun – stasiun lama yang ada di Indonesia merupakan bangunan peninggalan Belanda yang menyimpan nilai sejarah. Setiap stasiun memiliki ciri khasnya sendiri. Stasiun Bandung, khususnya Stasiun Selatan Bandung memiliki kekhasan gaya art deco. Art deco merupakan gaya yang berkembang di era modern, dan banyak digunakan untuk seni dekorasi. Perancangann revitalisasi bangunan kolonial dilakukan dengan mempertahankan ciri khas yang menjadikannya bangunan cagar budaya dan mengembangkan karakter art deco pada bangunan baru. Bagian bangunan yang dipertahankan adalah bangunan hall utama dengan kaca patri yang dominan pada fasad bangunan. Sedangkan untuk desain fasad bangunan baru mengacu pada ciri gaya art deco. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan dan menyesuaikan dengan kebutuhan dan teknologi saat ini.
Simbiosis Alam dengan Cagar Budaya dalam Konservasi Saujana Desa Tamansari
Sarah Inassari Santoso;
Andy Mappa Jaya
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1038.859 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12581
Makam Adipati Pragolapati dan Sendang Sani merupakan cagar budaya yang dilindungi sebagai bukti sejarah berdirinya Kabupaten Pati dan sebagai sumber mata air yang dimuliakan. Saat ini, keduanya membutuhkan perhatian karena kondisinya yang terbengkalai. Pemerintah setempat mengeluarkan sebuah rencana untuk membangun sebuah obyek wisata religi dan keluarga yang akan menghidupkan kawasan ini. Namun wisata dan kebutuhan pelestarian adalah dua hal yang kontradiktif. Oleh karena itu dibutuhkan solusi perancangan yang secara sinergis akan dapat mengakomodasi dua hal tersebut. Melalui hubungan simbiosis, alam dan cagar budaya sebagai karakter tapak, dipertemukan dalam sebuah interaksi saling menjaga. Alam sebagai latar belakang dan cagar budaya sebagai latar depan. Obyek rancang bersama alam menguatkan cagar budaya eksisting melalui penataan massa yang mengikuti kontur eksisting, pemilihan bentuk massa yang mampu memberikan pandangan luas terhadap lansekap desa, serta penataan lansekap yang menguatkan orientasi pengunjung terhadap cagar budaya. Sebagai timbal balik, cagar budaya yang mampu hadir secara kuat akan dapat membentuk suasana kontemplatif bagi masyarakat untuk tergerak menjaga alam. Dengan hubungan simbiosis yang demikian, maka alam dan cagar budaya akan dapat terus terjaga keberlangsungannya.
Penerapan Konsep Adaptif dan Eksploratif pada Ruang Pamer Museum Terbuka
Saraya Eka Sharfina;
Purwanita Setijanti
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (404.857 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12600
Ruang dalam arsitektur terdiri atas ruang terbangun dan ruang terbuka. Ruang berfungsi sebagai wadah aktivitas yang dilakukan penggunanya. Dalam perancangaannya, ruang dapat mengalami banyak perlakuan, seperti ruang sebagai program, ruang sebagai visualisasi, dan ruang sebagai susunan. Dalam objek rancangan ini, ruang dirancang sebagai elemen utama bangunan museum arkeologi, yaitu ruang pamer. Kekhasan dari obyek rancang ini adalah ruang-ruang pamer yang terbentuk mampu secara adaptif mewadahi aktivitas-aktivitas yang terjadi didalamnya tanpa meninggalkan hakikat utamanya sebagai ruang pamer yang berada dalam sebuah museum. Karakter ruang tersebut dapat diwujudkan dengan menggunakan konsep adaptif dan eksploratif.
Konsep Agrikultur Sebagai Penyelesaian dari Isu Pertanian
Christine Martha Evelyn Lukmanto
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (914.723 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12632
Sejarah pertanian adalah bagian dari sejarah kebudayaan manusia. Di Indonesia pertanian hingga saat ini masih dinilai sebagai sektor penggerak perekonomian yang penting dan terbukti memiliki ketahanan yang paling tinggi pada saat terjadi dan pasca periode krisis ekonomi maupun krisis moneter sejak awal 1997. Namun dewasa ini minat masyarakat pada sektor pertanian semakin menurun dan menyebabkan penurunan jumlah lahan pertanian dan tenaga kerja untuk sektor ini. Dengan adanya permasalahan ini dan berbagai dampak yang ditimbulkan, dapat diprediksi bahwa Indonesia akan menghadapi kemungkinan krisis pangan dimasa depan. Berawal dari keprihatinan penulis akan permasalahan tersebut, maka Tugas Akhir ini dibuat dengan mengangkat isu dari bidang pertanian yaitu fenomena kurangnya pengetahuan dan kepedulian masyarakat akan kondisi pertanian Indonesia. Untuk menyelesaikan isu ini diajukan usulan obyek berupa Resor Agrikultur yang berlokasi di desa Jatiarjo, Pasuruan. Metode yang digunakan dalam pembentukan konsep dan pemunculan desain obyek adalah metode Engineering Design Process oleh Michael J. French dan metode Metafora. Dengan menggunakan kedua metode tersebut, resor ini diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan dari isu.
"Koruptorium Pintar" Lembaga Pemasyarakatan sebagai Media Edukasi Korupsi
Muhammad Fitra Teng
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (798.59 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12670
Kasus korupsi di Indonesia semakin marak terjadi, berbagai upaya telah dilakukan untuk mencoba mencegah terjadinya kasus korupsi. Kasus korupsi seolah menjadi hal yang biasa saja di mata para pelakunya, bahkan para tersangka kasus dugaan korupsi mendapatkan tempat yang masih cukup nyaman untuk bedebah seperti mereka. Lantas apakah seorang arsitek hanya akan tinggal diam melihat kasus ini? Arsitektur berkembang setiap saat dan perkembangannya bisa mencakup segala aspek kehidupan. Untuk menangani kasus ini maka sudah diperlukan sebuah percobaan dalam arsitektur untuk meresponnya. Sebuah percobaan melalui penjara bagi para terpidana korupsi coba dirancang untuk bisa memberi gambaran akan korupsi dan dampaknya bagi bangsa dan negara. Objek rancangan ini selain bertujuan untuk para tahanan kasus korupsi sekaligus juga dapat menjadi media pembelajaran dan pendidikan bagi masyarakat. Karena sejatinya koruptor merupakan sebuah kegagalan dari sistem pendidikan yang berlaku di suatu negara. Melalui objek rancangan ini, coba diterapkan konsep-konsep yang membuat masyarakat sekitar tertarik untuk mengunjungi pusat pendidikan ini. Objek rancangan ini juga bertujuan sebagai sebuah tempat wisata alternative bagi masyarakat setempat.
Lingkaran Batu di Center Point of Indonesia
Niken Jyalita Warouw Kusuma
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (529.155 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12688
Objek terletak di Center Point of Indonesia (CPI), sebuah kawasan reklamasi pantai yang terletak di Kota Makassar. Nama tersebut diambil dari letak kawasan yang berada di tengah-tengah wilayah Indonesia. Center Point of Indonesia memiliki visi untuk menjadikan Kota Makassar sebagai kota metropolitan yang melampaui Kota Surabaya. Kawasan ini nantinya akan menjadi ikon Kota Makassar. Desain kawasan Center Point of Indonesia berbentuk lingkaran dengan monumen sebagai pusatnya. Tapak dari objek terletak satu sumbu dengan monumen. Bentuk khas dari masterplan Center Point of Indonesia menjadi pertimbangan setiap objek di dalamnya. Konteks lingkungan menjadi pertimbangan utama dalam mengambil keputusan desain. Objek yang didesain adalah galeri marmer dan tempat wisata berskala monumental. Objek arsitektur yang didesain tidak mengesampingkan konsep dari kawasannya. Center Point of Indonesia adalah ikon kemegahan. Selain berskala monumental bangunan menggunakan material marmer sebagai elemen arsitektural. Marmer adalah produk untuk kalangan menengah ke atas. Marmer sendiri merupakan hasil bumi Provinsi Sulawesi Selatan dengan kualitas terbaik di Indonesia. Tambang marmer di Provinsi Sulawesi Selatan adalah yang terbesar di sektor timur Indonesia. Salah satu cara menjadi ikon suatu daerah adalah dengan menunjukkan ciri khas dari daerahnya.