Articles
2,279 Documents
Pendekatan Tema Jelajah dalam Konsep dan Rancangan Perpustakaan sebagai Ruang Publik
Rahma Sakinah;
Murni Rachmawati;
Nur Endah Nuffida
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (5800.051 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v3i2.6800
Tema merupakan salah satu pendekatan perancangan yang umum dilakukan. Tema merupakan panduan, pedoman, dan arahan yang dapat menuntun perancang untuk membuat konsep yang dapat memecahkan permasalah dalam suatu obyek rancangan. Tema untuk obyek rancang perpustakaan dipilih dengan mempertimbangkan permasalahan utama obyek, yaitu belum mampunya perpustakaan menjadi ruang publik dan pusat aktivitas masyarakat. Hal ini disebabkan oleh kesan perpustakaan di mata masyarakat yang cenderung kaku dan tidak ramah. Tema “Jelajah” memiliki karakteristik yang berkebalikan dengan kaku. Pendekatan tema pada obyek rancang dilakukan secara metafora dengan mengaplikasikan karakteristik-karakteristik “Jelajah” pada berbagai macam aspek rancang. Dengan pendekatan tema “Jelajah” tersebut dihasilkan rancangan perpustakaan yang menarik dan jauh dari kesan kaku dan tidak ramah
Pendekatan Tema Koneksi pada Rancangan Taman Baca Kota Yogyakarta
Adiar Ersti Mardisiwi;
Murni Rachmawati;
Nur Endah Nuffida
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (5212.442 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v3i2.6804
Kota Yogyakarta merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang mencanangkan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) atau “Perpustakaan Masyarakat” berbasis Rukun Warga (RW). Sejak tahun 2007, kini 237 TBM telah berdiri diantara 615 RW. Kebijakan ini tentunya bertujuan untuk meningkatkan literasi masyarakat. Namun, desain perpustakaan dewasa ini cenderung menjenuhkan. Perpustakaan Kota Yogyakarta yang sudah ada pun belum mencerminkan budaya Yogyakarta. Kapasitas Perpustakaan Kota Yogyakarta juga masih terlalu kecil untuk disebut perpustakaan kota. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah taman baca yang dapat meningkatkan minat baca masyarakat Yogyakarta, mencerminkan budaya lokal, serta dapat menjadi ruang publik yang menyenangkan. Tema ‘koneksi’ diaplikasikan pada rancangan Taman Baca Kota Yogyakarta dengan metode studi kasus, survei lapangan, serta pembagian acak kuesioner preferensi pengujung Perpustakaan Kota Yogyakarta. Lokasi terpilih ialah di bantaran Kali Code karena atmosfernya yang tenang dan memenuhi kriteria untuk didirikan taman baca. Rancangan ini diharapkan dapat mengakomodasi berbagai fungsi perpustakaan umum sehingga dapat berperan sebagai ruang publik untuk menggali informasi melalui media apapun, tanpa batas waktu dan batas apapun
Implementasi Tema Teduh pada Objek Rancang Tempat Peristirahatan
Della Affesia Putri;
Ima Defiana
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2193.381 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v3i2.6808
Berkembangnya industri otomotif di Indonesia berdampak pada tingginya angka kecelakaan yang disebabkan oleh kelalaian pengemudi akibat rasa lelah dan kantuk. Menurut UU Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan[1], pengemudi sekurang-kurangnya beristirahat selama 30 menit setelah menempuh perjalanan selama 4 jam. Sebuah tempat peristirahatan yang aman dan nyaman tentu diperlukan untuk dapat mengakomodasi kebutuhan beristirahat pengemudi. Namun, kondisi eksisting lahan yang tidak memiliki pepohonan menyebabkan peningkatan suhu yang cukup tinggi pada kawasan ini, sehingga pemilihan tema yang sesuai dengan objek rancang tempat peristirahatan adalah teduh. Implementasi teduh dapat dihadirkan sebagai sebuah kanopi yang meneduhi kawasan tempat peristirahatan pada siang hari sekaligus memberi penerangan pada malam hari, dengan skala yang disesuaikan dengan aktivitas yang berada di dalamnya.
Penggunaan Parameter Geometri terhadap Rancangan Kompleks Peluncuran dengan Tema Galaksi
Fajrul Faiz;
Erwin Sudarma
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2856.905 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v3i2.6810
Teknologi komunikasi tidak terlepas dari teknologi satelit dan perkembangan ilmu kedirgantaraan. Lembaga di Indonesia yang menangani pengembangan teknologi antariksa dan penerbangan ini adalah LAPAN (Lembaga Pernerbangan dan Antariksa Nasional). LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), milik Indonesia, pada tahun ini tengah melakukan uji coba jet propulsi untuk pendorong roket. Sedangkan pada tahun depan, LAPAN berencana melaksanakan peluncuran roket perdana. Hingga saat ini, Indonesia belum memiliki fasilitas mandiri untuk proyek maupun misi peluncuran roket, baik untuk keperluan uji coba, misi tanpa awak (un-manned mission), maupun misi dengan awak (manned mission). Fasilitas berupa sebuah kompleks dibutuhkan untuk mendukung kegiatan LAPAN, terutama peluncuran skala besar.
Transparansi Arsitektur dalam Proses Rancang Terminal Kampung Rambutan
Dyastrid Rizca Rumayang;
Sri Nastiti N. Ekasiwi;
Arina Hayati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (471.435 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v3i2.6818
Terminal Kampung Rambutan sebagai salah satu terminal besar di Jakarta telah dikenal tidak ramah terhadap pengunjungnya, karena ketidakteraturan penataan sirkulasi, kepadatan pengunjung dan kesan kumuh yang ditimbulkan. Lokasi terminal berada berdekatan dengan dua jalur tol, menghubungkan antara ibukota dan kota di sekitarnya, sehingga terminal ini haruslah mempunyai fasilitas lengkap yang dapat membuat pengunjung merasa nyaman dan aman. Dari pokok utama permasalahan di Terminal Kampung Rambutan yaitu sirkulasi dan kepadatan pengunjung yang menimbulkan penghalang pandangan maka tema Transparan dibutuhkan sebagai pendekatan rancangan metafora teraga (tangible metaphor). Aplikasi tema transparan pada rancangan ini terlihat pada tampilan eksterior, interior, bahan material, bentuk geometri, dan ekspresi struktur ekspos yang digunakan.
Penerapan Tema Atraktif dalam Rancangan Taman Wisata Brawijaya Malang
Pridany Widya Ad’ha;
Murni Rachmawati;
Nur Endah Nuffida
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (490.69 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v3i2.6827
Dalam merancang arsitektur seorang arsitek dapat menggunakan tema sebagai alat untuk mencapai kondisi yang diinginkan. Tema dalam arsitektur adalah ide yang harus dieksplor dan memasukkannya ke dalam desain untuk menciptakan karakteristik atau makna pada bangunan tersebut. Selanjutnya, eksplorasi tema tersebut dapat diterapkan ke dalam konsep perancangan. Konsep perancangan akan menentukan berbagai elemen rancangan seperti bentuk, ruang luar, material, dan sebagainya. Objek rancang adalah taman wisata dengan wahana permainan 4 dimensi sebagai hiburan utamanya. Tema atraktif diangkat karena mampu mewakili esensi objek sebagai bangunan wisata. Pendekatan metafora digunakan untuk menerapkan tema atraktif ke dalam objek rancang. Karakteristik atraktif yang digunakan adalah kontras, dinamis, dan mengejutkan. Hasil rancangan berupa penerapan karakteristik atraktif ke dalam bentuk massa, fasad, sirkulasi antar massa, komposisi massa, serta penerapan atraksi dalam rancangan.
Daur Materi, Materi(al), dan Arsitektur Sebagai Unsur Rancangan
Rifandi Septiawan Nugroho;
Josef Prijotomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (7163.182 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v4i1.8700
Materi alam menjadi unsur pembentuk material, material menjadi unsur pembentuk arsitektur, dan arsitektur menghasilkan limbah materi. Seperti itu daur yang terjadi semenjak awal keberadaan arsitektur, telah terjadi jalinan atas beragam unsur kerja. Indonesia sebagai negara tropis kepulauan memiliki beragam varian materi alam. Hal tersebut didukung dengan kemampuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah materi alam yang tersedia. Kemampuan tersebut telah dimiliki sejak ratusan tahun lalu dan diwarisi secara turun temurun hingga hari ini. Saat ini, kemampuan itu lebih sering diartikan sebagai alat untuk bertahan hidup ketimbang ilmu pengetahuan. Hal tersebut menyebabkan kemampuan para pengrajin tidak berkembang dan minat masyarakat untuk mempelajarinya juga berkurang. Dibutuhkan sebuah pendekatan khusus untuk dapat menggabungkan kemampuan pengrajin dengan kesadaran akan pengetahuan agar menghasilkan kualitas arsitektur yang baik. Melalui perancangan objek dilakukan sebuah usaha untuk mendekatkan pengrajin dengan material yang digunakan beserta materi penyusunnya. Seperti yang dilakukan oleh Peter Zumthor, ia memiliki ingatan yang tajam saat mengenggam gagang pintu di rumah bibinya, menginjak kerikil di bawah kaki, merasakan kelembutan kayu dari anak tangga, dan mendengar bunyi berat daun pintu yang ia dorong. Itu semua gambaran tentang ruangan tradisional biasa yang ia jadikan referensi dalam merancang ruang. Secara mendasar, estetika yang dirasakan manusia datang melalui sebuah kualitas yang mampu menyentuh seluruh panca indera, dan yang lebih utama adalah kinaestetik (pergerakan). Proses merancang dengan meruntut satu per satu daur dari materi, material, dan arsitektur bertujuan menghasilkan sebuah kualitas arsitektur yang menyatukan penghayatan pengguna dengan objek rancangan.
Desain Stasiun Kereta Api Gubeng Dengan Konsep Simbiosis
Muhammad Syafiq;
Ima Defiana
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3729.296 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v4i1.8702
Terkait dengan kebutuhan penumpang kereta api yang membutuhkan pelayanan yang cepat, mudah dan jelas. Dibutuhkan ruang yang dapat mudah dimengerti oleh penumpang dalam periode waktu yang relatif singkat. Hal ini diperuntukan membantu sistem kerja stasiun kereta agar perpindahan penumpang dari stasiun menuju kereta api maupun sebaliknya dapat terlayani dengan cepat. Mengingat jumlah volume kedatangan dan keberangkatan yang cukup besar, dibutuhkan perancangan yang tepat untuk hal ini. Sedangkan keadaan eksisting areal stasiun (Gambar. 1). Areal Stasiun Gubeng memiliki dua bangunan utama yang berfungsi sebagai stasiun dengan pembagian layanan kerja masing – masing. Sehingga diperlukan sebuah gagasan agar kedua bangunan tersebut dapat berfungsi secara maksimal dengan tujuan memenuhi tuntutan kebutuhan kerja Stasiun Kereta Api Gubeng dimasa depan. Hal ini menghasilkan solusi berupa rancangan arsitektur yang memudahkan penumpang menggunakan stasiun kereta api. (Gambar. 2)
Pendekatan Rancang Metafora dalam Perancangan Pusat Musik Gamelan di Surabaya
Maulana Cahyo Utama;
Murni Rachmawati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (6264.753 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v4i1.9075
Banyak cara yang dilakukan dalam pendekatan rancang dalam suatu obyek, salah satunya adalah pendekatan metafora. Obyek yang akan dirancang dengan metode metafora adalah Pusat Musik Gamelan di Surabaya. Dengan hadirnya obyek rancang ini masyarakat akan terfasilatasi untuk dapat melestarikan dan mengembangkan kesenian-kesenian yang berhubungan dengan gamelan. Dengan pemiliahan tema ning nong ning Gung maka bangunan terbagi menjadi 4 bagian dengan karakteristik dan visualisasi yang berbeda-beda
Desain Apartemen Dengan Pendekatan Edible Landscape
Andrew Syah Wicaksana
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (474.587 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v4i2.12046
Populasi dunia yang tumbuh terus menerus, urbanisasi, perubahan iklim dan tekanan pada sumber daya alam merupakan pendorong utama untuk menerapkan konsep pertanian kota (urban farming) pada sebuah lingkungan perkotaan. Desain apartemen dengan pendekatan edible landscape muncul sebagai respon mengenai isu seputar pertanian kota (urban farming) untuk diterapkan pada sebuah bangunan vertikal dimana diharapkan dapat membawa pengaruh positif baik dari segi psikologi hingga ke arah pola hidup yang produktif dan kondusif di lingkungan perkotaan. Dari isu yang muncul tersebut, pendekatan desain yang digunakan adalah secara ekstrinsik (alam) dengan pendekatan desain berwawasan lingkungan (desain ekologis). Dimana metoda desain yang digunakan untuk menyusun dari isu hingga mencapai konsep menggunakan metoda Donna P. Duerck (Architecture Programming), selanjutnya untuk mentranformasikan konsep ke bentuk desain menggunakan pendekatan teori dari Rob Krier mengenai komposisi arsitektur.