Articles
2,279 Documents
Peningkatan Aktivitas Fisik dan Kesehatan dengan Penerapan Active Design Guidelines
Hasri Nimas Wiyajanti;
Endrotomo Endrotomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (943.865 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26491
Di era globalisasi saat ini, gaya hidup manusia dipengaruhi oleh modernisasi. Tanpa disadari hal tersebut berdampak buruk bagi manusia, terutama dalam kesehatan. Penyakit tidak menular adalah masalah kesehatan bersumber dari kurangnya aktivitas fisik serta tidak diterapkannya pola hidup sehat. Gaya hidup paling signifikan mempengaruhi kesehatan adalah cara bekerja manusia modern saat ini. Semakin modern, semakin jauh pula manusia dari pekerjaan yang menggunakan aktivitas fisik. Kurangnya aktivitas fisik juga dapat menyebabkan kelelahan kerja yang berdampak pada kesehatan sehingga menurunkan produktivitas kinerja. Sehingga perkantoran menjadi salah satu cermin dari gaya hidup modern yang dapat direspon untuk memicu aktivitas fisik dan kesehatan pengguna di dalamnya. Arsitektur seharusnya menjadi respon perilaku dari manusia tersebut sehingga dapat memaksa manusia untuk beraktivitas fisik lebih. Prinsip-prinsip dari pendekatan Active Design dan ergonomi sebagai acuan pembuatan kriteria untuk mencapai tujuan dari perancangan ini. Metode Behaviour Mapping digunakan untuk mengetahui aktivitas. Aktivitas tersebut berpengaruh pada konsep pengolahan program ruang, sirkulasi, dan pengolahan elemen arsitektur yang dapat memicu aktivitas fisik dan kesehatan lebih. Jadi, konsep utama dalam perancangan ini adalah penambahan area hijau pada sekitar area kerja baik di luar maupun di dalam bangunan serta pengolahan sirkulasi vertikal dengan split level lantai, penambahan ramp pada area tertentu untuk relaksasi maupun pengolahan tangga yang lebih mudah dilihat dan dijangkau.
Menelusuri Estetika Galeri Bawah Tanah Menggunakan Kelima Panca Indra
Sunusae, Sapta;
Ekasiwi, Sri Nastiti Nugrahani
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26495
Pada karya tulis ini akan membahas mengenai pemaknaan estetika yang dirujuk pada teori Eagleton bahwa estetika merupakan pengalaman yang didapatkan oleh kelima panca indra bukan hanya penglihatan. Sedangkan untuk menerapkannya pada arsitektur digunakan pendekatan arsitektur dan panca indra oleh Pallasma. Kedua hal tersebut pada intinya digunakan untuk menanggapi permasalahan estetika pada arsitektur bawah tanah yang memiliki eksterior minim sehingga sering dipandang kurang memiliki estetika. Objek desain berupa galeri seni bawah tanah yang mengacu pada perencanaan Pemerintah Kota Surabaya mengenai pemanfaatan ruang bawah tanah di area pusat budaya Kawasan Balai Pemuda.
Metabolisme Apartement Peti Kemas
Jamal Abdul Nasir;
Josef Prijotomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (529.784 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26497
Hunian adalah sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Namun dewasa ini, hunian menjadi hal yang sangat mahal dan sulit didapatkan karena lahan yang terbatas dan pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat. Namun biaya untuk membeli sebuah unit hunian vertical juga tidaklah murah mengingat biaya yang dibutuhkan untuk membangunnya juga besar.Peti kemas adalah bahan yang mudah didapatkan didaerah kota kususnya di dekat pelabuhan. Peti-peti tersebut menjadi limbah yang besar dan menumpuk di suatu Negara terutama Negara berkembang yang kebanyakan mengekspor bahan mentah dan tingginya impor barang hasil produksi. Dengan adanuya dua masalah tersebut didapat solusi guna menanggulangi masalah tersebut yakni adanya apartement berkonsep modular berbahan peti kemas.
Perancangan Infrastruktur Pertanian dalam Konteks Perkotaan
Maria Fransisca Candra Yunita;
Collinthia Erwindi
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1083.712 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26505
Seiring dengan berkembangnya dunia dalam berbagai aspek, muncul beberapa isu dan permasalahan yang kompleks seperti overpopulasi, terorisme, krisis ekonomi global, dan lain sebagainya. Overpopulasi merupakan suatu keadaan dimana jumlah orang dalam suatu kelompok melebihi daya dukung dari wilayah yang ditempatinya. Permasalahan ini sudah mulai terlihat di berbagai kota-kota besar terutama yang terletak di negara berkembang dan menyebabkan tingkat kepadatan penduduk tinggi, kemacetan, polusi, dan lain-lain. Salah satu dampak terbesar dari overpopulasi adalah kaitannya dengan ketersediaan bahan pangan. Area pertanian di kota semakin berkurang, sedangkan jumlah penduduk dan permintaan bahan pangan mulai meningkat. Hal tersebut dapat mengakibatkan kenaikan harga bahan pokok karena terbatasnya atau kurangnya ketersediaan bahan pangan yang ada sehingga terpaksa mengimpor dari daerah lain. Oleh karena itu dibutuhkan inovasi terutama pada bidang pertanian skala kota untuk mengatasi permasalahan ini. Berdasarkan isu tersebut, muncul inovasi obyek arsitektural “Taman Pertanian Kota” yang berfungsi sebagai sarana infrastruktur penyedia bahan makanan sekaligus pendidikan teknologi pertanian. Metode yang digunakan dalam proses perancangan obyek ini adalah kontekstualisme dengan pendekatan secara ekologis.
Taman Vokasi : Pendidikan Tenaga Kerja dengan Konsep Dampak Lingkungan
Poppy Reza Hamanda;
Muhammad Faqih
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (490.318 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26508
Indonesia di tahun 2016 telah memasuki area MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang berpengaruh pada persaingan tenaga kerja. Namun, disisi lain masyarakat Indonesia sebagian besar belum siap untuk menghadapi MEA dikarenakan banyaknya penduduk Indonesia, tidak memiliki pekerjaan terutama di usia produktif yang dikarenakan kurang adanya keterampilan dalam diri, budaya pilih-pilih pekerjaan, dan lain sebagainya yang mengakibatkan kurang adanya percaya diri. Menurut Badan Pusat Statistik Kota Surabaya, menyebutkan bahwa masih banyaknya tingkat pengangguran yang menyebabkan berbagai dampak negatif, seperti kriminalitas, kejahatan, dan pergaulan bebas yang sebagian besar dilakukan oleh remaja hingga dewasa. Oleh karena itu, penulis mendukung adanya usaha dari pemerintah, yaitu dengan adanya pusat pelatihan kerja di kota Surabaya dan adanya daya dukung untuk mengurangi tekanan yang dimiliki oleh seorang penganggur, melalui segi arsitektural yaitu dengan menggunakan dukungan taman yang dapat mempengaruhi psikologis seseorang. Arsitektur berwawasan perilaku dengan pendekatan psikologis dan konsep dampak lingkungan, diharapkan dapat membantu untuk mengurangi bahkan menyelesaikan masalah yang ada dengan menggunakan metode penyelesaian masalah lingkungan yang menganalisis berbagai aspek yang mengacu pada masalah tersebut.
Penerapan Konsep Defensible Space Pada Hunian Vertikal
Ariq Amrizal Haqy;
Endrotomo Endrotomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (718.203 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26544
Hunian merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang paling mendasar. Kebutuhan akan hunian dan permasalahan keterbatasan lahan, maka mendorong pengembangan hunian vertikal. Namun hunian vertikal yang ada saat ini banyak memisahkan penghuninya dengan jalanan dan masyarakat sekitar yang berakibat interaksi dan keakraban menjadi mulai pudar. Interaksi sosial tersebut hakikatnya merupakan sebuah modal sosial untuk menjadi masyarakat produtif yang sejahtera. Disisi lain, masyarakat memilih untuk tinggal di hunian vertikan karena alasan privasi. Kebutuhan masyarakat yang fundamental, bertabrakan dengan keinginan individu di masa kini. Hal tersebut merupakan permasalahan yang terkait dengan arsitektur sebagai wadah aktifitas manusia. Sehingga konsep defensibel space akan diterapkan pada rancangan sehingga hunian dapat terbuka untuk umum tanpa mengorbankan privasi penghuninya. Empat unsur yang digunakan untuk mengaplikasikan defensible space yaitu territoriality, natural surveillance, dan image and milieu, untuk menciptakan safe area. Teori merancang ruang luar dari Yoshinobu Ashihara digunakan sebagai panduan untuk mengatur zona dan ruang sehingga menciptakan territoriality dan natural surveillance yang diharapkan. Akses visual penghuni menuju ruang luar, pengaturan zoning, dan kesan meruang pada bangunan merupakan poin utama. Sehingga fasilitas umum diletakkan pada bangunan agar dapat mengundang masyarakat luar untuk beraktifitas. Lalu bentuk lingkungan berupa setengah lingkaran dan disusun secara diagonal untuk memaksimalkan akses visual penghuni ke ruang luar dan mempertegas batas zona public dan privat tanpa mengahalangi secara fisik.
Bukit Duri Riverbank Green Settlement
Avinda Tasha Astree Vielandy;
F. X. Teddy Badai Samodra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (775.297 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26549
In urban areas like Jakarta, the rapid urbanization increases the high level of housing needs that leads to the emergence of slums. The way the governments solve this problem is seen as inhumane and not viable at all. The solution proposed by the government actually creates new slum problems. The objective of this project is to upgrade the riverbank slum into a green settlement with improved housing by implementing six principles of Green Architecture into the design. Field measurement and interview were conducted to obtain data for simulation using Ecotect Analysis and ANSYS Fluent software. The result emphasized that "respect for user" has a major role in achieving compatibility between user and environment.
Redesain Kawasan Akuatik Kebun Binatang Surabaya
Irviandy Setyanto;
Bambang Soemardiono
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (428.694 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26557
Kebun Binatang Surabaya merupakan kebun binatang kebanggaan masyarakat kota Surabaya. Beberapa tahun terakhir, Kebun Binatang Surabaya mendapat sorotan media publik dalam negeri maupun mancanegara akibat banyaknya hewan yang mati akibat kondisi kebun binatang yang memprihatinkan. Kondisi kandangyang tidak terawat, banyaknya hewan dalam satu kandang, dan sistem sirkulasi perawatan yang tidak teratur yang menjadikan faktor penyebab kematian hewan. Kota Surabaya yang merupakan daerah pesisir pantai mempunyai potensi untuk memaksimalkan aspek wisata yang mengangkat dalam bidang akuatik. Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang mempunyai rencana untuk mendesain ulang dan merenovasi beberapa titik kebun binatang Surabaya, diantaranya yaitu bagian Akuarium Kebun Binatang Surabaya dan lingkungan di sekitarnya. Dalam hal proses merancang, menggunakan metode Architectural Programming oleh Donna P. Duerk. Metode ini merupakan metode pemrograman arsitektur berbasis isu. Dengan isu yang diambil yaitu isu sirkulasi Kebun Binatang Surabaya. Perlu adanya penyegaran kembali Kebun Binatang Surabaya dengan melakukan desain ulang berdasarkan isu dan permasalahan yang ada. Dari isu dan permasalahan yang ada sehingga menghasilkan sebuah rancangan arsitektur yang juga diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan dan menghidupkan kembali geliat Kebun Binatang Surabaya sehingga menarik pengunjungagar datang kembali untuk menikmati pesona Kebun Binatang Surabayayang mulai pudar beberapa tahun belakang.
Teknologi Virtual Reality dalam Arsitektur sebagai Bentuk Penanganan Stres Masyarakat Perkotaan pada Masa Kini
Stephanie Febrianti Hidayat;
Josef Prijotomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (273.909 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26561
Seiring dengan perkembangan zaman, kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat perkotaan, seringkali menuntut mereka untuk mampu mengerjakan banyak hal dalam suatu waktu yang menyebabkan masyarakat rentan mengalami tekanan pikiran dalam hidupnya. Tekanan ikiran yang berkepanjangan akan menimbulkan stres yang berdampak kepada penurunan kinerja seseorang. Oleh sebab itu, diperlukan suatu kehadiran arsitektur sebagai buah pikiran manusia yang ideal, sehingga mampu mewadahi kegiatan penanganan stres yang sesuai dengan kondisi perkotaan masa kini. Layaknya buah pikiran, maka arsitektur hendaknya juga mampu mencitrakan pikiran yang sehat kepada manusia. Hal ini dilakukan untuk menyadarkan manusia bahwa sebenarnya kunci pengendalian pikiran mereka agar tidak rentan stres ialah dengan menyadari dan mengenali pikiran mereka sendiri. Dengan menggunakan bantuan teknologi masa kini, arsitektur, selain hendak diwujudkan sebagai bentuk inovasi didalam kegiatan merancang, juga hendak diwujudkan sebagai citra pikiran seseorang sesungguhnya yang bersifat tanpa batas.
Redesain Kebun Binatang Surabaya Dengan Pendekatan Biophilic
Jafni Zul Fahmi;
Asri Dinapradipta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1057.781 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26564
Surabaya memiliki potensi yang sangat baik pada salah satu tempat rekreasi yang merupakan asset pemerintah Surabaya saat ini. Industri pariwisata semakin berkembang dan semakin diminati. Kebun binatang merupakan objek wisata yang dapat dinikmati oleh masyarakat dari seluruh lapisan usia, selain itu kebun binatang adalah satu-satunya tempat di kota yang memberikan edukasi secara langsung untuk masyarakat mengenai keragaman satwa. Kebun binatang seharusnya bisa menjadi tempat wisata yang menajdi miniatur habitat asli hewan tersebut agar unsur edukasi dan konservasi dapat tercapai dengan maksimal Kebun Binatang Surabaya memiliki luas 15 hektar dengan koleksi satwa berjumlah 2176 dengan 130 jenis satwa. Beberapa dalam kondisi stres dan sakit yang disebabkan oleh kondisi kebun binatang yang kurang baik. Masalah yang ada diantaranya zonasi, sirkulasi ruang transisi, kelayakan kandang, dan fasilitas pendukung terlihat pada Kebun Binatang ini. Sampai saat ini Kebun Binatang terus mengalami problema di dalam konteks perkembangan kawasan seperti: perkembangan kota, polusi yang semakin meningkat, dan kepadatan serta aktifitas warga kota yang meningkat, untuk itu diperlukan upaya perbaikan atau redesain Kebun Binatang Surabaya dengan pendekatan biophilik yang menjadi acuan dalam pengembangannya, dan diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang ada pada Kebun Binatang Surabaya.