cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains dan Seni ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 2,279 Documents
Pemanfaatan Lahan Pasca Penambangan, Grasberg, Papua, Indonesia Ghina Rasyida Yasri; Erwin Sudarma
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.345 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26605

Abstract

Tidak dapat dipungkiri bahwa kegiatan penambangan di Indonesia memberikan banyak dampak yang positif maupun yang negatif pada lingkungan sekitarnya. Kerusakan lingkungan merupakan dampak negatif yang dapat terlihat secara fisik dan dirasakan secara non fisik. Hal seperti ini mengakibatkan lahan pasca penambangan menjadi tidak produktif lagi. Rehabilitasi lahan harus dilakukan agar lahan dapat dimanfaatkan lagi. Rehabilitasi merupakan salah satu solusi pemulihan lahan agar menjadi lebih bernilai tanpa harus dikembalikan pada bentuk awalnya. Lahan bekas Tambang Grasberg, Papua merupakan salah satu pertambangan di Indonesia yang harus di rehabilitasi dan dimanfaatkan untuk fasilitas lain yang lebih bermakna. Fasilitas edukasi salah satunya, pusat riset khusus pertambangan dengan pendekatan ekologis. Pusat riset ini sangat tepat karena konteks lokasi yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber ilmu. Pendekatan ekologis bertujuan agar bangunan arsitektural tidak menambah kerusakan lingkungan sekitar, melainkan membantu memperbaiki lingkungan sekitar.
Rancangan Taman Air Sungai Ciliwung pada Sempadan Sungai di Menteng, Jakarta Pusat Raey Monica Flamencya Saragih; Endrotomo Endrotomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (790.113 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26608

Abstract

Sungai Ciliwung Jakarta dalam sejarah merupakan kawasan yang digunakan untuk perdagangan. Tetapi, seiring berjalannya waktu, terjadi pergeseran yang membuat sungai Ciliwung menjadi kawasan yang ‘ditinggalkan’. Salah satu daerah tersebut yaitu Tugu Tani dijadikan sebagai lahan studi. Obyek desain menghadiri aktivitas untuk menghidupkan daerah setempat dengan menyediakan “Taman Air Sungai Ciliwung”. Desain dilakukan dengan mendekatkan obyek dan lahan eksisting yaitu sungai Ciliwung sehingga lahan studi dibagi menjadi dua kawasan yang mengapit sungai. Obyek rancang menggunakan metode perancangan ruang luar untuk mencapai tujuan dari desain bangunan yaitu kesatuan antara obyek dan lahan eksisting. Penggunaan metode menyesuaikan bentuk lahan eksisting dengan menambahkan materi baru yang didesain terbuka tanpa melepaskan kenyamanan pengunjung. Obyek desain menyediakan aktivitas rekreasi yang menggunakan elemen air dari sungai Ciliwung pada kawasan I dan aktivitas perdagangan sebagai sarana ekonomi untuk meningkatkan kualitas masyarakat setempat pada kawasan II. Kedua kawasan merupakan rancangan ruang luar yang dihubungkan dengan jembatan dan transportasi air pada sungai Ciliwung.
Sasana Beladiri Interaktif: Pamer Tarung Galang Parendra Wastudiawan; Vincentius Totok Noerwasito
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.282 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26632

Abstract

Beladiri sebagai salah satu olahraga yang mempunyai potensi menghasilkan prestasi kurang mendapat perhatian, termasuk dalam sisi fasilitas. Hal ini sebagai dampak tidak populernya olahraga tersebut. Kurangnya akses membuat pengetahuan masyarakat pada beladiri sangat kurang. Mereka masih melihat beladiri sebagai sebuah hal yang identik dengan kekerasan sehingga kurang diminati, padahal hakekat beladiri adalah untuk melindungi diri, bukan untuk kekerasan. Kurangnya minat menyebabkan proses regenerasi pada beladiri menjadi terhambat. Dengan menggunakan metode Rationalist Approach dan pendekatan perilaku, objek rancang bukan hanya memfasilitasi beladiri, namun juga mempunyai tujuan untuk merubah paradigma masyarakat. Objek rancang berupa sasana beladiri yang juga memiliki fungsi edukasi. Tempat latihan bagi atlet dapat diakses secara visual oleh masyarakat umum sehingga mereka bisa melihat kegiatan yang sebenarnya dari beladiri tersebut sehingga pola pikir tentang beladiri mereka bisa berubah. Kesadaran tentang beladiri masyarakat juga dimunculkan lewat bentukan yang ada. Sehingga objek desain bukan hanya mewadahi pelaku beladiri, namun dapat meningkatkan minat masyarakat untuk berpartisipasi aktif
Penerapan Metode Empati dalam Mendesain Terapi Anak Autis Menggunakan Dolphin Assisted Therapy Anastasya Putri Yusuf; Defry Agatha Ardianta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.86 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26663

Abstract

Dewasa ini banyak arsitektur yang tidak hanya menempatkan manusia saja sebagai subjek desainnya, melainkan juga hewan. Namun seringkali desain arsitektural hanya memperhatikan kebutuhan manusia saja, kurang mempertimbangkan perilaku hewan yang statusnya juga sebagai pengguna. Arsitektur seharusnya dapat berlaku adil kepada setiap subjek desainnya. Yang dimaksud dengan ‘adil’ adalah merancang dengan mempertimbangkan karakteristik setiap subjek desainnya lalu merangkumnya menjadi sebuah arsitektur yang tepat bagi setiap subjek di dalamnya. Dalam terapi anak autis menggunakan Dolphin Assisted Therapy (DAT), hewan tidak hanya menjadi objek namun juga subjek yang membantu kesembuhan pasien. Untuk mengakomodasi kebutuhan setiap pengguna dalam desain, digunakan metode Empati dimana perancang menempatkan diri sebagai user guna memahami perspektif ruang dari sudut pandang user. Hal ini dilakukan agar mengurangi subjektifitas perancang dalam mendesain dan guna menciptakan desain yang tepat bagi setiap user di dalam arsitektur tersebut.
Pengaplikasian Ekologi Arsitektur pada Perancangan Agrowisata Sapi Perah di Desa Ngroto, Pujon Zahra Amiratiara Salma; Collinthia Erwindi
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.913 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26669

Abstract

Pemenuhan kebutuhan susu sapi nasional saat ini masih belum terpenuhi oleh peternak lokal. Fenomena ini terjadi salah satunya karena tidak tersentralisasinya peternakan rakyat sehingga menyulitkan dalam segi manajemen dan produksi. Di sisi lain, Pujon, yang terletak di Kabupaten Malang merupakan salah satu pemasok susu sapi nasional mempunyai potensi untuk memenuhi kebutuhan nasional. Potensi lain dari Kecamatan Pujon adalah dari segi pariwisata. Terdapat banyak destinasi liburan di daerah Pujon sehingga potensi tersebut dapat dimanfaatkan. Metode ekologi arsitektur dipilih untuk rancangan ini karena pelestarian lingkungan menjadi salah satu tujuan utama dibuatnya sebuah ekowisata dan sekaligus untuk menjaga hubungan timbal balik antara peternakan dan lingkungan. Analisa terhadap site dilakukan sebagai dasar dari perancangan arsitektur ini, sehingga kebutuhan-kebutuhan khusus pada site dapat direspon dengan baik.
Reconnecting Jakarta : A Catalytic Public Space Raihana Putri Hutami; Purwanita Setijanti
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.088 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26692

Abstract

Urbanization has been a major global issue, especially in the 21st century. This rapid urbanization drives a massive amount of population movements to urban areas and its peripheries, and drastically increased urban density. Although it rises several values and strengthened local economic power, urbanization causes degradation on the spatial discourse. Most urban spaces nowadays are formed by economic-driven factors, and leaving the importance of social relations behind. Urbanization and economic growth in urban areas -- especially in nation’s capital like Jakarta -- resulting a high gap or inequality. The existence of kampong and the modern city reflects the spatial segregation and socio-economic disparities. This leads to social exclusion, where the urban poor are marginalized and alienated from their neighborhood. While the physical separation is inevitably seen, low intensity on social interaction is one of other form of restrictions. The proposed object is a mix function between an outdoor public space and community center, to create a social space that could triggers interaction between social classes and increases social relations. Using urban catalyst studies, this project tries to produce an activity generator. So that the economic-driven urban spaces are not seen as a boundary, but could functions as a social catalyst.
Teritorialitas: Kantor dan Apartemen sebagai Ruang Interaksi Feminisme Dewinna Farah Puspita; Angger Sukma Mahendra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.821 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26735

Abstract

Arsitektur hadir sebagai problem solving yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup bagi penggunanya. Menjadi makhluk sosial yang dikodratkan untuk bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain diartikan bahwa manusia selalu membutuhkan orang lain. Interaksi sosial secara langsung merupakan salah satu cara untuk membuat manusia saling terkoneksi satu sama lain. Dalam berinteraksi, manusia memiliki ruang personal masing-masing, salah satu faktor yang mempengaruhi besar maupun kecil dari jarak ruang personal adalah jenis kelamin. Gerakan feminisme menunjukkan kebutuhan ruang personal wanita yang lebih besar dari pria, namun dengan tidak mengesampingkan kebutuhan interaksi sosial sebagai makhluk sosial. Edward T. Hall menuliskan hubungan antara manusia dengan ruang, menurut beliau salah satu perasaan kita yang penting mengenai ruang adalah perasaan teritorial. Perasaan ini memenuhi kebutuhan dasar akan identitas diri, kenyamanan dan rasa aman pada pribadi manusia. Dengan menggunakan pendekatan feminisme dan teritorialitas objek dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup wanita serta dengan menggunakan metode rancang geometry as authorities.
Lansekap Sebagai Wadah Positif Kegiatan Dakwah Nurul Puji Astuti; Wawan Ardiyan Suryawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.839 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26773

Abstract

Ruang luar lansekap yang ada saat ini semisal taman kota yang berada disebuah daerah menjadi pemandangan umum bahwa banyak sekali ditemukan para pemuda melakukan kegiatan negatif seperti halnya pacaran . Ruang luar lansekap yang awalnya didesain agar menjadi kebaikan bagi sesama ini menjadi sebuah kerusakan ditengah masyarakat, karena yang terjadi nantinya adalah kerusakan moral di tengah masyarakat yang berdampak pada kelangsungan generasi kedepannya. Padahal pemuda adalah tonggak kehidupan kedepan. Oleh sebab itu adanya ruang luar lansekap yang belum terfungsikan dengan baik ini menjadi pelajaran bersama tentang bagaimana pengorganisasian sebuah ruang luar. Dakwah hadir sebagai pelengkap sebuah tatanan ruang luar lansekap di tengah masyarakat untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran. Sehingga, ruang luar  yang didesain sebagai fungsi paru paru kota dan menjadi area bersama ini bisa benar benar  dimanfaatkan dengan baik dan efektif. Maka perlu adanya pengorganisasian sebuah ruang luar lansekap. Pada kajian kali ini akan dibahaskan terkait desain ruang luar lansekap yang diorganisaikan sebagai wadah positif kegiatan dakwah dengan harapan bisa memperbaiki keadaan para pemuda maupun masyarakat pada umumnya agar tercipta keharmonisan dan kebaikan bersama ditengah tengah masyarakat.
Redesain Interior Studio Toha Bernuansa Homey dengan Pengaplikasian Teknologi dan Easy Maintenance Material Mutiara Hanifa; Aria Weny Anggraita
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.416 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26867

Abstract

Stasiun televisi adalah salah satu media informasi dan komunikasi yang digunakan di Indonesia. Salah satu sarana pada stasiun televisi adalah studio televisi. Studio televisi memiliki beberapa fasilitas-fasilitas pendukung didalamnya, seperti ruang make-up, wardrobe, control room, audio control room dan workshop. Fasilitas-fasilitas tersebut digunakan oleh pengguna dengan jangka waktu maksimal 6 x 24 jam. PT. Netmediatama sebagai salah satu stasiun televisi di Indonesia memiliki atau menyewa beberapa studio televisi, salah satunya adalah Studio Toha yang berada di kawasan Bintaro. Dalam meningkatkan produktivitas karyawan PT. Netmediatama, kenyamanan dalam beraktivitas pada studio televisi memiliki andil yang besar. Penerapan teknologi-teknologi yang sesuai dengan karakteristik pengguna juga dapat diaplikasikan untuk hiburan disela-sela aktivitas yang padat. Hal tersebut dapat mencegah pengguna merasakan tekanan akibat overwork. Studio Toha memiliki suasana interior yang cenderung gelap dan suram, material-material yang digunakan membutuhkan maintenance yang merepotkan, dan kurangnya teknologi di dalam interior Studio Toha yang menyesuaikan karakter penggunanya. Oleh karena itu, desain interior homey dan pengaplikasian teknologi diterapkan untuk mengurangi ketegangan suasana didalam Studio Toha. Konsep easy maintenance diterapkan untuk mempermudah pengelola dalam merawat fasilitas yang ada di Studio Toha. Pada penerapannya, karakteristik konsep homey yang diaplikasikan kedalam interior Studio Toha adalah warna hangat pada elemen interior serta peletakkan aksesoris interior seperti tanaman indoor, hiasan dinding, serta peletakan bantal pada sofa, sedangkan penerapan easy maintenance yaitu pada material finishing pada dinding, lantai, plafon dan bentukan furniture. Pengaplikasian Teknologi dalam interior Studio Toha adalah berupa sarana informasi yang menggunakan teknologi terbaru seperti media wall OLED dan pengaplikasian make- up virtual pada transparant mirror media OLED untuk mempermudah aktivitas pengguna di dalamnya. Maka, dengan diterapkannya konsep homey, easy maintenance dan Teknologi, produktivitas kerja pengguna yang ada di dalamnya meningkat karena berkurangnya dampak kepadatan aktivitas yang dilakukan oleh pengguna di dalam Studio Toha.
Resor Ekologis di Titik Nol Indonesia Ahmad Shiddiq Hambali; Ima Defiana
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.432 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26928

Abstract

Industri pariwisata merupakan kesempatan besar dalam pertukaran ekonomi dan budaya masyarakat. Indutri yang tidak mengandalkan sumber daya yang semakin berkurang, akan tetapi sebaliknya, untuk memajukan sektor pariwisata kita harus memelihara alam yang merupakan nilai jual utamanya. Indonesia dengan segala kekayaan alamnya memiliki potensi yang sangat besar untuk unggul dalam dunia pariwisata.   Salah satu tempat yang memiliki potensi tersebut berada di ujung Sumatera, tepatnya di Pulau Sabang. Pulau yang ditasbihkan sebagai Destinasi Pariwisata Nasional tersebut memiliki banyak sekali potensi alam untuk diekspos.   Namun, kurangnya fasilitas penunjang wisata menjadi suatu kendala yang harus diselesaikan. Padahal dengan dicanangkannya festival Yacht bertaraf Internasional disana, haruslah dibarengi dengan pembangunan sarana penunjang. Membangun resor dinilai menjadi pilihan yang sangat tepat karena selain digunakan sebagai tempat menginap, resor juga dapat dimanfaatkan lebih luas sebagai ikon sekaligus sarana pengenalan wisata dan budaya setempat. Resor yang didesain dengan pendekatan ekologis agar tidak merusak lingkungan serta memaksimalkan potensi alam yang ada di Pulau Sabang.