Articles
2,279 Documents
Mengaburkan Batas dan Orientasi dalam Susunan Program Ruang di KBRI Singapura
Hera Monica;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (651.555 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26336
Desain pada bangunan kedutaan memberikan sebuah perhatian kepada beberapa aspek, salah satunya adalah aspek keamanan. Dari sudut pandang arsitektur, keamanan sering kali direpresentasikan dalam wujud pengolahan batas. Batas tersebut menjadikan desain kedutaan mempunyai karakter desain yang khas. Namun desain khas yang mengamankan tersebut seringkali memudahkan orang dalam mengenal pola susunan tempat (mudah ditebak hierarkinya). Hal ini membuat pengamanan kasat mata maupun tidak kasat mata, harus ekstra keras dalam menjalankan tugas mereka untuk mengamankan kedutaan. Salah satu cara merancang desain kedutaan yang tetap memenuhi aspek keamanan adalah menghadirkan susunan bentuk acak dalam mengaburkan orientasi. Hal ini juga sejalan dengan representasi sebuah kedutaan Indonesia yang terkesan ramah terhadap negara lain. Maka diusulkan sebuah rancangan kedutaan berkonsep Chaos, dengan menggunakan metode Surrealist Devices sebagai parameter dalam mengacak. Rancangan kedutaan yang berada di Singapura tersebut, menghasilkan tiga massa yang terlihat menyatu. Pola bentuk pada bangunan maupun lanskapnya ditata distorsi, yang diharapkan mampu mendistraksi orang yang berada di sekitar kedutaan tersebut.
Pendekatan Arsitektur Hijau pada Rancangan Kampung Wisata Budaya Tengger
Ainiyah Intan Permatasari;
Wawan Ardiyan Suryawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (745.079 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26343
Salah satu wujud kebudayaan berupa aktivitas yang bisa dikatakan hampir punah ialah kebudayaan yang dilakukan oleh suku Tengger. Di sisi lain, Gunung Bromo memiliki keindahan alam yang luar biasa dikenal hingga mancanegara. Sebagai suku yang tinggal di kawasan wisata, masyarakat Tengger harus mampu memanfaatkan sektor pariwisata untuk melestarikan kebudayaan serta mengembangkan perekonomian mereka di bidang tersebut. Konsep kampung wisata budaya dipilih untuk dapat mengatasi isu tersebut. Kampung berfungsi untuk lebih mendekatkan masyarakat asli suku Tengger dengan wisatawan. Adanya kampung wisata budaya ini diharapkan agar warga dapat melestarikan kebudayaannya dengan nyaman dan wisatawan dapat belajar, melihat, dan merasakan langsung kebudayaan tersebut karena mereka bisa hidup berdampingan dengan penduduk asli Tengger. Pendekatan Arsitektur Hijau dipilih untuk lebih memperhatikan kondisi eksisting tapak serta masyarakat Tengger sebagai user.
Redesain Ruang Publik di Tepi Sungai Winongo dengan Konsep Landscape as Architecture
Amalina Budiati;
Rabbani Kharismawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26347
Ruang terbuka juga menjadi salah satu kunci keberhasilan sebuah kota untuk memfasilitasi kehidupan warganya agar seimbang dan peduli dengan lingkungannya, contohnya seperti taman dan sentra kuliner. Sungai merupakan salah satu sumber kehidupan dan fasilitas bagi sebuah kota, dan ruang terbuka yang dapat diakses oleh banyak orang di sebuah kawasan. Dari kedua hal yang berpotensi di atas, maka redesain ruang publik akan lebih menarik bila direncanakan secara kontekstual dan mengangkat kekayaan alam atau budaya yang ada di sekitarnya, salah satunya bentang alam sungai, sehingga ruang publik ini menjadi lebih khusus dan tidak akan ditemukan di daerah lain. Ruang publik ini menggunakan prinsip yang sama, yaitu mendesain ulang programnya dengan beberapa evaluasi, menggunakan pendekatan lansekap dan konsep landscape as architecture. Di dalamnya, ruang publik ini berisi museum dan pusat informasi versi mini yang dapat memberitahu pengunjung mengenai sejarah Sungai Winongo, keadaan terkini Sungai Winongo, dan taman air yang menjadi sarana belajar langsung bagi masyarakat untuk bisa belajar mengoptimalkan kawasan di tepi sungai dan membudidayakan air. Agar selanjutnya masyarakat dapat memanfaatkan air dan sungai secara optimal dan bijaksana.
Pengaturan Sirkulasi Stasiun Sudirman dengan Konsep "Flow"
Debrilian Easther Magdalena;
Defry Agatha Ardianta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (451.218 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26355
Ruang publik merupakan sebuah ruang bagi warga untuk melakukan interaksi sosial yang harus dimiliki setiap kota yang secara tidak langsung menjadi cermin akan kualitas dari kota itu sendiri. Kota Jakarta dikenal dengan kepadatan penduduk dan mobilitas penduduk yang tinggi dengan penggunaan transportasi kereta sebagai transportasi utama warga kota Jakarta. Stasiun Sudirman adalah salah satu contoh ruang publik tempat meraih penggunaan jasa transportasi commuter-line untuk berpindah tempat sesuai tujuannya. Namun kualitasnya sebagai ruang publik menurun karena kepadatan sirkulasi pengguna dan fasilitas didalamnya yang kurang menarik. Artikel ini akan membahas tentang penerapan konsep flow melakukan redesain terhadap kualitas sirkulasi di Stasiun Sudirman Jakarta denngan tujuan untuk menjawab permasalahan stasiun dengan membuat alur sirkulasi yang terus-menerus dan menghasilkan interaksi antar pengguna, bangunan, dan sekitar.
Arsitektur dalam Penanganan Ketergantungan Narkotika dengan Pendekatan Biophilic
Kusmira Okvi Karenza;
Rullan Nirwansjah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (534.979 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26359
Penyebaran narkoba tiap tahun semakin meningkat dan telah merusak bebagai kalangan. Akan tetapi proses pengobatan yang dilakukan seringkali tidak memperhatikan faktor lingkungan dan kebutuhan manusia. Proses rehabilitasi pengguna narkoba memerlukan tempat serta lingkungan yang dapat mengurangi penggunaan narkoba secara bertahap hingga sepenuhnya terlepas. Arsitektur dari tempat rehabilitasi sejatinya melebur dalam proses rehabilitasi itu sendiri. Arsitektur digunakan sebagai media dalam rehabilitasi, sehingga implementasi arsitektur dapat menyentuh tidak hanya fisik namun juga psikis manusia yang menempatinya. Pendekatan biophilic mengaplikasikan desain yang memuat elemen alam untuk meningkatkan kualitas hidup, di dalamnya melibatkan kesehatan dan kesejahteraan fisiologis maupun psikologis manusia. Diharapkan konsep arsitektur ini dapat membantu proses rehabilitasi pengguna narkoba menjadi lebih efektif dan efisien.
Sistem Arsitektur Berwawasan Lingkungan
Rochadi Mahala Lita Sakti;
Johanes Krisdianto
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (328.777 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26398
Dewasa ini semakin meningkatnya angka kejahatan seksual terhadap anak mengakibatkan timbulnya rasa tertekan tidak percaya diri. Beberapa dampaknya seperti penyalahgunaan konsepsi lingkungan yang besar, jangka panjang, fisik maupun mental pada anak-anak. Studi ilmiah dan observasi lapangan di Surabaya, Jawa Timur menunjukkan tingginya tingkat kekerasan seksual terhadap anak-anak di berbagai lapisan dari anak-anak dan orang dewasa. Meskipun studi yang sangat heterogen, terdapat berkorelasi pelecehan pada tingkat yang berbeda. Trauma adalah peristiwa dramatis dalam kehidupan yang mengancam kehidupan kesehatan atau bahkan ego individu yang bersangkutan. Efek terburuk trauma membuat korbannya menderita Post Traumatic Stress Disorder PTSD yang merupakan kondisi stres pasca trauma akibat pengalaman yang mengerikan baik fisik fisiologis atau kombinasi keduanya. Arsitektur berwawasan lingkungan dengan pendekatan arsitektur perilaku, diharapkan menjadikan sosok arsitektur yang unik dan didukung penggunaan elemen arsitektur yang sesaui dengan uraian isu yang diangkat.
Metode Hybrid dalam Perancangan Terminal Kampung Melayu Jatinegara, Jakarta Timur
Muhammad Nuril Ardan;
Angger Sukma Mahendra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (545.155 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26453
Kota dengan segala perkembangannya menarik orang dengan segala etnis, suku dan budayanya untuk hijrah dari desa ke kota. Hal ini menjadikan komposisi kota semakin heterogen dan beragam. Heterogenitas inilah yang kemudian secara tidak langsung menciptakan “batasan” (red. Segregasi) antar kelompok tertentu (dalam hal ini etnis) dalam kawasan perkotaan. dan hal ini pula yang memungkinkan terjadinya konflik perkotaan. Heterogenitas perkotaan perlu di biaskan (red. Agregasi). Agar kota tetap kondusif dengan segala kompleksitasnya. Dengan menggunakan pendekatan ruang dan aktivitas manusia yang beragam karakteristik etnis, diharapakan batasan-batasan tersebut akan terbiaskan. Melalui arsitektur yang berorientasi pada penyelesaian permsalahan sosial, perancangan pasar dan terminal sebagai ruang interaksi di masyarakat menjadi bagian dari respons segregasi. Dengan pendekatan agregasi dan penyelesaian melalui metode hybrid, rancangan arsitektur diupayakan menjadi rancangan yang interaktive dan bermanfaat
Ruang Pemberdayaan Anak Jalanan
Ibda Zhurifah Qurrotaa'yun;
Purwanita Setijanti
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (434.917 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26455
Tingkat arus urbanisasi di Surabaya semakin meningkat tiap tahunnya. Hal tersebut didukung dengan meningkatnya jumlah kaum marjinal. Anak jalanan merupakan salah satu bentuk dari adanya kaum marjinal yang dipercaya setiap tahunnya semakin meningkat. Kebanyakan dari mereka sudah putus sekolah karena faktor ekonomi dan keluarga. Untuk itu, dibutuhkan wadah yang dapat memberdayakan mereka agar mereka mendapatkan haknya kembali. Dengan menggabungkan beberapa unsur arsitektural dan non-arsitektural seperti bentuk ruangan dan perilaku anak jalanan, maka terciptalah suatu desain yang dapat membantu anak jalanan dalam memenuhi kebutuhannya agar tidak kembali lagi ke jalanan. Hasil akhir dari pengguna bangunan yang di desain pada tugas akhir ini adalah agar anak dapat mendapatkan hak untuk mengenyam bangku pendidikan kembali dan juga agar anak tersebut dapat memiliki suatu bekal keahlian yang berguna bagi hidupnya kelak. Maka dari itu, digunakanlah konsep ruang yang fleksibel penggunaannya dengan menggunakan metode Fleksibilitas Arsitektur.
Kontekstualisme pada Pusat Pelatihan Search and Rescue
Dinda Miftakhul Roisyah;
Hari Purnomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (505.553 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26461
Bencana tidak dapat dihindari. Hal ini tentunya menjadi salah satu isu penting di setiap negara, termasuk Indonesia. Selain itu, bencana tidak lepas dari kerugian - semakin cepat ditangani akan semakin kecil kerugian yang ditimbulkan. Maka dari itu tindakan penanggulangan bencana memegang peranan kunci dalam menghadapi bencana. Badan SAR Nasional (BASARNAS) merupakan tim yang berperan atau bertugas dalam menangani kasus sehubungan bencana, musibah, kecelakaan, dan lainnya. Penanganan ini tentunya membutuhkan skill tertentu yang didapatkan dari serangkaian pelatihan terkait. Fasilitas wadah pelatihan ini diharapkan mampu memberikan fungsi terbaik, yakni dengan merancang sesuai dengan konteks, dalam hal ini fenomena alam dan lingkungan sekitar. Sehingga fasilitas ini menghadirkan suasana yang menyerupai kondisi alam yang menjadi fokusan dari pelatihan.
Arsitektur berdasarkan Perubahan Aktivitas dan Waktu
Fairuuz Syafiqoh Firdausi;
Endy Yudho Prasetyo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (542.472 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26483
Ruang merupakan elemen yang sangat penting dalam arsitektur. Ruang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia baik secara psikologis emosional (persepsi), maupun dimensional. Manusia berada dalam ruang, bergerak serta menghayati, dan melakukan aktivitas atau kegiatan yang dikehendakinya. Ruang dalam arsitektur dan aktivitas memiliki keterkaitan yang erat, dimana ruang dapat tercipta melalui aktivitas manusia yang berada di dalamnya. Namun tanpa kita sadari kekosongan dari suatu ruang pada suatu waktu karena tidak adanya aktivitas di dalamnya membuat ruang tersebut menjadi tidak bermakna. Kekosongan tersebut merupakan suatu hal yang biasa terjadi dan diabaikan. Arsitektur pada hakekatnya harus mampu menjawab permasalahan ini. Sehingga efisiensi ruang menjadi suatu hal yang penting. Dengan adanya sebuah perubahan aktivitas yang terjadi di tiap waktunya maka kekosongan ruang tidak lagi terjadi. Maka konfigurasi dan hubungan antar ruang merupakan hal utama yang akan di bahas pada objek arsitektur ini.