cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains dan Seni ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 2,279 Documents
Penerapan Threshold Theory dalam Perancangan Ruang Antara Hunian Masyarakat dan Pusat Perbelanjaan Mutia Sulistiastuti; Johanes Krisdianto
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69432

Abstract

Salah satu cara untuk mengembalikan keterikatan antara bangunan dengan konteksnya adalah dengan memunculkan sebuah ruang antara yang dapat menjadi penampung aktivitas baru sekaligus menjadi penggabung beberapa kebutuhan yang ada. Threshold space di sini akan menjadi sebuah respon yang dapat mengolah ruang antara kedua bangunan yang terlepas dari konteksnya, dalam kasus ini adalah bangunan tiplogi perumahan dan pusat perbelanjaan. Perbedaan Threshold space berbeda dengan ruang antara lainnya adalah memiliki kriteria spesifik yang disebutkan di dalam buku Till Boettger yang berjudul Threshold Space, diantaranya counterbalancing pair of opposites, phases and organization, dan essence and potential. Dari ketiga kriteria yang didapatkan dari pendekatan threshold tersebut akan dieksplorasi kembali elemen arsitektural apa saja yang akan dipengaruhi kriteria-kriteria tersebut. Lalu diaplikasikan ke dalam ruang antara yang sudah terpilih.
Penerapan Sosio-Ekonomi dalam Eksplorasi Perancangan Hunian Industri Tahu Recha Fryza Nur Anjani; Fardilla Rizqiyah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69468

Abstract

Hunian yang awalnya sebagai tempat beristirahat kini berkembang untuk mewadahi aktivitas ekonomi sebagai bentuk dari usaha masyarakat dalam menunjang kesejahteraan ekonominya. Penambahan fungsi pada hunian yang juga digunakan sebagai tempat bekerja mengakibatkan perubahan ruang pada hunian tersebut. Kampung Tahu merupakan salah satu kampung di Kota Kediri yang penduduknya memiliki usaha tahu rumahan secara turun temurun. Penataan ruang pada sebuah hunian yang didalamnya terdapat fungsi sebagai industri tahu menjadi hal yang penting untuk keberlanjutan dari industri itu sendiri. Teori dasar sosio-ekonomi digunakan sebagai pendekatan dalam eksplorasi perancangan ini untuk membantu mengetahui aktivitas sosial dan aktivitas ekonomi yang terjadi pada Kampung Tahu. Tulisan ini diharapkan mampu memberikan gambaran alternatif eksplorasi pada tatanan ruang suatu hunian yang berimbang dengan industri tahu.
Pondok Pesantren dengan Konsep Home sebagai Respon dari Perilaku Remaja Hanifatul Maghfiroh; Sarah Cahyadini
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69504

Abstract

Setiap Kota memiliki tagline mereka masing–masing. Salah satunya adalah Kabupaten Jombang yang memiliki tagline “Kota Santri”. Sebagai Kabupaten yang memiliki tagline tersebut, keberadaan pondok pesantren di Jombang patut untuk disoroti. Pondok pesantren idealnya bertujuan untuk memperdalam ilmu agama dan juga menciptakan generasi berakhlak baik. Namun, kondisi ini bertolak belakang dengan fenomena yang ada. Terdapat permasalahan–permasalahan yang dihadapai santri selama tinggal di pesantren yang mendorongnya untuk melakukan perilaku buruk di tengah usia mereka. Alasan mengapa para santri melakukan pelanggaran dan perilaku buruk tersebut didominasi karena faktor kenyamanan dan dapat digolongkan pada aspek sosial, personal serta lingkungan fisik berdasarkan penyebabnya. Alasan lain adalah tidak adanya wadah bagi mereka untuk mengaktualisasi diri masing–masing. Teori konsep home dan pendekatan arsitektur perilaku digunakan sebagai indikator pemenuhan kebutuhan terkait personal, sosial, maupun kebutuhan secara fisik yang terkait dengan fungsi bangunan. Metode perancangan menggunakan tahapan pada force based framework dengan melihat konteks wilayah yang dihubungkan dengan konsep home serta pemberian aspek lokalitas dan Islami untuk menghasilkan kriteria desain yang sesuai. Kriteria tersebut bertujuan untuk menciptakan lingkungan pesantren yang memberikan kenyamanan fisik maupun psikologis dan dapat mendorong para santri yang berada di fase remaja untuk mengaktualisasikan diri mereka dengan baik serta meminimalisir perilaku buruk di lingkungan pesantren. Penataan lahan secara keseluruhan menggunakan hierarki rumah Jawa karena rumah Jawa memiliki pembagian ruang – ruang privat dan publik yang jelas. Selain itu tampilan massa juga menggunakan hierarki atap rumah Jawa untuk memberikan kesan familiar pada santri. Selain diterapkan pada lahan, aspek–aspek pada konsep home yang terdiri dari haven, order, identity, connectedness, warmth dan physical suitability juga diterapkan pada beberapa bagian dari massa bangunan untuk memberikan kualitas suasana yang nyaman layaknya “rumah” di lingkungan pesantren.
Eksplorasi Bentuk Bangunan Local Women’s Opportunity Center dengan Konsep Gender Sensitive Raras Sela; Fardilla Rizqiyah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69603

Abstract

Pengarusutamaan gender telah menjadi salah satu gol pada Sustainable Development Goals (SDGs) oleh PBB. Akan tetapi wanita masih banyak menerima diskriminasi. Indonesia sendiri menghadapi tiga isu utama terkait dengan wanita, yaitu kesenjangan upah berdasarkan gender, kekerasan terhadap perempuan, dan rendahnya tingkat kepercayaan diri. Ketiga isu seringkali dihadapi bersamaan oleh wanita, terutama dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Dalam lingkup arsitektural, wanita juga menghadapi diskriminasi dari desain lingkungan perkotaan di sekitarnya yang tidak ramah terhadap kebutuhan mereka sehingga wanita menghindari untuk beraktivitas di fasilitas publik. Salah satu konsep desain yang menempatkan wanita sebagai sentral rancangan adalah gender sensitive urban planning. Sebuah local women’s opportunity center dirancang dengan pendekatan gender sensitive design untuk merumuskan eksplorasi bentuknya.
Translasi Positive Distraction pada Arsitektur: Eksplorasi Ruang melalui Suasana Nostalgia akan Memori Rumah Pohon Isyana Gita Prameswari; Iwan Adi Indrawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69695

Abstract

Penerapan positive distraction dalam arsitektur dilakukan sebagai sebuah strategi untuk mengalihkan individu dari emosi negatif yang dialami. Pada teorinya, penggunaan elemen alam ditekankan sebagai cara yang efektif digunakan untuk menghadirkan positive distraction. Sebuah hipotesa kemudian diturunkan bahwa elemen alam bukanlah satu-satunya cara untuk menghadirkan positive distraction. Dengan pembentukan atmosfer spasial dan sequencing yang digunakan sebagai metode desain, positive distraction dihadirkan melalui suasana yang tebentuk dalam suatu rangkaian pengalaman dalam ruang dan pergerakan yang menggambarkan suasana nostalgia akan memori masa kanak-kanak sebagai suatu bentuk positive distraction bagi para emerging adults. Eksplorasi terhadap karakteristik rumah pohon dan pembangkitan emosi positif dari memori masa kanak-kanak dilakukan pada pembentukan suasana nostalgia. Ketika emerging adults menjadi rentan terhadap quarter life crisis yang mendatangkan kecemasan, ketakutan, dan keraguan diri mengenai masa depan, nostalgia akan memori masa kanak-kanak dapat memberikan sebuah pelarian dengan kenyamanan dan kehangatan yang ditawarkan didalamnya. Pada penerapannya, positive distraction yang dihadirkan melalui pembentukan suasana didukung oleh penggunaan elemen alam yang diintegrasikan dengan konsep memori rumah pohon.
Karakter Hutan Hujan Tropis sebagai Sumber Analogi dalam Penciptaan Multisensory Space Experience Alyssa Jane Khadijah; Iwan Adi Indrawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69696

Abstract

Multisensory space experience yang diartikan sebagai pengalaman ruang melibatkan banyak indra, merupakan sebuah respon dari fenomena ocularcentrism – peristiwa pengistimewaan indra penglihatan dibandingkan indra lainnya – dalam arsitektur yang mengakibatkan arsitektur tidak lagi menjadi pengalaman yang menggugah kehidupan. Hutan hujan tropis memiliki atmosfir ruang yang dapat dirasakan melalui pengalaman sensoris, dimana hal tersebut menjadikan karakter lingkungan hutan hujan tropis kemudian diadaptasi sebagai karakter kualitas ruang dari multisensory space experience karena selaras dengan tujuan utama rancangan. Untuk mencapai proposisi tersebut, analogi sebagai metode desain digunakan untuk mencapai asosiasi antara karakter hutan hujan tropis (sumber) dan ranah arsitektur (target) yang memungkinkan melalui pembentukan relasi atau representasi. Analogi bekerja dengan mengambil elemen fundamental dari ide dasar konsep kualitas ruang yang ingin dikonstruksi, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa formal arsitektur (form making). Dalam rancangan pemandian air panas, keberhasilan translasi ide terletak pada kualitas kontras cahaya dalam ruang, pengalaman ragam aroma hutan, kualitas penghawaan serta pengalaman menyentuh ragam tekstur dalam ruang, medan dalam rancangan (ragam elevasi ruang) yang menyerupai pengalaman ketika menyusuri hutan.
Rancangan Gereja Setelah Pandemi COVID-19 dengan Pendekatan Regionalisme dan Sakralisme Hana Ardina Putri Pakiding; Johanes Krisdianto
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69702

Abstract

Pandemi COVID-19 telah membawa banyak perubahan terhadap berbagai kegiatan masyarakat. Ruang publik termasuk mendapat dampak terbesar dari kondisi ini, tidak terkecuali tempat ibadah. Gereja sebagai salah satu tempat ibadah, tidak bisa melaksanakan aktivitasnya seperti semula, meskipun sudah diberlakukannya new normal. Selain itu, jenis gereja yang dipilih memiliki karakteristik Jawa Timur yakni Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW). GKJW tidak hanya memiliki karakter Jawa, namun lebih dari itu, GKJW memiliki banyak kegiatan jemaat sebagai perwujudan imannya. Namun, pandemi membuat GKJW tidak bisa melaksanakan aktivitasnya seperti semula. Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan suatu respon arsitektural yang dapat mewadahi aktivitas gereja dalam berbagai kondisi, khususnya dalam hal ini adalah kondisi pandemi. Perancangan ini menggunakan pendekatan regionalisme dan sakralisme untuk membantu mengidentifikasi dan menentukan elemen-elemen perancangan. Metode yang digunakan adalah pengambilan esensi penting dari kedua kondisi yakni gereja dan pandemi yang kemudian saling dipadukan untuk mencapai satu kesatuan desain yang baru.
Arsitektur dan Sampah: Tempat Pengolahan Sampah Khusus Sampah Plastik Berbasis Wisata Edukasi Akhmad Raihan Fadhila; Wawan Ardiyan Suryawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69942

Abstract

Permasalahan Sampah sudah sering sekali terdengar dikalangan masyarakat Jakarta. Tak bisa dipungkiri lagi bahwa Jakarta merupakan salah satu provinsi yang menjadi penyumbang sampah terutama sampah plastik terbanyak di Negara Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistik, Jakarta memegang rekor peringkat kedua provinsi terbanyak produksi sampahnya setelah kota Surabaya. Apabila sampah ini dibiarkan saja untuk menumpuk maka dapat berdampak ke segala aspek mulai dari kebersihan lingkungan hingga ke bencana alam. Salah satu cara yang pemerintah lakukan adalah dengan memindahkan tumpukan-tumpukan sampah dari daerah DKI Jakarta ke daerah luar yakni di Tempat Pemrosesan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang. Namun ternyata karena hanya mengandalkan satu tempat saja diperkirakan bahwa dalam 2 tahun lagi bantar gebang akan mengalami overload sampah dan tidak bisa menampung sampah lagi. Sehingga pemerintah gencar-gencar membuat alternatif TPA. Daerah yang dipilih sebagai lokasi objek rancang adalah Jakarta Timur dikarenakan jakarta timur merupakan kota di DKI Jakarta yang paling banyak memproduksi sampah. dalam pembuatan tempat pengolahan sampah di daerah Perkotaan dikaenakan masih adanya paradigma buruk masyarakat terhadap sampah dan tempat pembuangannya pastinya ada beberapa aspek lain yang harus dipikirkan seperti bagaimana cara beradaptasi terhadap keadaan DKI Jakarta terutama Jakarta Timur yang berbentuk perkotaan. lalu juga memikirkan aspek lingkungan agar dampak yang diberikan tidak lagi menjadi sesuatu yang negatif. Dengan Pendekatan Arsitektur Berkelanjutan dan metode Green Architecture diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan sampah dan juga tidak memberikan dampah negatif terhadap sekitar lahan.
Konsep Play Experience untuk Perancangan Hunian Vertikal Ramah Anak Anggita Arief Febriandia; Arina Hayati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.70020

Abstract

Rumah susun sewa (rusunawa) merupakan salah satu solusi permasalahan padatnya pemukiman penduduk serta akses kebutuhan hunian yang terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Namun, pada kenyataannya, bangunan rusunawa masih kerap memunculkan dampak negatif, baik yang berkaitan dengan kualitas fisik hunian serta interaksi sosial di dalamnya. Salah satu kelompok penghuni yang seringkali dilupakan adalah anak-anak. Usia anak adalah usia di mana seseorang sedang dalam tahap mempelajari serta menemukan hal-hal baru, sekaligus merupakan masa paling sensitif dan penting yang mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya mental dan fisik anak di lingkungannya. Anak-anak membutuhkan ruang yang dapat mewadahi segala aktivitas mereka sesuai dengan kebutuhan dan perilaku alami mereka. Sementara itu, sebagian besar rusunawa masih dirancang untuk kebutuhan penghuni dewasa dan kurang memberikan berbagai fasilitas yang aman dan nyaman untuk anak-anak dan remaja. Untuk mendukung konsep understanding children dalam desain sebuah rumah susun, maka digunakan pendekatan fenomenologi dalam lingkup children experience, khususnya dalam konteks anak-anak dari keluarga low-income. Solusi dihadirkan melalui elemen arsitektur dan penataan massa bangunan yang menghasilkan koridor jalan dengan banyak ruang-ruang kejutan. Pada lantai 2 dan 3, ruang bersama dihadirkan melalui shared spaces yang dibagi menjadi 3 jenis ruang dengan karakter yang berbeda untuk anak-anak, remaja, dan juga dewasa.
Arsitektur Inklusif Sebagai Pendekatan pada Perancangan Pusat Pelatihan dan Pengembangan Keterampilan Tuna Daksa Aulia Syadza Salsabila; Fardilla Rizqiyah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.70164

Abstract

Minimnya perhatian kepada kelompok difabel tuna daksa adalah hal paling umum yang dapat ditemui di masyarakat. Salah satu bentuk minim perhatian tersebut adalah dari banyaknya fasilitas umum yang ada tampak tidak ramah bagi kelompok tuna daksa. Sulitnya akses dan minimnya ruang gerak cenderung membatasi kesempatan mereka untuk berpartisipasi karena faktor ketidaknyamanan. Ada banyak fasilitas yang tersedia dalam lingkungan masyarakat umum, salah satu diantaranya adalah pelatihan pengembangan keterampilan. Di Kota Madiun, partisipasi dari kelompok tuna daksa dapat dikatakan kurang karena faktor hambatan arsitektural yang telah disebutkan sebelumnya adalah hal yang paling terlihat. Melalui pendekatan arsitektur inklusif, perancangan pusat pelatihan dan pengembangan keterampilan tuna daksa di Kota Madiun ini akan menghadirkan sebuah kebebasan akses untuk kelompok tuna daksa, sehingga harapannya mereka dapat mengeksplor sebanyak mungkin baik dalam konteks lingkungan ataupun kemampuan yang mereka miliki.