cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains dan Seni ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 2,279 Documents
Uji Efektivitas Formulasi Bioinsektisida Ekstrak Daun Waru (Hibiscus tiliaceus) terhadap Larva Spodoptera litura F. Nurlaily Alviani Kristanti; Kristanti Indah Purwani
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.62860

Abstract

Tumbuhan Waru (Hibiscus tiliaceus) merupakan salah satu tumbuhan yang memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder seperti saponin, alkaloid, flavonoid sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bioinsektisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas formulasi bioinsektisida cair dari bahan aktif daun waru terhadap larva Spodoptera litura F. Metode yang digunakan untuk ekstraksi daun waru yang didapatkan dari kampus ITS Surabaya adalah metode maserasi dengan etanol 96%. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 pengulangan yang terdiri dari konsentrasi ekstrak 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, dan 90% menggunakan metode celup daun pada uji pendahuluan, sedangkan pada uji lanjutan menggunakan metode oles daun dengan konsentrasi 0%, 35%, 40%, 45%, 50%, dan 55%. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan ANOVA one way dengan uji lanjutan Duncan dan nilai LC50 dianalisis dengan analisis probit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi bioinsektisida cair ekstrak daun waru berpengaruh terhadap serangan larva Spodoptera litura pada tanaman pakcoy dengan konsentrasi yang paling efektif adalah konsentrasi ekstrak 45%. Ciri-ciri larva mati akibat pemaparan bioinsektisida adalah tubuh larva mengeras, berwarna cokelat sampai kehitaman, dan tubuh mengkerut.
Studi Literatur Tentang Teknik Liofilisasi untuk Preservasi Bakteri Shifa Syafira Rachmat; Maya Shovitri
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.62855

Abstract

Liofilisasi adalah teknik konservasi dengan proses sublimasi cepat dalam kondisi vakum yang dapat diterapkan untuk produksi biofertilizer komersial. Liofilisasi menghasilkan produk bakteri kering yang stabil secara struktur, viabilitas bakteri yang tinggi pada penyimpanan lama dan mudah ditransportasikan. Salah satu tahapan penting dalam liofilisasi adalah kultur bakteri dan agen lioprotektan yang menjaga viabilitas sel selama penyimpanan. Tujuan studi literatur ini adalah untuk mencari medium pertumbuhan alternatif yang ekonomis, serta mencari agen lioprotektan terbaik. Data dari jurnal, prosiding dan laporan penelitian, disusun dan dianalisis secara deskriptif. Hasil studi literatur menunjukkan bahwa lentil hitam (Vigna mungo), kacang hijau (Vigna radiata), splitpea yellow (Pisum sativum), kacang tunggak (Vigna unguiculata), ubi kuning (Ipomea batatas) dan ubi ungu (Dioscorea alata) mampu menjadi medium alternatif sumber nutrisi. Jumlah pertumbuhan bakteri di medium tersebut lebih banyak daripada medium paten nutrient broth dan nutrient agar. Sedangkan agen lioprotektan terbaik adalah sukrosa 5-10% dan skim milk 10-20% untuk sel tidak terimobilisasi atau skim milk 6-10% untuk sel terimobilisasi.
Perancangan Pusat Rehabilitasi bagi Pecandu Narkotika dengan Konsep Arsitektur sebagai Terapi Muhammad Ali; Andy Mappa Jaya
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.72234

Abstract

Penanganan bagi pecandu narkotika di Indonesia meliputi rehabilitasi secara medis maupun sosial. Namun dalam beberapa kasus, terdapat pecandu narkotika yang telah melalui masa rehabilitasi kembali menggunakan narkotika. Peristiwa ini menjadi sebuah evaluasi apakah proses rehabilitasi yang ada tidak berhasil untuk menangani permasalahan ini. Fasilitas rehabilitasi yang dulunya dianggap sebatas wadah mencoba untuk ditingkatkan sehingga dapat memberikan dampak bagi proses rehabilitas yang sedang dijalani. Berdasarkan stimulation theory, arsitektur dapat memberikan pengaruh pada pengguna melalui stimulan-stimulan yang dihadirkan oleh pengolahan elemennya. Mengacu pada teori tersebut, rancangan arsitektur dengan konsep arsitektur sebagai terapi dibuat. Menggunakan metode Frame and Sequences, rancangan dibangun dari sudut pandang pengguna dengan harapan dapat menghasilkan suatu fasilitas yang sesuai dengan keadaan. Tekstur, suara, warna, dan bau yang dihadirkan dalam rancangan ditujukan untuk mengembalikan fungsi indra pada pengguna yang terdegradasi karena penggunaan narkotika. Integrasi dengan aktivitas di lingkungan sekitar juga dihadirkan guna mempersiapkan pengguna untuk kembali bersosialisasi dengan masyarakat.
Housing Based on Communal Connectivity to Enhance Resilience in Response to Rob Flood Anisya Maharani; Wahyu Setyawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69917

Abstract

Rob flood is one of flood types caused by the increasing sea level rise submerging in area with lower level than the sea surface. With the hazard occurring regularly, this will be able to threaten the community’s vulnerability in responding to rob flood which includes social, economic, and physical impacts. With the existing housing precedents that lacks in providing a multifaceted aspect between users and its built environment, this paper aims to offer design concept based on communal connectivity to increase the resilience of community in responding rob flood. Communal connectivity focuses on the concept where communities are able to adapt and mitigate either pre-disaster, during disaster, and post-disaster. The study takes place in Semarang at Jl. Ngilir Timur that regularly has rob flood each year with 2050 as the time context. The typology offered in this design is a co-housing settlement with community resilience approach, where this approach focuses on ways to increase the communities‘adaptive capacity. Using force base framework, the main concept offered is a settlement with communal connectivity concept which focuses on several aspects in formal, spatial, material, construction, landscape, and utility. The main concept of this design mainly discusses on social connectivity and supported co-housing in formal and technical explorations which will be able to enhance community resilience in social, economy, and environment aspects.
Konsep Co-Living dalam Integrasi Spasial Hunian Vertikal dan Ruang Kerja Hikma Fitriani; Sarah Cahyadini
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.68671

Abstract

Indonesia diperkirakan akan mengalami bonus demografi pada tahun 2020-2035. Fenomena ini tidak dapat dipisahkan dari mayoritas populasi Generasi Milenial. Kebutuhan perumahan yang terjangkau dan tingkat pengangguran yang tinggi karena lingkungan kerja yang kurang nyaman menjadi hal yang krusial bagi Generasi Milenial dalam menghadapi fenomena bonus demografi. Dengan menggunakan konsep co-living, perancangan ini berusaha untuk menghadirkan suatu tipologi baru dengan mengintegrasikan fungsi hunian dan tempat kerja di dalam satu objek rancang. Pendekatan arsitektur perilaku dengan metode utama behavior mapping dalam kerangka berpikir force-based framework digunakan untuk menjawab permasalahan terkait pola dan karakteristik Generasi Milenial dalam aspek work, life, and social. Metode behavior mapping dengan teknik place centered mapping yang diterapkan pada objek Koridor Co-working Space berfungsi untuk menghasilkan kebutuhan ruang, programming, kriteria desain, dan konsep desain. Objek rancang yang dihasilkan berupa hunian vertikal dengan sistem economic sharing bagi urban middle class millenial yang bekerja pada industri kreatif prioritas. Adanya konsep berbagi ruang tinggal yang didukung dengan konsep rumah tumbuh dapat memeberikan pilihan alternatif hunian terjangkau bagi Generasi Milenial di perkotaan. Selain itu, berbagi ruang kerja dan hunian dapat menjadi wadah bagi start-up kreatif untuk mengejar produktivitas dan kolaborasi antar partner. Agar objek rancang dapat menjadi katalis interaksi antar penghuni dan menciptakan ruang publik yang aktif, maka ruang komunal memiliki hirarki dan menggunakan konsep open layout. Dengan adanya objek rancang yang berbasis generasi ini diharapkan dapat meningkatkan resiliensi dan produktivitas Generasi Milenial dalam menghadapi bonus demografi sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Penerapan Konsep Adaptable dan Transformable pada Peralihanfungsi Sekolah Saat Pandemi Virgine Jocela Indiari; Endy Yudho Prasetyo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.68650

Abstract

Pandemi yang terjadi saat ini menjadikan sistem pembelajaran mulai dilakukan secara daring sehingga tingkat okupansi Gedung Sekolah menurun. Penurunan tingkat okupansi Gedung Sekolah menyebabkan penurunan efisiensi yang mana pada tahap pembangunannya telah mengkonsumsi banyak energi dan material. Berdasarkan dari pendekatan yang digunakan yaitu sustainable building, yang mana berfokus pada bagaimana bangunan dapat bertahan lama, perlu untuk mempertahankan tingkat okupansi bangunan. Salah satu caranya dengan mengalihfungsikan Gedung Sekolah untuk kegiatan lain, yang mana membutuhkan peran dari fleksibilitas ruang. Jika saja sebelum pandemi Sekolah telah dirancang lebih fleksibel, maka memungkinkan untuk Sekolah dapat beralihfungsi ke program lain tanpa mengalami perombakan yang signifikan sehingga tingkat okupansi Gedung Sekolah dapat dipertahankan. Objek rancang berupa SMA swasta dengan sistem day school yang dapat beralihfungsi menjadi Temporary Community Centre saat pembelajaran dilakukan secara daring dengan menerapkan konsep fleksibilitas ruang, yaitu adaptable dan transformable. Community Centre merupakan program yang terbentuk dari kumpulan aktivitas warga di sekitar lahan Sekolah yang terjadi saat pandemi dan bersifat temporer sehingga program Community Centre akan menghilang saat pandemi berakhir. Dalam proses transformasinya, metode irisan ruang digunakan untuk menghasilkan ruang baru yang dapat memfasilitasi kedua tipologi, sehingga saat beralihfungsi masing-masing tipologi dapat berfungsi secara optimal. Dengan adanya peralihan fungsi Sekolah menjadi Community Centre, menjadikan Gedung Sekolah tetap berfungsi secara optimal pada saat pandemi berlangsung, di sisi lain juga dapat memfasilitasi aktivitas warga sekitar lahan Sekolah di saat pandemi.
Konsep Arsitektur sebagai Katalis dalam Mengatasi Degradasi Budaya: Sasana Budaya Ndalung Wardatut Toyyibah; Purwanita Setijanti
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69022

Abstract

Konsep arsitektur sebagai katalis kebudayaan merupakan sebuah manifestasi dari bagaimana arsitektur dapat mempercepat kesadaran berbudaya masyarakat, dimana dalam perancangan ini mengambil konteks budaya Pandalungan di Jember. Adanya fenomena degradasi nilai budaya, ketidaksadaran masyarakat akan fenomena Pandalungan, serta urgensi identitas yang perlu ditanamkan. Arsitektur sebagai katalis kebudayaan dihadirkan untuk menjadi stimulus percepatan kesadaran berbudaya melalui user movement yang terbentuk. Perancangan ini bermaksud untuk menghadirkan fasilitas publik berupa Sasana Budaya Ndalung sebagai katalis kebudayaan melalui ruang edukasi yang bersifat naratif. Efek katalis diwujudkan dengan membentuk persepsi visual user melalui pengalaman spasial tertentu. Pendekatan fenomenologi dengan metodologi arsitektur naratif digunakan untuk merespon permasalahan desainnya. Untuk mewujudkan konsep naratif, perancangan ini mencoba menghadirkan narasi Pandalungan dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan secara flashback. Sebagai tambahan, efek katalis kebudayaan juga ditinjau dari karakteristik Pandalungan, aspek lokalitas, serta perhatian terhadap konsep user movement, sebagai manifest function sebuah ruang kultural.
Eksplorasi Ruang Terapetik : Respon Kuratif terhadap Gangguan Mental pada Anak Ferdy Yohanes Panjaitan; Iwan Adi Indrawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69282

Abstract

Dalam mencapai kesembuhan diperlukan adanya input-input positif tertentu yang diterima oleh seseorang yang sedang mengalami penyakit terkait. Input positif yang paling lazim diterapkan adalah berupa perbuatan medis yang berkaitan secara eksplisit dengan seseorang dengan penyakit tersebut. Pemanfaatan input positif demi kesembuhan melalui translasi dan modifikasi elemen arsitektural yang digunakan secara konvensional nyatanya belum memanfaatkan potensi yang ada secara maksmial. Ruang Terapetik sebagai salahsatu wadah untuk mentranslasikan arsitektur kedalam persepsi para penggunanya dalam bentuk efek menyembuhkan. Oleh karena itu eksplorasi dari modifikasi elemen arsitektural untuk membentuk ruang terapetik ini perlu dilakukan. Untuk menemukan modifikasi elemen arsitektural yang tepat digunakan metode Studi Preseden pada rancangan-rancangan yang relevan untuk menemukan rangkaian inovasi berupa metode penghadiran elemen alami sebagai distraksi positif kepada para pasien sehingga suatu ruang dapat bersifat menyembuhkan. Kemudian digunakan Kerangka berfikir berbasis force untuk menentukan bagaimana bangunan bisa dikategorikan sensitif terhadap penyakit tertentu, dimana penyakit yang dimaksud adalah kelainan mental berupa trauma. Dengan menggunakan gejala trauma sebagai dasar dalam mengambil keputusan rancang didapatkanlah modifikasi substansi arsitektur yang tepat. Dengan konsep mengenai penghadiran distraksi melalui studi preseden serta respon gejala trauma yang telah dilakukan, didapat sebuah kriteria-kriteria mengenai modifikasi elemen- elemen arsitektural yang dapat diterapkan sehingga rancangan nanti dapat bersifat menyembuhkan. Penghadiran substansi massa yang bersifat dinamis dan jauh dari kesan mencekam, serta substansi material yang memiliki keterkaitan yang tinggi dengan elemen alami.
Pendekatan Healing Environment pada Fasilitas Pemulihan Anak Korban Kekerasan Felia Hutari Dwi Putri; Rabbani Kharismawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69219

Abstract

Meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia perlu penanganan lebih untuk anak korban kekerasan. Pendekatan desain yang digunakan yaitu healing environment dengan tujuan untuk membantu dalam pemulihan anak korban kekerasan yang mengalami gangguan kesehatan mental dan diharapkan dapat memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kekerasan pada anak. Metode yang dilakukan dengan menganalisis kawasan yang telah dipilih untuk mengetahui yang dapat mempengaruhi healing environment, mengetahui elemen-elemen yang perlu diterapkan dalam healing environment seperti pencahayaan, warna, pemandangan, suara, aroma, seni tekstur, dan keamanan, dan juga mempelajari studi preseden dengan bangunan fasilitas kesehatan mental untuk anak untuk diterapkan dalam objek yang akan dirancang. Sehingga dapat menhasilkan suatu objek arsitektur dengan pendekatan healing environment. Dalam objek arsitektur ini taman memiliki perang yang sangat penting untuk pengguna, terutama pasien.
Ruang Publik Sebagai Optimalisasi Pengembangan Diri Remaja dengan Pendekatan Psikologi Arsitektur: Surabaya Youthcenter Inayatur Arifiyani; Purwanita Setijanti
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.69399

Abstract

Masa remaja adalah masa peralihan atau transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Tahap remaja merupakan tahap produktif dalam melakukan aktivitas pengembangan diri dan mencari jati diri remaja. Semangat dan kegigihan remaja kota Surabaya dapat dibuktikan dengan tingginya intensitas remaja Surabaya dalam berlatih pada fasilitas umum Kota Surabaya. Namun fasilitas yang disediakan pemerintah Surabaya belum semuanya optimal dalam pemenuhan kebutuhan untuk pengembangan minat bakat remaja. Beberapa faktor yang belum terpenuhi yaitu kebutuhan dari segi kenyamanan dan standar aktivitas pengembangan diri remaja. Perlunya wadah yang optimal bagi remaja dalam aktivitas pengembangan potensi diri yang sesuai dengan minat bakatnya, sebaiknya menjadi prioritas utama pemerintah kota Surabaya. Pengaturan ruang dan desain untuk aktivitas pengembangan diri remaja yang optimal dan berlandaskan pendekatan segi psikologi arsitektur dengan tujuan terciptanya suasana yang memicu semangat dalam memperoleh prestasi di bidang non akademik. Objek rancangan akan berupa ruang publik yang difungsikan sebagai wadah aktivitas remaja untuk memicu dan mengembangkan potensi diri pada minat bakat melalui ruang yang fleksibel dan adaptif.