cover
Contact Name
Lalu Ibrohim Burhan
Contact Email
ejournaleducendekia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ejournaleducendekia@gmail.com
Editorial Address
kp Bahagia Desa Lendang Nangka Kecamatan Masbagik Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat
Location
Kab. lombok timur,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Cendekia
ISSN : -     EISSN : 31091059     DOI : https://doi.org/10.63982/77hts140
Core Subject : Education,
Cendekia: Jurnal Pendidikan Terintegrasi adalah jurnal ilmiah yang mempublikasikan artikel hasil penelitian, kajian konseptual, dan inovasi praktik dalam bidang pendidikan. Jurnal ini menjadi wahana akademik bagi para peneliti, dosen, guru, mahasiswa, dan praktisi pendidikan untuk menyebarluaskan gagasan serta temuan ilmiah yang berkontribusi terhadap pengembangan teori, kebijakan, dan praktik pendidikan yang relevan dengan tantangan zaman. Cendekia mengusung pendekatan interdisipliner dan integratif, mencakup berbagai jenjang dan ranah pendidikan, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga pendidikan tinggi. Jurnal ini terbuka terhadap topik-topik pendidikan yang bersifat tematik, lintas bidang, kontekstual, dan inovatif.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 15 Documents
PEMANFAATAN LINGKUNGAN SEKITAR SEBAGAI SUMBER BELAJAR IPS: STUDI KASUS DI SDN 156 PALEMBANG Vioni Ardaniati
CENDEKIA : Jurnal Pendidikan Terintegrasi Vol. 1 No. 3 (2025): Transformasi Pendidikan Inklusif Berbasis Kearifan Lokal dan Digitalisasi Pembe
Publisher : PT. LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/cendekia.r1rmht62

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan lingkungan sekitar  sebagai sumber belajar IPS di SDN 156 Palembang. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif menggunakan teknik purposive sampling terhadap satu guru serta satu peserta didik. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, lalu dianalisis menggunakan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memanfaatkan lingkungan sekolah melalui simulasi dan pembelajaran pribadi, yang menaikkan partisipasi serta pemahaman peserta didik. Faktor pendukung mencakup dukungan kepala sekolah serta fasilitas yang memadai, sedangkan kendala utamanya ialah keterbatasan ketika serta partisipasi siswa yang tak merata. Penelitian ini menyimpulkan bahwa lingkungan sekolah bisa sebagai laboratorium pembelajaran kontekstual yang efektif dalam pendidikan IPS. Abstract This study aims to analyze the utilization of the surrounding environment as a learning resource for Social Studies (IPS) at SDN 156 Palembang. The method used is descriptive qualitative, employing purposive sampling involving one teacher and one student. Data were collected through observation, interviews, and documentation, then analyzed using an interactive model. The results of the study show that the teacher utilizes the school environment through simulations and personalized learning, which increases student participation and understanding. Supporting factors include the principal’s support and adequate facilities, while the main obstacles are time limitations and uneven student participation. This study concludes that the school environment can serve as an effective contextual learning laboratory in Social Studies education.
Model Empiris Pengaruh Artificial Intelligence terhadap Kreativitas Belajar Mahasiswa: Integrasi TAM dan Creativity Theory dalam Pendekatan Kuantitatif Eksplanatori Lalu Muktar; Lalu Ibrohim Burhan
CENDEKIA : Jurnal Pendidikan Terintegrasi Vol. 1 No. 3 (2025): Transformasi Pendidikan Inklusif Berbasis Kearifan Lokal dan Digitalisasi Pembe
Publisher : PT. LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/cendekia.ws0q4t90

Abstract

Perkembangan pesat teknologi Artificial Intelligence (AI) telah menciptakan peluang baru bagi peningkatan kualitas pembelajaran di pendidikan tinggi, namun riset sebelumnya masih berfokus pada efektivitas teknis dan belum mengungkap secara komprehensif bagaimana AI memengaruhi kreativitas mahasiswa sebagai kompetensi utama abad ke-21. Kesenjangan ini menuntut kajian empiris yang memetakan hubungan antara penggunaan AI dan dinamika berpikir kreatif mahasiswa dalam konteks Indonesia. Penelitian ini bertujuan menginvestigasi pengaruh penggunaan AI terhadap kreativitas belajar mahasiswa pendidikan, dengan mengevaluasi intensitas penggunaan, persepsi pengguna, serta kontribusi fitur AI tertentu terhadap kreativitas. Metode yang digunakan berupa desain kuantitatif eksplanatori dengan 110 responden, dianalisis melalui regresi linear dan validasi wawancara, menggunakan instrumen berbasis TAM dan indikator kreativitas Guilford. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan AI berada pada kategori tinggi dan berpengaruh signifikan terhadap kreativitas mahasiswa (β = 0.431, p < 0.001), terutama melalui fitur generative feedback dan idea generation tools. Persepsi kemudahan dan kebermanfaatan memperkuat hubungan tersebut, sementara aspek orisinalitas tetap menjadi tantangan. Temuan ini menegaskan bahwa AI berperan sebagai katalis kognitif yang dapat memperluas fluency dan flexibility mahasiswa, sekaligus memberikan bukti empiris baru bagi pengembangan teori TAM dan Creativity Theory. Implikasi praktisnya mencakup kebutuhan integrasi AI secara pedagogis untuk mendukung kreativitas tanpa mengabaikan risiko ketergantungan, serta membuka arah penelitian baru mengenai variasi platform AI dan pendekatan longitudinal untuk menilai dampak jangka panjangnya. Abstract The rapid advancement of Artificial Intelligence (AI) has reshaped learning ecosystems in higher education worldwide; however, existing studies predominantly emphasise technical efficiency rather than examining how AI influences students’ creativity, a core competency of the twenty-first century. This knowledge gap highlights the need for empirical evidence that maps the relationship between AI usage and creative cognitive processes within the Indonesian higher education context. This study aimed to investigate the influence of AI usage on the learning creativity of education students, assessing usage intensity, user perceptions, and the contribution of specific AI features. An explanatory quantitative design was applied to 110 participants, analysed through linear regression and qualitative validation using TAM-based constructs and Guilford’s creativity indicators. The results revealed high AI adoption and a significant effect on student creativity (β = 0.431, p < 0.001), particularly driven by generative feedback and idea generation tools. Perceived ease of use and perceived usefulness strengthened this relationship, although originality remained relatively limited. The findings indicate that AI functions as a cognitive catalyst that enhances students’ fluency and flexibility, contributing new empirical insights to the development of TAM and Creativity Theory frameworks. Practically, the study underscores the importance of integrating AI pedagogically to support creativity while addressing potential dependency risks, and it opens avenues for future research involving multi-platform AI comparison and longitudinal approaches to assess long-term impacts.
Model Integratif Budaya Sekolah–Karakter untuk Menjelaskan Integritas Siswa di Sekolah Multikultural: Studi Mixed Methods Sequential Explanatory Muhammad Fahrudin Alawi; Lalu Ibrohim Burhan
CENDEKIA : Jurnal Pendidikan Terintegrasi Vol. 1 No. 3 (2025): Transformasi Pendidikan Inklusif Berbasis Kearifan Lokal dan Digitalisasi Pembe
Publisher : PT. LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/cendekia.dkqwzq91

Abstract

Dalam konteks pendidikan global yang semakin multikultural, peran budaya sekolah sebagai ekosistem pembentuk karakter memperoleh perhatian strategis, namun sejumlah studi sebelumnya masih menitikberatkan pada dimensi pedagogis sehingga keterkaitan sistemik antara struktur budaya sekolah dan pembentukan integritas belum terpetakan secara komprehensif. Kesenjangan pengetahuan ini terutama terlihat pada sekolah-sekolah dengan keberagaman etnis dan agama tinggi, di mana mekanisme pembentukan integritas membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam atas dinamika nilai, interaksi sosial, dan praktik institusional. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi pengaruh elemen-elemen budaya sekolah terhadap penguatan karakter integritas siswa SMA pada konteks multikultural. Studi ini menggunakan desain mixed methods sequential explanatory, melibatkan survei kuantitatif terhadap 210 siswa dan pendalaman kualitatif melalui wawancara serta observasi etnografis di tiga sekolah multikultural. Hasil menunjukkan bahwa keteladanan moral guru, norma kejujuran akademik, dan interaksi multikultural terarah merupakan faktor signifikan yang menjelaskan variasi integritas siswa, dengan model kuantitatif mencapai kontribusi 46,2%. Data kualitatif mengonfirmasi konsistensi temuan melalui pola praktik dan frekuensi kemunculan tema. Penelitian ini menunjukkan bahwa integritas siswa diperkuat melalui kombinasi legitimasi moral, struktur norma, dan kualitas interaksi sosial yang dirancang secara sadar. Temuan memperluas pengembangan teori budaya sekolah dan pendidikan karakter dengan memasukkan konteks multikultural sebagai komponen kunci, serta memberikan implikasi praktis bagi perancangan kebijakan dan lingkungan fisik sekolah yang mendukung internalisasi nilai karakter. Abstract In increasingly multicultural educational environments, school culture has gained strategic relevance as a formative ecosystem for character development; however, prior research has predominantly focused on pedagogical practices, leaving the systemic linkages between cultural structures and student integrity insufficiently explored. This knowledge gap is particularly evident in highly diverse schools, where the mechanisms shaping integrity require deeper examination of institutional norms, social interactions, and shared values. This study aimed to investigate the influence of key school culture elements on strengthening senior high school students’ integrity within multicultural contexts. A sequential explanatory mixed-methods design was employed, consisting of a quantitative survey of 210 students followed by qualitative inquiry through interviews and ethnographic observations across three multicultural schools. Results indicated that teacher moral modelling, academic honesty norms, and guided multicultural interaction were the principal factors significantly associated with student integrity, with the structural model explaining 46.2% of variance. Qualitative findings corroborated the quantitative results by documenting consistent behavioural patterns and thematic frequencies. The study demonstrates that integrity formation is reinforced through a combination of moral legitimacy, normative structures, and intentionally designed multicultural interactions. These findings advance the Theory of School Culture and Character Education Theory by integrating multicultural dynamics as a core explanatory component and offer practical implications for policy design and the engineering of school environments that facilitate value internalisation.
Model Pengukuran Kolaborasi Berbasis Rubrik Komprehensif untuk Menilai Efektivitas PjBL pada Mahasiswa Teknik di Era Industri 4.0 Lalu Ibrohim Burhan
CENDEKIA : Jurnal Pendidikan Terintegrasi Vol. 1 No. 3 (2025): Transformasi Pendidikan Inklusif Berbasis Kearifan Lokal dan Digitalisasi Pembe
Publisher : PT. LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/cendekia.7qx8w897

Abstract

Transformasi pendidikan tinggi pada era Revolusi Industri 4.0 menuntut model pembelajaran yang mampu mengembangkan keterampilan kolaboratif secara sistematis, namun penelitian sebelumnya masih didominasi penilaian subjektif dan belum menyediakan bukti kuantitatif yang kuat pada mahasiswa pendidikan teknik. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya evaluasi empiris yang terukur untuk memahami efektivitas Project-Based Learning (PjBL) dalam konteks pembelajaran berbasis teknologi. Penelitian ini bertujuan mengukur efektivitas PjBL dalam meningkatkan keterampilan kolaboratif mahasiswa melalui desain eksperimen kuasi pre–post test. Pengumpulan data dilakukan pada mahasiswa program pendidikan teknik menggunakan rubrik kolaborasi komprehensif, lembar observasi, dan kuesioner persepsi, kemudian dianalisis menggunakan uji statistik parametrik dan normalized gain. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan keterampilan kolaboratif sebesar 19,26 poin (30,96%) dengan normalized gain 0,51, serta kontribusi tertinggi berasal dari pembagian peran (34,1%), monitoring mingguan (29,4%), dan evaluasi sejawat (22,7%). Persepsi mahasiswa juga positif dengan skor rata-rata 4,31. Temuan ini menegaskan bahwa PjBL efektif memperkuat interaksi kolaboratif dan kualitas kontribusi teknis mahasiswa. Penelitian ini berkontribusi pada penguatan landasan teoretis dan metodologis dalam evaluasi PjBL serta memberikan implikasi praktis bagi pengembangan kurikulum teknik di era pembelajaran digital.   Abstract Higher education transformation in the Fourth Industrial Revolution requires instructional models that systematically foster collaborative skills; however, prior studies have relied heavily on subjective assessments and lack robust quantitative evidence, particularly within engineering education programs. This gap highlights the need for empirical, measurable evaluations of the effectiveness of Project-Based Learning (PjBL) in technology-enhanced learning environments. This study aimed to assess the efficacy of PjBL in improving students' collaborative skills using a quasi-experimental pre–post test design. Data were collected from engineering education students through a comprehensive collaboration rubric, structured observation sheets, and perception questionnaires, and analyzed using parametric statistics and normalized gain. The findings showed a 19.26-point improvement (30.96%) in collaborative skills, with a normalized gain of 0.51. The most significant contributions came from role distribution (34.1%), weekly monitoring (29.4%), and peer evaluation (22.7%). Student perceptions were also positive, with an overall score of 4.31. These results demonstrate that PjBL effectively strengthens collaborative interaction and enhances the quality of students' technical contributions. The study contributes to refining theoretical and methodological foundations for evaluating PjBL and provides practical implications for curriculum development in engineering education within digital learning ecosystems.
Pemetaan Kompetensi Pedagogik Guru Pemula pada Implementasi Kurikulum Merdeka: Studi Kualitatif Multi-Kasus di Sekolah Dasar Muhammad Salabi; Lalu Ibrohim Burhan
CENDEKIA : Jurnal Pendidikan Terintegrasi Vol. 1 No. 3 (2025): Transformasi Pendidikan Inklusif Berbasis Kearifan Lokal dan Digitalisasi Pembe
Publisher : PT. LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/cendekia.bj5k0y46

Abstract

Implementasi Kurikulum Merdeka menuntut guru pemula untuk mengembangkan kompetensi pedagogik yang adaptif, namun penelitian sebelumnya lebih menitikberatkan pada kesiapan mengajar secara umum tanpa menelaah bagaimana kompetensi tersebut terwujud dalam praktik diferensiasi dan asesmen formatif. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya kajian empiris yang menilai secara langsung kemampuan guru pemula dalam merespons tuntutan kurikulum baru. Penelitian ini bertujuan menganalisis kompetensi pedagogik guru pemula pada implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah dasar. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif multi-kasus di tiga sekolah dasar, melibatkan enam guru pemula, dengan pengumpulan data melalui observasi kelas, analisis 18 dokumen pembelajaran, dan wawancara mendalam. Analisis dilakukan menggunakan thematic cross-case analysis berbantu perangkat lunak NVivo. Hasil menunjukkan bahwa kompetensi pedagogik berada pada kategori berkembang, dengan ketidakkonsistenan pada keselarasan tujuan pembelajaran dengan Capaian Pembelajaran, keterbatasan diferensiasi (15–45 persen), dan variasi asesmen formatif yang belum sistematis. Guru pemula juga menunjukkan kebutuhan tinggi terhadap dukungan profesional. Studi ini menegaskan bahwa integrasi komponen Pedagogical Content Knowledge belum stabil pada guru pemula, dan dukungan belajar dewasa diperlukan untuk mempercepat pembentukan identitas profesional mereka. Temuan ini memberikan kontribusi teoretis mengenai operasionalisasi PCK dalam konteks kurikulum fleksibel, serta kontribusi praktis bagi pengembangan program induksi, pelatihan diferensiasi, dan desain asesmen formatif dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Abstract Implementing the Merdeka Curriculum requires novice teachers to exercise adaptive pedagogical competence. Yet prior studies have predominantly focused on general teaching readiness, without examining how this competence is enacted through differentiation and formative assessment practices. This gap underscores the need for empirical investigation into how novice teachers respond to the technical demands of the new curriculum. This study aimed to analyse novice teachers' pedagogical competence in implementing the Merdeka Curriculum in primary schools. A multi-case qualitative design was applied across three primary schools, involving six novice teachers, with data collected through classroom observations, analysis of 18 instructional documents, and in-depth interviews. The data were analysed using thematic cross-case analysis supported by NVivo. Findings indicated that pedagogical competence was developing but inconsistent, particularly in the alignment of instructional goals with learning outcomes, the limited presence of differentiation (15–45 percent), and uneven formative assessment practices. Novice teachers also demonstrated a high need for professional support. The study shows that components of Pedagogical Content Knowledge are not yet fully integrated among novice teachers, and adult-learning–oriented professional support is essential to strengthen their emerging professional identities. These findings contribute theoretically by refining the operationalisation of PCK within a flexible curriculum context, and practically by informing induction programmes, differentiation training, and the design of formative assessment for the Merdeka Curriculum implementation.

Page 2 of 2 | Total Record : 15