cover
Contact Name
Sinonim Journal of Language and Literature
Contact Email
sinonimjournaloflanguageandlit@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
sinonimjournaloflanguageandlit@gmail.com
Editorial Address
Mailing Address Sinonim Journal of Language and Literature Cattleya Darmaya Fortuna Marindal 1, Pasar IV Jl. Karya Gg. Anugerah Kecamatan. Patumbak, Medan - Sumatera Utara
Location
Kab. deli serdang,
Sumatera utara
INDONESIA
Sinonim : Journal of Language and Literature
ISSN : -     EISSN : 2987162X     DOI : https://doi.org/10.54209/sinonim.v3i02
Core Subject :
Embracing the field of linguistics and literature broadly defined, the editors warmly welcome articles, research reports, and conceptual paper addressing linguistics and literature, including: Critical Discourse Analysis, Pragmatics, Sociolinguistics, Applied Linguistics, Anthropological Linguistics, Literary Theory, Literary History, Literary Criticism.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Citra Perempuan dan Pencarian Jati Diri dalam Cerpen-Cerpen Nh. Dini: Kajian Feminisme Eksistensial dalam Sastra Indonesia Modern Sinaga, Cindy
Sinonim : Journal of Language and Literature Vol. 3 No. 02 (2025): Sinomim Journal of Language and Literature
Publisher : Cattleya Darmaya Fortuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54209/sinonim.v3i02.451

Abstract

Penelitian ini mengkaji citra perempuan dan pergulatan jati diri tokoh-tokoh utama dalam cerpen-cerpen karya Nh. Dini melalui pendekatan feminisme eksistensial. Nh. Dini merupakan salah satu pengarang perempuan Indonesia yang berani mengangkat isu kebebasan, kesetaraan, dan eksistensi perempuan di tengah tekanan budaya patriarki. Penelitian ini bertujuan menyingkap bagaimana tokoh perempuan dalam karya Nh. Dini berjuang menegaskan eksistensinya sebagai individu yang bebas menentukan arah hidupnya sendiri. Dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif dan analisis tekstual, beberapa cerpen seperti Langit dan Bumi Sahabat Kami, Perempuan di Sebuah Rumah Kecil, dan Sekuntum Bunga di Tengah Hujan dianalisis dari segi tema, karakter, konflik batin, serta simbol-simbol yang mencerminkan perjuangan perempuan terhadap kebebasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karya Nh. Dini merepresentasikan perempuan bukan sebagai objek pasif, tetapi sebagai subjek yang berdaya, sadar, dan berani mengambil keputusan meski bertentangan dengan norma sosial. Melalui penggambaran tokoh-tokohnya, Nh. Dini menegaskan bahwa perempuan memiliki hak penuh atas tubuh, pikiran, dan kehidupannya. Pemikiran ini sejalan dengan konsep eksistensialisme feminis Simone de Beauvoir, bahwa perempuan harus membebaskan diri dari “peran yang diciptakan” oleh masyarakat. Dengan demikian, karya-karya Nh. Dini menjadi simbol perjuangan eksistensial perempuan Indonesia dalam menemukan identitas dan kebebasannya di tengah budaya patriarki yang mengekang.
Makna Kehidupan dalam Puisi-Puisi Chairil Anwar: Kajian Eksistensialisme dalam Sastra Indonesia Modern Silaban, Fani
Sinonim : Journal of Language and Literature Vol. 3 No. 02 (2025): Sinomim Journal of Language and Literature
Publisher : Cattleya Darmaya Fortuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54209/sinonim.v3i02.452

Abstract

Penelitian ini membahas pergulatan eksistensi manusia dan pencarian makna hidup dalam puisi-puisi karya Chairil Anwar melalui pendekatan eksistensialisme. Chairil Anwar, sebagai tokoh sentral dalam sastra Indonesia modern, menghadirkan gaya kepenyairan yang penuh keberanian, individualitas, dan perlawanan terhadap kemapanan. Melalui analisis terhadap beberapa puisi utamanya—seperti Aku, Karawang-Bekasi, dan Diponegoro—terlihat bahwa Chairil tidak hanya menulis tentang kematian atau penderitaan, melainkan tentang usaha manusia memahami dirinya dan dunia di sekitarnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan pendekatan analisis tekstual. Tiap puisi ditelaah berdasarkan simbol, diksi, dan makna filosofis yang merepresentasikan gagasan eksistensialisme, seperti kebebasan, kesadaran diri, serta absurditas hidup. Hasil kajian menunjukkan bahwa karya-karya Chairil menggambarkan manusia yang berjuang melampaui batas-batas sosial dan spiritual untuk menemukan eksistensinya secara utuh. Dalam puisinya, hidup bukan sekadar keberadaan, tetapi sebuah perlawanan terhadap kehampaan dan ketakutan akan kefanaan. Dengan demikian, puisi-puisi Chairil Anwar dapat dipandang sebagai bentuk ekspresi eksistensial yang menegaskan posisi manusia sebagai makhluk bebas, sadar, dan berani menghadapi absurditas kehidupan. Pemikiran dan gaya bahasanya menjadikan sastra Indonesia modern tidak hanya indah secara estetis, tetapi juga bernilai filosofis dan universal.
Rereading the Canon in the Algorithmic Age: Contemporary Literary Criticism, Theory, and Indonesian Literary History Siringo-ringo, Doris
Sinonim : Journal of Language and Literature Vol. 3 No. 02 (2025): Sinomim Journal of Language and Literature
Publisher : Cattleya Darmaya Fortuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54209/sinonim.v3i02.453

Abstract

Artikel ini mengajukan kerangka “pembacaan ulang kanon sadar-platform” untuk menilai bagaimana kanonisitas sastra Indonesia dinegosiasikan ulang di era algoritmik. Dengan desain mixed-methods, riset menggabungkan (1) kritik teks/close reading dan analisis wacana-historiografis; (2) bibliometri & pemetaan sirkulasi (reprint, kemunculan di silabus/antologi, sitasi kritik) atas korpus 1920–2025; serta (3) audit algoritmik-kuratorial berbasis metadata/parateks (tag genre, blurb, ulasan) dan pemosisian jaringan (ko-rekomendasi/ko-rujukan). Korpus dikelompokkan menjadi tiga lapis: Canon, Semi-Canon, dan Reparatif. Hasil menunjukkan bahwa modal historis—reprint, jejak kurikulum, sitasi—tetap memosisikan karya Canon sebagai hub jaringan (degree/betweenness tertinggi) yang beresonansi ke platform melalui metadata matang. Semi-Canon berperan sebagai wilayah ambang, sedangkan Reparatif periferal meski lebih representatif terhadap penulis perempuan, bahasa daerah, dan wilayah luar Jawa. Pada sisi platform, kelengkapan metadata, konsistensi tag, dan blurb informatif berkorelasi dengan visibilitas; simulasi counterfactual menunjukkan bahwa peningkatan metadata sederhana dapat menaikkan peringkat rekomendasi rata-rata ≈10 posisi untuk judul-judul reparatif. Implikasinya, pembaruan kanon memerlukan kebijakan metadata-first, counter-lists yang mengaitkan judul reparatif dengan hub kanon (berdasar kesepadanan tema/estetika), serta edisi kritis/anotasi guna memperkuat parateks. Kontribusi teoretis artikel ini adalah model operasional yang memadukan kritik teks, historiografi sirkulasi, dan audit algoritmik, sehingga kanon Indonesia dapat ditawar ulang secara lebih inklusif dan transparan di tengah logika rekomendasi digital
Evaluasi Model Deep Learning untuk Pengenalan Gesture Tangan dalam Sistem Prostesis Adaptif Berbasis EMG Butar-Butar, Irfan
Sinonim : Journal of Language and Literature Vol. 3 No. 02 (2025): Sinomim Journal of Language and Literature
Publisher : Cattleya Darmaya Fortuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54209/sinonim.v3i02.454

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem pengenalan gesture tangan berbasis sinyal elektromiografi (EMG) menggunakan teknik Deep Learning, khususnya dengan menggabungkan Jaringan Saraf Konvolusional (CNN) dan Long Short-Term Memory (LSTM), untuk pengendalian prostesis adaptif. Model yang dikembangkan diuji menggunakan data sinyal EMG yang dikumpulkan dari berbagai peserta dengan variasi fisiologis yang berbeda. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kombinasi CNN dan LSTM dapat meningkatkan akurasi pengenalan gesture tangan, dengan akurasi mencapai 92,3% dan F1-score 92,5%, dibandingkan dengan model CNN yang hanya mencapai akurasi 84,2%. Sistem yang dikembangkan mampu mengidentifikasi berbagai gesture tangan, seperti menggenggam, merentangkan jari, dan gerakan rotasi tangan, dengan latensi yang rendah (rata-rata 50 ms), yang memungkinkan pengendalian prostesis secara real-time. Selain itu, uji coba implementasi pada prototipe prostesis menunjukkan bahwa pengguna dapat mengendalikan prostesis dengan presisi yang tinggi dan responsif, memberikan pengalaman yang lebih alami dan intuitif. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan teknologi prostesis adaptif berbasis EMG yang lebih efektif dan responsif, serta membuka potensi aplikasi lebih lanjut dalam bidang rehabilitasi dan perangkat bantuan medis.
Peralihan Kode dan Identitas Sosial di Ruang Digital Remaja Urban: Perspektif Sosiolinguistik Variasionis” (Sociolinguistics) Simarmata, Juanda
Sinonim : Journal of Language and Literature Vol. 3 No. 02 (2025): Sinomim Journal of Language and Literature
Publisher : Cattleya Darmaya Fortuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54209/sinonim.v3i02.455

Abstract

Berangkat dari meningkatnya penetrasi media sosial dan aplikasi percakapan di kalangan remaja urban, studi ini menelaah bagaimana praktik peralihan kode (code-switching) membentuk dan dinegosiasikan bersama identitas sosial di ruang digital. Berbasis perspektif Sosiolinguistik Variasionis, penelitian ini memadukan analisis korpus percakapan daring remaja (platform chat dan media sosial) dengan wawancara singkat berfokus pada praktik bahasa sehari-hari. Variabel sosial seperti jenis kelamin, jaringan pertemanan, komunitas hobi, serta indeks mobilitas digital dipertautkan dengan fitur kebahasaan (frekuensi peralihan intra-/inter-kalimat, domain leksikal, dan penanda pragmatis). Analisis kuantitatif dilakukan untuk memodelkan keterkaitan antara faktor sosial dan peluang terjadinya peralihan kode, sementara pembacaan kualitatif menelusuri fungsi identitasnya—misalnya sebagai strategi afiliasi, gaya, humor, atau pengelolaan jarak sosial. Temuan menunjukkan bahwa (1) peralihan kode meningkat pada topik yang menandai keanggotaan komunitas global/pop culture; (2) penanda pragmatis bahasa Inggris berperan sebagai “stance marker” untuk menampilkan kecakapan digital dan kosmopolitan; dan (3) pola peralihan berbeda lintas jejaring—lebih padat dalam mikrokomunitas kreatif dibanding ruang semi-publik. Kontribusi teoretis studi ini adalah penguatan jembatan antara model variabel sosiolinguistik dan performativitas identitas di ruang digital, sementara kontribusi praktisnya memberi rujukan literasi bahasa bagi pendidik/orang tua dalam memahami gaya tutur remaja. Implikasi metodologis menegaskan manfaat pendekatan korpus-plus-etnografi ringan untuk menangkap dinamika identitas yang lincah dan kontekstual di platform digital.
Hegemoni dan Resistensi dalam Pidato Kampanye: Analisis Wacana Kritis terhadap Strategi Legitimasi Tambunan, Rehjilena
Sinonim : Journal of Language and Literature Vol. 2 No. 01 (2024): Sinomim Journal of Language and Literature
Publisher : Cattleya Darmaya Fortuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54209/sinonim.v2i01.456

Abstract

Studi ini menelaah bagaimana hegemoni dibangun dan resistensi dinegosiasikan dalam pidato kampanye melalui strategi legitimasi yang bekerja pada level teks, praktik wacana, dan praktik sosial. Menggunakan kerangka Analisis Wacana Kritis (Fairclough) yang dipadukan dengan tipologi strategi legitimasi van Leeuwen (otorisasi, evaluasi moral, rasionalisasi, dan mitopoiesis), penelitian ini menganalisis korpus terpilih pidato kampanye dari berbagai kanal (luring, siaran, dan platform digital). Prosedur analisis meliputi pemetaan sumber legitimasi, pengenalan pola retoris (framing, othering, populisme moral), serta penelusuran intertekstualitas dengan narasi media dan respons warganet. Temuan menunjukkan bahwa hegemoni terutama diproduksi melalui penyatuan identitas “kami” berbasis nasionalisme, religiositas sipil, dan teknokratisme kinerja, yang diperkuat oleh otorisasi figur otoritatif dan narasi keberhasilan berbingkai moral. Di sisi lain, resistensi muncul sebagai kontra-wacana yang memanfaatkan re-apropriasi istilah, satir/memeifikasi, dan pembacaan ulang bukti kebijakan untuk merongrong klaim kebenaran dan klaim kepantasan kandidat. Penelitian ini berkontribusi dengan memadukan AWK dan model legitimasi untuk memetakan “rantai legitimasi” lintas medium, sekaligus menawarkan indikator analitis guna membedakan legitimasi berbasis bukti dari legitimasi berbasis moralitas atau narasi heroik. Implikasi praktisnya mencakup penguatan literasi politik publik, perancangan etika komunikasi kampanye, dan penyadaran terhadap praktik bahasa yang berpotensi menormalisasi ketimpangan simbolik dalam ruang demokrasi.
Kesantunan Strategis dalam Layanan Publik Daring: Analisis Maksim Politeness pada Chatbot Pemerintah Ginting, Monika
Sinonim : Journal of Language and Literature Vol. 2 No. 01 (2024): Sinomim Journal of Language and Literature
Publisher : Cattleya Darmaya Fortuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54209/sinonim.v2i01.457

Abstract

Studi ini menelaah bagaimana kesantunan strategis direalisasikan dalam interaksi warga–chatbot pada layanan publik daring, serta bagaimana pola kesantunan tersebut memengaruhi penerimaan pesan dan keberlangsungan percakapan. Berlandaskan Prinsip Kesantunan Leech (tact, generosity, approbation, modesty, agreement, sympathy) dan konsep Face-Threatening Acts (Brown & Levinson), penelitian merancang kerangka anotasi pragmatik untuk mengidentifikasi pematuhan/pelanggaran maksim, perangkat mitigasi (hedges, penanda empati, permintaan maaf), dan strategi tindak tutur (informing, requesting, refusing, directing). Korpus berupa log percakapan terpilih dari beberapa chatbot pemerintah yang melayani informasi prosedur administrasi, aduan layanan, dan verifikasi dokumen. Analisis dilakukan secara campuran—kajian kualitatif berbasis analisis percakapan dipadukan dengan penambangan fitur tekstual (imperatif langsung, modalitas kewajiban, formula kesopanan) dan evaluasi keterbacaan. Hasil menunjukkan bahwa pematuhan tertinggi terjadi pada maksim tact dan agreement dalam skenario informatif, sementara pelanggaran paling sering muncul pada skenario refusal/redirect (mis. penolakan berkas, rujukan ke kanal lain) karena dominannya bentuk imperatif dan absennya penanda empati. Ketidakkonsistenan kesantunan juga tampak pada konteks multibahasa dan saat transisi ke agen manusia. Studi ini menawarkan pedoman perancangan templat respons ramah-muka—menggabungkan mitigasi FTA, penanda empati, justifikasi prosedural singkat, dan opsi tindak lanjut—yang dapat meningkatkan kejelasan sekaligus menjaga wajah positif warga dalam interaksi layanan publik digital.
Naratif Trauma dan Memori Kolektif: Pembacaan Psikoanalitik pada Novel Pasca-Konflik Ritonga, Syahrijal
Sinonim : Journal of Language and Literature Vol. 2 No. 01 (2024): Sinomim Journal of Language and Literature
Publisher : Cattleya Darmaya Fortuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54209/sinonim.v2i01.458

Abstract

Studi ini mengkaji bagaimana novel pasca-konflik memformulasikan pengalaman luka sosial melalui strategi penceritaan yang menandai trauma individual sekaligus menegosiasikan memori kolektif. Berlandaskan kerangka psikoanalitik trauma (represi, repetition compulsion, dan kerja berduka) yang diperkaya konsep memori sosial, penelitian menerapkan close reading terhadap korpus novel pasca-konflik dengan fokus pada relasi antara teknik naratif—fragmentasi alur, analepsis/prolepsis yang terputus, focalisasi yang berpindah, metafora tubuh dan luka, serta “ruang kosong” (silence, ellipsis)—dan operasi ingatan bersama komunitas korban/penyintas. Prosedur analisis menautkan penanda gejala (mis. intrusi mimetik, mimpi, serangan panik, flashback) dengan bentuk-bentuk pengisahan (testimoni, pengakuan, arsip keluarga) untuk memetakan tiga fungsi naratif: (1) diagnostik, ketika teks memunculkan jejak trauma melalui ketidakteraturan waktu dan bahasa; (2) transitional, saat tokoh/komunitas menegosiasikan ambang antara ingatan privat dan narasi publik; dan (3) rekonsiliatif, tatkala cerita membuka kemungkinan kerja berduka dan etika kesaksian. Temuan menunjukkan bahwa narasi yang menggabungkan ketegangan antara kesunyian (yang tak terkatakan) dan dokumentasi (arsip, catatan, foto) lebih efektif mengonversi trauma menjadi sumber memori kolektif yang produktif—bukan sekadar repetisi kekerasan. Kontribusi studi terletak pada pemaduan indikator gejala psikis dengan perangkat naratologi sehingga jalur dari luka individual menuju formasi memori bersama dapat ditelusuri secara tekstual; implikasinya menyasar praktik kurasi sastra, pendidikan memori, dan kebijakan budaya yang peka pada pemulihan pasca-konflik.
Task-Based Language Teaching untuk Literasi Akademik: Efektivitas pada Mahasiswa Tahun Pertama Lumbantoruan, Hesti
Sinonim : Journal of Language and Literature Vol. 2 No. 01 (2024): Sinomim Journal of Language and Literature
Publisher : Cattleya Darmaya Fortuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54209/sinonim.v2i01.459

Abstract

Studi ini menilai efektivitas Task-Based Language Teaching (TBLT) dalam meningkatkan literasi akademik mahasiswa tahun pertama pada konteks EFL. Intervensi delapan minggu dirancang sebagai rangkaian tugas otentik yang merepresentasikan praktik akademik nyata—source-synthesis, pembuatan annotated bibliography, parafrase & ringkasan beretika, serta penulisan laporan mini berformat IMRaD dengan sitasi bergaya standar. Desain kuasi-eksperimental dengan kelompok kontrol non-ekuivalen melibatkan N=128 mahasiswa dari dua prodi; data dikumpulkan melalui (i) penilaian tulisan berbasis rubrik analitik (argumentasi, organisasi, penggunaan bukti, konvensi akademik), (ii) metrik sofistikasi leksikal dan kohesi (MTLD & indikator kohesi lokal), (iii) akurasi sitasi (rasio kesalahan/100 referensi), (iv) tes membaca kritis berbasis artikel jurnal, serta (v) wawancara fokus mengenai pengalaman tugas dan strategi belajar. Analisis ANCOVA dengan skor pra-tes sebagai kovariat menunjukkan keunggulan signifikan kelompok TBLT pada kualitas tulisan (Δ=+6,8/100; p<0,001; d=0,62), akurasi sitasi (−12,3 kesalahan/100; p<0,01; d=0,55), dan membaca kritis (p=0,02; d=0,41). Follow-up enam minggu menunjukkan retensi moderat pada konvensi sitasi (d=0,33). Temuan kualitatif menyoroti peningkatan self-efficacy, kesadaran pembaca (audience awareness), dan adopsi process writing (draf—umpan balik—revisi). Hasil menegaskan bahwa TBLT yang disejajarkan dengan genre & praktik literasi akademik mampu mempercepat transisi mahasiswa baru ke kultur penulisan ilmiah; implikasinya meliputi integrasi tugas “bertaruhan rendah” berulang, rubrik transparan, serta umpan balik formatif terjadwal dalam kurikulum tahun pertama.
Pergeseran Kode di Komunitas Urban Multietnik: Dampak Identitas dan Mobilitas Sosial Siregar, Edwin
Sinonim : Journal of Language and Literature Vol. 2 No. 01 (2024): Sinomim Journal of Language and Literature
Publisher : Cattleya Darmaya Fortuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54209/sinonim.v2i01.460

Abstract

Studi ini menelaah bagaimana identitas sosial dan mobilitas antarkelas/antar-ruang kota membentuk pola pergeseran kode pada komunitas urban multietnik. Berangkat dari kerangka sosiolinguistik—audience design (Bell), accommodation (Giles), jaringan sosial (Milroy), serta kapital linguistik dan habitus (Bourdieu)—penelitian merancang pendekatan mixed-methods yang menggabungkan etnografi singkat (observasi partisipan, shadowing mobilitas harian) dengan perekaman percakapan naturalistik lintas domain (rumah, pasar/jalan, tempat kerja, dan platform digital), serta wawancara naratif mengenai lintasan mobilitas. Data dianalisis untuk mengidentifikasi jenis peralihan (inter/intra-klausa, tag-switching), pemicu situasional (topik, partisipan, medium), dan indeksasi identitas (etnik, generasi, gender, pekerjaan). Pemodelan kuantitatif ringan (regresi logistik dan model efek campuran) digunakan untuk mengaitkan probabilitas pergeseran kode dengan indikator mobilitas (pergantian wilayah kerja, jejaring lintas etnik, paparan media) dan konfigurasi audiens. Temuan menunjukkan tiga pola utama. Pertama, pergeseran intra-klausa meningkat ketika penutur mengelola identitas hibrida pada situasi cross-ethnic contact berfrekuensi tinggi, berfungsi sebagai penanda afiliasi sekaligus sumber stance ironi/humor. Kedua, mobilitas ke atas (akses kerja formal/berbahasa prestise) mendorong upward convergence pada ranah publik, namun strategi backshift ke varietas lokal tetap dipertahankan untuk memelihara solidaritas di ranah intim. Ketiga, medium digital memperkuat style mixing bersifat performatif (caption/komentar) yang me-resignifikasi simbol etnik sebagai modal jaringan. Studi ini berkontribusi dengan memetakan relasi terukur antara mobilitas dan pergeseran kode lintas ranah, sekaligus memperjelas fungsi indeksikalnya bagi manajemen identitas. Implikasi praktis meliputi perancangan layanan publik dan komunikasi kerja multibahasa yang peka identitas, serta pengayaan kebijakan literasi bahasa kota yang mengakui nilai sosial dari repertoar hibrida.

Page 2 of 2 | Total Record : 20