cover
Contact Name
Yudha Adi Pradana
Contact Email
moj@ub.ac.id
Phone
+6281285130860
Journal Mail Official
moj@ub.ac.id
Editorial Address
Jl. JA Suprapto No. 2 Malang, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 31094147     EISSN : 31094139     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
MOJ (Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal) is a peer-reviewed and open access journal that provides timely information for physicians and scientists concerned with diseases of the head and neck. This journal publishes original articles, reviews, and also interesting case reports. We place a high priority on strong study designs that accurately identify etiologies, evaluate diagnostic strategies, and distinguish among treatment options and outcomes. Letters and commentaries of our published articles are welcome. Subjects suitable for publication include: Otology Rhinology Allergy and immunology Laryngology Bronchoesophagology Speech science Swallowing disorder Facial plastic surgery Head and neck surgery Sleep medicine Pediatric otolaryngology Geriatric otolaryngology Oncology Neurotology Audiology Auditory and vestibular neuroscience Salivary Gland Skull base surgery Community Ear, Nose and Throat Craniofacial pathology
Articles 42 Documents
Profil Faktor Risiko Penderita Stridor Paska Intubasi Pada Anak dengan Kecurigaan Stenosis Subglotis di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang Periode 1 Januari – 31 Desember 2017 Sitompul, Bobby Pardomuan; Murdiyo, Mohammad Dwijo
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 1 No. 2 (2022): September 2022
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Subglottic stenosis (SGS) is a decrease in the width of the subglottic. Although it can be congenital, 90% of the SGS are acquired with intubation and mechanical respiratory assistance being the main cause. The risk factors that cause SGS are poorly understood. Purpose: To identify risk factors on post-intubation stridor patient with suspicion of subglottic stenosis to assist prevention and optimal management strategies. Methods: Retrospective descriptive study with subject of the study are medical records of post-intubation stridor patient in children that have been suspected subglottic stenosis at otorhinolaryngology head and neck surgery departement of Saiful Anwar General Hospital Malang from January 1st until December 31st 2017 Result: The study included 12 subjects. Male to female ratio 3:1, highest distribution 0-1 years old group 50%, aterm pregnancy age 83.3%, normal birth weight 75%, intubation frequency > 1 times 58,3%, duration of intubation > 7 days 66,7%, central nervous system as main disease 41,7%, underwent tracheostomy 33,3%, underwent endoscopic diagnosis 41,7% with 100% suffer subglottic stenosis with various severity. Conclusion: Incidence of post-intubation subglottic stenosis in children is quite high and needs further investigation to identify risk factors.Keyword: Stenosis subglottic in children, risk factors post-intubation
Kolesteatoma Kongenital pada Atresia Canalis Acousticus Externus Kongenital Unilateral dan Mikrotia Grade I Sitompul, Bobby; Handoko, Edi
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 2 No. 1 (2023): March 2023
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Atresia canalis acousticus externus (CAE) kongenital adalah entitas langka dalam praktik klinis. Risiko kejadian kolesteatoma kongenital meningkat pada kasus atresia telinga yang sering didiagnosis pada masa remaja. Kedua penyakit dapat terjadi secara independen tetapi keberadaan kedua entitas ini jarang terjadi, membutuhkan diagnosis yang cermat dan pencitraan untuk menegakkan diagnosis. Tujuan: Melaporkan sebuah kasus kolesteatoma kongenital pada atresia CAE kongenital sinistra yang jarang dengan tatalaksana mastoidektomi radikal. Laporan kasus: Anak perempuan usia 14 tahun dengan keluhan utama keluar cairan berulang dari belakang telinga kiri. Berdasarkan anamnesis, presentasi klinis dan pemeriksaan Computed Tomography (CT) Scan mastoid pasien didiagnosis kolesteatoma kongenital sinistra, atresia CAE sinistra dan mikrotia sinistra grade I. Pemeriksaan timpanometri dan audiometri menunjukkan tuli konduksi telinga kiri sedang berat. Pasien menjalani mastoidektomi radikal dan menunjukkan hasil pasca operasi yang baik. Kesimpulan: Tatalaksana utama pada kolesteatoma kongenital adalah mengangkat kolesteatoma secara komplit dengan tujuan perbaikan fungsi pendengaran dan perbaikan kualitas hidup. Pada kasus ini telah dilaporkan kasus anak perempuan usia 14 tahun dengan kolesteatoma kongenital pada atresia kongenital yang ditangani dengan radikal mastoidektomi Kata Kunci: Kolesteatoma, Atresia, Tuli Konduktif, Mastoidektomi, Mikrotia
Laporan Satu Kasus Adenoma Seruminosa Handoko, Cavin; Handoko, Edi
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 2 No. 1 (2023): March 2023
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Kelenjar seruminosa adalah kelenjar tubular melingkar yang mirip dengan kelenjar ekrin pada kulit dengan sifat kelenjar mengeluarkan kandungan di dalamnya menuju infundibulum folikular rambut atau secara langsung di atas permukaan kulit. Adenoma seruminosa merupakan suatu tumor kelenjar seruminosa yang bersifat jinak dan langka dengan kurang dari 1% dari keseluruhan tumor telinga luar. Tujuan: Menjelaskan diagnosis dan tatalaksana suatu kasus adenoma seruminosa. Laporan Kasus: Seorang laki-laki berusia 47 tahun mengeluhkan benjolan pada liang telinga kanan sejak 4 bulan lalu disertai penurunan pendengaran dengan hasil tuli konduksi berat pada tes audiometri. Adenoma seruminosa dikonfirmasi melalui pemeriksaan histopatologi dan imunohistokimia. Eksisi tumor dilakukan dengan pendekatan retroauricula. Metode: Telaah literatur berbasis bukti dengan kata kunci “Ceruminous” AND “Adenoma” AND ”External Ear Canal” melalui Google Scholar. Hasil: Diagnosis adenoma seruminosa dapat dibuat melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik disertai dengan bantuan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan radiologi seperti CT scan dan MRI dapat membantu menentukan batas dan perluasan dari tumor. Diagnosis pasti adenoma seruminosa didapatkan melalui hasil positif pada pemeriksaan imunohistokimia CK7, S100 dan p63. Tatalaksana adenoma seruminosa ialah dengan pembedahan reseksi en bloc dengan batas yang memadai. Kesimpulan: Adenoma seruminosa merupakan salah satu tumor benigna pada kanalis akustikus eksternus. Tindakan pembedahan eksisi luas pada tumor merupakan tatalaksana utama bagi adenoma seruminosa. Prognosis kasus adenoma seruminosa termasuk baik.  
Rinosinusitis Akut dengan Komplikasi Selulitis Orbita Sitompul, Bobby Pardomuan; Suheryanto, Rus
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 2 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Rinosinusitis merupakan inflamasi di mukosa hidung dan sinus paranasal dengan angka komplikasi yang rendah yakni 3,7-20%. Komplikasi dapat terjadi pada orbita, intrakranial dan tulang. Komplikasi yang paling banyak terjadi adalah komplikasi orbita. Pengenalan diagnosis dini dan terapi yang adekuat menjadi sangat penting karena apabila tidak adekuat akan menimbulkan kebutaan permanen bahkan kematian. Tujuan: Melaporkan sebuah kasus rinosinusitis akut dengan komplikasi selulitis orbita. Laporan kasus: Laki-laki usia 57 tahun dengan keluhan utama bengkak pada pipi dan mata kanan. Berdasarkan anamnesis, presentasi klinis dan pemeriksaan High Resolution Computed Tomography (HRCT) Scan Pre Functional endoscopic sinus surgery (FESS) pasien didiagnosis rhinosinusitis akut dekstra dengan komplikasi selulitis orbita dekstra, diabetes mellitus tipe II, leukositosis, septum deviasi sinistra dan CAD stabil. Pasien menjalani operasi FESS, dilakukan konsultasi ke bagian mata dan menunjukkan hasil pasca operasi yang baik. Kesimpulan: Tatalaksana utama pada rinosinusitis akut dengan komplikasi selulitis orbita adalah melakukan eradikasi infeksi secara komplit dan tatalaksana komprehensif dengan bagian mata dan bagian lain terkait. Pada kasus ini telah dilaporkan kasus laki-laki usia 57 tahun dengan rinosinusitis akut dengan komplikasi selulitis orbita yang ditangani dengan Tindakan FESS.
Benda Asing Baterai di Esofagus Loe Mau, Frouki Miliwati; Murdiyo, Mohammad Dwijo
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 2 No. 1 (2023): March 2023
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Baterai kancing (Button/Disk Baterry) dikenal sebagai salah satu benda asing yang berbahaya terutama pada anak-anak sejak lebih dari 30 tahun. Baterai yang tersangkut di esofagus merupakan kasus kegawatdaruratan dan harus segera dikeluarkan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut atau bahkan perforasi Tujuan: Melaporkan sebuah kasus benda asing baterai di esofagus. Laporan kasus: Anak-anak usia 2 tahun dengan keluhan utama dugaan tertelan uang koin. Berdasarkan anamnesis, presentasi klinis, radiologi serta hasil esofagoskopi eksplorasi dan ekstraksi pasien didiagnosis benda asing baterai di esofagus. Pasien menjalani operasi esofagoskopi ekstraksi dan eksplorasi, tampak sedikit edema dan hiperemi pada mukosa. Tidak tampak perdarahan, laserasi, nekrotik, luka bakar, maupun perforasi. Dilakukan pemasangan pipa nasogastrik pada pasien. Kesimpulan: Esofagoskopi merupakan alat diagnostik definitif sekaligus terapi untuk mengeluarkan benda asing yang tersangkut di esofagus. Baterai yang tersangkut di esofagus merupakan kasus kegawatdaruratan dan harus segera dikeluarkan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut atau bahkan perforasi. Pada kasus ini telah dilaporkan kasus anak-anak usia 2 tahun dengan benda asing baterai di esofagus yang ditangani dengan Tindakan esofagoskopi ekstraksi dan eksplorasi.
Penatalaksanaan Angiofibroma Nasofaring Juvenil dengan Pendekatan Transpalatal Sondakh, Jeremy Tobias; Soehartono, Soehartono
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 2 No. 1 (2023): March 2023
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Angiofibroma Nasofaring Juvenile (ANJ) merupakan tumor jinak yang pertumbuhannya lambat, namun dapat menjadi agresif, destruktif, dan invasif. Tumor ANJ merupakan neoplasma nasofaring yang jarang dan lebih banyak didapatkan pada remaja laki-laki. Penyebab tumor ANJ masih belum diketahui secara pasti. Tatalaksana ANJ dapat dilakukan tindakan operatif, hormonal, kemoterapi maupun radioterapi. Pemilihan tatalaksana yang tepat dapat dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasien. Tujuan: mengetahui diagnosis ANJ dan penanganannya secara  operatif. Laporan Kasus: Melaporkan laporan satu kasus ANJ pada anak laki-laki berusia 14 tahun yang ditatalaksana dengan pembedahan menggunakan pendekatan transpalatal Metode: Telaah literatur berbasis bukti dengan kata kunci “Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma” AND “Treatment” pada PubMed, Medline dan Google Scholar. Hasil: Penyebab tumor ANJ masih belum diketahui, namun beberapa studi mempelajari hubungan hormonal dengan kejadian ANJ. Tatalaksana ANJ dapat dilakukan dengan estrogen, antiandrogen, radioterapi, steroid, dan operasi. Tatalaksana operasi dengan angiografi preoperative dan embolisasi masih menjadi modalitas utama. Pemilihan tatalaksana operasi pada ANJ didasarkan pada lokasi, ukuran, ekstensi tumor ke jaringan sekitar, keadaan umum pasien, dan keberhasilan embolisasi sebelum operasi. Kesimpulan Penanganan ANJ dapat dilakukan dengan operatif dan nonoperatif dengan mempertimbangkan lokasi, ukuran, ekstensi tumor, dan kondisi serta kemampuan pasien.
Korelasi Hasil Tes Alergi terhadap Rinosinusitis Kronik dengan Polip Nasi Marulitua, Christian Hendrik; Maharani, Iriana
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 2 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Rinosinusitis kronis (RSK) merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan adanya inflamasi pada mukosa hidung dan sinus paranasal dan dikategorikan menjadi RSK dengan Nasal Polip dan RSK tanpa Nasal Polip. Hubungan antara atopi dan RSK telah cukup banyak diteliti, namun peran alergi dalam RSK dengan dan tanpa polip masih kontroversial. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui korelasi antara hasil tes alergi pada terjadinya rinosinusitis kronis dengan nasal polip. Metode: Penelitian cross sectional, melibatkan 22 subjek penelitian yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 10 subjek RSK dengan polip dan 12 subjek RSK tanpa polip, dengan menggunakan Skin Prick Test (SPT) sebagai tes alergi. Hasil: Dari 22 pasien, sembilan pasien (41%) memiliki hasil tes alergi positif dan 13 pasien (59%) tes alergi negatif. Dari 10 pasien RSK dengan polip, 7 pasien (70%) memiliki tes alergi positif, dan 3 pasien (30%) tes alergi negatif. Dari 12 pasien RSK tanpa polip, enam pasien (50%) memiliki tes alergi positif dan enam lainnya (50%) negatif. Pada penelitian ini, berdasarkan uji Fisher’s Exact Test tidak didapatkan perbedaan bermakna antara proporsi hasil tes alergi positif terhadap pasien RSK dengan polip dan proporsi hasil tes alergi positif terhadap pasien RSK tanpa polip (nilai p=0.415). Hasil ini menunjukkan tes alergi positif tidak berkorelasi dengan terjadinya RSK dengan polip. Kesimpulan: Tidak didapatkan korelasi antara hasil tes alergi positif terhadap pasien RSK dengan polip. 
Pendekatan Intraoral Pada Insisi Drainase Abses Buccal Salim, Fransiska Anggriani; Murdiyo, Mohammad Dwijo
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 2 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Abses leher dalam merupakan infeksi bakteri pada rongga-rongga potensial disepanjang leher yang dapat mengancam nyawa. Angka kejadian abses leher dalam diperkirakan mencapai 9-15 per 100.000 kejadian, dimana infeksi odontogenik menjadi penyebab terseringTujuan: Melaporkan sebuah kasus abses buccal. Laporan kasus: laki laki berusia 68 tahun datang dengan keluhan bengkak pada pipi kanan. Berdasarkan anamnesis, presentasi klinis, radiologi pasien didiagnosis Abses buccal. Pasien menjalani operasi insisi dan drainase abses secara GA. Kesimpulan: Ruang daerah kepala leher merupakan ruang potensial yang berada di beberapa fascia yang normalnya berisi jaringan ikat longgar. Prinsip tatalaksana abses kepala leher meliputi: medikamentosa, pembedahan, terapi sumber masalah gigi, maupun kombinasi dari ketiganya
Prediktor Migrasi Benda Asing Bronkus di RSUD dr Saiful Anwar Periode Januari 2014 - Desember 2020 Soerodjo, Victor Kristanto; Surjotomo, Hendradi
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 2 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Aspirasi benda asing ialah masuknya benda yang berasal dari luar atau dalam tubuh, ke saluran trakeobronkial. Aspirasi benda asing saluran trakeobronkial merupakan keadaan darurat yang memerlukan tindakan bronkoskopi segera untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Tujuan: Mengidentifkasi karakteristik migrasi benda asing pada  pasien aspirasi benda asing saluran trakeobronkial di bagian Telinga Hidung Tenggorok – Bedah Kepala Leher (T.H.T.K.L) Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya/ Rumah Sakit Umum Daerah dr. Saiful Anwar Malang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan menggunakan odds ratio. Sampel penelitian ini diambil dari data rekam medis pasien aspirasi benda asing pada saluran trakeobronkial di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Saiful Anwar Malang periode Januari 2014 - Desember 2020. Hasil: Didapatkan 50 pasien dengan riwayat teraspirasi benda asing di saluran trakeobronkial. Dijumpai 16 orang laki-laki dan 34 orang perempuan dengan perbandingan 1:2,1, di mana sebanyak 11 pasien usia dibawah 8 tahun merupakan kelompok penderita yang mengalami migrasi beda asing pada kasus aspirasi benda asing ini. Benda asing yang paling banyak ditemukan adalah jarum pentul sebanyak 25 kasus, serta kacang sebanyak 6 kasus. Kesimpulan: kelompok pasien dengan aspirasi benda asing di bawah usia 8 tahun memiliki resiko lebih tinggi untuk terjadinya migrasi benda asing dibanding dengan kelompok usia diatas 8 tahun. Aspirasi benda asing di saluran trakeobronkial sering terjadi pada anak-anak yang berusia kurang dari 15 tahun. Benda asing terbanyak adalah anorganik berupa jarum pentul. Pemeriksaan radiologi paru dalam 24 jam pertama setelah kejadian aspirasi pada umumnya menunjukkan gambaran normal. Lokasi benda asing di saluran trakeobronkial terbanyak pada penelitian ini adalah di trakea.
Tuli Sensorineural Mendadak Bilateral pada Ibu Hamil Intan, Monica; Handoko, Edi
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 2 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Tuli sensorineural mendadak merupakan penyakit gawat darurat dibidang THT-KL yang didefinisikan sebagai gangguan pendengaran minimal 30 dB dalam tiga frekuensi yang berdekatan dan tidak lebih dari 72 jam. Tuli sensorineural mendadak bilateral pada kehamilan sangat jarang terjadi dengan etiologi yang belum pasti dan sangat berhubungan dengan penyakit sistemik. Terapi empiris untuk tuli sensorineural mendadak pada ibu hamil masih menjadi kontroversial.  Tujuan: Mengetahui lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya tuli sensorineural mendadak bilateral pada ibu hamil dan bagaimana penatalaksanaannya. Laporan kasus: Dilaporkan 1 kasus tuli sensorineural mendadak bilateral pada ibu hamil. Metode: Telaah literatur berbasis bukti melalui pencarian PubMed, ProQuest, dan Google Scholar dengan kata kunci “sudden sensoryneural hearing loss in pregnancy AND intratympanic corticosteroid injection”. Hasil: Tuli sensorineural mendadak bilateral selama kehamilan memiliki berhubungan erat dengan penyakit sistemik sehinggga diperlukan pemeriksaan yang menyeluruh untuk menentukan penyebabnya. Terapi yang direkomendasikan adalah pemberian steroid sistemik atau topikal. Kesimpulan: Tuli sensorineural mendadak bilateral pada ibu hamil memiliki etiologi yang belum pasti dan biasanya didasari oleh penyakit sistemik. Perubahan fisiologis yang terjadi saat hamil juga dapat mempengaruhi keadaan tuli sensorineural mendadak. Penatalaksaan tuli sensorineural medadak pada ibu hamil masih menjadi kontroversi tetapi pemberian kortikostreoid dianggap sebagai terapi yang paling aman dan efektif. Keberhasilan terapi harus dimonitoring dan dievaluasi hingga enam bulan setelah terapi.Â